Love is Ayam

Love is Ayam

Title     :           Love is Ayam

Author :           Yesunggyu – Amalia Laili

Length :           One Shot

Genre   :           Comedy, Romantic, friendship

Cast     :           Lee Jinki (Onew), Park Sooyoung (Lizzy), Nana,

………………………………………..

Hari ini tidak panas, tidak seperti hari biasanya. Aku segera memakai kostum kerjaku. Tidak seperti orang lain. Kostum kerjaku ini sangat unik dan panas. Yah, nanti kau juga tahu.

“Lizzy ya! Ppali… restoran akan segera dibuka!” teriak seorang temanku.

“nde… agesimnida…” aku cepat-cepat mengenakan kepala ayamku. Oops.. ketahuan yah? Ehm.. benar, aku adalah seseorang yang menyamar menjadi ayam. Bukan karena aku mau di makan. Tapi, ini lah pekerjaanku. Bukan, bukan detektif ayam. Tapi aku ini symbol ayam dari restoran tempat aku berkerja. Restoran “Ayam adalah Ayam” *?*.

Aku segera berjalan keluar. Hari ini rasanya akan menyenangkan, karena tidak panas tadi. Aku lalu mengambil brosur dan membagi-bagikan pada orang yang lewat serta mempersilahkan pelanggan kami. Aku sangat menyukai pekerjaan ini. Setidaknya aku tidak banyak bicara. Tidak perlu berdandan. Pokoknya, hanya pake baju ayam ini.

“….”

“Hyung ah… tidak bisakah sehari saja kau tidak makan ayam? Aku bosan..” ujar seorang namja pada temannya.

“ya! Kalau tidak makan ayam. Itu tidak makan namanya…” jawab si teman.

“biarkan saja dia… tapi, kau yang traktirkan?” ujar seorang namja lagi.

“mwo? Kibum ah… kau suka sekali yang gratisan? Yah, menurutku sih tidak masalah… lagi pula, ini restoran ibuku..” ibu? Ini restoran ibunya? Aku langsung melihat si pembicara.

“keure… kalau begitu ayo kita masukk…” ujar seorang namja lagi. Ehmm… 5 orang namja. Seorang yang mengaku anak bos ku ini, kok aku belum pernah melihatnya kesini?

“ah.. hyung… aku tidak mau…” ujar seorang yang seperti anak kecil.

“kalau tidak mau. Tidak usah ikut…”

“ah… aku ikut!” mereka berlima makin mendekat. Ah, sudahlah..

“….” Si anak bos ku terdiam melihatku. Aku kaget. Matanya berbinar-binar melihatku. Apa sih orang ini?

“AYAMMMM!!! KAU BESAR SEKALI!!!!” teriaknya berlari lalu memelukku. Omo! Apa-apaan orang ini. Untung saja kostum ayam ini sangat besar, jadi aku tidak merasakan pelukannya. Tapi, badannya terasa berat. Aku hampir oleng, kalau saja tidak dibantu salah seorang temannya yang tinggi.

“hyung ahh…kau membuatku malu…”

“hyung… aku pura-pura tidak mengenalmu ya!”

“ayo masukk..” salah seorang temannya menarik tangannya dan membawanya masuk, sementara dia terus memelukku.

“chakaman… ayam… kau mau tidak kumakan?” tanya anak bos ku.

“MWOYA?” ujarku meski tahu dia hanya mendengar samar-samar.

“kau mau?”

“…” aku menggeleng-gelengkan kepala sebisaku.

“apa? Kau bilang apa, ayam?” anak si bos mendekatkan kepalanya ke kepala ayamku. Mana aku tahu!

“sudah… Minho! Taemin! Angkat orang ini masuk…”

“nde…”

“…” mereka pun menarik anak si bos sekuat tenaga. Aku juga berusaha mempertahankan diriku. Karena rasanya aku mau mati saja, di goncang-goncang.

“…”

Omo… akhirnya mereka masuk juga. Aku segera duduk di kursi disampingku. Haduh…

“gwenchana?” tanya temanku padaku.

