Remain Memories : Can You Smile? *Part 1*

Can You Smile??

Title         :        Can You Smile
Author     :       Taeminwoo – NhuerHayatie
Length     :        One Shot – Continue
Genre      :        Romance, sad

Cast        :        Myungsoo (L), Lihyun, Namju (A Pink), Jieun (Secret), Lee Sunggyu

Dear Diary…

Diary naechingu, hari ini aku merasa sangat sedih. Untuk yang ketiga kalinya malam ini datang lagi, seperti yang kuceritakan sebelumnya malam pertama ketika oppa pergi meninggalkanku, malam kedua ditahun lalu hal ini teringat lagi, dan malam ini.

Diary-ah, kenapa setiap tahun aku selalu mengingat ini? Padahal aku benci jika malam ini tiba dan aku teringat semuanya kembali. Kau pasti tahu sejak kejadian itu, sudah 2 tahun berlalu. Diary-ah, aku merasa sangat bingung dan benci pada diriku sendiri. Karena keegoisanku waktu itu oppa pergi tepat pada malam ini. Aku benar-benar jahat, aku membuangnya, aku membuatnya menderita, aku mengecewakannya, aku membuatnya pergi meninggalkan orang-orang terdekatnya, aku… aku…

Mian Diary-ah, aku menjatuhkan beberapa tetes air mata dilembaranmu. Kau pasti mengerti perasaanku, naega jeongmal bogosippo Myungsoo oppa.

Diary-ah, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Kau tak keberatankan aku menoreh beberapa lembar coretan pada lembaranmu yang putih bersih kan? Hanya padamu aku mampu bercerita, karena aku selalu teringat saat aku dengan tega meninggalkannya, aku jadi merasa seperti orang hina. Kenangan itu terus muncul, aku tahu aku salah tapi setidaknya biarkan aku hidup tenang.

Diary-ah, aku ingin menceritakan kenangan itu padamu, kupikir jika kuceritakan semuanya sedikit demi sedikit kenangan itu akan tersalin dilembaranmu dan memudar diingatanku. Gwencanayo, kali ini aku tidak bersikap naif melainkan mengabadikan kisah ini dalam bentuk tulisan. Karena aku tidak mampu melisankan kebodohanku, terlalu menyedihkan dan payah.

Diary-ah, aku akan bercerita sekarang. Ini merupakan rahasia terdalamku, dengarkanlah isi hatiku dan kuharap kau mengerti.

*             *             *

Lihyun mengambil hape dari tas kecilnya dan membaca pesan yang baru saja diterimanya. Lihyun menyeringai setelah membaca pesan itu.

“dari siapa?” salah seorang teman Lihyun bernama Namju bertanya setelah melihat ekspresi Lihyun.

“Myungsoo”  jawabnya singkat. Ji Eun yang berada disamping Lihyun mengambil hape Lihyun dan membaca isi pesannya.

“Kau ada waktu? Aku sedang berada disekitar rumahmu. Ku tunggu sampai kau datang.” Ucapnya keras agar Namju juga mendengarkan. Ji Eun melihat waktu pengiriman pesan itu dan membandingkannya dengan jam tangannya.

“Sudah lewat 30 menit, mungkin dia masih disana” Ucap Ji Eun sambil memandang Lihyun. Lihyun tidak menjawab.

“kau tidak pergi? Myungsoo menunggumu” Tanya Namju.

“sudahlah biarkan saja. Hari sudah sore, nanti dia pulang sendiri kalau merasa lelah. Kaja” jawab Lihyun yakin lalu mengapit kedua lengan temannya.

*             *             *

“sampai jumpa Lihyun-ah, annyeong” ucap Namju dari dalam mobil saat Lihyun keluar dari mobil. Hari itu sudah malam, jam menunjukkan pukul 08.47.

“nde. Berhati-hatilah.” Jawab Lihyun pada kedua temannya, mobil itu kemudian pergi dan Ji Eun tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.

Lihyun berbalik dan berjalan pelan memasuki jalanan kecil menuju apartemennya. Saat melewati taman anak-anak, dia melihat seseorang sedang duduk diayunan sendirian tanpa melakukan apapun. Dia menyipitkan mata untuk memperjelas pandangannya.

