I Need You (Part 1)

I NEED YOU

Tittle    :          I Need You (part 1)

Author :          Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :          Continue

Genre   :          Friendship, Sad, Romantic

Cast     :          Kang Minhyuk [CN Blue], Woo Ri, Huang Zi Tao [EXO], Victoria [F(x)]

Annyeong^^ Author kembali lagi dengan ff yang lain. Tau Woo Ri kan? salah satu pemain Heartstrings yang berperan sebagai Han Heeju. Di drama itu dia dipasangin sama Minhyuk, Author suka mereka cocok banget. Oleh karena itu sekarang Author coba bikin ff mereka berdua. Hope you like it^^,

 

…………………………………..

       “saat kau membutuhkanku tapi tak menginginkanku, maka aku akan ada untukmu karena aku dibutuhkan. Saat kau sudah tak membutuhkanku tapi menginginkanku, maka saat itulah aku akan pergi”

Pabo! Kalau mau pergi ya pergilah, jika ingin mengganggu ya katakan saja. Datang tak dijemput seharusnya pulangpun tak diantar *jelangkung???*

       “jangan berlagak sok kuat, didepanku kau tidak bisa menyembunyikan apapun dengan sok tertawa dan segala kebahagiaanmu”

Aneh! Maksudnya aku penuh kebohongan dan dia tahu segalanya? Tahu apa kau Kang Minhyuk? Orang aneh, seolah-olah tahu isi hatiku dan bisa membaca apa yang ada dalam fikiranku.

“I’m yours Nanny McPhee dan Woori adalah asuhanku. Jadi Woori ceritakan saja semua masalahmu padaku, kita akan menanggungnya bersama”

Pabo lagi. Curhat padamu juga tidak akan menyelesaikan masalahku. Untuk apa masalah itu ditanggung kalau akhirnya aku sendiri yang menyelesaikannya. kau hanya pintar bicara Kang Minhyuk.

“Woori-ya” panggil Victoria, atau yang biasa kupanggil Vic dengan setengah berteriak ditelingaku.

“m?” jawabku linglung. Aish lagi-lagi melamun.

“aigoo, kau itu tuli?… aku mau keperpustakaan”

“ohh, pergilah”

“kau tidak ikut?”

“ani, aku disini saja” kulipat kedua tangan diatas meja dan kembali merebahkan kepalaku diatasnya.

“sebenarnya Tao juga diperpus” bisik Vic. Sontak aku terbangun dan berdiri dari duduk.

“jadi keperpus ya? Sekarang? Ayo!” ucapku semangat sambil menggamit tangan Vic dan bergegas menuju perpus.

………………………………

#perpustakaan

Omo! Ottokheyooo  aku gugup sekali, tapi juga senang. Waeyo? Karena namja didepanku ini. Namanya Huang Zi Tao, biasa dipanggil Tao. Seorang siswa pertukaran pelajar asal Cina dan mendapat beasisiwa sekolah di Korea, jago bela diri wushu dan suka olahraga basket. kami seangkatan tapi sayang beda kelas. Cuma Vic yang tahu kalau aku menyukai orang ini.

Hanya memandanginya seperti ini saja sudah membuatku senang. Aigoo namja ini membuatku gemas, aarrgghhhh *jangan rebut Tao AuthorT.T #ngerengek*. Saat ini kami sedang belajar bersama, aku, Vic dan Tao. Umm… sepertinya kurang tepat kalau dibilang belajar bersama, karena hanya Vic dan Tao saja yang benar-benar belajar. Dan aku? Aku hanya sekedar buka-buka buku tanpa tahu apa isinya, tentu saja tidak tahu, melirik tulisannya saja aku tidak berminat. Jadi sejak tadi aku hanya berkutat dengan sebuah buku sambil sesekali melirik Tao. Yah, buku itu hanya sekedar tameng untuk menutupi wajah senangku.

