Touch of Emptiness

TOUCH OF EMPTINESS

Tittle    :          Touch of Emptiness

Author  :          Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :           One shot

Genre   :          Sad, friendship

Cast     :           Yong Junhyung (Beast), Kang Minkyung (Davichi), etc

 

Pemberitahuan sebelumnya, sebenarnya ini cerita komik. Tapi karena aku suka banget sama ceritanya makanya aku bikinin ff aja sekalian supaya reader juga tahu gimana ceritanya, singkat kata menceritakan ulang gitu *halah*.

Semoga ceritanya dapat diterima… gomawo^^

 

………………………………………..

 

Listen up,

This is my tragic story

Just the breakin of my heart…

~~~

            Brukk. Seorang lelaki mendorong lelaki dihadapannya kedinding sambil meremas kerah baju lelaki itu sekuat-kuatnya.

“kau berani? Coba lawan aku murid baru!” tantangnya. Dalam keadaan terdesak seperti itu, lelaki yang hendak dipukul ini hanya menyeringai dan membuang muka.

“cih, apa-apaan wajahmu itu. Kau mau cari mati hah?!”  lelaki yang memegang kerah baju lelaki yang satunya lagi marah dan merasa direndahkan. Kemudian dia mengepalkan jari-jari tangan kanannya yang menganggur dan bersiap-siap melayangkan tinjunya.

Dalam keadaan begitu, sinamja yang hendak dipukul ini masih tetap bersikap tenang-tenang saja. Sebelum sebuah pukulan melayang diwajahnya, dia mengulurkan tangan dan memegang kepala orang yang memegang kerah bajunya. Entah apa yang difikirkan orang ini, seharusnya dia menghindar atau membuat ancang-ancang untuk menangkis serangan, tapi dia malah memegang dahi silawan. Dalam keadaan seperti itu, lelaki yang berpostur tubuh lebih besar darinya yang sebelumnya menampakkan wajah kesal dan marah berubah seketika menjadi ekspresi yang datar. Beberapa detik kemudian kepalan tangannya jadi melemah dan wajahnya tampak bingung. Namja ini tidak jadi memukul dan malah menjauhkan diri dari lelaki dihadapannya, sedangkan lelaki yang satunya lagi telah menurunkan tangannya dari lelaki yang tadi ingin menghajarnya.

“Asagi Ao?” panggil seorang yeoja berkacamata dari kejauhan.  “anak pindahan itu ya? Ah ternyata benar. Kenapa kalian bertengkar?” tanyanya.

“Minkyung-chan? Petugas moral siswa ya, Kami sedang tidak bertengkar” sangkal namja yang dipanggil Asagi Ao seraya menjauh dari namja yang tadi hendak memukulnya. “tanyakan saja padanya, dia pasti tidak mengenalku” lanjutnya sambil menunjuk namja itu.

“benarkah, lalu apa yang kalian lakukan disini?” tanya si yeoja. Ao tersenyum.

“kami hanya berkenalan dan mengobrol”

“oh…”

. . . .

       “tunggu dulu” Minkyung menghentikan Ao yang hendak berjalan.

“apalagi?”

“kaliankan teman sekelas, tidak mungkin saling tidak mengenal”

“iya, tapi dia pasti sudah lupa, sudah tidak ada lagi kenangan tentang aku didalam dirinya. Semuanya”

Ao kembali mengulurkan tangan dan hendak menyentuh wajah Minkyung seperti yang tadi dilakukannya.

“benarkah, makanya matamu sesedih itu?”

Kata-kata Minkyung membuat namja ini tercengang dan menghentikan gerakan tangannya sebelum sampai didahi Minkyung.

~~~

JUNHYUNG POV

Annyeong, Junhyung-imnida atau yang lebih dikenal sebagai Asagi Ao. Saat masih tinggal di Seoul ibuku bertemu dangan paman Asagi, pengusaha asal Jepang dan mereka menikah. Ini sudah masuk bulan kelima sejak kami memutuskan untuk pindah ke Jepang atas dasar keinginanku.

Yah, aku yang menginginkan pindah dari kota yang penuh dengan manusia yang tak berhati itu. Mereka benar-benar jahat, tak bisa menerima keadaanku dan mengucilkanku. Ditambah lagi keluarga ayah kandungku yang terus menerus menyalahkanku.

