Don’t Ever Think!

Don’t Ever Think!

Title     :           Don’t Ever Think!

Author :           Yesunggyu – Amalia Laili

Length :           One Shot

Genre   :           Comedy, Romantic*?*

Cast     :           Im Yoona, Kwon Yuri, Kim Kibum

…………………………….

“waeyo? Kenapa tidak mau makan?” tanya Yuri pada Yoona yang terus menerus mengaduk makanannya tanpa berniat sedikit pun untuk menghabiskannya.

“…”

“Yoona ya… gwenchana?” tanya Yuri sekali lagi. “kau sakit..”

“hmm..” angguk Yoona.

“jongmal? Sakit apa? Apa perlu kedokter?” tanya Yuri segera berdiri dari duduknya.

“hm…” dia menggelengkan kepala. “ini.. hatiku sakit..” ujar Yoona sambil menepuk pelan dadanya.

“heh? Maksudmu..??” Yuri kembali duduk dan mengerutkan keningnya. “Kibum oppa?”

“hmm…” angguk Yoona lagi.

“apa yang dilakukannya?” tanya Yuri.

“kau tahu, dia sangat memujimu saat kita bertemu dengannya waktu itu..”

“hah? Jongmal? Yoona ya, itu biasa saja..” hibur Yuri

“ani… aku merasa dia benar..” geleng Yoona

“memangnya apa yang dikatakannya?” tanya Yuri lagi.

“dia bilang kau sangat cantik, rapi, lembut, manis, dan sangat baik..” ujar Yoona sambil melihat makanan yang sedari tadi diaduknya terus.

“hmm.. gomawo.. itu kan tidak terlalu masalah.. lalu?” Yuri berdeham sedikit, salah tingkah.

“bukan itu sih masalahnya, tapi kau tau? Aku rasa dia menyindirku, aku tidak cantik, rapi, lembut, manis, de el el.” Ujar Yoona dengan menaruh sendoknya, dan bersandar di sandaran kursinya.

“ohh.. aniyo Yoona ya.. kau cantik kok..” Puji Yuri.

“hmm.. tapi aku tidak feminim sama sekali…” ujar Yoona menundukkan kepala. Yuri lalu melihat Yoona, meskipun tidak sepenuhnya dari ujung kepala sampai kaki karena terhalang meja. Style Yoona, rambut digelung, berbaju t-shirt, celana pendek hingga lutut. Memang tidak fashion, pikir Yuri.

“iya kan?” Yoona meyakinkan diri, kali ini giliran dia yang melihat Yuri. Style Yuri, rambut sebahu tergerai, berbaju terusan hingga lutut yang berwarna biru lembut. Manis, pikir Yoona.

“wae? Hahaha… kau jangan begitu…” Yuri tertawa karena ditatap Yoona dengan tajam.

“ani… Yuri ya.. ajarkan aku supaya feminim!” Yoona menyatukan tangannya dan menumpukan sikunya dimeja makan sambil memohon pada Yuri.

“Yoona ya.. Kibum menyukaimu kan bukan karena kau feminim.. dia hanya memujiku biasa kok..” Yuri menjawab dengan tersenyum.

“ani.. jeball..” Yoona menggelengkan kepalanya dan kembali memohon pada Yuri.

“hmm..nde.. “akhirnya Yuri mengangguk juga.

“huahh.. gomawo..” Yoona mengangkat kedua tangannya kegirangan, dia lalu bangkit dan pergi menuju Yuri yang ada diseberangnya dan memeluk Yuri.

“ya.. biasa saja..” Yuri tersenyum, pura-pura marah dan melepaskan tangan Yoona yang ada di bahunya.

“hehehe..” Yoona melepaskan tangannya dari bahu Yuri dan menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.

…………………………….

