In My Head

IN MY HEAD

Tittle    :           In My Head

Author :           Yesunggyu – Amalia Laili

Length :           One Shot

Genre   :           Comedy, romantic, life

Cast     :           Kim Jonghyun, Shin Sekyung, Lee Taemin, Kim Yesung a.k.a suami author *dibunuh Clouds*, Luna, etc

………………………

“lepaskan aku!” yeoja itu berteriak sembari berusaha melepaskan tangan para perawat di tangan dan tubuhnya.

“nona, sadarlah… ayo kembali kekamarmu…” ujar salah satu perawat.

“LEPASKAN AKU!!!”

“nona…”

“AKU MAU MATI! JADI LEPASKAN AKU…!!!”

………………………

Dua orang namja berjalan dari ruang dokter. Mereka berdua berjas putih. Tampaknya mereka adalah 2 orang asissten dokter.

“ah, hyung! Menurut hyung, mudah tidak tes minggu depan?” tanya salah satunya.

“mana aku tahu! Kita belum tes! Huft… bisa gila aku! Dari minggu minggu lalu, disertasi kita tidak juga diterima!” jawab yang satunya.

“nde…”

“…”

“eh Hyung! Coba lihat yeoja itu! perawat itu! mereka ngapain?” tanya namja itu lagi sambil menunjuk-nunjuk seorang yeoja yang memberontak pada perawatnya. 5 orang perawat.

“ohh.. paling dia kumat… ayo kesana!” yang satu ini tampak biasa meski perkataanya penuh semangat. Mereka pun setengah berlari menghampiri yeoja itu.

“aigoo.. nona… anda baik-baik saja?” tanya namja dongsaeng itu.

“LEPASKAN AKU! AKU MAU MATI!”

“omo! Hyung! Dia kenapa?” si namja itu malah tanya dengan temannya.

“hemmm… dia mau mati?” tanya namja hyung itu.

“I I iya… ini sangat menyusahkan…” jawab si perawat sambil berusaha menahan si yeoja.

“ohh.. hei… kalau mau mati, jangan menyusahkan orang lain! Ini!” si namja hyung memberikan silet kepada si yeoja dari kantungnya. Yeoja itu terdiam melihat silet itu, dan si namja tersenyum sinis.

“Hyung!” teriak si namja dongsaeng. “hyung gila?”

“…” yeoja itu mengambil silet. Diam sejenak, dan…

“…”

“…”

 

SRETT…

“omo!” teriak perawat “apa yang anda lakukan?” perawat itu bertanya pada Jonghyun.

“HYUNG!”

“Berdarah! Dia pingsan! Cepat bawa ke UGD!” seluruh perawat sibuk. Tinggallah 2 namja tadi.

“HYUNG!”

“MANA AKU TAHU DIA BENERAN BUNUH DIRI!”

“HYUNG! DIA SENDIRI YANG MAU BUNUH DIRI KAN?!!!”

“ANIYA! MAKSUDKU! BIASANYA ORANG YANG MAU BUNUH DIRI ITU KALAU DIKASIH ALAT BAKALAN BERPIKIR LAGI. DAN…”

“ah hyungggg… pabo yaaaaa… ayo cepat kita kejar mereka!!!!” si namja dongsaeng berlari. “ya! Hyung!”

“ah… nde…” mereka pun berlari menuju UGD.

…………………….

Yeoja itu, Shin Sekyung. Duduk di lantai kamarnya yang penuh busa. Dengan tempat ventilasi udara yang sangat tinggi. Ruang itu kosong. Tangannya diperban, dan diikat satu kedua tangannya. Dia diam menunduk.

“huftt…” desahnya. Kembali melihat kesekeliling. Rambutnya tergurai menutupi wajahnya, dia menyibaknya dengan kasar dengan sekali hentakan.

“huftt…” desahnya lagi.

“…”

 

KREEKK…

Masuk seorang namja, namja yang memberikannya silet beberapa jam yang lalu.

“a a an ann annyeong ha ha seyo…” namja itu menunduk sambil menutup pintu.

“hmmm…” jawab Sekyung.

“Kim Jonghyun imnida…”

“mmm…” jawab Sekyung lagi. Memangnya aku perlu tahu gitu, namamu?

“mm… mianhae…”

“pabo”

“maaf?” tanya Jonghyun bingung.

“silet yang kau berikan tidak tajam! Aku tidak jadi mati!”

“eh? Mworago?”

“nde… kenapa tidak kasih yang tajam?”

“maaf… aku…”

“kalau begitu, besok bawakan pisau ya!”

“eh? Sebenarnya anda bicara serius atau bagaimana?”

“kau ini bodoh?”

“ah? Ehmm.. itu.. ani… aku… huft….” Jonghyun malah kebingungan. “anda sedang bercanda?”

“apa orang sepertiku bercanda?” tanya Sekyung kembali.

“ehmmm… anda sakit psikologi Skizofrenia?” tanya Jonghyun pada Sekyung sambil duduk disebelahnya.

“tidak usah pakai bahasa formal…” jawab Sekyung cuek. “kalau iya kenapa?”

“begitu ya? Bahasa formal? Oh ehmmm.. yah, kalau begitu. Maaf, aku tidak tahu tadi itu…”

“kau ini kenapa sih? Pergi saja sana!” Sekyung mengusir Jonghyun dengan kakinya. Kakinya mengarah keluar, karena kedua tangannya diikat satu, dia tidak bisa menunjuk dengan tangan.

“oohh… ehmm.. baiklah… aku pergi…” Jonghyun pun beranjak pergi.