“tidak usah berteman! Belajar dirumah saja. Kau hanya akan membuat masalah” komentar nenekku setiap kali kami bertemu. Kurasa ini bukan komentar, ini lebih mirip hinaan.

Karena itu semua, kupikir tak ada gunanya lagi aku tinggal ditempat yang tak seorangpun menginginkanku. Aku pergipun takkan ada yang menyadari bahwa aku sudah tidak ada, karena memang dari awal tak ada yang menanggapi keberadaanku.

“ini semua salah ibu, jeongmal mianhae Junhyung-ah”

Ibuku selalu mengucapkan itu saat kukatakan aku ingin pindah. Padahal tidak minta maafpun aku tidak apa-apa.

Saat ini untuk yang kesekian kalinya aku jadi murid baru lagi, jangan tanya kenapa karena aku tak tahu. Yang jelas, sekarang aku hidup sebagai Asagi Ao, seseorang yang penyendiri. Bukan lagi Lee Junhyung yang selalu dikucilkan.

Bisa dikatakan aku hidup dengan membuang semua yang menggangguku. Sangat mudah dan sederhana. Oleh karena itu benar-benar kebetulan saat aku dengan mudahnya mengatakan rahasiaku padanya. Juga kenapa waktu itu aku takut menyentuhnya…

~~~

MINKYUNG POV

Anak baru itu… apa yang dilakukannya didepan pagar? Bukankah ini sudah waktunya masuk kelas. Karena penasaran aku mengikutinya dari samping dan bersembunyi dibalik kantor satpam penjaga. Apa yang sedang dibicarakannya dengan satpam itu? Aku tidak bisa dengar dengar jelas, coba kuintip saja.

Heh? Semudah itu! Hanya dengan memegang tangan pak satpam yang terkenal sebagai penjaga killer dia sudah diperbolehkan keluar. Aku mengikutinya dari belakang. Murid baru ini berhenti didepan sebuah sungai kecil yang tak jauh dari sekolah dan duduk disana.

~~~

       “disini enak ya” ucapku.

“uwaaaahhh… Sejak kapan kau disitu, Kau mengikutiku?” tanyanya kaget. Dia baru menyadari kalau aku turut duduk disampingnya.

“apa yang kau lakukan? Kau mau bolos?!”

“kenapa? Kau juga mau bolos!”

~~~

“jadi Ao-kun juga orang Korea ya. Lalu apa di Korea kau juga dipanggil Ao?”

Kami masih duduk dipinggir sungai, akhirnya kami sma-sama bolos.

“tentu saja tidak. Bagaimana denganmu? Kau pun dari Korea kan”

“mm. Setahun yang lalu ayahku ditugaskan di Jepang jadi kami sekeluarga pindah kesini. Haha lucu sekali ya, kita malah bertemu dinegara orang. Apa margamu?”

“marga? Tentu saja Asagi”

“bukan. Maksudku marga ayah kandungmu yang di Seoul”

“Lee”

“oh. Nama Koreamu?”

“kenapa, apa itu penting?”

“tidak juga tapi aku ingin tahu”

“. . .”

“ya! Nugu?” kali ini aku pakai bahasa kami, kupikir begini bisa lebih akrab.

“molla” jawabnya dalam bahasa Korea juga.

“cih. Pabo”

“mwo? Kau bilang apa?”

“aku bilang aku ingin tahu namamu”

“aigoo, naega Ao”

“aniya, bukan nama yang itu. Aish lupakan saja”

. . . .

“Junhyung” ucap Ao setelah sempat diam beberapa saat.

“mwo? Nugu?”

“namaku Lee Junhyung”

“mwoya? Hyunjung?”

“Lee-Jun-hyung. Kau tuli?!”

“ye arasseo. Akukan hanya terbalik”

“. . .”

“Junhyung-ah, sebaiknya kita kembali” ajakku lalu berdiri dan mengibas-ngibaskan rok bagian belakangku beberapa kali.

“panggil aku Ao”

“tapi aku lebih senang memanggilmu Junhyung. Khaja”

“andwae, kau pergilah. Aku tidak ingin kembali”

“ya! Sebenarnya kau ini niat sekolah atau tidak”

“. . .”

“Lee Junhyung! Kembali atau aku yang menyeretmu”

“. . .”

“aish orang ini benar-benar…”

Tanpa pikir panjang aku menarik lengannya yang dilapisi jaket yang super duper tebal itu. Namja ini tersontak kaget dan menjauh secepat mungkin.

“apa yang kau lakukan!!” bentaknya. Bukankah reaksinya ini berlebihan.

“apa? Kau pikir apa? Tentu saja membawamu kembali kesekolah”

“. . .”

“. . .”

“tunggu apalagi, cepat kembali!”

“cih cerewet. Iya aku kembali. Kau puas?!”

