Cherry Blossom Ending (Part 2)

fx amber sulli eithtoo bts photos (22)_¸±±¾_¸±±¾

author : Yesunggyu – Amalia Laili

Genre : Friendship, Romance, Humor

Length : continue

cast : Key, Sulli (Eunsol a.k.a Chanmi), Minho, IU (Lee Jieun)

ah, mianhae, semua… kemarin ngepost dengan terburu-buru. jadinya gak maksimal. Ada yang menyadari kekurangan diriku yang mendominasi seluruh muka bumi ini? Ya, aku payah dalam edit foto. emang gak ada nyambung-nyambungnya sama tu FF. tapi kan kalau tampilan bagus, yang baca juga senang. hehehe…. aku paling gak banget dalam edit foto. beda sama 2 author yang lain yang lumayan bagus. aku sih gak bagus banget. standarrrr… apalagi yang kemaren ituh. Hem… paling standar deh pokok e. ah, sudah lah langsung aja dibaca, ne!

……………………………..

Besoknya,

Chanmi mempunyai seorang sahabat, namanya Jieun. Dia satu SMA dengan Chanmi. Kelas 3, wah seangkatan denganku rupanya.

“aku ingin mengirimkan surat padanya…”

“baik…”

“tapi itu tidak seru, sudah biasa!”

“jadi?”

“aku ingin memainkan piano untuknya!”

“kau gila! Kau itu kan tuli bagaimana bisa kau mengetahui tentang music?”

“tidak. Hantu tidak ada yang gila! Bantu aku! Aku pernah diajari olehnya beberapa not. Aku hapal”

“aku tidak mengert…”

“aku tuliskan notnya! Kau yang mainkan!”

“ah, baiklah…”

“tidak! Itu sama saja bukan dari aku!”

“jadi?”

“aku akan masuk ke badanmu!”

Anak itu sinting! Sinting! Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku sekarang berada didepan gerbang SMA Jieun. Aku lalu mendapat tanda dari Chanmi. Dia menunjuk seorang perempuan yang mengikat rambut satu.

“Lee Jieun?” tanyaku pada perempuan itu.

“iya, ada apa?” tanyanya juga.

“namaku Kim Kibum. Panggil saja Key. Bisa aku mengganggumu sebentar?”

“sebenarnya mengganggu tidak boleh sih. Tapi ada apa?”

“kau teman Choi Eunsol kan?”

“iya, tapi dia sudah meninggal 5 hari yang lalu…” Jieun menunduk sedih.

“dia ada disampingmu!” ujarku spontan.

“apa? Kau…”

“aku bisa melihatnya, dia minta tolong padamu!” ujarku.

“jinjayo?” matanya tampak berbinar-binar.

“nde!” anggukku.

 

PLAK

“Uwahhh… apa yang kau lakukan padaku?” Jieun menamparku.

“heh, kau pikir aku akan tertipu? Aku pergi dulu…” Jieun lalu pergi meninggalkanku. Chanmi langsung membisikkan sesuatu padamu.

“IU MARSHMALLOW!” Teriakku, sesuai dengan permintaan Chanmi. Berhasil, Jieun berhenti. Dia lalu berbalik.

“benar kan? Kau sudah percaya?” tanyaku pada Jieun, tapi dia tetap diam tidak percaya.

“kau ingat saat Eunsol ulang tahun? Kau membelikan dia jeruk?”

“…”

“lalu… saat Eunsol diejek teman-teman, kau selalu melindungi Eunsol…”

“…”

“kau pernah memberikan Eunsol hadiah buku diary berwarna merah jambu dengan tebalnya 800 halaman yang belum selesai dia tulis karena buku itu terlalu tebal…”

“…”

“nah! Eunsol yang memberikanmu ikat rambut itu. ikat rambut itu sangat cocok padamu seperti boneka…”

“…”

“Jieun, aku benar-benar mendengar Eunsol…”

“Eunsol…” Jieun tampaknya sedikit terguncang. Terlihat airmata yang ada di pelupuk matanya. “dimana dia?”

