My Lovely Doll (Part 2)

MY LOVELY DOLL

Title        :        My Lovely Doll (Part 2)
Author    :        Taeminwoo – Nhuerhayatie
Length    :        Continue
Genre      :        Romance, Comedy

Cast        :        Heo Chanmi (5Dolls), Kim Kibum (UKISS), Alexander (UKISS), Seo Eunkyou (5Dolls)

……………………..

“jadi namamu Kibum? Kau datang dari mana?” tanya Chanmi, sekarang keadaan sudah normal. Mereka berdua duduk dimasing-masing sisi sudut ranjang sambil berkenalan.

“aku datang dari ilir laut (hanyut)”

“kau bercanda? Pulanglah!”

“Chanmi-ah aku serius, kau yang membawaku kemari”

“apa maksudmu? Kenapa kau tahu namaku?”

“ibumu memanggilmu Chanmi, kan? Chanmi-ah sendiri yang membawaku dari pantai”

Dipantai tidak ada siapapun, walau ada orang ini tidak mungkin aku membawanya. Waktu itu aku memungut boneka teddy bear, pikir Chanmi.

“Geojimal! Aku hanya membawa sebuah boneka. Sekarang boneka itu hilang, aigoo tadi aku menyimpannya dimana..” ucap Chanmi sambil mencari-cari bonekanya.

“Chanmi-ah ini aku, apa kau tidak mengenaliku? Sewaktu oulang dari pantai kau membersihkan dan menjahit tubuhku” ucap Kibum berusaha meyakinkan Chanmi.

“Sudahlah Kibum, jangan membodohiku, yang ku mandikan kemarin itu boneka yang kudapat dari pantai sebuah boneka teddy bear” tegas Chanmi.

“apa karena menjadi manusia kau jadi tidak mengenalku? Lihat ini bekas jahitanmu!” jawab Kibum sambil memperlihatkan bekas jahitan di tangan dan bahunya. Tempat jahitannya sama dengan tempatku menjahit boneka itu, tapi dia manusia. Boneka itu benda mati. Pikir Chanmi sambil menegaskan dirinya.

“kau ini bicara apa? Apa kau sudah gila? Kenapa kau menjahit bahumu dengan benang baju?” tanya Chanmi lagi sambil memukul bahu Kibum.

“uwa… ya! Appeuda…karena kau yang menjahitkannya padaku” tegas Kibum.

“Kibum-sii, yang kujahit itu boneka bukan kau. Aku menjahit lengan dan bahu boneka, bukan berarti lengan dan bahumu. Lagipula aku tidak gila menjahit lengan dan bahu orang menggunakan benang baju. Aku bukan dokter!”

“tapi itulah kenyataannya!”

“kenyataan bahwa kau adalah boneka itu?” ujar Chanmi sekenanya, karena dia rasa Kibum benar-benar tidak waras.

“ya, itulah kenyataannya” jawab Kibum serius.

“sudahalah Kibum-ah jangan membodohiku. Jangan karena dibahu dan lenganmu kau samakan dirimu dengan teddy bear-ku kau mengaku menjadi boneka, kau ini manusia bukan boneka!”

“kau salah. Aku adalah boneka, boneka adalah aku. Percayalah padaku Chanmi ah. Dalam keadaan genting dan tidak terkendali (gugup) aku akan kembali menjadi boneka” jelas Kibum panjang lebar.

“hhhuufffftttt……” desah Chanmi “kau konyol sekali Kibum, lebih baik aku keluar sekarang. Begitu aku masuk, aku tidak ingin melihatmu lagi” ucap Chanmi tak percaya dan berjalan menuju pintu untuk keluar.

“Chanmi-ah jangan pergi” panggil Kibum seraya memegang tangan Chanmi ketika yeoja ini sampai didepan pintu kamarnya.

“kenapa kau menjadi manusia?”

“karena ada maksudnya aku bisa menjadi manusia. Kalau kau bolehkan aku tinggal, aku akan memberitahukannya…”

“maksudmu?”

“yah begitu maksudku..”

“…”

Kibum menatap lama mata Chanmi. Membuat Chanmi gugup.

