Life Without You, Noona!

LIFE WITHOUT YOU, NOONA

Title         :        Life Without You, Noona
Author     :        Yesunggyu – Amalia Laili
Length     :        one shot
Genre      :        Comedy, Romance *?*, Friendship

Cast        :        Lee Taemin, Choi Sulli, Park Luna, Lee Onew, Jung Krystal

Nah, kita kembali dengan cerita SHINee (akhirnya). Cerita ini ada yang nyata ada yang sembarang. Hahaha… soalnya ini beneran terjadi meskipun ada yang agak lebay. Ah, sudahlah. Baca aja ya!

…………………………….

SULLI POV

“beneran.. ciee ada noona yang menyukaimu…” ujarku pada Taemin, sahabatku.

“bohong! Siapa?” Taemin tidak percaya.

“kau ini. Aku gak bohong! Ada deh..”

“siapa?”

“nanti ku kasih tau. Dia teman baikku. Kau liat saja dengan siapa aku kasih kembali novel ini..”

“hmmm.. kapan?”

“saat istirahat..”

“mwo? masih 3 jam lagi! Kau suruh aku menunggu selama itu?” Taemin kaget setengah mati.

“nde! Mana bisa aku kasih sekarang, dia sedang belajar..”

“kelas berapa?”

“ehmm..” aku dilema, antara memberi tahukannya atau tidak.

“jeballl…” ujar Taemin memohon.

“kelas 3-5”

“keure? Ah, semoga dia…”

“dia siapa?” aku tambah bingung.

“aku gak tau namanya, tapi aku tau siapa. Semoga saja dia..”

“waeyo?”

“dia cantik, putih, imut, kecil, pokoknya cantik lah..”

Ternyata mirip seperti ciri-ciri eonni. Apa dia?

“jongmal? Mungkin saja…”

“aku tidak sabarrr… kapan dia bilang dia menyukaiku?”

“tadi malam. Aku chatting dengannya..”

“huaaaaa… semoga diaaa… sini kalungmu..” dasar aneh, aku pun melepas kalung dileherku dan memberikannya padanya.

“ini… waeyo?”

“sebagai sandera…” dia segera merampas kalungku dan menahannya.

“ya! Kau gila! Kembalikan, itu pemberian ibuku..” ujarku mencoba meraih-raih.

“ani… kau tenang saja, asal kau beri tahukan padaku siapa. Aku akan berikan.” Dia mengangkat tangannya yang membuatku tidak bisa meraih kalungku.

“ya sudah…” aku kembali duduk lemas di bangkuku.

“eh, apa bandul ini terbuat dari emas?” tanyanya tiba-tiba sambil memperhatikan bandul kalungku.

“nde, waeyo? Mau kau apakan?” tanyaku kembali.

“jadi, kalau tidak ada denganmu kalungmu ini. Kemungkinan ada ditoko emas..” ujarnya santai.

“YA! Kembalikan!”

“hahaha… mana dulu noonanya?”

“ishh… sabar dehh..”

“ani! Kau tau aku tidak bisa sabar kan?”

“sudah lah. Sabar saja.. eh ada sonsengnim tuh.. duduk sana!” aku pun mengusir anak itu dari dunia ini, eh dari tempat dudukku.

“huft…”

……………………………..

Annyeong, namaku Choi Sulli, umurku 15 tahun. Baru bersekolah di SMA Senkei, jadi masih kelas 1. Baru juga kelas 1, aku sudah berteman dengan banyak sunbae di sini. Salah satunya Luna-Eonni. Orang yang menyukai Taemin, sahabatku. Aku dan Luna-Eonni berteman dengan baik setelah kami sama-sama menyukai novel. Kami sering tukaran novel. Sangat menyenangkan. Sampai tadi malam dia mengatakan menyukai salah satu anggota kelasku, yang tak salah dan tak bukan tentulah Taemin.

Tentu saja, karena Taemin sangat imut. Ah, menurutku malah amit-amit *author dibunuh Taeminist*. Aku ini, meski baru kenalan dengan Taemin saat baru masuk SMA Senkei, tapi kami sudah bersahabat dengan baik. Dan aku mengatakan pada Luna eonni sebaiknya jangan dengan Taemin. Taemin terlalu sering berpikir yang aneh-aneh. Seperti laki-laki lainnya. Dan dia maniak komik. Sangat aneh lah.

Aku sudah memberitahukannya pada Taemin kalau Luna Eonni menyukainya. Dan malah membuat Taemin penasaran.

