Forever After

FOREVER AFTER

Tittle      :               Forever After (part 1)

Author  :               Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :               Continue

Genre   :               frienship, family, comedy *yang ini nggak yakin*

Cast       :               Moon Geun Young, Kim Jong Woon a.k.a Yesung [Super Junior], Kim Jong Jin (Yesung’s brother), etc

Annyeong… setelah beberapa lama akhirnya saya kembali lagi dengan ff yang lain. kali ini saya hadir dengan ff Geunyoung eonni dan Yesung oppa. Yah walau pun gosip diantara mereka telah lama hilang, tapi bagi saya tidak. jujur saja, melihat mereka bersama itu merupakan impian terdalam saya #dibunuh Yesunggyu & jadi buronan Jang Geunsuk. Karena sepertinya sulit menjadikan itu nyata, akhirnya dengan hati yang sedih saya wujudkan impian itu melalui fanfiction.

By the way, check it out #nyambungkah? *nyambung aja*

………………………………..

       “aigoooo… Geun Young-ah aku gugup sekali, bagaimana kalau aku tidak diterima?”

“jangan pesimis begitu, semangatlah. Yakin saja kau pasti bisa”

. . . .

Jongwoon, salah satu peserta yang akan mengikuti audisi di SM Entertaiment pada hari itu tampak gelisah. Terbukti dengan tidak bisa diamnya dia dan terus mondar mandir didepan kursi peserta sambil memainkan tangannya dan berulang kali menghembuskan nafas dengan cepat.

“Jongwoon-ah, kalau kau mondar mandir begitu justru aku yang gugup” tegur Geun Young sahabatnya yang turut menemaninya tapi tidak ikut audisi dan sedang duduk dikursi peserta. Jongwoon tak menjawab, namja ini terus saja mondar mandir didepan sahabatnya.

“NOMOR 96, KIM JONG WOON” panggil salah seorang staff yang ada didalam ruang audisi dengan pengeras suara.

“uwaahhh!! Geun Young-ah itu aku, ottokheeee” Jongwoon tambah panik, Geun Young langsung bangun dari duduknya. Yeoja itupun turut panik.

“ok ok Jongwoon-ah, tarik nafaaas” Geun Young membusungkan dadanya lalu dituruti Jongwoon. “buang perlahan-lahan” ucap Geun Young lagi sambil melemahkan tubuhnya pelan-pelan dan diikuti lagi oleh Jongwoon. Begitu terus diulang mereka hingga Jongwoon mulai sedikit tenang.

“baiklah, cepat masuk. Ingat! Jangan gugup. Ok?”

“eo!” Jongwoon mengangguk. Sebelum menuju ruang audisi, sekali lagi dia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan sekali hembusan lalu berjalan menuju impiannya.

“Jongwoon-ah” panggil Geun Young dengan setengah berteriak. Jongwoon berbalik. “kalau kau berhasil, kau harus mentraktirku ya”

“enak saja! kalau aku berhasil seharusnya…”

“NOMOR 96 KIM JONG WOON”

Jongwoon tak meneruskan kata-katanya dan buru-buru masuk sebelum panggilan itu terdengar lagi.

……………………………….

Jongwoon keluar dari ruang audisi dengan ekspresi yang datar dan berhenti didepan Geun Young yang sedang duduk.

“sudah? Ottokheyo?” Jongwoon tak menjawab, tubuhnya mematung. Geun Young tahu apa maksudnya.

“sudahlah gwenchana” ucap Geun Young sambil menepuk-nepuk pelan bahu Jongwoon, maksudnya untuk menenangkan sahabatnya yang kelihatan depresi itu. “masih ada lain kali, toh entertaiment bukan hanya SM saja”

“apa maksudmu?”

“kau jangan putus asa begitu. Kita bisa coba di YG, JYP, Cube, Loen, Starship dan masih banyak entertaiment terkenal lainnya”

“untuk apa? Kau pikir aku kurang berbakat bagi SM?”

Geun Young Bingung apa maksudnya.

“jadi?” tanya Geun Young tak mengerti.

“. . .”

“Jongwoon-ah, terima saja kenyataan. Kita bisa coba lain waktu. Ayo, aku yang akan mentraktirmu” Geun Young berjalan mendahului Jongwoon.