“Myungsoo…” panggilnya setengah berteriak pada seseorang itu dan menghampirinya. Seseorang yang dipanggil Myungsoo itu menoleh dan tersenyum padanya lalu berdiri.

“Kau… apa yang…” tanyanya bingung saat mereka saling berhadapan dan memotong omangannya. Dengan refleks Lihyun mengambil hapenya dan membaca kembali pesan yang dikirim Myungsoo.

“astaga oppa, jadi kau menunggu sejak tadi?” tanya Lihyun kaget,  lelaki ini sudah menunggunya tiga jam lebih.

“nde, aku menunggu sampai kau datang” jawab Myungsoo sambil nyengir, tampak sekali wajahnya sedikit pucat. Dia hanya memakai celana jeans dan kaus oblong. Mereka berdua duduk diayunan yang berdampingan.

“ada apa?” tanya Lihyun membuka percakapan.

“andwaeyo”

“oppa…”

“nde, naega bogosippo Lihyun-ah. Apa aku tdak boleh menemuimu dangan alasan itu?” Myungsoo berkata dengan lembut dan ramah.

“kalau hanya itu besok kita bisa bertemu. Oppa pulanglah, ini sudah malam”

“aigoo, bisakah kau berkata sedikit lebih lembut pada oppa mu ini?”

“. . .”

“sebenarnya ada yang ingin kutanyakan”

. . .

“selama ini apa kau nyaman berada didekatku?”

Lihyun tidak menjawab dan hanya mengayunkan pelan ayunannya”

“bagaimana jika aku pergi? Apa kau akan rindu dan mencariku?”

Lihyun menghentikan gerakannya. “oppa kau ini bicara apa?” tanya Lihyun heran.

“hahaha aniya. Malam ini begitu cerah” jawab Myungsoo mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo merogoh sakunya dan mengeluarkan hape kemudian dia menekan-nekan tombol hapenya dan memutar salah satu lagu. Lagu itu terdengar tenang dan mengharukan.

And, Can you smile? Niga weonhajana Niga barajanha…

“kenapa memutar lagu sesedih itu?” tanya Lihyun.

“karena aku suka. Ini seperti perasaanku”

“mwo?”

“haha, aniya. Hanya saja ini seperti aku berada didalamnya. Nanti kau juga akan mengerti saat mendengarnya sendirian”

Lihyun mulai merasa lelah dan tdak nyaman, gadis ini kemudian berdiri dari duduknya.

“oppa, sekarang sudah pukul 9 tepat. Pulanglah, wajahmu mulai pucat. Aku lelah…” keluh Lihyun. Myungsoo hanya tersenyum manis melihat tingkah gadisnya.

“apapun katamu yeobo. Pergilah, aku ingin melihatmu masuk rumah” ucap Myungsoo sambil memegang tangan Lihyun. Lihyun hanya tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan Myungsoo.

Saat menaiki tangga menuju apartemenya dilantai 3, hape Lihyun berbunyi dan itu pesan dari Myungsoo.

-Satu lagi, kalau kau merindukanku pandanglah langit cerah dan cari bintang yang besar dan berkelap kelip, jika bintang itu jatuh berarti akupun merindukanmu. Oh ya, saat itu putarlah lagu Can You Smile. Perasaanku ada pada lagu itu. Annyeong yeobo, saranghae^^ –

Lihyun tersenyum malu membaca pesan itu. “kapan aku pernah merindukanmu oppa? Kau selalu ada untukku bahkan bagiku kau terlalu baik. Walaupun itu sedikit meresahkan” ucap Lihyun saat membaca pesan dari Myungsoo. “na do saranghae” ucapnya lagi dengan berbisik dan samar-samar.

*             *             *

Ji Eun dan Namju berlari menuju suatu kelas dan berhenti didepan meja Lihyun sambil ngos-ngosan.

“ya ya tenanglah. Ada apa ini?” tanya Lihyun heran melihat kepanikan kedua temannya.

“ikut kami” ucap Namju dan mereka berdua berjalan keluar memasuki mobil dan pergi ke suatu tempat.

“kenapa kita kesini?” tanya Lihyun ketika mereka turun dari mobil. Mereka kerumah sakit.

