That Girl

THAT GIRL

cats 1

Title        :        That Girl
Author    :        Yesunggyu – Amalia Laili
Length    :        One Shot
Genre      :        Life, Comedy, Romance

Cast        :        Kiseop, Jiyeon, Krystal, Minho (cuman pinjam nama, hahaha *plak)

Cerita ini kubuat dengan terburu-buru, supaya tidak lupa idenya. Karena aku suka lupa, huhuuhu. Nah, FF ini kubuat dengan keinginan untuk Kiseop mendapatkan bagian FF. hahaha, bukan karena aku fansnya. Cuman mau saja. Trus ceweknya, aku gak tau siapa cocok. Tapi setelah melihat foto Jiyeon, ah dia cocok sekali. Lalu Krystal dan Minho? Karena mereka sangat cocok sebagai pasangan yang cakep banget, keren banget, dan lain-lainnya yang banget.

…….

FLASHBACK ON

Kenapa mereka semua memusuhiku? Jahat sekali

Sekali lagi, anak itu bersedih.

FLAHSBACK OFF

…….

“ya! Sudah kubilang, ini bukan didrama atau anime yang selalu kau tonton. Jadi jangan berlagak hebat. Kau juga bukan pemeran utamanya, jangan pikir kau bisa menang! Ayo, pulang” perempuan yang berteriak itu menarik seorang lelaki yang diteriakinya. Lelaki itu akan berkelahi dengan gerombolan orang jahat yang menantangnya.

“ya! Kalau aku tidak melawan, aku akan dibilang pengecut!” lelaki itu menepis tangan perempuan yang menariknya.

“terserah, yang penting kita pulang dulu, kita tidak ahh,… aniya… kau tidak akan menang! Tidak ada gunanya, hanya sakit saja! Ayo pulang!” perempuan itu bersikukuh.

“ya, perempuan! Pulang saja sana, tidak usah mengurusi urusan kami. Pulanglah…” lelaki yang berbadan paling besar diantara gerombolan itu maju kedepan perempuan itu, menggertak. Dia memelototi perempuan itu, perempuan itu membalasnya. Namun, segera melihat lagi temannya yang tetap mau melawan mereka.

“ahhh… jinjayo… kalau kalian mau, kalian bertemu polisi saja ya! Berkelahi saja di penjara, oke?” perempuan itu segera menekan tombol di hapenya dan segera menelpon polisi “kau juga harus masuk penjara” ujarnya pada temannya itu. Yang ada disana kebingungan.

“ah, ya ya… baiklah.. kita pulang.. ish masalahnya akan panjang…. Aku pergi… ayo…. Matikan hapemu… ya… kubilang matikan!!” temannya segera mendorong perempuan itu menjauh dari tempat musuhnya, setelah perempuan itu mematikan hapenya, lelaki itu berbalik menghadap musuhnya “kita lanjutkan besok!!” teriaknya.

“ya… aku telpon lagi”

“aahhhh.. jangan!!! Aishh… nde nde.. aku tidak akan berkelahi! Ayo pulang!” lelaki itu segera menarik tangan perempuan itu, mengajaknya pulang. Perempuan itu tetap ditempat.

“kau tidak akan kelahi dengan mereka lagi kan?” tanya perempuan itu.

“hemmm… nde….” Jawab lelaki itu ragu.

“ya…!!! Jongmal…” perempuan itu melipat tangannya didepan dada.

“ahhh… nde nde… puassss..???” lelaki itu menganggukkan kepalanya terpaksa.

“nah…. Ayo pulang” perempuan itu tersenyum dan berjalan pulang.

“ya… Kiseop!! Kau mau pulang tidak?” dia berbalik melihat temannya yang tidak berada di belakangnya.

“ah, Jiyeon… nde… nanti! Aku selesaikan satu babak. Oke!” lelaki itu berlari kebelakang menuju musuh-musuhnya dan segera memulai perkelahian.

……….

“aku sudah mengatakannya padamu! Aku tidak pernah bercanda dalam hal itu!”

“aku tidak menyangka kau melakukan ini pada temanmu sendiri”

“salahmu sendiri! Apa gunanya telingamu ini sih??”

“Jiyeon-ah.. sampai kapan aku berada disini?”

“ahh… 20 menit lagi kau akan bebas…” Jiyeon tersenyum melihat Kiseop berada di jeruji besi. Dia benar-benar melapor pada polisi. Namun, sebenarnya polisi hanya menahan mereka selama beberapa jam dan menghukum mereka untuk melakukan pekerjaan. Jiyeon lega sempat menelpon polisi sebelum luka Kiseop lebih parah. Saat Kiseop memulai “babak pertama” dia segera menelpon polisi, untung polisi berada disekitar tempat kejadian. Sekarang dia melihat Kiseop sedang merengut padanya. Itu membuatnya tertawa.

