REMAIN MEMORIES : SMILE AGAIN *PART3*

REMAIN MEMORIES : SMILE AGAIN *PART 3*

Tittle      :    Remain Memories  :  Smile Again *Part 3*

Author  :    Taeminwoo – NhuerHayatie

Length   :    one shot – continue

Genre     :    Comedy, Romance, Sad

Cast         :    Lihyun (OC),  Ryeowook (SuJu), Ji Eun (Secret), Namju (A Pink)

Kali ini di Remain Memories ada Ryeowook tapi Myungsoo udah nggak ada, kan udah meninggal #jjddaaaarrrrrrrr, dibunuh inspirit

Setelah sebelumnya bikin cerita sedih dan romantic, kali ini mau coba bikin cerita komedi biar pembaca nggak pada bosan bacanya. Tapi mohon dimaklumi yah kalau ceritanya nggak lucu-lucu amat. Let’s check it…

………………………

Bbrrrrrmmmmm. . . .

Mobil mereka (Lihyun, Namju dan Ji Eun) berhenti dihalaman depan gedung yang besar dan sangat tinggi.

“welcome to my life and I hope you happy with me” ucap Namju saat keluar dari mobil dan merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar, gadis ini benar-benar menghayati.

“ayo, tinggalkan saja dia” ujar Ji Eun pada Lihyun saat mereka keluar dari mobil dan berjalan mendahului Namju yang masih merentangkan kedua tangan sambil berputar-putar menambah gerakannya (kok jadi kayak film India?).

“eit tunggu dulu” ucap Namju pada dirinya sendiri sambil menghentikan gerakannya “aku dan Lihyun kan sudah lama berteman. My life? Bukankah dia hanya tinggal di apartemenku? Bukankah kata my life sering diucapkan seorang kekasih untuk kekasihnya?” tambahnya dan mengoreksi bahasa Inggrisnya sendiri yang dia rasa kurang tepat.