“aku diterima” ungkap Jongwoon, masih dengan ekspresi datarnya.

“jinjja?” Geun Young menatap Jongwoon dengan wajah yang berseri. Matanya membulat dan wajahnya mulai mengukir seulas senyum. “lalu kenapa tampangmu seperti itu hah? Bikin kecewa saja”

“aku hanya tidak menyangka kenapa aku bisa diterima. Aku masih tidak percaya”

“pabo” Geun Young tertawa. “ayo. Berarti kau yang harus mentraktirku” ajaknya sambil menggamit tangan Jongwoon dan membawa namja itu pergi.

………………………………

       “Jongwoon-ah, ayo kita minum kopi disana”  tunjuk Geun Young pada sebuah toko kopi saat mereka berjalan disekitar situ.

“kau mau minum kopi?”

“eo. Ayo”

Jongwoon mengangguk. Mereka pergi ketoko kopi tersebut.

“noona aku pesan 2 ah tidak 1 kopi ukuran besar dengan 2 selang yah”

Setelah memesan kopi, Jongwoon menghampiri Geun Young yang sedang duduk didekat jendela kaca. Mereka duduk berhadapan.

“kenapa cuma beli satu? Kau tidak punya uang? Atau kau melarat?” tanya Geun Young * sedihnya dibilang melarat*

“ck bukan begitu. Tadaa…” Jongwoon menunjukkan kedua selang yang tadi disembunyikan dibalik tubuhnya.

“heh, 1 gelas berdua? Mana kenyang”

“aish kau ini. Kau tidak pernah mendengar istilah couple?”

“couple?”

“ye, kita akan jadi pasangan couple seperti mereka” Jongwoon menunjuk dua orang yang sedang duduk tidak jauh dari mereka dan sedang meminum segelas kopi berdua seukuran gelas kopi dia dan Geun Young.

“ooh kenapa tidak bilang dari tadi. Ya sudah, ayo kita minum” Geun Young setuju. Mereka meminum segelas kopi tersebut secara bersama-sama tapi dengan selang masing-masing.

“hihihi” tawa Geun  Young, yeoja ini melepas selang dari mulutnya dan berhenti minum. “kita sepeti pasangan kekasih saja”

~GLEK~ Jongwoon hampir tersedak disela-sela minumnya, tapi hal itu berhasil ditahan. Namja ini berhenti minum.

“kalau orang lain lihat, pasti kita dikira pasangan remaja yang cocok. Couple yang tiada duanya” tambah Geun Young dengan bangga.

“berhenti menghayal. Cepat habiskan kopinya” tukas Jongwoon lalu kembali meminum kopi. Ungkapan Geun Young ternyata diam-diam membuat namja ini berdegup dan alhasil membuat ekspresinya serba salah. Karena tak ingin dilihat, makanya dia mengalihkan pembicaraan.

“ssshh” desis Geun Young tak senang dengan respon Jongwoon, dia pun turut minum kembali.

………………………………….

TING TOONGG…

“annyeong haseyo ajjuma. Apa Jongwoon ada?”

“Jongwoon dikamarnya. Masuklah”

“eo. Ghamsamhamnida”

Geun Young masuk, menaiki tangga kelantai dua dan membuka pintu sebuah kamar tanpa diketuk.

“Jongwoon-ah, kau sedang apa?” panggilnya lalu masuk.

“latihan pengucapan mantra” jawab Jongwoon asal.

“aaaa dooo ree mi fa…” gumamnya kembali fokus pada kegiatannya.

“jinjja? Daebak! Mantramu sangat modern”

Geunyoung mengambil sebuah buku bacaan dimeja kemudian berbaring diranjang sedangkan Jongwoon, dia sedang duduk dilantai dengan bersandar pada sisi ranjang dan sibuk pada pelafalan nadanya.

. . . .

“ah aku bosan” celetuk Geunyoung seraya bangun, meletakkan kembali buku yang dibacanya dimeja dan berjalan keluar.

“kau mau kemana?”

“kekamar Jongjin”

“Jongjin sedang keluar, belum pulang”

“tidak apa-apa, aku akan menunggu dikamarnya”

“jangan, disini saja. Kau hanya akan mengutak-atik kamarnya”

“aku bosaaan. Ayo kita main?”

