NNY : Our Destiny

Our Destiny

cats 21

Author             :           Yesunggyu – Amalia Laili

Length             :           One shoot – Sequel

Genre               :           Sad

Cast                 :           Kahi, Yoochun (JYJ), Nana (After School), dll

…………………………

KAHI POV

Kami baru saja selesai melatih anak baru, katanya sih dia akan debut beberapa bulan lagi. Makanya kami cukup sibuk. Untung saja anggota trainee lainnya mengerti. Jadi mereka pun ikut membantu dan latihan bersama. Aku cukup senang. Tahun ini kami mendebutkan solois cewek. Selama ini jarang sekali solois didebutkan.

Tapi, yang aku tidak sukai dalam latihan ini adalah Yoochun. Guru baru untuk dance. Kenapa dia dipindahkan kekelompokku? Masalah kemampuan, dia lumayan bagus. Sikapnya juga baik dan tidak suka mengurusi urusan orang lain seperti teman-temanku yang lain. Tapi, dia lebih perhatian pada anak baru itu. Aku tahu kalau anak itu yang akan debut dan kami semua harus memperhatikannya. Dan Yoochun, sangat berlebihan dalam memperhatikannya.

“Kahi sonsengnim…” nah, anak baru itu menghampiriku.

“waeyo?” tanyaku begitu dia berada dihadapanku.

“aku masih bingung pada gerakan yang ini…” dia memperagakan beberapa gerakan yang baru saja kuajari.

“kau bisa kok…” ujarku.

“belum… yang ini…” dia masih menari dan tiba-tiba berhenti ditengah jalan. “lihat… bagian itu… aku sering lupa…”

“oh…” aku segera berdiri dan mengambil posisi disampingnya untuk mengajari.

“KAHI! Kau dipanggil CEO-nim…” panggil salah satu muridku.

“huft…” aku menghela napas, lalu menoleh pada anak baru itu yang sedang kebingungan. “bagaimana ya?”

“sonsengnim pergi saja… nanti aku belajar dengan yang lain…” jawabnya.

“biar aku saja…” tiba-tiba Yoochun datang. Pahlawan kesiangan.

“ehm… sudahlah…” aku langsung meninggalkan mereka berdua. Sempat kulihat mereka berdua tampak akrab. Kau senang sekali Yoochun?

…………………….

“berikan perhatian dengan sepenuh hati pada Nana ya… dia akan menjadi bintang yang bersinar…”

“BoA, kasian kalau dia jadi bintang… biarkan dia jadi manusia. Lagian mana ada bintang yang redup…”

“omona! Kau ini…”

“arasoo… kau tidak beritahu juga aku tahu…”

Semua orang sangat memperhatikan Nana, bahkan media sangat gembar-gembornya memberitakannya. Karena di treaser-treaser nya dia memperlihatkan dengan baik kemampuan-kemampuannya. Tapi untuk dance masih belum terlalu sih. Aku lalu membuka ruang latihan perlahan. Lama berbincang dengan BoA, harusnya mereka sudah pulang.

“gwenchana? Kau harus kuatkan hatimu…” aku masih mendengar suara samar-samar dari dalam, Yoochun. Dia duduk dengan Nana. Sepertinya mereka baru saja selesai latihan.

“nde, sonsengnim…”

Hmm… mereka lagi. Rasanya aku cukup bosan.

“kalian tidak pulang?” tanya Kahi, yang ditanya segera berbalik badan dan menunduk hormat.

“aku mengajarinya gerakan baru dan beberapa teknik…” jawab Yoochun.

“benar” jawab Nana sambil menyibakkan rambutnya kebelakang. Rambut hitam yang lurus panjang itu tampak indah dengannya. Hmm… beda denganku, yang tidak cocok berambut panjang ini.

“Nana, wajahmu pucat, kau baik-baik saja?” aku baru memperhatikan wajahnya. Pucat. Dan dia tampak tersengal-sengal. Mungkin karena latihan keras.

“heh?” Nana tampak kaget, dia mengelap keringat didahinya dengan punggung tangannya. “cuman kecapekkan saja Sonsengnim…”

“jangan memaksakan dirimu…” aku menasehatinya.

“benar.. ini juga untuk kebaikkanmu…” Yoochun ikut memperhatikannya dengan khawatir.

………………………

AUTHOR POV

Nana pulang dari latihan yang melelahkan. Malam yang dingin ini sangat mendukung rasa penat dan sakitnya. Dia membenahi syalnya yang agak turun, dia menutupi setengah wajahnya. Dia tidak menyangka akan datang hari-hari yang ia tunggu selama ini. Debut. Itu bagai kata yang sangat tidak mungkin untuk diucapkan baginya. Debut. Debut. Dia akan debut.

