I Wonder If You Hurts Like Me

I WONDER IF YOU HURTS LIKE ME

Title      :           I Wonder If You Hurts Like Me

Author  :           Yesunggyu-Amalia Laili

Length  :           One shoot

Genre   :           -sad, comedy *?*-

Cast     :           Yezi (Fiestar), Yu Yongjae (B.A.P), Minwoo (Boyfriend), Naeun (A Pink)

…………….………….

“Annyeong haseyo, Young!” pangil Yezi pada Youngjae yang bersender di pintu kelas.

“annyeong…” jawab Youngjae dengan malas.

“hiss…kenapa kau seperti itu? siapa yang kau tunggu?” tanya Yezi pada Youngjae yang sedang memandang jauh ke belakang Yezi.

“hmm…” badan Youngjae langsung tegak dan mengembangkan senyum begitu melihat seseorang datang menuju kelasnya.

“annyeong haseyo, Chagiya…” sapa yeoja itu dari belakang Yezi. Yezi yang tadi mengerutkan keningnya melihat Youngjae, ia pun mulai mengerti.

“annyeong haseyo…” jawab Youngjae.

“ara… hmmm…” Yezi lalu berbalik. “annyeong haseyo, Naeun…”

“hehehe… annyeong haseyo…” ujar Naeun sambil tersenyum manis. Yezi pun segera kekelas meninggalkan sepasang kekasih itu bertatap muka. Yezi duduk dengan menelungkupkan kepala di atas tasnya. Dia ngantuk sekali. Tadi malam begitu banyak kerjaan di restoran milik orangtuanya, dia juga harus membantu kan?

Beberapa menit kemudian, ia menolehkan kepala kearah kanan, tempat dimana sepasang kekasih itu berada. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepala pelan. Tempat seperti itu dijadikan tempat pertemuan, norak. Itu pikirnya. Dia lalu menutup mata perlahan, berharap bisa tidur meski sejenak.

“MINWOOO!!”

Teriakkan seorang yeoja membuat badannya tegak diikuti kepalanya. Dia lalu menoleh kekiri kekanan dan berdiri mencari seorang yang bernama Minwoo.

“eodie?” tanyanya pada diri sendiri. Dia lalu menemukan Minwoo ternyata lewat didepan kelasnya. Membuatnya tersenyum kecil yang ditutupinya dengan kedua tangannya. Terlalu singkat, ujarnya.

“uwahh… mendengar nama Minwoo kau langsung bangkit dari mimpi!” ejek Chanmi yang duduk disampingnya. Yezi kembali duduk dan memperbaiki sikapnya sambil menghadap Chanmi.

“kau yang memanggilnya tadi?” tanya Yezi.

“nde, waeyo?” jawab Chanmi dengan wajah tanpa dosa. “aku akan jadi alarm setiamu kalau Minwoo lewat. Oke?”

“ya!” Yezi berteriak pada Chanmi. Wajahnya kesal, tapi tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya.

“ah… Yezi jangan membohongi perasaanmu… aku ngerti kok…” Chanmi terus menggodanya, Yezi langsung menelungkupkan kembali kepalanya ke atas tasnya.

“shikkeroo…” ujar Yezi yang pura-pura kesal, sementara Chanmi terus mengejeknya.

“Noona neomu yeppo… replay replay replay…” Chanmi menyanyikan lagu REPLAY milik SHINee dengan suaranya yang serak-serak becek. Membuat pagi Yezi menjadi buruk.

………………..

Saatnya istirahat, begitu bel Yezi segera pergi menuju kantin. Melupakan bahwa Chanmi meminta untuk ditungguin. Dia berjalan dengan cepat, karena merasa cacing diperutnya sudah demo semua minta makan dan menyetel lagu trot di perutnya. Sambil memegang perut dia berjalan dengan cepat.

“omo!” tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat mengalahkan gemuruh perutnya. Dia diam sejenak, hatinya sakit.

“huahh… untung sempat terkejar. Kenapa meninggalkanku?” Chanmi yang sempat mengejarnya lalu berdiri dibelakangnya.

