Let It Go

LET IT GO

Tittle    :          Let It Go

Author :          Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :          One Shot

Genre   :          Tragedy, Friendship, Sad

Cast     :          Bang Minah (Girl’s Day), Jo Kwangmin & Jo Youngmin (Boyfriend)

 

Annyeong, lagi-lagi bikin cerita sedih, tapi ya sudahlah. Semoga cerita ini bisa disukai. Ghamsamhamnida…

…………………………………

 

“oppa, aku sudah dihalte bus dekat lampu merah. Cepatlah”

“mianhae chagi, aku tidak bisa pergi hari ini”

“o waeeee?! Kenapa tiba-tiba membatalkan janji, mana boleh begitu!”

“jeongmal mianhe. Tadinya aku ingin pergi tapi tiba-tiba saudaraku yang di Amerika mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan sampai dibandara dan aku disuruh menjemputnya”

“ck, tapikan kau sudah janji hari ini”

“besok. Aku janji besok aku akan mengantarmu kemanapun kau mau. Aku pinta Bora eonni menjemputmu pulang ya?”

“andwae! Jemput saudaramu setelah itu kesini”

“tidak bisa chagi, setelah ini aku ada acara keluarga”

“tapi kita juga punya acara kan? Pokoknya aku akan tetap disini sampai kau datang, titik!”

Ttiitt…

Minah menutup telponnya dengan kesal lalu duduk dikursi panjang yang ada disitu dengan kasar.

. . . .

1 jam berlalu…

. . . .

Minah mengambil headset dari dalam tas dan mengenakannya dikedua telinga. Yeoja ini memutar musik dari hapenya dengan volume yang nyaring, paling nyaring hingga hampir volume akhir.

Lampu lalu lintas yang berada tidak jauh darinya menunjukkan lampu hijau bergambar orang melangkah dan lampu merah bulat untuk memberi tanda bahwa kendaraan harus berhenti. Minah derdiri dan bersiap-siap untuk menyebrang. Akhirnya gadis ini menyerah setelah menunggu selama 2 jam.

“hei mau kemana? Aku sudah datang” panggil Youngmin disisi jalan saat Minah berjalan melewati setengah jalan raya. Jelas saja kalau yeoja ini tak mendengar atau berbalik ke Youngmin, headset saja masih terpasang rapi ditelinganya.

“chagiya, kau marah?’

“. . .”

“Minah!”

Minah terus berjalan saat Youngmin menyusulnya.

“Minah ya, chakaman”

“. . .”

Minah hanya tinggal beberapa langkah saja untuk sampai diseberang trotoar, traffic light sudah menunjukkan lampu hijau bulat sedangkan Youngmin masih berada ditengah jalan dengan masih terus memanggil-manggil Minah.

Bbrrrmm… ccktt BRUK! BRAK PLAK!!! bugh…

Sebuah mobil yang  melaju dengan kecepatan tinggi menabrak Youngmin den membuat namja ini terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Orang-orang yang berada disekitar situ berlarian melihat keadaan Youngmin dan mengerumuninya. Namja yang malang, hampir seluruh tubuhnya bertabur darah.

Minah telah sampai disisi trotoar. Sebelum melanjutkan perjalanan dia berbalik dan melihat sekali lagi diseberang jalan tempat ia menunggu Youngmin yang dia fikir tak datang-datang menemuinya. Persis seperti drama, Minah tak tahu kalau Youngmin sempat menyusulnya sebelum akhirnya namja malang itu kecelakaan. Yang diketahuinya hanya Youngmin yang ingkar janji dan keramaian ditengah jalan dimana orang-orang berkerumun mengelilingi sesuatu dan sebuah mobil yang posisinya miring. Satu lagi, sejak tadi headset yang dipakainya masih tertata rapi ditelinganya beserta volume suara yang tak berkurang. Minah berbalik dan berjalan kearah yang berlawanan dengan tempat Youngmin kecelakaan, meninggalkan tempat yang akan mengubah semuanya.

……………………………

#8 bulan kemudian

Minah berjalan mendekati seseorang yang sedang asyik bermain piano sendirian lalu duduk disamping orang itu. Yeoja ini tersenyum dan ikut menghayati permainan sinamja.

Plok… plok… plokk…

“wwaaahhh kereen” pujinya setelah bertepuk tangan. “aku tidak tahu kalau kau bisa main piano”

Namja itu tersenyum.

“yeobo, ajarkan aku main piano juga, kau tahukan aku suka piano” pinta Minah.

“benarkah?”

“eo. Kau tidak keberatan mengajariku?”

“tentu saja tidak. 10.000 won perbulan”

“mwo? Kau menyuruhku membayar”

“tentu saja. Apalagi”

“ya! Kenapa kau perhitungan pada pacarmu sendiri. Sebagai namja kau tidak ada romantisnya”

“kau tidak mau? Sebenarnya aku tidak jadi masalah sih”

“nde, nde baiklah. 10.000 won perbulan. Puas?!”

Sinamja tersenyum puas. “deal” ucapnya kemudian.

……………………………………….