 

KRAK…

“…”

“…”

“pabo…” Sekyung merebahkan badannya. Lalu menutup mata, berusaha untuk bisa tidur.

…………………..

Jonghyun keluar dari ruang inap Sekyung dengan keadaan bingung dan ketakutan. Temannya yang tadi pagi itu yang sekarang menunggu ikutan deg-degan.

“hyung, gwenchana?” tanya temannya itu.

“Taemin-ah!” Jonghyun berteriak sambil memeluk temannya yang bernama Taemin itu.

“waeyo hyung?” Taemin kaget dan menepuk-nepuk punggung Jonghyun.

“aku tidak tahu lagi harus ngapain. Kasian sekali yeoja itu!!!!” Jonghyun melepaskan pelukannya.

“oohh.. nde… jadi?” tanya Taemin sambil mengangguk-angguk.

“aku akan membantu penyembuhan yeoja itu… bantu aku!” ujar Jonghyun.

“bantu bagaimana?” tanya Taemin lagi.

“bantu aku bicara dengan dokternya…” jawab Jonghyun.

“bicara saja. Apa susahnya? Siapa sih dokternya?” tanya Taemin.

“ehmm… Kim Yesung…” jawab Jonghyun sambil menunduk kebawah.

“ohh.. gak masalah kok…” ujar Taemin. Jonghyun membelalakkan mata pada Taemin.

“Min, lo kok kayak gak kenal Yesung aja? Lo mau gue jadi makanan kura-kuranya, hah?” mungkin itu isi hati Jonghyun.

“….” Taemin bingung dengan tatapan Jonghyun.

“Hyung, dokter Yesung kenapa sih? Biasa aja kaleee…” itu sekiranya isi hati Taemin *perang kontak batin rupanya*.

“….”

“….”

“huwaaa…!! Dokter Kim? Kim Yesung? Yang galak itu? yang pelit nilai itu? yang kegilaannya kurang lebih pasiennya?” tanya Taemin, dan mendapat jawaban anggukan lesu dari Jonghyun.

“hm…makanya bantu aku yah!” rengek Jonghyun sambil mengguncang-guncang badan Taemin.

“ani ani aniyaaa…. Aku tak sanggup, Hyung! Hyung, waktu itu saja aku sudah mau mati merengek supaya kita bisa ikut ujian susulan…”

“ayoolaaaahhh Taeminniii… bantu Hyung mu ini yahhh… kita kan sudah seperti saudara… yah yahhh…” Jonghyun berlutut pada Taemin.

“andwe… no no no…”

“Taeminnnii…”

“mm..mm…” geleng Taemin.

“aku akan berikan apapun dehh..”

“ani…”

“aku mau main PS denganmu tiap malam…”

“ani.. aku bisa main dengan Minho hyung”

“aku mau melakukan apa saja…”

“bohong!”

“Taemin ahhh..”

“mwoya?”

“aku bantu perjodohan dengan Sulli ya!”

“Mwo? ani ani ani…”

“jadi?”

“biarpun Hyung memberikan dunia padaku, aku tidak mau!”

“aku traktir es krim deh selama sebulan!”

……………………….

Di ruangan dokter Yesung.

“ayolah dokter Kim… kasihan sekali Hyung ini… dia ingin menebus kesalahannya pada si pasien itu…” rengek Taemin akhirnya.

“ani!”

“ah, Dokter Kim, anda kan satu marga dengannya! Bantulah dia!”

“ya! Biarpun satu marga kek, satu keluarga kek, satu famili kek, satu ordo kek, satu rumah kek, satu Negara kek… apa urusannya sama saya?”

“huaaahh… kenapa dokter kejam sekali???”

 

TOK…

Kepala Taemin dijitak Yesung pake kura-kura yang ada ditangannya.

“maaf Ttakoma… ehmm… Jonghyun itu jadi asisten dokter siapa?” tanya Yesung.

“dokter Leeteuk…”

“nah! Dokter Leeteuk itu bagian ortopedi! Mana ada hubungannya sama psikiater!”

“tapi dokter…”

“tidak ada tapi-tapi…”

“tapi kami bakalan jadi murid dokter minggu depan!”

“jadi murid ku? Huahahaha…” Yesung ketawa gaje. “siapa yang mau nerima kalian jadi muridku?”

“iya kok… minggu ini, minggu terakhir kami dengan dokter Leeteuk… lalu ke Anda dan itu yang terakhir untuk menjadi dokter…” jawab Taemin.

“mworago?”

“iya kok… bisa kah Jonghyun hyung dikasih waktu lebih cepat gitu? Jadi kan, kalau Shin Sekyung itu cepat sembuh kan lebih baik! Dokter Kim juga semakin terkenal!”

“begitu?” tanya Yesung agak curiga.

“jongmal!” angguk Taemin yakin.

“mukamu ini sangat manis yah, Taemin…” puji Yesung

“gomawo…” Taemin menunduk malu.

“kata-katamu juga! Kau mau membodohi ku?”

“ani ani aniyaa…”

“tidak bisa dipercaya! Pergi sana!”

…………………………..

Sekyung duduk di kursi taman rumah sakit. Dia sudah tidak mendengar suara pikirannya lagi. Skizofrenia, gangguan psikologis. Penderitanya ini mendengar suara untuk menyuruhnya mati atau bunuh diri. Ini terjadi karena trauma psikologis ataupun karena lingkungannya yang membuatnya tidak aman dan tidak nyaman. Kadang bisa terdengar, kadang tidak. Jadi, kasihan sekali yah.

“…”

“…”

“Shin Sekyung-ssi..”

“kenapa kau disini?”

“aku ada berita bagus untukmu!”

“berita apa, Donghun..”

