The Perfectionist (Part 1)

The Perfectsionist

dddd

Author : Yoan Amalka.S

Cast      : Sehun (EXO), Lizzy (After School), Minhyun (NUEST)

……………………..

SATU

“Lizzy hebat ya,sudah cantik,pintar lagi.”

“ya,dia sempurna sebagai perempuan.”

2 siswi bergossip soal Lizzy_ratu sekolah_ setelah ia melewati mereka berdua di koridor sekolah. Lizzy juga mendengar hal itu,tapi berusaha tetap tenang dan berjalan anggun menyusuri koridor sekolah. Yah… baginya itu sudah biasa. Dan pantas. Karena semua ini,popularitas,kecantikan,kecerdasan, bukan dengan mudah di raihnya.

Sejak SD dia memang sudah memiliki wajah cantik.Tapi prestasinya biasa saja. Dia tak terlalu memikirkan nilai-nilainya. Beranjak ke SMP,persaingan membuatnya bekerja keras untuk mendapatkan nilai bagus. Alasan lainnya karena ia tak ingin di cap bermodal tampang oleh orang-orang. Dan ia mulai menanamkan dalam pikirannya_ aku harus menjadi yang terbaik.

Lizzy mungkin tak sadar sejak kapan sifat perfectsionist melekat padanya. Mungkin sejak keserakahannya selalu ingin jadi nomor satu. Kesempurnaan. Itulah yang ingin di capainya. Tak heran,karena orang seperti dia selalu mengerjakan sesuatu dengan sangat baik demi tampil hebat di mata orang.

Sempurna. Bukankah tak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini ? sempurna, hanya kalimat pengukuran. Bukan sesuatu yang mutlak. Tak ada yang bisa menjadi sempurna,karena dunia selalu punya celah.

……………………..

            “Sehun ya ? anak baru itu namanya Sehun kan ?” tanya Minhyun penasaran saat di perpustakaan pada Lizzy.

Lizzy cuma mengangkat bahu menanggapi adik kelasnya itu.

“Aku iri. Sehun itu sudah keren,pintar,juga jago olahraga. Noona,dia masuk kelasmu kan ?”

Lizzy diam tak menghiraukan ocehan Minhyun yang baru kelas satu itu.

“Pastilah dia masuk kelas khusus seperti noona. Dia kan pintar.” Tambah Minhyun.

“ kau kagum padanya ?” tanya Lizzy ringkas sambil terus menulis di buku catatannya.

“Ah… noona takut tersaingi ya ?” goda Minhyun.

“Heh ? mana mungkin,aku ini hebat.” Tegas Lizzy.

Dia berbohong bahwa dia tak merasa terancam. Sudah lama ini menjadi pikirannya. Bagaimana bila suatu hari ada orang yang lebih sempurna darinya ?

Sekarang benar-benar terjadi. Dan orang yang tiba-tiba muncul.Itu sangat menyebalkan baginya. Mendadak seluruh dunia jadi memperhatikan si anak baru itu.

……………………………

            91 ? lumayan_ Lizzy menatap kertas ujian fisikanya dengan tatapan datar. Mau puas atau tidak dia bingung. Seharusnya nilai itu seratus. Apa belajarnya kurang ya ?_pikirnya lagi.

“91 ya ? hebat.” Sebuah suara yang tiba-tiba menghampirinya.

Lizzy melirik sebentar dan langsung tak tertarik. Si pengacau hidupnya, Sehun.

“Aku 92.”

Dia mau pamer ya ?_ gerutu Lizzy dalam hati.

Kesal dengan perbedaan satu angka itu.

“Lalu ? kau mau apa ?” cetus Lizzy.

“ aku hanya ingin tahu nilaimu. Ng.. tapi sepertinya kau kesal. Aku mengganggu ya ?”

Yah ! kau sangat mengganggu_ Lizzy ingin sekali mengatakannya. Tapi tunggu,itu terlalu kasar dan di urungkannya kata-kata itu. Jadi dia mencoba tersenyum sebaik mungkin.

“Tidak,kok.” Balas Lizzy kemudian.

“sekali-kali,kau harus santai. Mukamu tegang terus tuh.” Saran Sehun.

Sehun meninggalkan Lizzy dengan wajah yang terlihat berpikir. Kalimat sehun. Itu yang di pikirkannya. Bersantai. Apa aku menyia-nyiakan masa mudaku ?_ di benaknya muncul pertanyaan tersebut. Mungkin juga. Karena dalam kepalanya hanya ada,bagaimana agar aku bisa lebih baik dari siapapun.

***

DUA

Lizzy duduk di pinggir lapangan volley. Menatap bola volley yang melayang-layang tak tentu arah di permainkan gerakkan tangan orang-orang. Kadang-kadang dia melihat ke lapangan basket. Dengan Sehun melengkapi jumlah pemain di sana.

Kenapa dia bisa ?_ gumamnya dalam hati.

Sebenarnya dia iri pada teman-temannya yang bergerak bebas memainkan bola-bola itu. Dia tidak bisa. Tidak bisa selincah mereka menggerakkan badan. Arrgh… ! ini kelemahanku_ pikirnya lagi. Sulit di pungkiri kalau jam olahraga adalah yang paling di bencinya.

Sehun. Dia sangat lihai mengontrol bola ditangannya. Seperti bahwa anak laki-laki di takdirkan untuk olahraga.

“Hei,kenapa tak ikut main ?” tegur Jung-ah sambil mendekat ke arahnya.

Lizzy menggeleng.

“malas.” Sahut Lizzy.