~~~

AUTHOR POV

“Jun…hyung…”  teriak Minkyung. Saat itu Junhyung sedang berada di (sebut saja) halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau setinggi mata kaki dan didepannya terdapat sungai kecil. Dikiri dan kanan tempat itu, beberapa meter yang tanahnya lebih tinggi lagi adalah jalan tol. Saat dipanggil Minkyung, Junhyung sedang asik bermain dengan anjing yang ditemukannya ditempat itu. Namja ini menoleh.

“Minkyung?” Junhyung menutup kepalanya dengan topi dijaketnya. Sudah menjadi kebiasaan Junhyung mengenakan jaket, tudung kepala dan sarung tangan saat berada diluar rumah. Kemana-mana selalu menutupi seluruh tubuh kecuali bagian wajah, bahkan saat mengenakan seragam sekolah.

“dasar, lagi-lagi kau bolos” ucap Minkyung dan berjalan mendekati Juhyung. “waah anjingnya lucu. Tapi kenapa bersembunyi begitu?” tanyanya kemidian yang heran melihat anjing yang bersama Junhyung bersembunyi dibalik tubuh Junhyung.

“dia tidak suka dekat-dekat dengan orang, sama sepertiku” jawab Junhyung sambil mengancing jaketnya.  “namanya  Shiro. Saat kuberi makan dia jadi manja padaku. Shiro kemarilah” Junhyung mengusap-usap kepala Shiro. Anjing itu manja padanya.

“oh begitu… ngomong-ngomong kau lupa ya kalau kau punya penyakit Trauma Cahaya Matahari?!”

“ah? O… oh iya ya”

“kau ini! Bisa repot kalau sampai ketahuan petugas moral siswa lain kan. Disekolah sebelumnya kau malah pakai kekerasan pada orang yang cerewet padamu, masalahnya jadi besar lalu akhirnya kau pindah” omel Minkyung. Junhyung hanya tersenyum lalu kembali mengusap-usap kepala anjingnya.

“aigoo, susahnya ngomong padamu. Aku bisa gila” ucap Minkyung sambil memegang kepalanya.

~~~

JUNHYUNG POV

“jika kulit tersentuh orang lain maka ingatan tentangmu akan hilang” ulang Minkyung pada penjelasanku, saat ini kami masih berada dipinggir sungai. Yah itu memang benar. Gejala ini muncul dari darah ibuku, tubuh yang benar-benar nggak lucu.

“nde. Tapi praktis loh” tambahku. “kakek buyutku saja menggunakan kondisi tubuh ini dan jadi detektif hebat”

“detektif? Benarkah?” ucap Minkyung, yeoja ini tampak tak percaya.

“sulit dipercaya ya. Hahaha” melihat ekspresinya itu aku hanya bisa tertawa. “tapi sayangnya… semua itu benar” ucapku lagi sambil berusaha tersenyum. Rasanya ini menyakitkan.

Hidup menjadi anak yang selalu menutupi seluruh tubuh dan tertutup pada orang lain sangat tidak mudah. Tak bisa berbaur dengan orang lain dan akan selalu menjauhkan diri dari keramaian. Tap inilah kenyataannya, aku terlahir sebagai seorang anak diluar dari kenormalan. Dan inilah yang membuatku berbeda dengan orang pada umumnya. Makhluk hidup apapun jika bersentuhan denganku akan segera melupakan semua tentangku, semua tanpa tersisa. Kenangan tentangku akan langsung menghilang saat terjadi kontak fisik denganku.

“iya aku tahu. Aku sudah melihatnya sendiri” ucap Minkyung sambil menulis sesuatu dibuku saku berukuran sedang yang selalu dibawanya.

“itu catatan petugas ya? Lagi-lagi menulis sesuatu” komentarku saat Minkyung menulis.

“yah begitulah. -Cara Menundukkan Lee Junhyung-” ucap Minkyung menyebutkan judul disampul buku itu sambil memperlihatkannya.

“heh yang benar saja, repot juga ya jadi kalian” jawabku.

Ini hanya perasaanku saja atau memang benar ya? Sepertinya Minkyung perhatian padaku.  “kenapa tidak biarkan aku saja”, komentarku kemudian. Satu lagi kebiasaan yang selalu kulakukan, yaitu selalu menunduk.

“ah lagi-lagi menatap kebawah”