Minggu depan akan ada olimpiade fisika dan mereka berdua ini adalah pesertanya. Oleh karena itu sejak tadi mereka fokus pada buku  dan pelajarannya, berbasa-basi saja tidak ada waktu, jadi dari tadi aku hanya diam. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, pasalnya mereka selalu menggunakan bahasa ilmiah seperti atom, elektrolit, iodium, dan bla bla bla…

Aku tidak tahu apa enaknya jadi murid pintar dan selalu nempel dengan buku-buku yang rrrgh… melihat sampulnya saja sudah membuat otakku rumit. Karena yah inilah aku, yeoja dengan segala kekurangan.

………………………….

AUTHOR POV

‘omo!’ jerit Woori dalam hati seraya terbangun dari tidurnya. Dia kaget mendengar sepasang suara dipagi itu yang mataharinya saja belum terlihat jelas. suara itu begitu lantang dan keras hingga mampu membangunkan Woori untuk kesekian kalinya pada pagi hari.

Lagi dan lagi. Kedua orang tua Woori lagi-lagi bertengkar kala itu. baik siang atau pun malam, setiap kali bertemu tak ada percakapan hangat yang dibicarakan oleh sepasang suami istri itu. pertengkaran mereka seperti tak ada habisnya bahkan sudah menjadi kebiasaan bagi Woori, anak tunggal mereka yang selalu melihat dan menyaksikan pertengkaran itu.

Karena sudah terlanjur melek, Woori bangun lalu mandi dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Terasa masing-masing memiliki dunia sendiri, Woori mondar-mandir melewati kedua orang tuanya yang sedang asyik bertengkar dan berpura-pura menganggap hal itu sedang tak berlangsung. Walaupun sebenarnya yeoja ini menyimpan kesedihan dalam hatinya karena kedua orang tuanya yang tak pernah akur sejak dulu. Tapi karena kesedihan itu terlalu dalam, dia sendiri jadi tak dapat merasakannya lagi.

Woori berdiri didepan pintu rumahnya dengan telah berseragam lengkap. “tak ada orang setabah dirimu Woori, jangan biarkan hal ‘itu’ jadi benalu buatmu” gumamnya lalu beranjak pergi meninggalkan kediamannya.

……………………………..

       “ottokhe? Sudah kau katakan?” tanya Minhyuk. Woori dan dia sedang duduk diayunan yang lokasinya cukup dekat dengan sekolah dan tempatnya juga terpencil, sepulang sekolah hampir setiap hari Woori akan kesini.

“ani” jawab Woori sambil menganyunkan ayunannya.

“waeyo?”

“tentu saja malu, bagaimana kalau ternyata dia punya pacar”

“dia punya pacar?”

“mollayo, bagaimana aku bisa tahu”

“justru sikapmu yang seperti ini bisa membuat peluang bagi yeoja lain untuk mendekatinya”

“. . .”

“terus terang saja, katakan suka padanya”

“aku belum siap ditolak”

“cssshh” Minhyuk mendesis “dasar yeoja. Simpan saja harga dirimu dan tembak dia”

“seandainya aku pegang pistol sekarang pasti kau yang kutembak!. Aku ingin sendiri, pergilah”

“andwae, kau membutuhkanku”

“nugu? Nae? Andwaeyo! Tak ada yang membutuhkan dan menginginkanmu, arachi”

“tapi keadaanmu berkata sebaliknya. Semakin kuat penolakanmu berarti semakin jelas bahwa kau selalu membutuhkanku”

“ya ya ya, terserah apa katamu saja” Woori berdiri dan merapikan sedikit seragam sekolahnya “ayo” ajaknya pada Minhyuk.