FLASHBACK ON

“Saengia.. saat dia main bola tadi eonni menontonnya. Dan saat dia melihat ke eonni, eonni langsung senyum, dia juga. Uwahh.. dia manis sekali..”

“ahh… tidak kok eonni.. biasa saja…”

“kau ini..”

“nde… cie… noona neomu yeppo nihh..”

“ishh… bilang ya, aku menyukainya..”

“beneran nih?”

“eh jangan..”

“kok jangan?”

“eonni bercanda. Iya kalau dia mau, kalau dia bilang ogah. Bisa turun pamor eonni…”

“ehmmm.. terserah lah..”

FLASHBACK OFF

Tapi, emang dasar aku ini. Malah kuberitahukan pada Taemin. Omo, ottohke? Apa yang harus kukatakan pada eonni? Aku bisa dibunuhnya. Dalam pelajaran bahasa Inggris itu aku merenungkan nasibku.

“Sulli ya..” bisik seseorang. Aku segera menoleh kekanan, dan mendapatkan Taemin yang memanggilku.

“waeyo?”

“apa mungkin dia yang kulihat saat main bola ya?”

“hah?”

“nde, dia tersenyum padaku saat aku bermain bola.. dia kan?”

“heh? Hahaha… maybe..” uajrku tertawa. Apa orang ini tau?

“kau ini. Mau mati! Siapa sih? Kau membuatku penasaran” dia bersiap-siap memukulku. Padahal jarakku dan dia terpisah 3 kursi.

…………………………………….

Saat istirahat.

“ikuti aku. Tapi jangan terlalu dekat, jangan bertindak yang aneh-aneh, jangan loncat-loncat, jangan manggil aku, jangan berteriak, jangan pergi dan jangan…”

“nde nde… sudah pergi sana!” Taemin mengusirku. Dia menunggu di kelas 2-5, 2 kelas menuju kelas 3-2. Aku segera pergi menuju Luna eonni yang baru keluar dari kelas.

“EONNI!” teriakku. Dia segera menoleh kepadaku dan melambaikan tangannya.

“ini.. ceritanya sangat bagus.. gomawo sudah meminjamkan…” ujarku sambil memberikan novel itu padanya.

“nde.. chomaneyo…”

“eonni…”

“wae?”

“aku, memberitahukan Taemin, eonni menyukainya…”

“mwo? kau ini…” eonni memukul lengan kananku, aku meringis kesakitan. Yah, aku pantas mendapatkannya.

“omo.. mianhae, lagipula dia juga sepertinya menyukai eonni..”

“mwo? aigoo, eonni hanya menyukainya karena wajahnya yang manis, bukan menyukainya untuk… ahh… kau ini, makanya jangan bertindak sembrono…” eonni memukulku lagi.

“appeuda…” ujarku sambil mengusap lenganku yang dipukulnya.

“biarin.. siapa suruh juga.. jadi?”

“jadi, dia ada disana..” jawabku sambil menunjuk keberadaan Taemin, Taemin langsung menghadap kebelakang.

“ya! Jangan ditunjuk! Kau ini.. yasudah, pergilah. Besok bawa novel lagi ya..” ujar Eonni.

“nde..” aku segera pergi menuju Taemin.

Saat aku sampai ditempat Taemin, Taemin yang membelakangiku segera berbalik dengan cepat. Membuatku kaget.

“hua.. mwo?” tanyaku padanya yang segera memegang bahuku dan menatapku dengan kedua matanya yang membesar.

“BINGO! Ternyata dia!”

“hah?”

“yang aku sukai…”

“jongmal? Baguslah..”

“huaaa.. demi apa! Ottohke?” Taemin malah histeris sambil melepaskan tangannya dari bahuku.

“apanya?” aku jadi bingung

“aku sudah punya pacar! Tapi aku menyukainya…”

“heh? Itu sih derita mu..” jawab ku enteng.

“ya! Kau ini… Sulli ya.. apa yang harus kulakukan?”

“mana ku tahu.. aku pergi dulu..” aku segera pergi

“ya! Aku ikut..” dia mengejarku.

……………………………..

“boleh aku minta nomor hapenya?” tanya Taemin tiba-tiba saat kami jalan bersama pulang sekolah.

“heh? Entahlah. Aku belum bertanya padanya..”

“tanyakan!” dia memaksaku.

“hemm.. nde.. gwenchana…”

“ahh.. noona itu… oh noona neomu yeppo” ujarnya sambil menerawang.

“heh?”