~~~

MINKYUNG POV

“ah lagi-lagi menatap kebawah, perbaiki kebiasaanmu itu. Lihatlah langit, cerah sekali loh” titahku padanya sambil menunjuk kelangit. “langit tanpa awan, tapi nggak gitu juga sih”. Junhyung memandang langit tanpa minat.

“tapi awannya… sepertinya akan menghilang” ucapnya. Aku mamandang Junhyung sekilas.

“waeyo?”

“aku tidak begitu suka sama langit yang kosong. Kosong sama sekali” gumamnya sambil terus memandang langit.

Junhyung saja yang tidak peka, langit tanpa awanpun sebenarnya terisi. Saat langit cerah dipenuhi oleh awan kita dapat membayangkan sesuatu dipikiran kita menjadi bentuk apapun. Dan saat langit cerah itu kosong tanpa awan setitikpun kita dapat membayangkan apa yang diinginkan oleh hati kita dilangit yang kosong itu. Karena langit yang kosong diperuntukkan untuk keinginan hati. Kau tahu apa yang sedang kubayangkan dilangit itu Lee Junhyung?

~~~

AUTHOR POV

Malam harinya Junhyung baru pulang dan baru saja memasuki rumah. Dia melepas jaket, sarung tangan, dan kaus kaki yang seharian tadi dikenakannya. Ketika melepas kedua sarung tangan, Junhyung memandang sarung tangan itu beserta tangannya sendiri.

       “Junhyung, pakai sarung tanganmu”

Kata-kata itu selalu teringat saat namja ini melihat tangannya yang tak memakai pelindung apapun.

 

*FLASHBACK ON*

“Junhyung, pakai sarung tanganmu” ucap ayah Junhyung pada Junhyung kecil  yang sedang asik berlarian.

“tidak ah, panas”

“ya, lihat jalanmu baik-baik”

Junhyung kecil tak menghiraukan ayahnya dan malah sibuk berlarian.

“appa lihat” tunjuknya. “langitnya biru sekali” bocah ini berjalan mundur.

“Junhyung-ah perhatikan jalanmu” tegus si ayah. Junhyung malah tersenyum dan tak menggubris kata-kata ayahnya.

ZRUK!

Junhyung terpeleset ditangga

“Aa…” teriaknya.

Si ayah dengan refleks berlari dan menangkap tangan anaknya agar tak terjerungkup jauh kebawah. Hup. Junhyung kecil berhasil diraih.

“a…appa mianhae” ucap Junhyung takut.

“appa? Kau siapa?”

. . . .

 

“sudah kubilang tentang kondisi tubuh  Junhyung kan?”  ucap ibu Junhyung pada suatu hari dirumah mereka.

“. . .”

“walaupun tidak bisa mengingat setidaknya bersikap seperti biasalah padanya”

“sudah. Aku tahu itu dan aku sudah mencobanya. Tapi rasa sayang itu tidak bisa muncul.” Ucap ayah Junhyung putus asa “aku tidak merasa dia itu putraku, bahkan namanya saja aku lupa”

Junhyung yang memperhatikan perdebatan orang tuanya dari kejauhan hanya bisa melihat itu dan diam.

*FLASHBACK OF*

 

Junhyung masih menatap sarung tangannya. Lagi-lagi aku melamun, pikirnya. Namja ini mengusap kedua matanya yang merah.

“Junhyung-ah, nenek datang berkunjung” panggil ibu Junhyung.

“nde. Ah ani. Bilang saja aku sedang tidak ada” tolak Junhyung, kemudian dia mengenakan jaket dan menutup kepalanya kembali. “bertemupun hanya mengatakan hal buruk saja. ‘masih pergi kesekolah? Yah itu memang harus. Tapi jangan sampai mengotori nama keluarga ya’” gumam Junhyung mengulang kata-kata yang pernah neneknya ucapkan. “memangnya kenapa? Itu bukan urusan mereka kan?” simpul Junhyung seraya berdiri.

“Junhyung-ah, mianhaeyo” omma Junhyung merasa bersalah.

“gwencana omma, tidak perlu merasa bersalah begitu. Hidupku akan baik-baik saja”

Junhyung keluar lewat jendela dan pergi meninggalkan rumah.

