Goodbye My Love

GOODBYE MY LOVE

Title     :           Goodbye My Love

Author :           Yesunggyu – Amalia Laili

Length :           one shot

Genre   :           comedy, sad, romance

Cast     :           Kim Soeun, Kim Bum, Joo Won, etc

Huah.. gomawo yang sudah request Soeun. Tapi karena Yoi-chan sedang sibuk sekarang, jadi saya yang menggantikan untuk bikin FF nya. Ini terinspirasi dst oleh MV Goodbye My Love-8Eight. Bagus to? Tapi sayangnya, aku gak tau siapa aja pemainnya.. jadi…

……………………….

“kau mau liburan ke Mokpo? Kurang tempat rekreasi apa?” tanya Joowon dari hapenya.

“hmm…” angguk Kimbum meski tau Joowon itu tidak dapat melihatnya yang mengangguk.

“mwoya? Kau mau atau gimana?”

“aku mau kesana.. tunggu aku. Besok aku jalan. Bareng Soeun!” ujar Kimbum. Mendengar nama Soeun, Joowon langsung terdiam sejenak lalu melanjutkan pembicaraan.

“Soeun? Ngapain pula kau bawa yeojachigu-mu?”

“aku mau memperkenalkan dia dengan nenek!”

“mau kau apakan Soeun? Mau kau jadikan pembantu? Sudah deh.. tidak usah datang!” Joowon tetap menolak kedatangan Kimbum dan Soeun.

“bagaimana sih kau ini? Sepupumu mau datang malah kau larang! Pokoknya besok aku datang! Kau bersiap saja!”

“YAAA…ishh…”

TIT…

Joowon dengan kesal mematikan hapenya, karena Kimbum, sepupunya itu, memutuskan komunikasi lebih dulu. Bukan itu masalah besarnya. Tapi, Kimbum mau datang ke Mokpo. Kerumah Joowon, mau berlibur. Liburan musim panas. Itu artinya, Kimbum akan datang mengganggu tidur siangnya. Joowon sudah menyiapkan berbagai rencana untuk liburannya. Sebuah gebrakan baru, yaitu tidur dari jam 6 pagi tanggal 1 sampai jam 6 pagi tanggal 30! Daebak kan? Tapi terurungkan gara-gara rencana Kimbum itu.

“ngapain pula dia bawa Soeun? Ishh…” Joowon mengacak-acak rambutnya yang awut-awutan.

“huahh.. gak tau ah! Pokoknya aku harus menyelesaikan misi tidur daebak itu!” dia langsung berbaring di ranjangnya, tempat yang dia duduki sebelumnya.

……………………………

FLASHBACK ON

Joowon dan Kimbum berlarian saat pulang sekolah. Mereka masih berumur 17 tahun. Artinya masih SMA. Mereka sekolah di SMA Sotoy *?* di Mokpo. Sebenarnya Kimbum berasal dari Seoul, tapi karena orangtuanya pergi keluar negeri jadi TKI eh ada kerjaan, dia bermigrasi ke Mokpo. Tinggal bersama neneknya dan sepupunya, Joowon yang yatim piatu sejak lahir.

“TOLONG KEMBALIKAN TOPIKU!”

Ada suara cempreng yang mereka berdua dengar. Dengan segera mereka berlari mencari sumber suara dan melihat seorang yeoja yang diganggu 3 orang namja.

“disekolah yang sama kan mereka itu?” tanya Joowon pada Kimbum.

“iya, seragamnya kayak punya kita…” angguk Kimbum.

“ditolong gak nih?” tanya Joowon tersenyum licik dan dibalas anggukan oleh Kimbum.

“gapapa deh dimarahi nenek untuk hari ini…” ujar Kimbum. Mereka berdua pun berlari menuju tempat itu.

…………………….

“gomawo” ujar yeoja itu sambil menundukkan kepala dan memegang topi berwarna coklat.

“nde…”

“cheomaneyo..”

“….” Yeoja itu pun berjalan pergi, menuju rumahnya.

“chakaman! Siapa namamu?” tanya Joowon nekat.