“kau senang melihat temanmu menderita?”

“ah,hahah… aniya… itu kesalahanmu… aku hanya membantumu!”

“membantu apa?”

“yah… setidaknya kau tidak luka parah kan?”

“hmmm… setelah bebas, kita kerumahmu!”

“nde… aku tau”

……………..

Sampai dirumah Jiyeon. Rumah yang sederhana. Bercat biru, memiliki taman mini dan sangat damai. Malam itu, Kiseop akan menginap. Dia sedang bosan dirumah, orang tuanya selalu mengijinkannya untuk menginap. Mereka berdua sudah menjadi sahabat sejak lama, dan orang tua mereka pun sudah saling mengenal dengan baik. Tak masalah siapa menginap dirumah siapa. Asal mereka berdua baik-baik saja.

Mereka berdua berada dikamar Jiyeon. Mengobrol setelah menyelesaikan PR. Entah apa yang mereka bicarakan hingga jam 11 malam itu.

“ah, aku mengantuk! Hoammm..” ujar Jiyeon menandai bahwa obrolan ini harus berhenti.

“nde aku juga, aku akan menutup ini. Tidurlah!” Kiseop segera menuju tengah kamar yang sudah tersedia sebuah penyekat antara mereka. Karena sedekat apapun, mereka tetaplah seorang remaja gadis dan lelaki. Penyekat itu sudah dibuat oleh ayah Jiyeon saat mereka mulai nginap menginap. Kiseop membuka penyekat, setelah itu mulai berbaring.

“Jiyeon-ah…”

“hmmm…”

“kenapa pikiranmu terlalu realistis?”

“kau bertanya itu terus”

“aku penasaran… kok bisa? Kau tidak bisa santai kah?”

“hmm? Entahlah.. sudah… aku ngantuk” Jiyeon menutup pembicaraan dan segera terlelap, Kiseop hanya menggelengkan kepala dan ikut tertidur.

………………

Jiyeon sedang menunggu Kiseop yang berada dikelas. Mereka akan pulang seperti biasanya, bersama. Jiyeon mulai kesal. Kiseop tidak datang-datang juga. Dia melihat batu didepannya, dan tanpa memperdulikan apapun, menendangnya.

TAKKK…

Batu itu mengenai kaki seorang lelaki yang berdiri didepannya.

“akkkhhh… yaaa.. Jiyeon..!! aku hanya telat 15 menit, kau sudah melakukan hal ini padaku?!” Kiseop yang terkena batu, segera mengusap kakinya. Jiyeon mulai tersenyum, namun teringat masalah Kiseop, dia segera melipat tangan didepan dadanya.

“sebentar? 15 menit? Ah.. pabo! Itu belum setimpal tau!” dia berpura-pura marah.

“ahhh… sakit beneran.. ishh.. yasudah… ayo pulang!” Kiseop berjalan dengan pincang. Jiyeon tertawa. Tiba-tiba Jiyeon melihat Krystal lewat didepan sekolah.

“ya, Krystal!” bisik Jiyeon pada Kiseop.

“hah? Odie?” Kiseop mecoba mencari sosok Krystal, orang yang disukainya.

“disana…” Jiyeon menunjuk Krystal.

“ehmmm..” Kiseop memberikan muka biarkan-aku-menghampiri-Krystal-maafkan-aku.

“ahhh…nde… pergilah…aku pulang sendiri”

“jongmal? Baiklah, maafkan aku! Kau tau kan, aku sebenarnya mau pulang bersamamu, namun… yahh..”

“sudah, aku tau! Pergilah!” Jiyeon mengusir Kiseop, Kiseop pun berlari menuju Krystal. Yah, memulai rayuannya pada Krystal. Jiyeon hanya tersenyum.

“ah, pabo! Kenapa aku mesti menunggunya tadi? Ah sudahlah”

Jiyeon sudah tau kalau Kiseop menyukai Krystal. Gadis yang paling cantik di SMA nya. Dia pun setuju kalau mereka bersama. Sayangnya, Krsytal suka jual mahal, Kiseop pun jadi susah mendapatkannya. Dan Jiyeon suka sekali mengganggu Kiseop, dan mendukung Kiseop dan Krystal. Dia yakin, mereka hanya bersahabat. Tidak lebih. Bukan seperti drama ataupun anime.

………………

Malam hari, dirumah Jiyeon.

“ibu? Bersama ayah? Aniya. Nuguya?”

Jiyeon melihat ibunya bersama dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya dalam mobil.dia memicingkan matanya dan milhat ibunya melakukan sesuatu yang tidak bisa dibilang baik.

“ah, salah orang! Tidak ada yang terjadi, Jiyeon-ah. Ibu sedang tidur sekarang! Nde… everything will be alright…” dia menggelengkan kepalanya dan segera menutup jendelanya.