“disamping kananmu sekarang dia menatapmu…” jawabku.

“aku… aku merindukanmu Eunsol…” Jieun menangis, aku melihat Chanmi a.k.a Eunsol juga menangis. Seandainya Jieun bisa melihat Chanmi, mungkin suara Chanmi dikalahkan oleh Jieun. Chanmi menangis hingga sesegukan.

“dia ingin memainkan piano yang notnya kau ajarkan padanya…”

…………………….

“…”

Tubuhku digunakan oleh Chanmi. Aku hanya mengikuti gerakan yang diinginkan Chanmi. Hingga saat terakhir, Jieun hanya bisa terdiam sambil sesekali menyeka air matanya.

“Jieun-ah… terimakasih sudah mau bersahabat dengan seseorang yang tuli dan bisu sepertiku. Aku sangat berterimakasih. Dan juga, karena hari ini adalah hari ulang tahunmu, aku ucapkan selamat ulang tahun Jieun! Seandainya aku bisa memainkan nada itu, tapi aku kan tidak bisa mendengar… sungguh terimakasih Jieun, aku sangat senang. Jaga dirimu baik-baik. Aku menyayangimu.”

Chanmi lalu keluar dari tubuhku begitu selesai bicara. Dia langsung menangis, aku juga melihat Jieun menangis.

“Kibum, maaf… seharusnya aku percaya padamu…”

“hem? Tidak apa-apa aku juga pasti tidak percaya pada orang asing…”

“bukan… aku sudah mengenalmu sejak lama…” kata-kata itu membuatku kaget, begitu juga dengan Chanmi.

“apa alasan Eunsol meminta bantuan padamu?” tanya Jieun.

“dia belum mengatakannya padaku…” jawabku sambil menggeleng.

“Eunsol, perlukah aku mengatakannya pada orang ini?” tanya Jieun pada Chanmi, aku melihat Chanmi menggelengkan kepala.

“dia bilang tidak…” jawabku.

“heh, bahkan dalam keadaan dekat begini kau tetap saja diam… apa itu tidak menyakitkan Eunsol?”

“diam, Jieun…” ujar Chanmi.

“dia bilang kau sebaiknya diam…” ujarku, aku tidak mengerti apa yang dikatakan mereka.

“tidak, aku harus mengatakannya Eunsol. Aku tidak tahan kalau keadaannya begini…” Jieun menyeka air matanya lalu dia berdiri.

“choayo…”

………………………

“choayo…” ucap Jieun yang membuat jantungku berhenti sejenak.

“JIEUN!” Teriak Chanmi sia-sia, karena Jieun pasti tidak mendengarnya.

“Eunsol menyukaimu!” tambah Jieun. Kali ini aku benar-benar kaget, reflex aku melihat Chanmi yang menegang.

“DIAM JIEUN!”

“dia menyuruhmu diam, Jieun…” ujarku dengan pelan.

“tidak! Aku sungguh kasihan padamu Eunsol. Bahkan kau tidak berani mengatakannya….”

…………………..

Malam itu, aku berada didalam kamar bersama Chanmi. Dia duduk di kursiku, sedang aku duduk di ranjangku. Kami berdua hanya diam. Aku tidak seperti ini. Ada yang ingin kukatakan padanya, tapi aku tidak tahu apa. Mendengar Jieun bercerita padaku sore tadi membuatku bingung harus berkata apa. Bahkan Chanmi tidak mengatakan apapun. Apa mereka bertengkar? Tapi tidak. Chanmi tidak marah pada Jieun. Jieun juga tidak. Ah, aku tidak tahu. Dan tentang Chanmi menyukaiku… arghhh aku bisa gila!!!

“Chanmi… kau punya 2 hari tersisa kan? Apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku memecah keheningan.

“tidak tahu. Aku bingung…” jawabnya “boleh aku minta tolong lagi?”

“boleh…”

“tolong kirim pesan pada Jieun. Aku minta maaf…”

“baik…”

 

TRTT…

Baru saja aku mau mengirim pesan, sudah ada pesan masuk kehandphone ku. Siapa ini?