“JONGHYUN, nona… Jonghyun… namaku…” ujar Jonghyun mencak-mencak.

“hemm…” Sekyung tak peduli. Jonghyun duduk.

“aku akan membantu menyembuhkan dirimu!”

“tidak perlu!”

“loh, kenapa? Itu bagus kan?”

“ani… sampai kapanpun aku tidak sembuh…”

“…”

“…”

“tapi, biarpun kau bilang begitu, aku tetap akan membantumu…”

“jangan..”

“wae? Memangnya kenapa? Sekarang, beritahukan aku, kenapa kau terkena Skizofrenia?”

“jangan…” Sekyung menutup telinganya dan memejamkan matanya.

“ada apa?” tanya Jonghyun panik.

“jangan…” Sekyung menggelengkan kepalanya kuat.

“nona Shin…” Jonghyun memegang tangan Sekyung yang memegang kepala Sekyung sendiri.

“JANGAN INGATKAN AKU!”

“nona Shin!”

“ARRGGHH… KELUAR DARI SINI! PERGI!”

“nona Shin!”

“…” Sekyung lalu pingsan setelah berteriak. Jonghyun mencoba untuk memapahnya.

“nona Shin! Bawa dia sekarang!” salah seorang perawat melihat Sekyung pingsan. Mereka lalu membawa Sekyung ke ruang inapnya.

………………………..

“Hyung, gwenchana?” tanya Taemin pada Jonghyun yang sedang minum kopi.

“hmm… nde… aku bisa gila karena dia!!!” ujar Jonghyun bersedih hati.

“ohh…” Taemin hanya mengangguk-angguk.

“kenapa hanya bilang o?” tanya Jonghyun.

“emangnya Hyung mau aku bilang apa?” tanya Taemin lagi.

“ani! Lupakan…” Jonghyun kembali minum kopinya.

 

TAP TAP TAP…

Seorang yeoja lewat sedang berlari menuju tangga. Jonghyun terdiam sejenak.

“itu, siapa yang berlari?” tanyanya pada Taemin.

“molla…”

“hmm…” Jonghyun berpikir sejenak. “NONA SHIN!” dia langsung berlari mengejar yeoja itu yang ternyata Sekyung. Dia berlari menuju tangga.

“Sekyung-ssi!” Jonghyun berteriak pada Sekyung yang terus berlari.

“….”

“Sekyung-ssi…” teriaknya lagi.

“…”

 

SREK…

Mereka hampir sampai di lantai paling atas di rumah sakit, lalu Jonghyun meraih tangan Sekyung dan menghentikan gerakan Sekyung.

“MWOYA!” teriak Sekyung.

“Kau mau kemana?” tanya Jonghyun.

“bukan urusanmu!”

“urusanku!”

“ish… lepaskan…”

“…” Jonghyun tidak menjawab dan tidak juga melepas tangan Sekyung.

“ishh.. YA!” Sekyung dan Jonghyun saling berpandangan. Mereka sepertinya tidak mau kalah. Sekyung melihat pegangan tangga yang ada disampingnya. Dan berancang-ancang menghantukkan kepalanya di pegangan tangga.

 

TAKK…

Tangan Jonghyun sempat menyelamatkan kepala Sekyung.

“Aigoo.. apa yang kau lakukan!” teriak Sekyung.

“harusnya aku yang bertanya! Berhentilah menyakiti dirimu sendiri!” Jonghyun ikut berteriak.

“issh…” Sekyung mulai naik kelantai atas. Di atap rumah sakit.

“jangan kesana!”

“kau ikut denganku!” paksa Sekyung. Jonghyun pun tetap ikut meski sambil memegang tangan Sekyung.

“…”

“…”

 

Sampai di atap, Sekyung lalu duduk di atap rumah sakit sambil tetap dipegangi Jonghyun.

“kenapa mesti tanganku dipegang terus?” tanyanya.

“nanti kau melakukan hal yang tidak-tidak…” jawab Jonghyun datar.

“hmmm…”

“…”

“apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini?”

“bisa tidak untuk tidak mempertanyakan hal itu padaku?”

“euhm… agesimnida! Mian…”

“…”

“aku sudah 4 tahun dirumah sakit ini…”

“EMPAT TAHUN??!!!” Jonghyun kaget mendengar perkataan Sekyung.

“kau tuli? Kau juga mengira aku tuli? Tidak usah berteriak..”

“mian… lama juga ya…”

“hmm…”

“aku akan membantumu…” ujar Jonghyun.

“tidak perlu. Satu-satunya cara adalah mati. Jadi kau harus biarkan aku mati…”

“ani! Bisa kok sembuh” ujar Jonghyun semangat.

“aku mau pergi!” Sekyung berdiri dan Jonghyun juga ikut.

“….” Sekyung berniat berlari menuju pinggir atap. Jonghyun yang panik langsung menariknya ke arah berlawanan.

“kau gila!”

“kau sudah tahu aku gila kan?”

Mereka mulai tarik-tarikkan.

“kau ini… lepaskan!”

“ani!”

“ish… kalau begitu kau ikut mati denganku!” Sekyung malah mendorong tubuh Jonghyun kebelakang, karena dibelakang Jonghyun juga pinggir atap.

“eh eh eh…” Jonghyun bertahan dan mendorong tubuh Sekyung.

“kau mau dari arah sana?” Sekyung malah kembali menarik Jonghyun.

“YA!” Jonghyun kembali bertahan dan menarik Sekyung.

“baik! Kesana!” Sekyung kembali mendorong Jonghyun.

“YA!” Jonghyun bertahan dan mendorong tubuh Sekyung.

Begitu seterusnya sampai 5 menit.