“kau pikir berapa usiamu? Kenapa mau main terus”

“memang kenapa? Kalau tidak mau bilang saja!”

“aku memang tidak mau, main itu membosankan”

“ya! justru kau yang membosankan. Aku kekamar Jongjin saja”

Geunyoung menutup pintu kamar Jongwoon dan keluar dengan kesal.

……………………………..

Ceklck. Jongwoon masuk kekamar Jongjin.

“ada apa?” tanya Geunyoung

“ani”

“kalau begitu kenapa kemari?”

“memang kenapa? Ini kamar adikku”

“tapi tidak boleh, aku tidak suka” jawab Geunyoung masih kesal dengan hal tadi.

“seharusnya aku yang bilang tidak boleh, ini kamar adikku dan aku kakaknya. Nah kau, kau siapa?”

“YA!…”

Geunyoung mengambil sebuah bantal dan melemparnya tepat mengenai kepala Jongwoon. Jongwoon mengaduh.

“apa yang kau lakukan!” gumam Jongwoon kesal.

“wae? Dasar menyebalkan!”

“mwoya? Co coba ulangi kata-katamu tadi”

“me-nye-bal-kan! Jelas?”

“ulangi lagi!”

Geunyoung mendekati Jongwoon. “MENYEBALKAN. Aku bilang kau me-nye-bal-kan” ulangnya ditelinga Jongwoon lalu menjauh. “kau tuli?” tambahnya. Jongwoon diam tak merespon.

“ibaa! Apa yang kau lakukan?” ucap Geunyoung marah. Bantal yang tadi dilempar Geunyoung pada Jongwoon, kini dilempar Jongwoon kembali pada Geunyoung tapi hanya mengenai bagian tubuhnya.

“membalasmu. Ada masalah dengan itu?” jawab Jongwoon enteng.

“Jongwoooooooooooonnnn!!!”

Geunyoung murka. Seluruh bantal dan guling yang ada diranjang dilemparnya semua pada Jongwoon. Tidak puas dengan itu, selimutpun ikut melayang. Tentu saja Jongwoon tidak tinggal diam, namja itupun membalas. Akhirnya, perang bantalpun berlangsung.

Beberapa menit kemudian, seseorang masuk dan mendapati kamarnya berantakan dengan Jongwoon dan Geunyoung yang masih bertengkar didalamnya.

“ibaa! Kalian merusak kamarku!”  papar Jongjin, adik Jongwoon dengan setengah berteriak dan kesal.

Geunyoung dan Jongwoon tak mendengarkan, mereka asyik dengan perang bantal diantara mereka.

“HENTIKAAANNNN!!!”

Mereka bertiga (Geunyoung, Jongwoon, & Jongjin) terdiam setelah mendengar teriakan Jongjin yang keras dan lama.

TOK TOK TOK…

“Jongjin-ah, ada apa?” panggil seorang wanita paruh baya dari luar.

“aniyo omma, aniyo” bohong Jongjin.

“kalau begitu kenapa kau berteriak?”

“aku sedang mengetes suaraku. Gwenchana”

“. . .” tak ada jawaban. Hanya sebuah langkah kaki yang terdengar sedang turun tangga, yang artinya sang ibu telah pergi dari situ.

Jongjin berjalan mendekati kedua orang yang sudah menghambur kamarnya dan berdiri ditengah-tengah mereka.

“paboya, masa kecil kalian kurang bahagia?!” kesal Jongjin.

“dia yang mulai” tunjuk Jongwoon pada Gunyoung.

“jelas-jelas kau duluan” balas Geunyoung.

“kau!” Jongwoon tak mau kalah.

“sikeurro. Pada dasarnya kalian yang menghambur kamarku” sambung Jongjin “Hyung, kau punya kamar sendiri, kenapa tidak kamarmu saja yang kau hancurkan” lanjutnya berbicara pada Jongwoon.

“. . .” Jongwoon terdiam.

“dia kan kurang kerjaan” singgung Geunyoung pada Jongwoon.

“ya! kau mengatakan sesuatu?” Jongwoon tersinggung.

“tentu. Kau tuli? Atau kau tidak punya telinga?”

