FOREVER AFTER (PART 2)

MGY (2)

FOREVER AFTER

Tittle      :               Forever After (part 2)

Author  :               Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :               Continue

Genre   :               Sad (??)

Cast       :               Moon Geun Young, Kim Jong Woon a.k.a Yesung [Super Junior], Kim Jong Jin (Yesung’s brother), etc

Jeosonghamnida sebelumnya karena lanjutan cerita ini lama baru jadi. Ide Saya benar-benar nyangkut ntah dimana, ditambah lagi saya mendapatkan ide baru untuk cerita lain. Ini benar-benar membuat saya bingung bagaimana menyelesaikan cerita ini. Tapi syukurlah akhirnya jadi juga walau tidak sesuai dengan pemikiran awal. Jeosonghamnida kalau cerita ini rada nggak nyambung. Karena cerita ini dibuat oleh manusia biasa dan manusia adalah tempatnya salah dan khilaf #ngeles aja lu.

…………………………………….

       “jujur saja, aku bingung dengan semua ini. Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Jongjin memulai percakapan.

“Jongwoon”

“kenapa dengannya”

“aku benci dia!”

“mwora? Wae?”

Geunyoung menceritakan semuanya mendetail. Sambil sesegukan yeoja ini bercerita apa adanya.

“kau tahu bahwa ini bisa menghancurkan persahabatan kalian?” tanya Jongjin serius.

“aku tahu” jawab Geunyoung pasrah

“lalu kenapa kau terus mendesaknya?”

“aku tidak mendesaknya, aku hanya butuh kepastian. Ditolak pun tidak apa-apa. Aku bukan tipe wanita yang setelah mengungkapkan perasaannya langsung merasa puas. Nandalla (aku berbeda)”

“yang seperti itu sama saja dengan mendesak namanya, yah walau tidak secara langsung”

“. . .” Geunyoung menunduk.

….

“mau kuberitahu sesuatu?”

“mm?” sahut Geunyoung malas.

“Jongwoon juga suka padamu” bisiknya pelan ditelinga Geunyoung.

“ooo” jawab Geunyoung sekenanya tanpa paham.

Hening sejenak…

“MWOOO!!!!!”

……………………………………

~5 years later~

FLASHBACK ON

“MWOOO!!!!!”

“mwo?” ulang Jongjin heran.

“sejak kapan?”

“saking lamanya aku sampai lupa sejak kapan”

“Jongjin-ah  kau sedang tidak bercanda kan?”

“tidak percaya yaa sudah. Padahal Jongwoon menyuruhku untuk merahasiakan ini”

“ta tapi bagaimana kau bisa tahu?”

“karena akulah teman curhat Jongwoon. Kejutaaaann” ungkap Jongjin dengan gaya yang dibuat-buat.

FLASHBACK OFF

       “ppaliya, sekarang adeganmu” panggil seorang wanita yang berdiri dipintu dan membuyarkan lamunan Geunyoung.

“eoo”. Setelah membetulkan sedikit riasannya didepan cermin besar dihadapannya, Geunyoung keluar memenuhi panggil wanita tadi.

……………………………………..

       “terkadang seseorang mengira kehilangan sesuatu tapi sebenarnya tidak. sesuatu itu hanya dipindahkan saja…” Geunyoung tak meneruskan kalimatnya, yeoja ini terdiam cukup lama. Namja yang duduk dihadapannya mulai memberikan isyarat agar Geunyoung melanjutkan kalimatnya.

….

“NG!!” teriak seorang sutradara dengan pengeras suara. “konsentrasilah, ini bagian terakhirnya. Tolong buat semua ini menjadi mudah” papar si sutradara.

“nde, mianheyo” ucap Geunyoung sambil menundukkan kepalanya.

Syuting kembali dimulai.

“cut!” percobaan kedua

Percobaan keempat…

Percobaan ketujuh…

“CUUTT!!! NG! NG! NG!” ulang sutradara untuk kesekian kalinya. “aisshh aku bisa gila. Ya! Geunyoung-ah kau sudah baca naskah tidak?” paparnya mulai marah.

“mian aku lupa”

Si sutradara menghembuskan nafas pasrah “break!!”. Syuting dihentikan sementara.

