The Perfectionist (Part 6)

PERFECTIONIST

Pefect 5-6

SEBELAS

Tepat jam 4. Lizzy sudah berada didepan pintu apartemen Sehun. Di tekannya bel pintu. Dan Sehun langsung keluar tanpa waktu lama.

Lizzy langsung duduk di sofa coklat Sehun dengan lelah. Dari tadi mereka berdua belum berbicara apapun. Dan Lizzy mulai agak canggung dengan keadaan itu.

“ini.” Sehun menaruh jus melon yang diambilnya dari kulkas didapur tadi. Tanpa basa-basi Lizzy meneguknya.

“mana soal-soalnya ?” tembak Lizzy langsung ke inti.

Sehun tertawa kecil.

“kau blak-blakan sekali. Akan kuambil.”

Jam 5.30. Mereka sudah 1 jam membahas latihan soal-soal olimpiade itu. Tapi setengah jam lebihnya,mereka hanya diam.

Sebenarnya Sehun ingin memecah keheningan itu dengan menanyakan beberapa hal pada Lizzy. Tentunya tak ada hubungan dengan soal. Tapi dia ragu Lizzy akan menjawab dengan senang hati. Karena berhubungan dengan Aaron.

“Ng.. Lizzy,” Lizzy menoleh pada Sehun yang tiba-tiba memanggilnya.

“mwo ?” tanyanya santai.

Sehun mencoret kertasnya dengan pensil membentuk lingkaran. Masih berpikir apakah ia akan bertanya.

“Itu.. ada apa denganmu dan Aaron ?”

Lizzy menyipitkan mata heran. Kenapa Sehun ingin tahu hal itu ?

“tak penting buatmu,kau tak perlu tahu.” Ketus Lizzzy seraya lanjut mengerjakan soal.

Sehun menghela nafas. Benar juga,ini tak penting baginya. buat apa dia ingin tahu,tak menguntungkan juga. Tapi dia benar-benar penasaran. Bukan hubungan ke dua orang itu tapi lebih kepada kenapa Lizzy selalu takut kalau ada Aaron didekatnya.

“Aku ingin tahu,kenapa dengan mu dan Aaron. ?” desak Sehun.

Lizzy meletakkan pen-nya dengan keras di atas meja. Bisa dibaca wajahnya kelihatan marah.

“sudah ku bilang,kau tak perlu tahu ! memangnya ada hubungannya denganmu ?!” umpat Lizzy meledak-ledak.

“memang tak ada urusannya dengan ku. Tapi aku tak suka melihatmu selalu takut kalau ada Aaron !” bentak Sehun tak kalah marah.

Lizzy semakin tak bisa mengontrol emosinya. Sekarang orang yang ada didepannya ini benar-benar ingin ikut campur urusannya.

“katakan,kenapa kau selalu takut jika dia ada ?” tanya Sehun lagi lebih pelan dari nada bicara yang tadi.

“aku tak takut padanya !” bentak Lizzy.

“kau takut.”

“TIDAK!”

“YA !”

“lalu kenapa kalau dia..”

“SUDAH KU BILANG TIDAK ! kenapa kau sangat ingin tahu ?”

“itu,Cuma..”

“Cukup ! aku tak akan ke sini lagi.”

Lizzy mengemas tasnya,lalu pergi tanpa pamit pada Sehun.

Sepeninggal Lizzy,Sehun menghela nafasnya panjang. Seharusnya pertengkaran ini tak terjadi. Cuma gara-gara hal sepele. Apakah hal yang berhubungan dengan Aaron akan membuat Lizzy semarah itu ?

Oh… baiklah,dia akan menyerah untuk mengetahuinya. Tetap saja dia ingin tahu yang menjadi pertanyaan dalam kepalanya itu. Kalau soal hubungan Lizzy dan Aaron dia sudah tahu dari Sunny. Tapi dia tak tahu kenapa Lizzy harus takut menghadapi Aaron.

***

Sehun melihat ke bangku Lizzy. Sejak pagi dia dan Lizzy tak bicara sama sekali. Memang sih,biasanya juga diam. Tapi hari ini lebih parah. Paling tidak ucapkan salam sajakan.

Mungkin dia masih marah soal yang kemarin_argumen Sehun. Lantas dia kembali memperhatikan guru yang menjelaskan materi didepan selepas melihat Lizzy.