Kembali. Sebuah bantal diluncurkan Jongwoon, maksudnya lemparan itu ditujukan untuk Geunyoung tapi mengenai siku Jongjin yang berada ditengah-tengah mereka. Geunyoung tersenyum puas setelah memanas-manasi Jongwoon tapi yeoja itu tidak tinggal diam, ejekan demi ejekan keluar dari mulutnya disusul dengan tangannya yang terus membalas lemparan Jongwoon, begitupun sebaliknya. Jongwoon tak mau kalah. Kasihan Jongjin yang berada ditengah dan terus-menerus mengenai lemparan bertubi-tubi.

Akhirnya kesabaran Jongjin habis juga, dia tidak bisa lagi membiarkan dirinya jadi sasaran kakak dan sahabatnya. Namja ini memanas, diambilnya sebuah guling dan dipukulkannya pada Jongwoon dan Geunyoung. Yang paling akhir, Jongjin malah ikut dalam perang bantal itu dan ketiganya saling pukul memukul. Tapi kali ini diselingi dengan tawa terbahak mereka. Yah, pada dasarnya ketiga orang bersahabat itulah yang masa kecilnya kurang bahagia.

……………………………….

CKLECK.

“omo! Apa-apaan ini?”

Ibu Jongwoon dan Jongjin berjalan masuk kedalam kamar Jongjin yang didalamnya super duper berantakan. Tapi kali ini tak ada peperangan lagi. Ruangan itu aman dan damai sekarang. Lalu kemana perginya ketiga orang itu? mereka masih ada dikamar, tapi kali ini telah tertidur pulas karena kelelahan.

FLASHBACK ON

       “cukup! aku lelah” keluh Geunyoung sambil ngos-ngosan dan duduk disisi ranjang untuk menenangkan diri sejenak. Jongwoon pun demikian, namja ini melempar guling yang digenggamnya ke Jongjin lalu duduk disisi ranjang sebelah Geunyoung kemudian berbaring.

“aku juga lelah, geser sedikit” pinta Jongjin pada kakaknya.

“andwae. Sebelah sana saja” tolak Jongwoon sambil menunjuk kearah Geunyoung. Jongjin beralih.

“Geunyoung-ah” panggil Jongjin dengan nada naik turun.

“hmm?” balas Geunyoung yang terbaring dengan mata terpejam.

“geser”

“berbaringlah dimanapun kau suka Jongjin-ah”

“bagaimana aku bisa baring kalau ranjang ini saja sudah terisi penuh oleh kalian berdua!”

“. . .”

Dengan pemikiran ‘tidur dimanapun tidak masalah’ ditambah dengan tubuh yang kelelahan, maka Jongjin duduk dilantai dengan tangan dan kepala bersantar pada ranjang. Namja  ini tertidur dengan posisi seperti itu disamping Geunyoung.

FLASHBACK OF

 

“Jongjin-ah… ya!” panggil omma sambil menepuk-nepuk bahu Jongjin, begitupun dengan Geunyoung dan Jongwoon. Ketiganya terbangun.

“kenapa kamar ini berantakan?!” tanya omma. Mereka diam, tak ada yang berani menjawab.

“sebelum omma kembali, kamar ini harus sudah rapi. Arrachi!”

Jongjin dan Jongwoon tetap diam. Setelah berkata begitu, wanita paruh baya tersebut keluar.

“kau masih disitu? Apa perlu kupanggil supaya kau keluar dari sana dan membantuku memasak, huh?” tukasnya lagi pada Geunyoung.

“nd nde ahjumma” Geunyoung keluar membuntuti ibu Jongwoon dan Jongjin.

………………………………….

       “Jongwoon-ah, ayo ketoko kopi itu” ajak Geunyoung. Mereka  baru saja pulang sekolah.

“lagi?”

“eo! Segelas berdua lagi”

“andwae. Aku lelah”

“ck, ayolah. Khaja” Geunyoung memaksa, ditariknya tangan Jongwoon agar namja itu mengikutinya.

“enaaak” komentar Geunyoung saat kopi itu diminumnya. “ya! Jongwoon-ah, apa yang kau fikirkan tentangku?”

Jongwoon berhenti minum dan berfikir sejenak tentang jawaban yang akan diberikannya. “kau… baik, cantik, manis dan asyik” jawab Jongwoon.

