I Need You (Part 2)

I NEED YOU

Tittle    :          I Need You (part 2)

Author :          Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :          Continue

Genre   :          Friendship, Sad, Romantic

Cast     :          Kang Minhyuk [CN Blue], Woo Ri, Huang Zi Tao [EXO], Victoria [F(x)]

 

………………………………

 

Gelap. Setelah beberapa kali berkedip, cahaya siang itu baru terlihat jelas.

“kau sudah bangun?” tanya Minhyuk pada Woori yang terbaring dipahanya. Minhyuk sendiri bersandar pada sebuah pohon besar yang mampu melindungi mereka berdua dari cahaya matahari. Mereka masih ditempat yang sama (sebut saja suatu tempat yang cukup luas dengan dua buah ayunan besi yang tergantung disana, sedangkan dibelakangnya ada sebuah hutan yang lumayan lebat).

“aku kenapa?” tanya Woori sambil bangun dan duduk.

“molla. Sepertinya kau pingsan… atau tertidur?” jawab Minhyuk ragu “tapi yang jelas tiba-tiba kau tumbang dan aku membawamu berteduh disini” lanjutnya.

“jam berapa sekarang?”

“sekitar jam 4 *sore tentunya*”

“mwo? Berarti…”

“ya. kau tidur selama 7 jam, pahaku rasanya mau patah” *7 jam = waktu tidurku dalam semalam. Waw, itu tidur atau bagaimana? Hehe*

“aku harus pulang sekarang”

“nde, kompres juga matamu, bengkaknya terlihat jelas”

Woori memungut tasnya lalu pulang kerumah.

………………………………….

       “hari ini kau juga tidak sekolah?” tanya ibu Woori.

“ani” jawab Woori yang masih terbaring diranjang dengan posisi membelakangi ibunya.

“sudah tiga hari berturut-turut kau mengurung diri dikamar, benar kau hanya tidak enak badan? Bagaimana kalau kita periksa kedokter?”

“aku hanya tidak enak badan, beberapa hari lagi juga akan sembuh” bantah Woori. matanya sudah terbuka lebar, tapi tubuhnya malas untuk bergerak.

“baiklah terserah kau saja. Woori ada yang ingin ibu bicarakan, jadi dengarkan ibu baik-baik” gumam ibu Woori dengan tak mengurangi kelembutannya dan duduk disebelah ranjang anaknya. Woori masih tak bergeming, tapi telinganya siap mendengarkan.

“omma dan appa sudah memutuskan bahwa… kami akan bercerai”

“. . .”

“mungkin ini terdengar egois bagimu, tapi inilah pilihan kami untuk ketenangan kita semua. Kau juga tidak maukan mendengar kami bertengkar terus?”

“. . .”

“salah satu dari kami akan keluar dari rumah dan seorang lagi akan tetap tinggal untuk menjagamu. Kau mau omma tetap tinggal? Atau appa-mu saja?”

“terserah, kalian saja yang atur”

“mianhae” ucap sang ibu merasa bersalah.

“untuk apa minta maaf?” tanya Woori dengan masih terbaring membelakangi ibunya.

“untuk semuanya, omma dan appa sudah menyusahkan hidupmu. Mianhae”

Woori tak menjawab. Ekspresinya datar dan pandangannya kosong. Yeoja ini melamun, tapi juga tak menangis.

………………………………

                Hening. Keduanya diam (Woori dan Minhyuk) dan menggerakkan ayunan masing-masing kearah yang berlawanan dengan kekuatan sedang.

“mereka akan bercerai” Woori membuka percakapan.

“kau setuju?”

“molla, tapi kupikir itu lebih baik. Kurasa hidupku akan jauh lebih tenang dari sebelumnya”

“kau tidak sedih? Orang tuamu akan berpisah”

Woori menarik nafas panjang. “sebelum bercerai pun mereka sering hidup terpisah, appa sering lembur hingga tak pulang, kalaupun pulang mereka jarang tidur bersama. Jadi bercerai atau tidak, kufikir sama saja”

“ohh…”

Suara gesekan besi dari ayunan kembali terdengar.