“Sulli ya.. kalau aku bisa mendapatkannya, betapa senangnya aku…”

“kau berlebihan.. lalu kau kemanakan Krystal?” tanyaku padanya. Dasar playboy! Dia melupakan Krystal, pacarnya.

“jangan memikirkan Krystal”

“nanti kalau ada yang lebih cantik dari Luna eonni, pasti kau akan pindah hati!” ujarku

“ani! Kali ini aku benar-benar menyukainya..”

“jongmal?”

“….”

“….”

“SULLI YA!” tiba-tiba Taemin berteriak.

“huaa… waeyo???!!!” aku tersontak kaget.

“apa dia menyukaiku karena wajahku? Dia menyukaiku sebagai teman saja?”

“ehm.. mungkin” ujarku, aku tidak mau dia sakit hati mengetahui semua itu benar.

“huuuhhh… ottohke?” dia malah lemas.

“Ya! Kau kan masih ada Krystal!”

“ya sihh… hajiman….”

“sudahlah..” aku kembali meninggalkannya.

“Ya! Kidaryo!” dia kembali mengejarku. Hahaha…

………………………..

Sudah 2 minggu Taemin dan Luna eonni berhubungan. Setelah aku memberikan nomor hape Luna eonni pada Taemin tentunya. Sepertinya mereka baik-baik saja. Oh ya, seperti yang kalian harus tau. Hape Taemin sangat-terlalu-beneran-kebangetan jadulnya. Jadi, kalau sms dengan Luna eonni, dia mesti gantung hapenya di atas meja belajar dekat jendelanya supaya dapat sinyal. Kasian, kenapa tidak ganti hape sih. Yah, tapi orangtua Taemin memang tidak terlalu kaya sih. Tidak loh! Jadi nya… kasian juga. Dia mesti gantung hape.

Kemarin malam, dia menelpon Luna Eonni. Kupastikan, dia menelpon diatas genteng setelah melempar hapenya. Sungguh tragis nasibmu sobat! Tapi aku senang juga sih. Tapi, kenapa ya? Aku merasa aneh. Mengganggu saja. Sudahlah.

……………………..

Pagi ini, aku dan Taemin pergi mengembalikan buku di perpustakaan. Saat akan kembali ke kelas.

“Sulli ya..”

“wae?”

“boleh kita lewat kelas Luna?”

“heh? Noona.. kenapa kau tidak memanggilnya noona?”

“ani, dia yang menyuruhku jangan memanggilnya noona, jadi dia juga tidak memanggilku saengi..”

“halah… boleh saja, pergilah!” ujarku padanya.

“eh, kau harus ikut!” dia menarik tanganku.

“ani! Aku tidak mau..”

“jeballl…” dia memperlihatkan wajah memelasnya.

“ani. Malah mutar dari kelas kita…”

“jeballl…”

“huft… nde, kaja!” ujarku.

“uwahh…kaja” dia langsung merangkul tanganku, membuatku tidak nyaman tapi senang juga sih melihatnya begini.

“ini kelasnya kan?” bisiknya padaku disamping kelas eonni.

“nde..” anggukku sambil terus berjalan.

“chakaman. Aku mau melihatnya dulu..” Taemin kembali menarik tanganku, dia lalu melihat kesekeliling kelas 3-5 yang bisa dilihatnya melalui kaca pintu. Aku hanya diam saja.

“huahh.. kaja…” dia lalu mengajakku pergi menuju kelas.

“wae?” tanyaku.

“ani..”

Kami hanya berjalan tanpa bicara sampai kami berada didekat kelas kami. Saat masuk kelas.

“omo… kalian mesra sekali” ujar salah seorang temanku.

“ada gossip baru ternyata..”

“kalian sangat cocok…”

“eh, ani. Sulli sangat baik, sangat berbeda dengan otak gila Taemin..”

“YA!” Taemin protes.

“kalian sembarangan…” ujarku

“kalian pacaran saja.. kalian sangat cocok…”

“ah… kalian yang salah orang..” ujarku.

“sudahlah.. jangan bohong…” ujar salah seorang teman kami.

“sudahlah.. akan panjang ceritanya… pergi saja” ujar Taemin berbalik keluar kelas sambil menarik tanganku.

“YA! Berapa kali kau menarik tanganku..?!” teriakku sambil berusaha melepaskan tanganku dari tangannya.

“ciee… pegangan tangan…” sorak anak-anak sinting itu.

“YA! Mau bertemu malaikat kematian?” ujarku.