“aku? Kim Soeun. Kau?” Soeun langsung mengulurkan tangan pada Joowon.

“aku Moon Junwon. Tapi anak ini memanggilku Joowon..” tunjuk Joowon. Dia menyuruh Kimbum untuk berkenalan. Dengan gontai Kimbum bersalaman dengan Soeun.

“aku Kim Songbum. Dan manusia yang masih hidup disampingku ini, memanggilku Kimbum…” jelas Kimbum.

“oh… hehehe..kita disekolah yang sama ya?” tanya Soeun.

“sepertinya… seragam kita sama.. tapi aku baru melihatmu..” jawab Joowon.

“nde.. aku baru pindah hari ini, dari Seoul… aku kelas 2-6..” jelas Soeun. Joowon langsung melihat Kimbum yang ekspresinya biasa saja. Lalu menoleh pada Soeun.

“oh… sama dong dengan anak ini. Bedanya dia sudah 2 tahun disini… dia sepupuku” tunjuk Joowon pada Kimbum. Kimbum hanya tersenyum.

“jinja? Jadi kalian tinggal dimana?” tanya Soeun.

“nde.. kami tinggal di sana.. lihat? Didekat kebun itu.. itu kebun kami!” tunjuk Joowon lagi pada Kebun di dekat rumahnya.

“oh.. yang itu… baiklah, aku pulang dulu.. aku sudah telat.. kita ketemu lagi ya besok! Annyeong!” ujar Soeun sambil melambaikan tangan sambil berlari pulang.

“annyeong!” Joowon menunduk hormat, sedangkan Kimbum melambaikan tangan sambil tersenyum.

“kok tidak bicara?” tanya Joowon kemudian.

“aku malu.. dia terlalu cantik..”

“jadi?”

“aku menyukainya…”

“tidak bisa.. aku duluan..”

“apa-apaan itu?”

“apanya? Aku duluan yang mau menolongnya, yang tanya namanya, dan lain lain..”

“tapi dia tersenyum terus padaku kok! artinya dia menyukaiku!”

“apa yang,… huahhh.. kau terlalu pede…”

“pede itu perlu, untuk menunjang kehidupan masa depan yang lebih baik!”

“kalimat apa itu?” Joowon meninggalkan Kimbum yang nyerocos.

FLASHBACK OFF

…………………………….

“AKU DATANG!” teriak Kimbum didepan pintu rumah Joowon dan Nenek. Nenek segera menyambutnya dan memeluknya, sedangkan Joowon tetap duduk di depan TV.

“Kau tidak mau menyapaku?” tanya Kimbum.

“ANNYEONG…” sahut Joowon sambil menaikkan tangan memberikan isyarat.

“ish.. nenek, aku membawa Soeun..” ujar Kimbum sambil memperkenalkan Soeun pada nenek. Soeun tersenyum cerah dan bersalaman dengan nenek.

“annyeong haseyo…” jawab nenek.

Soeun mengangguk “annyeong haseyo..”

“dia yeojachingu-ku..” ujar Kimbum.

“oh…yeppo… Joowon, kau tidak mau berkenalan dengan pacar Kimbum?” tanya nenek.

“SUDAH KENAL!” teriak Joowon.

“oh… tentunya ya? Kalian lebih tau daripada aku. Masuklah…” Nenek mempersilakan mereka masuk.

Joowon tetap tak mengalihkan pandangannya dari tv. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang dia tonton. Tiba-tiba channel tv berganti.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” teriak Joowon pada Kimbum yang duduk disampingnya dan memegang remote tv.

“kau menonton drama terus. Memangnya kau yeoja apa?” komentar Kimbum.

“Aku tidak…” Joowon hampir membela diri sampai dia melihat Soeun tersenyum.

“lama tidak bertemu Joowon..” tunduknya.

“hm… nde..” Joowon kembali diam sejenak, lalu bangkit.

“kau mau kemana?” tanya Kimbum.

“aku mau menonton di rumah tetangga, disini tidak bisa nonton..” jawabnya.

