The Perfectionist (Part 3)

THE PERFECTSIONIST

perfects 3-4

AUTHOR : YOAN AMALKA

CAST            : LIZZY (AFTER SCHOOL),SEHUN (EXO),MINHYUN(NUEST),SOMEONE(?)

…………………

LIMA

“ting-tong !” bel apartemen Sehun berbunyi. Pasti itu dia_ dia menerka seseorang yang datang ke apartemennya itu dengan yakin. Lalu memastikan kebenaran melalui kamera CCTV yang terpasang di pintu masuk apartemen. Benar! Itu Lizzy.

Kemarin di kelas tiba-tiba Lizzy menghampirinya dan mengajak berdiskusi tentang soal dengannya. Karena menganggap itu belum selesai,Lizzy mengusulkan untuk menemui Sehun di tempat tinggalnya. Sehun merasa aneh saja,tak ada angin tak ada hujan,Lizzy bisa berubah sedrastis itu. Hmm.. mungkin punya rencana. Tapi Sehun menepis pikiran negative nya itu dan membuka pintu untuk Lizzy.

“hallo, dingin sekali cuaca hari ini.” Sapa Lizzy.

Ng..? alis Sehun mengerut. Biasanya Lizzy tak mengatakan hallo padanya seramah ini.

“Ng.. boleh aku masuk ?” tanya Lizzy saat Sehun mengherankan tingkah lakunya.

“oh.., ya tentu.”

Lizzy mengikuti Sehun dari belakang menuju ke dalam. Dengan cepat matanya mulai memperhatikan apartemen Sehun. Kelihatan mahal. Perabotan rumah yang terbuat dari kayu mahonie yang langka,dengan sofa krem polos mengisi ruang duduk yang ditemani meja kaca bundar. Tv LCD layar besar. Dan di satu sudut ruangan ada akuarium berisi ikan goldsaum dan blue-strip snapper. Kemarin dia agak terkejut Sehun tinggal di apartemen,apalagi kalau sebagus ini. Hal itu tak biasa untuk seorang anak SMA. Ya.., anak SMA yang tinggal sendirian di apartemen sangat tak biasa baginya. Kalau Sehun seorang pekerja kantoran mungkin dia bisa memaklumi.

“kau mau minum sesuatu ?” tawar Sehun. Lizzy mengangguk,karena dia juga sangat haus gara-gara perjalanan kemari. Dia kemudian menuju sofa krem yang terlihat nyaman di ruang tamu.

“terserah kau saja.”

Lizzy masih memperhatikan setiap sudut ruangan apartemen. Di salah satu jendela ada tanaman begonia yang_mungkin_di pelihara Sehun.

“aku tak menyangka dia suka memelihara bunga,” gumam Lizzy dalam dalam hati.

Beberapa saat kemudian Sehun datang dengan dua cangkir tea dia tangannya.

“silahkan.” Ucapanya seraya meletakkan salah satu cangkir yang di pegangnya dia atas meja di hadapan Lizzy. Lizzy mengambil tea nya dan meminumnya pelan.

“jadi,apa yang kau inginkan ?” selidik Sehun.

Apa-apaan sih orang ini_Lizzy menggerutu dalam hati tapi tak menunjukkannya pada wajahnya.

“bukannya mau belajar ?” tanya Lizzy pura-pura tak mengerti.

“oh..,kupikir kau punya tujuan lain.” Balas Sehun.

Huh ! ada apa dengan Sehun ? dia seperti ahli cenayang yang dapat membaca pikiran Lizzy. Tapi Lizzy berusaha tenang,ia tak mau usahanya gagal.

Tapi Sehun yakin kalau Lizzy punya rencana ? tapi apa ? apakah itu rencana buruk ? sekali lagi ia menerawang.

“tea mu hambar.” Kata Lizzy, menghentikan pikiran Sehun yang berkecamuk.

“oh,maaf. Aku tak pandai di dapur.”