TOK TOK TOK

“Jiyeon ahhhhh…. Open the door please…eh salah… the window please… jiyeon-ah… ppali ya.. ppali ya…”

Suara khas Kiseop membuatnya kaget. Dia segera membuka kembali jendelanya. Kiseop segera masuk kekamarnya.

“Jiyeon-ah, aku sudah bilang jangan ditutup jendelanya… tapi kau tetap saja menutupnya” ujar Kiseop sambil duduk diranjang Jiyeon.

“ada apa?”

“ada berita bagus!” Kiseop menjawab dengan cepat pertanyaan Jiyeon.

“hem? Apa?”

“aku dan Krystal sudah JADIAN!!! Aku sudah BERPACARAN dengan K R Y S T A L!!” Kiseop menekankan kata-kata yang penting. Jiyeon hanya mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya.

“ooo… lalu?” tanya Jiyeon bodoh.

“aishh… jadi, aku mau merayakannya denganmu! Ayo!”

“apanya?”

“ehmmm…”

“aku ngantuk Kiseop… kita tidur saja, tutup itu!” Jiyeon mendorong Kiseop pergi dan segera berbaring.

“ah, Jiyeon-ah… kau tidak senang? Bukankah seharusnya kau senang?”

“nde, aku senang.. tapi aku ngantuk! Kalau tidak mau tidur, pulang saja sana!”

“Jiyeon-ah…”

“cukkahamnida.. congratulation…banzai…. ok?” Jiyeon segera berbaring dan menutup diri dengan selimut.

“hmmm… aku pulang saja deh. Kayaknya kau capek banget!” Kiseop mengalah dan segera keluar lewat jendela.

“Jiyeon-ah.. tutup jendelamu!” teriak Kiseop setelah di berada di bawah. Jiyeon sedang berbaring dan tetap berbaring. Agak lama hingga dia bangkit menutup jendela. Lama ia terpekur di depan jendela.

“ah, pabo! Aku baik-baik saja.. ini semua hanya perasaan bodoh! Hmm… everything will be alright..!”

Jiyeon segera mematikan lampu dan tidur.

………………….

Sejak Kiseop berpacaran dengan Krystal, Jiyeon pun jarang bersama Kiseop. Itu membuatnya sedih berkali-kali, dan membuat Kiseop memintamaaf berkali-kali. Entah mengapa dia tak lagi senang melihat Kiseop dan Krystal bersama. Padahal dulu dia sangat bahagia. Sampai-sampai rasanya rela melakukan apapun demi kebersamaan Krystal dan Kiseop. Tapi sekarang, dia sangat merindukan Kiseop.

Sekali lagi Jiyeon menghela napas. Enggan rasanya ia pulang kerumah. Orangtuanya sedang berkelahi akhir-akhir ini. Ayah menuduh ibu berselingkuh, karena ia melihatnya sendiri. Apa yang dilihat Jiyeon ternyata benar. Itu membuat Jiyeon enggan bertemu siapapun. Namun dia sangat kesepian. Dia tidak berani bertemu dengan Kiseop. Dia tak mau mengganggunya. Tapi dia sangat kesepian.

Jiyeon pun memilih pulang dan ingin menutup pintu kamarnya nanti, sesegera ia pulang.

………………………

BRAKKK…

Begitu ia pulang, begitu pula ia mendengar suara perkelahian orangtuanya dan barang-barang lainnya. Ekspresi Jiyeon datar. Seperti bosan. Seperti ia sudah biasa mendengar hal ini.

“aku pulang” ujar Jiyeon sambil melepas sepatunya dan segera mengenakan sandal rumah.

Tidak ada jawaban, yang ada hanya perkelahian.

Jiyeon pergi menuju dapur tempat perkelahian. Dia melihat dengan jelas perkelahian orang tuanya.

“aku pulang, aku lapar, aku mau makan, kalian pergilah!” ujar Jiyeon, orangtuanya tidak mendengar apapun dari Jiyeon. Mereka tetap berkelahi.

“ya…!!! Aku pulang! Aku lapar! Aku mau makan! Jadi pergilah kalian!” Jiyeon berteriak lebih keras.

Kali ini orang tuanya berhenti dan menoleh kehadapannya.

“kau tidak perlu ikut campur urusan kami!” ujar ayahnya, tak pernah sebelumnya ayahnya seperti itu padanya.

“kau pergilah makan diluar, kami sudah memberimu uang kan?” tanya ibunya.

Jiyeon hanya menggeram.

“ya! Kalian bercerai saja! Tidak usah berkelahi! Aku akan bantu kalian bercerai! Besok kalau bisa. Aku akan bantu melengkapi surat-suratnya! Aku tidak akan ikut siapapun. Aku ke panti asuhan saja! Bagaimana?!”

PLAKK..

