The Perfectionist (Part 2)

 

 

THE PERFECTSIONIST

dddd

AUTHOR : YOAN AMALKA

CAST : LIZZY (AFTER SCHOOL),SEHUN (EXO),SUNNY (SNSD),MINHYUN (NUEST),SUHO (EXO)

……………………

TIGA

Lizzy berbaring di ranjang bergambar Winnie the pooh nya. Kakinya di sandarkan pada dinding di sisi kiri ranjangnya,sementara tangannya memegang kamus bahasa Jepang. Tapi akhirnya dia lelah juga membaca kamus itu. Dan melemparnya ke atas meja lampu tidur yang tak jauh dari ranjangnya. Dia lantas menatap langit-langit kamarnya yang berwarna oranye. Pandangannya menerawang,ia memikirkan sesuatu. Sesuatu, sesuatu yang di katakan Minhyun.

“padahal kalau ratu dan raja sekolah jadian kan hebat,” kembali kata Minhyun terngiang di kepala Lizzy.

“yang benar saja ?” kata Lizzy pada diri sendiri.

Dia sudah berjanji tak akan pernah melakukan hal itu. Tapi… kenapa terpikir terus ?

Tidak ! berhenti memikirkan itu_ Lizzy menepuk pipinya. Pacaran ? itu sesuatu yang di hindarinya. Bukan karena dia benci lelaki dan tidak normal. Tapi, yah…. Tak mau saja. Menurutnya pacaran itu merepotkan dan hanya mengganggu dirinya.

“Brak !”

Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka secara tidak sopan oleh seseorang. Lizzy mengenal orang itu dengan sangat baik. Orang yang memang biasanya selalu masuk dengan cara seperti itu ke kamarnya,bahkan sejak kecil. Itu Sunny,sepupunya.

“ tumben kau tak duduk manis di meja belajarmu, dan mana buku-buku tebalmu ?” ujar Sunny dengan nada mengejek. Kemudian duduk di kursi meja belajar Lizzy.

Lizzy bangkit dari tempat tidur. Kemudian duduk di pinggir ranjang sambil memeluk salah satu bantal Winnie the pooh-nya.

“apa mau mu ?” sahut Lizzy.

“aiih… taring mu muncul tuh ! aku Cuma jalan-jalan.” Dalih Sunny.

“mana mungkin !”

Lizzy melemparkan pandangan tak percaya sekaligus bertanya pada Sunny. Sunny yang merasa terdesak pun buka mulut tentang maksud kedatangannya.

“temani aku besok ke mall yah ?”

Lizzy mengerutkan alis tanda tak suka. Ia sedang malas jalan-jalan seperti itu.

“malas !” sahutnya singkat

“aissh… kau menyebalkan ! dulu kau itu menyenangkan untuk di ajak jalan.” Omel Sunny.

“sekarang tidak lagi.”

Sunny mendesah kesal. Ia akui sangat susah sekali mengajak Lizzy bermain semenjak SMA. Dia sendiri tak tahu apa yang begitu menyibukkan Lizzy,sehingga menemani nya ke mall saja tak bisa.

“ku mohon.. aku malu kalau Cuma berdua.” Pinta Sunny dengan wajah memelas.

“berdua ?” tanya Lizzy heran.

Dia kemudian berpikir,kalau Sunny punya teman buat apa dia mengajak dirinya. Apa dia mau mempermalukan ku_ selidik Lizzy. Curiga karena selama ini Sunny sering mengerjainya.

“please… baby..!” mohon Sunny lagi. “ayolah.. aku sudah bilang akan mengajak temanku,dia juga akan mengajak temannya.” Tambah Sunny kemudian.

“siapa yang kau maksud dia ?” tanya Lizzy.

“dia.. itu.. pacar ku.” Ucap Sunny malu. Pipi nya merona merah mengakui itu pada Lizzy.

Lizzy diam sejenak,menimbang-nimbang rencana Lizzy.

“ok. Aku ikut. Tapi awas kalau kau mengabaikan ku.”

“tidak akan !” Sunny langsung memeluk Lizzy erat-erat. Dan Lizzy mulai merasa sesak.

“hei,sudah ! jangan peluk aku lagi. Kau berat tahu !” gerutu Lizzy seraya mendorong tubuh Sunny menjauh.