“mm yang kemarin itu…”

“yang mana?”

“kejadian beberapa hari yang lalu. Lupakan itu, anggap saja itu tidak pernah terjadi”

“bagaimana perasaanmu sekarang?”

“lebih baik”

“hari itu fikiranmu pasti sangat kacau”

“jangan mengingatnya, baru saja kusuruh kau melupakan itu kan. Tapi… yah setidaknya bebanku berkurang sekarang”

“mau berbagi cerita?”

“(???)”

“mwo? Kenapa menatapku seperti itu?”

“waktu kecil ibumu sering mendongeng?”

“kadang-kadang. Kenapa?”

“keantusiasanmu seperti anak kecil yang siap mendengar sebuah dongeng”

“mwoya? Aigoo gomawoyo, kuanggap itu pujian”

. . . .

“beberapa hari lalu kulihat Vic dan Tao sedang membicarakan sesuatu diujung sekolah, hanya berdua. Aku mendekat dan menguping isi pembicaraan itu.  Lalu kudengar Vic bilang suka pada Tao”

Minhyuk menghentikan gerakan ayunannya dan fokus mendengarkan.

“disaat yang sama aku menabrak seseorang dan minumannya tumpah dibajuku. Kutinggalkan mereka dan lari kerumah…”

“lalu?”

“awalnya aku pulang untuk mengganti seragam. Tapi saat memasuki rumah didalamnya kacau balau, belum lagi kudengar omma dan appa sibuk bertengkar didapur. Kupikir saat itu aku benar-benar akan gila, semuanya bersatu untuk menguji kesabaranku.”

“. . .”

“sudah kuputuskan” Woori menarik nafas lalu memhembuskannya dengan cepat “jika Tao dan Vic akan berpacaran, tidak apa-apa. Kalau omma dan appa ingin berpisah juga tidak apa-apa. Aku hanya akan berfikir sisi positifnya saja”

“apa sisi positifnya?”

“hidupku akan jauh lebih tenang jika omma dan appa tidak bertengkar lagi, walaupun sebenarnya menyedihkan jika membayangkan mereka akan berpisah dan aku akan belajar untuk melepaskan sesuatu demi sahabat walaupun sebenarnya menyakitkan jika melihat mereka bersama nantinya”

“uwaahh, bicaramu seperti orang dewasa saja”

“setidaknya jauh lebih dewasa dari yang beberapa hari lalu”

“hahaha”

. . . .

“Woori-ya” panggil Minhyuk setelah mereka diam beberapa menit.

“mm?”

“apa aku berguna bagimu?”

“sedikit”

“kalau begitu aku mulai tidak dibutuhkan”

“kau ini bicara apa? Lagi-lagi berkata begitu”

“wae? Kau masih membutuhkanku?”

“cih kau percaya diri sekali. Kau pikir aku membutuhkanmu? Ani” jawab Woori dengan sedikit bercanda.

“benarkah? Apa jangan-jangan kau mulai menginginkanku?”

“hahaha apalagi yang itu, tidak sama sekali. Minhyuk-ah, berhenti membicarakan itu terus. Aku sampai hafal kata mutiaramu itu”

Minhyuk tersenyum kecut. “berarti hanya ada satu kesimpulan… kehadiranku sudah tak ada gunanya lagi”

“yah kalau yang itu baru benar. Aku pulang ya, annyeong” gumam Woori bercanda lalu pamit untuk pulang.

“sampai jumpa Woori-ya, semoga kita bisa bertemu lagi”

“bicara apa kau? Kita selalu bisa bertemu” papar Woori sambil tersenyum lalu berbalik meninggalkan Minhyuk yang juga tersenyum padanya. Sekali lagi gesekan besi dari ayunan tersebut berbunyi, tapi kali ini hanya ayunan Minhyuk.

………………………………

#tomorrow, 10.00 am

Klik. Untuk sekian kalinya telpon Vic ditolak. Woori masih bergelut diatas ranjang dengan berbalut selimut yang tebal. Hapenya kembali berdering. Telpon dari Vic lagi-lagi ditolak, sudah ratusan kali  terhitung dari kemarin-kemarin telpon itu terus di reject tanpa ampun. Terakhir, yeoja itu mengeluarkan baterai hapenya agar Vic tak bisa menelpon lagi.