Hari itu, pelajaran “feminism” pun dimulai. Yoona mempunyai namjachingu, yaitu Kim Kibum. Mereka sudah pacaran sejak 1 tahun yang lalu. Dan Yoona memiliki sifat yang tomboy, beda dengan sepupunya, Yuri, yang bersifat feminim. Waktu itu, Kibum mengantar Yoona pulang, setelah selesai kuliah, dan bertemu dengan Yuri. Sepertinya Kibum sangat kagum pada Yuri, dan malah memuji Yuri didepan Yoona. Makanya Yoona merasa Kibum mulai bosan pada Yoona.

Dan begitu selesai belajar, Yoona menelpon Kibum.

“yoboseyo, chagiya?”

“yoboseyo, nde..” jawab Kibum

“selesai kuliah nanti, kita pergi nonton film yuk.. temani aku..” ujar Yoona manja

“mworago? Ah.. ani.. maksudku. Tentu saja, biasanya juga aku menemanimu..” ujar Kibum kaget, dari tempat ia menelpon, lebih tepatnya di kamar tidur, dia segera bangkit dari setengah tidurnya dan mengerutkan keningnya “Chagiya…apa kau sakit?”

“hm? Ani.. mengapa tanya begitu?” tanya Yoona lagi.

“tumben kau menelponku dengan nada suara seperti ini…”

“oh..ehmm.. “ Yoona berdeham dan memperbaiki posisi duduknya “hanya mau saja..”

“arata.. jadi jam berapa?” tanya Kibum lagi.

“jam 3!”

“baiklah.. aku akan menjemput dikelasmu..” ujar Kibum.

………………………

“CHAGIYA!!” Panggil Yoona pada Kibum yang menunggunya, Kibum sedang duduk dikursi didepan kelas Yoona. Begitu melihat Yoona dia segera berdiri dan menghampiri yeojachingu-nya. Lalu kaget sebentar, melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“mwoya?” tanya Yoona.

“ah.. ani… mengapa kau memakai baju ini?” tanya Kibum sampai menunjuk pakaian yang dipakai Yoona.

“wae? Jelek ya?” tanya Yoona memperhatikan bajunya.

“ani.. ayo jalan..” ujar Kibum. Tiba-tiba Yoona merangkul tangan kanan Kibum. “eh…??”

“waeyo?” tanya Yoona tanpa melepas gandengannya.

“ah.. ani… mengapa merangkulku? Biasanya..”

“tidak suka.?” Tanya Yoona dengan cemberut.

“ani.. kita jalan saja…” Kibum tidak memperpanjang masalah. Dia dan Yoona pun jalan keluar kampus.

Mari saya jelaskan, sebagai author yang terhormat. Yoona, tidak menggelung rambutnya seperti biasa. Kali ini dia mengurai rambutnya dan mengenakan bando berwarna putih. Dia tidak mengenakan kaos dan celana seperti biasanya. Dia mengenakan baju panjang warna hijau muda berlengan setengah lengan *?* dan rok berwarna putih selutut dan mengenakan sepatu hak hijau yang menutupi kakinya. Dan tidak menggunakan tas ransel seperti biasa, tapi tas selempang agak pendek. Sangat cantik, dan tentunya feminim abis. Sepertinya pelajaran dengan Yuri berhasil!

………………………

Menonton film dibioskop…

Kibum berlari menuju Yoona yang sedang duduk di bangku, di depan penjual es tong tong *?*.

“film ini kan yang kau maksud?” tanya Kibum sambil menyerahkan 1 tiket kepada Yoona. Kening Yoona mengkerut.

“ani.. bukan ini..” gelengnya pelan.

“bukan? Lalu apa? Kau suka sekali film warrior kan?” tanya Kibum heran.

“itu dulu. Aku mau menonton itu..” ujar Yoona sambil menunjuk poster film melodrama terbaru yang sangat terkenal di Korea.

“mwo? tumben…”

“tidak mau menemaniku?”