“ya tunggu aku” teriak Namju saat melihat kedua temannya sudah berjalan jauh meninggalkan dia. Gadis ini berlari menyusul mereka.

~~~

“ini yang kau maksud pergi kesuatu tempat?” Tanya Lihyun pada Ji Eun saat mereka bertiga sampai didepan pintu masuk sebuah studio music.

“eoo” jawab Ji Eun sambil mengangguk. Mereka masuk dan berjalan menuju salah satu ruang music.

“sejak kapan kau suka bernyanyi?” Tanya Lihyun.

“eh aniya, aku ingin menemui seseorang” jawab Ji Eun.

“apa masih jauh?” sambung Namju.

“itu didepan sana” tunjuk Ji Eun.

“annyeong haseyo” sapa Ji Eun saat mereka berada didalam ruangan yang penuh dengan gitar, drum, piano, dan alat musik lainnya. Yang disapa tidak menyahut karena sibuk dengan permainan gitarnya.

“annyeong haseyo”

“. . .”

“haloooo”

“. . .”

“assalamu alaikum (?)”

“. . .”

“hajimemasite”

Tetap tak ada sahutan sama sekali, ruangan itu begitu ribut dengan suara gitar yang dimainkan hingga suara Ji Eun hampir tak terdengar. Karena kesal telah disapa berulang-ulang tapi tak dapat jawaban, Ji Eun langsung mencabut stop kontak yang terhubung dengan gitar. Awalnya lelaki ini kesal dan berbalik ingin marah tapi tidak jadi.

“ooh kalian, kenapa datang tiba-tiba mencabut kabelnya?”  Tanya lelaki itu “sejak kapan kalian datang?” lanjutnya.

“sejak tadi. Aku memanggilmu tapi kau tidak dengar, jadi kucabut saja kabelnya” jawab Ji Eun. Lelaki ini tidak mendengarkan ucapan Ji Eun dan malah memandang Lihyun yang sedang mengedarkan pandangannya kesegala penjuru. “yepposeo” pikirnya sekaligus bertanya-tanya siapa wanita yang sedang dipandangnya ini. Melihat itu, Namju yang berada disebelah kanan Lihyun mencuatkan sedikit sudut kanan bibirnya, memperlihatkan senyuman yang sangat tipis dan samar-samar.

“oh ya, kalian tentu belum saling kenalkan?” ucap Ji Eun pada Lihyun dan lelaki itu. “Lihyun ini Ryeowook sepupuku, Ryeowook ini Lihyun saahabatku” lanjut Ji Eun yang saling memperkenalkan mereka satu sama lain. Ryeowook mengulurkan tangan untuk berjabatan sambil tersenyum. Sejenak Lihyun melihat uluran tangan Ryeowook kemudian disambutnya dengan cuek.

“Kim Ryeowook” ucap Ryeowook memperkenalkan dirinya.

“Nam Lihyun” sambung Lihyun dengan datar tanpa ekspresi apapun.

“duduklah, aku akan mengambilkan minuman sebentar” ucap Ryeowook  mengajak mereka duduk “kalian mau minum apa?” Tanyanya.

“ambilkan kami apa saja” jawab Ji Eun. Ryeowook keluar untuk mengambilkan mereka minuman.

“itukah sepupumu yang kau bilang sipembuat lagu itu?” Tanya Lihyun saat mereka duduk.

“eo” jawab Ji Eun. “dia bukan sekedar pembuat lagu, tapi dia juga pandai bernyanyi” tambah Ji Eun memuji sepupunya.

Ryeowook datang sambil membawa 4 botol minuman dan duduk bergabung dengan mereka.

“omo, aku baru ingat kalau ada janji dengan seseorang, aku harus pergi sekarang. Bagaimana denganmu Namju-ya?” Tanya Ji Eun sambil pura-pura memasang wajah panik. Namju tidak mengerti apa maksudnya, bukankah kalau ingn pergi Ji Eun tidak perlu bertanya padanya?. Melihat ekspresi Ji Eun akhirnya gadis ini mengerti juga. Dengan segera Namju mengambil hape dari dalam tasnya dan berpura-pura mengutak-atik isinya. Lihyun bingung dengan tingkah mereka.

“oh ternyata ada pesan dari dosenku, katanya aku harus membayar Spp yang 3 bulan lalu. Sepertinya aku juga harus pergi” ucap Namju dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“nah kalau begitu ayo kita pergi bersama” ajak Ji Eun “Wooki titip Lihyun dulu yah, setelah urusan kami selesai kami akan segera kembali” pesan Ji Eun pada Ryeowook. Kemudian mereka berdiri dan bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

“ya! Panggil namaku dengan lengkap” protes Ryeowook pada sepupunya karena tak suka dipanggil Wooki.

“Namju-ya, bukankah kita sudah lulus 6 bulan yang lalu?” Tanya Lihyun heran dengan alasan Namju.

“paboya” pikir Ji Eun yang merasa alasan Namju benar-benar dibuat-buat dan konyol.

“eehhh ittuu. . . anu maksudku Spp apartemenku 3 bulan yang lalu belum dibayar” koreksi Namju dengan gelagapan.

“sejak kapan apartemen juga membayar Spp?” Lihyun mulai curiga dan merasa mereka berbohong.

“maksudnya uang bulanan apartemen nya belum dibayar” ucap Ji Eun manjawab pertanyaan Lihyun.

“ayo Namju-ya, kita sudah terlambat. Lihyun jangan pergi dulu sebelum kami datang. Ingat ya, ja-ngan-per-gi-se-be-lum-ka-mi-da-tang” pesan Ji Eun kemudian dia dan Namju keluar meninggalkan Lihyun berdua dengan Ryeowook.

. . .

~~~

   “apa yang sedang mereka lakukan ya?” tanya Namju.

“molla, Wooki pasti sedang mengakrabkan diri dengan Lihyun. Mengaktifkan mulut sembilannya” tebak Ji Eun.

“dan Lihyun hanya diam saja tak menghiraukan Ryeowook” sambung Namju.

“atau dia marah dan memutuskan untuk pulang? Sms Wooki sebelum itu terjadi” perintah Ji Eun.

. . .

“sudah, Ryeowook bisa diandalkan kan?” tanya Namju setelah mengirim pesan ke Ryeowook.

“tentu. Dia bisa mengandalkan mulutnya”

“lalu kemana kita sekarang?”