Wajahnya memerah karena memikirkan itu, ia pun menenggelamkan kepalanya ke syal sekali lagi. Lalu dia berbelok ke sebuah jalan. Ia tahu itu bukan arah jalan rumahnya. Tapi ada yang ingin ia lihat. Dalam keadaan menghayal tadi, dia merasa ada yang mengikutinya. Jadi ia ingin belok kearah jalan lain. Lebih tepatnya kearah pertokoan yang memiliki banyak kaca, sehingga ia bisa melihat bayangan orang yang ia rasa mengikutinya.

Ia berjalan dengan cepat, sekali lirikan ke kiri, ia segera menemukan siapa yang dibelakangnya. Benar. Orang itu mengikutinya. Seorang laki-laki mengenakan topi merah dan jaket hitam. Nana ingat pesan Kahi untuk berhati-hati karena wajahnya sudah mulai dikenali lewat video treasernya. Berbagai khayalan lewat diotaknya, ia tidak mau debutnya hancur. Ia mempercepat langkahnya. Kali ini pria itu juga bertambah cepat.

“hei!” teriak pria itu.

“Ya Tuhan! Aku harus cepat…” pekik Nana dalam hati. Dia mulai ancang-ancang berlari. 1, 2, 3… LARIII… ia berlari, pria itu juga berlari.

“hei! Nana!” panggil pria itu. tapi Nana tidak memperdulikan hal itu, yang penting lari dulu. Dan ternyata larinya kurang cepat karena bahunya ditangkap oleh pria itu.

“HUA!!! LEPASKAN!” teriak Nana begitu ia berbalik. Ia menutup wajahnya dan berjongkok.

“hosh hosh… Nana, ini aku…” ujar pria itu. Nana mendongak melihat pria yang didepannya. Ia memicingkan mata, cahaya sangat redup.

“omo!” dia berdiri dengan kaget “Yoochun-sonsengnim. Apa yang anda lakukan?” tanyanya lega. Ternyata Yoochun. Ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Nana menyunggingkan senyum tidak percayanya.

“aku khawatir kau bisa pulang dengan aman, makanya aku mengikutimu…” jawab Yoochun. Dia berbalik kejalan lain sambil menunjuk kearah jalan itu. dia lalu melihat Nana lagi. “rumahmu diarah itu kan? Kenapa berbelok kesini?”

“hehehe… aku takut… lagipula kenapa Sonsengnim mengikutiku?” Nana terkekeh, ia mengusap keringat di dahinya dan kembali memperbaiki syalnya. Dia menutup matanya pelan, dengan rasa kesakitan. Penglihatannya terlihat berputar dan ia mulai kehilangan keseimbangan.

“kau baik-baik saja?” tanya Yoochun sambil memegang tangan kanan Nana yang hampir terjatuh. Nana langsung memberi isyarat dengan tangan kirinya bahwa ia baik-baik saja. Ia kembali berdiri dengan tegak dan Yoochun melepaskan pegangannya. “kau benar baik-baik saja?” tanyanya sekali lagi.

“hmm…” angguk Nana. Tapi itu bohong. Karena beberapa detik kemudian ia pingsan, dan untung Yoochun sempat menangkap tubuhnya. Yoochun mendudukkan Nana dan berusaha untuk memanggil namanya agar Nana bisa sadar. Tapi itu tidak ada gunanya. Dia mulai bingung. Dia melihat kekanan dan kekiri berharap ada seseorang yang bisa menolong. Karena tempat itu sangat sepi, ia memutuskan untuk membopong badan Nana dan segera mencari taksi.

………………………….

Nana sudah sadar paginya. Yoochun membawanya kerumah sakit. Dan malam itu, ayah Nana datang menjenguknya dan Yoochun yang menjaganya semalaman. Nana tersadar dengan keadaan masih pusing. Dia mendengar percakapan antar ayahnya dan Yoochun lalu suara langkah kaki menuju kekamarnya.

“kau sudah sadar, sayang?” sapa ayahnya. Yoochun hanya diam sambil tersenyum, membuat Nana ikut tersenyum.

“yah, aku baik-baik saja…” jawab Nana dengan lirih yang hampir mirip dengan bisikan saking kecilnya. Suaranya lumayan serak. Dia menelan ludah dengan pahit.

“kau pasti kelelahan karena berlatih… kau baik-baik saja?” tanya ayahnya lagi dengan khawatir. Ia mendekati Nana dan menggenggam tangan kanan Nana dengan lembut. Seperti biasanya, Nana hanya tersenyum melihat ayahnya.

“tidak apa-apa ayah… lagipula sebentar lagi aku akan debut kok…” jawabnya dengan optimis.

Krekk…

“annyeong haseyo… apa kau baik-baik saja?” tanya Kahi begitu masuk ruangan Nana. Nana tersenyum, dia sudah bosan menjawab pertanyaan yang sama. “kuanggap kau baik-baik saja… sebaiknya kau istirahat 2 atau 3 hari untuk istirahat…”

“tapi Sonsengnim. Aku baik-baik saja… nanti waktu debutku bisa tidak optimal…” jawab Nana.