MINAH POV

Hhuuffh… tabahkan dirimu Minah. Youngmin, lagi-lagi kau berulah! 10.000 won perbulan katanya? Wah orang ini ngajak bertengkar rupanya. Fine. Kali ini lagi-lagi aku akan sabar. Aarrgghh…

Youngmin berubah. Entah sejak kapan tapi kufikir dia mulai aneh sejak beberapa bulan lalu, lebih tepatnya sejak Youngmin kedatangan saudaranya yang di Amerika. Ck, perubahan Youngmin pasti karena pengaruh saudaranya. Padahal kalau bisa dikatakan dengan singkat kata, Youngmin-ku itu orang yang lembut dan penuh kasih sayang. Tapi kenyataannya sekarang, dia jadi susah ditebak dan suka semaunya. Terkadang bersikap dingin, terkadang suka marah-marah, dan kadang tidak peduli denganku. Ntah apa yang ada dalam pikirannya.

Youngmin, aku merindukan dirimu yang dulu. Tapi meskipun begitu aku akan selalu mencintai dan menyayangimu. Aku akan menerima Youngmin seperti apapun dia berubah.

……………………………………..

AUTHOR POV

Cklck. Youngmin masuk kesalah satu kamar disebuah rumah sakit dan duduk disamping seseorang yang  sedang tidur dengan menggunakan tabung oksigen dan alat bantu pernafasan yang terpasang dihidung dan mulutnya, komputer pendeteksi detak jantung *mian, aku nggak tahu namanya*, dan seperangkat alat rumah sakit yang lain. Tertidur? Mungkin lebih tepatnya orang ini belum sadarkan diri.

“hari ini aku mengajarinya piano” gumam Youngmin setelah duduk. “seperti biasa dia bertingkah lagi, tapi aku selalu bisa mengatasinya.  Awalnya dia bertanya-tanya terus sejak kapan aku bisa piano. Tentu saja itu wajar, kau kan tidak bisa memainkan alat musik” lanjut Youngmin berbicara sendiri tapi jelas kata-kata itu ditujukan pada seseorang yang sedang terbaring dihadapannya.

“Youngmin-ah, apa tidak bosan berbaring dan tidur terus diruangan yang bau obat ini? Ini semuakan salahmu. Siapa suruh meninggalkan acara keluarga dan pergi menemui orang lain” tukas Youngmin, kali ini nadanya jadi sedikit menegas.

………………………………..

FLASHBACK ON

            Sebuah taksi berhenti didepan restoran yang lumayan besar dan berkelas. Salah seorang dari kedua lelaki kembar yang menumpang didalamnya keluar.

“masuklah. Pumonim ada didalam. Aku masih ada urusan” ucap Youngmin, kembaran yang ada dalam taksi.

“urusan dengan pacarmu?” tanya Kwangmin, kembaran satunya lagi yang baru keluar dari taksi dengan nada sedikit tak suka.

“eo. Sampaikan maafku pada eomma dan appa. Nanti aku akan menjelaskannya dirumah”

“Youngmin-ah, setelah acara ini kau bisa menemuinya sesukamu. Ayolah aku baru saja pulang”

“mianhe tapi Minah menungguku dari tadi”

“ya! Dia pasti mengerti, kalau tidak putuskan saja dia dan cari wanita lain yang lebih sabaran”

“hahaha nanti akan kupertimbangkan, sudah ya. Ahjussi…” taksi itu lalu pergi setelah Youngmin memberitahu akan kemana dan Kwangmin masuk kerestoran sendirian.

. . . .

“yoboseyo”

PRAK! Ibu Kwangmin menjatuhkan ponselnya saat berbicara dengan seseorang ditelpon. Wanita ini mendadak kaku dan ekspresinya datar. Tentu saja mengangetkan Kwangmin dan ayahnya yang sedang berbincang-bincang. Suasana diantara mereka jadi menegang.

“ada apa?” ayah Kwangmin bertanya.

“omma?” sambung Kwangmin.

Pertanyaan itu tak dianggap. Si ibu malah berlari keluar sambil berteriak-teriak memanggil nama Youngmin. Keadaan jadi membingungkan. Dengan segera ayah Kwangmin menyusul ibunya yang berlari sambil menangis.

FLASHBACK OFF

………………………….

       “saat itu kau benar-benar bikin heboh” komentar Youngmin saat mengingat kejadian itu lagi.

“eottokhe aboji? Dokter bilang apa?”

       “koma. Katanya Youngmin koma”

Ingat Youngmin lagi saat melihat keadaan kembarannya yang terbaring koma. Yap, namja yang belum sadarkan diri ini ternyata koma. Hingga kini kembarannya itu masih terbaring koma. Rindu. Mungkin kata-kata itu yang lebih tepat ditujukan untuk kembaran satunya lagi kini menjenguknya.

*eottokhe? Apa sampai sini ceritanya membingungkan? Yah memang sedikit membingungkan sih. Baca sajalah terus^^*

……………………………

“yoboseyo. Kau sibuk? Ayo kita kesauna” ajak Minah pada Youngmin melalui telpon.