#11.00 am

“omma seharusnya ketuk pintu dulu” keluh Woori saat ibunya masuk dan menarik selimut Woori hingga yeoja ini tergeser  kesudut ranjang.

“mau sampai kapan tidur terus hah? Temanmu menunggu dibawah, cepat mandi dan ganti baju”

“nuguya? Vic?”

“ani, namja. Omma tidak kenal”

‘namja? Minhyuk?’ pikir Woori. “ohh, suruh dia menunggu sebentar” ucapnya seraya bangun dan mengambil handuk.

“ppaliya”

“ndeeee”

……………………………….

                Woori menuruni tangga dari lantai dua dengan cepat menuju ruang tamu dilantai satu. Yeoja ini terkejut tapi masih dalam kuasanya, saat melihat seseorang yang duduk disofa menunggunya. Tao.

“ada apa?” tanya Woori dengan dingin, Tao berdiri.

“bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sakit. Sudah seminggu kau tidak masuk sekolah”

“wae? Kau pikir aku sakit keras? aku tidak selemah itu!”

“tentu saja tidak. Aku menghawatirkanmu”

Keduanya diam, kaku dan masih berdiri.

“bagaimana kau tahu rumahku?”

“tidak sulit mencari dimana rumahmu berada”

“cih benar juga. Tidak akan sulit kalau Vic yang beritahu”

“Woori-ya, kau salah paham”

“salah paham atau tidak, apa pedulimu”

“tentu aku peduli. Aku…” Tao tak meneruskan kata-katanya “bisa kita bicara?” ucapnya mengganti topik.

“bukankah dari tadi kau sudah bicara”

“Woori-ya aku serius”

“kau kira aku bercanda”

Tao diam. Namja ini tak ingin percakapan mereka jadi sebuah perdebatan yang semakin merumitkan semuanya. Dia juga tahu kalau saat ini Woori masih marah padanya dan Vic.

“tidak disini, kita bicara ditempat lain saja” ujar Tao dimenit berikutnya dengan nada selembut mungkin.

“wae? Disini atau tempat lain sama saja” jawab Woori lirih. Sejak tadi yeoja ini selalu membuang pandangannya dari Tao.

“tolonglah, sekali ini saja kau mau mendengarkanku” pinta Tao memohon.

. . . .

…………………………..

       “apa maksudnya ini!” tanya Woori dengan kesal saat Tao membawanya ketaman yang ternyata Vic telah menunggu disana.

“. . .”

“. . .”

Keduanya membungkam.

“kalian sengaja mengajakku kesini untuk memamerkan kedekatan kalian?!” tanya Woori lagi dengan nafas yang naik turun yang artinya yeoja ini sedang menahan marah. Tanpa merasa perlu jawaban dari mereka, Woori hendak pergi dari situ tapi Vic menahannya yang kemudian uluran tangan Vic ditepis oleh Woori.

“beri kami waktu untuk bicara” pinta Vic.

“. . .”

“hari itu… apa saja yang kau dengar?”

“. . .”

“ck aku tidak tahu harus mulai dari mana. Baiklah Tao, anggap saja kami berdua menyukaimu. Diantara kami siapa yang akan kau pilih?”

“VIC!” teriak Tao terkejut. Bersamaan dengan itu, sontak Woori membulatkan matanya pada Vic.

Entah apa yang difikirkan Vic, yeoja ini menatap Tao penuh isyarat yang seakan mengatakan turuti-saja-kata-kataku. Tao mengerti maksudnya tapi namja ini masih tak percaya dengan apa yang baru saja Vic katakan dan enggan merespon untuk itu.

“ha… haruskah kujawab ini?” ucap Tao dengan sangat ragu, tapi karena Vic yang memaksanya melalui bahasa tubuh, akhirnya namja ini dengan terpaksa membuka mulut.

. . .

Tak ada jawaban. Kedua yeoja bersahabat itu masih menatap dan menunggu ucapan Tao selanjutnya dengan seksama.

