NNY : Sound of Rain (Uee’s Ver.)

Noona Neomu Yeppo New Version :

Sound of Rain (Uee’s Ver.)

cats 22

Author :           Yesunggyu – Amalia Laili

Length :           One Shoot – Sequel

Genre   :           Sad

Cast     :           Uee (After School), Joo Won, dll

………………….

Hujan rintik membasahi jendela kamar Uee, dia sedang duduk di ranjangnya sambil melihat ke jendela. Pikirannya menerawang. Ia mengingat Kahi. Masih tidak percaya. Seperti 2 hari yang lalu. Ia masih tidak percaya. Kahi sudah pergi untuk selamanya. Dia lalu memejamkan mata sejenak. Dalam sekejam muncul sekelebat pikiran yang menghantuinya selama beberapa tahun yang lalu.

“kau tidak mau ikut?”

“tidak…”

“beneran gak nyesal nih?”

“… ani oppa… aku tinggal disini saja…”

“kalau kau tinggal, kau nanti sendirian loh!”

“gwenchana…”

……………………

Besoknya, Uee meneguhkan hati untuk pergi kerja. Kalau gak, yah mau bagaimana. Gajinya bisa-bisa dipotong, meski CEO BEnt adalah BoA yang tak lain adalah temannya, tetap saja dia harus professional kan? Apalagi dia adalah seorang stylist. Dia membuka pintu ruangannya.

“annyeong haseyo, Uee-ssi…” sapa Bekah yang sudah berada diruangannya, Bekah berusaha tersenyum. Dia tahu, pasti Uee yang paling terpukul atas kejadian yang menimpa Kahi 3 hari yang lalu. Kahi adalah sahabat akrab Uee. Dan selain itu juga…

“Annyeong haseyo, bukankah kau bilang akan ke Amerika? Ternyata masih disini…” jawab Uee sambil menaruh tas tangannya ke kursinya.

“aku mau pamit dulu sama kamu…” jawab Bekah sambil mengulurkan tangan kanannya pada Uee. Uee menatap Bekah dengan heran.

“wae? Tidak boleh?”

“hmm… aneh…”

“Uee, aku kasihan padamu, kau baik-baik saja kan? Lagipula kan masih ada kami… kita semua tidak ingin ini terjadi…”

“arata…”

“selain itu juga, aku sebenarnya tidak mau meninggalkanmu sendirian di Korea… meskipun aku tau masih ada BoA, Jooyeon, dan JungAh. Tapi gimana ya… kau kan sudah seperti saudaraku…”

“kau berlebihan, tidak apa-apa kok. pergilah…”

“oke… jaga dirimu, sayaaaangg…” Bekah lalu memeluk Uee lalu segera pergi sambil melambaikan tangan.

“….”

“….”

Uee melihat ada amplop di atas mejanya. Dia lalu mengambilnya dan membuka amplop tersebut. Berisi tentang surat tugas *?*.

 

“Permisiii…”

Suara seseorang mengagetkan Uee, ia segera berbalik dan melihat seorang yeoja berdiri, di belakangnya juga ada namja berdiri dengan tampang yang lumayan kayaknya tuh.

“annyeong haseyo…” yeoja itu memberi salam, Uee membalas dengan anggukan.

“dia adalah Joowon, actor yang baru saja debut. Jadi anda akan menjadi stylistnya. Kami dengar anda dalam keadaan berkabung, jadi kami rasa sebaiknya kami yang ke tempat anda….”

“oh, jinja? Hmm.. mianhae… aku sudah tidak apa-apa, kalau begitu… kita sambil jalan saja…”

…………………

FLASHBACK ON

Uee adalah mahasiswi di Universitas Korea fakultas kesenian. Hari ini adalah hari bahagianya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dia diwisuda bersama beberapa teman lainnya. Dan juga today adalah hari dimana ia akan dilamar oleh namjanya!!! Kyaa author ikut bahagiaaa…

Uee berdiri dibawah pohon yang cukup rindang, ia menunggu pangerannya, Jaejoon. Dia menatap kelangit. Sebenarnya hal itu adalah rahasia, tapi dia secara tidak sengaja mengetahuinya dari Bekah, yang juga adalah teman dekat Jaejoon. Dia lalu melihat kekejauhan. Tampak Jaejoon berlari dengan masih mengenakan baju wisuda ke arahnya.