“kalau begitu, malah kau akan sakit. Besok jangan datang latihan ya!”

………………………….

Kahi hanya diam melihat SMS dari BoA yang didapatinya setelah latihan 1 kali. Yoochun datang menghampirinya.

“ada apa? Kenapa tidak dilanjutkan latihannya?” tanya Yoochun heran.

“heh?” Kahi tersadar dan menoleh pada Yoochun yang sekarang berada di samping kirinya. “ehm. Ini, aku dapat SMS dari CEO-nim, katanya ada Dance Competition” jawab Kahi.

“lalu kenapa?” tanya Yoochun lagi “aku baru tau kalau ada acara itu”

“aku juga! Ini baru diadakan pertama kalinya dan akan ditayangkan di 34 negara Asia.” Jawab Kahi dengan tampang yang panik.

“iya, lalu apa yang membuatmu begitu panik seperti ini?” tanya Yoochun lagi.

“kau tidak mengerti? BoA menyuruhku untuk ikut!”

“baguslah!”

“apanya yang bagus?”

“siapa yang akan melatih Nana?”

“kau tidak percaya pada kami?”

“hem, bukan begitu, hanya saja… ini adalah…”

“sudahlah kau ikut saja kata-kata CEO-nim. Biar aku yang akan mengurus Nana. Oke? Jangan khawatir.”

“itu malah yang membuatku khawatir…” ujar Kahi dalam hati, dia hanya mengangguk melihat Yoochun tersenyum puas.

“baiklah, semangat!” sahut Yoochun, dia menepuk bahu kiri Kahi lalu berbalik dan berjalan. Belum sampai 6 langkah, ia lalu berhenti dan berbalik lagi. “kalau butuh bantuan, panggil saja aku! Aku pasti membantu…” ujarnya pada Kahi sambil tersenyum lagi, setelah itu berbalik dan pergi menghampiri teman-temannya.

“huft… apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini?” ujar Kahi dalam hati. “aniya!” dia menggelengkan kepala. “aku baik-baik saja!”

“BAIKLAH SEMUA! KITA LATIHAN LAGI!” teriak Kahi, mengajak yang lain untuk kembali latihan.

…………………….

Jadi begitulah, hampir setiap hari Kahi berlatih dan memikirkan tarian yang memungkinkan ia akan menang dalam acara itu. terlebih lagi, hal ini menggunakan namanya dan nama entertaimentnya. Peserta dari keseluruhan adalah para pengajar dari setiap agensi. Dan dia tahu, kalau dia masih belum bisa dikatakan sejajar dengan kemampuan mumpuni beberapa pelatih dari agensi lain.

Dia duduk menghadap laptopnya, dia mencoba mencari music yang cocok setelah 3 kali mengulang gerakan yang dianggapnya cocok. Saking asyiknya mencari, dia tak sadar bahwa Yoochun melihatnya dari belakang sejak 2 menit yang lalu. Yoochun tidak juga menganggunya, dia hanya diam melihat.

“ada yang bisa kubantu?” dia memutuskan untuk angkat bicara.

“hem?” Kahi menoleh ke pintu, disana Yoochun berdiri bersandar pada pintu sambil tersenyum seperti biasa. “aku sedang mencari music yang cocok. Bisa kau bantu? Mataku sudah sakit melihat layar laptop terus.” Jawab Kahi sambil mengucik matanya.

“baiklah…” Yoochun berjalan dan duduk disamping Kahi, Kahi pun memberikan laptopnya pada Yoochun. Yoochun memilah beberapa lagu. “apa kau punyaa…”

“ada… di folder yang ini…” jawab Kahi, menunjuk di layar pada sebuah folder. Dia sudah tau apa yang akan dicari Yoochun.

“hebat, kau sudah tahu ya! Tapi kenapa kau tidak minta bantuan tuan Jung, dia baik dalam urusan music.” Ujar Yoochun tanpa menoleh pada Kahi. Jari-jarinya seakan menari diatas Keyboard Laptop.

“entahlah… aku ingin mencarinya sendiri…” jawab Kahi.

“tapi kau juga minta bantuanku…” timpal Yoochun sambil tersenyum, kali ini dia melihat Kahi. Kahi hanya mengeluarkan tampang kesal.

“itu tidak disengaja!” dia hampir memukul Yoochun. Yoochun hanya tertawa dan kembali mengerjakan permintaan Kahi. Kahi memperbaiki posisi duduknya sambil melihat ke laptopnya.

“coba kau dengar…” setelah beberapa menit Yoochun akhrinya selesai, dia pun memperdengarkannya pada Kahi. Kahi mendengarkan dengan baik, dia mengangguk sesekali dan tersenyum.

“lumayan, coba…” dia lalu berdiri dan melakukan beberapa gerakan. “bagus?” tanyanya pada Yoochun yang melihatnya.