“kemana?” Minhyuk masih duduk duduk diayunannya

“kemana saja, disuruh pergi kau tak mau. Jadi lebih baik kita jalan-jalan”

“ah ani, kau pergilah”

“wae? sepertinnya kau betah berlama-lama ditempat ini”

“karena ini tempatku”

“kau tinggal disekitar sini? Selain ditempat ini, aku tak pernah melihatmu dimanapun”

“eo, aku tinggal disana” Minhyuk menunjuk kearah hutan dibelakangnya.

“ya disana itu hutan”

“lalu?”

“aigoo aku bisa gila. Terserah kau saja” Woori berbalik dan pergi.

“sampai besok. Anyeoong” Minhyuk melambai pada Woori yang berjalan tanpa berbalik untuk menjawab Minhyuk.

……………………………………

       “kau lihat Victoria tidak?”

“ani”

“kalian tahu Vic dimana?”

“molla”

Woori berjalan menyusuri sudut-sudut sekolah, mengintip satu ruangan keruangan lainnya untuk mencari Victoria. Pagi itu sekolah masih sepi, hanya beberapa siswa yang terlihat. ‘tapi dikelas tasnya ada, berarti dia sudah turun. Lalu kemana dia?’ batin Woori. Dia sudah memeriksa perpustakaan, kantin dan tempat-tempat yang biasa mereka datangi tapi hasilnya nihil. Terakhir, Woori mencari sahabatnya itu keujung sekolah. Ketika  melewati lorong kecil, langkahnya terhenti saat melihat seorang yeoja dan namja. Diperhatikannya kedua orang itu, karena lumayan jauh dia jadi tidak bisa melihat mereka dengan jelas.

“benarkah tidak apa-apa?” ucap yeoja itu.

Woori hampir meninggalkan tempat tersebut namun tidak jadi karena merasa kenal suara yeoja itu milik siapa.

“bagaimana kalau ada yang marah?” ucap yeoja itu lagi.

“takkan ada yang marah, siapa yang mau marah” sahut si namja.

Percakapan itu terdengar jelas oleh Woori karena tempatnya yang masih sepi. Woori mendekat tanpa terlihat oleh mereka.

“Woori maybe”

“tidak, dia tidak disini. Kecuali kalau kau berniat jahat padanya”

Woori kaget? Itu pasti. Double kaget malah. Pertama karena kedua orang itu adalah Victoria dan Tao (seseorang yang disukai oleh Woori) dan terakhir karena mereka menyebut namanya.

“haha aku tidak sejahat itu”

“keurom, langsung keintinya saja. Ppaliya”

“kau ini! Aku gugup bodoh. Bagaimana kalau yang berdiri saat ini adalah Woori?”

‘penghianat’ gumam Woori membatin, dari percakapan mereka Woori mengambil kesimpulan bahwa Vic memberitahu Tao tentang perasaannya dan Vic berniat jahat pada dirinya.

“jangan mengalihkan pembicaraan, waktuku tidak banyak”

“ck baiklah, tunggu sebentar” dengan salah tingkah Vic menggantung kata-katanya dan bersiap untuk ungkapan selanjutnya, sepertinya ucapan yang akan dikatakannya ini sangat penting hingga membuatnya keringat dingin.

“mm begini, dengarkan aku baik-baik… sebenarnya…” ucapan itu terputus lagi “naneo joahe” lanjut Vic.

‘Penghianat! Aku benci kau Victoria!’. Perlahan airmata Woori menurun kepipi mulusnya, sedangkan Vic dan Tao masih sibuk sendiri tanpa tahu Woori ada disana. Dengan masih menangis Woori bergegas meninggalkan tempat itu. baru berbalik dan melangkah sekali, yeoja ini menabrak seseorang yang membawa minuman ditangannya dan alhasil, minuman itu tumpah tepat diseragam Woori.

“apa yang kau lakukan? Bajuku basah”  gumam Woori, kali ini tangisnya malah keras.

“ya! Kau yang menabrakku duluan. Seharusnya aku yang marah, kenapa kau malah menangis” jawab yeoja yang ditabrak Woori dengan sedikit gugup.