……………………………………

GEUNYOUNG POV

                Kukira dengan masuk dunia hiburan semua akan jadi lebih mudah, tapi ternyata justru malah sebaliknya. Karena seorang namja dengan polosnya kukorbankan kehidupan remajaku dan kutukar dengan segudang pekerjaan yang sejujurnya membosankan ini.

Bbruukk!!. Kuteguk sebotol kecil air putih lalu duduk dikursi dengan kasar.

“ya! Waeyo?” tanya wanita yang selalu mendampingi dan mengatur seluruh kegiatanku.

“apa!!” jawabku dengan sedikit kasar.

“ada apa denganmu?”

“… aku lelah”

“begitukah?. Baiklah aku akan atur ulang jadwalmu agar kau bisa istirahat”

“eoo”

“kau bisa melakukannya? Ini episode terakhir, kami berharap padamu”

“mm aku akan berusaha”

Eonni, sebutanku untuk wanita yang menjadi managerku ini berlalu keluar setelah dirasa cukup berbicara padaku.

Aku lelah dengan semuanya, 4 tahun bersandiwara membuatku jenuh. Semua penuh dengan kebohongan! Dunia hiburan, kamera, akting. Adakah yang mengerti ini? Aku ingin kembali kekehidupan normalku.

………………………………………

       “cut!!”

plok plok plokkk… semua kru yang hadir disitu bertepuk tangan dengan wajah berseri yang menandakan syuting berakhir. Sebuah drama sukses terbuat.

Karena tak ada pekerjaan lagi, dengan segera kutinggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju mobil. Hari  semakin larut dan dingin, membuatku terus menggosok-gosokan kedua tanganku untuk menghangatkannya.

“kedinginan?” tegur sebuah suara dari samping sambil menunjukkan sebuah jaket yang tebal dihadapanku. Kurasa dia menunggu dari tadi. Tanpa menunggu instruksiku, dia langsung mengenakan jaket tersebut dipundakku.

“gomawo”. Dia tersenyum.

“kau sudah makan?”. Aku menggeleng. “mau makan sesuatu? Kebetulan aku juga lapar”

“ani, kita langsung pulang saja”

“tapi kau belum makan dan aku lapar. Sebaiknya kita makan dulu, kau mau makan dimana?” dengan lembut dia membawaku masuk kemobilnya lalu bersiap menyetir, membuat keputusannya sendiri.

“aniyo, aku ingin pulang” balasku dengan malas.

“chagiya…”

“aku lelah Geunsuk-ah”

“… baiklah, kita pulang”

Geunsuk menyalakan mobilnya lalu jalan. Sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil memandang keluar.

FLASHBACK ON

“kau yakin itu cara yang tepat? Kau tidak menyesal?” tanya Jongjin ragu.

“eoo. Sambil menyelam minum air” balasku sambil memperkuat keputusan yang kuambil.

“tapi bagaimana dengan sekolahmu? Kurasa kau tidak perlu jadi artis juga, suatu saat Jongwoon pasti kembali. Memang bakat apa yang kau punya?”

“aku bisa sekolah dirumah, les privat untuk mengejar ketertinggalan. Aku tidak bisa duduk diam saja menunggu Jongwoon kembali, itu tidak pasti. Aku memang tidak bisa menyanyi tapi aku bisa akting”

“keure?” Jongjin mengamatiku baik-baik, orang ini menatapku dari kaki hingga kepala sambil berjalan mengelilingiku. Sial! Dia pikir aku benar-benar tidak bisa melakukannya.

“kau meragukanku? Lihat saja sejauh mana aku akan terkenal nanti. Jika itu terjadi, kuharap kau segera memohon maaf dariku!!” tukasku marah seraya pergi meninggalkannya.

FLASHBACK OFF

………………………………………

       “kau sudah baca majalah hari ini?” tanya eonni sambil memperlihatkan isi majalah yang sedang dibacanya. Foto Jongwoon. Apanya yang spesial, itu biasa saja, sudah biasa malah. Diakan artis juga.

“ani, aku tidak tertarik” tolakku.

“coba baca ini, kau pasti terkejut” ucapnya semangat.

“bacakan saja”

“aisssh” eonni mendesis pelan, dia terdengar kesal. “YESUNG, SEORANG VOKAL UTAMA SUPER JUNIOR MENGAKU FANS BERAT MOON GEUN YOUNG” gumam eonni membacakan judul majalah itu  dengan keras.

