Me, In Your Eyes

ME, IN YOUR EYES

Title        :        Me, In Your Eyes
Author    :        Yesunggyu – Amalia Laili
Length    :        One Shot
Genre      :        Sad, Romance

Cast        :        Hoon, You as the girl

Kembali dengan FF UKiss dengan Hoon. Hore…*loncat2 bareng Hoon*.. senang deh Hoon dapat jugaaaaa… jadi dibaca ya…

…………………

Pagi ini sangat indah, aku berjalan menuju taman didekat rumahku. Dan untuk yang entah keberapakalinya aku duduk lagi dibangku taman dibawah pohon sakura. Bunga ini mekar dengan baik di musim semi ini. Aku menyukainya. Kelopak bunganya jatuh dipangkuanku dengan indah. Aku lalu mengambilnya.

“huaahh… nanti kita tidak akan bertemu lagi, Sakura. Jadi kita harus baik-baik sekarang, arachi..??” ujarku pada kelopak bunga itu. seperti orang gila? Hmm, entahlah. Tapi aku menyukainya. Kubuka sekali lagi buku yang biasa kubawa. Ku lewati beberapa lembarnya yang sudah ku isi dengan banyak tulisan dan gambar buatanku.

“kali ini, apa dia datang lagi ya?” sebelum mengisi buku itu. aku melihat kesekelilingku mencari seseorang.

“disana!” seketika aku melihat seorang namja sedang berjalan menggunakan tongkat bersama anjing penunjuk jalan. Dia tidak bisa melihat.

“annyeong haseyo…” bisikku pelan. Aku yakin dia tidak mungkin mendengar suaraku yang teramat kecil ini. Selain itu jarakku dan di sejauh 20 meter. Namja itu juga duduk dibangku yang sama setiap paginya, sama sepertiku. Dia selalu ditaman ini setiap pagi. Dan pulang pukul 10.00 pagi atau jika seorang eonni datang untuk menjemputnya. Dan saat itu juga aku pulang.

…………………

Aku berjalan pelan menuju rumah. Setelah selesai urusanku dari taman.

“___!” teriak ommaku dari depan rumah.

“omma, waeyo?” ujarku dan segera berlari dan memegang tangannya.

“kerumah sakit, hari ini…” ujar ommaku sambil mengayunkan tanganku.

“hmm… nde.. omma, aku bisa sembuh, kan?”tanyaku padanya.

“kita lihat saja nanti. Kau pasti baik-baik saja..” jawab ommaku.

“huft… keure.. kaja…” aku dan ommaku segera pergi menuju rumah sakit menggunakan mobil ibuku yang sudah diparkirnya di depan rumah kami.

…………………

Aku selalu tahu. Waktuku tidak lama lagi. Aku selalu tahu. Jadi dokter itu tidak berhak memberitahukanku dan menyemangatiku. Meskipun terus mengatakan umurku, dasar dokter plin plan. Padahal dia juga tahu waktuku tidak lama lagi dan dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dasar keras kepala! Sudah kubilang jangan memberitahukanku keadaan tubuhku. Aku lebih mengetahuinya.

Tadi siang, setelah pulang dari taman aku dan ibuku pergi menuju dokter yang biasa kami kunjungi akhir-akhir ini. Karena kau tentu saja tahu. Ibuku masih sehat, sangat. Berbeda denganku. Aku terkena penyakit pernapasan, Emfisema. Apa yang sudah kulakukan sampai terkena penyakit itu ya? Entahlah. Apa mungkin karena dulu kami tinggal didekat pabrik di Jongdam?

Aku berbaring diranjangku dan menutup wajahku dengan selimut. Lalu kubuka lagi selimutku sambil melihat ke langit-langit kamarku.

“aku tidak akan bertemu kalian lagi! Kalian harus jaga diri ya! Kalau seandainya ibu memberikan kalian ke orang lain, kalian harus mau! Agechi?” ujarku pada semua benda di kamar itu.

“sip. Harus seperti itu. dengan begitu aku lebih bisa pergi dengan tenang.” Jawabku sendiri. Aku menutup wajahku lagi dan berdiam sejenak.