“nde…” ujarku sambil melambaikan tangan pelan padanya.

“kuanggap itu baik-baik saja…”

“hmm…”

………………………..

Esoknya, saat aku melayani pelanggan, aku mendengar bisik-bisik tetangga. Mereka membahas Boyband yang akan Comeback sebentar lagi. Aku sih tidak perduli. Karena dihatiku hanya Rain oppa.

“ah… pasti konsep SHINee kali ini bakalan daebak!”

“nde… aku tidak sabar membeli albumnya…”

“eh, katanya Taemin oppa bakalan tampil manly loh?” Taemin? Seperti pernah kudengar namanya dipanggil? Apa namanya pasaran?

“masa’? kalau Minho oppa kayak mana yah?” Minho?

“ishh.. pasti semuanya cakep… apalagi Key ku… Kim Kibum…!!!” Kibum? Itu…

“cakep lagi Jonghyun oppa… apa lagi suaranya?” Jonghyun? Aku tidak tahu yang ini.

“Onew oppa lahh…” Onew? Nama apa itu? dia orang mana?

“YA! pelayan! Kenapa menatap kami seperti itu?” seorang dari mereka menegurku.

“mianhae…” ujarku sambil menundukkan badan lalu pergi keluar. Yah, aku tahu ini aneh. Aku membuka pintu dan menarik napas. Merengganggkan badan.

“AIGOOO! AYAM! KAU OLAHRAGA? AKU IKUT!” omo! Itu si anak bos! Apa yang dia lakukan? Dia datang lagi? Dia langsung berlari dan berdiri di sampingku. Aku langsung mengambil jarak.

“ya! Hyung. Kau membuat malu. Ayo cepat masuk! Seharusnya kita tidak kesini!” ujar salah satu temannya.

“ishh.. aku ingin bertemu ibuku. Dia sakit, jadi aku mau membantu dia berjualan…” jawab si anak bos “ iya kan, ayam? Ibuku sakit!” tanyanya padaku, aku menganggukkan kepala.

“nah, si ayam aja bilang ya… eh, siapa namamu, ayam?” tanya orang itu lagi.

“Lizzy…” jawabku. Pasti terdengar seperti “mmm..mmm”

“mworago? Aku tidak dengar! Yang nyaring dong!” si anak bos mengetuk kepala ayamku. Membuatku pusing.

“omo! Kau mau jatuh… gwenchana?” tanyanya lagi. “oh, ini… Lizzy yah? Namamu Lizzy?” sepertinya dia menemukan kartu pengenalku di meja.

“mm…” aku mengangguk.

“ohh… aku, Onew. Ini Minho, Key, Taemin dan Jonghyun…” dia memperkenalkan teman-temannya.

“mm…” aku menunduk hormat.

“kasihan sekali kau ini ya? Apa ibuku menawanmu hingga kau seperti ini? Mau kubantu?”

“mmm…” aku menggeleng sambil memegang erat brosurku.

“ah… gwenchana… ini!” dia mengambil brosurku dan membagi-bagikannya pada teman-temannya.

“kalau kami yang bagikan, pasti banyak yang datang!”

……………………………..

Dan benar saja, kemarin, restoran kami penuh ditempati orang. Aku baru menyadari bahwa mereka SHINee. Tapi ah.. mau mereka SHINee kek, SJ kek, Bigbang kek, atau siapa begitu. Aku juga tidak peduli, karena aku hanya suka Rain oppa.

“kau beruntung sekali, sering bertemu SHINee…” ujar Nana, temanku.

“apanya yang beruntung. Kau tahu? Anak si bos itu…”

“Onew Oppa?”

“ah, ya. Begitulah namanya… dia itu, membuatku gila.. apa dia begitu menyukai ayam?”

“nde… dia sangat suka ayam…”

“huft… aku bisa gila. Bisa tidak kau menggantikanku sebagai ayam hari ini? Aku capek.”

