The Perfectionist (Part 8)

perfect 7-8

langsung aja lah ya…^^

…………………………….

LIMA BELAS

“ lama sekali sih…!” gerutu Lizzy di pagi akhir pekan. Pantas dia marah,sudah 15 menit dia dan Sunny menunggu Suho di stasiun kereta. Mereka berencana menghabiskan liburan akhir minggu dengan ke pantai_meski sebenarnya itu rencana Sunny dan Suho.

“kapan dia datang ?” tanya Lizzy pada Sunny yang mulai khawatir.

“ng.. sebentar lagi.”

Oh.. ayolah ! daritadi Sunny juga bilang begitu,tapi Suho tak terlihat juga. Ternyata laki-laki juga bisa selama ini. Masa mereka lama berdandan ? seperti perempuan saja.

“oh.. itu mereka !” seru Sunny seraya mencubit lengan Lizzy.  Mereka ? jangan-jangan…

Oh..ya,benar. Ada Sehun. Padahal dia belum mau bertemu dengan Sehun.

“mianhe,kami terlambat.” Kata Suho merasa bersalah. Sunny menggeleng bermaksud isyarat kata “tidak”

Sehun melirik ke arah Lizzy,tapi Lizzy melihat ke arah lain berusaha cuek.

Mereka berempat sampai di pelabuhan. Tak lama setelah mereka tiba kapal yang akan mengangkut mereka menuju pulau tujuan mereka datang.

Sepanjang perjalanan menuju pulau Lizzy tak berbicara sama sekali. Yah… sejak perjalanan dari stasiun kereta tadi. Tak seperti Sunny dan Suho yang terus berujar daritadi,dan Sehun pun sesekali menyahut celotehan mereka berdua.

Akhirnya,sampai juga di pulau yang bertambah cantik dengan sentuhan pohon-pohon kelapa dan bunga-bunga tropis mendominasi warna di pulau tersebut. Turun dari kapal dan menyentuhkan kaki di pasir putih,membuat mereka tak sabar untuk bersentuhan dengan air laut juga. Tas bawaan mereka di biarkan begitu saja tergeletak di pasir,ikut merasakan lembutnya pantai. Lalu menyerbu air laut biru.

Hari ini hampir habis,kala matahari mulai oranye dan ingin bersembunyi. Karena tugasnya akan diganti oleh bulan. Keempat orang yang bermain seperti anak kecil tadi,duduk di pinggir pantai dengan tenang. Tangan Sunny asyik menggenggam pasir lalu menumpahkannya kembali,hingga akhirnya Suho meraih tangannya agar berhenti. Hmm… sore ini memang membawa perasaan romantis.

“hei,sudah jam berapa ? kita bisa ketinggalan kapal untuk kembali,” cemas Lizzy memecah keheningan mereka.

Tanpa berpikir lagi,mereka berempat langsung berlari menuju pelabuhan tempat mereka turun tadi.

Tampak kapal sudah berlayar sangat jauh ketika mereka tiba.

“hei..! tunggu..!!” teriak Suho meski nafasnya masih terengah-engah.

“kembali…!!!!” panggil Lizzy juga.

Sehun melihat jam di ponselnya. Pukul 18.12.  Dia menghela nafas pasrah.

“bagus,itu adalah kapal terakhir.” Keluhnya.

“ah… sekarang bagaimana ?” khawatir Sunny.

“tunggu saja,mungkin mereka kembali.” Hibur Lizzy sambil terduduk lesu.

Arghh… dia merasa bodoh. Kenapa dia tidak mengingatkan soal waktu itu lebih cepat tadi. Dengan begitu mereka tak akan ketinggalan kapal.

“kita akan bermalam di mana ?” tanya Sunny.

Suho dan Sehun bertatapan bingung,sementara Lizzy juga memikirkan hal tersebut.

“kalau buat menyewa hotel sih,uang ku tak cukup. Tapi kalau kita ke sauna bisa saja.” Usul Sehun.

“apa ? sauna ?” sahut Lizzy tak percaya. Sehun tersenyum kecil. Karena itu satu-satunya kata yang di ucapkan Lizzy padanya satu hari ini.

“itu cukup bagus.” Dukung Suho.