“tidak juga. Sauna? Bosan!” tolak Youngmin.

“yeobooooooo” rengek Minah.

“yes? I’m here. Kita bertemu dirumah saja”

“tapi aku mau disauna”

“kau tidak mau? Kalau begitu pergilah sendiri. Sebenarnya aku tidak jadi masalah sih”

“mworago? Aish jinjjayo… baik baik, aku akan kesana. Kau puas!”

“jeongmal”

Klik. Youngmin menutup telpon dan tersenyum puas. ‘bagaimana rasanya menuruti segala keinginan orang yang kau sayang dengan mengenyampingkan keinginanmu?  Seperti apa rasanya saat kekasihmu memerintah terus? Tunggu saja Bang Minah, kau akan merasakan bagaimana rasanya berada diposisi Youngmin’, pikir Youngmin.

“keurom, apa sekarang?” tanya Minah saat berada diapartemen Youngmin.

“mm?” Youngmin tampak tak peduli, dia malah asyik menghadap laptopnya.

“apa yang bisa kita lakukan ditempat ini?”

“apa saja. Terserah kau” jawab Youngmin tanpa berpaling dari laptop.

“mwoeo? Kau yang menyuruhku datang kemari”

“dan kau yang ingin bertemu denganku. Lakukan apa saja yang bisa kau lakukan. Anggap saja rumah sendiri”

“cih kau ini… sebenarnya apa yang kau fikirkan? Kenapa mengabaikanku. Kau terus saja meminta ini dan itu tanpa perduli bagaimana perasaanku. Sebenarnya apa yang kau inginkan?!” kali ini Minah menaikkan sedikit nada suaranya.

“. . .” Youngmin tak bergeming, matanya masih tertuju pada laptop.

“hhaisss terserah kau saja” gumam Minah mengalah.

“ya ya, chakaman” panggil Youngmin saat Minah berbalik dan hendak berjalan. “lihat ini” tunjuknya pada layar laptopnya. Minah menurut dan menunduk untuk melihat.

Jpret…

“Youngmin-ah, apa yang kau lakukan” tukas Minah kesal karena tiba-tiba Youngmin memotonya.

“waah lihat itu. Ckckck, tidak terlihat cantik sama sekali” Youngmin malah memperhatikan foto Minah yang tiba-tiba diambilnya tanpa perduli Minah suka atau tidak.

“mworago? Sudah memotret sembarangan sekarang kau malah menghinanya. Hapus!”

“mmm editan seperti apa yang bagus ya”

“Jo Youngmin!”

“ah bagaimana kalau yang ini?  Eh ani, ini terlalu bagus, yang ini saja”

Minah menatap Youngmin garang, tapi Youngmin tak perduli dan seakan berasa didunia sendiri.

“YA!” teriak Minah sekali lagi.

“nah beri tanduk dikepala lalu…”

“aisssh orang ini benar-benar…”

Minah merebut laptop itu. Saat foto hampir dihapus, dengan sigap Youngmin merebutnya kembali. Sudah bisa ditebak, setelah itu terjadi perebutan diantara keduanya. Yang satu memasang wajah tertawa penuh kemenangan (Youngmin), sedangkan yang satu lagi tampak kesal dan marah (Minah) karena selalu gagal merebut objek yang jadi perebutan.

………………………………….

“hari ini dia ke apartemen. Sebenarnya dia ingin ke sauna tapi aku tidak mau” ungkap Younmin. Sudah jadi kebiasaannya untuk selalu bercerita setiap kegiatannya dengan Minah pada kembarannya yang masih terbaring koma. namja ini berdialog sendiri.

“Youngmin-ah, ini sudah hampir 10 bulan. Kau tidak rindu pada Minah? Sampai sekarang dia tidak tahu kau disini, dia tahu kau kau baik-baik saja”

“. . .”

“Youngmin-ah, aku tidak bisa menggantikanmu terus, aku juga punya kehidupan sendiri. Kau tahu? Hari ini Minah terlihat manis. Karena selalu bersamanya itu wajarkan? Ada kalanya aku merasa bergetar saat bersama dia. Oleh karena itu cepat buka matamu sebelum aku benar-benar yakin pada perasaanku”

Youngmin berdiri dan bersiap pergi.

“berterima kasihlah padaku karena selama kau disini aku yang menjaganya. Kalau tidak bisa-bisa dia pindah kelain hati. Atau bagaimana kalau dia pindah kehatiku?… ah tidak aku hanya bercanda. Baiklah aku pergi” pamit Youngmin lalu keluar dari ruangan itu.

Selang beberapa detik kepergian Youngmin atau seseorang yang menyamar jadi Youngmin karena jelas-jelas Youngmin asli sedang koma, tangan Youngmin (yang terbaring koma) mulai menggerak-gerakkan jari tangannya dengan pasif dan pelan. Perlahan namja ini membuka mata, mengedipkannya sekali dan mengedarkan pandangan keruangan yang kini hanya ada dia seorang.

………………………………

#seminggu kemudian

“kau mau kemana?”