“tenanglah, kita masuk dulu” jawab Ji Eun berusaha menenangkan Lihyun. Mereka masuk kerumah sakit itu dan menuju ruang UGD. Diluar ruang tunggu ruangan itu Lihyun melihat omma Myungsoo menangis terseduh-seduh dan appa-nya berusaha menenangkannya. Juga ada teman-teman Myungsoo (Woohyun, Sungjong, Sungyeol, dongwoo dan Hoya) yang menampakkan wajah sedih.

“ada apa ini” tanya Lihyun heran dan dengan wajah yang kebingungan.

“masuklah” jawab Namju singkat dan mengantarnya sampai didepan pintu ruang UGD. Lihyun membuka pelan pintu itu. Dilihatnya Sunggyu sedang  berdiri mematung menghadap seseorang yang terbaring dengan ditutupi kain putih dari kepala hingga kaki. Sunggyu yang dari tadi menunduk mengalihkan pandangannya kearah Lihyun yang berjalan mendekatinya.

“oppa, siapa ini?” tanya Lihyun. Sunggyu tidak menjawab.

Tanpa menunggu komentar apapun Lihyun mendekati seseorang yang tertutup kain putih itu dan mengarahkan tangannya untuk mengetahui orang itu. Perasaan Lihyun tidak enak, kini dia merasa takut, khawatir, bingung, dan sebagainya.

Dengan ragu-ragu namun pasti tangannya bergerak pelan menuju kain putih itu. Sebenarnya dia tidak ingin membuka kain itu tapi penasaran siapa yang ada didalamnya. Tangannya bergetar saat memegang kain dan memundurkannya.

Saat wajah orang yang berada dibalik kain putih itu terlihat, Lihyun seketika syok dan mati rasa. Matanya melotot dan mulutnya terbungkam melihat wajah orang yang kini hanya sekedar sesosok mayat. Tubuhnya mematung dan matanya memandang simayat tanpa berkedip. Ji Eun dan Namju yang mengetahui mayat itu siapa memegang bahu Lihyun kiri dan kanan,  bermaksud menabahkan Lihyun tapi mereka sendiripun meneteskan air mata. Sementara Lihyun, gadis ini masih tetap mematung dan melotot, tak sedikitpun meperlihatkan dia akan menangis.

Oppa kenapa kau disini? Wajahmu lebih pucat dari yang semalam. Kenapa kau menutup mata dan membungkamkan mulutmu? Tadi malam kau masih tersenyum menemuiku. Aku kira kau sudah pulang, tapi kenapa malah tidur disini?. Pikir Lihyun.

Lihyun mematung dan sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sanggup mengeluarkan kata yang dia fikirkan. Kemudian gadis ini ambruk dan terduduk masih dengan ekspresi wajah 1000 bahasa. Kedua temannya masih berdiri sambil menangis. Menangis melihat Myungsoo yang sudah menjadi mayat dan menangis melihat keadaan Lihyun. Ji Eun mengambil inisiatif untuk menutup kembali kain yang membungkus Myungsoo dan Namju hanya diam menutup mulutnya dengan tangan.

Sunggyu yang sejak tadi diam berjongkok dan menyerahkan selembar kertas dan sebuah buku berukuran sedang pada Lihyun.

“kau pasti masik bingung dan syok dengan semua ini, ambillah. Ini akan menjelaskan semuanya” ucap Sunggyu pada Lhyun, masih dengan wajah yang tak dapat digambarkan. Lihyun mengalihkan pandangannya pada buku yang diserahkan Sunggyu yang sejak tadi dipegangnya. Diambilnya buku dan selembar kertas itu. Lihyun melihat buku yang baru saja dipegangnya dan membaca tulisan yang ada disampulnya dalam hati.

KIM MYUNGSOO. . .

Seketika itu juga airmatanya menetes dan mengenai nama Myungsoo pada buku itu. Lihyun memeluk erat benda yang dipegangnya sambil terus tersedu dan terisak.

“Myungsoo” ucapnya. “o… oppa…” lanjutnya lagi berusaha mengeluarkan nama itu disela-sela isak tangisnya.

*             *             *

Diary-ah, aku jahat bukan? Setelah mendengar ceritaku kau pasti merasa aku sangat jahat kan? Yaah, aku memang jahat. Aku pacar yang buruk! Teganya aku mengusir Myungsoo dengan alasan aku lelah padahal dia begitu merindukanku. Dia sakit! Dan aku tidak tahu itu. Mau tahu yang lebih menyedihkan Diary-ah? Malam itu merupakan malam terakhirnya. Aigoo betapa menderitanya dia.