“huft… pabo..”ujar Taemin.

…………………………

Menyebalkan. Masa aku disangkutpautkan dengan Taemin? Apa hubungannya coba? Dasar salah alamat, alamat palsu. Kemana kemana kemana….*tiba-tiba nyanyi lagu Ayu ting tong*. Tapi, aku juga memikirkan kata-kata mereka. Aish! Pabo! Tidak usah dipikirkan! Taemin menyukai Luna eonni, dan Krystal adalah pacarnya. Huaaahh…. Anak itu mau mati!

…………………….

Aku dan Taemin sedang mengamati Eonni yang sedang mengerjakan tugas lapangan mengamati tanaman *?*.

“seandainya aku bisa bersamanya.. sama-sama kelas 3..” ujar Taemin.

Setelah itu lewat perempuan cantik.

“Changmi-ya *?*….” Sapa Taemin.

“nde…” yeoja itu hanya tersenyum dan meneruskan perjalanannya.

“YA! Kau itu playboy yah?” ujarku sambil memukul bahunya.

“ahhh… itu hanya main-main saja…”

“jadi, Luna eonni?”

“Luna, Sulli… bukan Luna Eonni atau Noona..”

“heh? Sudahlah… jadi?”

“kalau dia lain lagi.. aku benar-benar menyukainya…”

“hmm…”

“seandainya aku bisa menyatakan perasaanku ya.. aku akan memegang tangannya..” tiba-tiba Taemin mempraktekkannya padaku.

“lalu.. Luna, aku menyukaimu. maukah kau jadi pacarku?” ujarnya sambil menatap mataku.

“Ya! Lepaskan… kau membuatku merinding…” ujarku sambil menghempaskan tangannya.

“aigoo.. ketahuan tidak pernah ditembak cowok..”

“Ya! Maksudmu?”

“bilang saja kau tidak laku!”

“mau mati anak ini… YA! JANGAN LARI!” aku mengejarnya yang sudah melarikan diri. Memang mau mati dia.

………………………

“saengia…” ujar Luna eonni padaku saat kami bersama di kantin. Taemin tidak ada denganku saat ini.

“wae?”

“Taemin menyatakan perasaannya padaku…”

“mwo? jadi?” aku hampir saja mengeluarkan semua makanan dimulutku. Dia melakukannya?

“eonni tolak lah… gila apa eonni? Bisa-bisa Onew oppa marah! Untung saja dia tidak tahu apa-apa tentang Taemin. Huahh… emangnya eonni gila mau pacaran dengan 2 orang? Tidak! Eonni masih menyayangi Onew oppa. Lagian, eonni kan cuman main-main…”

“huuuhh benar juga…”

“nde.. itu sudah 2 kali loh saeng!”

“jongmal?” kali ini aku benar-benar tersedak. Aku segera mengambil air putih disampingku.

“nde…”

“dia nekat…”

“eonni kasian padanya…”

“gwenchana eonni, lagipula eonni kan masih ada Onew oppa…dia juga ada pacarnya kok eon…”

“nde…”

Aku kembali melanjutkan makanku.

………………………

Saat menuju kelas. Aku melewati taman, dan melihat Taemin, dia sedang merana di bawah pohon jeruk *jelek banget*.

“kau mau mati?” tanyanya setelah melihatku yang menatapnya terus sejak tadi.

“mwo? hahahahaha.. ani” aku tertawa lepas melihat wajahnya yang sedih begitu.

“ya! Kesini.” Teriaknya padaku sambil menyuruhku duduk disampingnya.

“wae?”

“aku sedih sekali…”

“araso…”

“kalau seandainya aku bisa mendapatkannya, aku beneran gak bakalan bikin dosa lagi…”

“heh? Memangnya ada yang seperti itu?”

“ada! Kau sih tidak tahu arti cinta!” ujarnya sambil memukul lenganku.

“kau…. Hem.. jadi…” aku menenangkan emosiku. Dari pada dia malah kesurupan oleh hantu penunggu pohon jeruk.

“jadi, aku sangat sedihhh…”

“huaaaa… kasihan sekali kau ini…” aku malah sedih jadinya.

“kok kau yang sedih?” tanyanya bingung, tidak jadi sedih.

“gak tau… ceritamu terlalu sedih…pasti sangat susah kau menjalani hidup ya?”

“nde… seandainya aku sekelas dengannya, ah ani. Kelas 3 saja. Biarlah hanya disebelah kelasnya saja. Tidak akan sesusah ini.” Ujarnya.