“UEE…” Teriak Jaejoon padanya.

“ada apa?” tanya Uee berpura-pura tidak tahu.

“hosh hosh… apa kau tau? Aku mencarimu kemana-mana…”

“tidak tahu…” geleng Uee. “memangnya ada apa?”

“hmm…” Jaejoon mengatur napasnya dan berusaha berdiri dengan tegak. “aku…”

“kalau tidak ada yang mau kau katakan sih, aku akan pergi…” Uee lalu berbalik.

“hei, aku bahkan belum bicara…” ujar Jaejoon sambil meraih tangan kiri Uee, dengan sigap ia memberikan sesuatu di telapak tangan kiri Uee.

“apa ini?” tanya Uee sambil membuka genggaman tangannya. Ada kalung berwarna emas, bandulnya berbentuk seperti symbol salju dengan 7 warna pelangi.

“itu…….”

 

FLASHBACK OFF

…………………………

“Yak, miring kekanan… bagus sekali… nah… dan…”

Pengarah gaya hari ini membuat Uee bosan, dia berbicara terus. Setidaknya berikan Uee kesempatan untuk melihat kemampuan artisnya. Bisa tidak memberikan Joowon kebebasan untuk berekspresi? Joowon tampak biasa saja, dia sepertinya sudah terbiasa dengan hal ini. Hari ini adalah pemotretan poster promo dramanya.

“YAK! ISTIRAHAT! GOMAPSUMNIDA!” teriak sang fotographer, dan semua orang pun menunduk hormat. Uee lalu berbalik pergi.

“ehh… noonaaa… mau kemana!” seseorang meraih bahunya, ia lalu menoleh kekanan.

“Joowon, istirahatlah, kata managermu, nanti sore kau akan ada jadwal lagi…” jawab Uee dengan ekspresi datar.

“ah, noona… kenapa malah wajahmu yang terlihat lebih capek daripada aku?” Joowon mengerutkan keningnya. “apa ada makanan? Minuman?” dia lalu celingak-celinguk.

“entah, tanya managermu, dan ganti bajumu sana!”

“temani aku”

“kau gila”

“kau kan stylistku”

“aku tunggu diluar”

…………………….

“CAMERA…ROLLING….AND …ACTION!”

“…”

“…”

Joowon menghampiri sang aktris yang menunggu di bawah pohon. Mereka lalu bercakap-cakap sesuai naskah. Lalu Joowon memberikannya sesuatu. Si aktris berpura-pura (sesuai naskah) tidak menerima pemberian Joowon. Lalu Joowon bertanya kenapa, lalu mereka berbicara lagi dan membuat Joowon tersenyum. Joowon pun memeluk si aktris. Uee yang menonton dari kejauhan hanya terdiam, sepertinya ia pernah melihat kejadian itu.

“CUT!”

“Baiklah… kita ambil dari sisi dekat… ayo Joowon, tetap disana…” arah sutradara, yang membuat Joowon menghela napas.

“huft… iya iya…” Dasar manja, ujar Uee dalam hati.

“siapa yang kulihat?” tanya Joowon lagi begitu sampai di tempat yang tadi. Kali ini syuting close-up wajahnya. Dia membutuhkan patokan.

“Jungmin, kau bisa kemari?” tanya Sutradara itu.

“maaf, kepalaku agak pusing, bisa aku minum obat sebentar?” tanya Jungmin, si aktris, wajahnya memang agak pucat sih.

“lihat kepalan tanganku saja…” ujar salah satu staf.