“eh eh.. waeyo?”

“kau akan mendapatkan hal yang menyenangkan Chanmi… biarkan aku tinggal..” ujar Kibum sambil tersenyum menyeringai.

“…”

“kau bermain drama ya?” tanya Chanmi sekenanya ikut tersenyum.

“heh? Maksudmu?”

“yahh.. kau main drama kan?”

“hem..”

“YAAA! Kau diam-diam masuk kamarku dan menyembunyikan bonekaku lalu kau kembalikan bonekaku saat kau pergi dan kau mempermainkanku dengan mengatakan bahwa Kibum adalah boneka. Boneka itu adalah kau, Kibum!” lanjut Chanmi “kau sudah berhasil membodohiku.. banzaii..!!” Chanmi bertepuk tangan. Kibum mundur sedikit melihat tingkah aneh Chanmi.

“sekarang pulanglah!”

“mwo?”

“nde.. kau tuli? Pulanglah!” usir Chanmi sambil melambaikan tangannya menandakan untuk Kibum segera pergi.

“Chanmi ah…” panggil Kibum dan kembali memegang tangan Chanmi.

“kau tidak mau pergi? Kalau begitu ikut denganku” tarik Chanmi.

“kita kemana?” tahan Kibum karena penasaran.

“mati!”

“mwo?”

“menemui omma-ku”

“untuk apa? Bukankah kau takut kalau omma-mu tahu kalau aku ada disini?”

“yah, memang. Tapi aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa kau pencuri yang masuk kesini”

“Chanmi ah…apakah kau sudah gila?”

“nde.. kau yang membuatku gila! Sekarang ikutlah bersama kegilaanku” jawab Chanmi asal karena kesal.

“OMMA DIRUMAH KITA ADA PENCURI! AMBIL PISTOL ATAU APA SAJA DAN BUNUH PENCURI INI. OMMAAAAA….” Teriak Chanmi di depan pintunya.

“mwo? pistol? A a a apa aku akan mati?” tanya Kibum. Jelas sekali namja ini merasa takut. Apa orang ini sudah gila? Mati katanya? Neomu Pabo! Ibuku tidak sejahat itu. Ucap Chanmi dalam hati.

“nde! Tentu kau akan mati. Sekarang ayo keluar untuk mempercepat kematianmu” jawab Chanmi asal, gadis ini ingin membuktikan apakah namja ini jujur tentang pengakuannya barusan.

“a andwe… jangan bawa aku. Mianhae Chanmi ah. Aku pergi sekarang” bujuk Kibum agar Chanmi tak membawanya menuju ommanya. Tapi Chanmi tak menghiraukan Kibum dan terus membawa paksa Kibum.

“mwo? dimana malingnya? Dimana?” saut omma Chanmi dari bawah dan menuju tangga kelantai dua tempat Chanmi memanggil.

“cepat omma, disini…” sahut Chanmi, Kibum melepaskan pegangan Chanmi dan ingin berlari tapi sempat ditahan Chanmi lagi.

“eitt… mau kemana?” tahan Chanmi sambil menarik baju Kibum bagian belakang.

TAP TAP TAP

Omma naik tangga dengan cepat terlihat kepalanya muncul dari balik tangga.

“mana.. mana?” tanya omma ketika berada diatas sambil memegang sapu dan bersiap memukul. Belum sempat melihat, sepencuri sudah tidak ada di tempat.

“Chanmi ah, apa maksudnya ini?” tanya omma mulai marah mendapati yang dipegang Chanmi hanya selembar baju.

“pencurinya sudah keluar omma..”

“dasar…kau ini..”

Chanmi hanya terpaku melihat baju yang dipegangnya juga sebuah boneka Teddy bear dan selembar celana yang berada tak jauh dari kakinya.

……………………..

CHANMI POV

“Chanmi ah, aku mau tidur. Boleh tidak? Boleh tidak aku tidur di ranjangmu? Aku sangat mengantuk!”

“memangnya kapan kau tidak mengantuk? Bukankah kau selalu ingin tidur?”