“Yezi ya…” panggil Chanmi melihat Yezi yang diam terpatung, dia lalu melihat kearah pandangan Yezi.

“omo!” pekiknya.

“kaja…” Yezi menarik tangan Chanmi dengan kasar dan berjalan dengan cepat agar 2 orang yang membuatnya terpaku itu tidak menyadari kalau mereka diamati. Yezi tetap diam sambil menarik Chanmi. Ia melewati 2 orang tadi.

“eh, Yezi, kenapa Minwoo dan Naeun bertemu? Apa urusan mereka?” tanya Chanmi dalam perjalanan menuju kantin.

“bukan urusanku! Ppali… perutku lapar…” jawab Yezi sekenanya, Chanmi pun ikut diam.

“nothing’s happen…” ujar Yezi dalam hati.

…………………

Sore itu, tidak begitu panas. Beruntung ujar Yezi. Dia tidak bawa topi, jadi baguslah kalau tidak panas. Dia berjalan dengan Youngjae seperti biasa dalam perjalanan pulang. Rumah mereka hampir dekat, hanya saja jika Youngjae berbelok ke jalan kanan, maka Yezi ke jalan kiri. Yezi dan Youngjae saling diam. Yezi berjalan menunduk melihat sepatunya dan arah jalannya, sedang Youngjae melihat Yezi dengan heran.

“kenapa diam saja?” tanya Youngjae pada Yezi.

“hem?” Yezi menoleh pada Youngjae. “gwenchana… kepalaku pusing…”

“kau sakit?” tanya Youngjae lagi.

“aku kan sudah bilang, kenapa ditanyakan…” ujar Yezi dengan lesu.

“ohh… parah?” tanya Youngjae lagi.

“tidak, aku kurang tidur…” jawab Yezi.

“hem…” balas Youngjae, mereka pun kembali diam. Yezi berjalan sambil melihat kebawah. Ini pertama kalinya ia tidak banyak bicara dengan Youngjae. Biasanya ia akan cerewet dan menasehati Youngjae. Tapi kali ini, baik ia maupun Youngjae tidak ada yang berbicara.

“Youngjae, ya…” panggil Yezi.

“mwo?”

“kau sangat mencintai Naeun?” tanya Yezi hati-hati.

“kenapa kau tanyakan itu?” Youngjae malah balik bertanya dengan heran.

“ani…” geleng Yezi.

“tentu saja aku mencintainya… neomuuu..” jawab Youngjae dengan sepenuh hatinya.

“baguslah…” angguk Yezi kini.

“kau cemburu?” tanya Youngjae sambil tersenyum jail.

“siapa yang cemburu! Aku kan cuman tanya…” elak Yezi keras.

“ah, baiklah.. kau jangan marah..” ujar Youngjae sambil menendang batu dihadapannya. Tak! Batu itu mengenai pagar rumah orang.

“uwaaa…kalau ada yang tanya apa aku kenal denganmu, aku bilang tidak kenal ya… dasar bikin malu…” ujar Yezi.

“aku kan tidak sengaja… orangnya tidak tahu kan?” tanya Youngjae pada Yezi.

“molla…” ujar Yezi sambil mengangkat bahunya. “ppali, sebelum orangnya menyadari…”

Mereka kembali berjalan dengan cepat menuju rumah masing-masing, mungkin…. berlari kecil.

………………………

Yezi berjalan tanpa ekspresi, dia berusaha untuk tertawa. Tapi tidak ada gunanya. Otot wajahnya tidak mau di ajak kompromi, jadi dia tidak mengatakan apa-apa.  Langkahnya semakin cepat. Ada hal yang membuatnya harus tertawa meskipun pada satu sisi harus membuatnya menangis kesakitan. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan sakit. Rasanya perjalanan begitu jauh.

Yezi berhenti didepan gudang dan hal itu malah membuatnya tambah sakit. Orang yang berada didalam gudang itu, pasti juga merasa sakit. Dia hanya diam melihat orang itu. Setetes air matanya jatuh. Ia segera menyekanya agar orang itu tidak melihatnya. Yezi maju satu langkah melihat hal yang akan dilakukan orang itu.