“aku sebenarnya mau!”

“tapi?” tanyaku.

“tapi, aku tidak mau kepanasan… make up ku jadi tidak ada gunanya…. Aku tidak mau dehh…” Nana langsung kabur meninggalkanku diruang ganti. Huft…

……………………….

Sudah 2 jam aku di luar. Lumayan panas juga. Tapi, berita bagusnya. Anak si bos itu tidak datang! Mungkin sibuk promosi kali ya? Baguslah… semoga dia sukses dan sibuk. Sehingga melupakan ada ayam besar di restorannya. Aku duduk dikursi yang besar. Susah juga duduk dengan kostum sebesar ini.

“AYAAAAAMMMMM….!!!”

Aigoo.. aku mengenal suara ini, kuharap itu bukan dia. Tuhan, bukan dia kan? Aku menoleh kesebelah kanan. Karena aku mendengar suara itu dari sebelah kiri, makanya aku menghadap kesebaliknya.

“Ayam! Aku sangat merindukanmu!” tiba-tiba aku merasa dipeluk dari belakang. Dia tau tidak, aku ini kepanasan.

“ikut aku!” dia lalu menarik tanganku.

“mmm…mmm…” ujarku, maksudnya “lepaskan aku… pekerjaan ku belum selesai!”

“ayolah… ikut aku..” rengeknya. “ya! Kau! Iya kau…” ujarnya pada Nana yang keluar dari restoran.

“ada apa?” tanyanya menghampiri kami.

“bisa tidak kau menggantikan dia? Aku ada urusan sebentar…” ujar Onew.

“bisa sih… tapi itu…”

“bagus… kau dengar kan, ayam? Ayo…” Onew memotong kata-kata Nana, lalu menarik paksa aku masuk ke Restoran.

 

Dan kau tahu apa yang dia lakukan. Dia menyuruh aku menemaninya makan. Katanya, teman-temannya tidak mau makan ayam lagi. Jadi dia pergi sendiri. Dasar nekat! Dia kan artis! Mau dikerumuni fans dan antifans ya?

“ayam… kau sedih tidak, aku memakan teman-temanmu?” tanyanya padaku, aku menggeleng-gelengkan kepala.

“tidak ya? Kenapa?” tanyanya. Dasar bodoh! Aku kan bukan ayam! Ngapain aku sedih coba?

…………………..

Dan seterusnya, dan seterusnya. Dia datang. Huahh… dia juga tidak mau aku digantikan dengan orang lain. Aku jengkel! Yang lain malah iri denganku. Iri kenapa? Mereka sih tidak mengerti perasaanku. Hari ini panas sekali. Aku harap dia tidak datang. Kalau tidak bisa mati aku.

“Aaaayaaammm…” suara ini. Kenapa tidak bisa enyah-enyah sih?

“Ayaammm… ada berita lohh…” ujarnya heboh padaku.

“aku melihat ada flu burung! Aku sangat takut kau terkena flu burung! Kau harus minum ini!” ujarnya sambil memberikanku berbagai obat-obatan didalam kotak. Orang ini beneran menganggap aku ayam ya? Aku langsung mengambil obat-obatan itu, dan menunduk hormat.

“tidak usah sungkan, ayam! Aku senang membantumu! Semoga kau selalu sehat!” ujarnya terharu. Yah, tak apa sih. Dia kan mendoakan kesehatanku.

“hari ini sangat panas, yah ayam… kau tidak kepanasan?” tanyanya sambil mengipasi diri dengan tangan.

“mmm..mmm…” aku menggelengkan kepala. Padahal dalam hati, hari ini puanas banget.

“huh.. ayam.. kau bukan ayam kan?” ujarnya padaku. Aku kaget. Maksudku, aku kaget dengan orang ini. Masa dia baru nyadar?

“mmm..mmm” aku menganggukkan kepala.

“berarti kau manusia dalam kostum ayam?” tanyanya padaku lagi.

“mm..mmm…”

“oooh… kau perempuan atau laki-laki?” tanyanya. Membuatku kaget lagi.