Jiyeon mendapat tamparan dari ayahnya. Hingga berdarah ujung bibirnya, ayahnya terkejut dan tak menyangka ia melakukan hal itu. Ayahnya pun berusaha memegang pipi Jiyeon, Jiyeon menepis tangan ayahnya.

“ayah puas?”

“Jiyeon-ah, maafkan ayah.. ayah hanya tidak mau keluarga kita terpecah dan…”

“ini yang ayah bilang tidak mau terpecah? Sudah! Kalau ayah mau memukulku, pukul saja! Sampai puas! Aku rasa hidup pun tidak ada gunanya! Ibu! Kenapa kau lakukan ini pada kami? Ibu anggap kami apa? Penghalang ibu? Sudahlah, ibu tak mau bersama kami. Pergi dari sini!”

Mata Jiyeon mulai memerah, ibunya pergi menuju Jiyeon untuk meminta maaf.

“Jiyeon-ah, ibu…”

“bercerai saja! Besok aku akan bantu! Kalian hanya menyusahkan hidup sendiri saja!” Jiyeon segera berlari menaiki tangga, menuju kamarnya. Ia segera masuk dan menutup pintunya keras-keras. Segera merebahkan badannya diranjang, dan menutupi wajahnya.

“seharusnya ini tidak terjadi padaku! Ini bukan sebuah drama, kumohon, lepaskan aku”

Jiyeon terisak sendirian, ia tak peduli meskipun orangtuanya memanggil namanya dan menangis.

…………………………..

Malam itu,

TOK TOK TOK

“Jiyeon-ah.. buka jendelanya!”

“…..”

“JIyeon ah, aku tau kau didalam, buka jendelanya, aku mau masuk”

“…..”

“Jiyeon-ah, maafkan aku tidak peka selama ini. Aku tidak tau kau memiliki masalah sebesar itu, kumohon buka jendelanya”

“…..”

“Jiyeon-ah? Cepat.. aku takut… kau baik-baik saja kan?”

“…..”

“Jiyeon –ah, kau masih hidup?”

BRAKKK..

Jiyeon membuka jendelanya dengan wajah yang sungut dan berantakan.

“aku masih hidup! Aku tadi tidur! Kau menggangguku saja! Aku tidak akan terpuruk lama-lama tidak ada gunanya seperti di drama atau anime. Jadi kau tenang saja. Aku masih hidup” ujar Jiyeon sambil duduk diranjangnya.

“ah, strategiku benar kan? Yah mengatakan kata terakhir tadi sungguh mujarab!” ujar Kiseop sambil duduk didekat ranjang Jiyeon. Dia berhadapan dengan Jiyeon sekarang.

“bibirmu, itu….” Kiseop menunjuk bibir Jiyeon, hendak menyentuhnya.

“tak apa, biasa…” Jiyeon menepis tangan Kiseop.

“darimana kau tau masalahku? Kau kan sedang sibuk dengan Krystal? Kau tidak usah kesini. Aku tidak mau Krystal PACARMU itu marah” ujar Jiyeon.

“ah,apa yang aku tidak ketahui dari sahabatku ini.. ah..nde.. mianhae. Jongmal. Aku sama sekali.. ah… aku memang bersalah! Kau memaafkanku?” Kiseop sangat menyesal. Melihat sahabatnya seperti itu, ia pun mengangguk.

“baiklah… trus kau hanya ingin mengatakan itu? Kalau hanya itu, pulanglah, aku mau tidur”

“jadi bagaimana dengan orangtuamu?”

“aku suruh mereka bercerai” Jiyeon berkata tanpa beban, membuat Kiseop kaget setengah mati.

“jongmal?”

“nde”

“kau aneh, yang ada orangtua yang minta ijin cerai pada anak. Kau malah… menyuruh mereka…”

“Aku bosan! aku capek, Kiseop-ah! Lebih baik aku kepanti asuhan saja kalau begini. Aku tidak mau hal ini terjadi, tapi ini memang harus terjadi… aku.. tidak mau ini berlanjut seperti didrama….” Jiyeon menundukkan kepalanya, matanya mulai meneteskan airmata. Ia pun mulai menyekanya. Ia tak mau menangis lagi.

“menangislah…”

“tidak…”

Cukup lama jeda untuk mereka berdua mencerna kejadian hari ini.

“jadi, bagaimana dengan Krystal?”

“aku sudah putus dengannya” Kiseop berbicara tanpa beban kali ini, dan membuat Jiyeon kali ini yang kaget setengah mati.

“heh? Apa? Aku salah dengar?”

“gak. Itu benar!”

“kenapa?”

“dia hanya mempermainkanku”

“apa? Jahat sekali!” Jiyeon mulai kesal. Kiseop tersenyum.

