Cherry Blossom Ending (Part 1)

cats 23

Author : Yesunggyu

Cast : Key, Sulli (Eunsol a.k.a Chanmi), Minho, dll

Genre : comedy romantic

length : continue

sebenarnya ini ff untuk sesuatu hal, tapi post aja lah ya!

………………………..

KEY POV

Aku melihat kearah jendela kamar ku, didekat pagar rumahku, aku melihat seorang perempuan berambut pendek sebahu. Sejak dulu sudah kuperhatikan. Dia selalu ada didekat pagarku, lebih tepatnya dibawah ranting besar pohon Sakura milik kami. Mungkin, dia takjub melihat pohon itu. Tentu saja, satu-satunya yang punya pohon itu kan hanya keluarga kami di kota ini. Tapi masa’ perlu dilihat terus setiap hari. Hem, sudah 2 bulan ini. Dia berjalan menuju rumahku dan berhenti didepan sana, berhenti dan menengok keatas, tepatnya di rantingnya, dan berdiam diri sekitar 5-7 menit.

Aku memberanikan diri untuk keluar dan menyapanya. Kini, aku berada sekitar 3 meter darinya.

“annyeong!”

“annyeong!”

“annyeong!”

Itu semua adalah teguranku padanya. Dia mengacuhkanku!

“annyeong!”

Dia tidak mendengarku lagi. Kutepuk bahu kanannya. Dia langsung kaget dan menengok ke arahku.

“annyeong! Aku sering melihatmu akhir-akhir ini? Ada apa? Apa kau ingin…”

“…” dia menunduk dan langsung berlari pergi sebelum aku menyelesaikan sapaanku.

“kenapa dengannya, gadis yang aneh….” Aku mengangkat bahu dan berputar kembali kerumahku.

………………………

Aku pergi kesekolah paginya. Setelah 100 meter perjalanan dengan jalan kaki, aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku. Aku mencoba berhenti. Aku melihat bayangannya juga ikut berhenti. Aku berjalan, dia ikut berjalan. Aku berlari, dia ikut berlari. Aku lalu berbelok, dia juga ikut! Siapa orang ini! Aku lalu berbalik. Hup!

“uwahhh…” aku terkejut hingga membuatku termundur-mundur. Orang yang ada dihadapanku adalah seorang perempuan yang cantik, kulitnya putih susu, rambutnya hitam lurus panjang hingga punggung, tingginya sampai di keningku mungkin, badannya langsing, bajunya berwarna putih. Kontras. Ini yang buat aku kaget.

“siapa?”

“annyeong hasimnika” perempuan itu tersenyum padaku. Cantik, membuat mukaku memerah.

“a a a annyeong… siapa kau? Kenapa mengikutiku?” sapaku sambil gugup, malu-malu, dan takut.

“bisakah kau membantuku?” tanyanya.

“membantu apa?”

“menyelesaikan masalahku?”

“masalahmu?” maunya aku katakan iya, tapi masalahnya adalah dia bukan orang yang kukenal. “aku saja punya masalah… dan aku belum mengenalmu…”

“namaku Han Chanmi. Jadi, kau mau membantuku?”

“bukan itu maksudku!” aku berteriak padanya, dia menutup telinganya. Wah, sepertinya aku sedikit kasar padanya yah? Aku pun memperbaiki sikapku dan melunakkan suaraku. “huft, baiklah… aku bantu… tapi aku dapat imbalan apa?”

“hem…” dia mulai berpikir. Ayolah, waktuku tidak banyak.

“aku akan mengabulkan 3 permintaanmu!”

“memangnya kau genie?”

“menurutmu?”

“….” Aku mulai berpikir. Apa salahnya. Kalau pun dia bukan genie, aku bisa minta apa saja kan?

“baik!”

…………………..

Siangnya, aku membawa Chanmi masuk ke kamarku. Tidak ada ibuku dirumah, jadinya aku bebas membawa siapa saja, huahahaha. Aku heran juga, apa Chanmi terus menungguku hingga pelajaran selesai? Dia menungguku di gerbang sekolahku. Dia tidak sekolah? Kini, aku duduk di kursi belajarku, dan dia diatas kasurku.

“nah, sekarang apa masalah pertamamu?” tanyaku padanya.

“besok adalah hari ulang tahun ibuku, aku ingin memberikannya hadiah…”

“jadi kau menanyakan apa hadiah yang cocok untuknya?”

“bukan! Itu sudah ku tentukan…aku ingin kau memberikan itu padanya?”