“tidak mau menyerah manusia ini!” ujar Sekyung.

“tidak akan! Never!”

“hm…” Sekyung sedikit tersenyum.

“kau tersenyum?” tanya Jonghyun yang melihat Sekyung sedikit tersenyum.

“siapa bilang? Kau juga mau mati?”

……………………

Esoknya…

Jonghyun duduk di bangku sambil mengerjakan tugas prakteknya. Taemin datang menghampiri sambil membawa buku catatan.

“annyeong, apa yang sedang hyung lakukan?” tanyanya.

“annyeong… melakukan hal seperti biasanya. Tugasmu sudah selesai?” Jonghyun balik bertanya.

“sudah kok… hyung beneran bakalan bantu nona Shin?”

“hmm…” angguk Jonghyun “gomapta… dokter Kim sudah mengijinkanku. Dia baik juga…”

“iya dong… aku kan yang sudah membujuknya…”

“hmm…” Jonghyun tersenyum. “oh ya!” dia lalu membalikkan badan dan menghadap ke Taemin.

“mwoya?” tanya Taemin heran.

“bukankah penderita Skizofrenia itu tanpa ekspresi?” tanyanya.

“nde… wae? Nona Shin begitu?”

“hmm…” angguk Jonghyun “ tapi kemarin aku melihat dia tersenyum loh! Meski tidak terlihat jelas!”

“masa’? kalau begitu, hyung harus terus bersamanya… mungkin dengan begitu dia bisa sembuh…”

“mungkin… oh ya… umur nona Shin seumuran dengan kita, mungkin karena itu dia bisa membuka diri… dia tidak punya teman mungkin, ya?”

“mungkin…” jawab Taemin, Jonghyun lalu bangkit dan pergi.

“mau kemana hyung?” tanya Taemin.

“menjenguk nona Shin!”

“…”

“Aku ditinggal lagi kan… main dengan Sulli saja…” Taemin lalu pergi juga.

 

Dikamar inap Shin Sekyung…

Sekyung makan dengan tenang. Kamarnya bukan kamar yang penuh busa itu, tapi kamar kali ini, kamar seperti kamar inap pasien seperti biasa. Hari ini dia belum kumat. Kasian juga sih. Tapi orang tuanya tidak membawanya ke rumah sakit jiwa. Tapi tetap juga di rumah sakit biasa.

“annyeong haseyoooo nona SHINNN..” teriak Jonghyun begitu masuk.

“annyeong… biasa aja lah…” ujar Sekyung tanpa minat.

“ehmm.. baiklah…” Jonghyun jadi salah tingkah. “eh eh… kau sedang makan?” tanya Jonghyun sambil mendekati Sekyung yang sedang makan.

“kau buta?”

“huft… aniya… nona Shin… aku tadi…”

“panggil aku Sekyung saja…”

“baiklah… Sekyung-ssi, aku tadi melihat datamu…”

“lalu?”

“waktu itu aku mendengar kau sudah disini 2 tahun… apa kau tidak merindukan keluargamu?” tanya Jonghyun hati-hati.

“ani…” jawab Sekyung singkat, Jonghyun kaget.

“wae? Mereka tidak merindukanmu?”

“ani…”

“wae?”

“mereka sendiri yang mau aku disini… aku sih, nurut nurut aja…”

“ooh… kau anak yang baik yah?”

“ani… aku bukan anak yang baik…”

“loh, kenapa bukan?”

“aku sudah membunuh anak mereka!”

“MWORAGO!!!” Jonghyun berteriak sekeras mungkin. Sekyung menutup sebelah telinganya, lalu berdiri dan menaruh piringnya dan berjalan ke kasurnya dan berbaring.

“aku sudah membunuh anak orang tuaku…”

“adikmu? Kakakmu?”

“bukan… aku sudah membunuh diriku sendiri…”

“loh? Kau masih hidup… mungkin maksudmu berupaya untukk..” Jonghyun berusaha menenangkan Sekyung.

“aku sudah membunuh jiwanya… kali ini aku akan membunuh raganya suatu saat nanti…”

“kenapa tidak bunuh diri sekarang?” Jonghyun tau ini pertanyaan bagus untuk orang yang bunuh diri agar mereka mengurungkan niat. Tapi bukan pertanyaan yang bagus bagi penderita Skizofrenia.

“aku mencari sesuatu untuk mati… entah kenapa dikepalaku jarang ada suara… mungkin nanti kalau ada…”

“MWO?” Jonghyun berteriak. Sekyung menutup matanya. “kau mau sembuh? Kau ingin sembuh? Kau akan sembuh?”

“aku mau tidur… pergilah…” Sekyung mengusir Jonghyun.

“ini masih jam 12… masa kau mau tidur?”

“…”

“sudah tidur? Aku pergi deh…” Jonghyun pun menuju pintu keluar.

“…”

“Sekyung-ssi, aku akan membantumu… baiklah… selamat tidur…”

“…”

“…”

Begitu yakin Jonghyun sudah keluar, Sekyung membuka matanya pelan dan melihat langit-langit kamar.

“…”

“…”

Setelah itu lalu kembali menutup mata dan tidur.

……………………

Besoknya, Sekyung duduk di taman rumah sakit. Penyakitnya sedang tidak kambuh hari ini. Jadi dia hanya duduk-duduk saja.

“huft…” dia menghela napas.

“jangan berlari! Nanti jatuh!” suara seorang ibu kepada anak laki-lakinya. Anaknya berlari kesana kemari dengan mengenakan pakaian pasien sedangkan di tangan kanannya di gips.