“hah? Jadi aku menganggumu begitu?” tanya Kimbum.

“kau tidak sadar? Tidak tahu diri memang!” sahut Joowon.

“mworago?” Kimbum langsung berdiri. Dia dan Kimbum saling berhadapan, dan bertatapan tajam.

“sudahlah.. kita menonton sama-sama..” lerai Soeun. Kimbum kembali duduk, Joowon berbalik keluar.

“beneran mau kerumah tetangga?” tanya Soeun.

“ani… mau ke balai desa.. lebih baik nonton disana…” sahut Joowon. Soeun hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Joowon tidak berubah sedikitpun…” komentar Soeun ketika Joowon sudah pergi dari rumah.

“yah.. anak itu memang bodoh..” sahut Kimbum.

PLAK..

Soeun memukul bahu Kimbum.

“terlalu! Dia itu kan sepupumu, dia juga sahabatku…” ujar Soeun.

“mianhae…” Kimbum tersenyum sambil mengusap bahunya.

“sakit?” tanya Soeun sambil ikut mengusap bahu Kimbum.

“kau tidak pernah memukul dirimu sendiri ya?”

“hehehe… mianhae..”

………………………..

Joowon berjalan ditepi siring pantai. Dia membiarkan angin laut menerpa rambutnya. Dia berhenti sebentar melihat laut.

“Soeun… ish….” Dia menendang batu kerikil disampingnya. “kenapa tidak bisa kulupakan? Itu sudah 4 tahun yang lalu!”

FLASHBACK ON

“Joowon-ah.. kau mau makan ramen denganku?” tanya Kimbum saat mereka bersama dikamar seperti biasa.

“kalau kau yang traktir, aku mau…” ujar Joowon tanpa menoleh sedikit pun.

“baiklah.. ayo pergi…” Kimbum menarik tangannya.

“malam begini?”

“belum malam, baru juga jam 9. Ayo!” Joowon terpaksa ikut.

Mereka berjalan menuju rumah makan kecil, sekitar 100 meter dari rumah mereka. Begitu makanan disajikan, Joowon dan Kimbum mulai makan.

“Joowon ah.. boleh aku minta tolong padamu?” tanya Kimbum sambil menghentikan makannya.

“ara.. kau pasti meminta sesuatu makanya baik padaku. Wae?” tanya Joowon terus saja makan.

“aku dan Soeun…. Aku menyukainya…”

“lalu?” Joowon hanya berhenti makan untuk sebentar lalu lanjut lagi.

“dia.. juga menyukaiku…”

“MW..huhkk..hukk.. mwo..ya?” Joowon menggapai-gapai gelas disampingnya. Begitu didapatnya, ia lalu meminumnya 3 teguk lalu memukul-mukul dadanya.

“nde… aku dan dia sudah pacaran… kau bisa kan melupakannya?”

“SEENAK ITU KAU BERBICARA?” Joowon berteriak sambil memukul meja sekali. Semua orang disana melihatnya. Joowon langsung meminum air ramennya. Lalu berdiri dan beranjak pergi.

“chakaman… Joowon ah…” kejar Kimbum. Begitu mereka berada di luar rumah makan itu, Kimbum meraih bahu Joowon dan menariknya, menahan Joowon. Joowon pun berbalik.

“mwoya?”

“Joowon ah.. mianhae.. aku…”

“kau tahu kan kalau aku menyukainya? Bagaimana…ish…” Joowon kembali berbalik.

“Joowon… Soeun tidak menyukaimu.. dia hanya menyukaimu sebagai sahabat saja…” Kimbum menghalangi jalan Joowon.

“ara… tapi kau kan bisa… kau tidak mengerti perasaanku?”

“kau juga apa bisa mengerti perasaan Soeun? Kau terus memaksanya setiap hari…” kata-kata Kimbum itu membuat Joowon terdiam.

“sudahlah…” Joowon mendorong Kimbum menepi, Joowon terus berjalan.

“Joowon..”