“mm..mmm..” maksudku, perempuan.

“mwo? aku tidak dengar…”

“mmm…mmm”

“ayam ah.. aku tidak dengar…” dia mulai menggoyang-goyangkan kepalaku. Haduh… tau tidak, hari ini panas.

“mmm..mmm!” aku mulai emosi. Mungkin dia melihat seperti ayam mengamuk.

“ayam jangan marah.. aku hanya ingin tau saja… oh ya!” ujarnya tiba-tiba.

“mmm?”

“namamu Lizzy kan? Berarti kau perempuan!” dia berteriak. Aku mengangguk.

“ohh…kau baik-baik saja?” tanyanya.

“mm…”

“….” tiba-tiba dia diam.

“mianhae…” dia langsung berbalik dan pergi. Apa sih maksud orang ini?

…………………….

Sudah sekitar 1 minggu dia tidak datang. Lama juga, tapi baguslah.. hari-hariku kembali seperti biasa. Aku sangat senang. Tapi juga sepi. Kenapa ya? Mungkin karena dialah… hariku jadi ribut dan rame. Huftt.. kenapa kali ini aku yang merindukannya?

“Lizzy ya! Tolong antarkan ini!” Nana berteriak padaku sambil memberikanku paket makanan.

“nde… kemana?” tanyaku. Aku tidak memakan kostum ayam saat ini.

“disini…” Nana memberikan secarik kertas berisi alamat.

“ohh.. ndee.. “ ujarku “tidak terlalu jauh yahh…”

“eh.. kau harus pake ini!” ujarnya sambil memberikanku baju ayam.

“kau mau aku mati?” tanyaku.

“ya! Ini kan berbeda! Tidak panas.”ujarnya padaku.

“huft… baiklah…”

 

Aku sampai di sebuah apartemen yang keren. Aku naik sampai kelantai 20. Panas. Di kamar 234, aku memencet bel. Sambil menunggu adanya jawaban, aku melihat kesekeliling. Ada banyak benda. Salah satunya poster. Itu menarik perhatianku. Karena poster itu, ada foto Onew. Aku mendekati poster itu. tanpa sadar aku menyentuhnya. Entah kenapa aku merindukannya.

“ayam? Apa yang kau lakukan disini?” suara itu.

“aku…”

“kau bukan ayam itu ya?” ujarnya begitu melihat kostumku yang berbeda. Kali ini kostumnya tidak besar. Jadi aku bisa bicara.

“hmm.. ini pesanan anda!” ujarku.

“nde… gomapta…” ujarnya sambil menerima paket makanan dariku.

“itu, kenapa ada disini?” tanyaku.

“itu dari Shawol… fansku…” jawabnya “lalu ayam? Ada apa lagi?” tanyanya padaku.

“tidak. Hanya penasaran saja… kalau begitu saya pergi… anda sudah bayar kan?”

“sudah… lewat ibuku…” ujarnya. Aku pun berbalik pergi, entah kenapa aku merasa kecewa.

“eh, tunggu ayam kedua!”

“ayam apa?” tanyaku.

“kau teman si ayam satunya kan?” tanyanya.

“nde…” sudah, jawab itu sajalah.

“hmm… katakan padanya ya… aku minta maaf…” ujarnya.

“waeyo?”

“karena sudah merepotkannya, aku kekanak-kanakkan sekali ya?”

“mungkin…”

“katakan juga… aku ingin berteman dengannya… oke?”

“hemm.. akan ku sampaikan…” ujarku.

“nde… gomapta ayam kedua!” ujarnya. Aku pun berbalik pulang. Aku sangat kaget. Senang mungkin? Tidak! Aku baik-baik saja! Tapi…

…………………………

Malamnya, aku berbaring diranjang di kamarku. Aku sangat lelah hari ini. Entah kenapa aku terus memikirkan kata-kata Onew. Huft… aku menoleh kemeja belajarku dan menemukan 2 kotak obat-obatan yang diberikan Onew kepadaku karena mengira aku ayam. Aku lalu beranjak dan mengambilnya.