“tidak asli…” geleng Joowon. “ah, noona! Kau bisa tidak gantikan Jungmin sebentar?” teriak Joowon pada Uee. Uee kaget dibuatnya, dia lalu menengok ke yang lain.

“aku? Baiklah…” Uee berjalan menuju lokasi.

“YAK!! CUE!”

“YEOLLI…” Teriak Joowon sambil berlari kecil padanya.

“…”

“hosh hosh… apa kau tau? Aku mencarimu kemana-mana…”

“…”

“hmm…” Joowon mengatur napasnya dan berusaha berdiri dengan tegak. “aku…”

“…”

“hei, aku bahkan belum bicara…” ujar Joowon sambil meraih tangan kiri Uee, dengan sigap ia memberikan sesuatu di telapak tangan kiri Uee. Sebuah kalung dengan bandul tetesan air dengan warna pelangi. Uee diam sejenak, sepertinya ia pernah mengalami hal ini. Déjà vu? Dia lalu menatap Joowon lagi. Untung saja yang syuting hanya wajah Joowon.

“…”

“itu…….karena ini adalah hari yang indah, aku ingin memberikan itu padamu. Dan hemm…”

“…” hati Uee tiba-tiba berdetak keras.

“kita sudah bersama selama 3 tahun. Aku ingin ini selamanya. Karena itu, kau mau tidak menjadi istriku?”

“….” Air mata Uee hampir jatuh. Tapi Uee sempat menahannya. Kata-kata itu seperti…

“apa maksudmu kau tidak mau?”

“…” Uee bergeleng pelan sambil menahan perasaannya.

“hahaha…” Joowon tertawa kecil “kau tahu cara membuatku tertawa…” dia lalu memeluk Uee.

“CUT! Istirahat dulu 15 menit!”

“Tidak perlu kau peluk juga kan?” ujar staff pada Joowon.

“hehehe…” Joowon terkekeh sambil melepaskan pelukannya pada Uee, ia lalu melihat Uee yang mematung. Ada bekas airmatanya. “astaga! Noona, kau baik-baik saja?” tanyanya.

“heh?” Uee berhasil bangun dari lamunannya “nde, aku baik-baik saja kok…” dia lalu menghapus bekas airmatanya dengan punggung tangannya. Lalu berbalik pergi. Joowon mengikuti dari belakang.

“Noona, kenapa?” tanyanya.

“ani…”

“noona…”

“aku bilang tidak apa-apa”

“apa noona mengingat pacar noona?”

“…” Uee langsung menghentikan langkahnya. Joowon segera mengambil langkah kedepan.

“aku benar kan! Wah aktingku makin baik!”

“ya…” Uee kembali berjalan.

……………………….

Kali ini mereka pergi kepantai. Sebenarnya Uee tidak begitu suka pantai. Apalagi rame begini. Dia tidak begitu suka banyak orang sih. Tapi dia harus professional kan? Makanya dia tetap ikut kesana tapi berdiam dalam mobil. Dia kan hanya mengatur riasan Joowon dan pakaian yang dikenakannya untuk syuting. Selebihnya, biarlah ia didalam mobil seorang diri tanpa ada yang menemani. Itu lebih baik. Saat ini dia sedang mendengarkan lagu sambil melihat dari kaca mobilnya, proses syuting. Membuatnya sakit kepala, ia pun memejamkan mata.

 

TOK TOK TOK…

Seseorang mengetuk kaca mobil. Dia lalu membuka mata, dan terbelalak kaget. Joowon tersenyum dihadapannya, meskipun terhalang pintu. Dia lalu membuka kaca jendela.

“ada apa?” tanyanya.

“ayo keluar. Waktunya istirahat. Main yuk!”

“tidak.”

“kenapa? Kau ini kaku sekali. Nanti kau cepat tua! Ayo!” Joowon membuka pintu mobil dan menarik tangan Uee. Uee bergegas melepas earphone dan mp3player nya.