“AKU BILANG SUDAHLAH… INI SUDAH MALAM! AKU MAU PULANG DAN TIDUR!” Joowon berteriak dijalan itu. dia lalu berjalan dengan cepat menuju rumah. Kimbum mengikuti dari belakang. Dengan jarak aman, 3 meter.

Begitu mereka dikamar..

Joowon berbaring berusaha untuk tidur, dia membelakangi Kimbum.

“mianhae..” ujar Kimbum pelan pada Joowon.

“kau suka sekali menabur garam diluka ya?” sahut Joowon. Kimbum mulai diam dan menutup matanya.

“….”

Mereka berdua tidak bisa tidur.

“aku dan Soeun akan pergi ke Seoul.. kami akan kuliah disana… keluarganya juga akan pindah… kau ikut?” tanya Kimbum.

“tidak, terimakasih… aku tetap disini.. tahun depan baru aku kuliah…”

“wae?”

“aku tidak punya uang…”

“…bukankah kau punya tabungan untuk kul..”

“aku tidur…” kata-kata Kimbum dipotong oleh perkataan Joowon. Kimbum pun kembali diam.

“…”

“kau sudah tidur?” Tanya Kimbum hati-hati. Joowon memejamkan mata sekuat tenaga.

“hmm… gomawo..” bisik Kimbum kembali tidur.

FLASHBACK OFF

“Sekali bodoh, tetap saja bodoh!” ujar Joowon dipantai itu. “kenapa suka sekali menabur garam diluka? Apa dia selalu bodoh? Apa sih yang dipelajarinya di Universitas Korea?”

Tak ada suara apapun yang menyahutnya, hanya suara deburan ombak.

……………………………..

“IRONA!!!” teriak Kimbum pada Joowon.

“MWOYA?” Joowon melempar Kimbum dengan bantal.

“uwa…kau… ish.. ayo kita jalan-jalan.. sudah lama aku tidak kesini.. kau jadi pemandu kami ya!”

“andwe!” Joowon kembali menutup matanya.

“napeun-a!” Kimbum memukul Joowon.

“kau seperti anak perempuan!”

“apa yang…” Kimbum langsung menindis badan Joowon, dia dan Joowon pun mulai berkelahi.

“KALIAN BERDUA! MAKAN DULU!” teriak nenek. Mereka berdua pun bangkit sambil terus bertatapan tajam.

Posisi duduk : Kimbum dan Soeun berdampingan,  berhadapan dengan nenek dan Joowon yang berdampingan.

“suka sekali menaburkan garam…” ujar Joowon pelan.

“ehmm..” Kimbum yang merasa tidak enak menggeser sedikit dari Soeun entah kenapa.

“wae? Kalian tidak suka garam?” tanya Soeun.

“ani… hanya tidak suka yang menaburnya…” sahut Joowon sambil menatap Kimbum tajam sedang yang ditatap menunduk.

“kau tidak menyukaiku?” tanya Kimbum.

“harusnya kan dia tidak menyukaiku? Aku yang menabur garam di sayur ini…” ujar Soeun polos. Joowon dan Kimbum berpandangan sebentar, lalu dengan sekuat tenaga mereka tertawa.

“hahahahaha…”

“waeyo?” tanya Soeun heran.

“ani… tidak usah dibahas…” jawab Joowon.

“huft…” Soeun menghela napas. Lalu tersenyum kecil melihat mereka berdua bisa tertawa.

“makan dulu baru ketawa…” saran nenek.

“sebentar nek… hahaha” Kimbum terus tertawa bersama Joowon.

…………………..

Begitu begitu selesai sarapan, mereka pergi menuju kebun.

“ini untukmu..” Kimbum memberikan Joowon sebuah camera.

“buat apa?”

“kau sangat ingin jadi sutradara kan? Makanya kau kuliah di Universitas seni.. aku dengar kau pulang ke Mokpo karena tugas film documenter..kasian kau tidak punya alat..” ujar Kimbum. Joowon terdiam sejenak, lalu mengambilnya.

“apa yang kau inginkan?” tanya Joowon kemudian.