“kenapa bukan kau saja?”

“aku memiliki sedikit masalah padanya. Ayahku dan ibuku berpisah. Aku bersama ayahku…”

“oh… baiklah… teruskan”

“hadiahnya ada di alamat ini… tolong di ambil dan katakan “Choi Eunsol untuk Han Minji”, nanti kau akan mendapatkan kotak yang lumayan besar. Nah, antarkan kealamat ini…” dia memberikan secarik kertas padaku.

“kenapa Choi Eunsol? Siapa dia?” tanyaku heran.

“lakukan saja yah…” dia tersenyum padaku. Rasanya lihat Chanmi senyum tuh seperti terbang kelangit ketujuh bersama burung merpati sambil minum es soda.

Baik! Misi pertama dimulai!

……………………

Aku berdiri didepan sebuah rumah yang sederhana, aku sudah mendapatkan paket yang diinginkan Chanmi untuk diberikan pada ibunya. Dia sekarang bersembunyi di sampingku. Dasar! Dia bisa saja ketahuan kan?

“sst, ingat. Katakan saja. Dari seseorang untuk anda! Kalau ditanyakan kamu siapa, jawab aja dari pohon Sakura!” bisik Chanmi padaku.

“Sakura?” aku mengeryitkan dahiku. Oh ya, aku punya pohon Sakura.

Pintu pun terbuka, Chanmi segera bersembunyi dibelakangku dan menutup wajahnya. Tapi kurasa dia pasti masih mengintip.

“annyeong haseyo. Saya mengantarkan ini dari seseorang untuk anda. Anda nyonya dirumah ini kan?” tanyaku padanya.

“ah, bukan. Aku hanya pembantunya!” jawabnya. Wah. Salah orang, ding.

“ehehehe… kalau begitu, tolong berikan ya…” rasanya mukaku langsung hilang entah kemana.

“baik!” dia lalu berbalik.

“eh, tunggu!”

“ada apa?”

“anda tidak menanyakan siapa saya?”

“oh ya! Benar! Siapa anda?”

“nah!” aku mulai tersenyum “aku dari pohon sakura! Sampaikan ya!”

“pohon?”

……………………….

Aku dan Chanmi duduk dibangku taman. Tadi, habis dari rumah ibunya, dia menangis. Aku jadi tidak enak. Aku paling tidak tahan melihat perempuan menangis. Mau bagaimana, aku ini lemah pada perempuan. Hal yang paling menjengkelkan dimuka bumi ini!

“ada apa sih denganmu?” tanyaku hati-hati.

“waktuku tidak banyak…”

“heh?”

“aku memiliki waktu 7 hari, ini sudah lewat 2 hari, jadi dalam waktu 5 hari ini. Sebelum musim gugur, aku harus melakukan sesuatu…”

“melakukan sesuatu?” aku heran juga.

“aku, sepertinya harus mengatakan ini padamu…” dia lalu mendesah pelan dan menatap wajahku. Aigoo, aku jadi salting. “berikan tanganmu?”

“tangan?” aku heran, tapi aku tetap mengulurkan tanganku padanya yang duduk disamping kananku. Dia lalu menyentuhku tapi…

“uwahhhhh kau ini apa? Kenapa tanganmu tembusss darii…” aku kaget, rasanya mau mati saja. Gadis ini tidak biasa.

“aku sudah meninggal!”

“APPPUAAAAA??” Beneran, kali ini aku berdiri dengan baik, mundur 3 langkah, mengatur napas yang tersengal-sengal, dan memastikan mataku baik-baik saja.

“jangan berteriak! Orang-orang heran melihatmu!”

“jadi, orangtuamu bukan bercerai tapi itu bo…”

“hmm…” dia mengangguk, seram sekali!

“aku aku aku… tidak bisa…” aku segera berlari sejauh mungkin dari gadis ini. Mungkin saja aku lemah pada perempuan. Tapi ini bukan perempuan! Dia itu hantu!

…………………..

Pada malam yang sepi, diterangi sinar bulan purnama yang indah, hanya terdengar suara jangkrik dan kodok melakukan orkesta. Tidak! Ada suara lain yang membuatku tidak bisa tidur. Suara tangisan perempuan berambut panjang yang sekarang sedang duduk disamping tempat tidurku! Huaaaa hororrrrr…

“huhuhuu….. tolong bantulah akuuu…”

“kenapa minta padaku? Minta pada orang lain dong!”

“tidak bisa aku hanya ingin kamu!”

“jangannnn… aku takut!”