“hemm… apa aku buang saja?” ujarku lalu membuka kotak itu.

“apa ini?” aku kaget. Ternyata isinya bukan obat. Tapi kaset-kaset SHINee. Dasar, apa dia mau promosi denganku? Baiklah, Onew. Kita dengar seperti apa lagu SHINee. Aku mengambil salah satu kasetnya, dari mini album Juliette. Bagus tidak yah?

 

Juliette! yeonghoneul bachilkkeyo
Juliette! jebal nal bada jwoyo
Juliette! dalkomhi jom deo dalkomhage
soksagyeo naui serenade

 

“lagunya lumayan bagus. Bisa-bisa aku menjadi Shawol… aigoo…”

Malam itu, aku tidur ditemani lagu SHINee.

………………………

Esoknya…

Huft… aku baru saja mengantar pesanan. Kenapa sih aku bertransformasi menjadi ayam pengantar ayam? Aku masuk kerestoran dan mendengar seseorang bernyanyi. Bagus juga. Ternyata bos menemukan penyanyi café yang bagus.

 

Oh geochin salmae shideuleogal ddae
Geudaega naegae dagawa
Eoleobooteun geu maeumae soneul daen soongan
Na.ae salmeun shijak.dwaesseumeul

Aku mendengar dengan seksama. Suara-suara ini seperti kukenal. Aku menoleh ke panggung, dan….

“OMO!” aku kaget sampai termundur-mundur. Itu SHINee! Aigooo… membuatku kaget saja. Aku mengelus-elus dadaku.

“suara mereka bagus juga!” komentarku. Aku lalu duduk disalah satu kursi direstoran. Mendengar mereka bernyanyi.

“…”

Geudae jichigo himdeul ddae
Budi geu yeop.jariae nareul itgae hae
Badgiman han sarangeul dashi deuril su itgae
Ee salmi kkeutnagi jeonae

Sesangae mureup kkulgo noonmul heullilddae
Pokpoong sok bal mumchul ddae geudaeman seo itdamyeon
Eereon apeum, gotong.jjeum gyeondil su itneun.geolyo
(Ojik geudaeman) Ojik geudaeman
(Naegae itdamyeon) Naegae itdamyeon in my life

 

PLOK PLOK PLOK..

Aku langsung tersadar dari lamunanku. Aku ternyata beneran melamun. Aku lalu beranjak dan menuju ruang ganti.

“eh, ayam!” Onew memanggilku, aku lalu berbalik. “kau teman si ayam satu kan? Mana dia?” tanyanya.

“entahlah… dia pergi mengantar pesanan mungkin…” jawabku bohong.

“ohhh… eh, tadi kau mendengar lagu kami?” tanyanya lagi.

“mm…” anggukku.

“bagus tidak?”

“mmm…”

“ohh.. baguslah… kau sudah sampaikan pesanku pada si ayam satu kan?”

“mm…”

“aku penasaran… seperti apa si ayam satu itu?”

“kenapa anda memberi nama si ayam satu?” tanyaku.

“karena aku menyukainya!”

“hah? Mwo? menyukai, apa?” tanyaku kaget.

“aku menyukai orang itu…”

“mwo?”

“waeyo? Dia sangat bagus saat memakai kostum ayam. Makanya aku mau berteman dengannya.”

“oohh…” aku sedikit kecewa entah kenapa. “kalau dia gak pake kostum ayam, gimana?”

“mungkin, aku tidak. Takdirnya pasti berubah…” ujarnya.

“ohhh… yasudah… aku mau kesana dulu…” ujarku.

“nde… hati-hati ya! Berikan salamku pada si ayam satu!” teriak Onew padaku.

“mm…”

Aigoo… dia menyukaiku karena kostum ayam ini? Yah, dia kan emang suka sama semua ayam. Mau bagaimana. Mungkin nanti jodohnya ayam. Huaaaa… tapi kenapa hatiku tidak bisa menerimanya?