Dan Lizzy tak sadar dengan pandangan itu. Juga terhadap sepasang mata lain yang melihatnya. Aaron. Tapi lebih pada mengamatinya dan Sehun.

“Minhyun !” Panggil Lizzy saat di perpustakaan. Minhyun tersentak.

Lagipula Noona ini tak perlukan memanggil sekencang itu ? pasalnya Lizzy berada tepat di depan meja dia dan Ga-eun sedang duduk.

“apalagi ? pasti noona ingin mengomel.” Seloroh Minhyun.

Lizzy mendesah pelan. Ga-eun yang dari tadi diam tersenyum kecil melihat hal itu.

“apa ?” desak Minhyun.

“ada yang ingin ku tanyakan.” Lizzy langsung menarik lengan Minhyun dan keluar dari perpustakaan.

“apa ?” tanya Minhyun sesaat setelah mereka diluar perpustakaan.

“kau sangat ingin tahu urusan orang ?” ulang Lizzy atas pertanyaannya yang tadi.

“tunggu,noona menarikku keluar hanya untuk tanya itu ?”

“jawab saja.”

Minhyun masih sulit percaya. Dia agak kesal dengan Lizzy yang mengganggunya demi hal yang tak penting ini.

“ok. Aku tak ingin tahu urusan orang lain. Tapi jika ada hubungannya denganku,aku sangat ingin tahu.” Jelas Minhyun.

“oh.. berarti dia saja yang sibuk dengan urusan orang.” pendapat Lizzy.

“nuguya ?”

“kembalilah sana. Aku pergi.” Lizzy melenggang santai meninggalkan Minhyun yang mengangakan mulutnya.

Arrggh… Minhyun makin kesal saja. Noona-nya itu,menarik orang dengan tiba-tiba,bertanya hal yang tak penting,lalu pergi begitu saja. Apa-apaan sih ?.

**

Sudah satu jam Lizzy bergumul dengan latihan-latihan soal olimpiade Kimia di kamarnya. Diletakkannya ballpoint yang sedari tadi dalam tangannya,lalu menyandar pada sandaran kursi. Dia menghembus nafas pelan. Perasaannya capek sekali. Ternyata untuk sebuah ke suksesan dan kebanggaan haruslah berjuang seperti ini dulu.

Hmm.. sebenarnya dia mulai jenuh dengan rutinitas yang mengharuskan dia belajar tekun. Tapi kalau dia menyerah,habislah sudah semua yang dia inginkan. Pencapaiannya selama ini pun akan sia-sia saja.

Matanya kemudian memperhatikan buku yang berisi kumpulan soal-soal Kimia itu. Ini milik Sehun_bukannya ia sedang marah pada Sehun. Tapi buku Sehun-lah yang dipakainya untuk mengasah kemampuannya. Kemarin,kenapa juga dia bisa sekesal itu pada Sehun ? Cuma gara-gara pertanyaan tentang dia dan Aaron.

Mungkin itu sebuah gerak reflex untuk menghindari hal yang berhubungan dengan Aaron. Tapi pernyataan bahwa dia takut pada Aaron,benarkah begitu ? dia sendiri tak menyadarinya. Yang jelas setiap ada Aaron,dia selalu ingin menghindar.

***

DUA BELAS

Sehun ternyata sudah berada dalam ruang ujian saat Lizzy datang. Yah.. tidak hanya Sehun sih.. tapi juga beberapa murid lain. Hari ini terasa menegangkan bagi Lizzy. Hari ujian untuk olimpiade Kimia. Optimis ! pasti. Dia tak pernah berpikir negative untuk hal-hal seperti ini. Dia adalah yang terbaik. Segalanya yang menjadi impian orang telah berhasil di rebutnya. Jadi,kenapa tidak dengan olimpiade ini ?

Pepatah masih ada langit di atas langit,dia anggap bualan belaka.

Tiba-tiba pesawat kertas mendarat mulus di atas mejanya. Bergegas diraihnya,dan membuka lipatan-lipatan pesawat kertas tersebut.

“Selamat Berjuang. Fighting ! ^_^ “

Sehun

Humm… bukannya dia dan Sehun sedang bertengkar ?_ Lizzy menoleh ke arah bangku Sehun. Sehun tersenyum membalas tatapan Lizzy. Kemudian ia berbalik lagi ke arah depan.