“tak apa! Aku sudah tau! Sebelumnya dia sudah bilang kalau dia hanya ingin menggunakanku untuk membuat Minho, mantan pacarnya, untuk kembali padanya. Kalau sudah, kami putus!”

“lalu, kenapa kau mau”

“aku hanya berharap kalau dia akan menyukaiku seiring waktu. Ternyata tidak”

“benarkah? Jadi sekarang dia sudah mendapatkan Minho? Jahat sekali!”

“ah, aniya.. dia belum mendapatkan Minho lagi, hanya aku yang ingin putus dengannya” jawab Kiseop tersenyum.

“eh? Kenapa?”

“hehehe…” Kiseop terkekeh sendiri, Jiyeon membuat muka yang sangat bingung.

“kenapa?”

“hmm… karena selama aku bersamanya, kurasa ada yang merindukanku…” ujarnya tersenyum pada Jiyeon.

“eh? Siapa?” Jiyeon tetap bingung.

“hahaha….”Kiseop tertawa sambil memukul lantai.

“siapa? Nuguya… ya ya!! Kiseop ya! Nuguya….!! YAAA..!!” Jiyeon segera duduk didepan Kiseop dan memukul paha dan badan Kiseop.

“kau kan? Kau merindukanku kan, Jiyeon?” jawab Kiseop berusaha menahan tawanya, wajah Jiyeon memerah.

“ah, aniya..!!!” Jiyeon tetap memukul badan Kiseop.

“hahaha… nde… itu benar kok!”

“hmmm..” Jiyeon kembali terdiam, dia masih memikirkan hal itu.

“Krystal jahat sekali padamu!”

“ah, tidak apa! Setidaknya aku tau dia seperti apa! Aku tidak menyukainya lagi!”

“benarkah? Kau ini…” ujar Jiyeon meremehkan.

“kenapa? Setidaknya, aku masih bisa bersama seseorang yang sengat merindukanku. Iya kan?”

“tidak!” Jiyeon mulai menangis.

“ah ah ah… aniya… kenapa menangis…?? Jiyeon ah.. waeyo? Ahhh… jinjayoo… jangan menangis! Ahh… jeball..” Kiseop panik melihat Jiyeon menangis.

“nde, nde, kau tidak merindukanku.. sudah jangan nangis” Kiseop menepuk punggung Jiyeon pelan.

“Krystal…..sangat jahat….pada orang…sebaikmu…padahal.. aku disini sangat banyak masalah.. tapi…” ujar Jiyeon diantara tangisnya. Ia tampak bingung, mengapa dia menangis. Apa karena banyak masalah, karena Krystal, atau…

“kau menangis karena aku dipermainkan Krystal?” tanya Kiseop, Jiyeon mengangguk.

“hahaha… aneh… sudah, aku tak apa. Kau juga menangisi masalahmu ya? Hmm.. kita punya banyak masalah. Sudah.. jangan nangis” Kiseop kebingungan melihat Jiyeon, dan berusaha menenangkannya. Dia memeluk Jiyeon. Jiyeon tetap menangis.

……………………

“kurasa, karena kau menangis mewakiliku, aku jadi tidak menangis. Hahaha”

“…..”

“hmmm.. kau tidak mengantuk Jiyeon ah?”

“…..”

“Jiyeon..??” Kiseop melihat Jiyeon yang ada dipelukannya, dan melihat Jiyeon yang sudah tertidur. Dia tersenyum dan segera mengangkat Jiyeon menuju kasurnya. Membaringkannya. Setelah itu, cukup lama ia menatap wajah Jiyeon yang tertidur.

“sangat capek, huh? Nde… kau terlalu realistis.. hmm.. seperti dulu. Tidak berubah! Tidur dengan tenang” Kiseop tersenyum dan merapikan dengan hati-hati rambut Jiyeon yang menutupi wajah Jiyeon. Dia memutuskan untuk tidur dikamar Jiyeon. Sudah lama. Dia sangat kangen. Dia pun membukakan penyekat diantara mereka. Lalu berbaring, dan tertidur.

………………..

Jiyeon membuka matanya dengan pelan. Sangat berat rasanya, apa karena dia banyak menangis malam itu? Dia membuka mata dengan sepenuhnya. Melihat kesekeliling. Tidak ada penyekat. Bukankah Kiseop tidur disini malam tadi? Dia melihat pintu kamarnya terbuka.

“ah… wuahhh… Jiyeon-ah, kau sudah bangun?” Kiseop tampak kaget melihat Jiyeon. Jiyeon segera duduk dan menganggukkan kepalanya.

“jadi, apa yang akan kau lakukan pagi ini? Ini hari minggu kan?” tanya Kiseop hati-hati.

“hemmm… kita sarapan dulu. Aku mau kekamar mandi. Tunggu aku.” Jawab Jiyeon sambil bangkit menuju kamar mandi. Kiseop hanya melihat Jiyeon dengan kasihan.