“heheheh… oaaahhh rasanya nyaman sekali. Kau tidak ngantuk? Ini, tidurlah disampingku!”

“mau mati!!!!”

Annyeong haseyo, choneun Heo Chanmi imnida, 17 tahun. Aku baru saja merayakan ultah ke 17 ku. Orang yang sedang tidur ini  sebut saja Kim Kibum, hobinya mengganggu ketenangan hidupku. Semenjak dia kupungut dari pantai waktu itu, hari-hariku selalu penuh dengan kekhawatiran. Khawatir kalau orang-orang tahu siapa dia dan lebih khawatir kalau omma tahu aku menyimpannya dirumah ini.

Aku sudah berusaha membuangnya sejak aku menyaksikan sendiri dia berubah menjadi boneka. Segala cara telah aku lakukan dan terakhir aku mencoba menghanyutkannya kembali dipantai. Tapi dia malah kembali dengan cara yang tidak aku ketahui.

“aku mempunyai alasan mengapa aku ada disini..” ujarnya saat berhasil kembali kerumah.

“untuk menggangguku?” tanyaku mengacuhkannya dengan membaca buku.

“ani! Eh, apa kau merasa senang saat aku ada disini?” dia berbisik dengan sangat dekat di telingaku.

PLAK…

Buku yang kubaca mengenai pipinya. Dia mundur dan mengusap pipinya itu.

“sejak kapan itu terjadi? Yang ada aku menderita lahir batin!” ujarku.

“aigoo, jangan berbohong, Chanmi-ah…” dia bertindak aegyo di depanku.

“mau mati??”

Huahhh… mengingatnya saja membuatku sakit kepala. Dasar siluman, ani. Dasar manusia jadi-jadian.

“kau bisa merubah dirimu jadi sebuah boneka. Lalu berubah jadi apa lagi yang kau bisa?”

“ani. Hanya itu”

“lalu apakah kau bisa sulap?  Sihir? Atau ilmu lainnya?”

“mm… ani!”

“kau bisa menghilang? Kau bisa merubah sesuatu?”

“Chanmi-ah, sudahlah. Selain menjadi boneka, aku sama sepertimu”

“bukankah kau siluman? Oh, ani. Kau bisa berubah”

“tapi bukan berarti aku bisa segalanya. Berhenti menanyaiku hal-hal yang aneh! Kau membuatku gila!”

“ya! Siapa yang lebih dulu membuat gila?”

Aku tidak percaya selain menjadi boneka tidak ada yang bisa dilakukannya. Padahal, aku ingin sekali meminta sesuatu padanya.

“tolong bantu aku, buat Xander Oppa menyukaiku. Aku sudah tidak sabar menunggu lagi”

Hahaha, sayangnya Kibum tidak bisa melakukan itu. sudah 4 bulan dari kejadian dipantai itu ternyata aku dan Kibum bisa akrab juga. Dia seperti anak kecil, selalu minta ini itu dengan raut wajah andalannya (memanyunkan mulutnya) dan sambil merengek. Jauh beda dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berbahu besar. Tapi, aku suka saat dia menghiburku saat sedih dan menemaniku dirumah. Dia jadi terlihat dewasa. Membuatku berutangbudi padanya, dan aku malu saat melihat wajahnya.

Setiap jalan dengannya, temanku selalu bertanya dia siapa, ketika kujawab sepupuku (jelas berbohong) mereka senang sekali.

“bisa perkenalkan aku dengannya?” tanya mereka, aku hanya menyampaikan dan selanjutnya terserah Dongho

“aku sudah punya pacar” jawabnya singkat.

Hooahmmm… rasanya lelah sekali. Membaca dan menulis terus membuatku penat. Padahal aku tidak begitu suka belajar, tapi karena ada PR, mau tidak mau aku harus belajar.

Karena lelah, aku membaringkan kepalaku diatas meja menghadap ranjangku. Namja ini memang punya tampang, bahkan saat tidurpun dia tetap manis. Tapi sifatnya yang aneh tetap terlihat saat tidur pula situ.

“tapi, aku lebih suka Xander Oppa” ucapku padanya yang sedang tidur.