“bagaimana kalau…” Yoochun ikut berdiri dan mereka pun menari bersama.

……………………

Beberapa hari kemudian, D-7 untuk Dance Competition dan D-5 untuk debut Nana. Kahi pergi ke warteg eh maksudnya warung di pinggir jalan dekat kantornya. Ia memesan ramen dengan porsi besar seperti biasa. Keringat masih mengalir mulus di tubuhnya #ehhhh.

“huahh…” dia menyender di bangkunya dan termenung sejenak. “seminggu lagi… aku jadi gugup!”

“gugup?” Yoochun tiba-tiba muncul dari belakang, membuatnya terlonjak. Dia lalu melihat ke belakang Yoochun, ada Nana.

“wah Nana! Ada apa?” tanya Kahi, mengacuhkan Yoochun. Yoochun lalu merengut, Nana tersenyum melihatnya.

“tidak apa-apa, aku diajak Yoochun sonsengnim…” jawab Nana. Kahi lalu melihat Yoochun.

“kau mau mentraktirnya? Aku juga sekalian!” Kahi menepuk pundak Yoochun.

“hah?”

“baiklah… ayo duduk… nah Nana…” Kahi menarik tangan Nana untuk duduk didepannya. “Ayo duduk Yoochun! Kau harus mentraktir noona mu ini!” Dia juga menarik tangan Yoochun untuk duduk disamping Nana.

…..

….

….

“hmm…” Kahi berusaha menelan ramen yang dimakannya. “jadi Nana, apa kau sudah benar-benar siap?”

“siap?”

“ya, untuk debut! Aku harap kau semangat!”

“nde, sonsengnim!”

“panggil aku eonni, hm?”

“baiklah!”

“kenapa tiba-tiba kau mengakrabkan diri?” tanya Yoochun.

“tidak boleh?”

“bukan tidak boleh, tapi aneh!”

“kau yang aneh! Orang mau akrab kau marahi! Iya kan Nana?” tanya Kahi pada Nana yang hanya tersenyum melihat tingkah sunbaenya. “nah tuh!”

“baiklahh… nah Kahi… ehm.. Kahi noona, kau juga harus semangat!” ujar Yoochun sambil meneguk airnya.

“keuromyooo…” angguk Kahi sambil kembali makan.

“tapi tadi kau….”

“ehh, saengiyaaa.. hal itu biasa! Aku tetap semangat kok!”

……………………

Yoochun hanya terdiam melihat Kahi yang tertunduk. Wajahnya menelungkup di meja. Yoochun lalu memandang Nana yang juga melihat Kahi. Nana yang sadar, lalu menoleh pada Yoochun dan menggeleng.

“dia mabuk, kau bisa pulang sendiri?” tanya Yoochun.

“hmm…” angguk Nana “aku akan minta oppaku menjemput…” Nana lalu mengambil hapenya untuk mengirim pesan pada kakaknya. Yoochun kembali memandang Kahi, dia lalu menggoyang-goyangkan bahu Kahi.

“ya, Noona, bangun!” Yoochun mengulangi hingga 3 kali, namun tidak ada reaksi. Ia menghela napas lagi.

“aku sudah dijemput!” ujar Nana “aku pergi…” dia lalu meninggalkan Yoochun dan Kahi.

“ya….”

….

….

“ah sudahlah…” Yoochun lalu mengambil uang dari dompet dan membayar makan malam mereka. Lalu memapah Kahi keluar. Tangan kanan Kahi ada dipundaknya. Lumayan, ujarnya dalam hari.

“uh…” Kahi tiba-tiba menggumam, dia memegang mulutnya.

“apa kau mau muntah? Kau ini…” Yoochun kebingungan. Kahi langsung menarik tangannya dan lepas dari Yoochun. Dengan jalan sempoyongan, ia mencari tempat untuk muntah, dan…

“ukkk…”

“ishh…” Yoochun melihat adegan berbahaya itu dengan tatapan ngeri. Dia mengambil sapu tangan yang ada di kantung celananya dan memberikannya pada Kahi. Kahi mengambilnya dan mengelap mulutnya lalu memberikannya pada Yoochun. Yoochun memandang saputangan itu dengan jijik. “kau buang saja…”

Dan benar, Kahi membuangnya kearah parit. “jangan buang samba… ah… sudahlah, tidak ada gunanya bicara denganmu…”

“mana… si Bintang?” tanya Kahi dengan sempoyongan.

“bintang siapa?” tanya Yoochun juga.

“itu, Nana! Mana dia?” tanya Kahi lagi.

“ohh.. dia sudah pulang” jawab Yoochun dia lalu menarik tangan Kahi. Kahi menepisnya, lalu berjalan sempoyongan. “kau cari dia! Bagaimana kalau dia nanti pingsan dan…”

BRUKK..