“ehmm” Tao berdehem, mengumpulkan kepercayaan diri lalu mengucapkan sesuatu. “aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian. Begini saja, aku ingin kalian mengalah”

“mengalah? Untuk apa?” tanya Vic tak mengerti, sedangkan Woori dari tadi hanya mematung dan membungkam, tak tahu harus mengatakan apa.

“iya mengalah. Harus ada yang mengalah dan rela melepaskanku” gumam Tao percaya diri. “kalau disuruh memilih aku tidak bisa”

Hening tak ada lagi yang berbicara, semua sibuk dengan fikiran sendiri.

“aku saja” ucap Woori memecah keheningan. Vic dan Tao langsung melihatnya, menunggu kata-kata yang akan diucapkan Woori selanjutnya.

“kalian berdua saling menyukai tapi merasa tidak enak padakukan. Tidak perlu merasa seperti itu, aku sendirian juga tidak apa-apa. Gwenchana, semoga kalian bahagia” Woori lalu pergi meninggalkan mereka, wajahnya terasa panas sekarang. Vic ternganga mendengar itu, tapi Tao yang paling panik. Kedua orang ini lalu berinteraksi lagi melalui isyarat dan ekspresi wajah, dari tadi tingkah mereka yang paling aneh, seperti ada yang sedang disembunyikan. Dengan segera Tao menyusul Woori dan memegang tangan yeoja ini agar tidak pergi labih jauh.

“kajhima” pinta Tao pada Woori. “Vic, apa kita bertemu disini untuk memperumit keadaan?” tanya Tao dengan setengah berteriak. “sekarang kau mau berbalik menghianatiku?” ucapnya lagi dengan tegas, menandakan namja ini mulai emosi.

“aish, lama-lama aku bisa gila” Vic menghampiri mereka dan berdiri tepat ditengah-tengah keduanya. “Tuhan, apa salahku? Kenapa aku harus terjebak diantara kedua orag ini” keluh Vic. Kening Woori mengerut, dia semakin tak mengerti dengan keadaan dan maksud Vic dan Tao, lagi-lagi yeoja ini hanya diam membungkam.

“baiklah, mari kita perjelas ini… sebenarnya kalian berdua itu saling menyukai. Tao, Woori menyukaimu dan Woori, Tao juga menyukaimu”

“MWO?” ucap Woori dan Tao hampir bersamaan. Mendengar teriakan itu, refleks Vic menutup kedua telinganya.

“YA! gendang telingaku bisa pecah” Vic mengusap-usap kedua telinganya.

“. . .”

“. . .”

“aku sengaja tidak beritahukan ini demi menjaga privasi kalian berdua. Woori, aku selalu menjaga rahasiamu sampai sekarang dan Tao, aku tidak berniat memisahkan kalian berdua. Arasseo?” ungkap Vic sambil bolak balik memandang Woori dan Tao.

“padahal aku punya rencana sendiri untuk menyatukan kalian, tapi tak kusangka pernyataan sukaku pada kau Tao, jadi sebuah bencana. Aigoo” keluh Vic lagi.

“siapa suruh kau jadikan aku kelinci percobaan”

“YA!”

“kelinci percobaan?” tanya Woori tak mengerti.

“ye itu yang sebenarnya. Pagi itu aku mengajak Tao bertemu untuk menguji nyaliku. Kau tahukan aku menyukai Hankyung sunbae, jadi sebelum menyampaikan perasaanku padanya aku meminta Tao untuk pura-pura jadi Hankyung sunbae dan aku mengatakan suka padanya”

“. . .” Woori terdiam.

“keurom, kau masih marah pada kami setelah semua kesalah pahaman ini?” tanya Vic.

“mianhe” sesal Woori.

“ck, padahal yang seharusnya mengalah tadi itukan Vic, apakah aku harus mengusirmu dulu baru kau mengerti” sambung Tao bercanda.

“sudah begini kau baru bicara begitu” protes Vic “Woori-ya kau lihat betapa paniknya dia tadi? Seandainya dia punya jenggot pasti sudah terbakar” ejek Vic kemudian.