“jinjja?” Geunyoung tersenyum puas dengan jawaban Jongwoon. “apa aku terlihat seperti adikmu?”

“tentu saja tidak. adikku itu Jongjin”

“issh, terserah saja. Bagaimana menurutmu kalau kita pacaran?”

“MWO???????????” respon Jongwoon dengan cepat, kaget dan berteriak. Dalam sekejap semua mata tersorot pada mereka. Hening seketika. Keduanya terdiam malu, lalu menit berikutnya mata-mata tadi kembali pada tempatnya masing-masing.

“michingeoni?!” sergah Jongwoon.

“wae? Apa aku terlalu kecil?”

“jeongmal! Kau tahu apa artinya pacaran huh?”

“kalau ditanya hal itu semua orang juga bisa jawab. Teman-temanku banyak yang punya pacar seumuran denganmu bahkan ada yang lebih senior dari kau. Lalu apa masalahnya?”

“kau ini…!! kalau begitu kau pacaran saja dengan temannya pacar temanmu!”

Jongwoon berdiri dan pergi dengan rasa kesal.

“ya! kenapa kau marah? Jongwoon-ah” panggil Geunyoung seraya menyusul Jongwoon.

…………………………………….

GEUNYOUNG POV

“annyeong eonni. Apa Jongwoon sudah keluar?” tegurku pada seorang yeoja didepan gerbang sekolah Jongwoon. Seperti yang biasa kulakukan jika bukan Jongwoon yang datang kesekolahku sepulang sekolah. Karena terpaut perbedaan usia 3 tahun, saat ini aku masih duduk disekolah menengah pertama sedangkan Jongwoon lebih dulu sekolah dimenengah atas. Seharusnya aku memanggilnya oppa kan? Tapi tidak usahlah, aku sudah terbiasa dengan nama Jongwoon.

“mollayo” jawab yeoja yang kupanggil eonni.

Kuteruskan langkah memasuki sekolah tersebut dan menuju kelas Jongwoon, tampaknya sudah mulai sepi.

“Jongwoon-ah” panggilku dengan cepat seraya memunculkan kepalaku dibalik pintu kelasnya. Maksud hati ingin mengagetkan dia, tapi ternyata kelas itu kosong!.

“ck, aisshh. Jinjjayo, lagi-lagi sibuk”

Sejak diterima di SM, Jongwoon jadi sering bolak-balik dari sana dan selalu berkata ‘aku sibuk’ jika aku datang berkunjung. Aku senang jika akhirnya impiannya terwujud, tapi ini membuatku tidak nyaman. Perlahan-lahan Jongwoon mulai menjauh. Kutinggalkan tempat itu dan pulang sendirian untuk kesekian kalinya dengan rasa kecewa.

……………………………….

       “Jongwoon-ah” panggilku saat berkunjung kerumahnya, yah inipun juga merupakan kebiasaan sejak kecil yang kami lakukan, saling bermain kerumah satu sama lain. aku baru sampai didepan pintu, tapi sebelum sempat diketuk, Jongwoon keluar dengan pakaian yang rapi.

“kau mau kemana?” tanyaku.

“latihan”

“hari inipun latihan? Inikan Minggu”

“memang begitu peraturannya, mau bagaimana lagi. Sudah ya”

Hhhuuffhh… lalu apa gunanya aku kesini? Jongwoon payah. Karena belum terlanjur masuk, aku pulang saja. Semuanya terlihat jadi tidak menyenangkan. Minggu yang membosankan.

“Geunyoung-ah, mau kemana?” panggil seseorang dari belakang. Aku menoleh dengan malas.

“pulang” jawabku singkat lalu meneruskan langkah.

“mm? Secepat itu? nanti dulu, bantu omma memasak didapur”

“ya! kau kira aku pembantumu!”

“Cuma bercanda. Aku sedang kerepotan, bisa bantu aku?”

“bantu apa?”

“aku butuh rival untuk games ku”

“sudah kuduga!”

Meskipun begitu, niat untuk pulang kerumah ku urungkan dan akhirnya aku berbalik untuk menerima ajakan Jongjin.

…………………………….

       “Bagaimana menurutmu kalau kita pacaran?”

       “MWO???????????”