“oh! Hyung-ku ini memang tau apa yang kuinginkan!” ujar Kimbum sambil memegang kedua bahu Joowon. Mereka saling berhadapan. Joowon menaikkan alis sebelah kanannya.

“kau kira aku tidak tahu kebiasaanmu? Wae?”

“tolong rekam apa yang aku dan Soeun lakukan seharian ini!” mohon Kimbum.

“MWOYA?” Joowon berteriak sekencang mungkin. Soeun yang berada jauh didepan dari mereka langsung menoleh.

“kalian baik-baik saja?” tanyanya.

“nde…” jawab Kimbum “hyung ah.. jebal.. oo?” tanya Kimbum.

“tumben kau memanggilku hyung…” komentar Joowon “ani! Kau suka sekali menabur garam diluka, ya!”

“…” Kimbum terdiam sejenak. “ya! Kau kan mau melupakannya? Dengan begini, kau bisa terbiasa melihatnya dengan orang lain, dan kau akan melupakannya. Ide ku bagus kan?”

“ani! Ide jelek!” Joowon berjalan melewati Kimbum. Kimbum lalu mengejarnya, sekarang mereka berjalan beriringan.

“ara… pergilah.. kurekam.. kau harus membayar ini!” ujar Joowon mengalah.

“sip!” Kimbum berlari menuju Soeun “gomapta hyung!”

“heh…” Joowon langsung merinding dia dipanggil hyung.

…………………….

Saat ini mereka naik bis. Entah ada angin apa, mereka mau pergi ke pantai dekat taman bunga *gak tau apa ya?* yang membutuhkan waktu 30 menit dengan bus. 1 jam kalau jalan kaki, 3 jam kalau merangkak *apaseh?

“kau mau pilih yang mana?” tanya Kimbum yang duduk disamping Soeun didekat jendela sebelah kanan. Dia mengancungkan beberapa kartu ramalan, tentu saja sudah dibalik sebelumnya.

“hmm.. yang ini…” ujar Soeun lalu memilih kartu dan membukanya. Dikartu itu, tergambar seorang perempuan setengah telanjang yang berdiri ditanah. Gambarnya itu sobek sebelah.

“kenapa ini?” tanya Soeun.

“itu berarti… aku harus mencari sebelahnya.” Kimbum lalu menarik satu kartu tanpa melihat sedikit pun.

“lihat! Aku menemukannya…” ujarnya begitu melihat kartu yang diambilnya

“apa artinya?” tanya Soeun.

“entahlah… semoga saja yang bagus..” jawab Kimbum.

“kau tidak hebat sama sekali.”

“cocok kan?” Kimbum menyatukan kedua kartu itu.

“nde…” Soeun tersenyum, dia lalu merebahkan kepalanya pada bahu Kimbum.

“…” Kimbum lalu ikut bersandar juga.

………………….

“apa itu? jinja… kali ini dia menabur 1 kg garam diluka…” komentar Joowon yang duduk jauh didepan mereka. Dia terus merekam apa-apa yang 2 orang itu lakukan. Di bis, hanya ada mereka bertiga, berempat kalau tambah supirnya. Jadi tidak begitu masalah bagi Joowon meski harus jauh.

“huft…” Joowon mengalihkan kameranya, dia bosan merekam 2 orang tersebut.

…………………..

Di pantai…

Soeun dan Kimbum bermain dan berlari.

“chagiya…” ujar Soeun sambil memegang kartu. Kimbum pun menoleh.

“lihat ya…” Soeun lalu melambungkan semua kartu keatas, semua kartu pun bertebaran diatas pasir.

“aku mendapatkan ini!” ujar Soeun memperlihatkan kartu yang dipegangnya. Kartu yang sama saat mereka dibis.

“cari yang sama!” pinta Soeun.

“nde… chagiya…” Kimbum pun menunduk dan mulai mencari di pasir.

“apa yang mereka lakukan?” tanya Joowon heran. Dia berada cukup jauh dibelakang mereka, dia melihat Kimbum mencari sesuatu.

“apa sih?” Joowon ikut mencari kebawah meski dia tidak tahu. Dikakinya, dia menemukan pasangan kartu Soeun.