“bagaimana ini bajuku basah… bagaimana aku belajar…” ratap Woori, tangisnya semakin menjadi-jadi.

“ya… hhaaiisshh Mianhe, kau puas? Mianhe. Berhentilah menangis, aku terlihat seperti menganiayamu sekarang” yeoja itu sedikit panik saat melihat tangisan Woori semakin menjadi. Orang aneh, mungkin itu tanggapan siyeoja tentang Woori. Karena hanya masalah sekecil itu saja, Woori menangis sejadi-jadinya. Tapi bagi Woori, bukan hal itu yang membuatnya menangis hingga terisak. Yah itu hanya semacam pelampiasan sakit hatinya pada Vic dan Tao.

Selang beberapa menit, Vic dan Tao menghampiri mereka karena mendengar suara ribut tersebut.

“ada apa ini?” tanya Tao.

“aku juga tidak tahu, dia menabrakku hingga minumanku tumpah dibajunya dan tiba-tiba dia menangis” jawab siyeoja dengan kesal lalu pergi meninggalkan mereka.

“Woori, kaukah itu?” tanya Vic ragu. Woori sedikit menunduk sehingga wajahnya terhalang oleh rambut panjangnya. Vic mendekat.

“Woori-ya” panggil Vic seraya memegang bahu Woori. Dengan cepat yeoja itu menepis tangan sahabatnya.

“kau… sejak kapan kau disini?” tanya Vic saat melihat wajah Woori yang basah karena airmata. Tao yang berada tidak jauh dari mereka nampak terkejut melihat Woori menangis, tapi yang dilakukannya hanya melihat yeoja itu dengan ekspresi datar. Dari situ Vic dan Tao  dengan spontan tahu satu hal, bahwa Woori mendengar percakapan mereka.

“wae? Kau tidak menyangka kalau aku akan ada disini? Tidak apa-apa, lanjutkan saja pembicaraan kalian. Aku hanya sekedar lewat” setelah berucap begitu, Woori meninggalkan mereka dengan cepat. Awalnya Tao ingin menyusul, tapi tidak jadi karena Vic menggelengkan kepala yang berarti ‘jangan’.

“tunggu sampai dia tenang dulu”  usul Vic pada Tao. Mereka berdua hanya diam melihat kepergian Woori yang kini setengah berlari.

………………………………..

                Woori sampai didepan rumah. Setelah kejadian tadi, yeoja ini memutuskan pulang untuk berganti pakaian dan entah kembali kesekolah atau tidak. Dibukanya pintu gerbang rumah dengan wajah yang masih merah dan sembab, tapi sudah tak nangis lagi. Saat pintu utama dibuka, yeoja ini kaget melihat keadaan didalamnya yang kacau dan berantakan. Ada lampu yang pecah, tv dalam keadaan on dengan volume maksimal, korden sudah tak beraturan, pakaian acak-acakan tak karuan menyebar keseluruh penjuru ruangan.

Melihat itu semua, Woori hanya menghela nafas dan masuk kekamar dengan lunglai. ‘biarkan mereka, biarkan mereka, biarkan mereka…’ begitu terus pikiran Woori mengulang kata-kata itu untuk menenangkan dirinya.

PRANGG!! Tak lama pecahan piring terdengar dari dapur.

“sudah kukatakan dari awal aku tidak menyukaimu, ini semua karena perjodohan orang tua kita”

“lalu siapa lelaki itu? kau bermesraan dengannya didepan umum, KAU SADAR APA YANG KAU LAKUKAN!”

“tentu saja. Dari pada dikekang olehmu, aku lebih bahagia bersamanya”

Suara teriakan yang saling sahut menyahut itu terdengar jelas oleh Woori. Lagi-lagi yeoja malang ini harus mendengar perseteruan kedua orang tuanya. Tapi Woori hanya diam, duduk disisi ranjang dan tak merespon. Dia masih larut dalam kesedihannya sendiri, walaupun sesekali suara ribut itu mengganggu pendengarannya. Woori kembali meneteskan airmata.