Apa-apaan itu!. berteriak hingga seluruh pengunjung disana menatap heran. Reaksinya itu berlebihan kan.  Tapi aku cukup bersyukur dengan tidak adanya penolakan secara langsung dari mulutnya, walaupun kata-katanya menyakitkan. Hiks. Tapi sungguh, aku tidak main-main dengan ucapanku saat itu.

………………………………..

       “Geunyoung-ah, ppaliya!” panggil Jongwoon yang berdiri digerbang sekolahku. Sepertinya dia sudah menunggu dari tadi, wajahnya kusut. Dengan setengah berlari kususul dia lalu kami pulang bersama-sama.

“kau itu! bisakah keluar lebih tepat waktu” tegurnya sambil menonjol pelan kepalaku.

“kau yang datang kecepatan!” belaku kesal. Aku marah? Tidak, justru aku senang akhirnya kami bisa pulang bersama lagi. Ya tuhan apa ini kesempatan dari mu? Kyaaaaa>.<

Baiklah Geunyoung-ah, mari coba ungkapkan perasaanmu sekali lagi. Kali ini harus lebih serius dan meyakinkan. Jjang!!.

“aku tidak ingin langsung pulang” paparku.

“lalu?”

“ayo jalan-jalan”

“ah tidak bisa. Setelah ini aku dipanggil ketempat latihan”

“mwo? Bukannya seminggu ini kau libur?” tidak, jangan begini lagi.

“benar, tapi kali ini tidak latihan, ada yang ingin pelatih sampaikan dan mungkin hanya sebentar”

“kalau begitu aku ikut”

“heh?!” Jongwoon setengah kaget “kalau aku lama bagaimana?”

“kau bilang Cuma sebentar” jawabku dengan menaikkan nada suaraku.

“iya, sebentar yang kumaksud adalah mungkin sampai 30 menit atau bahkan 1 jam”

“tidak apa-apa. Aku ikut saja”

“Geunyoung-ah, bagaimana kalau ahjuma marah”

“aniyo, omma tahu kalau aku bersamamu”

Aku berjalan duluan mendahuluinya.

“jadi pergi tidak?” tanyaku sambil menoleh pada Jongwoon. Dia tidak menjawab dan hanya turut berjalan menyusulku.

“khaja” tegur Jongwoon dari belakang.

“sudah?” aku berdiri dari dudukku. Aigoo menunggu itu sangat melelahkan.

“eoo. Lama kan?”

“cih, kenapa tidak genapkan 1 jam saja”

“tadi kan sudah kubilang kalau aku akan lama. Kau sendiri yang mau ikut, kanapa malah marah”

“kau kelamaan! Sudahlah ayo pergi” aku berbalik dan berjalan mendahuluinya dengan raut masam. Sebenarnya ini bukan salah Jongwoon, tapi aku kesal menunggu lama-lama. Seperti biasa, tidak peduli salahku atau salahnya pasti aku yang akan marah duluan, tinggal Jongwoon yang membujuk atau menghiburku agar tidak marah lagi.

‘aku tidak tahan melihat wajah suram begitu, apalagi jika itu kau’ ungkapnya pada suatu hari. Alasan itu membuatku terharu.

“sebentar lagi aku akan debut”

“jinjja?” ekspresiku perlahan berubah, aku senang tapi sepertinya hatiku berkata lain “chukkaeyo” lanjutku sambil tersenyum kembali. Jelas ini senyum yang dibuat-buat.

……………………………….

       “Jongwoon-ah, aku… anu… begini… mm…” bagaimana cara mengungkannya, kenapa tiba-tiba aku gugup. Aissshh.

“mworaguyo? katakan dengan jelas, langsung keintinya saja” gumamnya tak ingin bertele-tele.

“nan niga joa. Sa… saranghe…” sambarku.

AUTHOR POV

. . . .

Hening. Hanya suara kicauan burung yang terdengar,  taman (tempat Geunyoung dan Jongwoon sekarang) juga sudah mulai sepi karena hari sudah sore. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Jongwoon untuk menjawab Geunyoung. Geunyoung sendiri tertunduk didepan namja yang disukainya.

Jongwoon menghembuskan nafas panjang dan memandang sekeliling.

“sebentar lagi gelap. Sebaiknya kita pulang” gumamnya lalu berjalan duluan.