……………………………

“jangan kemana-mana dan jaga rumah” pesan omma padaku saat dia hendak keluar untuk suatu urusan.

“ibumu sudah keluar?” tanya Kibum setengah berbisik dari balik tangga atas dan aku mengangguk. Dia turun dengan semangat dan berjalan kesana kemari menyusuri rumahku.

“benar-benar seperti anak-anak” keluhku. Karena tak mau ambil pusing, kubiarkan dia dengan segala tingkah laku dan duduk disofa ruang keluarga, mengambil remote dan menyalakan tv. Belum lama aku duduk, dengan tiba-tiba dia datang menjatuhkan dirinya duduk di kursi sambil sengaja mengenaiku.

“apa ini? lihat yang lain saja” protesnya dengan acara tv yang ku tonton dan mengambil remote dari tanganku.

“bukankah ini lebih bagus? Wahh…”

“Ya! Kembalian remotenya”

“eeittt… siapa cepat dia dapat”

“aku kan lebih dulu mendapatkannya”

“nah, karena kau sudah lama mendapatkannya, sekarang adalah giliranku..”

“mwo? ya, Kibum ya! Kuhitung sampai 3,kembalikan! hana”

“sebentar, biarkan aku tenang sejenak!”

“tul..”

“…”

“se…”

“…” dia tetap menonton dengan cueknya.

“ya! Mau mati??”

Maka terjadilah rebut merebut remote diantara kami sampai kami berlari kesana kemari untuk mendapatkan sebuah remote. Aku sedikit senang dan bersyukur karena ada Kibum disini, aku jadi punya teman bermain dirumah, walaupun aku mempunyai adik, tapi dia selalu sibuk dengan kegiatan sepak bolanya.

“Kibum! Berhenti… sepertinya itu suara sepatu omma” ucapku serius menghentikan langkahnya.

“hah? Kenapa secepat ini?” tanyanya sambil berhenti berlari.

“mollayo, kaja, sebelum omma melihatmu” perintahku sambil mendekatinya “nae geojimal” kataku lagi dengan segera mengambil remote dari tangannya dan langsung berlari menjauhinya sejauh mungkin. Sedangkan dia, dia masih terdiam bingung sambil mengerjap-kerjapkan matanya (Kibum jadi tampak polos dan manis sekali) dan langsung menyadari kalau aku sedang menipunya.

“Chanmi-ah, kau curang!”

“hahahah… paboya!”

Merasa tidak ada kejaran lagi, aku duduk disofa dan mengganti acara tv yang ingin kunonton.

“Chanmi ah, aku jarang keluar seperti ini, berikan remotenya biarkan aku menonton sesukaku”

“siluman ingin menonton apa? Drama Gumiho kan sudah selesai”

“huft…” Kibum duduk di sofa dengan lemas, aku pura-pura cuek.

“…”

“Chanmi-ah, kau tahu kenapa aku berada disini?”

“untuk menggangguku?”

“ani.. apa kau merasa senang sekarang?”

“nugu? Na? michyeo ya!”

“hmmm… Chanmi-ah, apa kau menyukaiku?”

“mwo?” pandanganku langsung menuju kearahnya. Wajahnya tampak serius “jangan bermain seperti itu, kau membuatku merinding” ujarku lagi sambil memegang tengkuk leherku.

“aniya…. Saranghae…”

“mwo?”

PLOP…

“omo!” ucapku kaget, kenapa dia tiba-tiba berubah? Bikin kaget saja. Dia ini bermain atau bagaimana sih?

“Wae? Apa yang mengancammu? Paboya!” lanjutku kesal sambil memegang boneka teddy bear a.k.a Kibum dengan kedua tanganku, lalu meletakkanya disofa dan meninggalkannya pergi.

“….”

“huahh…kenapa aku merasa bersalah!” aku meratapi diri sendiri dan segera mengambil Kibum, mematikan tv dan naik menuju kamarku.

………………………..

Sekarang sudah jam 22.30, sampai saat ini Kibum belum jadi manusia. Apa dia belum mengantuk?