…………………

Besoknya…

“ayam, ayam… dimana si ayam satu?” Onew menanyaiku untuk yang keseribu kalinya.

“molla…” jawabku.

“ayam-ahh… mana temanmu itu… aku sangat merindukannya!”

 

DHEG…

Hatiku langsung berdetak kencang mendengarnya. Orang ini. Meskipun kata-kata itu…

 

“huft… Onew ssi…  kau tanya saja temanku itu, Nana!” ujarku sambil menunjuk Nana yang lewat, dia langsung menjauh.

“eh eh.. Nana ssi…!” Onew berteriak, Nana pun berhenti.

“mwo?” tanya Nana.

“kau tahu dimana si ayam satu?” tanya Onew.

“ayam, apa? Ayam satu?”

“mm..” angguk Onew. “itu loh mascot ayam yang pertama. Kostumnya lebih besar dari yang ini…” Onew menunjukku, Nana melihatku, dan aku menggeleng kepala, mengisyaratkan agar Nana tidak menunjukku.

“loh! Itu!” Nana bodoh!

“aniya… Nana, bukan itu! itu ayam kedua!” bantah Onew. Untung dia bodoh *dibunuhSHAWOL*

“jongmal! Kami hanya mengganti kostumnya. Kasian Lizzy kepanasan. Sekarang kan sudah bagus. Dia tidak kepanasan lagi!” Nana, apa yang kau lakukan, hah? Aku menunduk.

“mwo? kau buang ayamnya? Kenapa? Apa dia kena flu burung?” tanya Onew polos.

“bukan ayamnya.. bukan. Anu, itu… huftt…” Nana stress ngomong dengan Onew. “ayam satu itu bukan ayam. Dia manusia yang pake kostum ayam. Sampai disini mengerti?”

“hmm…” angguk Onew.

“bagus. Nah, karena kostum itu besar dan panas, makanya, kami menggantinya dan kostum lama kami buang!”

“ohh… jadi, dimana orang nya?”

“itu!” Nana langsung menunjukku, padahal aku belum sampai didepan pintu untuk masuk kerestoran. Ketahuan!

“dia?” tanya Onew langsung menghampiriku. “kau? Kau ayam satu?”

“mm.. iya!” jawabku pelan. Aigoo. Apa yang mesti kulakukan?

“…” Onew dia melihatku. Apa sih yang dipikirkannya?

“pabo…” ujarnya lalu pergi.

“….”

“ada apa sih?” tanya Nana menghampiriku. Aku hanya bisa diam saja. Huh… ada apa sih? Kenapa dengannya?

…………………….

Sudah seminggu aku tidak bertemu Onew. Aku bingung. Apa sih sebenarnya salahku pada manusia itu?

“Lizzy ya! Sebelum pulang, rapikan dapur dan buang sampah ya!” teriak Nana padaku sembari ia pergi keluar untuk pulang.

“arata!” ujarku sambil mengikat rambutku. Rambutku selalu berantakan jika mengenakan Kostum ayam. Setelah merapikan dapur, aku membuang sampah didalam kantung plastic hijau yang besarnya dan beratnya minta ampun.

“aigoo, berat sekali…” keluhku sambil menyeret kantung plastic besar itu.

“kubantu…” ujar seseorang padaku. Mungkin temanku.

“ah, tidak usah…” jawabku.

“gwenchana…” dia lalu menarik plastic itu dari tanganku.

“eh…” aku lalu mengikutinya yang membawa kantung plastic itu. kami berjalan keluar menuju tempat sampah di pinggir jalan.

“gomawo…” ujarku padanya.

“cheomaneyo…” dia lalu berbalik dan tersenyum padaku.

“ONEW OPPA!”

“hm? Kau mengenaliku? Shawol ya?” tanyanya.

“eh? Ehmm.. iya begitu lah…” ujarku. Jongmal, dia belum pernah melihatku sebelumnya.