~~~

#Tomorrow in school

TENG… TENG… TENG…

Bel sekolah berbunyi. Junhyung yang sedang tidur diruang UKS membuka mata dengan malas. Seperginya dari rumah, namja ini semalaman menginap diruang UKS

“Minkyung?” Junhyung masih berbaring saat dia melihat Minkyung menulis dimeja. ‘Lagi-lagi menulis sesuatu’, batin Junhyung.

“kenapa ada disini? Kau kan bukan petugas UKS” tanya Junhyung.

“mm? Itu…” Minkyung menutup bukunya. “tadinya aku ingin memanggilmu supaya kau tidak bolos lagi, tapi tidak jadi karena kulihat kau tertidur sangat pulas” jelas Minkyung.

“benarkah?” Junhyung menelentangkan tubuhnya. “Minkyung-ah” panggilnya kemudian.

“mm?”

“kenapa kau setenang itu berada didekatku, kau tidak takut?”

“ani, kau kan bukan monster”

“tapi sewaktu-waktu aku bisa saja jahat padamu”

“benarkah? Kalau begitu aku akan menjauh saat kau jadi jahat” jawab Minkyung santai. Yeoja ini tersenyum sampai memperlihatkan kedua lesung pipihnya disudut bibir.

~~~

       “taraa…” Minkyung memperlihatkan gunting dan sarung tangan yang dipegangnya pada Junhyung yang masih terbaring.

Setelah sarung tangan dikenakan, Minkyung menggunting rambut Junhyung yang panjang dan berantakan.

“sebenarnya ini tidak perlu, biarkan saja Minkyung-ah aku tidak akan ikut pemeriksaan seragam”

“kau ini, nanti matamu bisa minus”

Junhyung melepas kacamata yang dipakai Minkyung dan dikenakannya. “waa buram”

“tentu saja buram, kalau aku kan memang sudah keturunan”

“turunan? Kalau begitu aku aman. Mata ayahku baik-baik saja”

‘Benar juga, orang tuanya bercerai ya’ batin Mikyung. “Junhyung-ah, ibumu bisa menyentuhmu kan” tanyanya kemudian

“ng? Tentu saja, kan darahnya dari ibu” Junhyung mengembalikan kacamata Minkyung.

“oh begitu ya, sepertinya menyenangkan” ucap Minkyung, saat itu angin lumayan bertiup kencang dan membuat gadis ini tampak cantik tanpa kacamata “hahaha aku bercanda. Ini nggak ada maksud apa-apa lho”

Grep! Plekk… saat akan memakai kacamata tiba-tiba Junhyung memegang tangan Minkyung hingga kacamatanya jatuh. Sambil memegang wajah Minkyung,  Junhyung mendekatkan wajahnya hingga mata keduanya bertemu.

“Junhyung?”

“. . .”

Kini jarak keduanya hanya tinggal beberapa sentimeter saja.

. . . .

TENG! TENG…

Keduanya terdiam sambil Junhyung menjauhkan wajahnya.

“wah sudah bel. Rambutmu masih belum selesai, mianhae nanti kubetulkan lagi ya. Untuk sementara jepit pakai ini dulu” Minkyung melepas jepit rambut yang dikenakannya dan memakaikan jepit rambut itu pada Junhyung dengan posisi menyilang. “aku kaget, kupikir kau ingin menciumku. Habis tadi tidak terlihat dengan jelas” sambungnya.

“hahaha mana mungkin” sangkal Junhyung  “kalau dicium berarti akan melupakan aku kan” sebuah raut kekecewaan tampak diwajahnya.

“aku tahu. Sudah ya aku buru-buru” Minkyung berjalan keluar “jangan bolos lagi ya” pesannya lalu menghilang dibalik pintu.

“ndeee”

. . . .

       “kupikir kau ingin menciumku”

Kata-kata itu masih terngiang dibenak Junhyung, sekarang dia hanya seorang diri. ‘Seandainya aku bisa Minkyung-ah’, batinnya.

“. . .”