Aku tercekat. Kenapa tiba-tiba dia membuat pernyataan seperti itu?. Kegiatan menyisir rambut yang sempat terhenti beberapa detik kemudian kulanjutkan kembali.

“keure?” gumamku tak minat, padahal saat ini dikepalaku penuh dengan tanda tanya.

“mm, itu bagus. Kau bisa tambah populer karena ini”

……………………………………

AUTHOR POV

Plokk!. Sebuah buku mendarat pelan dibahu Jongwoon. Namja itu kaget dan menoleh ke orang tersebut.

“akhirnya kau mengaku pada media. Benarkah kau hanya fans nya?” goda Ryeowook.

“tentu saja! Jangan berpikiran yang macam-macam” tegur Jongwoon.

“ye ye aratta, kau hanya seorang fans ‘berat’nya” ucap Ryeowook lagi sambil menekan dibeberapa kata.

……………………………………

JONGWOON POV

Dia… kenapa sampai sekarang tak memberi komentar apapun? Dia tidak resah selalu digosipkan denganku?. Sial, kalau begini apa gunanya aku mengaku fansnya pada media. Aarrgghh kurasa ini sia-sia saja.

“kau sudah tahu kapan syuting video clipmu dimulai?” tanya Donghae yang berjalan kearahku sambil membawa segelas minuman.

“kapan? Minggu ini kan?”

“eoo, lusa lebih tepatnya. Kau tahu siapa pemeran wanitanya?”

“nugu?”

“idolamu”

“mwoya? Jinjja?”

“aku berani bertaruh kalau aku bohong”

………………………………………

       “cut!. Ulang. Ekspresi kalian terlihat datar dan masih ragu-ragu. Kalian adalah sepasang kekasih yang lama terpisah dan baru bertemu. Karena sedih dan saling rindu maka kalian berciuman untuk meluapkan perasaan tersebut. Kalian mengerti?… baiklah kita mulai… action”

Cih! Kenapa si sutradara selalu mengulang adegan ini? Dasar mesum! Ya ahjussi, kita sedang tidak membuat film porno. Stop membuat mereka terus berciuman, ini menjijikkan.

Malas melihat adegan itu yang sejak tadi terus-menerus diulang, aku bangun dari duduk dan beranjak menepi. Kupikir menikmati pemandangan langit dan angin malam lebih mengasyikkan. Cukup lama aku berdiri sendirian hingga seseorang datang dan berdiri cukup jauh disampingku. Aku menoleh kearahnya. Geunyoung?.

“kau baik-baik saja?” ucapku mencoba menegur. Ntah sudah berapa lama kami tidak saling menyapa.

“naega wae?” tanyanya heran.

“maksudku bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?”

“… ada apa?”

“apa aku perlu alasan untuk ngobrol dengan sahabatku?”

“tidak juga” Geunyoung berbalik dan kembali ke lokasi syuting. Sikapnya dingin.

“setelah ini kau mau minum kopi?”

“tempat ini tidak berubah sama sekali ya” ucapku memulai percakapan, setelah syuting selesai kami langsung kemari, ketempat dimana dulu kami sering minum kopi sepulang sekolah. Setelah 5 tahun tempat ini masih terlihat sama. “kau ingat? Ini kursi yang sering kita duduki” lanjutku.

“…” Geunyoung tak menjawab. Setelah bertahun-tahun wajar jika yeoja ini telah berubah.

Kopi yang kami pesan datang. Yah inipun jenis kopi yang sering kami minum dulu.

“mmm rasanya masih tetap enak” gumamku lagi setelah meneguk kopi tersebut. Geunyoung masih diam. “kau ingat? Dulu kita pernah memesan segelas kopi ukuran besar dan meminumnya berdua”

“saat itu kau menyebutnya couple kan?” balasnya, tapi sikapnya datar dan hanya terseyum sedikit. Geunyoung jauh berubah, dia jadi lebih dewasa dan jaga image. Mungkin karena dia seorang artis dan model.

“haha kau masih ingat? Saat itu uangku tidak cukup untuk membeli dua gelas, makanya untuk menghemat aku membeli segelas besar karena harganya lebih murah”

“keure? Kukira kau sengaja hanya membeli segelas”

“tentu saja, aku sengaja karena uangku terbatas”

“kupikir kau berbuat demikian karena kau menyukaiku”

“…” itukah yang dipikirkannya? Aku benar-benar tidak tahu.