“aku juga tidak tahu. Jalan saja”

Namju dan JI Eun mengendarai mobilnya dan berjalan tanpa tujuan setelah berhasil mengelabui Lihyun.

~~~

Ryeowook berbicara panjang lebar tanpa peduli Lihyun memperhatikan atau tidak, bahkan tidak perduli dengan ekspresi datar Lihyun yang  memandang keluar jendela yang terletak dibagian belakang Ryeowook. Tepat seperti dugaan Namju  dan Lihyun.

“. . . begitlah, dari semua lagu ciptaan yang kubuat, aku paling suka dengan lagu Now We Got To Meet, Fall In Love With Friend, If You Love Me More dan lagu baruku sekarang Smile Again. Kau punya lagu kesukaan Lihyun?”

“. . .”

“maksudnya tidak ya?. Oh ya, dulu aku juga kuliah dijurusan musik, dosenku selalu memujiku. Katanya. . .” Ryeowook bercerita dengan semangat dan panjang lebar. “kau satu fakultas dengan Ji Eun dan Namju kan? Kalau tidak salah namanya fakultas NhueHayatie (?) kan?. Pantas saja kita tidak bertemu, fakultas kita berjauhan sih. Aku di fakultas Teminwoo (?). sangat jauh kan?. Ah sebentar” Ryeowook mengambil hapenya dan menerima pesan yang dikirim Namju.

-ajak saja Lihyun terus berbicara, kalian berkenalanlah, dia memang agak sedikit pemalu. Tahan dia sampai kembali, jebal Ryeowook-ah. Gomawo^^-.

       “jadi sampai dimana tadi?” tanya Ryeowook setelah membaca pesan Namju.

“. . .”

“oh ya, sampai fakultas kan? Jadi kau dijurusan apa?”

“aku harus pergi” Lihyun berdiri dan segera berpamitan.

“mana boleh begitu Lihyun-ah, mereka sudah katakan dengan jelaskan? ja-ngan-per-gi-se-be-lum-ka-mi-da-tang”. Tahan Ryeowook sambil mengutip kata-kata Ji Eun sebelum mereka pergi. “ayo duduklah, jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri” ajak Ryeowook dan mereka duduk kembali.

. . .

“kalian dimana? Kenapa lama sekali?” Lihyun menelpon Namju.

“urusan kami belum selesai, tunggulah dulu sebentar” jawab Namju dari telpon. “Namju-yaaaaaaa, cepaaaaaaaatttt” seseorang berteriak dari dalam hape Namju dan Lihyun mendengarnya.

“apa itu suara Ji Eun?” tanya Lihyun.

“ah? A… ye, dia memanggilku, sudah ya Lihyun-ah. Semoga kau senang. Anyeeeeooong”

Ttuutt… ttuut… tuutt…

Namju memutuskan pembicaraan mereka.

Disisi lain, Ryeowook sedang mengutak-atik hapenya.  –Lihyun suka alat musik apa?- pesan itu dikirimnya pada sepupunya Ji Eun.

~~~

       “urusan kami belum selesai, tunggulah dulu sebentar” jawab Namju saat menerima telpon dari Lihyun.

“Namju-yaaaaaa cepaaaattttt” Ji En berteriak pada Namju yang masih berbicara dengan Lihyun, sekarang mereka sedang di Water Park bermain air dan Ji Eun sedang bersiap-siap masuk keperosotan yang panjang menuju kolam.

“sssttt” jawab Namju pelan agar Lihyun tak dengar.

“apa itu suara Ji Eun?” Tanya Lihyun dari telpon.

“ah? A… ye, dia memanggilku. Sudah ya Lihyun-ah, anyeeeoong” Namju bergegas menutup telponnya dan berjalan menghampiri Ji Eun.

“ya! Kenapa kau berteriak? Yang tadi itu Lihyun” gumam Namju dengan kesal.

“Jinja? Aigoo, apa dia mendengarnya?”

“keure, dia bertanya dan kututup saja telponnya.”