~~~

       “uwaa, makanmu banyak” komentar Junhyung saat memberi makan anjing temuannya. “kau lapar? Kau tidak ada kerjaan lain selain makan ya”

“. . .”

“dibenci orang itu merepotkan ya? Kita sama”

Brukk! Anjing itu menaiki Junhyung.

“ya! U… uwaa Shiro payah”.

Slurp… anjing itu menjilat wajah Junhyung. Ditengah keasyikan mereka, tiba-tiba anjing itu berhenti menjilat.

Grrr! Gukk…

Shiro yang tadinya seekor anjing yang manja pada Junhyung jadi tak kenal siapa orang yang baru saja dijilatinya dan berlari seperti anjing ketakutan pada umumnya.

Hari memang sudah mendung dan sekarang hujan turun dengan lebat. Junhyung masih terduduk diam menatap kepergian anjingnya yang bahkan sudah tak terlihat lagi.

“Junhyung-ah…” panggil seseorang dari belakang dan memayungi Junhyung. “nanti basah” ucapnya yang ternyata itu Minkyung. “payah! Cuaca sekarang sedang tidak bagus”

“haha masa?” Junhyung berdiri seraya memakai topi jaket. “jangan suka menyalahkan hujan”.

“kau tidak bawa payungkan? Ikutlah” ajak Minkyung sambil mendekatkan payungnya saat Junhyung hendak pergi. “hujan sedang lebat, nanti kau bisa ba…”

“ani, gomawo” tolak Junhyung sambil menjauhkan payung itu darinya. Namja ini berjalan menjauh. “aku suka hujan jadi tidak masalah. Annyeong” ucapnya lagi sambil menoleh sesaat dengan memperlihatkan senyumnya yang samar lalu terus melangkah.

Jika tak mengharap, maka takkan ada rasa kehilangan, batin Junhyung. Lagi-lagi dia jalan sambil menunduk.

“tunggu aku. Ya! Chakkaman… junhyung-ah”

“pergilah, jangan ikuti aku. Jalannya licin dan sungai sedang menguap”

Minkyung masih terus mengikuti Junhyung. Disebalah kanan jalan tol yang sedang mereka lalui terdapat sungai berukuran sedang yang menjorot beberapa meter kebawah , airnya mengalir deras.

“mau kemana?”

“kemana saja! Seandainya bisa pergi ketempat dimana seorang pun tidak mengenalku”

“apakah… terjadi sesuatu?” Minkyung menghentikan langkahnya.

“ani” Junhyung turut berhenti. “tidak ada apa-apa lagi. Minkyung-ah mulai sekarang…” Junhyung menurunkan topi jaketnya dan melepas salah satu sarung tangan yang dikenakan. Rambutnya setengah basah dan jepit rambut yang dikenakan Minkyung padanya saat di UKS masih menyilang rapi dirambutnya.

“jangan dekati aku lagi!” sambung Junhyung sambil mengacungkan tangannya yang tak mengenakan sarung tangan tepat didepan wajah Minkyung.

“kau mengancamku? Cara mengancammu itu tidak mempan buatku!” tegas Minkyung. “matamu sama seperti waktu itu, aku tidak bisa membiarkannya” Minkyung memegang pergelangan tangan Junhyung sambil menjauhkannya.

“Junhyung-ah…” Minkyung maju selangkah.

“ja… jangan mendekat lagi” Junhyung mengangkat kedua tangannya keatas agar tak tersentuh oleh Minkyung. Tak sengaja namja ini mendorong Minkyung hingga Minkyung terdorong kesudut jalan. Alhasil, Minkyung terpeleset dan jatuh kebawah. Tapi keberuntunga masih memihak, dia sempat memegang sesuatu dengan sebelah tangannya untuk bertahan.

“payah! Bertahanlah biar kuangkat”.

“ANDWAE!”

Junhyung sempat menjulurkan tangannya yang tak mengenakan sarung tangan untuk menolong, namun tercengang mendengar itu dan menarik kembali tangan tersebut.

“Junhyung-ah mianhae, aku pasti sudah membuatmu risih. Tapi aku… bagaimana pun juga aku tidak ingin kehilangan dirimu” setelah mengucapkan itu, Minkyung melepas pegangannya dan yeoja ini melesat sukses kesungai.