“csh, saat itu aku masih polos hingga tidak bisa membedakan apa-apa”

“mianhe”

“untuk apa?”

“karena telah membuatmu salah paham”

“sudahlah tidak perlu seperti itu, aku yang bodoh”

“…”

Tak ada pembicaraan lagi, kami diam menikmati kopi masing-masing.

Handphone geunyoung berdering. “yobseyo… Bagimana kau tahu?… Nde aku memang akan pulang. Tunggu sebentar, aku segera kesana”.

Aku tahu setelah ini dia akan pamit lalu pulang.

“mianhe aku harus pulang sekarang” gumamnya seraya berdiri. Akupun turut berdiri.

“nde gwanchana, kha” kurasa aku tidak puas dengan pertemuan ini, terlalu singkat.

…………………………………..

       “cut. Break”

“boleh aku duduk disini?” Geunyoung mengangguk pelan. Setelah duduk disebelahnya aku memberikan segelas air yang kupegang dikedua tanganku, segelas lagi tentu untukku sendiri. Dia mengambilnya.

“hari ini cuacanya bagus ya. Tidak begitu panas dan tidak juga mendung”

Geunyoung tidak menjawab. Dari hari pertama hingga pertengahan syuting ini hampir selesai dia tidak banyak bicara. Dia yang dulu cerewet dan pemain, sekarang jauh lebih pendiam. Wajahnya selalu terlihat datar. Benarkah ini Moon Geun Young yang pernah kukenal?.

“anu, bisakah kita berteman seperti dulu lagi? Diam seperti ini membuatku serba salah”

“mollayo, kurasa susah. Dulu dan sekarang itu berbeda”

“benar, tapikan kita bisa coba berteman lagi”

“…” geunyoung tak menjawab, dia menunduk sebentar lalu mengalihkan pandangan ke arah yang berlawanan denganku. “apa maumu?” tanyanya terus terang.

“mm?” aku bingung dengan pertanyaan itu sekaligus merasa tidak suka ditanya demikian.

“kau punya maksud lain? Kenapa mencoba mendekatiku?”

“a aku tidak ada maksud apa-apa, jangan salah paham begitu. Aku Cuma ingin kita bersahabat kembali”

“terlambat! Kenapa baru datang sekarang. Kau membuatku muak!” Geunyoung lalu berdiri dan beranjak pergi.

“tu tunggu dulu. Apa maksudmu terlambat? Kapan aku membuatmu menunggu”

Dia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku. Sepertinya dia marah. “dasar bodoh! Kau pikir kenapa aku jadi artis? Aku muak karena harus terjebak didunia ini. Aku benci kau, jangan pernah bicara denganku lagi!!”

“… sungguh, aku tidak mengerti apa maksudmu. Maaf aku…” ucapanku terhenti, tiba-tiba aku mengetahui sesuatu. Tidak, kuharap aku salah. “kau melakukan semua ini demi aku?” lanjutku dengan ragu-ragu.

“demi kau? Hei, aku begini karenamu lebih tepatnya. Bagus kalau kau sadar. Kumohon dengan sangat menjauh dariku. Kita tidak bisa menjadi sahabat lagi”.

Geunyoung berbalik dan pergi. Aku belum puas, kususul dia dan menghadangnya tepat dihadapannya. Terserah apa yang akan dikatakan kru lain tentang ini, sekarang bukan itu yang terpenting.

“dengar, aku benar-benar minta maaf atas semua yang menimpamu selama ini tapi sungguh bukan itu yang ku inginkan. Aku tidak tahu kalau aku menyakitimu, bahkan aku tidak tahu apa-apa tentang semua yang kau alami”

“jelas kau tak tahu karena sejak awal kau tidak mau tahu. Aku tidak minta kau tahu tentangku tapi setidaknya mengertilah perasaanku. Kau tak pernah mau menjawabku, itulah masalahnya. Aku benci mengakui ini tapi kau membuatku menunggu”

“…” untuk sesaat aku mematung. Ya Tuhan apa yang telah kulakukan.

Tanpa menunggu ucapanku selanjutnya, Geunyoung berjalan melewati sambil menyentuh bahuku dengan keras. Kali ini kubiarkan dia pergi, tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan untuk membela diri. Setelah hal tersebut, kami tak pernah bicara lagi.