Salah. Dia telah salah besar mengira Sehun masih kesal padanya.

Menit demi menit berlalu dalam ruang ujian olimpiade. Semuanya berjalan lancar bagi Sehun dan Lizzy. Tak ada hal yang membuat mereka sulit.

Dan akhirnya setelah lama berkutat dengan soal-soal itu,Lizzy selesai. Dia di perbolehkan keluar lebih dulu dari peserta yang lain yang belum selesai. Termasuk Sehun.

Dari ruang ujian,Lizzy menuju perpustakaan. Melihat kedatangannya di pintu  masuk,Minhyun langsung bangkit dari kursinya berlari menuju Lizzy.

“Noona,aku butuh bantuan mu !” serunya panic.

“Kenapa harus teriak begitu sih ?” kesal Lizzy sambil menutup kedua telinganya.

Tapi Minhyun tak acuh malah menarik Lizzy ke tempat dia duduk tadi.

Tanpa membiarkan Lizzy duduk dulu,Minhyun langsung menyodorkannya buku Biologi.

“ini,aku tak mengerti tentang ini.” Kata Minhyun sambil menunjukkan halaman di buku tersebut.

Lizzy lansung merampas buku tersebut.

“Plaak !” di pukulnya kepala Minhyun dengan buku itu.

“Kau ini,bisa tidak tenang sedikit ?” gerutu Lizzy,lalu duduk di kursi.

“jadi,apa maksudnya ? Ga-eun juga bingung soal itu.”

Lizzy menatap Minhyun sinis dan curiga.

“hmm.. kau bukannya mau di ajari kan ? pasti tujuanmu mau menjelaskan padanya soal ini agar kau terlihat pintar,” selidik Lizzy. Minhyun menggaruk kepalanya walaupun tak gatal.

“Noona,tolonglah. Ini satu-satunya cara agar aku bisa mendekatinya.”

Lizzy menatap Minhyun dengan kesal. Dan kemudian Lizzy tertawa kecil.

“baiklah,doungsaeng ku yang malang. Biar ku jalaskan,” ujar Lizzy.

 

Lizzy berjalan meleawati koridor menuju kelasnya. Dia baru dari perpustakaan.

Huuft… dia menarik nafas panjang. Menjelaskan untuk Minhyun itu hal yang melelahkan. Minhyun itu banyak tanya dan sangat ingin tahu.

Oh.. sial_ dia merasa tak beruntung bertemu Aaron di sini. Meski arah mereka berlawanan.

“wajahmu langsung berubah saat melihatku.” Kata Aaron saat mereka berpapasan.

Uhk.. Lizzy mulai merasa terganggu dengan suasana seperti ini.

“apa mau mu,hah ?” tanya Lizzy tanpa memperhatikan Aaron.

Aaron menyeringai. Seperti ada perasaan puas dalam dirinya jika berhasil mengganggu Lizzy.

“Memberi nasehat,”

Lizzy langsung menatap Aaron. Tak mungkin Aaron jadi baik dengan memberinya nasehat. Setan apa yang merasukinya.

“pernah dengar,masih ada langit di atas langit ? atau berjalan dengan melihat ke atas terus akan tersandung batu di bawah.” Lanjut Aaron.

“maksudnya,aku akan tersandung oleh mu ?” pandangan Lizzy pada Aaron seperti mengejek.

“kau tetap keras kepala ya, kapan kau sadar kau tak punya apa-apa ?”

Lizzy diam dan berusaha tak acuh pada kalimat Aaron.

“yah… saat kau sadari itu,datang saja padaku.”

Setelah mengatakan itu,Aaron berlalu meninggalkan Lizzy yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

Kenapa ? kenapa kata-kata Aaron selalu menusuk seperti ini_dalam kepalanya berkecamuk pikiran yang membebani. Selalu,apa yang di ucapkan Aaron sangat menyiksanya. Terlalu mengena padanya. Mungkinkah benar yang di katakan Sehun,bahwa ia takut pada Aaron ? terutama saat Aaron membuka mulut untuk berkata sesuatu. Separah itukah perlakuannya pada Aaron dulu,sehingga Aaron menghujamnya seperti ini ?

***

TO BE CONTINUED

 

One response to “The Perfectionist (Part 6)

Komentar ditutup.