Huh.. dua orang laki-laki ini ternyata berotak sama,itulah yang ada dalam kepala Lizzy. Sunny tampaknya tak mempermasalahkan ide tersebut.

 

Hmm… tak terlalu banyak pengunjung. Lizzy memperhatikan sekitarnya. Awalnya dia menolak bermalam di tempat ini_sauna.Kalau dia tetap gengsi bisa-bisa dia tidur di udara dingin. Dia melirik pria di sampingnya yang sedang membalut kepala dengan handuk,Sehun. Sedangkan Suho dan Sunny duduk agak jauh dari mereka.

“apa yang kau pikirkan,hah ?” tanya Sehun dan usil melempar handuk ke arah Lizzy.

Lizzy pun melemparnya kembali.

“tak ada.” Dalih Lizzy.

“oh..ya,maaf ya waktu itu. Harusnya aku memberimu semangat bukan nasehat seperti itu.” Kata Sehun.

Lizzy melihat Sehun sekilas.

“bukan salahmu,aku juga bodoh terlalu pesimis. Harusnya aku berusaha saja tanpa berpikir aku pantas mendapatkan untuk membayar usaha ku tersebut.” Balas Lizzy dengan mata berkaca.

Gantian Sehun menatap Lizzy. Dan tangan Sehun bergerak mengacak rambut Lizzy sambil tersenyum.

“kau banyak berubah,tak seperti awal saat aku mengenalmu.” Ucap Sehun tulus.

Kemudian Sehun bangkit dari duduknya,memandang ke arah Suho dan Sunny.

“hei,Suho ! aku mau pergi membeli makanan,kau ikut tidak ?” seru Sehun.

“ah,biar aku saja yang pergi.” Tawar Sunny,segera berlari mengikuti Sehun yang pergi duluan.

Suho berpindah didekat Lizzy. Dan Lizzy berpangku tangan,bingung hal apa yang bisa di lakukannya di sini. Terus terang dia sudah terbiasa berdiam diri dengan buku di tangannya. Jadi sekarang dia sangat suntuk.

“kau sudah baikkan dengan Sehun ?” tanya Suho. Lizzy melepas pangkuan tangannya.

“ah..mungkin,darimana kau tahu kami bertengkar ?”

“dia kan temanku. Pasti dia cerita padaku.”

“hah… ternyata laki-laki juga tukang gossip” gerutu Lizzy. Suho tertawa. “sejak kapan kalian berteman ?” sambung Lizzy.

“sejak SD. Lalu dia pindah saat kelas 3 SMP ke Australia.”

“waeyo ?”

“ibunya menikah lagi dengan orang dari Negara itu setelah ayahnya meninggal setahun sebelumnya. Tapi aku kaget dia pindah ke Korea lagi. Dia bilang tak suka di sana.”

Alis Lizzy berkerut. Pria yang di matanya terlihat santai dan sangat menikmati hidup itu ternyata mempunyai cerita hitam juga. Selama ini,anggapannya Sehun orang yang sangat berkecukupan. Sehingga tak perlu bersusah payah dalam menjalani hidup.

“ini dia !” semangat Sunny tiba-tiba senada tangannya menaruh bungkusan berisi mie instan dan telur rebus.

Kemudian disusul Sehun yang membawa kresek besar berisi minuman soda dan camilan.

“wah… kau merempok toko ya..?” tuduh Suho jahil.

“ani,hanya menggunakan keahlian ku member senyuman agar dapat diskon.” Seloroh Sehun kembali.

“sudah, ayo makan.” Tegur Sunny.

Tangan Lizzy langsung merampas snack potato rasa keju di hadapannya. Tak ketinggalan juga cola. Ah… benar-benar melegakan. Seharian bermain di pantai,dan sekarang dia baru ingat selama itu pula belum mengisi perutnya.

“Besok kita pergi pagi-pagi ke pelabuhan supaya tidak ketinggalan kapal.” Ingat Suho.