“tapi aku maunya kamu!”

“aku tidak mauuuu auuuu….” Aku melolong kayak serigala. Semoga orangtuaku tidak terbangun mendengar suaraku ini. Biasanya mereka kan tidur seperti mayat, tidak bangun-bangun (anak kurang ajar).

“kalau tidak mau… aku akan menghantuimu seperti ini lohhh… kau lebih mau yang mana!” dia malah membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Hua!

“KYAAAA… Kau ini porno sekali!” aku segera mengambil kembali selimutku.

“pokoknya kau harus membantuku!”

“tidakkkk tidaakkk…”

“aku akan kesini besok malam, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagiiii….” Dia pun meneruskan kata-kata itu hingga 10 kali 100.

“uwaaahhh iyaaaaaaaaaa deh iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” aku menyerah! Ampun DJ!

“baiklah! Gomawo!” suara Chanmi yang lembut ini membuatku dilema. Antara takut dan senang.

………………………..

Besoknya, sepulang sekolah. Chanmi menungguku didepan pintu gerbang. Horror juga, aku punya teman hantu. Tapi kenapa aku saja, maksudku kenapa dia tidak minta tolong yang lain? Kenapa aku hanya melihat dia, maksudku kenapa hanya dia hantu yang bisa kulihat?

“aku ingin melihat adikku menang dalam pertandingan hari ini!” ujarnya sambil tersenyum padaku. “temani aku ya”

“hem…” aku menghela napas. “janjimu itu tentang 3 permintaan, bisa tidak ku minta sekarang?”

“kau minta apa?”

“jangan tersenyum seperti itu. kau membuatku merinding. Karena kau terlalu cantik. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah kau seorang *?* hantu!” ujarku.

“oh. Baiklah. Aku akan tersenyum biasa saja….”

“jadi, adikmu itu, dia mengikuti pertandingan apa?”

“dia dan teman-teman SMP nya mengikuti pertandingan sepak bola. Dia sudah masuk final. Aku ingin menontonnya!”

“oh… baiklah! Kenapa kau tidak mau nonton sendiri?”

“kalau aku mau, aku akan nonton sendiri. Tapi aku tidak mau. Karenanya, kau harus menemaniku, iya kan?”

“whatever…” aku lalu melangkahkan kakiku.

………………………

Yah, adiknya menang dalam perlombaan. Dia sangat senang sekali. Sampai melompat-lompat di tribun. Untung saja tidak ada yang bisa melihatnya. Susah juga menandai kursi itu dan mengatakan ada yang duduk. Aku harus melebarkan tanganku. Tapi Chanmi membuatku tersenyum. Yah, tersenyum miris lebih tepatnya. Pasti sangat tersiksa yah tidak bisa ke alam sana?

“Key! Adikku hebat, kan? Itu lohhh… yang paling tinggi! Choi Minho!” dia menunjuk-nunjuk adiknya yang sedang bersorak-sorai dengan teman-temannya.

“nde… ayo kita pulang!” aku pun berdiri.

“tunggu, ayo kita temui adikku! Aku ingin bicara dengannya.”

“bagaimana caranya?”

“oh iya yah!” dia menepuk jidatnya. “kalau begitu, tolong tuliskan surat untuknya…”

“hem? Kau pikir dia akan percaya?”

“iya! Cepat. Keluarkan kertas dan polpenmu!” Chanmi terlalu bersemangat. Aku dibuat gugup olehnya dan panik. Dengan tangkas aku mengeluarkan kertas selembar dan polpen seperti orang mau ujian di tribun.

“siap? Tulis….”

Untuk Minho adikku yang hebat,

Noona baru saja menonton pertandinganmu, noona sangat bangga padamu! Kau bisa melewatinya. Tapi kemenangan bukan tujuan utamamu kan? Oh ya, mungkin kau tidak percaya hal ini. Tapi ini benar-benar noona. Noona dibantu oleh seorang namja yang keren.

“Ya! Aku tidak menyuruhmu untuk menulis namja yang keren!”

“sudahlah! Lanjutkan!” aku pura-pura tidak dengar, yang nulis kan aku ya?

Noona tidak tenang sebelum melakukan sesuatu untuk kalian semua. Omma juga pasti sudah tahu. Baiklah, noona rasa itu cukup. Pesan noona, jaga dirimu baik-baik.

KERO KERO KERO

“Kenapa ada kero keronya?” tanyaku heran sambil melipat dua kertas itu dan menaruh kembali pulpenku.

