Letter Bottle

LETTER BOTTLE

Title     :           Letter Bottle

Author :           Yesunggyu – Amalia laili

Length :           One shot

Genre   :           Romance*?*, Comedy

Cast     :           Dongwoon, Hyuna, Hyungseung, etc.

……………………………..

Hal yang indah itu..

Bisa kah aku mendapatkannya?

Aku langsung ternganga setelah membacanya. Apa maksud dari  surat botol ini? Surat botol? Sejak kapan aku menamainya? Yah, surat ini membungkus botol minuman air mineral. Dan isi nya paling banyak hanya 5 baris. Kali ini aku mendapatkan 2 baris. Aku segera merogoh laciku lebih dalam. Ada 20 surat disana, ditambah dengan surat ini, ada 21 surat. Dan jumlah barisnya ada 105 baris. Lumayan.. dan aku sama sekali tidak mengerti!!!!! Apa maksud surat ini?

“mwoya? Apa yang kau lihat?” tanya seorang temanku, Dongwoon, dia segera mengambil kursi dan duduk disampingku.

“surat itu lagi….” Ujarku lalu menyerahkan surat terbaru.

“ini? Ehmm… pendek sekali.. niat gak sih penulisnya?” komentar Dongwoon setelah selesai membaca surat-ku. Dia lalu menyerahkannya kembali padaku dan melihat tumpukan surat di atas mejaku.

“sebanyak ini? Apa maunya orang itu ya?” tambahnya sambil memeriksa semua surat, setelah itu menaruhnya lagi di atas mejaku.

“hmm… molla…” aku hanya mengangkat bahu, aku segera memasukkan surat tersebut kedalam laci.

“dan botolnya?”

“ku buang lah.. “ jawabku pada Dongwoon.

“huahhh… dasar orang aneh.. ada tidak yang kau curigai?”tanyanya sambil bersender di kursi.

“ani..”

“singkat sekali kau menjawab.. orang ini pasti pintar…” ujarnya lagi.

“waeyo?”

“dia mengetik, bukan menulis.. makin susah mencari orangnya…”

“kau benar…” aku kembali menundukkan kepala.

“Dongwoon ya.. kau harus membantuku..” ujarku padanya.

“sejak kapan aku tidak pernah membantumu?” Dongwoon hanya tersenyum.

“nde… gomawo..”

………………….

Aku merebahkan badanku dikasur dikamarku. Dan melihat ke langit-langit kamarku, memikirkan kejadian tadi siang dan hari-hari sebelumnya. Aku sudah bisa memprediksi kapan surat-surat itu datang. 2 hari sekali. Jadi sudah 42 hari aku menerima surat botol. Dan yang masih tidak kumengerti adalah maksud dari isi surat itu. sangat pendek, dan sangat membingungkan. Tidak ada tanda sedikitpun untukku, tidak ada inisial, dia pun mengetiknya, bukan menulisnya. Aku tidak tau itu dari siapa.

Hanya kepada Dongwoon, sahabatku, aku menceritakan semuanya. Aku tidak terlalu akrab dengan orang lain, jadi aku hanya minta bantuannya saja. Tapi dia juga tidak tau. Ini menyulitkanku.

Nae koura…

Hapeku berbunyi, ada sms. Aku segera bangkit dan mengambil hapeku yang ada di tasku.

From : Hyunseung oppa

Kau sibuk? Apa yang kau lakukan?

Orang ini. Aku hanya tersenyum dan membalas pesannya.

Tidak, aku baru saja pulang sekolah.

…………………………

“omo! Kali ini sudah 6 baris!”

Apakah kau mencariku?

Kau tidak perlu mencariku

Aku sudah ada didekatmu

Cobalah sadari dan kau akan temukan

Aku menunggumu

Seperti itu….

“maksudnya? Dongwoon ya!” aku segera memanggil Dongwoon yang sedang membaca komik. Dia menoleh dan segera berlari membawa komiknya.

“mwo? ada lagi? Coba lihat?” dia merampas paksa dari tanganku, setelah itu tertawa kecil.

“hahaha.. nuguya? Orang ini aneh.. dia ada disekitar kita kalau begitu, kita harus waspada!” ujarnya

“kau terlalu banyak baca komik!” jawabku, dia hanya tersenyum. Melihatnya tersenyum membuat jiwa usilku kumat.

“Dongwoon ah… apa jangan-jangan kau yang membuatnya?”

“mwo? apa maks..”

“nde.. kau yang paling dekat denganku.. jangan-jangan..”