“ya! kau…” Tao tak meneruskan ucapannya, wajahnya tiba-tiba memerah. Sedangkan Woori, ntah sudah seberapa malunya dia.

“aku akan pergi, berada ditengah-tengah kalian terasa sangat panas. Tao-ya, aku sudah membantu sampai disini, selanjutnya kau berjuanglah sendiri” gumam Vic sebelum pergi.

“kau mau kemana?” tanya Tao.

“kajhima” tahan Woori, gantian sekarang dia yang menahan kepergian Vic.

“kalian ini… aku juga punya seseorang yang harus diperjuangkan. Memang hanya kalian saja yang boleh menyatakan perasaan masing-masing” Woori mengendurkan pegangannya dipergelangan Vic.

“nugu? Hangeng sunbae? Aigoo aku kasihan padanya jika dia menerimamu” canda Tao. Vic tidak menyahut, yeoja ini hanya menampakkan wajah kesal yang dibuat-buat.

“Woori-ya, saat kalian bersama nanti kau harus sedikit aktif didepannya. Karena Tao itu seseorang yang pemalu tapi diam-diam dia menghanyutkan” ucap Vic dengan sedikit berbisik. “aku pergi, annyeong” lanjutnya.

“Vic” teriak Woori, Vic menoleh “jjang!” ucapnya sambil menunjukkan kepalan tangannya. Vic tersenyum lalu meneruskan langkahnya dan menyatu dibalik kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.

Sepeninggalnya Vic, tak ada interaksi yang terjadi antara Tao dan Woori. Keduanya sama-sama malu untuk memulai.

. . . .

“aku pergi saja” gumam Woori setelah sekian lama dan memutuskan untuk pergi karena Tao yang terus mendiamkannya. ‘aku yeoja, aku malu untuk memulai duluan. Pabo!’ pikir Woori dengan kesal lalu melangkahkan kakinya untuk pergi.

“andwae!” pinta Tao sambil menghalang langkah Woori dengan tubuhnya sambil membentangkan kedua tangannya. “aku… aku belum mengatakan apapun” lanjutnya dengan wajah yang mulai merona. ‘omona! Wajah Tao memerah. Aigoo lucunya>,<’ jerit Woori dalam hati.

“sa… saranghe. Kau mau pacaran denganku?” tanya Tao dengan wajah yang menegang.

“ani” jawab Woori dengan lantang dan jelas.

“Mwo?” Tao melongo, rasa malunya kini perlahan jadi sebuah kekecewaan. “itu… tidakkah kau pikir-pikir dulu?” tanyanya karena masih tak percaya dengan jawaban Woori barusan.

“sudah kufikirkan, dan jawabanku… ani”

“ohh…” tanpa berkata apa-apa lagi Tao berbalik dan melangkahkan kakinya dengan lesu, rasa kecewa kini berevolusi menjadi sebuah perasaan yang hancur. Patah hati lebih tepatnya.

“apa kau tidak mau mendengar kelanjutannya? Aku belum selesai dengan ucapanku” Tao berbalik dan menatap Woori dengan bingung ‘bukankah aku sudah ditolak?’ pikirnya. Woori tertawa melihat ekspresi sedih Tao dan namja itu baru sadar kalau dirinya sedang dikerjai.

“yang kumaksudkan dengan tidak adalah… aku tidak sanggup untuk menolakmu”

“kau…” Tao tersenyum simpul dan menunduk.

“naedo saranghe” lanjut Woori. Gantian sekarang yeoja ini yang menunduk karena tatapan Tao padanya.

TBC

………………………………..

                Yah TBC lagi deh. Padahal kalau dilihat, sampai part ini bisa dibilang tamat kan?  Tapi bagaimana dengan Minhyuk dan kedua orang tua Woori? Masa ngambang? Ani, masa author bikin cerita ngambang terus. Makanya cerita ini akan tamat kalau semua cerita benar-benar selesai. Tapi dijamin sampai part 3 pasti tamat. Ok lanjutannya dibaca lagi yah. Gomawoyo *your comment please*

 

5 responses to “I Need You (Part 2)

Komentar ditutup.