Kahi jatuh setelah berjalan 3 langkah, Yoochun segera menghampirinya dan memapahnya lagi. “dia bersama kakaknya, dan sebaiknya noona khawatirkan dirimu sendiri, noona ini mabuk”. Dan kali ini Kahi menurut dan berjalan bersama Yoochun hingga ke mobil Yoochun yang diparkirnya didalam parkiran BEnt. Kahi pun duduk di belakang dan Yoochun duduk didepan dan mulai menyetir.

“aku tahu rumah noona, apa kuantarkan kerumah?” tanya Yoochun sambil melirik dari kaca, melirik Kahi.

“tentu saja, masa’ kerumah Nana…” jawab Kahi sambil tidur-tiduran. “hei, Yoochun aku mau tanya!”

“-noona, perbaiki dudukmu, nanti jatuh!-silahkan…” jawab Yoochun yang khawatir dengan gaya duduk Kahi yang aneh. Dibilang duduk enggak, kalau tiduran juga enggak.

“apa kau pacaran dengan Nana?” tanyanya.

“eh? Ani…” jawab Yoochun yang kaget dengan pertanyaan Kahi yang mendadak. “kenapa bisa berpikiran begitu Noona?”

“karena kalian sangat dekat. Kupikir kalian pacaran. Apa kau menyukainya?”

“ah, Noona, sudahlah…”

“aku bertanya padamu nih!”

“ani…”

“jongmalyo? Kojimal!”

“jinja! Aku… aku sudah menyukai orang lain!”

“nugu?”

“tidak perlu dijawab!”

“bilang saja kalau itu alasan… iya kan? Aku tau kok Yoochun. Baiklah!”

“tidak, ini benar. Aku tidak menyukai Nana. Aku menyukai orang lain…”

“nugu? Aku hehehe…uh…” Kahi memegang mulutnya.

“iya…” jawab Yoochun.

“hahahaha… uh…” Kahi tertawa sejenak lalu kembali menutup mulutnya.

“noona! Jangan muntah di….”

“uekk…”

“argghhh Noona!!!”

……………………………

Esoknya, 6th sense berkumpul di kantin seperti biasanya untuk makan siang. Kahi masih melamun dan tidak menyentuh makanannya samasekali.

“ya! Apa yang kau pikirkan?” Bekah menepuk bahu Kahi. Kahi lalu tersadar dari lamunannya.

“tidak ada…” Kahi menggeleng lalu mulai makan.

“apa kau memikirkan Yoochun?” tanya Bekah lagi.

“kenapa? Kenapa harus kupikirkan?” Kahi agak kaget, tapi dia menutupinya dengan kembali makan.

“apa hubungan kalian berdua?” tanya BoA pada Kahi.

“tidak ada… Bekah!” Kahi memukul paha Bekah.

“aya! Aku kan benar!” bela Bekah.

“hmm…”

Mungkin saja tampaknya kalau Kahi baik-baik saja. Tapi tidak, dia tidak baik-baik saja. Dia memiliki hal yang tidak bisa diganggu siapapun. Dia mempunyai masalah besar dimana tidak bisa diungkapkan siapapun. Yoochun sudah membuatnya menyukainya. Benar! Gak bohong! Maunya sih bohong. Tapi Kahi beneran gak bisa. Selama beberapa hari bersama Yoochun. Arghhh sudah lah. Kahi bisa gila mikirin Yoochun. Jadi, dia pun kembali makan.

………………..

Nana dan Yoochun duduk berhadapan di lantai tempat latihan mereka. Mereka memakan bekal masing-masing dengan khusyuk.

“besok aku akan debut…” ujar Nana pada Yoochun.

“arata… wae?” tanya Yoochun.

“seperti apa rasanya menjadi artis?” tanya Nana.

“ehm? Aku belum pernah jadi artis sih. Aku tidak begitu tau!” jawab Yoochun.

“ohh… apakah ada beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar?”

“ada! Banyak sekali!”

“apa saja?”

“tidak boleh ini… bla bla… blaa…”

“apakah pacaran juga termasuk?”

“heh? Iya kah? Kurasa begitu…”

“kenapa?”

“karena mengganggu konsentrasi sih…”

“kalau begitu, maukah sonsengnim jadi pacar ku untuk hari ini?” pertanyaan Nana yang polos dan tiba-tiba itu membuat Yoochun hampir tersedak. Ia segera meminum air.

“mwo? aku…”

“untuk hari ini saja, sampai debut. Eung?” pinta Nana.

“huft…” Yoochun mendesah panjang. “baiklah…” angguknya.

“baguslah!” Nana tersenyum senang.

………………….

“Kalau begitu, maukah Sonsengnim jadi pacark ku untuk hari ini?” pertanyaan Nana yang polos dan tiba-tiba itu membuat Kahi menghentikan niatnya untuk masuk ruang latihan itu. dia hanya diam mematung mendengar percakapan mereka.

“huft… baiklahh…” jawab Yoochun.