“…”

“ayo… cepat masuk… kau belum makan…” ibu itu terus berlari mengejar anaknya. Sekyung hanya diam melihat mereka.

“kira-kira, seperti apa wajah ibuku..” ucapnya pelan.

“…”

……………………….

Sekyung berdiam diri dikamarnya. Dia mendengar suara teriakan dan hentakan dari luar. Ibunya dan ayahnya sedang berkelahi untuk kesekian kalinya. Dia sendiri tidak yakin, itukah suara mereka. Atau suara lain.

“sebaiknya kita usir saja anak setan itu dari sini!” suara ayahnya. Pikir Sekyung.

“beraninya kau mengatakan dia anak setan! Dia adalah anakku! Anakmu!” bela ibunya.

“anakku? Tidak! Aku yakin dia pasti bukan anakku!”

“mwo?”

“kakak-kakaknya tidak ada yang seperti dia! Dia pasti bukan anakku!”

“jadi, hanya anakmu saja yang benar?”

“memang begitu…”

“aku tidak mengerti apa yang sedang ada dipikiranmu!”

 

BRAKK..

Suara hentakan dari Sekyung. Dia membanting pintu sekeras mungkin. Dia berjalan lemas dengan keadaan tidak karuan.

“apa yang kalian bahas?” tanyanya serak. Raut wajahnya sedih dan marah.

“Sekyung-ah… ibu dan ayah tidak membahas apa-apa… masuklah kembali…” bujuk ibunya pada Sekyung.

“aku tanya apa yang kalian bahas…” ulang Sekyung.

“masuklah…” ujar ayahnya.

“AKU TANYA APA YANG KALIAN BAHAS!” teriak Sekyung, dia mengambil bingkai foto yang ada disampingnya lalu menghentakkannya di lantai.

 

PRANG…

“SEKYUNG! MASUKLAH!” Bentak ayahnya. Sekyung melihat kekaca yang pecah dihadapannya dan mengambil pecahan itu.

“SEKYUNG!” ibunya menahan Sekyung. Sekyung tetap berusaha untuk mengiris dan menusuk tubuhnya sendiri dengan pecahan kaca itu.

 

PLAKK..

Ayah Sekyung menampar Sekyung hingga Sekyung jatuh di lantai.

“berhentilah menyakiti dirimu! Kau ini benar-benar tidak berguna!” suara siapa ini? Pikir Sekyung. Ayah.

“KARENA ITULAH AKU MAU MATI!” teriak Sekyung pada ayahnya.

“…” kedua orang tua Sekyung hanya terdiam.

“Sekyung-ah… tenangkan dirimu…” ujar ibunya pelan.

“TENANG BAGAIMANA? IBU TAU TIDAK BAGAIMANA TENANG ITU?” bentak Sekyung pada ibunya.

“…”

“ibu… aku sudah lupa bagaimana tenang itu!”

“…”

………………………..

“Sekyung ah…” Jonghyun datang dan duduk disamping Sekyung ditaman.

“hmm…”

“kenapa murung begitu?” tanya Jonghyun “oh iya, muka mu memang tanpa ekspresi…” Jonghyun malah angguk-angguk.

“hmmm…” Sekyung tak berniat untuk merespon.

“Sekyung! Aku baru memperhatikan rambutmu! Kenapa jadi pendek begini?” Jonghyun menyentuh rambut Sekyung yang terpotong tidak teratur.

“lepaskan!” Sekyung menepis tangan Jonghyun “aku memotongnya…”

“kenapa?”

“untuk apa kau tahu?”

“ya! Kenapa?”

“ish… aku sedang kesal… lebih baik rambutku dipotong saja!”

“padahal bagus loh kalau panjang!”

“masalah buatmu?”

“aniya… tapi kau lebih cantik berambut panjang…”

“….” Sekyung diam lalu menunduk.

“….”

“…” Sekyung lalu berdiri.

“mau kemana?” tanya Jonghyun heran.

“mau mati!”

“MWORAGO!” Jonghyun langsung bangkit dan memegang tangan kanan Sekyung. Takut dia lari.

“hmm..” Sekyung berjalan tanpa menghiraukan tangan Jonghyun yang memegangnya.

“…”

“Donghun ah…” Sekyung memanggil Jonghyun.

“ehem… Jonghyun.. namaku Jonghyun…” ralat Jonghyun.

“jinja? Baiklah… Jonghyun… apa kau mau tahu alasan aku mau mati?”

“wae?” tanya Jonghyun. Sekyung mengisyaratkan Jonghyun untuk mendekat.

“neottemune…” bisik Sekyung.

“MWORAGO?” Jonghyun mundur kembali, kaget.

“YA! KARENA KAU AKU MAU MATI! JADI JANGAN MENDEKATIKU! PERGILAH! ENYAHLAH DARI MUKA BUMI INI! KALAU TIDAK MAU! AKU YANG PERGI!” Sekyung langsung menghempas tangan Jonghyun. Lalu pergi menuju kamarnya dengan jalan terburu-buru setengah kesal.

“ke ke ke ke ke napa de dengan manusia itu?” Jonghyun hanya bisa menerka-nerka apa yang ada dipikiran Sekyung.

………………………….

“Sekyung… “ suara itu keluar dari kepala Sekyung.

“nuguya…??” tanya Sekyung pada suara itu. dia melihat kedepan dan muncullah sosok perempuan yang seumuran dengannya.

“Sekyung-ah… kenapa meninggalkanku?” tanya perempuan itu.

“nuguya?” Sekyung berusaha mengingat. Perempuan itu datang mendekat dan mencoba menyentuh Sekyung.

“Luna?” tanya Sekyung.