Katakan pada Eunsol, aku minta maaf…

Dari Jieun. Jangan tanya padaku darimana aku dapat nomormu, tanya pada Eunsol saja…

 

“dari Jieun, dia bilang minta maaf. Darimana dia dapat nomor hapeku?” tanyaku heran pada Chanmi yang membuatnya tertegun sambil aku membalas sms dari Jieun dengan “Chanmi juga minta maaf”

“ehm… itu…” Chanmi hanya melihat kebawah.

“kau juga mendapatkan nomor hapeku?!!!” aku kaget. Cuma menerka-nerka saja sih tapi aku tidak menyangka kalau ia mengangguk.

“huahhhh… aigooo ternyataaa… apa saja yang kau ketahui tentangku?” aku segera berdiri tegang.

“ehmm…” kepala Chanmi makin dalam menunduk. Membuat wajahku memerah, seberapa banyak yang diketahui gadis (hantu) ini tentangku? Aku menutup mulutku.

“bukankah kau itu bisu dan tuli bagaimana kau tahu…”

“dari Minho… aku katakan padanya… aku tidak minta… dia yang cari sendiri…” jawabnya dengan terbata-bata.

“omona! Ini…” aku lalu tertawa dengan terbahak-bahak. Ini keren.

“jangan tertawa begitu!” sepertinya Chanmi sangat malu.

“baiklah Chanmi! Aku mau mengambil permintaanku yang kedua!”

“apa? Yang waktu itu sudah yang kedua!”

“yang mana?”

“saat kau minta untuk menjadi sahabatmu… pertama kau menyuruhku untuk tidak tersenyum…”

“oh iya!” aku menepuk jidatku “tapi, kau tidak menepatinya kan! Kau terus saja tersenyum. Berarti yang pertama batal!”

“mana bisa…”

“bisa…”

“ehm…” Chanmi mulai berpikir dan aku mulai menggigit kuku jariku. “baiklah!”

“Nah! karena besok adalah hari terakhirmu… karena itu… ayo kesini… aku bisikkan sesuatu…”

“…”

“apakah bisa?” tanya Chanmi heran begitu aku selesai membisikinya.

“bisa dong! Kau tenang saja… besok sore yaa!”

Setelah itu, aku pun segera tidur.

………………………

Aku menunggu Chanmi di pintu gerbang pemakaman umum. Masa’ aku menunggu seorang gadis di pemakaman umum? Hehehe… aku membawakan baju sepupuku yang tidak dipakainya lagi tapi masih bagus untuk dipakai Chanmi. Aku persembahkan dulu di pemakamannya. Wah, hebat ya! Aku baru tahu itu dari Chanmi.

“Key, aku malu menggunakan baju ini…” ujarnya sambil menepuk bahu kananku. Aku lalu melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Cantik seperti biasanya.

“tidak apa-apa. Tidak ada yang bisa melihatmu kecuali aku kan?”

“ehm… iya sih… tapi…”

“kau sudah makan kan?”

“sudah… tapi Key, aku…”

“baguslah. Aku tahu kalau kau tidak bisa makan kalau tidak kukasih kekuburanmu dulu… ayo kita pergi!” Aku segera melangkahkan kakiku.

“tidak apa-apa nih Key?”

“iya! Ayo pergi… kita jalan-jalan sebelum kau pergi…”

………………………

Aku ingin, untuk hari ini saja, bisa bersenang-senang dengan Chanmi. Aku mana bisa membiarkan seorang gadis yang tidak bisa pergi kea lam sana sedangkan dia belum menyatakan cintanya padaku. Tidak bisa itu. aku ini kan namja keren yang tidak bisa ditolak siapapun.

Kami pergi ketaman kota. Sepertinya Chanmi sangat senang. Aku berapa kali sudah ditegur oleh orang-orang. Karena bicara sendiri, teriak sendiri, ketawa sendiri. Ah, orang-orang itu sibuk sekali! Whatever lah. Whatever they say, whatever I do! Hahaha… bahasa siapa itu?