Diary-ah, hari ini Sunggyu oppa temannya Myungsoo oppa memberikanku buku harian oppa dan surat oppa untukku.

“3 hari yang lalu Myungsoo menulis ini untukmu. Katanya aku harus memberikan ini setelah dia benar-benar pergi agar kau tak merindukannya. Dia tahu keadaanya semakin parah dan tidak bisa disembuhkan lagi. Mungkin sampai sekarangpun kau tidak tahu karena dia terlalu hebat berakting”. Sunggyu-oppa menjelaskan panjang lebar padaku.

Dari buku hariannya yang kubaca, ternyata oppa menderita jantung sejak kecil. Kenapa aku baru tahu sekarang? Diary-ah kenapa oppa menyembunyikan ini dariku? Kau tahu apa yang paling membahagiakan saat kubaca buku hariannya? Hanya ada namaku disetiap coretan tangannya.  Tapi kau tahu apa yang paling menyedihkan? Oppa berkata dia tidak ada gunanya, orang yang dia sayangi hanya aku tapi dia tak mampu melakukan apa-apa untukku layaknya pacar pada umumnya. Dia bilang, tidak ada yang dapat dia lakukan selain melakukan kebaikan padaku.

Myungsoo oppa. . .  kenapa kau begini baik? Aku belum sempat membalasnya tapi kau malah pergi duluan. Bahkan aku belum sempat bilang “saranghae” padamu.

Diary-ah, aku masih menyimpan pesan terakhir yang dia kirimkan waktu itu. Tapi aku tak berani memandang langit dan mencari bintang yang paling cerah, tak berani memutar lagu Can You Smile bahkan aku tak berani membaca surat darinya. Aku taku! Waktu itu aku terlalu naif mengatakan bahwa “kapan aku pernah merindukanmu?” padahal kenyataanya sekarang aku selalu merindukannya. Selalu dan akan terus begitu.

*             *             *

Setelah berjam-jam bergulat dengan buku, Lihyun berdiri dan menghapus airmatanya yang berlimpah. Kemudian gadis ini mengambil selembar kertas yang terlipat rapi dimeja belajarnya dan hapenya.

Lihyun berjalan keruang yang tampak seperti dapur namun tak ada satupun perabotan dapur yang terlihat disana, hanya ada barisan lemari-lemari kecil yang terletak didinding  dibagian atas dan bawah. Ruangan itu luas tanpa ada meja dan kursi makan. Kemudian gadis ini membaringkan dirinya dilantai didekat sebuah meja kayu tua.

Sejenak Lihyun memandang langit dinding rumahnya, kemudian mengalihkan pandangan menuju langit malam yang sebenarnya melalui jendela kaca yang sedikit terbuka.

Lihyun melirik hapenya dan menekan beberapa kali tombol hapenya. Akhirnya gadis ini berani memutar lagu Can You Smile dan didengarnya berkali-kali. Kemudian matanya kembali tertuju kesatu bintang yang paling besar dan cerah.

Lagu itu terus berbunyi sementara Lihyun terus memandang bintang. Kemudian dia teringat dengan surat yang dipegangnya. Lihyun membuka surat itu dan dibacanya.

Tak ada komentar atau reaksi apapun. Setelah melihat isi surat dari Myungsoo matanya kembali tertuju pada langit. Tanpa ada reaksi apapun, hanya melamun menatap sebuah bintang.

Dibalik lamunannya sebuah bintang sukses melesat dan jatuh dengan indah, berhasil membawa aitmata Lihyun keluar lagi. Walaupun masih mengeluarkan airmata, tapi ada seulas senyuman tipis dibibir gadis bernama Lihyun ini.

To : Lihyun-ah

Mulai sekarang hiduplah dengan bahagia, aku takkan mengganggumu lagi.

Jangan mencintaiku, karena aku sudah tak mencintaimu.

From : Myungsoo in Paradise

7 responses to “Remain Memories : Can You Smile? *Part 1*

  1. omo…
    jangan mencintaiku,karena aku sudah tidak mencintaimu lagi.
    daebakk, dapet kata2 dimana nih Thor ?!
    mengharukan, so sweet !!!

Komentar ditutup.