………………………………………

                Tidak terasa ini hari terakhir kami syuting. itu artinya berakhir juga kerjasamaku dengan Geunyoung, kuharap setelah ini kami masih bisa bertemu. Tapi bisakah? Hingga saat ini dia masih marah, Geunyoung tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.

Akhirnya malam ini syuting benar-benar berakhir. Sebagian kru telah pulang dan sebagian lagi masih berkemas, tempat ini hampir sepi. Kulihat dari kejauhan manager Geunyoung keluar dari ruang tata riasnya, kalau dugaanku benar berarti Geunyoung masih ada didalam.

Pelan-pelan aku menuju kesana. Saat tiba didepan pintu, aku mengetuk beberapa kali dan membuka pintu tersebut. Geunyoung duduk didepan meja rias, dia berbalik untuk melihat siapa yang datang. Tak ada reaksi darinya, tanpa berkata apa-apa dia berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tersebut. Mungkin karena aku yang datang.

“bisa kita bicara?” tanyaku saat dia berlalu melewatiku.

“aku sibuk”

“sebentar saja, aku hanya butuh beberapa menit waktu yang kau miliki”

“…katakan”

“tapi tidak disini, bagaimana kalau sambil minum?”

Geunyoung tak menjawab, dia meneruskan langkahnya. Itu berarti dia menjawab ajakanku dengan kata ‘tidak’. Dengan sigap aku mendahuluinya dan menutup pintu raungan tersebut sebelum dia keluar.

“wae? Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu!” yeoja ini memberontak, dia berusaha membuka pintu yang masih ada dalam genggamanku.

“tolonglah dengarkan aku, kau tidak memberiku kesempatan untuk membela diri”

“…”

“sejak kecil saat kau pindah disamping rumahku aku menganggapmu sebagai gadis kecil yang manis dan harus selalu kulindungi”

“ya! Kau mau mendongeng  panjang lebar?!”

“mm baiklah, begini… aku bingung harus memulai dari mana”

“paboya, kau membuang-buang waktuku”

“mm begini, dulu saat kau bilang suka padaku dan aku tidak menjawabmu bukan karena aku tidak suka, tapi aku bingung harus bilang apa untuk mengukir kata-kata bahwa aku jauh lebih menyukaimu”

“…”

“waktu itu kau masih terlalu muda, kupikir kau hanya bercanda dengan kata-katamu”

“bohong. Kau tidak pernah menyukaiku, kau tidak pernah menjawabku karena takut menghancurkan persahabatan kita”

“tidak, bukan begitu. Aku tidak siap untuk berpacaran. Aku takut kau menyesal pernah menyukaiku yang hanya orang biasa, waktu itu tidak ada yang bisa kujanjikan padamu dan aku tidak memiliki apapun yang dapat membuatmu bahagia. Terlalu banyak yang kuhawatirkan saat itu”

“kenapa baru kau ceritakan? Apa gunanya itu sekarang!”

“aku tahu ini terlambat, tapi bisakah beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya?”

“???”

“hingga kini rasa sukaku belum hilang”

………………………………….

AUTHOR POV

“hingga kini rasa sukaku belum hilang”

Tok tok tookk…

“Geunyoung-ah kau didalam?”

Belum sempat Joongwon meneruskan kalimatnya, percakapan mereka terhenti karena ketukan pintu dari manager Geunyoung.

“ku tunggu dimobilku” ungkap Geunyoung singkat lalu keluar dan menutup kembali pintu tersebut. Jongwoon masih ada didalamnya dan tak beberapa lama menyusul keluar.

………………………………..

Jongwoon menghampiri Geunyoung yang menunggu dimobilnya. Namja itu lalu masuk dan duduk disamping Geunyoung. Tak ada orang lain didalam mobil itu, hanya mereka berdua.

“seharusnya kau tak perlu ceritakan ini lagi, kau benar-benar terlambat Jongwoon-ah” Geunyoung membuka pembicaraan.

“seperti katamu, aku memang bodoh”

“…”

“…”

“kau tahu kenapa aku jadi artis?”

“karena demi bertemu aku, mengejar sebuah jawaban yang tak pasti dan menunggunya”

“bagaimana kau tahu? Jongjin?”

“aniyo, hanya menganalisis. Aku benar?”

“…”

“tapi apakah kau masih menunggu?”

“kenapa kau bilang kemedia kalau kau fansku?”