“kesuatu tempat, hanya sebentar”

“kau belum benar-benar sehat. Jangan kemana-mana, jangan meninggalkan rumah sakit!”

“omma aku sehat, saaangat sehat. Baiklah aku pergi dulu. Annyeong omma”

“ya! Aish anak nakal itu. Nde terserah kau saja, pergilah!”

Youngmin pergi dengan tersenyum puas setelah mendapat restu dari sang ibu. Wanita yang hanya tinggal sendirian diruangan itu luluh dengan semangat dan senyum sang anak yang akhirnya dapat terlihat kembali.

………………………….

“ada apa?” tanya Minah to the point saat mereka (dia dan Youngmin) bertemu disuatu tempat yang penuh dengan pohon sakura. Dengan masih sedikit tersengal karena berlari untuk segera sampai, Youngmin memeluk Minah. Tentu saja pelukan ini tak dibalas, raut keheranan diwajah Minah tampak jelas.

“wae?” tanya Minah.

“ani. Bogosippo. Neomu bogosippo”

“mm? Baru beberapa hari tidak bertemu kau sudah rindu?”

“tentu saja, aku selalu merindukanmu. Yah memang rasanya seperti beberapa hari. Waktu sangat cepat berlalu”

Youngmin melepas pelukannya.

………………………………

MINAH POV

Aneh! Tiba-tiba mengajak bertemu, memeluk, perhatian dan bersikap manis. ini seperti… Youngmin yang dulu. Nah itulah kenapa aku bilang Youngmin ini susah ditebak.tapi aku suka, dia bisa menjaga perasaanku dan membuatku nyaman. Tidak seperti yang kemarin-kemarin, hanya membuat kesal dan memerintah saja. Yeobo Kau makan apa hari ini hingga semanis itu? Whatever, I don’t care. Aku suka Youngmin yang dulu, kemarin dan saat ini.

Sepertinya ada beberapa hal yang berubah dari diri Youngmin, apa ini hanya perasaanku saja?.

Beberapa hari tidak bertemu rambutnya jadi tambah panjang. Apa dalam beberapa hari bisa sepanjang ini? Bang Minah mungkin ini hanya perasaanmu saja.

………………………………

AUTHOR POV

“chagiya, kau ingat saat aku dibandara menjemput saudaraku?” tanya Youngmin. Saat ini mereka sedang jalan-jalan disebuah taman.

“ingat. Saaangat ingat! Waktu itu aku seperti orang bodoh yang kurang kerjaan”  jawab Minah sedikit menyindir.

“hahaha mianhe, aku ingin mengenalkanmu padanya”

Tidak jauh dari tempat mereka berjalan, Youngmin mengajak Minah menuju sebuah kursi yang cukup panjang dan diduduki oleh seorang namja yang duduk memunggungi mereka.

“itu, dia disana. Saat melihatnya kau pasti terkejut” ungkap Youngmin antusias. “namanya Kwangmin” lanjutnya.

Saat mereka telah sampai pada orang itu, Youngmin menyapanya dan namja itu berbalik. Yap seperti tebakan Youngmin, keduanya terkejut saat saling bertatap.

……………………………….

MINAH POV

“itu, dia disana. Saat melihatnya kau pasti terkejut. Namanya Kwangmin”

Kami berjalan mendekati orang itu,Youngmin menyapanya dan orang itu berbalik. Omo! Jantungku hampir berhenti berdetak. Ini kah saudara Youngmin? Untuk ukuran saudara orang ini terlalu mirip. Jangan-jangan…

Omona! Mereka kembar! Aku hampir tidak bisa membedakan mereka kecuali melihat dari model rambutnya. Kau benar Youngmin, aku sangat terkejut.

Chakaman, yang disampingku ini Youngmin dan didepan ini Kwangmin. Youngmin beberapa hari lalu bukankah gaya rambutnya seperti Kwangmin, bukan mirip tapi aku yakin kalau ini model rambutnya. Lalu bagaimana dengan Youngmin yang sekarang rambutnya memanjang? Aku seperti tidak mengenalnya. Aigoo ini membuatku bertambah bingung. Apa-apaan kedua kembar bersaudara ini!.

………………………………

KWANGMIN POV

Kenapa Youngmin mengajak bertemu disini? Dia ingin mengenalkan aku dengan siapa? Rahasia sekali. Padahal omma melarangnya keluyuran.

 

       “Youngmin-ah, untuk sementara kau tinggal dirumah sampai dipastikan kau benar-benar sudah sehat kembali” perintah omma.

       “tapi… bagaimana dengan apartemenku? Saat ini tempat itu pasti sudah seperti kuburan”

       “sepulang dari Amerika Kwangmin yang tinggal disana. Gwenchana, apartemenmu bersih dan terawat”

       “nde itu benar. Kau dirumah saja, aku masih betah ditempatmu”

 

“Kwangmin-ah!” panggil seseorang dari belakang sambil menepuk bahuku.

“a!” jeritku terhenti. Ternyata itu Youngmin, kurasa tepukannya cukup keras hingga mampu mengagetkanku dari lamunan.