Aku dan Chanmi lalu duduk dibangku taman. Aku sengaja melebarkan tanganku agar tidak ada yang duduk didekatku.

“Key…”

“ada apa?”

“kenapa kita jalan-jalan?”

“karena besok adalah hari terakhirmu. Memangnya, apalagi yang kau ingin lakukan?”

“tidak ada…”

“bagus…” anggukku.

“kenapa kau menyukaiku?” tanyaku memberanikan diri. Aku penasaran.

“kau ingat tidak saat tasku diambil pencuri? Kau yang membawanya kembali padaku. Dan juga, ada banyak hal dimana kau membantuku…”

“benarkah? Aku bahkan lupa pernah bertemu denganmu…”

“tak masalah… lagipula, besok juga pasti kau ingat…”

“besok… kapan kau akan pergi?”

“tidak tahu…”

……………………..

Paginya, aku melirik kearah jam dindingku. Sudah jam 6 pagi. Aku lalu menoleh kesampingku, tempat biasanya Chanmi tidur. Lagipula dia kan hantu. Tidak masalah kan?

“CHANMI!”

Dimana anak itu? aku langsung bangkit dari tempat tidur dan mengedarkan pandanganku. Dimana dia? Apa dia sudah pergi? Cepat sekali. Dia belum berpamitan denganku!

“CHANMI!”

“CHANMI!”

“Key! Jangan ribut! Ayo cepat turun! Sarapan!” ibuku berteriak kepadaku. Tapi aku tidak perduli, dimana Chanmi? Lagipula, aku belum mau sekolah.

“CHANMI!”

“HOI! CHANMI PAB…”

 

Bukk..

“Au…” aku mengelus kepalaku. Aku lalu berbalik melihat ibuku yang melempar bantal padaku. Dia lalu menggelengkan kepala.

“kau ini… kalau tidak ada kerjaan, jangan teriak-teriak. Mandilah!” dia lalu berbalik, aku melihat sesuatu dibelakangnya. CHANMI!

“Kau…” aku rasanya ingin marah, aku menunjukknya dengan telunjuk kananku. Dia hanya tersenyum sambil menutup telinganya.

“kau darimana saja?” tanyaku sambil berbisik.

“tadi malam aku tidur diluar… tapi tidak bisa masuk…” jawabnya.

“alasan yang aneh… tapi baiklah. Tidak apa!” jawabku sambil memijat kepalaku “kupikir kau pergi kemana… aku mau mandi dulu. Jangan pergi kemana-mana…”

Dia lalu duduk diranjangku sedangkan aku pergi kekamar mandi. Bagaimana mungkin aku khawatir padanya?

………………………..

“wah… rasanya segar sekali… Chanmi pasti tidak enak yah tidak mandi selama semingg…” aku baru keluar dari kamar mandi. Tapi sekali lagi aku tidak melihat Chanmi.

“Chanmi?” kali ini aku melunakkan suaraku. Dimana lagi dia?

“Chanmi?”

“Kibum! Aku dibawah…” aku mendengar suara teriakkannya. Aku lalu melihat ke luar jendelaku. Dibawah pohon itu, dia berdiri sambil melambaikan tangannya padaku. Bukan, dia bukan Chanmi. Dia gadis yang sering aku temui. Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Dengan cepat aku berlari keluar menghampirinya.

“…”

“kau…”

“kau sudah ingat padaku?” tanyanya sambil tersenyum. Gadis yang selama ini melihat kearah pohon sakura kami.

“aku… tapi mana mungkin…sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Jangan berubah sembarangan, Chanmi!”

“memang itu aku! Sejak kapan kau tidak bertemu dengannya? Seminggu yang lalu kan? Itu aku!” jawab Chanmi sambil tersenyum. Tidak, dia pasti bohong, kan?

“ingat kan?” tanyanya lagi, dia lalu menengok keatas. “sebelum pergi aku mau melihat ini dulu…”

“Chanmi… Choi Eunsol… apa yang kau lihat disana?”

“itu…” Chanmi lalu menunjuk keatas. “bunganya tampak indah dari sini.”