“karena demi bertemu kau”

“kau bisa bertemu denganku secara pribadi kalau kau mau”

“itu jika aku mau, tapi aku ingin bilang kemedia kalau dulu kau sahabatku dan sekarang aku menyukaimu”

“ternyata kau tidak hanya bodoh tapi juga gila”

Jongwoon tertawa kecil.

“aku masih tidak mengerti, kenapa kau tiba-tiba muncul dan… mengacaukan kehidupanku”

“aku cemburu”

“mwo?”

“setiap drama atau film yang kau mainkan pasti tentang cinta. Disitu kulihat kau berpelukan bahkan berciuman dengan lawan mainmu. Awalnya aku biasa saja tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Ditambah lagi dengan usiamu yang sekarang, peran film yang kau mainkan bisa saja fulgar, aku muak melihatnya”

“hmpff hahaha”

“kenapa tertawa, apa yang lucu?”

“alasanmu terlalu konyol. Haha”

“yah memang konyol, bisa-bisanya aku cemburu padahal itu hanya akting. Tertawalah sepuasnya”

Geunyoung diam, suasana kembali hening.

“Jongwoon-ah, kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?”

“mm yang mana?”

“kau serius ingin memperbaiki segalanya jika kuberi kesempatan?”

“eoo tentu saja. I itu artinya…”

“iya! Ayo kita pacaran” potong Geunyoung.

“mwo? Jinjjayo. Secepat ini kah?”

“keuromyo, kau meragukanku?”

“aniya, aku percaya padamu. Lalu apa yang akan kita katakan pada media? Haruskah kita rahasiakan ini?”

“tidak perlu katakan apapun, kita menghilang saja”

“maksudmu?”

“aku jadi artis karena kau dan sekarang aku sudah mendapatkanmu, jadi tidak ada alasan bagiku lagi untuk tetap tinggal. Aku ingin kita menghilang saja dari dunia hiburan dan menjadi orang biasa. Menikah dan memiliki banyak anak darimu, aku akan jadi ibu rumah tangga dan kau mencari nafkah. Bagaimana menurutmu?”

“…” Jongwoon tercengang.

“membahagiakan bukan? Memikirkannya saja membuatku bersemangat” wajah Geunyoung mulai berseri.

“ya, Kau serius dengan ucapanmu?”

“tentu saja, aku bukan lagi gadis kecil yang suka menghayal. Bagaimana kalau kita beritahu orang tua kita?”

“tunggu dulu Geunyoung-ah, tidak perlu secepat itu. Masih banyak hal yang harus kita lakukan”

“wae? Kau tidak mau menikah denganku?”

“aniya, tentu tidak begitu, hanya saja aku butuh waktu. Semua ini tidaklah mudah”

“jadi kau menyuruhku menunggu, atau kau tidak sanggup keluar dari dunia hiburan?”

“…” Jongwoon terdiam.

“cih. Lupakan saja! Anggap aku tak pernah bilang apapun” Geunyoung kesal. Yeoja ini ingin keluar dari mobil tapi Jongwoon menahannya.

“jeongmal mianhe. Kau tahukan betapa aku ingin menjadi seorang penyanyi dan karenanya perjuanganku tidaklah mudah. Semuanya dimulai dari nol dan kulakukan segalanya yang kubisa dengan segenap kemampuanku hingga aku bisa terkenal seperti sekarang”

“gwenchana, aku takkan memaksamu untuk meninggalkan impian yang berhasil kau capai, semoga sukses selalu. Selamat tinggal, jaga dirimu” Geunyoung keluar dari mobil dan berjalan menjauh dengan cepat.

Jongwoon turut keluar dari mobil tapi hanya berdiri disamping mobil tersebut. “chakkaman!” panggilnya setengah berteriak, Geunyoung berhenti. “baiklah. Musik, menyanyi, konser, semuanya akan kutinggalkan. Tapi tidak sekaligus, aku tidak sanggup. Beri aku waktu untuk melepas itu satu per satu”

“andwe. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi”

“kumohon bersabarlah demiku, Jebal. Sedikit lagi dan semua ini akan selesai, kita hidup sesuai impianmu. oo?” Jongwoon memohon dengan sepenuh hati, raut kekhawatiran tampak jelas diwajahnya.

“kenapa harus menunggu sedang kau bisa mengakhirinya malam ini juga. Tolong pikirkan bagaimana sedihnya perasaanku, aku lelah menunggu terus!!” Geunyoung naik pitam, dia hampir tidak bisa mengontrol emosinya.