“kenapa meninggalkanku, Sekyung-ah…?” tanya perempuan yang bernama Luna itu.

“aku tidak meninggalkanmu…”

“kau jahat sekali…”

“Luna, aku tidak meninggalkanmu…”

“kau membenciku?”

“aniya…”

“…..”

………………………..

“….”

Sekyung langsung terbangun. Dia menarik napas dan mengeluarkannya dengan hampa. Rasanya lelah sekali. Keringat mengalir di tubuhnya. Dia lalu duduk dan mengambil gelas yang berisi air putih di sampingnya.

“annyeong haseyo, Nona Shin…” Dokter Kim Yesung masuk bersama seorang perawat.

“….” Sekyung tidak menjawab.

“tidak bisa sembuh. Kenapa kau tidak mati saja?” terdengar suara dari kepala Sekyung. Suara Dokter Kim.

“KAU INGIN AKU MATI?” Sekyung membentak Dokter Kim.

“Nona Shin, ada apa denganmu? Sebaiknya kau minum obat dulu…” saran dokter Kim berusaha tenang. “tolong, perawat…”

“Nona Shin, kau sangat merepotkan…” suara itu, dari kepala Sekung. Suara perawat.

Perawat itu memberikan obat kepada Sekyung. 5 butir tablet berwarna pucat.

“aku tidak mau…” Sekyung menepis obat-obatan itu hingga obat-obatan itu jatuh bertebaran di lantai. Perawat itu hanya diam sambil mengumpul obat-obatan tadi.

“amda sangat menyusahkan, nona Shin… matilah….” Suara itu lagi.

“HENTIKAN!”

 

PLAKK…

Sekyung memukul perawat itu hingga perawat itu terjatuh.

“NONA SHIN!” teriak dokter Kim Yesung, dia memegang tangan Sekyung yang sudah memukul perawat tadi.

“sebaiknya kau pergi saja… “ ujar Dokter Kim dan perawat itu pun pergi dengan sedikit meringis kesakitan.

“…”

“Nona Shin… tenangkan dirimu.. tarik napas dan…”

……………………..

Jonghyun dan Taemin sedang berjalan di lorong, menuju kamar inap Sekyung. Mereka lalu bertemu dengan perawat. Pipi perawat itu tampak merah.

“apa yang terjadi padamu, sunbae?” tanya Taemin.

“nona Shin mengamuk lagi…” jawabnya kesal.

“jinja?! Ayo cepat Taemin!” ajak Jonghyun, dia langsung berlari.

“nde… semoga cepat sembuh sunbae!” jawab Taemin sambil menyusul Jonghyun.

 

BRAAKK…

“apa yang…” Jonghyun tidak melanjutkan kata-katanya karena dia melihat dokter Kim duduk disamping tempat tidur Sekyung. Sekyung sedang tertidur dan tangan kakinya diikat disamping tempat tidurnya.

“sst… diamlah… tolong jaga dia… aku akan memeriksa pasien lain…” ujar dokter Kim dan segera pergi “aku memberinya obat bius, jadi dia akan lama sadar. Dan begitu dia sadar, kuharap kau langsung memberikan dia obat yang ada disampingnya itu…” tunjuk Dokter Kim.

“nde…” jawab Taemin. Jonghyun hanya terdiam, dia mendekati Sekyung.

“kasihan sekali…” ujarnya.

“eh Hyung!” ucap Taemin antusias.

“hmm…?” tanya Jonghyun tanpa mengalihkan pandangannya pada Sekyung.

“dokter Kim Yesung sangat hebat yah? Dia bisa mengendalikan nona Shin Sekyung tanpa perawat satu pun… apa coba yang dilakukannya?”

“entahlah…”

“oh oh oh oh Hyung… apa jangan-jangan dokter Kim melakukan hal yang tidak benar…” Taemin langsung pasang wajah was-was.

“yang tidak benar apanya?” Jonghyun bertanya heran.

“aigoo… sini… stt stt stt…” Taemin berbisik di telinga Jonghyun.

“MWORA… ehmm… mworago?” Jonghyun memelankan suaranya mengingat Sekyung tertidur.

“nde… bukankah itu benar?”

 

PLAKK..

Jonghyun memukul kepala Taemin.

“segila-gilanya dokter Kim, dia gak mungkin sampai melakukan hal itu! pabo!” ujar Jonghyun.

“aigoo… baiklahhh…”

……………………………

“kenapa aku harus berteman denganmu?”

“…”

“kau sama sekali tidak berguna, Sekyung…”

“…”

“hanya begini saja kau tidak bisa?”

“…”

“aku tidak mau berteman dengan orang gila sepertimu…”

“…”

“kenapa kau tidak bunuh diri saja?”

“…”

“kau sangat menyusahkan… pergilah…”

“…”

“kelahiranmu tidak pernah diharapkan…”

“…”

“dia bukan anakku. Tidak ada alasan bahwa dia adalah anakku…”

“…”

“…”

Sekyung mendengarkan suara-suara itu dimimpinya. Sekeliling begitu gelap dihadapannya. Dia hanya duduk seorang diri ditempat itu. ketakutan.

“haruskah aku pergi?” tanyanya pada sebuah cahaya terang didepannya.

“Sekyung, kau begitu lelah kan?” jawab cahaya itu.

“ikuti aku… kita akan pergi…” ujar suara itu lagi. Sekyung bangkit dan mengikuti cahaya itu.

“Sekyung ah… gwenchana?” suara Jonghyun. Sekyung berbalik dan melihat kebelakang. Dia tidak menemukan Jonghyun.

“Sekyung ah… gwenchana?”

“…”

“Sekyung… ironaa..”