“huaaa….. sangat menyedihkan…”

“ya! Jangan sambil memukulku” ujarnya terganggu dengan sedih-ria ku yang sambil memukul lengannya terus.

“mianhae… kau harus bertahan ya…”

“nde..”

“ah ani! Kau jangan hidup saja! Kehidupan terlalu jahat untukmu.. lebih baik kau matiii…” ujarku.

“kau aneh! Kau yang menyuruhku bertahan, malah menyuruhku mati…”

“aku tidak tau… kau sangat menyedihkan….” Ujarku kebingungan atas perkataanku sendiri.

“hemm… aku sangat menyedihkan ya?”

“nde…”

“oh ya.. aku mau cerita..” ujarnya tiba-tiba padaku.

“ceritalah…” ujarku memperbaiki tempat duduk supaya bisa mendengarkan dengan baik.

“itu…”

“huaaaaaaaaaa sangat menyedihkan… menyedihkan banget…” tiba-tiba aku memotong karena aku merasa ceritanya pasti sedih.

“YA! AKU BELUM MULAI” dia mengamuk.

“hah? Benarkah? Nah, mulai lah…” aku kembali diam

“hmm… jadi aku… YA JANGAN DIPOTONG!” dia tiba-tiba marah sebelum cerita dimulai.

“nde nde.. ppali ahh..” paksaku.

“sudahlah.. aku jadi tidak selera..”

“memangnya kau makan?”

“hahaha…” dia malah tertawa. Taemin pabo!

“….”

Kami malah main-main, dasar aneh!

……………………………….

TAEMIN POV

Aku membaca buku harian Sulli, ternyata banyak isinya tentangku. Aku mengambil dari tasnya. Semoga dia tidak marah. Hahaha.. Dia memang sahabat yang baik. Aku tidak menyangka semua tentangku ada disini. Sampai tentang Luna juga ada. Huft, anak itu. aku merasa bersalah sudah merepotkannya. Aku akan kembalikan besok. Aku menyelipkan buku itu di bukunya yang kupinjam.

Aku menyukai Luna tapi kurasa, kami memang tidak ditakdirkan bersama. Huahhh… ini membuatku gila. Tidak mungkin aku putus dengan Krystal kan? Kecuali kalau Luna mau menerimaku. Tapi bagaimana dengan pacarnya? Aku sangat sedih. Kenapa aku begitu bodoh.

Malam ini, aku mengerjakan tugas membuat lagu. Ada pelajaran music besok. Dibawah sinar bulan aku bernyanyi. Ahhh… kenapa aku tidak main opera sabun saja? Ini terlalu menyakitkan hatiku.

Tadi siang aku bertemu dengan Luna. Dan dia tersenyum padaku. Aku juga tersenyum. Rasanya hatiku mau menangis. Huhuhuhu…. Kenapa hidupku sangat sedih?

…………….

“Jadi begitulah… aku sangat sedih luar binasa…”

“huaaaaaaa…. Neomu neomu neomu…”

“sudah deh.. kau terlalu berlebihan…” ujarku pada Sulli yang sedang merenung ria, aku yang sedih kok dia yang histeris.

“entahlah… ceritamu terlalu menyedihkan..” ujarnya selalu kalau kutanya kenapa.

“Ya! Taemin-a, kau pasti sangat susah menjalani hidup ini… kau harus sabar menjalaninya ya! Jangan mati cepat!” ujarnya

“ya! Menurutmu siapa yang mau mati cepat?”

“ani! Kau harus mati, kau sangat tidak bisa hidup seperti ini.. mati sajalah..”

“YA! Yang mana sih yang benar…??” aku naik darah. Dasar yeoja ababil.

“huaaaaa… sangat menyedihkan….”

“ya.. diamlah… aku sudah terbiasa begini.. hidupku memang selalu menyedihkan..”

“huaaaa… sangat menyedihkan…” Sulli malah tambah sedih.

“Ya! Sulli ya.. tidak bisakah kau diam? Setiap kali aku berbicara tentang kata-kata indah, kau malah ….”

“huaaa….” Sulli menelungkupkan wajahnya di mejanya.

“Tuhan, apa dosaku sampai punya teman seperti ini..??”

…………………

Aku pergi ke toilet, hari ini sangat dingin. Aku menjadi sering ke toilet. Huahh…

Eh, siapa itu? dia dari toilet perempuan yang berdampingan dengan toilet laki-laki. Ohh… hmm, Luna!

“Luna!” ujarku. Mulutku ini bertindak semaunya.