Sungguh ? ini kelemahan Sehun ? dia tak bisa memasak,bahkan membuat tea yang enak ? ah..! tapi itukan wajar untuk anak laki-laki.

“mau mulai dari yang mana ?” tanya Sehun.

“oh, soal matematika nomor 24 kemarin. Aku susah mengerti bagian itu.” Jawab Lizzy.

Mereka pun mulai panjang lebar membahas soal demi soal. Bahasan panjang yang akan membuat orang lain bosan,tapi cukup seru untuk mereka berdua. Untuk sejenak Lizzy berhenti memikirkan rasa bencinya pada Sehun,dan Sehun berhenti menerawang rencana_yang mungkin jahat_ yang di susun Lizzy untuk melumpuhkannya.

 

Sudah jam 1 siang. Lizzy menyadari dia belum makan siang. Maka dia berhenti mengerjakan soal-soal di buku.

“aku mau istirahat sebentar.” Kata Lizzy sambil bersandar pada sandaran sofa yang empuk.

Sehun juga ikut berhenti mengerjakan soal. Dia juga tak menyangkal kalau dia lelah juga.

“aku lapar, biar aku pesan makanan.” Kata Sehun,dan meraih ponselnya untuk menghubungi delivery. Lizzy langsung menahan tangannya.

“aku bisa memasak,asal ada sesuatu di kulkasmu.”

 

Lizzy melongo tak percaya setelah melihat isi kulkas Sehun setelah mereka di dapur. Hanya ada sebungkus mie basah dan seikat sawi.

“mengerikan ! selama ini kau makan apa ?” tanya Lizzy tak percaya. Sehun menggaruk kepala.

“kan sudah ku bilang aku tak pintar memasak,biasanya aku pesan dari luar. Itu ibuku yang suka mengisi kulkasku penuh-penuh. Dan itu sisanya.”

Sisa ?! ya ampun..! sekarang Lizzy merasa seperti seorang ibu yang marah anaknya tak makan dengan teratur. Lizzy mengambil sawi dan mie basah itu keluar dari kulkas.

“akan ku masak.”

Sehun memperhatikan Lizzy yang sepertinya sudah terbiasa didapur.Dia terlihat lihai mengolah bumbu yang bisa di temukannya di dapur Sehun. Yah.. wajar saja. Lizzy itu wanita. Tapi menurut Sehun sekarang sudah jarang ada wanita yang bisa memasak.

“makanlah.”

Aroma masakan langsung membaui hidung Sehun saat Lizzy menaruh piring berisi mie goreng di atas meja makan di hadapannya. Lizzy mendudukan diri di kursi yang berhadapan dengan Sehun. Lalu melahap bagiannya.

Sehun melahap makanannya. Hmm… dia baru tahu Lizzy bisa memasak seenak ini.

“kenapa ? rasanya aneh ?” tanya Lizzy. Sehun mengibaskan tangannya mengisyaratkan kata tidak.

“enak,tapi lebih enak kalau ada dagingnya.”

“di kulkasmu Cuma ada ini saja.” Ingat Lizzy seperti menyinggung.

Sehun tersenyum,lalu melanjutkan makannya.

“lain kali aku akan mengisi kulkas penuh-penuh,supaya saat kau ke sini bisa memasak sesukamu.” Ujar Sehun.

***

ENAM

100. Akhirnya. Lizzy bernafas lega. Nilainya menyamai Sehun setelah. Tak sia-sia dia mengorbankan gengsinya untuk mendekati Sehun selama 2 minggu ini. Ide Minhyun ternyata bermutu. Tapi sesungguhnya, mereka hanya belajar bersama. Dan tak ada informasi mengenai Sehun yang diperolehnya,kecuali Sehun yang tak bisa masak_yang dianggap tak terlalu penting.

“ sepertinya noona senang.” Ujar Minhyun saat istirahat di perpustakaan.