“apa ini?” tanya Joowon lagi. Kameranya masih menyala, dia tidak mematikannya.

“hmm.. ini artinya akan berpisah karena kematian ya?” gumamnya melihat kartu tersebut, dia mengangkat bahu pelan lalu membiarkan kartu itu.

“ramalan bodoh…”

“JOOWON!” teriak Kimbum pada Joowon.

“ayo cepat kesini, kenapa kau jauh sekali?” tanya Kimbum lagi sambil melambai, Soeun pun ikut melambaikan tangan.

“nde.. chakaman…” sekali lagi, tanpa mematikan cameranya, Joowon berlari menuju mereka berdua.

“hahaha… kau sampai tidak mematikannya..” komentar Kimbum.

“apa kau melihat pasangan kartu ini?” tanya Soeun sambil memperlihatkan kartu yang dipegangnya.

“hah? Lihat kok, tapi kayaknya sudah dibawa ombak tuh… yang artinya berpisah karena kematian, dan hanya dapat bersatu didunia lain. Iya kan? Aku tau.. aku pernah bermain juga…” ujar Joowon.

“jongmal?” Soeun bertanya lalu menatap wajah Kimbum.

“ah… itu hanya sebuah ramalan… besok kita ke taman.sebentar lagi festival bunga, iya kan Joowon?…” tanya Kimbum pada Joowon.

“nde… bunganya sangat indah..”

“kalau begitu kita pulang untuk pergi besok…” ujar Soeun. Kimbum dan Joowon terdiam sejenak.

“hahaha..kata-kata apa itu!” ejek Joowon sambil tertawa puas.

………………………….

Besoknya di taman bunga,

Hari ini pun, Joowon bertugas sebagai cameramen untuk melodrama Kimbum dan Soeun. Mereka berjalan dipadang bunga berwarna kuning yang sangat indah.

Soeun mengalirkan tangannya, menyentuh semua bunga di jalannya. Kimbum lalu memegang tangannya. Soeun diam sejenak, lalu tersenyum pada Kimbum.

“hem… jongmal…” ujar Joowon. Dia lalu melihat tangannya.

“kali ini lukaku infeksi… harus kedokter.. kalau perlu diamputasi..” ujarnya. Dia pun keluar dari padang bunga, menuju jalanan.

“jalanan ini sepi.. sebaiknya aku merekam diriku dulu, untuk kamera pertamaku dari Kimbum..” ujarnya dan mulai berbicara sendiri dan merekam dirinya sendiri.

“….”

Begitu selesai, dia kembali menengok keadaan Romeo dan Juliet. Mereka berdua masih terus berjalan, tiba-tiba mata Joowon membelalak. Kimbum, jika 10 langkah lagi, dia akan jatuh dilubang dalam bekas sumur.

“YA! KIMBUM AH…” suaranya tidak terdengar.

KRAK…

………………………..

“Joowon baik sekali ya? Mau merekam kegiatan kita?”

“dia memang orang yang sangat baik..” Kimbum terus saja berjalan dengan Soeun. Sampai matanya melihat lubang besar yang akan memakannya.

Dia berencana untuk berhenti, tapi kakinya sudah terlanjur jatuh.

KRAK…

………………………..

KRAK…

“KIMBUM-AHH…” Teriak Joowon, dia berlari hingga dipinggir jalan.

“GWENCHANA!” Jawab Kimbum, dia hanya terpeleset, tidak sampai jatuh lubang. Soeun membantunya berdiri.

“huft… syukurlah…” lega Joowon. Dia kembali merekam mereka berdua. Dia melihat mereka berdua kembali berjalan pulang. Lalu menoleh ke kanannya, dan melambaikan tangan.

“JOOWON AH…” teriak mereka berdua samar-samar. Joowon tidak dapat mendengar dengan baik karena ada suara bising. Mereka berdua melambai-lambaikan tangan. Joowon juga ikut melambaikan tangan sambil tersenyum.

“apa mereka begitu senang?”