“ya! Kau… apa kau bilang?”

“hahaha.. jangan gugup begitu….” Aku tertawa melihat tingkahnya yang panik.

“ya! Bukan begitu…”

“nde, aku tau itu bukan kau…”

“memang bukan aku…”

“tapi, kenapa gugup? Ah, mungkin aku benar…”

“YA! Tidak mungkin aku mengirimnya! Kurang kerjaan…” ujarnya, aku malah tertawa. “tapi, mungkin saja aku…” mukanya berubah menjadi serius.

“maksudmu?” tawaku terhenti dan langsung membesarkan mataku, menatapnya.

“aku yang melakukannya…”

“waeyo?” aku kaget, kenapa dia membuat ini? Apa dia….

“aku kasian padamu, tidak pernah dapat surat dari cowok, kasian sekali hidupmu…”

“YA! Kau ini… “aku bersiap memukulnya.

“hahah.. ani, kira-kira siapa ya?” dia tertawa menghentikan gerakanku.

“aku sangat bingung…” aku mengacak-acak rambutku.

“mungkin, mungkin Yoseob!” ujarnya sambil memukul meja.

“Yoseob? Waeyo?”

“karena dia menyukaimu”

“darimana kau tau?”

“asal saja…” ujarnya tenang.

“ya! Kau ini… kukira…” aku yang hampir semangat langsung terduduk lunglai.

“tapi, mungkin saja loh… kau ingat saat kau melakukan lompat jauh saat praktikum?” tanya Dongwon. Mukanya sangat serius dia lalu mengambil kursi dan duduk didekatku.

“nde.. waeyo?”

“saat kau melakukannya dengan baik, dia sangat heboh mendukungmu loh!”

“bukankah namja yang lain juga begitu?”

“ya! Aniya… dia beda.. dia sangat berbeda, agachi? BER BE DA…” Dongwoon menekankan kata “berbeda”-nya.

“waeyo? Sama saja.. “

“tapi kurasa bukan dia!” ujarnya tiba-tiba berpikir

“mwo? kau yang…” aku gemas padanya yang plin-plan.

“nde… mungkin saja Gigwang!” ujarnya sambil mengangguk-angguk

“mwo? nugu?” aku kaget lagi.

“kau tidak kenal? Dia itu siswa kelas sebelah…”

“jongmal? Aku kok tidak tahu? Namanya saja baru kudengar…” ujarku.

“kau sangat tidak sopan ya.. sangat tidak mengenal teman sendiri…”

“lalu kenapa dia?” aku mengembalikan situasi.

“mungkin saja, dia… karena selama ini, kuperhatikan, dia selalu mengikuti kita..”

“kau mungkin yang ke GR an…” ujarku.

……………………….

Kami belum juga menemukan orang yang mengirimkan surat itu. aku sampai penasaran sendiri. Dan sampai sekarang masih ada. Tapi kadang juga kuhiraukan, dan hampir kubuang ke tong sampah. Tapi Dongwoon selalu melarangku, katanya itu sangat berharga, jarang-jarang ada yang mau mengirimiku surat. Dasar anak itu!

Aku berjalan memasuki kelasku setelah pergi dari perpustakaan. Aku berhenti dibangku terdepan nomor 4 dari pintu kelasku. Aku menemukan kertas dan botol minuman air mineral! Mungkinkah…

“mwo? kau kira aku? Bu kan a ku!” Dongwoon langsung menarik kertas dan botol minuman air mineral miliknya yang ada di atas mejanya.

“heh?”

“keure…”

“aku hanya kaget saja Dongwoon, kalau kau begitu, kau malah mencurigakan…” ujarku sambil menyipitkan mata dan mencondongkan badanku ke arahnya, dia langsung menarik badannya kebelakang.

“mwo? jongmal! Bukan aku…”

“lalu, apa itu? coba ku lihat?” aku mengulurkan tanganku, meminta kertas dan botol minuman air mineral padanya. Dengan berat hati dia memberikannya padaku. Dan…

“Apa ini? Gambaranmu jelek sekali!” ternyata dia menggambar kartun kesukaannya, One Piece *author ngawur*, Luffy.

“ya! Kau ini…” dia langsung menariknya. “aku habis minum air tadi, sekalian aku mengambar saja…”

“ckckckc…” aku berdecak melihatnya.

“HYUNA- YA! KAU DIPANGGIL HYUNSEUNG OPPA!” seorang yeoja berteriak kearahku, aku segera menoleh dan melihat dia bersama Hyunseung. Begitu merasa urusan selesai, yeoja itu pergi sedangkan aku pergi menghadap Hyunseung.

