The Perfectionist (Part 7)

PERFECTIONIST

perfect 7-8

TIGA BELAS

“Lizzy, Lizzy !” dua kali panggilan Sunny tak di hiraukan Lizzy. Sunny jadi ikut khawatir melihat Lizzy melamun. Yah… mereka datang ke taman kan bukan untuk melamun dan khawatir,seharusnya mereka bersenang-senang.

“Liii…..zyyy…..” panggil Sunny lagi lebih panjang.

“eh..nde ?!” Lizzy tersentak kaget.

“ceritakan padaku,kau ada masalah ?” tanya Sunny.

Lizzy menggeleng. Dia menyeruput coffe yang daritadi di tangannya dan sudah mendingin.

“tidak. Hanya…”

“Aaron.” Sela Sunny langsung.

Lizzy diam sejenak,apa yang harus di ucapnya untuk melanjutkan kata-katanya. Ingin menyangkal,tapi memang benar dia murung karena Aaron. Tidak ! bukan karena Aaron,tapi ucapan Aaron. Kenapa begitu mengganggu ? tak bisakah ini di buang jauh-jauh ? kalau bisa,pasti sudah dilakukannya dari kemarin.

“ceritalah padaku,itu bisa membantumu walau sedikit.” Bujuk Sunny.

Lizzy masih diam,lalu dia menghembuskan nafas lelah.

“bukan apa-apa. Hanya,ucapan Aaron selalu mengganggu ku. Entah kenapa,setiap kata-katanya seperti menusuk ku,sangat sakit untuk ku dengarkan. Apakah dia benar-benar sakit hati waktu aku memutuskannya dulu ? dan dia membalasnya seperti ini ?” cerita Lizzy.

Sunny yang daritadi memperhatikan dengan seksama terbawa ke perasaan yang Lizzy alami. Memang,menurutnya dulu Lizzy sangat jahat pada Aaron. Namun Sunny tak mau berpikir negative bahwa Aaron mau membalas perlakuan Lizzy dulu.

“jangan berpikir begitu,kita tak tahu dengan pasti yang ada dalam pikirannya kan ?” kata Sunny berusaha tetap positive.

“tapi,kata-katanya benar-benar menyakitkan. Dan kemarin dia bilang padaku kalau jalan jangan melihat ke atas terus nanti tersandung batu. Apa maksudnya ? meskipun itu pribahasa yang tak ku mengerti tapi sangat mengena padaku.”

“anggap saja itu nasehat,”

“dia juga bilang itu nasehat.”

“kalau begitu memang nasehatkan ?”

“tapi aku tak menganggapnya nasehat.”

“Arrgh… kau selalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu.”

“Sunny,”

“sudah. Hentikan ini,sekarang kita harus menyenangkan pikiranmu. Berhenti memikirkan hal-hal yang membebanimu. Semua akan baik-baik saja.”

Mereka berduapun meninggalkan taman. Sunny bermaksud pergi ke mall,tapi Lizzy ingin pulang saja. Dan dia tak bisa menolak Sunny yang memaksanya untuk bersenang-senang seharian ini. Dalam kepalanya terlintas ucapan Sehun saat pertama mereka berbicara.

“sekali-kali kau harus santai….”

Pagi ini Lizzy merasa tegang sekaligus senang. Hari ini pengumuman untuk yang lolos dalam seleksi olimpiade. Hmm… sebenarnya dia merasa tak perlu khawatir. Karena dia sudah yakin kalau dia akan lolos. Ini hanya salah satu dari sejumlah seleksi yang pernah ia ikuti.

 

Songsaengnim memanggilnya ke kantor. Dengan Sehun tentunya. Dalam perjalan menuju ke kantor,Lizzy tak berbicara sama sekali dengan Sehun. Meski mereka berjalan beriringan. Setali tiga uang dengan Lizzy,Sehun tak bersuara. Dia ingin,tapi ragu apakah Lizzy masih marah dengan peristiwa waktu itu.

Di kantor juga ada beberapa siswa lain. Mereka berdua pasti tahu saja wajah-wajah itu. Karena mereka semua adalah peserta seleksi olimpiade juga. Sehun dan Lizzy menambah panjang barisan para peserta yang juga hadir di dalam ruang kantor itu. Semuanya berwajah tegang,menunggu hasil atas tes mereka keluar.