Mereka lalu pergi ke tepi laut dan bermain air. Uee menolak berkali-kali untuk bermain, tapi Joowon terus menyiraminya. Air laut yang asin itu masuk ke mata Uee. Mata Uee perih bukan main. Dia menutup wajahnya. Joowon lalu mendekatinya untuk meminta maaf. Begitu ia dekat, Uee langsung membalas menyiram air ke wajahnya.

“hahaha!” Uee tertawa dengan baik sementara Joowon mengusap wajahnya yang basah. Dia lalu terdiam melihat Uee yang tertawa.

“kenapa?” tanya Uee.

“ah, tidak…” dia lalu kembali menyiram Uee.

……………………….

Malamnya, selesai syuting jam 12.00 malam, Uee terlihat mondar-mandir di pinggir laut. Joowon yang selesai mengganti bajunya segera menghampiri Uee.

“ada apa?” tanyanya pada Uee. Begitu Uee berbalik dia tampak kaget mendapati wajah Uee. Uee baru saja menangis. Matanya sembab.

“kenapa?”

“kalungku hilang…”

“kalung? Yang seperti apa?”

“kalungku hilang…”

“iya, aku tau… seperti apa kalungnya?”

“bagaimana ini? Apa dia sudah dibawa ombak?”

“tenangkan dirimu dulu… sepeti apa bentuknya?”

“kalungku… bandulnya berbentuk seperti symbol salju warna warni…”

“kalau begitu ayo kita cari…”

“aku sudah cari dari tadi sore… tidak ketemu…”

“jangan menyerah dulu…” Joowon lalu segera berlari sambil menarik tangan Uee menuju penginapan.

“apa yang…”

“aku saja yang cari, noona tunggu disini…” tihtah Joowon, dia lalu mengambil senter yang ada disampingnya.

…………………………….

Beberapa jam kemudian, Uee yang cemas segera pergi kepantai dan melihat keadaan Joowon. Baru saja ia membuka pintu tiba-tiba Joowon masuk dengan badan yang basah kuyup.

“omona!” Uee segera menarik badan Joowon. Joowon lalu diserahkan pada yang berwajib eh pada managernya.

“Joowon, kenapa sampai basah begini? Ayo masuk…” sang manajer juga tampak sibuk-sibuk-ria. Sementara Uee melihat dari jauh, Joowon masuk kekamarnya bersama si manajer.

“huft… kenapa mesti memaksakan diri begitu sih?”

……

……

……

KRAKK…

Joowon keluar setelah selesai gedubrakan dengan manajernya. Dia keluar dengan wajah yang agak murung. Uee heran melihatnya.

“ada apa?” tanya Uee.

“tidak ketemu. Maaf ya…”

“sudahlah… kau baik-baik saja kan?”

“nde…”

“yang penting kau baik-baik saja… itu kan hanya kalung…”

………………………………..

UEE POV

Beberapa hari kemudian,

Aku dan Joowon mulai akrab sebagai partner, aku orang yang hatinya mudah merasa berterimakasih. Tidak tahu kenapa aku merasa berterimakasih kepada Joowon. Hatiku terlalu lemah dengan kebaikan Joowon. Aku memang lemah dalam kebaikan.

FLASHBACK ON

Aku menunggu Jaejoon di kantin. Dia ada kelas hari ini, lama sekali. Biasanya jam 3 sudah selesai, tapi ini sudah jam 5 sore. 2 jam aku menunggu! Sambil menunggunya aku membaca buku.

“uwah!” seseorang menutup kedua mataku dengan tangannya. Aku memegang tangan orang itu. Sepertinya kau mengenal tangannya. “Jaejoon?”

“ah… kau tahu ya?” Orang itu melepaskan tangannya dari wajahku lalu duduk disampingku. “sudah menunggu lama?”

“tentu saja aku tahu, dan tentu saja lama!” jawabku pura-pura kesal.

“jinja? Mianhae…” ujarnya sambil menyatukan kedua tangan memohon maaf.