Jung-ah mencari tempat duduk yang nyaman di sebelah Lizzy. Lalu meluruskan kakinya yang genjang.

“ menyenangkan,lho..” ujar Jung-ah.

“bagi mu. Tapi buat ku kan tidak, aku tak pandai olahraga.” Dalih Lizzy.

Lizzy beralih dari lapangan volley ke lapangan basket. Bola sedang berada pada Sehun. Dia mendribling bola dan…. Dunk !

“wah…! Hebat ! Sehun memang pantas diandalkan.” Puji Jung-ah yang rupanya daritadi ikut memperhatikan Sehun.

Sial ! hanya sebuah dunk saja_ omel Lizzy yang kesal gara-gara perhatian ke Sehun yang tercipta dari sebuah dunk.

Cuma hari ini saja kau popular,besok tidak lagi_ gerutunya kembali dalam hati.

“Braak !!”

Minhyun tersentak kaget dengan 3 tumpukan buku tebal yang di taruh dengan kasar oleh Lizzy di meja perpustakaan. Minhyun lalu menatap wajah Lizzy. Terlihat mengerikan, Minhyun tahu ada hal yang membuat noona ini benar-benar marah.

“Noona,kau seperti penyihir,” ujar Minhyun.

Lizzy berpaling menatap Minhyun dengan tajam. Seperti ingin menyalurkan pikirannya yang kacau pada Minhyun.

“Arrgggh…! Dia menyebalkan !” seru Lizzy gemas.

“noona,duduklah dulu,semua orang melihatmu.” Ingat Minhyun.

Lizzy memperhatikan sekitarnya kemudian. Semua orang melirik padanya. Bagaimana seorang ratu sekolah bersikap kasar begitu ? ini akan merusak image nya sebagai siswa sempurna. Termasuk ibu pustakawati juga turut melototinya. kau sangat berisik_ begitu yang terbaca oleh Lizzy di raut wajah sang pustakawati.

Lalu dia menaarik kursi di samping Minhyun,dan mendudukkan diri di situ.

“waeyo ? ada masalah ?” tanya Minhyun lagi. Lizzy tertunduk lemas.

“Aku kesal tahu ! kemarin nilainya lebih satu angka dari ku. Hari ini dia jadi bintang gara-gara satu dunk yang dia ciptakan.” Adu Lizzy.

“ siapa sih maksud mu,noona ?”

“si Sehun itu.”

Oh… Minhyun sudah bisa menangkap masalahnya. Dia tahu kalau noona yang selalu mengajarinya ini tak suka ada orang lain yang lebih hebat dari dirinya.

“ kenapa dia bisa basket dan aku tidak ?” gumam Lizzy lagi,tetap menunduk lemas di meja.

“minta ajari kan beres.” Sahut Minhyun.

“Mworago ?! gila ! masa aku minta ajar sama saingan,”

“ kita harus memberi daging untuk mematahkan tulang.”

“jangan mencontoh kalimat di serial drama.”

Minhyun kembali ke buku yang dibaca nya tadi. Namun berhenti,dan mencoba menerawang. Ada gagasan menarik dalm otaknya. Tapi pasti akan membuat noona-nya shock. Mulutnya tak berhenti berbisik sendiri,memperkirakan segala kemungkinan yang ada dalam rencananya.

“Noona,kalau kau dekati dia pasti dia akan membantumu dengan sukarela.” gagas Minhyun tiba-tiba.

“ cuci otakmu sana ! dari mana kau dapat ide gila macam itu ?!” sahut Lizzy ketus.

Minhyun menghembuskan nafas dengan pasrah. Si noona ini sebenarnya bodoh atau pintar sih ?? di kasih ide bagus malah menyalak begitu. Masa sampai sesebal itu Cuma gara-gara nilai dan dunk.

“noona,dengarkan aku. Kalau kau dekat dengannya,lama-lama dia akan percaya padamu. Kalau begitukan kau bisa mendapatkan informasi tentang kepintarannya,” tambah Minhyun.

Lizzy kembali memikirkan rencana Minhyun. Itu bagus sih, tapi minta ajar pada musuh ? baginya seperti kehilangan harga diri. Gengsinya terlalu tinggi untuk berguru pada rivalnya itu.

Minhyun menyadari bahwa Lizzy kembali berpikir panjang lagi.Dia pun berniat menghentikan jalan pikiran noona-nya yang berbelit-belit dan panjang seperti rumus Fisika itu.

“kalau tak mau ya sudah.” Kata Minhyun pelan.

Lizzy berlalu dari pikirannya sejenak dan menatap Minhyun heran.

“padahal kalau ratu sekolah jadian dengan raja sekolah kan hebat.” Lanjutnya.

Lizzy membelalakkan matanya. Dan….

“Beuh, HA..HA..HA..HA..HA..!!!” tawa Lizzy langsung memecah.

Apa? Jadian ? dengan si Sehun ? orang yang jelas-jelas menyebalkan baginya. Si pengacau yang mengambil perhatian darinya dengan tiba-tiba. Mana mungkin ! dia tak akan berbuat nekat begitu.

“apa sih ?” sela Minhyun,merasa tersinggung dengan tawaan Lizzy.

Lizzy tak menanggapi omongan Minhyun yang bernada kesal itu. Tapi mengganti tawa lepas itu dengan senyum geli. Karena sadar semua orang di perpustakaan memperhatikannya saat dia tertawa kencang tadi.

Tidak akan terjadi pikiran Minhyun itu_ dia bersumpah dalam hati tak akan melakukan hal bodoh itu.

***

Continue…..

2 responses to “The Perfectionist (Part 1)

Komentar ditutup.