PRANGG!! BRAKK…

Pertengkaran suami istri itu semakin heboh.

“aku sudah tidak tahan hidup denganmu lagi. Pergi atau aku yang keluar dari rumah ini” bentak ibu Woori pada ayahnya.

Kali ini Woori tidak tinggal diam, dia berdiri dan menghapus airmatanya lalu keluar menuju dapur.

BRAKK…

Gantian sekarang Woori yang membanting pintu. Refleks kedua orang yang sedang bertengkar itu mengalihkan pandangan keanak mereka satu-satunya.

“SIEKEURRO!!!” teriak Woori sekeras-kerasnya. Kemudian yeoja itu pergi lagi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih tercengang.

……………………………..

                ‘kenapa aku kesini’ batin Woori. Dia meneruskan langkahnya dan duduk diayunan kosong yang disebelahnya telah diduduki Minhyuk sebelum yeoja itu kesini.

“seragam itu… kau bolos?” tanya Minhyuk. Saat dirumah yeoja ini tak jadi mengganti pakaiannya lalu terus kesini.

“. . .” Woori tak menjawab sambil mengayunkan ayunannya.

“karena Tao? Atau masalah rumah lagi?”

“. . .”

“bajumu kotor. Kenapa kau tidak menggantinya. Sebelum kesini kau pasti pulang dulu kan” tebak Minhyuk. Dalam hati Woori mengakui bahwa tebakan Minhyuk tak pernah salah.

“jangan tanya apapun, kau pasti tahu jawabannya” gumam Woori singkat dan datar.

“aku mengerti, gwenchana. Kau tidak kembali kesekolah?”

“malas”

“kenapa wajahmu merah?”

“panas”

“suaramu juga bergetar”

“gangguan tenggorokan”

“geojimal!”

“sekali lagi kau bertanya, kupotong lidahmu!”

“. . .”

. . . .

Hening. Hanya terdengar suara gesekan besi dari ayunan keduanya. Biasanya Minhyuk yang tidak bisa diam, tapi kali ini namja itu bungkam karena ancaman Woori barusan.

“bagaimana kalau kau ceritakan masalahmu sekarang?” Minhyuk mulai membuka percakapan lagi.

Woori tak menjawab. Yeoja ini berdiri, berjalan kesamping beberapa langkah dan berdiri disana. Begitulah Woori, takkan mudah menceritakan masalahnya dan lebih memilih diam sambil menyendiri.

Lama Minhyuk menunggu sampai Woori angkat bicara, tapi sepertinya itu mustahil. Akhirnya namja ini menyerah dan menghampiri Woori. Saat Minhyuk hendak meyentuh bahu Woori dari belakang, samar-samar terdengar suara isakannya dan disusul dengan gerakan tubuhnya yang menegang sekilas. Woori menahan tangisnya agar tak terdengar.

“serumit itukah?” ungkap Minhyuk yang kini berdiri disampingnya. Woori menyeka air matanya.

“menangislah” ujar Minhyuk lagi.

“wae?”

“ada kalanya masalah terkurangi dengan menangis. Menangislah”

“kau tahu sudah berapa tetes airmata yang kukeluarkan sejak tadi? Sampai rasanya mataku ingin keluar. Bebanku bukannya berkurang tapi malah bertambah”

“kalau begitu kau membutuhkanku”

“yang kubutuhkan hanya sendirian”

“tidak. Kau membutuhkanku. Tidak apa-apa kalau kau tidak mengakuinya”

“sok tahu. Jangan memulai Minhyuk-ah”

“kalau begitu akhiri”

“terserah kau saja”

Woori berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu dan Minhyuk sendirian.