“nde… kau sudah makan? Aku membawa bekal…”

“kau tahu ya kalau aku lapar?” dia lalu melihat isi bekalku setelah aku membukanya.

“ini, aku membuat telur dadar manis, kau tidak suka asin kan? Jadi aku buat yang asin untukku dan yang manis untukmu…” ujarku lalu menjelaskan menu yang lain padanya.

“wah, kau tahu ya?” Jaejoon tersenyum lebar sambil menyiapkan sumpit yang sudah ada ditangan kanannya.

“dari tadi kau bilang itu terus….”

“mau bagaimana lagi, yeojachinguku ini sangat perhatian!” jawabnya sambil tersenyum dan mulai makan. “kau tidak makan? Atau kusuap dulu?”

“ah, tidak usah. Aku juga mau makan…”

FLASHBACK OFF

Aku duduk diruang tunggu sambil menonton acara music yang dipandu Joowon. Padahal masih artis baru tapi sudah ditawari menjadi MC, dia beruntung!

“uwah!” aku sedang membaca buku, dan siapa yang menutup mataku? Aku segera melepas tangan orang itu.

“ish… Noona, kau kasar sekali!” ternyata Joowon, dia lalu dudu disampingku.

“kau sudah selesai?” tanyaku namun aku melanjutkan bacaanku.

“sudah, tapi nanti ada lagi… aku mau istirahat…” dia lalu bersandar dikursi. “ah, aku lapar… Noona bawa makanan?”

“tidak, aku sudah makan…”

“Noona… aku tanya apa noona bawa makanan, bukan apa noona sudah makan!” tegasnya.

“karena aku sudah makan, makanya aku tidak bawa makanan!” jawabku, rasanya ingin memukul saja.

“ohh…” dia mengangguk. Tiba-tiba masuk manajer Joowon sambil membawa kotak makanan. “wah! Itu untukku?”

“tentu…” manajer lalu memberikan kotak makanan itu pada Joowon. Ia pun lalu mengambil kotak tersebut. “lalu, Noona mau kemana?” tanyanya pada manajernya yang beranjak pergi.

“aku mengurus sesuatu dulu. Tunggu saja dan makanlah. Uee tolong jaga dia ya!”

“nde…” jawabku.

“wahhh meskipun makanan untuk diet, tapi ini enak!” ujar Joowon sambil membuka kotak makanannya.

“…”

“noona, ada masalah…”

“kenapa? Ada yang basi?” jawabku sekenanya.

“telur dadar ini hambar…” ujarnya sambil memandangku dengan wajah mengerut.

“hambar? Lalu kenapa?” tanyaku kembali. Maksudku, memangnya masalah?

“aku tidak suka telur dadar hambar… aku suka yang manis…” jawabnya sambil memakan yang lain. Aku tertegun dengan pernyataannya, telur dadar manis?

“tapi tidak apalah, kurasa, sambil makan telur ini aku harus melihat noona!” jawabnya sambil tersenyum.

“kenapa?” rasa gugupku mulai muncul.

“karena noona manis, maka aku bisa merasakan telur dadar yang manis karena noona” jawabnya sambil makan.

………………………

AUTHOR POV

Malamnya, pukul 12.00.

Kringgg…. Kringgg…

Hp Uee bernyanyi dengan kerasnya, sementara Uee sedang tidur. Suara nyanyian itu pun berhenti sendiri setelah 2 menit tidak ada respon positif dari Uee. Uee tetap tidur dengan nyenyak.

Kriingg… Kriinggg…

Sekali lagi Hp itu bernyanyi, kali ini Uee baru bergerak dengan malas menggapai-gapai Hp-nya yang ada di meja sebelah kanannya.

“hem? Yoboseyo?” ujarnya malas.

“Yoboseyo!!! Uee-yaa.. kenapa kau tampak malas begitu? Semangat dong! Inikan sudah pagi!” teriak seseorang yang bisa ditebak Uee itu adalah Bekah. Pagi? Dia bilang pagi? Uee melihat jam dindingnya, bahkan ini belum jam 1.