***

Lizzy dan Sunny berdiri di depan pintu masuk mall. Lizzy melihat orang-orang yang lewat sementara Sunny sedang menelepon pacarnya, menanyakan dimana dia menunggu Sunny dan Lizzy.

“oh.. baiklah,kami ke sana.” Kata Sunny pada pacarnya melalui telepon. Lizzy langsung melirik pada Sunny.

“mereka menunggu di Caffe Portagioie.” Ucap Sunny.

Mereka lalu segera pergi dari pintu masuk mall menuju tempat yang di beri tahu pacarnya. Lizzy merasa agak lega. Sudah lama juga dia tak main-main ke mall untuk sekadar mencuci mata tanpa membeli sesuatu. Benar juga yang di katakana Sehun, dia harus bersantai sedikit. Tunggu ! apa yang barusan dia pikirkan ? membenarkan kata Sehun ? oh.. tidak ! tidak akan terjadi dua kali.

Mata Sunny masih mencari-cari ke seluruh ruangan Caffe Portagioie sebelum akhirnya menemukan orang yang di carinya. Sunny pun melambai pada laki-laki yang sedang duduk santai di salah satu meja caffe dengan seorang laki-laki yang mungkin temannya.

“itu mereka.” Kata Sunny seiring dengan jari telunjuknya mengarah ke tempat yang di katakannya. Kemudian dia menarik Lizzy.

Lizzy menyipitkan mata melihat ke arah yang Sunny tunjukkan. Lalu merasa enggan untuk melangkah ke sana. Benarkah yang dilihatnya ? itu… seperti rival menyebalkannya. Sehun. Tapi Sunny kembali menarik tangannya agar ia mau melangkah ke sana. Dia pun berat hati berjalan ke meja yang diduduki oleh Sehun dan_mungkin pacar Sunny_ itu.

“ hai Suho !” sapa Sunny. Lalu duduk di kursi di samping Suho.

Dan teman Suho_yang ternyata Sehun_ melirik ke arah Lizzy yang masih berdiri. Menatap Sunny dengan wajah mulai kesal. Ah..! dia membenarkan pikirannya yang kemarin_pasti Sunny tak mengacuhkannya kalau ada pacarnya itu.

“ hai,Lizzy.” Sapa Sehun. Lizzy hanya melirik sebentar dan kembali melihat Sunny dengan pandangan kesal. Tiba-tiba Sehun menggenggam tangannya untuk menariknya agar duduk.

“kau mau berdiri terus ?” ujar Sehun.

“eh,kalian saling kenal ?” tanya Suho yang dari tadi asyik berbicara dengan Sunny.

Sehun mengangguk,lalu berkata,

“dia teman sekelasku.”

Teman ? sejak kapan aku jadi temanmu ?!_ omel Lizzy dalam hati.

“wah.. tak sia-sia aku memaksamu ke sini.” Sambung Sunny.

“yah,terimakasih.” Ucap Lizzy ketus sambil melirik Sunny tajam.

“oh..ya nama ku Suho, dan kau ?” Suho mengingat bahwa dia lupa memperkenalkan diri.

“Lizzy. Dan aku heran kenapa kau mau menyukai Sunny,dia kan sangat cerewet.”

Sunny langsung melempar pandangan kesal pada Lizzy.

“aku tahu. Tapi aku tak pernah menemukan alasan untuk pertanyaanmu.” Kata Suho sambil tersenyum.

“ngomong-ngomong,apa kita akan disini terus ?” sela Sehun.

“mmm… baiklah,kita jalan kemana ?” tanya Suho.

“aku mau ke toko aksesoris. Kalau kalian punya tempat yang ingin di kunjungi silahkan saja.” Kata Sunny.

“tidak. Aku ikut denganmu.” Balas Lizzy cepat.

Sehun lalu menoleh kearahnya dengan alis berkerut. Apa Lizzy tak mau membiarkan temannya itu berdua dengan Suho saja ?

Begitu pun Sunny,berusaha menyembunyikan wajah menggerutunya. Padahal ia sengaja mengajak Lizzy agar teman Suho bernama Sehun itu punya teman untuk di ajak jalan-jalan. Tapi sepertinya Sunny membaca bahwa Lizzy tak senang bertemu Sehun seperti teman bertemu dengan teman biasanya.

“ng.. ya sudah.” Jawab Sunny enggan. Dia kemudian menarik tangan Suho dan berjalan duluan dari Lizzy dan Sehun.