“Kibum-ah..” panggilku pada boneka itu yang sedang duduk dimejaku sambil menyentuh perutnya dengan ujung polpen. Aku sudah merasa bosan, aku membaringkan kepalaku diatas meja sambil mengahadap boneka itu.

“Kibum-ah! Kau belum mengantuk?” tanyaku lagi sambil menyentuh perutnya dengan ujung pulpenku. Jelas dia tidak menjawab, wujudnya masih berbentuk boneka.

“Ya! Jawablah! Mau mati???”

…………………….

Sudah seminggu, boneka itu tidak berubah sedikitpun. Aku menjadi bingung. Aku sebenarnya sangat bersyukur dia sudah pergi, tapi ini tetap saja aneh. Aku merasa bersalah padanya. Apa lagi saat siang waktu itu.. arghhhh…. orang gila! Kau membuat perasaanku naik turun. Mau mati!

Aku naik kekamarku. Setelah berganti baju, aku segera merebahkan diri di kasur. Malam ini, tanpa Kibum, rasanya menyenangkan juga. Tapi sepi.

……………………

Apa sudah pagi? Karena hari ini  hari minggu, rasanya malas sekali bangun cepat-cepat. Masih dingin bangunnya nanti saja.

“Aaaa…mm” hampir saja aku berteriak, aku pikir siapa ternyata Kibum yang sedang tidur dihadapanku. Sejak kapan? Dia berubah lagi? Kenapa orang ini selalu membuatku kaget? Kalau tidak tidur, rasanya ingin sekali membunuhnya. Tanpa kusadari bibirku tersenyum, meski aku berusaha untuk tidak tersenyum. Dasar anak ini!

Karena malas bangun, aku hanya berdiam diri sambil memperhatikan Kibum yang sedang tidur, benar-benar tidur yang pulas. Kuberanikan diri untuk menyentuh rambutnya. Anak bodoh, kenapa membuatku khawatir? Kenapa membuatku bisa merindukanmu? Tapi kenapa tetap datang juga? Mau mati!

“mmm… Chanmi?” dia terbangun dan melihatku yang menatapnya.

“eh.. nde.. kau sudah bangun?” aku gelagapan, aku segera duduk. Begitu juga dia.

“hmm.. kau mandilah.. dan bersiap-siap. Kita pergi…”

“ke?”

“mandi saja sana…”

“ishh… nde…” ujarku sambil segera bangkit dan mengambil pakaianku dari lemari. Karena, aku mengganti pakaian pasti di Kamar mandi. Aku gila apa ganti baju disini di depan siluman?

“Chanmi-ah” ujar Kibum saat aku sudah didepan pintu kamar.

“mm?” aku berhenti dan menoleh.

“neomu bogoshipo! Kau juga merindukanku kan?” ujarnya sambil tersenyum. Aku menggigit bibir bawahku.

“mau mati!” aku langsung membanting pintu begitu keluar dari kamar. Sial, dia tahu perasaanku.

………………………….

Hari itu, aku berkata dan memohon pada ommaku untuk membiarkanku pergi. Dan ibuku mau! Huahh… a miracle.. in this world.. aku dan dia keluar menuju taman. Dia keluar lewat jendela. Tidak mungkin kubiarkan lewat seperti biasa. Aku masih mau hidup!

“kita mau kemana?” tanyaku.

“kau traktir aku, kita beli es krim!” perintahnya.

“memangnya kau siapa? Berani memerintahku?” bentakku padanya sambil memukul kepalanya seperti biasa. Sudah lama tidak ku lakukan.

“ya sudah kalau tidak mau. Kita langsung ketaman”

“ani. Kita beli es krim. Tapi ingat aku membelinya karena aku mau, bukan karena kau yang menyuruh!” ajakku sambil sedikit gengsi dan melangkah duluan darinya.

………………………..

“Kibum ah.. hentikan!”

Sore ini, kami berada di pantai. Rencananya kami akan melihat matahari terbenam. Tapi entah setan apa yang masuk dalam badan siluman itu. dia langsung menyiramku dengan air begitu kakinya menyentuh air.

Kubalas perlakuannya dan begitu juga dia. Kami pun berperang. Hanya kami saja yang ada disini. Pantai ini begitu sepinya. Sekitar pukul 06.30.