“…”

“ironaa…”

……………………………

“Ironaaa!”

“aaaa..” Sekyung terbangun dengan sekali hentakan. Tangan dan kakinya diikat.

“Sekyung.. Gwenchana?” tanya Jonghyun yang ada disampingnya. Taemin juga ikut melihat.

“hm.. dimana, apa yang…” tanya Sekyung bingung. Nampaknya dia masih belum pulih seluruhnya.

“dikamar anda… katanya anda kambuh, makanya diikat…” jelas Taemin.

“siapa kau?” tanya Sekyung heran pada makhluk baru.

“saya? Saya Lee Taemin, temannya Jonghyun Hyung…” jelas Taemin “saya co-ass..”

“hm…”

“sebaiknya kau minum obat dulu…” anjur Jonghyun.

“lepaskan ikatan ini dulu…” balas Sekyung.

“tapi nanti…”

“ani… aku tidak apa-apa sekarang… tolong lepaskan… lagipula bagaimana cara aku minum seperti ini…” ujar Sekyung. Karena benar saja. Dia diikat dengan keadaan berbaring.

“nde… Taeminni ah…”

“yo yo yo…” jawab Taemin. Dia pun melepaskan ikatan dari Sekyung. Setelah terlepas. Sekyung menegak 5 obat sekaligus.

“pelan-pelan nona…” ujar Taemin.

“ehem…” deham Sekyung, dia lalu bersandar dan terdiam sejenak.

“lebih baik?” tanya Jonghyun.

“entahlah…”

“…”

 

KREEEKK…

“Annyeong haseyo, Sekyung…” suara seorang perempuan memasuki ruangan itu.

“annyeong haseyo…” jawab Taemin *siapa salam sama siapa?*

“oh… apa anda dokter? Saya kerabat Sekyung…” ujar perempuan itu.

“jinja?” Taemin tampak antusias “nah, nona Shin, ada kerabatmu…” ujar Taemin pada Sekyung.

“dia bukan…” jawab Sekyung tanpa minat, dia tidak menoleh pada perempuan itu.

“Sekyung-ah…”

“entahlah, obat ini lama sekali bekerja… bisakah kau berkunjung nanti saja?” ujar Sekyung. Perempuan itu tampak sedih.

“baiklah… aku harap kau bisa sembuh… aku akan kembali besok…” ujar perempuan itu dan pergi.

“….”

“sst…” bisik Jonghyun pada Taemin “ikuti perempuan itu, tanyakan info tentang Sekyung. Bisa?”

“ara… aku pergi!” Taemin mengangguk mantap dan berdiri.

“Sekyung, sepertinya aku harus pergi…”

“kau ingin mengejar dia?” tanya Sekyung.

“loh kok kau… uwahh..” Taemin meringis setelah Jonghyun menendang kakinya “eh ehem… nde… aku mau minta nomor hapenya.. hehehe… aku pergi…”

“huft…” Jonghyun menghela napas.

“apa dia memang seperti itu?” tanya Sekyung lagi.

“yah, Taemin memang playboy… dia sangat disukai para noona…” jawab Jonghyun asal “maafkan akuuuuu….” Rengek Jonghyun dalam hati.

…………………….

“noonaaa!!” teriak Taemin pada perempuan tadi.

“hem?” perempuan itu berbalik.

“bisakah kita berbicara sebentar?”

“silahkan…”

“tidak enak disini… di taman saja… kaja!”

“maksudmu mengobrol yah?”

 

Di taman rumah sakit…

“aku teman Sekyung sejak kecil. Sekitar umur SD. Jadi sudah lama sekali…” cerita perempuan itu yang bernama Luna.

“Sejak kecil?”

“hmm… berarti sudah…” Luna menghitung dengan jarinya “sudah 20 tahun…”

“20 TAHUN..??!!” Taemin kaget dengan lebaynya.

“nde…”

“lalu, sejak kapan dia terkena Skizofrenia?”

“sejak kapan yah? Mungkin sejak SMP…” jawab Luna.

“kenapa?”

“molla… saat SMP, dia sering kali berbicara sediri, aku tidak tahu kenapa…”

“…”

“bahkan dia sering mengatakan kalau dia adalah pelukis terkenal… dia sangat suka sekali melukis…”

“ooo…”

“aku harap, kau bisa membantunya yah… aku tidak bisa membantu banyak…” Luna menunduk sedih.

“nde…”

“oh ya… sebelumnya aku juga mau cerita…”

…………………………

“jadi… sejak SMP yah?” koment Jonghyun pada Sekyung saat dia bercerita.

“hmm.. kurasa begitu…”

“pasti sulit…”

“tidak… aku tidak merasa sulit sama sekali saat itu… entah kenapa… lama-lama juga menyakitkan…”

“…”

“aku tidak tahu kalau aku terkena ini. Kupikir hanya sesuatu yang biasa. Aku sendiri tidak bisa mengendalikan diriku…”

“…”

“orang tuaku dan teman-temanku, selama ini sudah bersabar dan membantuku untuk sembuh… aku sama sekali tidak tahu kalau saat itu aku sedang dalam pengobatan. Semua biasa saja… sampai aku dibawa kerumah sakit…”

“…”

“saat itu, dunia terasa gelap bagiku, hingga sekarang. Seperti tidak ada celah bagiku untuk keluar…” Sekyung tampak gelisah. Jonghyun menggenggam tangan kanan Sekyung untuk menenangkannya.