Sehun bangkit dari duduknya kemudian menoleh pada Lizzy yang masih duduk santai di kursinya.

“kau tak mau jalan ?” tanya Sehun.

“oh.. baiklah.” Ucap Lizzy malas seraya bangkit juga dari tempat duduknya.

 

Sehun memperhatikan wajah Lizzy sesekali. Dari tadi Lizzy masih memberengut. Mungkin masih kesal dengan Sunny yang meninggalkannya. Tadi saat mereka ada di toko aksesoris,Sunny berkeliling di sekitar toko itu. Tapi kemudian jejak Sunny dan pacarnya,Suho itu hilang. Dia sengaja ya ?_ gerutu Sunny dalam hati.  Daritadi mereka berdua berkeliling mencari Sunny dan Suho.

“ kau tak capek ?” tanya Sehun memecah kediaman mereka daritadi.

Lizzy menghembuskan nafas lelah. Dia capek juga dari tadi kesana kemari mencari Sunny. Matanya mencari-cari tempat yang nyaman untuk duduk.

“di kursi sana saja.” Sahut Sehun seperti tahu pikiran Lizzy. Sehun mengarahkan telunjuknya pada kursi yang ada di dekat wahana permainan anak-anak.

Tanpa pikir panjang Lizzy langsung menuju tempat duduk yang masih kosong itu.

“kenapa kau tak coba menelepon temanmu itu ?” saran Sehun setelah mereka duduk di kursi yang kakinya tinggi dari kursi umumnya.

“aku lupa bawa handpone.” Jawab Lizzy tanpa memandang Sehun. “ kau sendiri ? jangan bilang kau lupa bawa handpone juga ?”

Sehun mengangkat bahunya. Dia merogoh saku jacket birunya,mencari handpone. Setelah itu dia menekan tombol nomor Suho lalu menempelkan ponsel itu di telinga kirinya.

Beberapa saat kemudian…

Beep…beep…beep…. Tak ada jawaban dari telepon Suho. Sehun bergegas memasukkan kembali handponenya.

“sepertinya dia tak mengangkat teleponnya.” Kata Sehun santai.

Lizzy mendesah lelah seraya gerakkannya menopang dagu.

“ sudah ku duga ini akan terjadi.” Keluhnya.

Sehun memberinya tatapan bertanya.

“ aku malas jalan-jalan dengan orang yang sedang kasmaran. Intinya aku tak menyukainya. Karena aku pasti tidak akan di acuhkan.” Gumam Lizzy.

Bibir Sehun membentuk senyum kecil. Dan ikut bertopang dagu seperti Lizzy.

“aku tahu. Menyebalkan memang. Tapi kalau kita di posisi yang sama dengan mereka pasti kita juga akan berpikir sama dengan mereka.”

“yah.. benar.” Lizzy membenarkan.

Tunggu ? apa yang barusan dia bilang ? Oouw…. Dia melanggar ucapannya sendiri. Ini ke-2 kali dia membenarkan kata-kata Sehun. Dan dia sendiri heran kenapa bisa mengobrol santai dengan Sehun. Padahal biasanya dia akan ketus sekali jika mendengar omongan Sehun.

“jadi,mau melanjutkan mencari mereka ?” tawar Sehun. Lizzy menggeleng.

“aku capek dan sudah malas berkeliling mencari mereka.” Balas Lizzy sambil meluruskan kakinya.

Sehun juga menyandarkan diri pada sandaran kursi.

“aku juga.” Ucapnya.

Walaupun Lizzy sempat merasa santai mengobrol dengan Sehun ,namun dia tetap mengeraskan hatinya. Baginya Sehun tetap seorang yang menyebalkan yang sudah merebut perhatian semua orang darinya. Sehun itu rivalnya. Itu yang harus ia pegang dalam otaknya.

***

EMPAT

“iya.iya maafkan aku.” Kata Sunny dari balik telepon suatu pagi setelah jalan-jalan mereka sudah berlalu satu hari.

Lizzy memindahkan  handponenya dari telinga kiri ke telingan kanan dan menjepitnya dengan sebelah bahunya.

“oke,kumaafkan. Tapi lain kali aku tak akan menemanimu jalan kalau kau meninggalkan ku seperti kemarin.” Balas Lizzy sambil memasang sepatunya.