“wae? Kau menghindariku?” Geunyoung mengangkat wajahnya dan bertanya dengan serius.

“tidak. aku hanya menganggap kau tidak pernah mengucapkan apapun”

“kau tidak suka padaku?”

“haruskah kujawab ini? Kupikir kita sahabat”

“sampai saat ini kita memang sahabat, tapi aku ingin lebih daripada itu”

Jongwoon tak menjawab, dia memalingkan wajahnya dari tatapan Geunyoung dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Disisi lain, Geunyoung masih tak bergeming.

…………………………………….

#1 month later

“annyeong ahjumma, aku datang berkunjung. Jongwoon ada?”

CKLCK. Geunyoung masuk kekamar Jongwoon dan mendapatinya sedang mengemasi barang kedalam tas yang besar.

“Jongwoon-ah kau mau kemana dengan barang sebanyak itu?” tanya Geunyoung heran.

“aku akan pindah ke dorm”

“dorm? Kapan?”

“beberapa hari lagi. Hari debutku tinggal beberapa minggu”

“keure?” ekspresi Geunyoung berubah,  dia terdiam untuk beberapa saat. “Jongwoon-ah” panggilnya

“mm?”

“kau tidak berniat menjawab pertanyaanku?”

“pertanyaan apa?”

“haruskah kuulangi lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya kukatakan bahwa aku menyukaimu. Tolong jawab aku”

Jongwoon terdiam.

“odol, sikat gigi, sabun, handuk. Aku akan mengambilnya” ucap Jongwoon (lagi-lagi) mengalihkan pembicaraan jika ditanya hal itu. namja ini berdiri dan keluar.

“YA! SUSAHKAH UNTUK MENJAWABNYA SAMPAI-SAMPAI KAU HARUS MENGHINDAR SEPERTI ITU?” Jongwoon terhenti, tidak jadi membuka pintu. “KAU CUKUP MENJAWAB ‘YA’ ATAU ‘TIDAK’. BAHKAN KAU BISA BILANG TIDAK JIKA KAU KEBERATAN, HATIKU AKU YANG PUNYA JADI APAPUN JAWABANMU KAU TIDAK PERLU MERASA BERSALAH. TIDAK MASALAH JIKA KAU MENOLAKKU. Aku hanya butuh kepastian” ungkap Geunyoung melemah setelah sebelumnya berbicara sambil berteriak.

CKLCK. Blam. Setelah menjadi pendengar setia, Jongwoon keluar tanpa berkata apapun. Lagi-lagi namja itu berbuat demikian.

Wajah Geunyoung memerah dan nafasnya naik turun setelah mengeluarkan kemarahannya. Yeoja ini juga turut keluar dari kamar lalu terus menuju teras dengan langkah cepat sambil menghentakkan kakinya dan pulang tanpa pamit seperti biasanya.

“ada apa dengannya?” tanya eomma pada Jongjin. Mereka sedang nonton TV.

“molla. Paling-paling bertengkar lagi dengan Jongwoon”.

……………………………..

#5 day later

“hyung kau harus sukses dan jadi penyanyi hebat yang terkenal. Ingat! Jangan lupa pada kami” pesan Jongjin pada Jongwoon yang hari itu akan pindah ke dorm SM. Semua barang telah telah siap dan berada dalam mobil jemputan, tinggal menunggu pemiliknya yang sebelum pergi masih sibuk dengan perpisahannya.

“eoo. Kira-kira apa aku perlu ganti nama? Sepertinya Jongwoon nama yang pasaran”

“ganti saja. Yesung. Itu lebih bagus. Belum pernah ada yang menggunakan nama itu sebelumnya” sahut eomma mengusulkan satu nama panggung untuk Jongwoon.

“keure? Mmm. Apa artinya eomma?” tanya Jongwoon penuh minat.

“Yesung berarti suara yang paling bagus. Yesung juga diartikan sebagai harapan mempunyai seorang istri yang bisa mengurus rumah tangga dengan baik”

“begitukah? Uwaah daebak. Eomma, kau memang yang terbaik” puji Jongwoon “aku akan pergi sekarang, sampai jumpa semua. Aku menyayangi kalian. Jongjin jaga eomma, jangan pernah membuatnya kesal. Ok?” ucap Jongwoon sambil masuk kedalam mobil.