………………..

“sudah?” tanya Kiseop pada Jiyeon dari luar kamarnya.

Krakk…

“hm.. kita sarapan dulu..”

“kau mau bertemu dengan orangtuamu?” tanya Kiseop heran.

“nde, mereka kan tetap orangtuaku.. kaja…” Jiyeon mengajak Kiseop menuju ruang makan.

Di ruang makan mereka sudah bertemu dengan orangtua Jiyeon yang sedang sarapan. Kiseop dan Jiyeon segera duduk. Ayah Jiyeon berada ditempat duduk kepala keluarga, Jiyeon disamping kanannya, ibunya berada diseberang Jiyeon, dan Kiseop berada disamping kanan Jiyeon.

“…..”

Mereka makan dengan tenang.

“ehem…. Jiyeon-ah” ujar ayahnya memulai pembicaraan.

“hmm?” Jiyeon menjawab sekenanya tanpa menoleh ke ayahnya.

“mianhae, jongmal mianhae, ayah samasekali tidak bermaksud melakukan ini padamu. Ayah tidak sengaja” ujar ayahnya sambil menatap Jiyeon.

“nde, tak apa, ayah sedang marah kan? Tak usah dipikirkan.” Jawab Jiyeon dia tetap melanjutkan makannya.

“…..”

“jadi, Jiyeon ah…. Kami…” ibunya melanjutkan “tidak jadi bercerai. Kami sepakat untuk tetap melanjutkan hubungan keluarga”

“nde, baguslah. Jadi, tidak jadi? Lalu bagaimana dengan lelaki itu?” tanya Jiyeon membuat Kiseop hampir tersedak. Dia segera mengambil air.

“ibu, sudah lama tidak berhubungan dengannya” jawab ibunya.

“ooohh.. ayah sudah memaafkan ibu?” tanya Jiyeon.

“nde, ibu sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi” jawab ayahnya.

“ayah terlalu baik. Kalau aku, aku akan langsung menceraikan ibu, mengusirnya dan mencari pengganti lain yang lebih cantik dan setia” ujar Jiyeon, kali ini Kiseop benar-benar tersedak.

“ehem.. Jiyeon ah, kita pergi saja ya” ujar Kiseop hendak berdiri. Jiyeon menariknya untuk duduk kembali.

“tidak ada yang boleh pergi kecuali ibu” ujar Jiyeon.

“Jiyeon, kau keterlaluan. Ayah dan ibu sudah memutuskan untuk tidak bercerai, dan ibumu sudah menyesali perbuatannya. Kau harus sopan!” ujar Ayahnya.

“memangnya menyesali saja sudah cukup? Tidak, ayah! Aku rasa tidak cukup. Bukan waktu sehari-dua hari ibu menyesali. Aku yakin nanti juga kembali” jawab Jiyeon, kali ini menghentikan makannya.

“Jiyeon-ah…”Kiseop mulai ancang-ancang, dia melihat ibu Jiyeon yang mulai menangis.

“tidak ada yang menyuruh kalian berbaikan. Aku sudah katakan, kalian bercerai saja! Apa kalian sangat membenciku? Saat kukatakan jangan bertengkar, kalian tetap saja bertengkar. Saat kukatakan bercerai, kalian malah berdamai….” Bentak Jiyeon pada ayah dan ibunya.

“Jiyeon ah….”Kiseop menarik Jiyeon.

“bukan Jiyeon ah, kami sangat menyayangimu. Kami baru menyadari apa yang kami lakukan setelah kau mengatakan hal itu tadi malam” jawab ayahnya.

“heh? Terlalu lucu. Aku tidak sanggup tinggal bersama ibu” jawab Jiyeon sambil berdiri, dia melihat ibunya yang sedang menangis dihadapannya. Air mata Jiyeon pun mengalir dipipinya, dia menyekanya.

“Jiyeon ah, sopanlah pada ibumu! Hormati dia! Dia juga sudah menyesal!” ujar Ayahnya berteriak pada Jiyeon. Jiyeon beranjak pergi meninggalkan ruang makan dengan Kiseop dibelakangnya. Saat menuju pintu, ibunya menarik tangannya.

“maafkan ibu, Jiyeon ah”

“…..”

“ibu sangat menyesal……Ibu…tidak tahu apa yang……harus ibu lakukan supaya…….bisa menebus kesalahan ibu dimasa lalu………….Matipun ibu akan melakukannya………… kau akan memaafkan ibu kan?” ujar ibunya sambil menangis dan memegang tangan Jiyeon. Jiyeon membalikkan badannya dan menatap ibunya yang menangis.

“tidak! Ibu tidak usah mati!” ibunya menatap Jiyeon yang mengatakan hal tidak terduga. Jiyeon melepaskan tangan ibunya dari tangannya.