       “ya apayo”keluhku seraya berdiri dan berbalik.

Astaga! Hampir saja aku terloncat kaget melihat Youngmin dengan seseorang, harusnya aku bisa menduga siapa orang yang ingin diperkenalkan denganku. Bang Minah.

Aish jinjjayo, semoga saja Minah tak mengenalku.

…………………………..

AUTHOR POV

“Kwangmin-ah ini yang namanya Minah, nae yeojachingu” papar Youngmin.

“ottokhe? Kau terkejutkan? Haha kau pasti terkejut. Aku sengaja tidak memberitahumu kalau kami kembar, aku ingin memberi kejutan” ungkap Youngmin lagi, kali ini dia berbicara pada Minah.

Kwangmin mengulurkan tangan tanda perkenalan setelah keduanya sempat bengong dengan pikiran masing-masing. Dengan sedikit ragu Minah mengulurkan tangan dan menyambut uluran tangan Kwangmin, seseorang yang dia fikir sudah dikenalnya.

“Kwangmin imnida”

“Minah-imnida”

…………………………

“annyeong, kau sibuk?” sapa Minah saat Kwangmin membukakan pintu (diapartemen Youngmin).

“ani, ada apa?”

“aku bosan dirumah makanya kesini. Apa aku mengganggumu?”

Minah berjalan masuk mendahului Kwangmin, baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik.

“chakaman, kau Youngmin atau Kwangmin?” tanyanya *Minah eonni kita sama, aku juga nggak bisa bedain mereka. Lanjut kecerita*.

“. . .” Kwangmin diam sejenak. “tentu saja Youngmin, kau ini bicara apa?” jawabnya berbohong.

“benarkah? Hehe aku hanya masih bingung membedakan kalian”

Minah melanjutkan langkahnya lalu duduk diruang tamu.

‘dasar polos’ pikir Kwangmin ‘polos atau memang bodoh? Whatever’. Kwangmin lalu menutup pintu dan berjalan masuk.

“aku akan mengambil minuman” ujar Kwangmin lalu pergi kedapur.

“eo” jawab Minah singkat.

Belum lama yeoja ini melemaskan otot kaki diruangan yang tidak terlalu besar itu, hapenya berdering.

“Youngmin?” gumamnya sendiri saat melihat nama orang yang mengirim sms.

From: Youngmin

Saengil chukka chagiya^^

Memang ini terkesan cepat, tapi lusa adalah ulang tahunmu. Kita akan merayakannya sesuai keinginanmu^.~

 

To: Youngmin

Apa yang kau bicarakan? Kalau sudah selesai membuat minuman keluarlah.

 

From: Youngmin

Minum apa? Aku sedang tidak melakukan apapun. Siapa yang kau maksud dengan membuat minuman?

 

To: Youngmin

Youngmin-ah, aku sedang tidak bercanda. Jangan mempermainkanku!

Saat menunggu balasan dari Youngmin, Kwangmin keluar sambil membawa 2 gelas minuman dingin dan beberapa cemilan.

“yang ada hanya ini, cemilan pun seadanya” ucapnya seraya duduk.

“aish kau ini. Jika ada yang ingin dikatakan, ucapkan saja langsung” sahut Minah yang mengira bahwa namja yang duduk didepannya adalah Youngmin yang sedang smsan dengannya.

“ng? Katakan apa?” tanya Kwangmin heran.

Hape Minah berdering kembali.

From: Youngmin

Siapa yang bercanda? Aku serius.

Minah tambah bingung.

To: Youngmin

Kau dimana, sedang apa?

Kau bersama Kwangmin?

Setelah mengirim pesan itu, Minah meminum minumannya lalu bicara pada Kwangmin seperti biasa dengan menyembunyikan kecurigaannya sebelum dipastikan itu benar. Hapenya kembali berdering.

From: Youngmin

aku dirumah orang tuaku, saat ini aku hanya tiduran. Untuk sementara aku tinggal disini.

Aku sendirian, Kwangmin tinggal diapartemenku, mungkin dia sedang disana.

       ‘MWORAGO?’ batin Minah.

“nuguya?” tanya Kwangmin saat melihat ekspresi Minah yang serius pada hapenya.

“ng? A ani. Nanti saat perayaannya kita berdua saja ya” jawab Minah. Apa yeoja ini sudah tahu kalau lawan bicaranya bukan Youngmin? Maybe.

“perayaan? Mau merayakan apa?” tanya Kwangmin polos.

“heh, Kau lupa? Coba ingat-ingat kembali” pancing Minah. Yup, ternyata yeoja ini mengujinya dan ternyata orang itu bukan Youngmin.

Kwangmin berfikir sejenak. “naneun molla. Mungkin karena kecelakaan waktu itu aku jadi lupa” ungkapnya.

“kecelakaan? Kau pernah kecelakaan?”

Wajah Kwangmin menegang, mungkin dia tak menyangka bahwa kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“ah mungkin karena aku banyak pikiran makanya jadi mengigau. Selesai minum kau pulanglah, aku mau istirahat” ucap Kwangmin seraya berdiri dan hendak berjalan menuju kamar yang tak jauh dari tempat mereka.