“apa yang bisa kulakukan? Dia sama sekali…ah! Keure!” tiba-tiba aku mempunyai ide. Aku segera meloncat dari tempat tidurku dan segera duduk di tempat belajar dan mengambil buku catatanku dan pensil.

………………………

AUTHOR POV

Yeoja itu menyelesaikan tulisan terakhirnya, lukisan terakhirnya, dan kehidupan terakhirnya. Dia meniggal di tempat belajarnya. Umurnya masih 25 tahun saat itu. Dia bekerja sebagai seorang penulis disalah satu majalah di Seoul. Ibunya yang berniat mengantarkan makanan kekamarnya kaget melihatnya.

PRANGG…

Cemilan kesukaan ___ jatuh begitu saja karena ibunya.

“omo! __-a, gwenchana? ___-a, irona! Omma membawakan makanan untukmu…___-a…!” ibunya segera berlari dan menghampiri ___. Dia menggoncang-goncang badan ___, setelah menyadari sesuatu, beliau pun segera menelpon rumah sakit.

……………………

3 hari keesokkannya.

“tunggu sebentar Hoon-ah… jangan bergerak!” ujar seorang yeoja pada seorang namja yang terbaring dengan perban dimatanya.

“ahh.. noona ahh.. apa aku bisa melihat nanti?” tanyanya

“molla yo. Semoga saja bisa…kau pasti bisa, Hoonmin-ah” jawab si noona

“eh, noona…”

“hemm…??”

“Siapa sih yang bersedia mencangkokkan matanya untukku?” tanya Hoon sambil menunjuk perban yang mengitari kepalanya menutupi matanya.

“molla…” geleng sang noona.

“apa sih yang noona tau?” ujar Hoon kesal.

“ya! Kau ini…. Eh itu dokternya…” noona itu memukul pelan bahu Hoon dan segera menghentikan perkelahiannya dengan Hoon setelah melihat seorang dokter dan perawat datang.

“sudah siap?” tanya sang dokter.

“lebih dari siap…” jawab Hoon mantap, Noonanya hanya tersenyum.

Dokter pun membuka secara perlahan perban yang menutupi matanya. Noona nya hanya berdoa saja. Setelah terbuka semua perban itu. Hoon berusaha membuka matanya pelan, dan..

“noona… aku….”

……………………..

HOON POV

Ini lah waktuku untuk mengakhiri semua kegelapan yang kuderita selama hidupku. Huaaahhh… semoga aku bisa melihat. Oh orang yang sudah memberikan matanya untukku. Gomapsumnida… jika aku bisa bertemu sebelumnya, aku akan mencium kakimu… dokter secara perlahan membuka perban itu, membuatku gugup.

Setelah itu, aku berusaha membuka mataku secara perlahan. Dan yang kulihat adalah…

“noona…aku…”

……………………..

AUTHOR POV

“noona… aku…”

“ye??” tanya sang noona heran.

“ini, noona?”

“heh?”

“aku bisa melihat! Noona.. ini noona kan?”

“nde… syukurlah…” noona segera memeluk Hoon yang kesenangan karena bisa melihat.

……………………

Di taman rumah sakit.

“Hoon-ah, kau bisa pulang nanti sore..”

“nde… ah ternyata noona seperti ini, neomu yeppo!” komentar Hoon

“kau terlalu berlebihan…”

“ternyata dunia seperti ini… sangat indah..”

“Nde…”

“noona…”

“hem?”

“ani… naneun neomu haengbokhae!” ujar Hoon sambil segera mengelilingi noonanya, sang noona hanya tersenyum

“aku juga… hahaha….”

………………………

5 Tahun kemudian.

“benarkah ini tempat orang itu? dokter itu semoga saja tidak salah orang dan tempat” tanya Hoon pada dirinya sendiri, dia melihat secarik kertas di tangannya. Sebuah alamat.

Keluarga ___

Jl.UKISS no.1567, Seoul

2345676

“bener deh!” ujarnya lagi meyakinkan diri. Dia pun segera mengetuk pintu didepan rumah seseorang.