“ya! Beraninya kau!” teriakku pada Kibum. Dia menyiram air kemukaku dan mengenai mataku. Rasanya perih sekali. Padahal aku sudah begitu marah, tapi dia hanya tertawa lebar melihat ekspresiku. Aku segera mendorngnya hingga dia terduduk.

“kenapa kau mendorongku?” tanyanya sambil terduduk di air. Dan tentu saja aku terus tertawa selebar mungkin. Sebagian pakaiannya basah sekarang.

“ahahahah… lihat dirimu!” komentarku sambil tertawa. Aku langsung terdiam begitu melihat dia bangkit dan berjalan kearahku. “ya! Kau mau apa? Jangan mendekat! Kalau kau berani…” dia mengacuhkan perintahku. Dia terus berjalan dan hampir menangkapku lalu tiba-tiba gelombang besar datang dan dia terjatuh. Kali ini dia basah kuyup, aku menutup mulutku. Pasti dia sangat marah. Dia menatapku dengan penuh kemarahan. Aku tidak bersalah kan?

“CHANMI AHHH…”

“Aaaaaa…”

Uwaaahh.. sekarang dia murka dan berlari mengejarku. Dia seperti monster saja, mengejarku sambil mengucapkan kata-kata yang menakutkan. Dengan tidak membuang-buang kesempatan, dia langsung menangkap bajuku dan menarikku hingga aku terjatuh.

“uhuk.. uhuk.. Kibum ah, ini dingin sekali” keluhku. Dia hanya tertawa, kini akupun ikut basah kuyup. Karena sama-sama basah. Kami pun bermain sambil berenang saja sekalian.

………………………….

“mataharinya indah…” komnetar kIbum ketika itu sudah gelap, hanya setengah matahari saja yang terlihat. Saat itu, kami sudah berhenti bermain dan duduk dipasir dengan baju yang sudah agak mendingan. Tapi tetap saja basah.

“sudah terbenam, ayo pulang! Rasanya sangat dingin” ajakku lalu berdiri dan membersihkan celanaku yang penuh pasir dengan mengibaskan tanganku dicelana. Kibum hanya mengikuti dan kami berjalan pelan.

“Gomawo..” ujarnya.

“mm? untuk apa?” tanyaku heran lalu menghentikan langkahku.

“untuk semuanya” jelas Kibum yang juga ikut berhenti. Raut wajahnya serius seperti siang dulu.

“kau ini bicara apa? Memangnya apa yang sudah kuberikan?”

“kau memberikan semuanya”

“heh?”

“Chanmi-ah.. mianhae..” ujarnya lagi

“wae?”

“tidak memberikan apa-apa untukmu..”

“kau membuatku bingung…”

“hahaha… bisa tutup matamu?” dia terkekeh dan segera memerintahku.

“MWO?” Aku kaget dengan setengah berteriak

“tenang saja, aku tidak akan berbuat hal yang aneh..” ujarnya. Dengan ragu-ragu dan masih terheran, kututup saja mataku mengikuti intruksinya.

“….”

“kau, apa yang kau lakukan?”

“tunggu sebentar dulu, jangan buka matamu..” ujarnya lembut. Tak pernah aku mendengarnya. “hmmm…”

“eh, Chakaman!” ujarku tiba-tiba.

“hah? Waeyo?” tanya Kibum

“itu.. terimakasih sudah mau menjadi temanku selama ini…”

“mwo? aku salah dengar?”

“ani, terimakasih sudah mau menjadi temanku selama ini…” ujarku lagi. Aku merasa malu mengatakannya, tapi sedikit lega.

“mwo? katakan lagi?” ujarnya meminta dengan manja.

“mau mati!”

“hahaha… nde… kita ulangi. Kau tetap menutup matamu, ya!”

“…”

TAKK..

Aku merasakan sentilan pelannya dijidatku.

……………………………..

— TBC —

Eaaa… bagus gak? Komentarnya yah… di targetkan cerita ini akan selesai sampe part 4. Jadi ditunggu, ditunggu ya!