“apa ini ada hubungannya denganku?” Minah berdiri. Kwangmin menghentikan langkahnya dan berbalik kembali.

“mwoya? Pabo! Tidak semua tentangku ada hubungannya denganmu”

“bukan kau tapi Youngmin!”

“kau ini bicara apa?”

“kau Youngmin? Apa kau Jo Youngmin hah?. Katakan padaku, kau atau Youngmin yang pernah kecelakaan”

“sepertinya otakmu mulai tidak waras, mungkin lebih baik kau pulang sekarang”

“wae? Kalau Youngmin dia pasti akan menjawab ini dengan mudahnya lalu mengantarku pulang walau dirasa tubuhnya sedang tidak sehat. Kau Youngmin? Apa kau Jo Youngmin?” desak Minah terus. Kwangmin hanya diam, menunjukkan ekspresi datar yang sulit ditebak.

“tidak bisa jawab, kan? Aigoo ternyata kau kembaran yang buruk. Kau pikir ini lelucon yang lucu? Dasar konyol!” umpat Minah kemudian dia menyelipkan tasnya dibahu lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

“bagaimana denganmu? Kau pikir dirimu baik? Kau bahkan lebih menyedihkan dari itu!” umpatan Minah ternyata cukup untuk membuat kwangmin naik darah. Gantian sekarang yeoja ini yang terdiam dengan raut kesal lalu mendatangi Kwangmin.

“aku tidak tahu apa masalahmu tapi kenapa kau tiba-tiba mencari masalah denganku.  Kau membenciku?!”

“ya itu benar. Kau puas? Pergilah!”

“mworago? Atas dasar apa kau membenciku? Kau tidak suka aku pacaran dengan Youngmin?”

“tutup mulutmu!”

“dan lagi, apa ini kegiatan yang sering kau lakukan saat di Amerika? Kenapa kau tidak mencari hobi lain saja tanpa menggangu orang”

BRUKK!! Kwangmin mendorong tubuh Minah dengan keras hingga kedinding.

“kubilang tutup mulutmu!” bentaknya. “kau yang tidak tahu apa-apa seharusnya diam saja”

Minah tercengang, tapi didetik berikutnya dia melawan dan berusaha melepaskan cengkraman Kwangmin namun gagal.

“kau pikir aku senang selalu berada disisimu, berpura-pura mencintaimu dan menjadi orang lain?” lanjut Kwangmin. “Mengorbankan hari-hariku hanya demi kau yang bahkan tidak perduli dengan apa yang terjadi pada Youngmin”

“apa maksudmu? Youngmin kenapa?”

Kwangmin mengendurkan cengkramannya dan mundur beberapa langkah.

. . . .

Minah masih menunggu jawaban Kwangmin dengan berdebar.

“kau… katamu kau mencintai Youngmin tapi kenapa kau egois. Youngmin bukan hanya milikmu saja, kami juga membutuhkan dia”

“. . .”

“harusnya kau bersyukur karena setelah koma dia masih bisa sadar kembali”

“tu tunggu dulu… koma? Tadi kau bilang… Youngmin baru sadar dari koma?”

“. . .”

“mphh hahahahahahhahaha”

“YA! Kau pikir ini lucu!”

“sangat. Ini bahkan terlalu lucu. Karanganmu benar-benar konyol! Youngmin selalu bersamaku selama ini”

“disitulah letak kebodohanmu Bang Minah! Kau terlalu naif untuk bisa menyadari dari awal hingga akhir. Kau bahkan tidak perduli yang bersamamu itu Youngmin atau bukan, yang penting mereka berwajah sama dan itu pasti Youngmin, neol namjachingu”

Minah membungkam, pikirannya sibuk mencerna kata-kata Youngmin yang begitu rumit baginya. Menit berikutnya, samar-samar yeoja ini menyadari maksud Kwangmin dan serta merta membulatkan matanya.

“kecelakaan apa yang menimpa Youngmin? Kenapa dia sampai koma? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa tak ada yang memberitahuku? Kenapa kau berpura-pura jadi Youngmin dan terus menipuku? Apa maksud dan tujuanmu berbuat begini? Kenapa? Kenapa? Kenapa!!!” wajah Minah merah dan memanas, matanya mulai berair. Yeoja ini lebih merapatkan tubuhnya kedinding dengan lemas. Pikirannya menerawang mencari masa-masa bersama Youngmin sesungguhnya dan saat-saat dia bersama Kwangmin yang dipikirnya itu Youngmin.

Kwangmin menyeringai. “ribet sekali, satukan saja pertanyaanmu” gumamnya meremehkan.

Setelah dirasa cukup stabil, Minah menatap Kwangmin penuh amarah.

“hhmm baiklah, aku saja yang menyatukan jawabanku” lanjut Kwangmin sambil mengedarkan pandangan untuk menghindari tatapan Minah.