“tidak akan lagi. Oh.. ya ! bagaimana jalan-jalan mu dengan Sehun ? baik-baik saja kan ? sepertinya kau tak menyukainya,kenapa ? apa dia musuhmu ? tapi dia terlihat baik padamu ?”

Oh.. demi Tuhan ! Sunny mulai menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan dia selalu kesal dengan kebiasaan Sunny yang ini sejak kecil.

“bukan apa-apa. Aku mau berangkat sekolah,sampai jumpa.” Lizzy langsung memutus telepon. Dan ia sempat mendengar omelan Sunny dari balik telepon tadi.

Tali sepatunya selesai terikat,dan ia meraih tas sekolah di sampingnya,bergegas pergi kalau tak mau terlambat ke sekolah.

 

Sehun menaruh tasnya di atas meja saat tiba di kelas. Dia melihat Lizzy tak mengacuhkan kehadirannya. Tentu saja karena Lizzy terpaku pada buku yang sedang di bacanya. Oh.. begitukah anak teladan ? tanya Sehun dalam hati.

“hai,selamat pagi.” Tegur Sehun tanpa menghampiri Lizzy. Lizzy menoleh sebentar.

“hmm.. ya.” Jawabnya datar. Kembali sibuk ke bukunya. Ia harus belajar sekali lagi untuk ujian Sejarah hari ini.

Sehun duduk di kursinya,memandang ke luar jendela kelas dan memasang headset di telinganya. Huuhfft.. sebenarnya dia agak sebal. Kemarin Lizzy mengobrol santai dengannya. Tapi hari ini,kembali ke biasanya. Dia heran dan bertanya-tanya. Sepertinya Lizzy tak menyukainya. Dan apa alasan untuk itu ? apa di kehidupan sebelumnya dia pernah buat masalah pada Lizzy ?

99. nilai yang di dapatkan Lizzy. Dia jadi penasaran dengan nilai Sehun. Tapi masa dia mau bertanya pada Sehun ? tak akan di lakukannya.

“wah.. 100 ! kau hebat Sehun.”

Lizzy menguping kata-kata teman sekelasnya itu. Apa ?! 100 ?! arghh….! Dia kalah satu angka lagi ! kenapa sih ? selalu saja. Lizzy mencengkram kertas ujiannya. Rasanya ia benar-benar mau marah. Dia menarik nafas pelan berusaha tenang.

Lain kali aku akan lebih tinggi dari nilainya,janjinya dalam hati.

Minhyun menghampiri Lizzy yang memegang buku tapi tak di baca. Malah melamun dengan tatapan kosong yang mengarah lurus ke depan. Minhyun menepuk meja dan membuat Lizzy tersentak.

“apa isi kepala mu,noona ?” tanya Minhyun jahil. Lizzy mendengus kesal.

“dasar !” umpat Lizzy. Minhyun tertawa kecil.

“apalagi ? Sehun hyung lagi yang membuatmu kesal ?” lanjut Minhyun.

“mmm..” jawab Lizzy malas. Buku yang di pegangnya daritadi di taruhnya. “nilainya lebih 1 angka dariku lagi.”

Minhyun menatap noona-nya. Tumben noona-nya bicara pelan begitu dan terdengar pasrah. Biasanya dia akan ketus sekali kalau membicarakan nilainya dengan Sehun.

“mau mencoba ide ku ?” tawar Minhyun sambil menatap Lizzy. Dia menopang dagunya dengan sebelah tangannya.

Lizzy melirik ke arahnya. Dia tak mau mencoba ide Minhyun. Mendekati Sehun ? tidak ! itu konyol. Tapi dia tetap menimbang-nimbang dalam pikiran dan hatinya soal gagasan Minhyun.

“boleh juga,” gumam Lizzy memberhentikan tatapan bertanya Minhyun. Minhyun pun tersenyum merasa menang.

“ aku yakin hasilnya bagus.” Yakin Minhyun.

***

TO BE CONTINUED

***

6 responses to “The Perfectionist (Part 2)

    • masih mikir nih sambungan ff lainnya.. lagi cari referensi pengalaman masa kecil orang lain. buat cerita anak polos tuh… susah..!

  1. bwahaha…selisih angkanya cuma satu mulu.wah..kalo jadian jadi couple jenius nih(?).bagus thor.bikin penasaran *-*.lanjut ya thor.jangan lama2’3′)9.hidup lizhun!!!!

Komentar ditutup.