“ah.. ani.. aku mengembalikan tiket ini dulu dan menggantinya, tunggu sebentar..” Kibum mengambil tiket di tangan Yoona dan kembali berlari ke loket.

………………………

Yoona dan Kibum keluar setelah menonton film, film itu sangat membosankan sebenarnya bagi Yoona, tapi dia berusaha serius menontonnya dan menghayatinya. Yah, apalagi kalau bukan karena Kibum.

“apa lagi yang harus kulakukan?” ujar Yoona dalam hati, begitu mereka keluar dari gedung bioskop. Saat itu juga, sinar sore matahari menyinarinya dan menyilaukan matanya. Dia agak menyipitkan matanya dan tersenyum. Segera mengipasi wajahnya dengan tangan.

“oppa, panas sekali…” ujarnya pada Kibum yang ada disampingnya.

“nde.. tapi tidak terlalu sih, ayo pulang..” ujar Kibum acuh.

“apanya? Ini sangat panas..”

“panas? Jadi kau mau bagaimana?” tanya Kibum pada Yoona.

“kita beli eskrim dulu yukk” ajak Yoona dengan manja

“dimana?”

“disana…” tunjuk Yoona *author gak tahu sejak kapan ada café di situ.

Kibum dan Yoona pun pergi menuju café tersebut, sebelum itu, Yoona menyempatkan diri untuk mengibarkan, membuka, melebarkan payungnya.

“panas oppa..” ujarnya. Kibum hanya menggeleng pelan dan tersenyum.

Mereka lalu duduk dan melihat daftar menu yang diberikan si pelayan.

“kau mau beli yang mana, chagiya?” tanya Kibum, dia tidak berniat beli apapun.

“ehm.. aku pilih yang ini…” tunjuk Yoona pada si pelayan, pelayan itu pun mengangguk dan pergi menuju dapur.

Beberapa menit kemudian…

Si pelayan datang membawakan pesanan Yoona yang membuat Kibum ternganga.

“eskrim itu besar sekali…!!” ujarnya sambil melihat Yoona yang tersenyum setelah mendapatkan pesanannya.

“tidak boleh ya?” tanya Yoona.

“ani.. terserah kau saja. Yang penting kau senang..” ujar Kibum tersenyum menyilahkan Yoona untuk makan. Yoona pun makan dengan pelan. “kau sakit?” tanya Kibum lagi setelah Yoona makan 1 suap eskrim.

“ani… wae?” tanya Yoona lagi sambil menggeleng.

“hemm.. nothing..” Kibum hanya menggeleng juga “mengapa dia berubah?” pikirnya. Dia hanya memperhatikan Yoona makan, lalu melihat keluar jendela.

1 suap

2 suap

4 suap

8 suap

“sudah…” ujar Yoona sambil mendorong gelas eskrimnya.

“SUDAH??” ujar Kibum kaget.

“hmmm…” angguk Yoona sambil mengelap bibirnya dengan tisu.

“begini kau bilang sudah? Ini masih banyak lagi, Yoona!” ujar Kibum sambil menunjuk Eskrim yang dimakan Yoona. Eskrim itu hanya tergerak sedikit, tidak sampai setengah dari itu.

“hmm..” angguk Yoona lagi.

“wae?”

“aku takut gemuk…”

“lalu kenapa dibeli?”

“aku suka hiasannya.. sayang kalau dimakan…” ujar Yoona tersenyum. Kibum hanya bisa menahan jengkel. Si pelayan datang membawakan struk pembayaran.

“aigoo..” ujar Kibum pelan, dia lalu mengambil uang di dompetnya. Dan UNTUNGNYA uangnya pas!

………………………..

Didepan rumah Yoona…

“chagiya, jaga dirimu…” Kibum, setelah mengantar Yoona hingga kedepan pintunya, berniat menuju mobilnya sampai dia mendengar teriakan Yoona.

“omo!” Yoona SENGAJA menjatuhkan diri, dengan membuat dia terjatuh karena highells nya yang tinggi.