“hhhuuuffhh” Ji Eun menarik nafas panjang tanda penyesalan. Hapenya berbunyi dan dia berdiri mengambilnya diatas meja disekitar mereka. Namju melanjutkan kesenangannya. –gitar- ketik Ji Eun membalas pesan dari Ryeowook, lalu dia sendiripun kembali bersenang senang.

~~~

            Sekarang ruangan itu senyap tanpa ada sepatah dua kata yang keluar dari mulut Ryeowook. Mereka duduk berhadapan tanpa melakukan apa-apa.

. . .

“ayolah Ryeowook, ucapkan sesuatu” pikir Ryeowook menyemangati dirinya untuk berbicara, tapi mulutnya msaih tetap saja membungkam.

“aigooooo, sampai kapan aku harus menunggu. Mereka benar-benar… hhhuuffhh” pikir Lihyun dan menarik nafas panjang.

Ryeowook mengambil Hape dan memeriksa isinya. “oohh jadi dia suka gitar” batin Ryeowook ketika membaca pesan yang dikirim Ji Eun satu jam yang lalu. Ryeowook berdiri dan mengambil gitar lalu duduk kembali.

Jjrrreeenngggg. . . cobanya.

“kau bias main gitar Lihyun-ah?”

Lihyun menggeleng dan kembali melamun.

“kau mau coba?”

“ani, gomawo”

“jinja?”

“jeongmal”

“kalau begitu kau bernyanyi dan aku yang memainkan gitar ini”

“andwe!”

“ya sudah, dengarkan aku saja”

Ryeowook memulai permainan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu dengan merdu dan bernada tenang. Gitar itu dimainkannya dengan pelan dan teralun.

Naega Da  Joa Modu Da Joa… kira-kira seperti itu lagunya.

Lihyun yang sejak tadi tidak perduli dengan semua yang dilakukan Ryeowook, kini diperhatikannya dengan seksama. Matanya memanas, terlihat merah dan berair. Belum selesai lagu itu dinyanyikan, Lihyun berdiri dan segera berbalik. Gadis ini berjalan menuju pintu keluar tanpa mengatakan apa-apa.

“Lihyun-ah…” Ryeowook berhenti memainkan gitarnya dan berdiri. “ada apa? Kau mau kemana?” tanyanya. Lihyun menghentikan langkahnya tepat didepan pintu.

“tidak, jangan kemari!” cegah Lihyun saat Ryeowook berjalan mendekatinya, dia tidak mau Ryeowook melihatnya menangis. “aku Cuma ingin ketoilet” ucapnya lalu bergegas membuka pintu dan keluar.

~~~

       “Lihyun itu kenapa? Orang yang aneh” komentar Ryeowook saat dia dan Ji Eun bertemu disebuah restoran. “ku ajak bicara dia cuek, ditanya dia malah diam atau memperlihatkan tampangnya yang seperti ini” Ryeowook meniru gerakan Lihyun saat melamun diruang studio music sambil menambah-nambah gerakannya. Menopang dagu dengan sebelah tangan, memajukan sedikit kepala, memiringkannya, dan menganga seperti orang bodoh. Lalu menahan posisinya yang seperti itu.

“mmpphh, hahaha… lihyun tidak seperti itu” sangkal Ji Eun, gadis ini juga tertawa melihat gaya Ryeowook.

“oh ya, saat aku bermain gitar dia tiba-tiba berdirir dan berbalik. Aku menghampirinya tapi dia malah melarangku mendekat dengan posisi membelakangiku. Sepertinya dia menangis. Sebegitu terharunyakah dia mendengar laguku?” Tanya Ryeowook dengan gaya percaya dirinya.

Ji Eun terdiam tampak sedang berfikir.

Ryeowook meminum es campur dan menyuap sekali soto ayamnya yang dipesan dari Indonesia (?). “dia itu kenapa ya? Apa dia sakit (jiwa)?” tanya Ryeowook sambil menikmati makanannya.

“tidak, tentu saja tidak” sangkal Ji Eun “aku kasihan padanya” lanjut Ji Eun, ekspresinya berubah jadi murung.

“mwo? Kau kasihan pada Lihyun karena melihat permainan gitarku?” Tanya Ryeowook tiba-tiba dengan menyolot dan setengah berteriak. “maksudnya permainan gitarku jelek?” lanjutnya.

“ya! Pelankan suaramu” bentak Lihyun dengan kesal, gadis ini kaget dengan reaksi Ryeowook yang tiba-tiba. Ryeowook kembali tenang dan duduk.

“sebenarnya permainan gitarmu membuat Lihyun teringat seseorang” ucap Ji Eun, gadis ini masih sedikit kesal.