“MINKYUNG!!!”

~~~

JUNHYUNG POV

Bodoh! Kenapa kau lakukan ini.

. . . .

       “hh… hsshh… Minkyung-ah” setelah terjun kesungai untuk menyelamatkan Minkyung, aku membaringkannya ditepi sungai.

“Minkyung-ah buka matamu” kucoba terus memanggil namanya dan mengguncang tubuhnya, Minkyung pingsan dan aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Saat memeriksa pernafasan dan denyut nadinya, dia malah tidak terasa bernafas. Ini membuatku semakin khawatir. Aku tahu apa yang harus kulakukan tapi aku tidak yakin.

“Minkyung, aku… kondisiku yang seperti ini…”

Aku ingin mengatakan sesuatu padanya walaupun dia tidak dengar. Cukup hanya aku yang mengatakan ini.

“yang kutahu hanya hubungan yang selamanya tidak terus berlangsung. Tapi hari itu…”

“makanya matamu sesedih itu?”

Aku merasa ada sesuatu yang berdetak didalam tubuhku.

“rasanya diriku yang sebenarnya telah kau temukan… aku senang.”

“kalau dicium berarti akan melupakan aku kan?”

Jika ada sebuah nama dibalik rasa sakit ini…

Payah! Kanapa airmataku tiba-tiba keluar. Padahal saat ini aku sedang tersenyum.

“na… naneo joahe. Minkyung-ah naneo joahe”

Sudah kukatakan. Aku lega akhirnya maksudku tersampaikan. Sekarang aku tidak akan ragu-ragu lagi, aku siap kehilangan dirimu dan hal terburuk yang akan terjadi nantinya. Mungkin jodoh diantara kita memang tidak ada, pada akhirnya aku akan tetap dilupakan dari ingatan semua orang.

. . . .

       “ukh… uhuk uhuk…” Minkyung tersadar setelah akhirnya kuberi nafas buatan, hanya ini pertolongan yang dapat kulakukan. Dia duduk sambil menutup mulutnya yang terbatuk-batuk.

“a aku, sebenarnya aku…” ucap Minkyung terputus-putus. Mungkinkah dia masih mengenalku?.

Minkyung menoleh padaku.

“kau yang menolongku?” tanyanya. Kali ini dia menggunakan bahasa Jepang. Aku salah, tentu saja aku salah. Tidak mungkin Minkyung masih mengenaliku.

“kau siapa?” tanyanya lagi.

“hanya kebetulan lewat saja” jawabku sambil tersenyum.

Terima kasih kau telah selamat Minkyung. Begini juga tidak apa-apa, hanya melihatmu saja aku sudah bahagia. Biarlah hanya hujan yang tahu segalanya.

~~~

       “hh… dinginnya” setelah puas berenang disungai yang biasa kukunjungi (juga tempat dimana Minkyung terjatuh kemarin), aku menepi dan mengeringkan bajuku. Memang bukan musim yang bagus untuk berenang.  Setelah itu, aku memakai kembali jaket yang tadi kuletakkan direrumputan.

“ng? Bukankah ini milik Minkyung? Catatan petugas itu ya, dia selalu membawa ini” aku mengambil buku itu disekitar tempatku membaringkannya kemarin, sebuah buku berukuran sedang dan tidak terlalu tebal.

“Cara Menundukkan Lee Junhyung” ingatku pada kata-katanya waktu itu. Kubolak balik buku itu dan melihat-lihat isinya.

       “mungkin terjatuh kemarin, ada bekas sobekannya juga”

Karena penasaran, membaca isi tulisannya.

 

Jika aku sampai melupakan Junhyung, saat itu aku akan membaca tulisan ini. Aku percaya setelah membacanya, dan aku akan bisa berhadapan lagi dengannya.

 

Tanggal 11 Maret

Saat mencari anak pindahan yang bermasalah itu, aku menemukannya ditempat perkelahian. Akhirnya aku tahu penyebab keanehannya…

Matanya terlihat begitu sedih, rasanya aku ingin melindunginya.