“aigoo.. chagiya.. gwenchana?” Kibum segera berlari melihat Yoona, dia pun mengulurkan tangannya supaya Yoona bisa menyambutnya dan berdiri.

“ani.. aku tidak bisa berdiri…” ujar Yoona.

“jongmal? Coba kulihat…” Kibum segera menjongkok didekat Yoona dan menyentuh pergelangan kakinya.

“tidak parah kok, ayo berdiri..” sekali lagi Kibum mengajak Yoona berdiri.

“ani.. kakiku sangat sakit.. gendong aku…” ujar Yoona manja.

“mwo? ah.. keure…” Kibum lalu menggendong Yoona. Dia lalu masuk dan menaruh Yoona diranjang kamarnya.

“Yoona ya..”

“mwo?”

“sebenarnya….”

“katakan kalau kau tambah menyukaiku sekarang…” harap Yoona.

“aku… ingin kita putus..” ujar Kibum sambil duduk disamping Yoona.

“mwo?”

“aku rasa kau terlalu manja, kau tahu kan, kalau aku tidak menyukai itu. kau berubah sekarang…” Kibum segera berdiri dan pergi menuju pintu kamar.

“oppa…” cegah Yoona. Kibum pun berdiri.

“bukankah kau menyukai yeoja yang feminism.. aku berubah supaya kau lebih menyukaiku…” terang Yoona. Kibum segera berbalik.

“mwo? apa yang…”

“nde.. Yuri. Kau yang bilang, Yuri..”

“hahaha… aku hanya memujinya..” Kibum tertawa melihat Yoona yang gugup, dia segera duduk kembali disamping Yoona, di tempat tidurnya.

“Yoona ya, aku menyukaimu bukan karena feminim atau tomboy atau apalah itu.. kau ingat kapan kita bertemu pertama kali?” tanya Kibum lembut.

“saat pertama masuk kampus?”

“nde… aku menyukai semangatmu.. saat itu kau tidak feminim sama sekali, tapi aku sangat menyukai auramu yang malah terlihat sangat cantik dan lembut dibandingkan perempuan lain yang manja dan bergantung pada orang lain….” Kibum meraih tangan kanan Yoona dan memegangnya erat dengan kedua tangannya.

“hmm…”

“gwenchana.. jadi kau melakukan ini supaya aku menyukaimu? Aku sudah menyukaimu kan? Ya sudah, maafkan aku. Aku tidak akan memuji yeoja lain kecuali kau deh… oke? Chagiya?” bujuk Kibum.

“yakseo?”

“nde.. yakseo!” yakin Kibum “kecuali…”

“kecuali…” Yoona menggigit bibir bawahnya

“ibuku.. aku boleh dong memujinya…” Kibum pun tersenyum lebar

“ya!” Yoona memukul pelan kaki Kibum.

“hahaha.. istirahatlah…” Kibum mengacak rambut Yoona dan segera berdiri meninggalkan rumah Yoona.

“pabo! Naneun neomu paboya!” Yoona memukul kepalanya sendiri.

………………

“Yoona, berhasil?” tanya Yuri setelah ia pulang kuliah

“nde…” angguk Yoona yang menonton tv

“benar, kan? Ide ku sangat bagus!” Yuri duduk disamping Yoona

“ya, bagus untuk membuat kami bubar..”

“mwo?”

“dia bilang dia tidak menyukai aku yang seperti itu…”

“jadi?”

“ya jadi, aku kembali seperti dulu…”

“hahaha.. yah.. kau lebih baik seperti ini…” Yuri tertawa dan mendapatkan pukulan dibahunya.

“ya! Kau ini… setidaknya, meski aku begini, aku punya pacar.. daripada yang disampingku…”

“ya! Napeun-ah!” Yuri membalas memukul Yoona

…………………………………

— THE END —

4 responses to “Don’t Ever Think!

Komentar ditutup.