TOK TOK TOK

“annyeong haseyo….”

KREKK..

“annyeong haseyo… waeyo?” jawab seorang ibu tua yang membuka pintu. Saat melihat Hoon dia agak sedikit terkejut.

“ah, ani…aku Hoonmin, orang yang menerima cangkokkan mata dari anak anda, ___, ya kan?”

“hem? Keure…___” sang ibu memperhatikan mata Hoonmin dengan sebaik-baikknya “Anakku ___, pasti sangat senang… matanya begitu indah… aku sangat merindukannya…” ujar sang ibu.

“…”

“ah, mian.. aku terlalu senang… silahkan masuk..” ujar ibu itu sambil menyeka matanya yang basah karena air mata. Dia pun menyilakan Hoon masuk kerumah. Hoon pun masuk setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“kau pergilah kekamarnya disana. Aku akan menyiapkan minuman untukmu..” ibu itu menunjukan kamar ___ dan Hoon pun pergi menuju kamar gadis itu.

Dikamar itu, ia melihat banyak sekali lukisan. Lukisan yang sangat indah. Kamar itu ditata begitu rapi. Bercat putih krem. Hoon berjalan menuju meja belajar __. Dia menemukan sebuah buku yang masih terbuka dan sebuah pulpen.

“ini.. siapa yang menggunakannya?”

“dia meninggal sebelum menyelesaikan tulisannya. Aku tidak merubah sedikit pun letak dari kamar ini. Hanya saja aku sering membersihkannya seperti dia masih hidup…” ibu ___ tiba-tiba datang membawakan teh dan meletakkanya di meja belajar ___.

“ohhh…”angguk Hoon.

“sepertinya aku pernah melihatmu…” ibu ___ menyipitkan matanya pada Hoon sambil mengingat-ingat.

“jongmal? Mungkin di rumah sakit..” ujar Hoon

“ani… ehmm… ah.. agesimnida.. chakaman….” Ibu __ pergi menuju lemari kecil disamping ranjang ___. Hoon pun duduk di kursi meja belajar ___ dan meminum tehnya.

“ini… coba lihat… ini kau kan?” ujar ibu ___ memberikan sebuah buku sketsa ___ yang selalu dibawanya. Hoon segera berdiri dan mengambil buku itu dan melihatnya.

“ini aku?” tanyanya. Dia kaget melihat lukisan wajahnya di buku sketsa ___. Bukan hanya satu, tapi ada begitu banyak. Saat dia duduk di bangku taman, saat dia berjalan dan banyak lagi.

“dia… siapa?” tanya Hoon sendiri.

“oh, mungkin kau mau melihat catatannya. Itu di meja.. bacalah. Aku sedang memasak. Tak apa kan kau kutinggal sendiri?” tanya Ibu ___ sambil berjalan menuju pintu.

“hem.. nde, gwenchana.. “ Hoon segera duduk di kursi meja belajar ___ dan membuka buku catatan itu.

………………………..

HOON POV

Aku membolak-balik lembaran buku itu. dan menemukan suatu lembaran dengan tulisan yang kuanggap menarik.

Tanggal :

Aku berada di taman. Sekitar 5 bulan lagi aku akan pergi meninggalkan semua yang kusukai selamanya. Jadi, aku berjalan-jalan di taman selama waktu yang singkat ini. Pukul 08.00 pagi, cahaya masih sangat indah. Aku melihat banyak sekali orang disini. Bersama keluarga mereka,bersama teman, atau pacar.

Dan aku? Begini nae chingu, aku tidak punya keluarga besar. Yang kupunya hanya ibuku. Teman? Tentu saja tidak. Aku sudah lulus universitas 4  tahun yang lalu dan teman sebayaku tidak ada. Aku bekerja sebagai penulis online di salah satu blog terkenal di Korea. Pacar? Teman saja tidak punya.

Nasib yeoja ini sangat menyedihkan. Aku membalik lagi lembar yang lain.