Secara perlahan, Kahi mundur dan berbalik berjalan pergi. Yah, Nana sudah mendahuluinya. Kahi, memang sudah seharusnya tahu itu. Nana dan Yoochun itu saling menyukai sejak dulu. Dasar bodoh! Kenapa tidak disadari dari awal! Kenapa baru sekarang menyadarinya? Dan kenapa baru sekarang sadar kalau kau menyukainya, Kahi? Ahh… author kok jadi heboh gini?

Tapi tunggu dulu, dia mengatakan sampai debut kan? Berarti besok mereka sudah putus! Wah! Kahi, ambil kesempatan yang langka itu! dia berpikir keras untuk saat yang tepat menyatakan hal ini. Kapan? Besok terlalu mendadak. Besoknya lusa, dia ada pertandingan. Dan AH! Pertandingan! Bagaimana saat dia memenangkan pertandingan itu, dia langsung menyatakan perasaannya? Yah! Benar! Author pintar! Eh maksudnya, Kahi. Oke Kahi. Semangat.

“semua akan berjalan… lancar…” ujarnya sambil tersenyum. Yah, benarkah?

………………….

Malam ini adalah malam dimana debut Nana dimulai. Dia mulai gugup. Di panggung untuk pertama kali. Showcase. Showcase untuknya! Dia memejamkan mata dan mulai menghela napas. Berusaha menghilangkan gugup. Dia memegang erat mic yang ada di tangan kanannya, seakan tidak mau dilepas.

“Nana, gwenchana?” suara Yoochun mengejutkannya, dia lalu menoleh.

“hmm…” angguknya pelan.

“kau pasti bisa… sebentar lagi akan dimulai…” ujar Yoochun sambil tersenyum. Sekelibat kemudian muncul beberapa staf termasuk manajernya yang sibuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja untuk Showcasenya ini.Yoochun mundur teratur sambil tersenyum pada Nana.

Nana membalas senyum itu meski dalam hati kecewa. Harusnya hari ini dia dan Yoochun sudah putus. Tapi entah kenapa Yoochun tidak mengungkit hal itu sama sekali, dan dia juga tidak mengatakan hal itu. dia menghela napas sekali lagi dalam kerumunan.

“baik… bersiap-siap… keluar lah dalam waktu 5 menit!” ujar manajernya, beberapa orang staf lalu mundur dan pergi, sementara yang lain menunggu dengan gugup, termasuk Nana.

“kau akan baik-baik saja sayang!” ujar manajernya sambil menepuk bahu Nana “kau bisa melakukannya!”

“nde, gomapta eonni…” jawab Nana sambil tersenyum lalu kembali melihat kedepan. Showcase, Showcase, Showcase!

……………………….

Yoochun berjalan dengan tergesa-gesa. Dia terlambat, terlambat 10 menit. Lagipula kenapa smsnya baru masuk malam ini? Kahi mengirim pesan kalau kompetisinya dipercepat hari ini. Sebenarnya itu berita lama, hanya saja Kahi baru mengingatnya. Malam ini, pukul 9 malam.

“selamat malam…”

Terdengar suara MC dalam ruangan yang dimasuki Yoochun. Penuh sesak. Dia berusaha untuk masuk dan melihat kedalam. MC itu mengucapkan beberapa kata sambutan. Yoochun hanya menghela napas. Ternyata tidak terlambat. Dia mengambil hape yag ada di kantongnya.

-Kau ada dimana? Urutan berapa?

-Aku ada dibelakang panggung. Kenapa kau tidak kesini? Aku urutan 15…

-baiklah… tunggu aku…

Dia lalu berjalan menuju belakang panggung dan bertanya kepada beberapa orang yang ia temui dimana tempat Kahi.

…………………….

“gomapsumnida!” ujar Nana sambil menundukkan kepalanya kepada para penonton dan penggemarnya.

“nde… Nana-ssi… lagu ini sangat bagus sekali. Dan anda menyanyikannya sangat baik…” ujar MC dalam Showcase Nana.

“…” Nana hanya tersenyum.

“apa judulnya tadi? Promise to Love?”

“nde…”

“bagaimana menurutmu tentang lagu ini? Apakah ada arti yang mendalam? Sepertinya mereka juga ingin tahu… iya kan?” MC itu mengajak penonton untuk membuat Nana berbicara tentang arti lagunya.

“nde…” jawab penonton.

“hehehe… baiklah…” jawab Nana, masuk seorang staf yang membawa 2 kursi untuk mereka, jadi Nana pun duduk.

“sepertinya kau lelah, Nana… gwenchana?” tanya MC.

“gwenchana… apa aku boleh melanjutkan ceritaku?” tanya Nana.

“tentu saja… ayo silahkan…”

“ehm… bagaimana ya? Kalian tau kan kalau artis itu susah sekali jika mempunyai hubungan percintaan…”

“ya, aku mengerti itu, makanya aku hanya memendam cinta ku pada Girls’ Generation..” timpal MC itu yang membuat semua orang tertawa.