“baik, mari perjelas ini” ungkapnya lagi setelah agak tenang. “tinggalkan segalanya demiku atau lepaskan aku dan silahkan teruskan impianmu”.

“…” Jongwoon membungkam.

“ya! Jawab aku” Geunyoung memaksa.

“…”

“arasseo. Diam bisa berarti kau lebih memilih kariermu. Ini benar-benar membuang waktu berhargaku” Geunyoung melirik jam tangannya dan masuk kembali kedalam mobil, Jongwoon masih terdiam ditempat.

“jongwoon-ah, mau berjanji satu hal?” tanya Geunyoung lagi setelah menyalakan mesin mobilnya. Jongwoon tak menjawab tapi melihat kedalam mobil.

“menghilang dari hadapanku selamanya!!”. Bbrrmm… Geunyoung melaju dengan cepat.

Lalu Jongwoon? Namja itu masih mematung, tak bergeming sedikitpun. Terlalu banyak hal yang tak dapat dicerna oleh otaknya.

………………………………….

JONGWOON POV

Keterlaluan! Bukankah pilihan itu terlalu memaksa? Bagaimana aku bisa memilih sedangkan aku butuh pertimbangan, lebih tepatnya aku butuh waktu untuk berfikir. Ini menyangkut masa depanku, pikirkan juga perasaanku Geunyoung-ah. Mianhae. Seharusnya kuucapkan itu dari awal sebelum semua ini terjadi.

Beberapa minggu setelah kemarahannya malam itu, Geunyoung tak muncul di tv atau media manapun. Kupikir itu wajar-wajar saja karena bisa jadi dia ingin menenangkan diri sejenak.

Beberapa bulan kemudian Geunyoung masih tak kelihatan, kurasa aku mulai khawatir. Tapi aku sudah janji untuk tidak muncul dihadapannya lagi. Sebenarnya itu hanya janji sepihak darinya. Aarghh… ini membuatku pusing.

Menyerah, itu yang harus kulakukan sekarang. Antara aku dan Geunyoung tidak ada apa-apa lagi, semua berakhir dengan sendirinya bahkan sebelum sempat dimulai. Bagaimana tidak, yeoja itu benar-benar berhasil mengacaukan kehidupanku. Setelah puas membuatku khawatir, kini dia muncul dengan berita bahagia yang membuatku berduka. Setelah kabar tersebut, Geunyoung berhenti jadi artis dan mungkin akan vakum selamanya. Dia akan menghilang dari dunia hiburan dan akan memulai kehidupan baru sesuai dengan impiannya. Jelas hal itu tak diwujudkan denganku tapi dengan orang lain. Yah… Geunyoung akan menikah.

TBC

………………………………….

                Yeah… part 2 selesai tapi masih bersambung. Rencananya Forever After sampai part 3 aja, soalnya ada ide baru sih, hehe. Nah bagi pembaca atau yang nggak sengaja baca atau kebetulan Cuma baca akhiran ini doank atau lain-lain hal, diharapkan kesudiannya untuk mengomentari cerita ini. Bukan hanya sudi tapi harus! Jeball i^i…………

11 responses to “FOREVER AFTER (PART 2)

  1. hehehe permintaan reviewnya melas bgt
    aq suka critanya. Jd pengen tau lanjutannya. Yg jd pertanyaan jang geum suk b’peran jd pacar moon geum young?

  2. Wah.,. FFx bgus… Crtax kren>>> mdah2 d’part slnjutx moon ngak jd nikah n blikn lg ma yeppa gi2… I like this couple…^^

  3. annyeong, mian lagi-lagi Taeminwoo terlambat:)
    apapun menurut kalian, mari kita lihat sama-sama seperti apa kelanjutan cerita ini . hahaha #gaje….
    #baiklah kalau begitu saya harus pergi lagi untuk kesibukan lainnya. annyeongggg

  4. aigo,,semoga moon ma yeppa…
    yemoon fighting,,rada ksian liat yeppa di part neh.
    di tngguin lnjutan ff neh,,smg happy end

  5. yah kasian lah cinggu,kan yeppa di buat bimbang oleh geun young.Di sini geun young ny sgt egois bgt crt ny….kpn dilanjutin neh ..?

Komentar ditutup.