Tanggal :

Aku ditaman lagi. Aku harus bisa berada di taman pada waktu-waktu yang kritis ini. Aku bertemu dengan seorang namja bersama anjing penuntunnya. Sepertinya dia tidak bisa melihat. Aku menyaksikan hal-hal yang dilakukannya disana. Dia sangat menyayangi anjingnya. Dia adalah orang yang hebat kurasa, bisa bertahan dengan kondisi seperti itu. melihatnya bisa bertahan begitu membuatku jadi semangat untuk hidup.

Aku? Dia sudah lama menyaksikanku? Huahh.. orang ini. Hoon menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum dan membuka lembaran lain.

Tanggal :

Dia sangat baik ya? Kurasa. Aku sangat ingin menyapanya dan berbicara ringan dengannya. Tapi aku tidak berani. Jadi aku hanya terus memperhatikannya saja. Hari ini aku pulang lebih awal. Ibu berjanji akan memasakkan Kari daging sapi untukku.

Dia pikir aku baik? Aku tertawa kecil.

Tanggal :

Aku menemui namja itu sekali lagi dalam semasa hidupku. Dokter itu keterlaluan, aku sudah tahu masalah lama tentang tubuhku, dia tetap saja mengatakan aku tidak akan bisa bertahan hidup tapi tetap menyemangatiku. Lagipula, terserah aku mau hidup atau tidak. Yang menjalani hidup kan aku. Aku tidak akan menyerah dengan cepat seperti namja itu.

Oh ya, aku sudah tau cara untuk bisa bersama namja itu. meskipun tidak dia rasakan. Tapi aku bisa bersamanya. Dimatanya… aku

Selesai? Dia tidak melanjutkannya? Apa ini tulisan terakhirnya? Ku balik-balik kertas yang lain. Tersisa sekitar 20 halaman lagi. Dan tidak ada apa-apa disana. Kurasa. Inilah akhir ceritanya. Aku melihat ke sekeliling kamar ___. Aku menemukan fotonya dan menghampiri fotonya yang ada di dinding kanan dekat keranjang baju.

“gomapsumnida…. Karena sudah memberikan matamu. Kau sangat baik, kau wanita yang cantik. Seandainya aku tau, kau mungkin tidak akan menderita. Tapi kuharap kau baik-baik saja disini. Aku, akan menggantikanmu, menjaga ibumu…” aku pun segera menunduk hormat padanya.

“ehm, Hoonmin-ssi… kau mau mencoba masakkan ku?” teriak ibu __ dari dapur.

“ah… nde… aku segera kesana..” aku pun berlari menuju arah suara ibu __. Dan menemukannya sedang menata peralatan makan di meja makan.

“duduklah..”ujarnya. aku menarik kursi dan duduk dihadapannya. Hanya ada dua kursi di tempat ini. Mungkin karena hanya ada mereka berdua.

“ayah __?” tanyaku setelah menerima nasi dari ibu __.

“ayahnya? Kami sudah tidak bersama lagi sejak __ berumur 3 tahun. Ayahnya pergi entah kemana. Jadi, aku memutuskan untuk pindah rumah saja.”

“jadi, anda tinggal sendiri?” tanyaku kaget.

“hemm… ___ tetap ada dihatiku..”

“oh…”

“….”

“….”

Kami makan dengan tenang.

“ehm.. ibu __, ani omma…” ujarku tiba-tiba.

“heh? Mwo?” tanya ibu ___.

“biarkan aku memanggilmu omma, aku dan noonaku tidak mempunyai omma sejak kecil, kami yatim piatu dan diasuh nenekku..”

“ohh baiklah.. hehehe… waeyo?” ibu __ tertawa kecil

“bolehkah aku menjadi pengganti ___?” tanyaku.

“tidak…”

“hm…”

“kau hanya boleh jadi salah satu anakku.. araso? Anakku tetap ___” ujar ibu __ dan meneruskan makannya.

“hahaha… nde…” aku segera kembali makan.

Kurasa perjalanan hidupku akan semakin menyenangkan.

………………….

Selesai deh,…. Bagus gak? Jelek yah? Maaf deh… jangan lupa komennyaaaa…..^^

2 responses to “Me, In Your Eyes

Komentar ditutup.