Aku lalu melihat keatas. Memang indah. Itu adalah bunga sakura, tapi bukan hanya itu. aku menaruh pot bunga yang bergantungan diranting pohon itu, sehingga terlihat banyak warna.

“aku tidak suka Sakura… tapi kau membuatku menyukainya…” ujarnya sambil tetap melihat kepohon sakura. “aku menyukai mawar, karena itu nama yang kupilih Chanmi… ingat mawar itu kan?”

“…” aku mengangguk melihat mawar yang ditunjuknya, mawar berwarna kuning.

“sebenarnya aku ingin membeli bunga itu, tapi kau lebih dulu mengambilnya, aku malu untuk mengatakannya, karena aku kan bisu… hahaha… tapi tak apa, aku bisa sering-sering melihatnya disini…” dia lalu tertawa kecil. Sinar matahari mulai menyentuh kulitku, aku lalu melihat Chanmi.

“Chanmi…” ujarku sambil mencoba menyentuhnya. Tidak bisa. Cahaya matahari itu menyamarkan keberadaannya.

“sepertinya aku harus pergi. Sepagi ini? Aku bahkan belum puas melihat bunga…” dia mendesah pelan sambil menunduk. “tapi tak apa kan?” dia mengangkat wajahnya dan tersenyum lagi.

“tidak…” aku menggeleng pelan. “aku baru saja mengenalmu…”

“aku tidak tahu. Mau bagaimana lagi…” dia mengangkat bahunya.

“aku belum menyebutkan permintaan terakhirku…”

“baiklah… apa?”

“jangan pergi…”

“hehehe… tidak bisa, Key” dia tersenyum lagi. Melihatnya tersenyum membuat mataku terasa panas, dan dadaku terasa sakit. Kenapa?

“kau bilang apa saja… kenapa yang terakhir ini tidak bisa?”

“maaf Key” dia menunduk.

“kau pasti bisa tinggal beberapa lama lagi kan?”

“tidak…” dia mengangkat

“Eunsol…” aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya, ini membuatku kesal. Bahuku menegang. Rasanya aku sangat marah. Tapi bukan pada Chanmi. Aku marah pada diriku sendiri, entah kenapa.

“aku pergi ya…” Ujar Chanmi sambil tersenyum. Perlahan tapi pasti tubuhnya mulai menghilang tersentuh sinar matahari.

“satu permintaan dariku… satu saja!” ujarku dengan suara yang mulai serak.

“apa? Tapi aku tidak yakin bisa mengabulkannya…”

“maafkan aku… aku seharusnya…”

“kau tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang perlu dimaafkan…”

“tapi…”

“…”

“CHANMI!”

“…”

“CHANMI!”

Dia benar-benar sudah hilang. Dia sudah pergi.

“CHANMI…. MIANHAEEEE…!!!”

Aku berteriak hingga suaraku benar-benar serak. Pipiku memanas, aku merasakan air mengalir di pipiku dari pelupuk mataku.

“KIM KIBUM! Sudah berapa kali kau menyebut nama orang itu? apa masalahmu? Ayo cepat masuk diluar sangat dingin.” Suara ibu yang berteriak dibelakangku serasa sangat jauh.

“…”

“Key…” ibu menepuk bahuku. Aku lalu berbalik.

“ibu…” aku menangis dihadapan ibuku untuk yang pertama kalinya sejak masa pubertas.

“kenapa menangis?” ibuku kebingungan.

“ibu… Aku laki-laki yang jahat…” ujarku sambil menangis. “aku membiarkan seorang perempuan kesusahan… aku aku…”

“sudah… jangan menangis, o?” ibu lalu memelukku.

“ibu maafkan aku…”

“kau ini bicara apa sih… sudah… jangan nangis…”

“ibu…” aku malah menangis dipelukkan ibuku.

…………………….

— To Be Continue —

………………..

Nah, gambarnya sudah lumayan kan. Lumayan jelek. huhuhu… pokoknya komen yah…!!! kekekeke

2 responses to “Cherry Blossom Ending (Part 2)

Komentar ditutup.