BRAKK..

“YOUNGJAE!” Yezi berteriak kepada Youngjae yang menendang bangku-bangku yang ada di gudang hingga berhamburan. Yezi segera berlari menghampiri Youngjae.

“kau sudah tau?” tanya Youngjae pada Yezi, wajahnya tampak merah padam. Yezi hanya diam melihat Yongjae, dia tidak tahu harus bilang apa.

“ARGHHH… sekki…” dia memukul tembok lagi kali ini. Yezi hanya memicingkan matanya miris. Itulah Yongjae yang terpendam selama ini. Youngjae lalu terduduk dan terus mengepalkan tangannya kuat.

“Youngjae…” Yezi mendekati Youngjae yang diam.

“tinggalkan aku Yezi…” pinta Yongjae, Yezi melihat ke tangan Youngjae, biru lebam. Tapi kenapa Youngjae tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan, bahkan untuk melihat tangannya sendiri enggan. Rasa sakit hatinya, mungkin lebih sakit daripada tangannya.

“apa keputusanmu?” tanya Yezi.

“pergilah…” ujar Youngjae lagi. Yezi menurut saja, dia berbalik dan berjalan dengan pelan. Baru saja 10 langkah ia berjalan. Ia berhenti dan berbalik lagi.

“Yezi, aku akan menghabisinya, kau tidak marah kan?” tanya Youngjae yang sekarang melihat wajah Yezi.

“hem…” Yezi menyunggingkan senyum sebelah kanannya, ia tahu Youngjae akan mengatakan itu. “aku baru saja mau bilang, disekolah ini, dia adalah anggotaku, tapi diluar sekolah. Kau bisa melakukan apa saja…”

“keure… jangan memberitahukan yang lain…” ujar Youngjae.

“dari mulutmu tidak akan… iya kan?” ucap Yezi tersenyum setelah itu berbalik dan meninggalkan Youngjae di gudang.

……………………

FLASHBACK ON

Yezi terdiam didepan rak buku di perpustakaan, dia bukan diam tanpa alasan. Dia mendengarkan percakapan dua orang yang berada di balik rak buku dihadapannya.

“aku harus bilang apa lagi, aku sudah punya pacar…” suara seorang yeoja yang Yezi merasa mengenalinya.

“aku akan tetap menyukaimu…” jawab seorang namja, lawan bicara yeoja tadi.

“tidak bisa!” ujar yeoja tadi lebih keras. Yezi tertegun, benar, ia mengenal suara ini.

“apa yang dimiliki Youngjae yang aku tidak bisa berikan untukmu?!” Namja itu juga bersuara lumayan keras. Beberapa orang disekitar melihat mereka. Kali ini Yezi merasa ia harus menggeser beberapa buku yang menghalangi pandangannya.

“kecilkan suaramu…” bisik yeoja itu. Yezi tersikap melihat yeoja yang dilihatnya. Dia mundur 3 langkah, memegang dengan erat buku yang ada ditangan kanannya. Berbalik dan berlari perlahan meninggalkan tempat itu.

“Minwoo, pabo!” ujar Yezi.

FLASHBACK OFF

…………………….

Yezi mengepak berkas-berkasnya, dia baru saja memimpin rapat “Persiapan Acara Bazzar” untuk sekolahnya. Padahal dia baru saja jadi siswa di sekolah itu, tapi sudah bisa mempengaruhi banyak orang untuk memilihnya menjadi pimpinan dalam rapat tadi. Harusnya sih ketua OSIS yang mimpin, tapi ketuanya sedang sakit. Jadi Yezi disuruh untuk memimpin rapat.

“Hyunseong itu, dasar… kenapa tidak hadirr???” geram Yezi. “sudahlah yang berlalu biarlah berlalu…”

“Yezi, aku baru mengumpulkan data anggotanya, maaf ya…” ujar seseorang dari belakangnya. Yezi pun berbalik dan mengambil kertas ditangan namja yang bernama Minwoo itu dengan tatapan dingin.