“seseorang?” Tanya Ryeowook.

Ji Eun mulai bercerita semua tentang Lihyun, dari saat Lihyun bertemu dengan Myungsoo hingga sekarang dia jadi seperti itu karena Myungsoo. Menceritakan bagaimana perpisahan mereka yang membuat Lihyun jadi putus asa dan patah semangat.

“Myungsoo sering bernyanyi untuk Lihyun?” Tanya Ryeowook disela-sela pembicraan mereka.

“ye, Myungsoo juga pemain gitar yang handal. Lihyun paling suka saat Myungsoo bermain gitar.” Jawab Ji Eun.

~~~

            Ryeowook menarik nafas panjang, menghembuskan dikedua tangannya lalu menggosok-gosok kedua tangannya untuk menghangatkan diri. Bulan ini sedang musim salju, Ryeowook berdiri didepan sebuah bioskop menunggu seseorang dengan mengenakan pakaian yang tebal dan jaket berlengan panjang.

“Wooki kau bisa membantunyakan? buat dia tersenyum kembali, setidaknya dia jangan menangis lagi”

Ingat Ryeowook pada perkataan Ji Eun beberapa hari yang lalu saat mereka sedang makan direstoran.

“baiklah akan ku usahakan. Pertama dimulai dari bioskop” gumam Ryeowook menyemangati dirinya.

Lihyun datang dari arah kanan Ryeowook, mengenakan jaket lengan panjang dengan syal dilehernya dan memakai topi dari rajutan benang wol.

“Namju dan Ji Eun mana?” Tanya Lihyun saat menghampiri Ryeowook.

“oh mereka belum datang”  jawab Ryeowook.

“bagaimana kalau kita masuk saja, mungkin nanti mereka akan menyusul. Disini sangat dingin”ajak Ryeowook sambil mengusap-usap kedua lengannya.

“ya sudah” jawab Lihyun tak mau ambil pusing. Mereka masuk dan memesan tiket.

“pesan film horror saja, hehehe” batin Ryeowook.

Selama film dimulai, mereka hanya diam  tanpa melakukan apa-apa dan tak bicara sedikit pun (yaeyalah kan sedang nonton, apa yang mau dibicarain coba? Mau digebuk sama penonton lain?). tak ada popcorn, minuman atau cemilan apapun (Ryeowook kok pelit amat?).

“aigoo, kenapa tadi aku memilih film horror?” pikir Ryeowook, namja ini menonton dengan tegang.

“a…” Ryeowook menahan teriakannya dan bergeleng kebahu Lihyun untuk menutup mata. Lihyun menatapnya dengan ekspresi datar. Sejak film itu dimulai, Lihyun hanya diam sambil terus menonton tanpa ada rasa takut.

“ eehhmm” Ryeowook memundurkan kepalanya dan membetulkan posisi duduknya lalu kembali memfokuskan matanya kelayar dan pura-pura jaim. “dasar bodoh! Malunyaaaaa” pikir Ryeowook.

“a…” ulangnya dan kembali berlindung dipundak Lihyun saat hantu difilm itu muncul. Kali inipun Lihyun hanya memandangnya datar.

“mian… aku hanya ta…kut…” ucap Ryeowook dengan polos dan kembali fokus kelayar.

Lihyun menggelangkan wajahnya membelakangi Ryeowook dan menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ternyata gadis ini menyembunyikan senyumnya. Lama-kelamaan Lihyun tertawa dan itu membuat bahunya tergerak, gadis ini menahan tawa dan menekan mulutnya dengan tangannya sekuat mungkin.

“dia itu kenapa? Dia tertawa?” ucap Ryeowook dalam hati sambil terus memperhatikan tingkah Lihyun.

“aigoo malunyaaaaa… dia pasti mentertawaiku…” batin Ryeowook lagi. Namja ini menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu.

TBC

……………………….

Kupikir ini ending-nya, tapi ternyata masih bersambung. Biar sajalah…

Now, please your coment^^

3 responses to “REMAIN MEMORIES : SMILE AGAIN *PART3*

  1. ya! memangnya ad TBC kayak gitu?
    bikin penasaran kuadrat tau!
    huaaahhhh… apa kelanjutannyaaaaaaaaaaaaaaaaaa….>..<

Komentar ditutup.