Lizzy tersenyum. Tentu saja,karena nilainya sangat bagus hari ini. Dia mendapatkan kembali perhatian dari orang-orang yang sempat beralih ke Sehun. Meskipun tak semua karena terbagi ke Sehun.

“ide mu lumayan juga,” ujar Lizzy.

“heh ? lumayan ? oh.. ya, aku tahu kau tak pernah puas dengan apapun. Dan pujian darimu itu sangat susah didapatkan.” Gerutu Minhyun kesal.

“ha..ha..ha.. memang,karena sulit sekali membuatku kagum.”

Karena Lizzy tak akan benar-benar memuji kalau hal itu tak memesona baginya. Dia yang perfectsionist itu selalu punya standar tinggi untuk dapat mengagumi sesuatu. Dan selalu bekerja keras untuk dapat membuat orang kagum.

“baiklah,waktunya belajar.” Ingat Lizzy pada Minhyun.

“maaf noona, mulai hari ini aku tak mau kau ajari lagi,” kata Minhyun sok keren.

“kenapa ?” heran Lizzy.

Minhyun tak membalas,malah melihat ke arah di belakang Lizzy. Melambai pada seorang gadis yang berdiri di sana. Gadis itu juga membalas lambaian Minhyun lalu menuju ke tempat Minhyun. Lizzy berbalik,ingin melihat siapa yang dilambai Minhyun.

“itu alasan ku.” Jawab Minhyun kemudian.

“hallo, Ga-eun. Duduklah.” Kata Minhyun setelah gadis yang di panggil Ga-eun itu sudah berada di dekatnya. Ga-eun menurut duduk di kursi sebelah kiri Minhyun.

“Ng…”

“bisakah aku pergi dari sini,” Lizzy melanjutkan kata-kata Minhyun.

“ah,eonie tak perlu pergi.” Cegah Ga-eun.

“gwenchana,aku juga punya urusan.” Balas Lizzy. Senyum kemenangan langsung tersirat di wajah Minhyun.

 

Lizzy kembali kelasnya sebelum jam istirahat habis. Dia duduk di kursinya dan bertopang dagu. Rasanya senang sekali bisa kembali berbahagia dengan semua kesempurnaan yang dia miliki.

“sekarang kau punya banya waktu luang untuk bertopang dagu,yah ?” sahut seseorang. Sehun,yang berdiri di pintu kelas. Kemudian menghampiri bangku Lizzy.

“kau sendiri yang menyuruhku bersantai sedikit waktu itu.” Dalih Lizzy.

Sehun mengangguk sekali.

“hari ini kau mau ke apartemenku lagi ?” tanya Sehun. Lizzy memikirkan tawaran itu.

“boleh. Aku akan datang jam 4 sore.” Jawab Lizzy.

 

Sehun masih berbaring di sofa kremnya ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Bergegas dia bangkit menuju pintu. Dari kamera CCTV terlihat Lizzy didepan pintu. Tepat saat dia ingin membuka pintu seseorang lelaki menghampiri Lizzy dari belakang,jadi Sehun mengamatinya dulu dari CCTV itu.

Lizzy berbalik badan menanggapi tepukan di pundaknya. Dia pikir mungkin Cuma orang iseng atau yang kebetulan di kenalnya. Sejurus kemudian dia berbalik dan langsung terkejut. Jantungnya berdetak cepat melihat orang yang menepuk pundaknya itu. Matanya seakan tak percaya dengan kehadiran laki-laki itu. Mendadak dia merasa gugup,tapi di cobanya untuk menepis ketakutan itu.

“lama tidak ketemu.”

***

— TBC —

***

6 responses to “The Perfectionist (Part 3)

  1. ini benar2…aaaaa *cakar author*(?) huwaa..author bikin penasaran mulu *lirik sinis*wkwkwk..setiap partnya bikin aku deg degan bacanya.entah kenapa.huwaa..thor..lanjutannya jangan lama2 ya.muah :*

Komentar ditutup.