“hem… aku hampir saja melupakannya, gomawo…” jawabnya, Minwoo menunduk sekali dan berbalik.

“eh, Minwoo… aku ingin bertanya padamu…” panggil Yezi tiba-tiba.

“ada yang bisa kubantu?” Minwoo berbalik. Seperti yang kuduga, dia sopan. Ujar Yezi.

“apa hubunganmu dengan Naeun?” tanya Yezi langsung.

“kenapa menanyakan itu?” tanyanya balik dengan bingung.

“tidak perlu bertanya balik. Aku kan tanya padamu!” Yezi pada akhirnya kesal juga.

“kau menyukaiku?” Minwoo bertanya lagi membuat Yezi tersontak kaget. Sekejap ia langsung bisa mengendalikan kembali perasaannya.

“kalau iya, kenapa?” kali ini Minwoo yang tersontak kaget, boomerang. “apa hubunganmu dengan Naeun?”

“aku…” Minwoo menundukkan kepalanya, bingung.

“omona! Aku bukan bermaksud untukk…” Yezi memegang kepalanya. “bukan maksudku untuk mau menjadi pacarmu atau apa, hanya saja… hem…” dia berdeham.

“…” Minwoo melihat gerak-gerik Yezi dengan heran.

“jauhi dia!” tihtah Yezi.

“wae?”

“aigoo… kau tau kalau Naeun sudah punya pacar? Dia pacaran dengan Youngjae!!!” ucap ucap Yezi kali ini lebih nyaring.

“ara…” angguk Minwoo, tampaknya dia benar-benar yakin apa yang dikatakannya.

“micheoyo!!” Yezi meraih kerah Minwoo, tidak perduli meski badannya pendek. “tidak masalah kalau kau tidak menyukaiku, tapi kenapa harus NAEUN!!!” Yezi menghempas Minwoo hingga membuatnya termundur sedikit.

“kau tidak berhak mengaturku…” ujar Minwoo pada Yezi.

“memang tidak berhak! Tapi aku peringatkan padamu… Youngjae adalah sahabatku… jangan…” belum selesai Yezi berbicara, Minwoo menyunggingkan senyum.

“aku, mungkin terlihat memaksa, tapi… aku tidak akan bersama Naeun kalau bukan dia yang juga menyukaiku…”

“kenapa, Naeun bisa… tapi bukankah dia bilang…” Yezi seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Minwoo.

“apa menurutmu selama ini hubungan mereka baik-baik saja?” tanya Minwoo membuat Yezi tambah bingung.

“apa yang kau lakukan?” tanya Yezi. Minwoo memejamkan mata sejenak dan menghela napas.

“mollayo…”  gelengnya pelan. Yezi melangkah mundur perlahan lalu berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu.

…………………….

Yezi berlari mencari Youngjae, kekelasnya, kekelas Naeun, ke gudang, ke taman, ke perpustakaan. Tidak ada. Youngjae tidak ada dimana-mana. Dia baru ingat, sekolah ini sudah sepi. Youngjae pasti sudah pulang. Ia menepuk jidatnya.

“huahh… tenangkan dirimu… gwenchana, semua baik-baik saja…” dia lalu berjalan pelan menuju ruang rapat tadi untuk mengambil barang-barangnya. Begitu membuka pintu, ia sontak kaget melihat Youngjae duduk ditempatnya.

“omona! Kenapa kau ada disini? Aku mencari-carimu!” ujar Yezi sambil menghampirinya.

“…” Youngjae hanya diam melamun menatap keluar jendela. “aku capek rasanya…”

“capek apa?” tanya Yezi pada Youngjae, dia duduk didepan Youngjae.

“….” Youngjae diam lagi.

“sebenarnya, aku katakan padamu, jangan putus dengan Naeun, kalau kau lakukan. Kau akan kalah dari Minwoo, mengerti!” ujar Yezi.

“ara…” jawab Youngjae sambil mengangguk.

“huft…” Yezi menghela napas. “tapi… kalau kau lakukan itu… aku malah kasihan padamu… yah sebaiknya kau putus saja dengan Naeun…”

“ani… aku tidak mau…. Aku masih mencintainya…” jawab Youngjae.