“…”

“aku berusaha untuk menghentikan semua ini… tapi suara itu terus saja keluar… rasanya, aku benar-benar harus mati…”

“Sekyung, kau tidak usah putus asa begitu…”

“Jonghyun, kau tidak mengerti…”

“nde, aku memang tidak mengerti. Tapi kuharap kau bisa percaya padaku. Percaya pada dirimu. Kau bisa sembuh!” Jonghyun menyemangati Sekyung.

“huft…” desah Sekyung “baiklah, bantu aku…” Sekyung pun sedikit tersenyum.

………………………..

Dan hari-hari Sekyung pun dijalani dengan terapi secara teratur. Bahkan Sekyung sempat pulang dan bertemu keluarganya. Jonghyun dan Taemin serta Luna yang mengantarnya. Sekyung sangat senang. Begitu juga dengan Jonghyun dan Taemin.

Sekyung, 3 hari lagi boleh pulang kerumahnya dan dinyatakan sembuh. Jadi hari-hari itu dia tunggu. Saat ini, Sekyung berada di kamar inapnya. Dia menyisir rambutnya yang sudah teratur potongannya. Dia menatap dirinya sendiri di cermin.

“seperti ini lah aku seharusnya…” dia menengadah keatas dan menghirup udara dan menghembuskannya.

“masih 3 hari lagi…” ujarnya pelan.

 

KREKK…

Jonghyun masuk kekamar itu.

“Jonghyun! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sekyung sambil tersenyum.

“ani… hanya menjengukmu…” jawab Jonghyun sambil tersenyum dengan terpaksa.

“ada apa?” tanya Sekyung.

“sebentar lagi kau akan sembuh, kan? Aku senang sekali…” ujar Jonghyun “tapi, aku sedih kita akan berpisah…”

“benar… sebentar lagi aku akan sembuh… aku juga sedih…” Sekyung menunduk “tapi Jonghyun…”

“hmm…?”

“kapan kau sembuh?”

“sembuh bagaimana?” Jonghyun heran dengan pertanyaan Sekyung.

“hmm…” Sekyung tersenyum, dia berjalan menuju jendela yang besar. Dibukanya kedua jendela itu hingga angin semilir masuk dan menerpa wajahnya “aku akan pergi…”

“Sekyung! Ada apa denganmu…???” Jonghyun berteriak dan menghampiri Sekyung yang hampir melompat.

“sadarlah Jonghyun… aku sudah sembuh… maka, sembuhkanlah dirimu sendiri…”

“aku tidak mengerti! Apa yang terjadi padamu… kau mendengar apa?”

“aku hanya mendengarmu… sungguh Jonghyun, aku sudah sembuh…”

“tapi, apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan pergi…” Sekyung menghadap keluar dan mulai melompat.

“SEKYUNGGGG!!!!!” Jonghyun mencoba menangkap Sekyung, tapi tangannya tak sampai. Tak sempat.

“SEKYUNGG!!! APA YANG…” kata-kata Jonghyun terhenti begitu dia melihat ada semburat warna hitam dihadapannya. Mengelilinginya dan mengikatnya. Jonghyun mulai ketakutan. Warna hitam itu…

“Hyung!” Taemin menepuk bahu Jonghyun “ada apa? Kenapa ketakutan?” tanyanya. Tiba-tiba warna hitam itu hilang dari pandangan Jonghyun.

“Taemin. Ada apa ini? Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Sekyung? Dia dia… dia terjun dan… TAEMIN AH!” Jonghyun berteriak melihat Taemin yang menatapnya dengan pandangan kasihan.

“siapa itu Sekyung?” tanya Taemin.

“Taemin-ah… Sekyung, Shin Sekyung! Bagaimana bisa kau tidak mengenalnya?”

“hyung, Sekyung itu tidak ada kan?”

“Taemin…”

“aku juga tidak ada kan, hyung?”

“apa maksudmu?”

“aku dan Sekyung dan semuanya adalah khayalanmu, Hyung!”

“apa maksudmu? Kau mau mempermainkanku?”

“Hyung, kita bukan dokter… bukan aku, bukan juga hyung. Hyung hanya…”

“hanya apa?”

“hyung, penderita Skizofrenia” tegas Taemin dengan sedih.

“apa maksudmu!” Jonghyun kaget dan tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya “tidak Taemin… bukan ini…”

“Hyung… sadarlahhh… kami tidak ada…” ujar Taemin. Jonghyun mulai memukulnya, tapi saat dia memukul Taemin. Taemin malah menghilang bagai bayangan.

“TAEMINN!!!” dia berteriak bagai orang gila. Air matanya keluar. Lalu muncullah bayangan secara flashback kegiatannya. Kenapa? Dia saat itu dengan siapa? Dimana? Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Kenapa tak ada Sekyung sama sekali? Mana Taemin?

“APA YANG SEBENARNYA SUDAH TERJADIIII!!!!”

“….”

“Jonghyun…” dokter Kim Yesung datang.

“dokter Kim, sebenarnya apa yang…”

“sebaiknya minum obatmu dulu…”

“dokter!”

“huft… Jonghyun… jangan mempersulit lagi…”

“dokter! Katakan padaku… apa yang terjadi padaku? Mana yang ilusi, dan mana yang nyata?” Jonghyun bertanya dengan keras.

“Jonghyun…”

“AKU BERTANYA! INI ILUSI ATAU NYATA!”

“….”

“AARGGHHH…!!!”

………………………

— THE END —

…………………….

Dan berakhirlah cerita ini. Author agak takut, hehehe, readers takut gak? Padahal sih Author gak pernah berencana membuat cerita tragis seperti ini. Maunya Sekyung sembuh dan bisa bersama Jonghyun, tapi entah kenapa ide ini muncul. Maaf yah Jonghyun, hehehe… yang penting komentarnya! ^^ thanks for reading..