“ibu hanya pergi saja… yah, setidaknya beberapa hari mungkin” ujar Jiyeon dia segera pergi. Pergi keluar rumahnya.

“ah… saya juga ikut pergi. Permisi..”ujar Kiseop mengejar Jiyeon.

…………………………

Mereka duduk di ayunan yang berada ditaman bermain. Tempat biasa Jiyeon dan Kiseop berada. Mereka hanya terdiam, melihat anak-anak bermain.

“ayo pergi!” ujar Jiyeon sambil berdiri.

“eh? Kemana?” tanya Kiseop.

“mati…”

“eh?” Kiseop kaget setegah mati.

“hahaha… aniya…aku  masih ingin hidup…” Jiyeon tertawa dengan sepuas-puasnya, Kiseop mengelus dadanya dan menghela napas lega.

“huh… syukurlah!” ujar Kiseop.

Kiseop mengikuti kemanapun Jiyeon pergi. Jiyeon mengajak Kiseop untuk pergi menuju perpustakaan. Jiyeon sangat menyukai perpustakaan. Baginya berada diperpustakaan seperti berada di berbagai dunia. Dia merasa semua buku itu adalah miliknya.

Bosan diperpustakaan, ia mengajak Kiseop untuk bermain dan berkeliling kota. Jiyeon benar-benar melakukan hal-hal yang sangat disukainya hari itu. Kiseop tetap senang saja bersama Jiyeon. Dia ingin menebus hari-hari yang ditinggalkannya tanpa Jiyeon.

“Kiseop-ah, ayo pulang!” ujar Jiyeon.

“ehm.. nde…”

……………………………….

Begitu sampai dirumah Jiyeon.

“aku rasa, malam ini tidak akan menginap..” ujar Kiseop didepan rumah Jiyeon.

“ah… nde.. gwenchana…”

“Besok kesekolah sama-sama ya!” Kiseop menuju rumahnya sambil melambaikan tangannya.

“nde….”Jiyeon membalas Kiseop, ia pun segera masuk kerumahnya.

“….”

Kali ini rumahnya sangat sepi, dia menduga-duga, apa yang sebenarnya terjadi. Berusaha mengingat kembali kejadian hari itu.

“apa? Hmmm….. ah ya! Drama pagi!” Jiyeon menepuk kepalanya setelah mendapatkan jawaban.

“ah, pabo! Kenapa aku menjadi artis tadi pagi? Apa yang terjadi sekarang? Aku harus bertemu ibuku! Haduh… pabo! Aku tidak layak hidup rasanya…” Jiyeon segera berlari menuju dapur, berharap ibunya berada disana.

“ibu…ibu…!!!” Jiyeon berteriak mencari sosok ibunya. Namun, dia tidak menemukan ibunya didapur. Dia pun pergi ke halaman belakang.

“tidak ada!” dia mencari seperti orang gila. Dia tidak menemukan ibunya. Dia tidak mau ibunya pergi seperti perkataannya tadi pagi.

“ah, ayah! Melihat ibu?” tanyanya pada ayahnya yang ada dikamar orangtuanya.

“kau meminta ibumu pergi, dia sudah pergi!” jawab ayahnya dengan wajah kebingungan.

“kemana?”

“kerumah nenekmu, di Mokpo”

“hah? Ommo… jadi.. ayah tidak mencegah ibu?” tanya Jiyeon kaget.

“ehmm.. begini nak, kami sudah sepakat untuk saling mengkoreksi diri, jadi kami pikir untuk berpisah sementara. Yah, minggu depan ibumu kembali. Lagi pula untuk apa ayah mencegahnya? Ibumu juga kangen dengan ibunya” jawab ayahnya. Jiyeon memegang jidatnya, mengingat kebodohannya.

“jadi ayah sudah benar-benar berdamai dengan ibu?”

“ya! Sangat berdamai.” Ayahnya tersenyum “semua demi kebaikan bersama! Ayah akan berusaha menjadi pemimpin yang baik bagi keluaga kita!”

“hah? Ba ik lah….” Jiyeon membuat wajah heran. Ia segera pergi menuju kamarnya. Baru saja melangkah menuju tangga, ia segera berbalik menuju ayahnya. Ia memeluk ayahnya. Ayahnya yang kaget membalas pelukannya.

“aku menyayangi ayah..”

“hmm…”

“nah, ayah. Kapan ibu pergi?” tanya Jiyeon sambil melepaskan pelukannya.

“baru tadi”

“masa? Aku harus segera menelponnya” Jiyeon meraih hapenya yang ada di kantong celananya.

“iishhh…. Lama sekali….. eh, ibu… ah yoboseyo…Jiyeon imnida…. Ibu? Hmm.. aku minta maaf.. aku sangat…”

“anda anaknya?” tanya seseorang yang bersuara lelaki menjawab. Jiyeon kaget, dia takut ibunya kembali bermain lagi.