“kau mengigau? Tidak bisa tidur? Ini masih jam 12. Dan ini sudah jam 12! Aku butuh tidur Bekah!”

“jam 12? Ini kan jam delap… ehh hahaha… aku kan di Amerika yah! Aku lupa… mianhaee…” Bekah tertawa membuat Uee ingin melemparinya dengan bantal seandainya bisa.

“aku tidur ya!”

“eh, tunggu dulu…”

“ada apa?”

“kau punya artis yang kau tangani kan?”

“nde, wae?”

“apa dia tampan?”

“kau mau jawaban yang menyenangkan hati atau yang jujur?”

“huuu… berarti dia tampan ya? Apa kau menyukainya?”

“kurasa aku sebaiknya tidur…”

“eh jangan!”

“hmm…” sebenarnya Uee benar-benar malas meladeni Bekah. Tapi tidak apa-apa lah.

“aku rasa, kau sudah harus melupakan Jaejoon. Lagi pula ini kan sudah 3 tahun yang lalu. Kau ini tidak bisa ya melupakannya dan mencari yang lain?”

“Bekah, kita sudah membicarakan ini sebelumnya…”

“aku hanya menyarankan padamu untuk melirik Joowon…”

“heh?”

KLIK… Titttt tiitt…

Bekah tiba-tiba saja memutuskan hubungan, Uee terdiam dan segera menaruh kembali Hpnya dan kembali memejamkan mata. Sejenak, ia kembali membuka matanya.

“darimana ia tahu nama Joowon?”

“…”

“sudahlah, bukan urusanku!”

…………………………

Besoknya, Uee sedang duduk didepan makam Joowon. Dia sudah disana sejak 3 menit yang lalu. Dia lalu terdiam dan memejam mata, sepertinya berdoa.

“YA!”

“Mwoya!” Uee memukul orang yang tiba-tiba menepuk bahu kanannya. Dia lalu menoleh dan itu ternyata Joowon. “apa yang kau lakukan disini?”

“aku dengan Noona kesini… kupikir Noona mengunjungi keluarga, ternyata namjachingu noona…”

“…”

“…”

“bukan, dia sudah bukan namjachinguku…”

“noona… aku..”

“…” Uee segera berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu.

“aku menyukai Noona…”

“eh?” Uee berhenti lalu kembali berjalan “terimakasih… aku mau pulang, kau ikut?”

“aku serius Noona!” Joowon berdiri dan memegang tangan kanan Uee.

“aku juga… kau mau pulang juga?”

“noona belum bisa melupakan Jaejoon hyung?”

“tidak ada hubungannya denganmu…” jawab Uee sambil melepaskan tangan Joowon dari tangannya.

“jelas ada. Karena Jaejoon hyung, noona jadi tidak bisa menerimaku…” ujar Joowon.

“kenapa kau menyalahkan Jaejoon?” Uee mulai tidak suka dengan percakapan itu.

“aku yang meminta noona untuk jadi stylistku karena aku ingin dekat dengan Noona, ternyata semua juga percuma. Tidak ada respon postif dari noona, jadi kuputuskan untuk mengatakan hal ini. Tapi ternyata noona bukan tidak menerimaku, iya kan?” jelas Joowon sambil menatap Uee yang melihat kepadanya dengan tatapan kosong.

“…”

“noona tidak bisa melupakan Jaejoon hyung…”

“kalau kau sudah selesai, kita pulang…” Uee pergi meninggalkan Joowon. Joowon merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu.

“Noona! Kalungmu!” teriaknya pada Uee yang sudah berjarak 5 m darinya. Uee yang kaget segera berhenti dan berbalik.

“apa yang…”

“saat aku menghilangkan kalung ini, kupikir noona akan melupakannya. Sedikit. Noona sudah melupakannya sedikit. Lalu apa lagi? Noona harus benar-benar melupakannya dan memulai hidup baru…”

“kembalikan padaku…” Uee berjalan dengan cepat kearah Joowon.