Kimbum lalu mengisyaratkan, lihat-ke-kanan-mu! Joowon mengerutkan keningnya lalu menengok ke kanan dan…

BRAKK…

……………………

“GWENCHANA!” Jawab Kimbum pada Joowon. Dia berdiri dibantu Soeun.

“gomawo…” ujarnya.

“hati-hati…” jawab Soeun. Kimbum pun membersihkan kakinya dari tanah.

“kembali yuk… kasian Joowon..” ujar Soeun.

“nde..” mereka pun kembali berjalan berniat pulang. Langkah mereka terhenti begitu melihat Truk besar yang melaju cepat. Dengan reflex, mereka menengok kearah Joowon.

“JOOWON AH…” teriak mereka berdua. Mereka melambaikan tangan, isyarat agar Joowon pergi dari sana, bahaya! Tapi sepertinya Joowon salah paham, dia malah melambaikan tangan sambil tersenyum.

“ani! Lihat kananmu! Kananmu!” Kimbum mengisyaratkan, tapi…

BRAKK…

…………………………

BRAKK…

Joowon tertabrak oleh truk besar. Kesadarannya masih ada sedikit, dia lalu meraih kameranya yang belum mati. Lalu mengatakan sesuatu.

“….”

……………………….

1 hari setelah tabrakan itu, Joowon dikremasi. Abunya disebarkan di pantai, tempat abu orang tuanya juga disebar. Kimbum dan Soeun tak dapat membayangkan bahwa kejadian waktu itu adalah yang terakhir kalinya.

Setelah berdiam sejenak dipantai, mereka pun pulang kerumah.

“Soeun ah.. besok kita pulang..” ujar Kimbum, dia lalu beranjak meninggalkan Soeun sendiri.

“hmm…” Soeun terdiam di depan tv, didepannya ada sebuah kotak berisi barang-barang Joowon.

“…”

Dia mengambil kamera Joowon, dan menyalakannya. Melihat apa saja yang direkam Joowon.

“aku?” ujarnya pelan. Dia melihat saat-saat dibis, dipantai, dan di padang bunga. Bukan bersama Kimbum. Tapi hanya dia sendiri. Joowon tidak merekam sedikit pun Kimbum. Disitu juga ada terekam kartu yang ditemukan Joowon di pantai. Kartu yang memisahkan karena kematian.

“Joowon…” ujarnya lirih.

Direkaman selanjutnya. Wajah Joowon terlihat jelas. Dia tersenyum gembira dan mulai berbicara.

“annyeong! Joowon imnida! Kamera ini diberikan oleh Kimbum. Dia sepupuku, sebagai imbalannya, aku harus merekam kegiatannya dengan yeojachingu-nya… dasar suka menabur garam dalam luka..”

“kali ini aku mengerti..” pikir Soeun.

“untuk Soeun…” ujar Joowon. Membuat Soeun kaget.

“ehem..sebenarnya aku ingin memberinya surat, tapi, aku tidak tahu surat itu kemana… jadi… oh ya.. ehmm…” kamera itu mati sekali lagi. Lalu nyala kembali setelah 4 detik.

“saranghae..” ujar Joowon dengan gaya sok cool.

“saranghae..” ujar Joowon lagi sambil memegang dahunya.

“saranghae..” ujarnya lagi sambil tersenyum.

“saranghae..” ujarnya lagi kali ini seperti anak kecil yang merengek.

“ah… neomu saranghae…” kali ini dia bertingkah genit.

“ah… tidak ada yang cocok, kau suka melihatnya Soeun… ah, tapi apa aku berani memberikan ini padanya, sejak 4 tahun yang lalu?” pikir Joowon. Membuat Soeun yang menonton tersenyum dengan air matanya yang mengering.

Kamera mati lagi, lalu nyala 7 menit kemudian. Terlihat lambaian Soeun dan Kimbum pada Joowon, lalu tabrakan Joowon. Soeun menarik napasnya, terlihat bahwa kaca kamera itu retak dan berdarah. Joowon meraih kameranya dan berkata.