“tapi Youngjae… kau malah sakit hati nanti…” ujar Yezi.

“gwenchana…” ujar Youngjae sambil beranjak dan mulai melangkah. “nah, kaja…” ajaknya. Yezi hanya diam duduk dibangkunya.

“kaja…” ajak Youngjae lagi.

“bagaimana denganku…” ujar Yezi sambil menatap Youngjae datar.

“apa maksudmu?” tanya Youngjae bingung. “jangan katakan kalau…”

“nde, choayoo…” Yezi menundukkan pandangan.

“KAU MENYUKAIKU?!” lonjak Youngjae.

“ANIYA!!!” Yezi yang ikut terlonjak memasang raut kesal.

………………

YEZI POV

Dasar Youngjae kePede-an. Ngapain juga aku suka sama dia? Pabo… huft… dan aku tidak menyangka dia tidak jadi memukul Minwoo.

“aku masih memberikan kesempatan dan baru menggertaknya. Lain kali kalau dia mendekati Naeun lagi, aku tidak berpikir-pikir lagi…” ujarnya mantap.

“jinja? Heh…” senyumku sinis.

“jangan menatapku begitu! Aku benar!” paksanya.

“nde… arayo!” anggukku sambil tersenyum. “by the way, sejak kapan kau melakukan sesuatu dengan berpikir, kau kan tidak punya…”

“Mwo? mworagu? Ya! Mworagu?!” dia jadi kesal, aku tidak jadi melanjutkan kata-kataku, yaitu ‘pabo’. Hahaha… dia sudah tau rupanya.

Aku berjalan pulang, Youngjae tadi bersamaku, tapi dia singgah mau main game online. Pantas saja 3 pelajaran tidak tuntas, dia main terus sih. Didepanku ada kaleng minuman. Dengan iseng aku menendang dengan sekuat tenaga kedepan.

TTANG!

“UWAA…” teriak seorang namja. Kepalaku langsung menengadah. MINWOO! NGAPAIN DIA DISINI!

“omona! Mianhae…” ujarku sambil menunduk dan menghampirinya, mengusap bahunya yang terkena kaleng.

“huft… gwenchana…” keluhnya sambil membersihkan bahunya juga.

“hmm…” aku diam melihatnya. “kenapa kau ada disini?” tanyaku.

“molla…” jawabnya.

“hah?” aku mengeryitkan dahi.

“hehehe… aku tidak tahu…” dia malah tersenyum padaku. Aneh.

“kalau begitu aku pergi…” ujarku meninggalkannya.

“aku ikut…” eh, dia malah mengikutiku.

“wae?” tanyaku lagi.

“molla…” jawabnya. Ya Tuhan, aku tidak bisa memarahi orang dengan wajah sepolos ini. Kenapa tadi siang ku marahi? Aku jadi tidak enak.

“terserah…” aku berjalan terus, dia berada dibelakangku mungkin 3 meter. Kami diam saja, padahal hatiku rasanya mau keluar.

“YA! Rumahmu dimana?” tanyaku akhirnya.

“oh iya! Sebaiknya aku pulang…” dia tersenyum padaku dengan manisnya. Aigoo… “suatu hari, aku butuh bantuanmu, Yezi…”

“bantuan apa?” tanyaku.

“yah pokoknya ada…” dia melanjutkan perjalanan meninggalkanku yang seperti orang bodoh (memang bodoh kali *dijitak Yezi).

…………………..

Besoknya.

Aku sedang dikantin, sendiri. Ya! Youngjae! Kau ada dimana! Kenapa meninggalkanku? Aku makan dengan kesal. Apa dia sudah baikkan dengan Naeun? Kalau sudah, bagus dong! Tapi jangan tinggalin aku sendiri, plis deh.

“aku boleh duduk disini kan?” tanya Minwoo padaku.

“loh! Kau…” aku belum selesai menjawab, dia langsung duduk didepanku.

“wae?” tanyanya melihatku heran.

“ani…” aku menggelengkan kepala.

“wae?” tanyaku.