“aratta. Sebaiknya kau yang jaga diri baik-baik” sahut Jongjin.

“nde”

Kemudian mobil itu perlahan mulai berjalan dari tempatnya.

Telpon rumah berdering, eomma masuk duluan untuk mengangkatnya. Mobil yang ditumpangi Jongwoon juga sudah mulai menjauh.

“JONGWOOOONN!!” teriak seorang yeoja yang datang terlambat dan memutuskan untuk mengejar mobil tersebut. Jongjin yang hendak masuk kedalam rumah menoleh ke yeoja itu dan mengurungkaan niatnya untuk masuk.

“CHAKKAMANYO. JONGWOON-AAAAHH, CHAKKAMAN” teriaknya lagi sambil terus berlari sekuat tenaga.

“Geunyoung-ah!” Jongjin yang melihat itu merasa tidak bisa tinggal diam, diapun turut berlari tapi untuk menghentikan Geunyoung. Mereka berlari sampai kejalan raya.

“JONGWOOOOONNNN!!!… Shhh ffhhh… shhh…” sampai sejauh ini mobil yang ditumpangi Jongwoon tak juga berhenti tapi kekuatan Geunyoung sudah sampai pada batasnya. Yeoja ini menyerah dan berhenti mengejar sambil ngos-ngosan.

“ya! neo micheosso?!” tegur Jongjin saat berhasil menyusul, namja ini juga ngos-ngosan karena lelah berlari.

“. . .” Geunyoung berbalik dan berjalan dengan lunglai.

“mau kemana? Ya! tunggu aku”

“Geunyoung-ah sebenarnya kau mau kemana?” tanya Jongjin yang sejak tadi mengikuti Geunyoung dan berjalan sedikit dibelakangnya. Berjam-jam mengikuti Geunyoung membuat Jongjin memaksakan kakinya untuk terus berjalan.

“hhh shh~~ bagus, sedikit lagi kita berjalan kakiku benar-benar akan lepas” keluh Jongjin saat Geunyoung berhenti.

“. . .”

“kau mau kemana? Dari tadi kita berjalan tanpa tujuan”

“. . .”

“Geunyoung-ah”

“. . .”

“ya! katakan sesuatu, kau membuatku takut” Jongjin memandang kesekeliling. Dikiri dan kanan mereka ada tembok yang cukup tinggi dan tebal, menambah rasa takutnya semakin menjadi dan nyata. Tempat itu sepi.

“hiks hiks… hhhuuuaaaaaaaaa” tiba-tiba Geunyoung berjongkok dan menangis dengan keras.

“w w we weo?” panik Jongjin dengan gagap.

“HHUUUAAAAAAA~~~”  tangis Geunyoung semakin keras. jongjin pun bertambah panik dan mulai salah tingkah.

“cup cup cup anak baik, diamlah” hibur Jongjin sambil mengusap pelan bahu Geunyoung, namja ini benar-benar kebingungan.

1 jam berlalu…

“hiks hiks…” Geunyoung mulai tenang dengan masih menyisakan sisa-sisa tangisnya. Tak ada yang dapat dilakukan Jongjin untuk menghibur Geunyoung, melihat itu saja dia sudah kalang kabut dan panik tak karuan. Akhirnya Jongjin hanya diam menunggu sampai yeoja itu berhenti menangis. Mereka duduk sambil bersandar pada sisi tembok.

“jujur saja, aku bingung dengan semua ini. Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Jongjin memulai percakapan.

“Jongwoon”

“kenapa dengannya”

“aku benci dia!”

TBC

……………………………….

Okey, sampai disini sepertinya ff ini harus diputus dulu. Maksudnya supaya reader penasaran kelanjutannya gimana dan itupun memberi peluang bagi saya untuk membuat kelanjutan cerita ini seperti apa #hehe. tolong dunk komentarnya biar saya tau gimana cerita saya dimata reader sekalian sekaligus pembelajaran bagi saya untuk selanjutnya. Jeongmal gomawo karena sudah bersedia membaca and see you next time, annyeooong…

2 responses to “Forever After

  1. Kyaaa..
    Yesung oppa kau pergi begtu saja..”̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮
    Ahh penasarann.. Keren ff`y
    Dlnjut yah author ^^

Komentar ditutup.