“waeyo, oppa?”

“ada waktu sore ini?”

“hmm… ada… waeyo?”

“aku akan menjemputmu nanti sore jam 7 ya..” dia lalu pergi sebelum aku menjawab. Yah, meski begitu, dia pasti tau aku akan menjawab apa, kan?

“waeyo?” kepala Dongwoon langsung muncul di pintu kelasku, menengokku.

“aniyoo.. ayo masukk..” aku langsung menarikknya masuk.

………………………

PLAKK…

Aku mimpi kan? Benar, Ya Tuhan, kalau ini mimpi, jangan bangunkan aku, biarlah aku tidur selamanya. Mimpi ini terlalu indah.

Hyuna ya, maukah kau menjadi pacarku?

Siapa yang mengatakannya kalau bukan Hyunseung oppa? Aku kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Begitu masuk kamar, aku langsung merebahkan diri dan menarik napas dalam-dalam berulangkali. Ini mimpi.

PLAKK…

Sekali lagi aku memukul pipiku.

“omo… appeuda..” aku mengusap pipi kananku yang sakit. Tapi aku sangat senang. Kupegang kedua pipiku. Rasanya panas. Kurasa aku sangat senang, wajahku pasti sangat merah sekarang. Karena aku sangat senang, sepertinya otot bibirku terus mengembangkan senyum.

“Ya Tuhan…. Gomapta!!!” aku berteriak dikamar sekeras-kerasnya.

“ya! Hyuna.. kalau mau tidur, tidur saja… tidak perlu berteriak!” ibuku berteriak dari kamarnya. Kedengaran ya? Aku tidak memperdulikan suaranya. Yang penting aku sangat senang kali ini. Ibu sih, seperti tidak pernah muda saja!

…………………

Besoknya…

Dongwoon tiba-tiba berubah wajah. Bukan, bukan berubah jadi jelek, dia memang jelek *author dibunuh Dongwoon*. Tapi begitu aku menceritakan kalau aku pacaran dengan Hyunseung, wajahnya langsung mengkerut kayak nenek-nenek.

“wae?” tanyanya

“saranghae ttaemone…”

“mwo? hahaha…” dia malah tertawa gaje.

“ya! Kau keterlaluan…”

“ani.. begini chingu, aku rasa kau sebaiknya jangan dengan Hyunseung deh.. kau tau dia Playboy kan? Kau kurang buka mata besar-besar nih…” dia langsung memperbesar matanya yang sudah hampir keluar dari tengkoraknya.

“ya! Maksudmu…”

“kau tidak tau?”

“bukan tidak tahu.. tapi dia tidak lagi seperti itu kok. dia baik..”

“awalnya.. yah, terserah kau saja.. palingan nanti putus juga..” dia langsung berjalan kembali ke tempat duduknya yang hanya berjarak 5 bangku dari bangkuku.

“kau ini…” aku langsung terdiam, aku melihatnya dengan baik yang sedang membaca komik. “kau jahat, Dongwoon…”

…………………………

Besoknya…

Dongwoon tiba-tiba mendatangiku yang sedang berada di Perpustakaan.

“sst..” ujarnya sambil mengamit tanganku yang sedang membaca di meja.

“mwoya?” bisikku tanpa menoleh.

“kau senang berpacaran dengan Hyunseung hyung?”

“aku? Nde… neomu haengbokhae..” jawabku sambil tersenyum.

“huah… putuskan dia sekarang juga!”

“mwo? seenak jiwamu! Andwe..” ujarku kesal.

“aigoo Hyuna-ya, aku sudah dekat dengan Hyunseung, dan kurasa dia hanya bermain denganmu saja..”

“ya.. bukankah orang pacaran itu memang bermain? Ani.. aku tidak mau!”

“aku sudah mengatakannya padamu yah..”

“mm..” aku terus membaca.

“…”

“…”

“YA PUTUSKAN DIA!” Dongwoon tiba-tiba berteriak.

“sst.. tidak boleh rebut diperpustakaan!” ujarku karena semua murid melihat kami

“huftt..”

“ani, Dongwoon-ya, aku menyukai Hyunseung oppa.” Jawab ku tersenyum.

“kau akan menyesal Hyuna!” ujar Dongwoon yang sepertinya menyerah dan segera pergi menunggalkanku. Orang itu…

……………………..

Besoknya….