“nde !” seru mereka bertiga serempak

****

ENAM BELAS

Dirapatkan jaket yang membalutnya. Lizzy masih saja merasa dingin. Tak henti ia menggosok-gosok kedua tangannya agar panas. Lampu didalam sauna ini sudah dimatikan sebagian,yang tersisa untuk menerangi pengunnjung yang menginap di sauna. Dibalikkannya badan yang daritadi membelakangi Sunny. Sudah tertidur. Padahal Lizzy masih ingin mengobrol. Hmm… semua orang pasti lelah. Beralih lagi pandangannya ke Suho,pria itu tertidur pulas meski tak memakai selimut. Hanya pakaian yang menempel. Sehun juga,tidur menelungkup menyembunyikan wajahnya.

Dengan hati-hati Lizzy bangun,mengendap-endap keluar sauna. Udara dingin menerpanya begitu di luar. Otomatis dia memeluk lengan tangannya. Tapi tak akan cukup untuk membuatnya hangat. Kenapa sangat susah sekali untuknya tidur ? tak ada juga yang menjadi pikirannya. Mungkin hanya sulit beradapsi dengan tempat tidur baru.

Lizzy menghirup udara dengan dalam. Tercium aroma garam. Laut memang tak jauh dari sini.

“kenapa keluar ?” ada suara bertanya dari belakangnya dan sangat dekat.

Begitu berbalik,dia tahu itu adalah Sehun. Wah.. sejak kapan Sehun berdiri tepat dibelakang nya ? tak terdengar olehnya langkah-langkah Sehun.

“aku tak bisa tidur.” Jawab Lizzy setelah sekejap terdiam. Sehun berpindah ke sampingnya,ikut memandang kedepan pada siluet pohon-pohon yang menutup cahaya lampu jalan.

“bagaimana kalau ke pantai,mungkin kita bisa tertidur karena lelah bermain disana,” gagas Sehun. Lizzy mengangguk setuju.

Pantai malam hari tak kalah cantik dengan siang hari. Justru saat malam membawa suasana berbeda. Tak ada suara lainnya kecuali ombak. Bahkan suara serangga malam hari pun kalah.

Lizzy mempermainkan ombak kecil di tepi dengan kakinya. Beda dengan Sehun yang melihat lurus kedepan pada ombak-ombak besar yang bergulung. Rasanya dia ingin saja surving. Ombak itu seperti memanggilnya.

“aku mau jalan sepanjang garis pantai.” Kata Lizzy.

Ia berjalan mendahului Sehun. Dari belakang Sehun mengikutinya. Berulang kali dia memperhatikan Lizzy menggosokkan tangannya juga merapatkan jaketnya. Udara ini pasti sangat dingin bagi Lizzy.

“Lizzy.” Panggil Sehun. Lizzy membalik badan. Terlihat Sehun menggosok-gosokkan tangannya.

Oh.. dia juga pasti kedinginan_pikir Lizzy. Sehun mendekat kepadanya. Lalu memegang kedua bahunya.

“biar ku bantu menghangatkan bahumu.” Ucap Sehun.

Pipi Lizzy bersemu merah. Di tepisnya tangan Sehun dari bahunya dan menjauh.

“kau kenapa,sih ?” sinis Lizzy tanpa melihat Sehun.

“tidak apa-apa ? ayo kembali.” Dalih Sehun.

 

Tampaknya Suho dan Sunny tak sadar kalau dua orang temannya itu menghilang dari sauna tadi malam. Yah.. karena paginya Suho dan Sunny juga tak komentar apa-apa.

“kau tak pernah main ke tempatku lagi.” Ujar Sehun sewaktu kapal sedang melintas di laut pada Lizzy.

“ng… entahlah.” Ragu Lizzy.

“yah..meskipun kau sedang frustrasi dengan orang-orang di sekolah yang membicarakanmu sembarangan kau harus tetap punya semangat belajar. Akhir-akhir ini kau sering melamun.”

“ah.. nde.”

Sebenarnya celaan untuknya itu sudah tak terlalu dipikirkannya. Yang menjadi pergumulannya adalah ucapan Aaron waktu itu. Dia berharap tak pernah mendengarnya. Harusnya Aaron membencinya saja.

****

— TO BE CONTINUED —

2 responses to “The Perfectionist (Part 8)

  1. kyaaaa akhirnya part 8 *_*.itu aron sebenernya maunya apa sih?u.u huwee…aron jangan ganggu LizHun couple❤ (?) wkwk..btw ffnya bagus thor.bahasanya juga.love deh❤ ditunggu ya part selanjutnya~~

Komentar ditutup.