“saat itu baru beberapa jam kedatanganku dari Amerika, tiba-tiba seorang dokter menelpon ibuku dan mengatakan Youngmin terluka parah karena ditabrak sebuah mobil dan akhirnya koma. Kau pasti tahu tempat kejadiannya dimana” mulai Kwangmin. Mendengar itu Minah langsung teringat dengan sekerumunan orang-orang yang mengelilingi sesuatu ditengah jalan sebelum akhirnya dia pergi dari situ dengan kesal karena Youngmin yang tak kunjung datang. ‘pabo! Kenapa kau menyusulku’ sesal Minah.

“memang tak ada yang memberitahukanmu karena sejak awal ini rencanaku. Cih, padahal aku masih ingin bermain-main sebentar lagi”

“wae?” hanya itu kata-kata yang dapat Minah ucapkan,semua ini terlalu mendadak baginya. Matanya menjalar kesegala arah untuk menahan air matanya agar tak keluar.

“seperti yang pertama kau katakan, aku membencimu! Kau tak pantas pacaran dengan Youngmin, dia terlalu baik untukmu. Sedangkan kau, kau egois, kekanak-kanakan dan hanya mementingkan diri sendiri”

“. . .”

“ottokhe? Berkencan dengan 2 orang kembar bersaudara menyenangkan? Apa kau menikmatinya?”

“kurang ajar!”

Kwangmin kembali menyeringai.

“sepertinya lingkungan Korea terlalu baik untuk orang jahat sepertimu, sebaiknya kau kembali ke Amerika untuk mengimbangi kejahatanmu karena disanalah cara seperti ini akan berlaku dan kujamin kau pasti akan mendapat perlakuan yang lebih menyakitkan!” setelah berkata begitu, Minah mengambil tasnya yang tadi terjatuh dilantai dan pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.

“lepaskan!” titah Minah. Saat membuka pintu dan hendak keluar, Kwangmin memegang tangannya dan menutup kembali pintu tersebut. Tanpa berkata apa-apa Kwangmin memaksa yeoja itu berjalan kembali kedalam.

“ya lepaskan. Kau dengar? Lepaskan aku!” Kwangmin terus menarik tangan Minah tanpa perduli apa yang yeoja itu ucapkan. Dalam sekali hentakan kuat, pegangan berhasil terlepas.

PLAKK!! Sebuah tamparan yang keras mendarat diwajah Kwangmin. Minah juga berhasil mengendalikan perasaannya.

Semua berakhir sampai disitu? Jawabannya tidak. Kwangmin kembali mengulang itu lagi namun pegangannya bertambah keras, mungkin nanti akan berbekas dipergelangan tangan Minah. Kali ini Kwangmin membawanya masuk kekamar lalu mengunci pintu kamar tersebut *O.O*. saat kunci ingin direbut, Kwangmin membuangnya kesembarang arah dan entah terlempar kemana.

“apa yang kau lakukan? Dasar gila!!” umpat Minah dengan murka.

Kwangmin tak menjawab, dia malah mencengkram kedua bahu Minah dan lagi-lagi menjerumuskannya kedinding. Minah melawan tapi tenaga Kwangmin terlalu besar.

“kau salah jika menganggap yang tadi itu cara orang Amerika bermain. Mau tahu bagaimana cara mereka bermain yang sesungguhnya? Akan kuberi tahu agar kau tak keliru. Let’s play”

Kwangmin (lagi-lagi) menarik Minah tapi kali ini membaringkannya dengan paksa diranjang lalu mengunci tubuh Minah dengan tubuhnya.

“seperti ini cara mereka (American people) bermain-main” ungkapnya datar. Jarak diantara keduanya hanya terpaut beberapa sentimeter saja. Kemudian Kwangmin…

*omo!!! (9999999999X) aku nggak bisa terusin untuk bagian yang ini >.<, terserah kalian saja mau membayangkannya seperti apa*

BRAKK…

Tendangan kaki kanan Minah berhasil menjauhkan Kwangmin darinya. Alhasil, Kwangmin terjerungkup cukup keras kedinding hingga dia terduduk. Minah bangun dan berdiri.

“KAU!!!” teriaknya sambil menunjuk Kwangmin, airmatanya bercucuran sekarang. “Kwangmin atau siapapun namamu, jangan pernah muncul dihadapanku lagi!”.

Minah mengambil kunci yang tergeletak disamping ranjang, membuka pintu lalu keluar dengan langkah cepat. Terdengar suara gebrakan pintu yang sangat keras dari pintu utama.

……………………………

MINAH POV

#2 hari kemudian…

“benar kau tidak ingin tiup lilin?”

“ye, begini saja sudah cukup”

Youngmin membakar kembang api yang kupegang dan membakar punyanya sendiri. Saat ini kami sedang berdiri dipinggir sungai Han dengan membakar kembang api. Ini memang bukan tahun baru tapi ini ulang tahunku. Kami merayakannya sesuai keinginanku.

Aneh. Seharusnya saat ini aku bersenang-senang, tapi sepertinya ada yang kurang.

“yoboseyo” hape Youngmin berbunyi dan dia mengangkatnya. Aku hanya diam sambil memandang kembang api yang kupegang menyala.