“nde…” Nana tersenyum “karena itu, aku menyatakan perasaanku kepada orang itu sebelum debut…”

“jinjayo? siapa?” tanya MC itu “wah, yeorobeun… Nana sudah menyukai orang lain… hahaha…”

“hmm…” Nana hanya tersenyum sekali lagi sambil memegang erat mic. Entah kenapa dadanya tiba-tiba sakit. Dia hanya menggigit bibirnya berharap dengan itu sakit didadanya hilang perlahan.

“jadi bagaimana? Apa dia menerimamu?”

“nde…” jawab Nana dengan pelan.

“lalu?”

“kami putus hari ini, seharusnya…” jawab Nana lagi kali ini, tangan kirinya, yang tidak memegang mic, mengepal dengan kuat.

“oh… sayang sekali… kenapa?”

“karena memang begitu lah seharusnya. Agensi kami tidak memperbolehkan artisnya memiliki hubungan percintaan sampai batas waktu yang disetujui. Dan aku rasa itu hal yang baik untuk tetap focus. Meskipun yah…” jawab Nana dengan cepat, setelah itu menghembuskan napas panjang. Keringat dingin mengalir di dahi dan tangannya.

“hem…. Araso… nah, setelah ini kau akan menyanyikan lagu Ballad ya?”

“nde… judulnya Our Destiny… boleh aku duduk begini kan?”

“terserah kau saja nona… hehehe… baiklah yeorobeun.. inilah penampilan terakhir Nana untuk Showcase ini… dan… bla bla…” MC itu mempromosikan Nana dengan baik. Sementara Nana memejamkan mata sejenak dan bernapas.

“yak… inilah Nana!”

…………………………

Yoochun melewati beberapa orang sambil mengucapkan maaf. Banyak sekali pesertanya, dia baru sadar agensi di Korea banyak juga. Bekah yang berpapasan dengannya mengatakan kalau Kahi menunggu diruang VIP. Mungkin karena agensi mereka termasuk yang besar dan terkenal.

“Yoochun!” panggil Kahi begitu melihat Yoochun didepan pintu.

“nde…” Yoochun tersenyum sambil tersengal. Berlari itu memang melelahkan.

“apa masih lama ya acara pembukanya?” tanya Kahi.

“pembuka?”

“nde, beberapa artis akan membuka acara, setelah itu baru masuk inti…”

“yah, kalau begitu, aku belum terlambat…” sesal Yoochun.

“hehehe… masuklah dan duduk…” panggil Kahi. Yoochun pun duduk disamping Kahi. Kahi memberikannya air untuk diminum tentu saja. Dalam beberapa menit mereka terdiam. Kahi jadi salah tingkah.

“nde… harus kukatakan hari ini… jangan gugup Kahi… semua baik-baik saja…” ucap Kahi dalam hati.

“PESERTA NOMOR 1! DARI….” Suara yang keluar dari pengeras suara diruangan itu terdengar.

“nah, kau harus siap-siap!” ujar Yoochun pada Kahi yang sudah berdiri.

“hmm…” Kahi menutup mata dan menghela napas.

“kau pasti bisa….” Ujar Yoochun sambil menggenggam tangan Kahi yang dingin. “sampai dingin begini… jangan gugup..”

“iya…” jawab Kahi sambil tersenyum “kau yang membuatku gugup, Yoochun.” Ucapnya dalam hati.

…………………

Nana duduk di ruang tunggu dengan wajah pucat tertutup make up yang tebal. Manajer menghampirinya dan duduk disampingnya.

“kau baik-baik saja, sayang?” tanyanya perhatian sambil memberikan air.

“ne…” angguk Nana sambil minum air.

“coba kulihat…” Manajer memegang kening Nana. “badanmu panas. Dari tadi aku lihat kau sakit dipanggung… kau sakit apa?”

“aku hanya gugup, eonni…”

“tidak, Nana… kita kerumahsakit sekarang, ya… ayo..” Manajer pun berdiri dan memegang tangan Nana, mengajaknya ke rumahsakit.

“tidak perlu, eonni… aku hanya gugup dan kelelahan. Nanti setelah istirahat aku akan baik-baik saja… kita ke dorm saja…” jawab Nana.

“huft…” manajer menghembuskan napas dalam “baiklah… ayo, biar kubantu… nona Kim! Bawa barang-barang yang lain ya! Kami akan pulang!” teriak Manajer pada seseorang perempuan yang sedang berkemas. Setelah memastikan bahwa perempuan tadi setuju, manajer dan Nana pergi menuju keluar.

“…”

“ukh…” Nana memegang dadanya. Langkah mereka berdua pun terhenti.

“Nana… gwenchana? Kita memang sebaiknya ke rumahsakit…” ujar Manajer cemas. Nana menggeleng pelan.