“Noona masih belum melupakannya…” ujar Joowon, dia lalu menghadap kearah kanan, dihutan kota. Ia lalu melempar kalung Uee.

“KENAPA KAU MELAKUKAN HAL ITU?” Uee berteriak pada Joowon. Dia lalu berlari ke hutan kota namun ditahan Joowon.

“noona…”

“lepaskan!” Uee menghentakkan tangan Joowon dan bergegas mencari kalungnya. Joowon hanya diam melihat Uee dari kejauhan. Dia lalu melepaskan genggaman tangan kanannya, disitu ada kalung Uee, dia tidak melemparnya.

……….

………

……….

Tiba-tiba hujan turun dengan deras, Joowon yang terkejut segera berlari mencari Uee.

“Noona! Noona!” Joowon berlari dan mencari Uee. “Noona!” dia belum menemukan Uee.

“…” Joowon lalu terdiam, dia mendengar suara perempuan yang sedang menangis. Yah, lumayan horror juga mendengar suara perempuan menangis di bawah guyuran hujan dan didekat kuburan! Horror to the max! dia lalu berjalan ke sumber suara, betapa terkejutnya ia melihat Uee yang terduduk sambil menangis. Bajunya penuh dengan daun-daun dan rerumputan, serta basah dan terkena lumpur.

“Noona…” Joowon dengan hati-hati menepuk bahu Uee.

“kenapa kau menghilangkannya?”

“noona…”

“kenapa kau menghilangkannya?”

“aku…”

“kau jahat sekali! Kau itu siapa sih?”

“noona…”

“aku tidak percaya ini. Apa kau tidak punya hati?”

“NOONA!”

“…”

“Kalungnya ada disini!” Joowon akhirnya memberikan kalung itu pada Uee. Uee terdiam sejenak melihat kalungnya.

…………………..

Dengan susah payah akhirnya Joowon bisa membawa Uee pulang. Joowon yakin, dia akan menjadi musuh bagi Uee seumur hidupnya. Uee merasa bodoh sekali. Mereka dalam satu mobil sekarang, bahkan Uee tidak menoleh samasekali pada Joowon apalagi berbicara. Joowon jadi salah tingkah.

“noona mau kuantar kerumah?”

“…”

“noona, kalau noona tidak bicara, aku akan mengantarkan noona kerumahku…” goda Joowon pada Uee agar Uee bisa menjawab.

“heh! Kerumahku!” jawab Uee panik “aku merasa sangat bodoh hari ini…”

“kekeke…” Joowon tertawa kecil.

“kau tampak sangat bahagia sudah mempermainkanku, heh?”

“mianhae, aku tidak bermaksud begitu…”

“terserah…”

“tapi noona, aku serius dengan pernyataan cintaku… jadi apa noona menerimanya?”

“kau berpikir aku akan menerimanya setelah apa yang kau lakukan padaku?”

“hehehehe…” Joowon tertawa lagi.

“aku bukan tidak bisa membuka hati…” ujar Uee kemudian “tapi, entahlah, aku sedang tidak ingin saja…”

“jadi?” tanya Joowon penasaran. “bagaimana denganku?”

“apanya yang bagaimana? Kau sudah masuk daftar blacklist ku…”

“ah, noonaaa…”

“akan kupikirkan…”

“benarkah?”

“akan kupikirkan bagaimana cara membunuhmu!” tegas Uee.

“noona!” ujar Joowon kecewa.

“diamlah, dan terus menyetir! Kau mau kita mati? Kalau mau mati, mati saja sendiri…” ujar Uee kesal sambil menatap jendela.

“nde… aku tetap akan berusaha…” jawab Joowon semangat. Dalam diam, Uee tersenyum sambil memandang air hujan yang membasahi bumi.

………………………….

— THE END —

…………………………

 

2 responses to “NNY : Sound of Rain (Uee’s Ver.)

Komentar ditutup.