“mwo? Andwae, aku tidak mengizinkan… ya! Apa yang kau lakukan? Kau seharusnya beritahu aku dulu baru kau boleh pergi… seharusnya aku yang berkata seperti itu, kau ini benar benar-benar,, aish terserah kau saja. Jaga dirimu baik-baik”

Youngmin menutup telponnya dengan sedikit kesal.

“nuguya?” tanyaku penasaran.

“Kwangmin…”

(DEG) jantung bodoh, kenapa kau tiba-tiba melompat? Neomu Pabo!.

“dia sudah pulang tanpa memberitahuku sebelumnya” lanjut Youngmin.

“Amerika?” Youngmin mengangguk. “lalu kenapa kau marah?”

“aku belum puas bersamanya, dia tiba-tiba menelpon dan berkata sudah sampai di LA”

“ohh…” aku seperti tidak puas dengan kata ‘oh’ yang keluar dari mulutku, tapi kata-kata inilah yang terpilih utuk diucapkan.

Sijahat itu pergi? Baguslah. Ternyata dia masih punya rasa malu. Beraninya dia berbuat seperti itu, mengingatnya saja sudah cukup membuatku naik darah. Seharusnya waktu itu aku melawan sekuat tenaga dan keluar dari sana secepatnya.

“kembang apinya indah” gumam Youngmin sambil tersenyum lembut.

Hhuuffhh, apa yang sedang kau fikirkan Minah? Bersenang-senanglah. Tapi aneh rasanya bertemu Youngmin yang sifatnya jauh berbeda dengan Kwangmin, sedangkan aku sudah terbiasa dengan Kwangmin. Andwae! Jangan berbicara tentang nappeun namja itu. stop.

Apa sebenarnya yang hilang? Kenapa hatiku gusar terus? Aku kehilangan Youngmin? Tidak, dia disampingku sekarang. Kwangmin? Lebih tidak mungkin! Memang rasanya seperti ada yang hilang tapi jelas yang hilang itu bukan Kwangmin. Bukan dan tidak. Aku menyangkalnya dengan sepenuh hati.

Hahhh tenanglah Minah, mungkin ini hanya perasaanmu saja. Abrakadabra lupa!.

Youngmin menatapku sekilas lalu tersenyum saat kulingkarkan tangan kananku dilengannya. Dia kembali memandang air sungai yang tenang disore hari itu.

“saranghe” gumamku.

“ada apa?” tanyanya heran namun tak menghilangkan kelembutannya.

“ani. Aku hanya ingin bilang kalau aku mencintaimu selamanya”. Itu benar, aku mencintai namja ini. Hanya dia, selalu dan selamanya.

…………………………..

KWANGMIN POV

#Los Angeles, Amerika

Ah kupikir tidak akan pernah ketempat ini lagi. Jujur saja, aku sangat rindu dengan tempat ini. Jalan-jalan ditaman yang dipenuhi dengan orang-orang bertubuh tinggi dan berambut pirang. Apa aku juga perlu memirangi rambutku supaya aku terlihat seperti mereka?

       “Kwangmin atau siapapun namamu, jangan pernah muncul dihadapanku lagi!”.

Yeoja itu… hufhh aku tahu aku keterlaluan, tapi saat itu aku benar-benar naik pitam dibuatnya. Seharusnya dia bisa mengerti sekarang dan berubah jadi sedikit lebih dewasa setelah apa yang dilaluinya selama ini. Aku tidak benar-benar membencinya, aku hanya ingin dia merasakan bagaimana rasanya  jika berada diposisi orang lain dan sulitnya menghadapi sifatnya yang suka sesuka hati, dengan begitu dia akan bersikap lebih dewasa dan bisa menghargai orang lain. karena aku bukan guru yang sesungguhnya, maka semua pelajaran ini berakhir dengan buruk. Bahkan kami bertengkar sebelum  kepergianku. Dia pasti berfikir bahwa aku pengecut dan melarikan diri.

Yah setidaknya melarikan diri dari dia itu benar, karena kalau tidak, aku takut akan keinginan untuk memilikinya. Makanya sesegera mungkin, kularikan diriku kesini sebelum hal terburuk nantinya akan terjadi. Wanita Barat juga tidak kalah cantik.

Oke Kwangmin, kendalikan dirimu, berhenti membicarakan dia. Tidak ada rasa suka apalagi mencintainya, semua itu belum sempat terjadi. Yah seperti itu, aku tidak mencintainya. Yakinkan dirimu Kwangmin.

Udara disini sangat sejuk dan nyaman. Tidak salah kalau kujadikan tempat ini sebagai tempat favoritku.

“uwahh, taman ini semakin indah saja”

THE END

………………………………………….

Otteokhe? Bagus nggak? Mian kalau ceritanya sedikit dewasa. Sampai bertemu dicerita lainnya, gomawoyo. Annyeong…

*mohon tinggalkan jejak dengan berkomentar atau memberi saran^^, tapi kalau ada yang ingin dikritik tolong jangan terlalu keras ya T.T*

One response to “Let It Go

Komentar ditutup.