6.00 pm

Aku melihat jam dinding kelasku. Aku belum pulang, karena sedang bosan dan ada banyak tugas hari ini. Aku berhenti memikirkan tugasku. Tiba-tiba saja pikiran tentang surat botol itu muncul. Sudah 4 hari surat botol itu tidak datang. Aku duduk dengan lesu. Apa aku merindukannya? Entahlah. Aku memasukkan tanganku kedalam laci, dan…

“omo!” aku kaget dan menemukan surat botol di tanganku. Aku pun membacanya.

Aku sudah mendapatkanmu…

Kau merindukanku kan?

Kau harus menjauhi lumpur…

“Maksudnya?” aku tambah bingung. Mendapatkanku? Apa mungkin dia Hyunseung oppa? Mungkin, mungkin. Aku bisa gila! Orang ini keterlaluan! Aku segera berdiri dan mencari Hyunseung oppa. Ini harus diselesaikan. Tidak bisa seenaknya saja. Dan aku yakin dia juga belum pulang.

Aku berjalan dan hampir sampai di kelas 3-5, kelas Hyunseung oppa. Kelas ini sangat sepi.

BRAKK..

“mau mati!”

Aku mendengar suara benda yang dihentakkan ke bangku-bangku dan suara DONGWOON. Apa yang dilakukannya? Aku mengintip dari balik pintu. Hyunseung oppa, dialah yang dihentakkan di bangku-bangku oleh Dongwoon. Hyunseung oppa terduduk dan mulai bangkit. Bangku-bangku dikelas itu berhambur.

“kau yang pengecut! Hanya berani dibelakang saja. Yah, aku lebih baik dibandingkan dirimu. Kau sendiri tau kan, saat pacaran itu, pasti akan berakhir juga!” Hyunseung oppa, dia berdiri dan memegang pelipisnya yang sedikit membiru.

“jadi kau jadikan itu untuk mempermainkannya?” Tanya Dongwoon dengan nada yang sedikit tinggi dan menggema.

“ani… kurasa aku menyukainya…” aku rasa napasku tercekat.

“mwoya? Pembohong!”

“heh? Kau pikir karena aku terlalu lama menjadi Playboy maka aku akan selamanya begitu. Tidak Dongwoon, Hyuna orang yang baik. Kau benar. Kurasa aku tidak akan melepaskannya…” Hyunseung tersenyum kecil. Oppa, apa kau benar?

“kau…” Dongwoon menggertakkan giginya. Mungkin dia kehabisan kata.

“kau harus menghentikan kegiatanmu menerornya. Karena dia sudah jadi milikku, Dongwoon. Kau tidak bisa lagi membuatnya menyukaimu. Karena dia sudah menyukaiku. Dan kau tidak bisa….”

KRAKK..

…………………………

AUTHOR POV

KRAKK..

Pintu kelas 3-5 bergerak pelan, dari balik pintu itu, tampak Hyuna dengan ekspresi sedikit kaget dengan tanpa bergerak. Dia terus menatap Dongwoon dan Hyunseung yang juga melihatnya.

“Hyuna..” tegur Dongwoon “apa yang…”

“jongmal? Yang dikatakan Hyunseung oppa? Kau yang….” Ujar Hyuna dengan pelan hingga hampir seperti bisikan.

“Hyuna, aku…”

“aku sangat mempercayaimu, Dongwoon..”

“Hyuna…” kali ini Hyunseung yang berbicara.

“Oppa, aku juga, dan kau….”

“kau tau aku mengatakan benar, kan, Chagiya?” ujar Hyunseung mendekati Hyuna.

“aku tidak tahu lagi…” Hyuna menatap Hyunseung yang mendekatinya

“seandainya kalian lebih jujur..” dia menepis tangan Hyunseung yang mendekatinya, dan mulai berjalan pelan keluar setelah itu berlari.

Berlari jauh, hingga tidak tahu kemana. Menuruni seluruh tangga, berlari sampai keluar dari sekolah itu, dan berlari menuju rumahnya. Hingga didepan lampu jalan yang tidak begitu jauh dari sekolah. Dia berhenti. Melihat lampu jalan yang diatasnya, dan tanpa terasa air matanya terjatuh.

“aku sedang bermain?” tanyanya pada lampu itu.

“….”

………………………………

— THE END —

Pendek kuadrat aje gile… hahaha… ngawur rek. Gimana? Gaje yah? Iyah.. banget. Ada yang kependekan ada yang kepanjangan. Sudahlah. Pokoknya komentarnya yoo…>.<

5 responses to “Letter Bottle

Komentar ditutup.