“ohh.. baguslah! Ternyata di restoran ibu banyak sekali shawol..” ujarnya senang. Kami berdua pun berjalan masuk kembali kedapur.

“Kenapa aku jarang melihatmu akhir-akhir ini?” tanyaku lagi padanya.

“aku di Jepang, ini saja, aku ada kesempatan pulang. 3 hari kedepan, ke Jepang lagi… wae? Masa kau tidak tahu?” tanya Onew curiga padaku.

“eh? Ehmm.. aku terlalu sibuk.. jadi jarang nonton tv…” ujarku padanya.

“oh..”

“bagaimana keadaan ayam satu?”

“ayam satu? Oh.. si mascot ayam?” tanyaku padanya lagi.

“nde… apa dia baik-baik saja?”

“hmm… dia baik-baik saja. Ada apa memangnya?”

“ani. Aku boleh tidak tanya saranmu?” tiba-tiba saja dia berhenti dan menatapku. Aku jadi gugup melihatnya.

“boleh… wae?”

“aku menyukai seseorang…”

“nugu?” tanyaku padahal hatiku rasanya mau lepas saja.

“si ayam satu…”

“ohh..” aku kembali menunduk. Benar, dia hanya menyukai ayam.

“tapi, aku tidak menyukai kostumnya…”

“maksudmu?” aku lalu menatapnya heran.

“yah, bagaimana ya? Aku sendiri bingung… eh, kau bisa jaga rahasia kan?” ujarnya padaku.

“bisa kok…”

“baguslah! Kesini…” dia lalu menyuruhku mendekat.

“kemana lagi? Kita sudah sedekat ini…” ujarku agak kesal, padahal hatiku sudah lari kemana.

“hehehe.. benar…” dia lalu menunduk kepadaku, berbisik ditelingaku. “aku menyukai Lizzy… tolong disampaikan!”

 

DHEG.. DHEG..DHEG…

Aku membatu. Apa yang dia katakan?

“apa yang kau katakan?” tanyaku minta diulangi.

“kau tidak dengar?”

“maksudku… kau beneran menyukainya?”

“nde…” jawabnya tegas. Orang ini sinting?

“…”

“…”

“LIZZY YA! KAU MAU KUTINGGAL? LAMA SEKALI!” Nana tiba-tiba masuk kedapur melihatku dan Onew. Onew langsung kaget dan melihat kewajahku. Aku menunduk.

“kau Lizzy?” tanya Onew padaku.

“loh? Onew oppa? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Nana kaget. “aku bawa Lizzy pulang ya!”

“….” Tanganku ditarik Nana. Dia membawaku keluar untuk pulang.

“…”

“…”

…………………….

“nyonya, aku berhenti…” ujarku ibu Onew. Bosku.

“hah? Waeyo? Kau ada masalah?” tanyanya heran padaku.

“ani… aku mendapatkan pekerjaan baru…” ujarku berbohong pada beliau.

“pekerjaan baru? Kau bosan jadi mascot?”

“yah, begitulah…”

“hemm… oke… aku ambil uang gaji mu dulu ya!” bosku lalu pergi dan mengambil seamplop uang.

“ini…”

 

Itu, beberapa hari yang lalu. Sekarang aku belum mendapatkan pekerjaan. Susah tau! Apalagi di kota besar kayak SEOUL ini. Huft… aku malah merepotkan orangtuaku. Alasanku berhenti, karena aku capek jadi mascot terus. Emang enak pertamanya. Tapi akhirnya capek juga. Dan bukan hanya itu. aku tidak berani bertemu dengan Onew oppa suatu hari nanti. Apa yang harus kukatakan? Apa dia akan menyapaku? Dia mengacuhkanku? Menggangguku lagi? Aku tidak tahu. Jadi, lebih baik aku mundur saja. Dari pada cerita tambah panjang, dan dia kan artis, bakalan ada gossip. Hahaa… aku sangat berharap? Tapi tidak! dia bakalan sibuk banget. Dan dalam waktu sekejap akan melupakanku.