“yang berhak mengikuti olimpiade kimia tingkat nasional adalah yang menduduki 3 besar.” Kata songsaengnim. Beberapa peserta semakin kuat berdoa. “yang masuk adalah, Sehun,Jooyeon,dan…”

Lizzy berharap namanya disebut. Oh.. itu pasti. Dia adlah orang terpintar di sekolah ini.

“Baekho”

Apa ?! kenapa tak ada namaku ?_ mendadak Lizzy seperti di guncang dengan hebat. Kenapa tak ada namanya di sebutkan songsaengnim ? Tidak,tidak, ia tak mungkin gugur kan ? mana mungkin dia tak lolos seleksi yang sering di ikutinya ini.

“songsaengnim,kenapa tidak ada namaku ? apa anda tak salah baca ?” sela Lizzy. Semua mata langsung tertuju padanya. Begitupun songsaengnim,dia mengerutkan alisnya tanda heran.

“tidak,aku tak salah baca. Aku sudah bilang yang lolos adalah peringkat 3 besar.” Jelas songsaengnim lagi.

“tapi,”

“maaf Lizzy,nama mu ada di urutan ke-4.” Lanjut songsaengnim.

Empat ? urutan ke-4 ? ia seakan tak percaya ini nyata. Dia,orang yang paling pintar,popular,cantik,sempurna,bisa-bisanya berada di urutan ke-4 dalam seleksi olimpiade.

Semua siswa yang berada dalam kantor bubar. Namun Lizzy memilih keluar paling akhir. Bukan dia yang terakhir keluar,tapi Sehun di belakangnya. Sehun menyadari mata Lizzy berair,dan wajahnya memerah. Tentu,siapa yang tak menangis di hadapkan dengan kegagalan.

Lizzy tak langsung kembali kekelas,malah menuju atap  sekolah. Itu bukan tempat yang biasa dia datangi,tapi itu tempat dimana tak ada orang yang akan mengganggunya sementara ini.

Apa yang bisa dilakukannya ? kecuali merenung dan duduk di kursi kayu yang mulai reot yang terletak hampir mendekati pagar kawat pembatas atap gedung.

Masih ia memikirkan kegagalannya. Benar-benar membuatnya depresi. Mengapa dia bisa gagal?

Apa yang salah ? jadi,semua yang di capainya selama ini tak berguna ?

Ditengah perenungannya,seseorang datang mendudukan diri di sampingnya. Sehun.

“ baru satu kali gagal,ini belum seberapa.” Ucap Sehun. Lizzy langsung menoleh padanya.

“kau tak mengerti.”

“aku tahu.”

“tak usah pura-pura tahu.”

Sehun diam sejenak. Dia harus benar-benar tenang menghadapi keadaan ini.

“ Ini adalah kegagalan pertama mu,selanjutnya aka ada banyak kegagalan lagi. Tapi semua itu proses yang menjadikanmu kuat.” Hibur Sehun.

Lizzy menunduk dan memenuhi wajahnya dengan kedua tangannya.

“tidak. Aku memang tak punya apa-apa,seperti yang dikatakan Aaron. Dia benar aku tidak punya segalanya.”

“jangan berpikir begitu. Dia hanya membuatmu takut saja.”

“tapi yang dikatakannya selalu menyakitkan ku !” emosi Lizzy naik. “argh… sudahlah ! kau tak akan mengerti. Selamat karena kau berhasil lolos.” Sambungnya.

Sehun menatapnya dengan alis berkerut.

“kalau aku mengundurkan diri,kau akan senang ?” tanya Sehun dengan nada serius.

“terserah kau saja.” Jawab Lizzy tak peduli.

***

 

EMPAT BELAS

Ah.., apa yang akan di lakukannya sekarang ? sedari pulang sekolah Lizzy mengurung diri di kamarnya. Dengan novel-novel yang di bacanya sekilas-sekilas tak sampai menghabiskan satu chapter pun. Sendirian. Tak perlu ada yang tahu kalau dia sedang kecewa dengan hasil seleksi olimpiade itu. Novel-novel tadi di harapnya bisa menyembuhkan kepahitan hatinya,tidak ada efeknya. Tetap saja ia terus terganggu dengan kegagalannya itu.