“tidak…” jawabnya kecil yang hanya bisa didengar manajer.

“apa kau punya obat pribadi?” tanya manajer itu.

“hmm…” angguk Nana.

“dimana?” tanya Manajer.

“tasku…” jawab Nana.

“Ya Tuhan… tolong… ah! tolong Jooyeon, tolong ambil tas Nana…” pinta manajer sambil menunjuk keruang tunggu. Jooyeon yang lewat pun berhenti dan melihat Nana.

“kenapa…”

“ayo cepat, Jooyeon-sii…” ujar manajer sebelum Jooyeon menyelesaikan kata-katanya. Jooyeon segera pergi keruang tunggu dengan tergesa.

“ayo… sambil jalan… kau masih bisa?” tanya manajer itu lagi pada Nana. Nana menjawab dengan anggukan kecil.

“….”

“…”

“…”

“NANA!!” Teriak Manajer begitu Nana pingsan, dia berusaha menopang tubuh Nana yang kurus terkulai dibahunya. “Tolong!!” teriaknya lagi. Beberapa orang staf segera mendekati mereka dan berusaha menyadarkan Nana, tapi ternyata Nana tidak juga sadar. Mereka pun membawa Nana kerumah sakit menggunakan ambulance.

…………………

Yoochun berdiri mematung memperhatikan Kahi menari dengan baik. Gerakan kakinya, tangannya, seluruh tubuhnya menari. Seluruh penonton tersihir dengan gerakannya. itulah yang membuatnya menang. Menang? Ya, Kahi menang dalam kompetisi itu. Dia menari sekali lagi dengan permintaan penonton dan juri. Tak masalah bagi Kahi. Menari adalah hal yang menyenangkan.

Selesai menari, Kahi pun menunduk hormat dan menerima 2 buket bunga yang lumayan besar. Dia pun tersenyum dan menunduk hormat lagi. Begitu tepuk tangan bergema, ia pun berbalik dan turun dari panggung menemui Yoochun.

“aku berhasil…” ujarnya.

“nde… bagus sekali…” jawab Yoochun sambil tersenyum.

“….”

“….”

“hem… aku…”

“aku…” mereka berbicara bersamaan. Karenanya mereka malah tertawa.

“kau duluan…” ujar Kahi.

“yah, aku tidak tahu harus bagaimana, tapi… aku hanya ingin mengatakan padamu kalau aku menyukaimu…” ujar Yoochun malu-malu.

“itu…”

“tunggu dulu, ehm. Aku pertama berpikir kalau umur kita yang berbeda akan sulit. Mungkin aku salah. Tapi setelah kupikir. Tidak, aku tidak salah… jadi…” Yoochun terdiam karena Kahi memberikan topi yang dipakainya ke kepala Yoochun.

“aku juga ingin mengatakan hal itu…” jawab Kahi sambil tersenyum.

“heh…” Yoochun pun ikut tersenyum.

“tapi bagaimana dengan Nana?” tanya Kahi.

“Nana? Aku baru mau…”

TRTT… TRTT…

HP Yoochun bergetar, dia segera mengambilnya. Ada sms dari manajer Nana.

NANA dirumah sakit. Apa kau tidak menjenguknya? Dia dalam keadaan kritis.

“ya Tuhan!” ujar Yoochun.

“ada apa?” tanya Kahi heran.

“Nana, dia dirumahsakit. Keadaannya kritis…. Ayo…” Yoochun segera berlari, Kahi ikut dari belakang.

“sakit apa?”

“jantung.”

“kenapa penari… harusnya dia…”

“aku tidak tahu, pokoknya ayo cepat…”

………….

………….

………….

Sinar matahari yang hangat masuk kejendela kamar Nana. Dia terbaring dengan pucat. Seluruh tubuhnya dingin. Diluar, seluruh keluarganya menangis. Pagi ini, suasana berkabung.

Diruangan lain, terbaring 2 orang pasangan yang baru saja menghadapi kecelakaan. Ya, Yoochun dan Kahi, ditabrak truk begitu mereka dalam perjalanan ke rumahsakit untuk menjenguk Nana. BoA hanya diam menangis melihat kedua orang itu terbaring kaku. Tanpa napas yang dihembuskan ataupun jantung yang berdetak. Rumah sakit ini, sekali lagi berkabung.

………………….

“Nana, atau Im JinAh, Rookie tahun ini yang mengalami serangan jantung setelah menyelesaikan Showcase perdananya. Beberapa fans –yang belum memiliki nama resmi untuknya- mengirimkan banyak bela sungkawa.”

….

“Pemenang Dance Competiton dari BEntertaiment, Park Kahi, meninggal beberapa menit setelah mengalami tabrakan beruntun bersama rekannya, Park Yoochun, yang juga pelatih tari dari BEntertaiment.”

….

Berita pagi itu, membuat banyak orang prihatin dan miris.

……………………

— THE END —

……………………