“Soeun ah… saranghae…”

Dan kamera itu pun mati. Begitu juga raga Joowon. Air mata Soeun yang sempat kering kembali mengalir kali ini lebih deras dan membuatnya sedikit terisak.

“mianhae, Soeun ah… hajiman… saranghae…” kamera itu menyala kembali. Namun, Soeun tidak memperdulikannya. Dia terus menangis.

………………………………..

— THE END —

Surat Joowon yang hilang…

To :      Kim Soeun

Annyeong, apa kabarmu?

Apa wajahmu masih cantik seperti dulu?

Menuangkan perpisahan dan salam terakhir, aku menulis..

 

Aku ingin tahu apakah kau akan bertanya kepada ku mengapa sebuah surat
ketika
sms atau e-mail lebih mudah
sebenarnya, aku mengambil pena ..

hanya dalam saat ini aku tidak bisa menyampaikan isi hatiku
aku merasa seperti aku tidak dapat melakukan ini dengan cara yang lain
itu benar-benar
sulit. ketika aku mencintaimu,

tak ada yang benar dengan apa yang kuinginkan

aku pun berjanji untuk berhenti mengganggumu

meskipun aku menunggu sampai mati, kau tidak akan datang…

selamat tinggal, cintaku. Aku akan membiarkan kau pergi sekarang.
itu kenangan dan kenangan, aku akan melupakan semua
Aku akan menghapus dan menghapus dan mengosongkan setiap tetes cinta
dari hatiku

satu kali hanya satu kali lagi, jika aku bertemu lagi, senang hal itu bisa terjadi ..
ini lampiran tersisa, air mata ini, aku akan menghapus semuanya

Ada yang mengatakan, jika tubuh terpisah jauh, maka hati juga akan terpisah jauh, tapi itu tak berguna untukku, itu semua bohong

Setiap hari aku semakin lelah
maafkan aku karena telah menyebabkan masalah untukmu
setiap hari aku bertanya pada diriku, tidak bisakah kita kembali
meskipun aku menekan rasa depresi dalam hatiku dan berteriak, kau tidak dapat mendengarnya

kini, di akhir kenangan kita, setelah aku menyadari perpisahan ini
aku akan membiarkanmu pergi dari hatiku, selamat tinggal…

selamat tinggal, cintaku, aku akan membiarkanmu pergi
semua ingatan dan kenangan, akan kulupakan semua
aku akan menghapus dan menghapus dan mengosongkan setiap tetes cinta dari hatiku

kupikir aku akan melupakanmu seiring berjalannya waktu
tapi kamu tetap dapat menemukan jalanmu ke dalam hatiku, lagi dan lagi

ku tak mampu… aku tak mampu melepaskan cintaku
aku harus melupakanmu, kamu
tidak peduli seberapa kerasnya aku mencoba untuk menghapus
aku rasa, kamu adalah satu-satunya untukku
maafkan aku….

………………………………

Yup! Begitulah… sedih gak? Gak ya? Hehehe… tapi ada yang merasa bosan? Kok cerita Soeun sedih terus? Hehehe… padahal tadi bukan Soeun yang mau ku masukkan. Tapi sudahlah, FF ini sudah terlanjur selesai. Pokoknya, Komentarnya yah!

6 responses to “Goodbye My Love

  1. Bgus th0r..
    Scara kal0 bumss0 psti ku lahap,
    Tp kal0 mnurutQ jd kyk j0ow0n main castnya..
    Tp gak pa la,yg pnting bumss0 harga mati..haha

    • gomapta…^^
      hehehe, kan gak mungkin gtu ku jadikan Kimbum matehh

      Joowon : jadi loe mau gue yang mateh gtu??
      me :mian oppa, ini kan cuman ff, hehehe
      #jdarr

      thanks for coming!!! ^^

  2. ya sedih, hehe jd joowon & so eun, ^^
    ramalannya kan bwt kim bum dan so eun, tp yg pisah joowoon T_T kurang terima😄

  3. iya sedih.. kasian joowon nya. tp bumsso emang hrs bersatu. hehehe
    thor bikin ff bumsso lg dong.. tp yg happy ending😀

Komentar ditutup.