“kau makan sendiri… tuh…” dia menunjuk dengan sendoknya kebelakangku, aku lalu menoleh.

“wah…” aku mengerti, ternyata disana ada Youngjae dan Naeun.

“jadi, apa maksudmu hah?” tanyaku mulai kesal.

“tidak boleh?” tanyanya lagi, kali ini aku benar-benar kesal. Aku berdiri, pas juga makananku sudah habis.

“tidak! Aku pergi!” dia lalu menahan tanganku.

“jangan pergi dulu… tunggu aku selesai makan, ada yang ingin ku bicarakan denganmu…” ujarnya padaku.

“tidak ada…” jawabku.

“aku serius…” ujarnya.

“hmm…” aku berdiri menunggunya makan.

“duduklah…” pintanya.

“ani…” jawabku.

….

….

….

10 menit. Daebak! Lama juga anak ini makan. Akhirnya kuputuskan untuk duduk. Capek. Makan kayak putri aja.

“kenapa duduk?” tanyanya tanpa menghentikan makannya.

“kau lama sekali makan…” jawabku.

“hehehe…” dia malah ketawa.

“kuhitung sampai tiga, kalau belum, kutinggal…” ancamku.

“eh iya iya…” dia mulai bergegas.

“han…”

“…”

“tul…”

“…”

“s…”

“sudah sudah!” dia menghentikanku, membuatku tersenyum geli. Pabo. The boy who full of foolishness. Hahaha.

“mau bicara apa?” tanyaku.

“eh?” dia malah bertanya balik.

“kau bilang mau bicara padaku!” ujarku kesal.

“eh iya… gara-gara makan cepat-cepat, aku jadi lupa!” jawabnya. Pabo!

“ishh…” aku segera berbalik dan pergi meninggalkannya.

“kidaryo…” dia berlari mengejarku. Aku mempercepat langkahku.

“…”

“Yezi-ya…” dia berhasil meraih tanganku, aku jadi tertarik kebelakang. “hmm..”

………………

Aku merasa jantungku berhenti berdetak begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Minwoo. Aku tidak dapat mempercayai apa yang baru saja kudengar. Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak tahu harus bagaimana.

“aniya…” hanya jawaban itu yang keluar dari mulutku.

“wae? Bukankah kau juga menyukaiku?” tanyanya lagi.

“ani… tidak lagi…”

“…”

“menurutmu, apa yang kau rasakan? Maksudku apa kau bisa merasakan apa yang kurasakan?” bibirku rasanya bergetar untuk mengatakan hal ini.

“merasakan apa?” tanyanya heran.

“aku merasa geli pada dirimu..” jawabku sambil tersenyum sinis padanya, reflex.

“….”

“heh… jadi kau akan menemuiku jika kau tidak mendapatkan Naeun? Atau kau hanya menjadikanku sebagai umpan untuk mengembalikan Naeun? Atau kembali mendapat kepercayaan dari Youngjae? Atau apa?” aku mencercanya dengan banyak pertanyaan yang membuatnya terdiam.

“aku tidak jatuh pada lubang yang sama…” anggukku sekali.

“…”

“aku mengenalmu, Minwoo… dan kau mungkin juga begitu…”

“sekarang kau baru menjual mahal dirimu…” jawab Minwoo dengan pandangan merendahkan.

“aku tidak pernah menjualnya dengan murah. Karena aku tidak dijual….” Jawabku berusaha tenang, aku menggenggam tanganku dengan gemetar.

“huft…” Minwoo menghela napas. “benar… aku yang salah…”

“…” aku dan dia saling berhadapan, tapi tidak ada perasaan seperti dulu. Rasanya aku sangat muak dengannya.

“yeoja sepertimu ini…” dia menyentuh pipiku, dengan cepat kutepis tangannya.

“kau mau kupatahkan tanganmu? Jangan menyentuhku!” gertakku.

“…” dia lalu berbalik dan berjalan pergi.

“seharusnya kau mengerti perasaanku, Minwoo…”

Mataku rasanya panas. Dan yah, kurasa aku salah kali ini.

……………………….

— THE END —

……………………….