 

Tanggal 21 Juli

Junhyung bolos pelajaran sekolah dan pergi berenang kesungai. Aku sangat khawatir…

 

Tanggal 16 September

Ternyata alasan dia bolos dan suka pergi kesungai karena dia sudah punya kawan baru, seekor anjing yang tidak suka berdekatan dengan manusia. Sama seperti Junhyung. Semoga dia bisa memiliki teman sesama manusia juga…

 

ini… yang tertulis disini hanya catatan kegiatan harianku dan juga pesan untuk dirinya sendiri. Kubuka lagi lembaran lain dan membacanya.

 

Aku begitu tidak bisa membiarkan Junhyung yang menundukkan kepala dan selalu memakai tudung kepalanya. Mungkin itu karena… aku jatuh cinta pada Junhyung…

 

Apa ini? Apa artinya ini semua?  Dari awal membaca catatan ini sudah membuatku tercengang, ditambah lagi membaca kalimat akhirnya. Aku benar-benar tidak tahu harus menampakkan ekspresi seperti apa, ini terlalu mendadak. Maksudku bukan karena aku tidak mencintainya, tapi…

“ah benar, ternyata memang orang yang kemarin” ucap Minkyung yang datang dari belakang dan membuyarkan lamunanku.

“iya, bagaimana kondisimu?

“sehat. Mm kenapa aku bisa jatuh kesungai ya?”

“pas sekali. Aku memungut kacamatamu” jawabku mengalihkan pembicaraan dan mengembalikan kacamatanya.

“gomawoyo, aku kerepotan karena ini” ujra Minkyung seraya memakai kacamatanya. Yeoja ini terlihat sedikit heran, mungkin dia bertanya-tanya drimana aku tahu kacamata itu miliknya.

“wah, jepitanmu sama dengan milikku” ucap Minkyung sambil menunjuk jepitan yang menyilang dikepalaku.

“o, ini barang pinjaman” aku mengancing  jaketku dan (lagi-lagi) menutup kepalaku dengan tudungnya. Saat duduk aku mengambil beberapa lembar sobekan catatan Minkyung yang tergeletak tidak jauh dari tempatku menemukan bukunya.

 

Wajah seperti apapun, aku ingin tetap melihat wajah Junhyung.

 

“orang itu…” lanjutku

 

Aku memotong rambutnya, agar wajahnya bisa menengadah dengan jauh saat melihat langit…

 

“selalu memperhatikanku, dia juga memotong rambutku meski berhenti ditengah jalan. Jahat ya” Aku kembali menunduk.

“begitukah?” Minkyung turut duduk disampingku dengan arah sebaliknya.

“hei, tapi selalu menunduk kebawah itu kebiasaanmu ya?. Maaf  kalau aku lancang, lebih bagus kalau wajahmu diangkat” nasehat Minkyung “ah lihatlah, langit tanpa awan” lanjutnya kemudian sambil menunjuk kelangit.

 

Junhyung bilang, langit tanpa awan itu kosong sekali. Tapi bagiku tidak! Seharusnya waktu itu aku bilang saja bahwa langit…

 

“maaf, aku kurang suka dengan langit yang kosong”

“kosong? Lho dilangitkan…”

 

Penuh dengan “AO”!  *nama Jepang Junhyung (Asagi Ao)*

 

“ada warna biru”  *biru = Ao,  dalam bahasa Jepang* ucap Minkyung dengan masih menunjuk langit dan tersenyum sampai memperlihatkan lesung pipihnya. “iya kan?!”

Pelan-pelan kualihkan pandanganku keatas dan memandang langit. Padahal aku sudah menengadah dan berusaha untuk menahan semua rasa sakit ini, tapi airmataku malah keluar dan menetas dikertas

“iya, ya. Mungkin juga” jawabku sambil berusaha menormalkan suara.

Sesakit apapun aku tidak pernah merasa hingga seperti ini. Inikah puncak kesedihanku? Inikah batas kesabaranku?.

“anu… mau tidak kau mengingat namaku?”

“eh?”

Aniya! Aku pasti bisa! Aku yakin suatu saat aku akan mampu melewati rasa sakit ini.

 

THE END

……………………………………..

 

T^T #Author cengeng…

Cerita ini diambil dari komik buatan Yuki Fujitsuka asal Jepang dengan sedikit cerita tambahan dan pengubahan lalu dengan judul yang sama *Touch of Emptiness*…

3 responses to “Touch of Emptiness

Komentar ditutup.