 

TOK TOK TOK…

 

“Lizzy ya! Buka pintu nya! Ada tamu!” ibuku berteriak dari dapur. Aku yang ada didepan tv lalu beranjak untuk membuka pintu.

“…”

“…”

 

KREKK…

“Annyeong hase… UWAAAHH…” aku kaget begitu aku selesai menunduk dan melihat yang ada dihadapanku.

“ONEW OPPA! APA YANG… KAU LAKUKAN DISINI?”

“hem… kesini dulu…” Onew oppa menyuruhku keluar. Aku pun menurut.

“waeyo?” tanyaku.

“aku sudah pernah bilang belum, kau tidak boleh berhenti dari restoran ibuku?” tanyanya padaku.

“belum…” jawabku.

“kalau begitu… aku menyuruhmu, jangan berhenti dari restoran ibuku!” Ujarnya.

“aku kan sudah berhenti…”

“ishh… kalau begitu… kau! Atas nama ibuku! Kau diterima kembali!” tihtahnya.

“mwo?” aku kaget.

“lalu, apa aku sudah pernah bilang, orang yang memakai kostum ayam direstoran ibuku itu baik dan cantik?”

“heh? Belum”

“nde… kalau begitu… aku mengatakan padamu. Kau! Yang memakai kostum ayam direstoran ibuku itu baik dan cantik!”

“hah?”

“aku sudah pernah bilang belum, kalau aku menyukaimu?”

“itu…”

“aku menyukaimu…”

“hah?”

“aku sudah pernah bilang belum, kalau kau tidak boleh pergi dariku?”

“belu…”

“kau tidak boleh pergi dariku!”

“aku sudah pernah bilang kalau aku merindukanmu?” tanyanya lagi.

“mm…” aku menggeleng.

“aku merindukanmu sangat…”

“….”

“aku pernah bertanya, maukah kau menjadi pacarku, tidak?”

“….”

“mau kah kau menjadi pacarku?”

“itu…”

“tidak usah dijawab! Apa aku pernah mengatakan kata tadi?”

“barusan…”

“keure… jadi jangan dijawab… karena kalau kau jawab, nanti akan berbahaya…”

“maksudm…”

“pernah tidak aku bilang kalau kau cinta pertamaku?”

“hah?” >.<

“belum? Kalau begitu, kau adalah cinta pertamaku. Kau mengalahkan ayam yang ada dihatiku ini!”

“eh?”

“jadi… kau tidak boleh bergeser sedikitpun dari hatiku. Harus tetap ada! Jangan kalah dari ayam! Araso?”

“nde…” aku mengangguk.

“bagus! Boleh tidak aku memegang tanganmu?”

“wae?” saat aku bertanya dia langsung memegang kedua tanganku.

“karena aku tidak bisa memelukmu… jadi aku memegang tanganmu saja…”

“…” aku hanya menunduk malu, dia terus memegang kedua tanganku.

“…”

“oppa…” ujarku. Dia lalu menoleh dan tersenyum manis padaku. >.<

“hem?”

“apa aku pernah bilang, kalau aku menyukaimu juga…?”

“…”

“I want to be the one and only…”

“ANI!” Onew lalu menghempaskan tanganku. “tidak ada yang bisa memisahkanku dengan ayam!”

“hahaha…” aku tertawa.

“kau ini!” dia menepuk bahuku.

“ya!” ringisku.

“aku belum pernah pacaran tau!” ujarnya polos.

“hahaha…” aku terus saja tertawa. Apa yang akan terjadi dengan namja polos ini nanti denganku? Hahaha…^^

……………………

— THE END –

………………….

Bagus gak? Author sendiri suka. Karena ceritanya cinta yang polos dan manis. Author suka yang begini. Author banget gitu! Onew polos apa bego ya? *digorengOnew* masa’ gak tau didalam kostum ayam ada manusia? Apa maksud? Hahaha… pokoknya komentarnya!

2 responses to “Love is Ayam

Komentar ditutup.