“siapa kau?” tanya Jiyeon, ayahnya segera melihat Jiyeon dan menyimak dengan baik.

“ehm… saat ini, bus yang ditumpanginya kecelakaan. Saya salah satu saksi dari kecelakaan tersebut. Sekarang sepertinya ibu anda ini, dibawa ke rumah sakit” jawab lelaki itu yang membuat Jiyeon seperti disambar petir.

“ibuku? Benarkah? Anda tidak berbohong?”

“aku tidak berbohong! Rumah sakit Somsemsim. Pergilah..”

………………………………..

“yang sabar ya, Jiyeon ah…”

“…..”

“jaga dirimu baik-baik”

“…..”

Suara orang-orang yang datang untuk Jiyeon. Jiyeon duduk disamping ibunya yang terbaring dengan sangat lemah. Dia menatap ibunya dengan tatapan kosong. Menunduk sebentar, lalu kembali melihat ibunya. Dia hanya terdiam. Melihat ibunya yang juga terdiam. Yang terbaring dengan tanpa napas.

“aku bilang hanya beberapa hari, bukan selamanya”

“…..”

“ibu kenapa tidak menungguku? Jahat sekali…”

“…..”

“benar-benar tidak menyayangiku, huh?”

“…..”

“tapi, selamanya ibuku. Ibu yang sangat baik, namun memiliki anak bodoh!”

“…..”

“kenapa, ibu? Terlalu cepat…”

“…..”

“gwenchana?” tanya Kiseop sambil menepuk bahu Jiyeon pelan. “jangan menyalahkan diri sendiri?”

“menurutmu siapa yang menyalahkan diri sendiri?”

“…..”

“aku tidak menyalahkan diri sendiri. Hanya sedikit menyesal. Tidak meminta maaf padanya” kali ini Jiyeon benar-benar menangis. Dia benar-benar  menangis. Semua teori antara drama dan kehidupan nyata yang dipikirkannya, telah dilupakannya. Ia benar-benar sangat menyesal. Mengapa hal itu bisa terjadi padanya?

Kiseop hanya dapat memeluknya, berusaha untuk menenangkan Jiyeon yang biasanya tidak pernah mau menangis didepan Kiseop. Kiseop selalu merasa kasihan pada perempuan ini. Jiyeon selalu memikirkan bahwa kehidupan itu sangat berbeda dengan drama atau anime. Sangat berbeda. Padahal drama berasal dari kisah kehidupan yang kadang sangat membahagiakan dan sangat menyedihkan.

……………………

FLASHBACK ON

Kiseop kecil, 10 tahun, sedang duduk bersembunyi dari teman-teman yang tidak mau berteman dengannya. Hanya karena Kiseop sangat payah dalam bermain. Membuat setiap tim yang bersama Kiseop selalu kalah. Dia menangis.

“ya! Apa yang kau lakukan disini?”

“hm? Tidak ada urusannya denganmu!”

“heh? Aigoo, kau seperti orang tua saja! Pergi sana!”

“kenapa? Aku mau disini!”

“aishh…pabo ya! Kalau kau disini, nanti kau tidak tambah tinggi!”

“apa hubungannya?” Kiseop kaget mendengar kata-kata orang itu.

“ehem” orang itu berdeham, mungkin agar bisa lebih mendramatisir “begini, kalau kau disini terus, maka kau akan merasa sangat kecil dan terpuruk, lalu tidak mau bermain dan berolahraga seperti mereka, lalu kau tidak akan tinggi-tinggi, lalu kau akan minder, dan selamanya tidak punya teman!”

“benarkah?”

“benar! Jadi supaya kau bisa tinggi. Coba berdiri, dan maju 3 langkah sampai ke depan ku, disini. maka kau akan punya 1 teman” tunjuk orang itu pada Kiseop. Kiseop segera berdiri, maju 3 langkah hingga dekat dengan orang itu.

“dengar! Semua ini tidak akan berubah kecuali kau merubahnya! Ini tidak akan berubah sendiri seperti impianmu, yah, seperti di drama atau anime. Kau yang merubahnya sendiri! Mengerti? Karena kau sutradara di kehidupanmu sendiri.”

“nde… kau bilang aku akan punya teman. Mana?”

“disini!”

“eh?”

“Jiyeon imnida! Aku pendatang baru. Kau?”

FLASHBACK OFF

…………………………………

— END —

Selesai juga! Ah, gaje ya? Gak papa deh. Sudah lama pengen buat FF kayak gini. Soalnya banyak temanku yang menjalani kehidupan tuh lebay banget, kayak didrama aja. Hiss… capek melihatnya… hahaha…

Your comment please…^^

2 responses to “That Girl

Komentar ditutup.