Ini bukanlah yang pertama baginya. Tapi kerap kali ia depresi seperti ini bila yang di kerjakannya gagal. Apa yang salah_ ia selalu saja berusaha mencari kekurangannya. Karena baginya ia telah berusaha keras dari siapapun. Dan mengapa bisa gagal ? keyakinan diri,kerja keras, sudah semuanya kan ? Yah… harus di ingat,kita merasa sudah bekerja keras,tapi sebenarnya belum melakukan apa-apa. Maka jangan pernah berpikir seberapa kuat usaha mu,sebanyak apa kerjamu,jangan pernah di sadari. Dan di akhir nanti hasilnya akan terlihat.

 

Pagi ini di sekolah,tambah membuatnya kesal. Semua mata yang dulu melihatnya dengan berbinar,sekarang seperti menghina. Suara-suara pelan keluar dari mulut orang-orang itu. Sekarang orang-orang yang selalu memujanya dulu sebagai orang yang cerdas,cantik,malah menganggapnya bodoh. Seperti inikah jika roda kehidupan berputar ?_ sejak kecil dia sudah mengenal pepatah roda itu. Sekaranglah dia benar-benar merasakannya. Di bawah,hidupnya sangat di bawah.

 

“Noona.” Panggil Minhyun,melihat Lizzy di pintu masuk ke perpustakaan ketika jam istirahat.

Lizzy membalas dengan senyum lemah.

“aku sudah dengar soal olimpiade itu.” Sambut Minhyun saat Lizzy mendudukkan diri di kursi di hadapannya. “jangan dipikirkan,kegagalan adalah awal dari kesuksesan.” Hiburnya lagi.

Lizzy tersenyum.

“arayo..,tapi bukan itu yang menggangguku.” ucap Lizzy. “kata-kata dan tatapan orang-orang setelah tahu aku gagal.”

“ah.. noona,memang seperti itulah orang-orang memperlakukan orang yang gagal. Mereka tak tahu apa-apa,tapi setelah kau berhasil mereka akan kembali memujimu.”

Lizzy menarik nafasnya dan berhembus pasrah.

“gomawo.” Lirihnya. “aku ingin ke tempat lain.” Putus Lizzy ketika merasa suasana perpustakaan sudah tak nyaman lagi baginya.

 

Duduk di kursi yang pemandangannya mengarah pada lapangan bola,Lizzy menatap dengan kosong ke sana. Dia tak merasakan kehadiran Aaron dibelakangnya.

“sedang apa kau di sini ?” ujar Aaron. Lizzy langsung menoleh kea rah suara.

“kau mau bilang apa lagi ?” dengus Lizzy.

Aaron juga ikut duduk di kursi.

“bukannya aku sudah menasehatimu ?” ingat Aaron. Lizzy langsung meliriknya.

“ku katakan,kalau berjalan jangan melihat ke atas nanti tersandung.”

“oh.. yang itu, aku tak ingat.” Cetus Lizzy santai.

Aaron berbalik menatapnya. Dalam hatinya dia kesal sekaligus kasihan. Tak mengertikah Lizzy maksud dari kata-katanya ?

“kau memang keras kepala ya ?” tuduh Aaron.

“apa maksudmu ?” sahut Lizzy marah.

“aku mengatakannya supaya kau hati-hati.”

“kenapa aku harus hati-hati ?”

“dengar,kau sudah berlebihan. Ya,awalnya aku memang ingin menghancurkanmu,tapi aku jadi kasihan padamu yang tak sadar diri. Kau jadi semakin serakah,kesombonganmu sangat parah. Apa kau ingin sekali menjadi orang yang sempurna ? tidak mungkin. Semuanya tak mungkin harus jadi milikmu. Aku tak mau kau jadi orang yang seperti ini.”

“apa urusanmu ?”

“nareul saranghanta.” Jawaban Aaron otomatis mendiamkan Lizzy.

Ucapan yang tak pernah diduganya.

“meskipun kau menyakitiku,aku tetap tak bisa membencimu.”

Aaron pun meninggalkan Lizzy yang belum sanggup membuka mulut.

— TO BE CONTINUE —

4 responses to “The Perfectionist (Part 7)

  1. authorrr *teriak pake toa* ini….bikin penasaran.makin seru…aih..gak nyesel deh ngikutin ff ini perchapt❤.eh..itu sehun jadi ngundurin diri ga?huwaaa TAT.ditunggu chapt selanjutnya❤

Komentar ditutup.