“itu kata sandinya!” tegas Chanmi. Ah, baiklah. Sebaiknya aku diam saja.

………………….

Besoknya, adalah hari minggu. Hari ini! Yeay! Biasanya aku akan tidur. Tapi untuk kali ini tidak! Chanmi sudah menungguiku. Dia seperti hantu saja. Eh, dia kan hantu ya? Dia bilang, dia ingin membelikan sesuatu pada seseorang. Dengan uangku tentu saja! Plis deh!

“apa yang ingin kau beli?” tanyaku padanya begitu kami berjalan.

“belikan aku jeruk, kimchi, nasi, dan air…”

“seberapa banyak?”

“yang bisa kau beli…”

“ehm? Lalu?”

“lalu? Antarkan kekuburanku!”

“MWO?!!!” Aku kaget lagi. Lambungku langsung berhenti berdetak, loh, maksudku jantungku. Aku bahkan salah menggambarkan keadaanku yang kaget.

“ayolahhhh aku belum makan sama sekaliiii…” dia merengek padaku.

“ah, baiklah!”

“gomawo!”

“jangan tersenyum begitu!”

“mian”

………………………

“aku makaaannn…” teriak Chanmi dan dengan sekejap dia makan dengan lahap. Aku hanya bisa melihatnya, tragis. Aku sengaja menambahkan banyak makanan yang lain, aku kasihan padanya. Tapi aku juga lumayan merinding. Menemani hantu makan di kuburannya, serammm…

“Chanmi…”

“hem?”

“nanti saja, kalau kau sudah selesai makan…”

“kenapa? Katakan saja”

“boleh aku bertanya?”

“boleh…”

“kenapa kau bisa meninggal? Kecelakaan?”

“…” dia berhenti makan, aduh, apa yang kulakukan? Bagaimana kalau dia menangis, aku sudah trauma mendengar perempuan menangis, apalagi ini hantu perempuan yang menangis.

“tunggu sebentar…” dia lalu makan dengan cepat hingga habis semua.

“aku meninggal karena kecelakaan”

“kenapa?”

“karena kecelakaan, pabo!”

“bukan! Maksudku kecelakaannya kenapa, pabo!”

“hehehe, karena aku tidak mendengar suara klakson mobil…”

“jinja? Apa kau pakai headphone?”

“tidak…”

“jadi?”

“aku tuli…”

“hahaha… yang benar saja… kau ini terlalu lu…” aku tertawa tapi berhenti mendadak begitu melihat wajahnya yang sangat serius. Seram, tapi cantik! Hehehe.

“aku tuli dan bisu sejak kecil…”

“tapi kenapa kau bisa…”

“aku kan bukan manusia! Aku hantu tau! Hantu! Aku kembali seperti manusia yang sempurna… yah bentuk apapun yang aku inginkan juga bisa sih!”

“kau bisa jadi monster?”

“bisa? Mau lihat?”

“ani ani… terlalu menakutkan”

“hahaha….” Chanmi tertawa lagi, setelah itu ia meminum air putih lalu menyiramnya dia pusaran makamnya. Wah mengerikan juga ya. Aku lalu melihat nama yang ada di pusaran itu. “CHOI EUNSOL”

“itu… apa kau bukan Chanmi? Namamu Eunsol?” tanyaku.

“iya, aku hanya ingin memakai nama ini saja!”

“oh…” aku dan dia lalu terdiam melihat batu nisan itu.

“apa yang kau rasakan?” tanyaku lagi.

“sakit. Aku tidak ingin berpisah dari orang yang kusayangi, tapi mau bagaimana. Semua orang pasti meninggal kan? Aku lebih dulu dari mereka. Aku tidak sanggup rasanya…”

“…”

“aku tidak suka ketika mereka menangisi kepergianku. Aku sangat kesakitan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur mereka…”

“…”

“Tapi Key, aku berterimakasih padamu sudah mau membantuku…”

“gwenchana…”

“…”

“kenapa memilihku?”

“aku akan menjawab pertanyaan itu begitu kita berpisah, Key” jawabnya, kata perpisahan itu membuatku menjadi merasa aneh. Entahlah rasanya dadaku sakit.

“aku boleh minta satu permintaanku lagi?”

“apa?”

“aku ingin menjadi sahabat yang terbaik bagimu…”

“tentu saja!” Chanmi tersenyum cerah. kali ini, aku tidak melarangnya. Biarkan dia mencerahkan dunia ini.

…………………….

— TO BE CONTINUED —

……………………