“hm? Taemin-ah, waeyo?” ujar Luna dan segera menghampiriku.

“itu…”

“mianhae, Taemin..” ujarnya tiba-tiba.

“hah? Wae?”

“mianhae, aku tidak bisa menerima perasaanmu. Sebaiknya, kita menjadi teman biasa saja..”

“nde, araso.. ini juga salahku..”

“hm?”

“aku salah sudah menyukai orang yang sudah punya pacar…” huahh.. kalau Sulli mendengar ini, dia pasti histeris

“hehehe.. ternyata begitu.. yah.. tetap saja..”

“gwenchana..itu biasa… anggap saja tidak terjadi..”

“baiklah.. aku pergi dulu, annyeong Taemin ah..” Luna pun pergi meninggalkanku. Dan meninggalkan hatiku.

Aku lalu berbalik dan berjalan menuju kelas. Huaaa… ini terlalu menyedihkann…

……………………

Besoknya.

SULLI POV

“omo.. dia tidak datang hari ini? Dia sakit?” ujarku saat melihat sms dari Taemin. Dia sakit. Huahhh hidup jadi sepi tanpanya…

To : Taemin

Taemin-ah, kau masih hidup? Jangan mati cepat ya!

Tapi, kalau mati, jangan lupa mengundangku ya!

Nah, sudah. Semoga dia sehat besok.

…………………..

Besoknya lagi.

“omo! Kau masih hidup rupanya!” ujarku saat bertemu Taemin dipintu gerbang.

“mau mati? Tentu saja aku masih hidup…” Taemin siap-siap memukulku.

“hahaha… mian, kenapa sms ku tidak dibalas?” tanyaku sambil berusaha menghindari tangannya.

“eh? Kau tau tidak, hapeku keadaannya seperti apa?”

“kau gantung?”

“benar! Dan hari itu, perutku sangat sakit. Aku tidak bisa bergerak apalagi berjalan. Rasanya mau mati….”

“ohh.. kau melewati sakratul maut ya?”

“nde.. eh, ani! Kau sembarangan!”

“hehehe… lanjut..” ujarku

“jadi, aku berbaring dikamar kakakku. Sedangkan hapeku dikamarku… dan keadaan hapeku bukan lagi seperti laba-laba, tapi kayak cicak. Nempel pas di dinding!” ujarnya.

“HAHAHAHAHAHAHA…” aku tertawa ria, dia malah menjauhiku dengan tatapan aneh.

“sudah, sudah, nanti keterusan..” ujarnya sambil memegang bahuku.

“kau sedih sekali..hahahahaha” aku terus tertawa

“PABO! Kau sedih atau senang?”

“keduanya juga bisa.. hahaha.. cicak… hahaha” aku terus tertawa

“sudah, sudah, kaja…”

Tiba-tiba Luna eonni lewat.

“ah! Eonni, eonni, eonni! Annyeong!” teriakku pada eonni, eonni lalu menoleh dan tersenyum. Lalu aku menoleh pada Taemin. Dia hanya termenung. Eonni kembali jalan.

“hahaha.. kau lucu sekali Taemin..” ujarku

“ya! Arghhh gila aku… harusnya aku sudah melupakannya…” dia malah mengacak-acak rambutnya.

“nde, biasanya orang yang sudah pernah melewati sakratul maut bisa melupakan orang dengan cepat..” ujarku.

“nde… mwo? ya! Ani… kau ini.. ayo kita pergi saja…” dia malah ngambek. Aku mengikutinya dari belakang. Huh, pabo!

“Taemin ya…” ujarku

“mwo?”

“kau harus bisa melupakan Luna Eonni, kau kan ada Krystal! Ingat! Setia! Kau jangan bikin malu aku..”

“nde.. araso…”

“hmm.. like that..”

“nde, aku harus hidup dengan baik tanpanya…” ujar Taemin mantap.

“huaaaaaahhhh…. Sedih banget… sedihhh..” aku kembali sedih.

“YA! SUDAHLAH… MAU MATI…” taemin meninggalkanku yang sedang sedih.

“ya, Taemin ya, tunggu aku!”

Dan kehidupanku bersama Taemin, sahabatku ini, kembali normal.

…………………….

— THE END —

Bagus gak? Bagus yahhh… maksa nihh.. aku gak tau gimana lagi. Aku bingung banget… ini sih komedi semua *plak#abaikan. Komentarnya plisss….

2 responses to “Life Without You, Noona!

Komentar ditutup.