“saat kau membutuhkanku tapi tak menginginkanku, maka aku akan ada untukmu karena aku dibutuhkan. Saat kau sudah tak membutuhkanku tapi menginginkanku, maka saat itulah aku akan pergi” ucap Minhyuk mengingatkan Woori pada kata-kata yang sering diucapkannya pada yeoja ini.

Mendengar itu Woori menghentikan langkahnya dan mematung.

“kau tidak sendiri, kau masih punya diriku untuk berbagi. Tenangkan dirimu dulu baru pergi” gumam Minhyuk sambil berjalan mendekati Woori lalu memegang bahu yeoja itu dari belakang.

“menjauh dariku!” bentak Woori sambil menepis tangan Minhyuk. Namja ini memundur, dia tahu kalau Woori tidak suka dilihat saat sedang menangis.

“gwencana, menangislah jika memang itu yang dapat dilakukan” nasehat Minhyuk.

“ya kau benar. Selain menangis, tak ada lagi yang bisa aku lakukan… selama ini aku hanya berpura-pura bersikap tidak pernah terjadi apa-apa padaku” ucap Woori disela-sela tangisnya.

“. . .”

“padahal kau itu sahabatku. Kau tahukan aku menyukainya, melihat kalian berduaan saja hatiku sudah panas dan kau malah memberitahunya serta membicarakanku dibelakangku. Penghianat!” lanjut Woori sambil terisak. Sepertinya ucapan yeoja ini mulai melenceng.

“penghianat? Aku berhianat apa padamu?” tanya Minhyuk bingung. Woori berbalik menghadap Minhyuk, pipinya kembali basah oleh airmata.

“ya kau penghianat!  Kau juga menyukainya kan? Seharusnya kau bilang saja padaku, mungkin aku bisa mengalah. Bukannya diam-diam meyatakan perasaanmu padanya dan menusukku dari belakang. Aku benci kau!”

“Woori-ya” Minhyuk bertambah bingung. Semakin lama pembicaraan Woori semakin tak jelas.

“mwo?! Kalian orang tua tidak tahu diri, seharusnya kalian malu padaku! Jika tidak ingin bersama lagi ya cerai saja. Aku benci melihat kalian yang jika bertemu hanya bisa bertengkar seperti anak kecil. Itu hanya akan memperburuk keadaanku, menambah beban dan membuatku semakin menjadi gila” kali ini Woori setengah berteriak, mengucapkan itu sambil menangis  dan mencak-mencak. Mungkin hatinya sudah sangat sakit.

“. . .” Minhyuk tahu arah pembicaraan Woori sekarang, dia mencoba untuk mengeluarkan semua uneg-unegnya dan melampiaskan hal itu pada Minhyuk.

“kau juga!”

“nae?” Minhyuk tertegun.

“kenapa kau memasang tampang seperti itu hah! Aku bukan orang yang patut dikasihani, jujur saja kalau kau juga menyukai Vic. Aku benci wajah tampanmu yang sok keren itu. aku benci kau (Tao), aku juga benci dia (Victoria), aku benci kalian semuaaaa”

Yeoja ini terduduk dan tak bicara lagi, dia menangis sambil menunduk. Sekali lagi Minhyuk coba mendekat dan berjongkok didepannya.

“sungguh aku bisa mengatasi ini semua. Pergilah. Aku tidak ingin kau melihatku yang seperti ini” pinta Woori sambil sesegukan, wajahnya masih sedikit menunduk.

Bukannya pergi, Minhyuk malah mengulurkan tangan untuk menghapus airmata Woori. Tapi kali ini tangan itu tidak ditepis seperti biasanya.

. . . .

TBC

……………………………..

                Wah ternyata TBC, tadinya mau bikin satu part aja tapi ternyata ceritanya panjang. Baiklah sampai bertemu diceritanya selanjutnya. Annyeoooonnggg…

*Comment please*

One response to “I Need You (Part 1)

Komentar ditutup.