Lost Memory

Lost Memory

cats 26

Auhtor             :           Yesunggyu – Amalia Laili

Genre               :           Romantic comedy

Length             :           one shot

Cast                 :           Eyoung dan Gaeun (After School), Himchan dan Youngjae (B.A.P)

…………………………

Eyoung memainkan gitarnya di taman kota, dia mencari uang saku dengan cara ini. Selain tidak ingin merepotkan orang tua angkatnya, dia juga lebih suka hal seperti ini. Eyoung adalah anak yatim piatu, orang tuanya sudah meninggal ketika dia berumur 9 tahun karena kebakaran di rumahnya di Incheon. Untung saja saat itu dia main di rumah pamannya, di Seoul. Pamannya yang tadi itu lalu mengasuhnya.

“Annyeong, Eyoung!” sapa seorang perempuan padanya, Eyoung lalu tersadar dari lamunannya dan melihat orang itu.

“ah, annyeong Gaeun!” ujar Eyoung sambil tersenyum dan mempersilahkan Gaeun, temannya, duduk disampingnya.

“berapa yang kau dapatkan?” tanya Gaeun.

“hem… not bad. Sekitar setengah dari yang kudapat kemarin… 5000 won…” jawab Eyoung sambil melihat tempat uangnya yang dipenuhi koin dan uang kertas.

“akhir-akhir ini kok penghasilanmu menurun ya?” Gaeun menyayangkan keadaan Eyoung.

“ah! Kau ini berlebihan. Ini kan hanya uang saku! Tidak banyak juga tidak apa-apa!” jawab Eyoung.

“tapi kau belum bayar uang sekolah selama 3 bulan kan?”

“hehehe… aku sudah bayar 3/4nya tinggal sedikiiiittt lagi… ini sudah 5000 kan lumayan buat bayar sekolah…” jawab Eyoung.

“….”

“….”

“kau dengar suara itu?” tanya Gaeun.

“suara apa?”

“itu… suaraa… Janggu!”

“Janggu?”

“iya! Ayoo mungkin ini penyebab kurangnya penghasilanmu!” seru Gaeun sambil menarik tangan Eyoung, Eyoung lalu bergegas mengumpulkan uangnya dan mengikuti Gaeun.

“Wah… dia hebat sekali…”

“tampan tapi bisa bermain Janggu!”

“keren…”

Banyak sekali komentar orang-orang tentang lelaki yang bermain alat music traditional Korea itu. Eyoung dan Gaeun kesusahan untuk masuk kekerumunan dan melihat lelaki itu. 3 menit kemudian, lelaki ini selesai bermain dan mengucapkan kata terimakasih. Dan KRIIINGGG uang pun banyak didapatkannya. Eyoung dan Gaeun hanya terdiam melihat lelaki itu.

“kenapa?” tanya lelaki itu yang sadar ditatap 2 perempuan cantik.

“heh? Tidak…” Gaeun hanya menggeleng.

“kau terpesona olehku?” tanya lelaki itu dengan pedenya.

“heh, tidak… maaf saja… ayo pergi Eyoung!” Gaeun segera menarik Eyoung yang masih terpaku disana. “ayooo!!!”

………………………….

Esoknya Eyoung berada dilapangan sekolah, didepannya berdiri seorang lelaki yang sekiranya mungkin ia kenal. Tapi Eyoung hanya diam saja dan menebak dalam hatinya.

“kenapa mengikutiku?” tanya orang itu.

“heh? Siapa yang…” Eyoung kaget karena orang itu menyadari kehadirannya. Terlebih lagi orang itu berbalik dan menatapnya.

“wah, bukankah kita pernah bertemu kemarin?” tanya orang itu.

“eh? Benarkah? Aku lupa…” Eyoung langsung menundukkan pandangan dan berjalan cepat “aku lupa, maaf…”

“tunggu…” orang itu menarik tangan Eyoung “apa aku mengenalmu?”

“hem?” Eyoung berhenti lalu mengeryitkan dahinya, dia mencoba mengingat tanpa menolehkan sedikit pun wajahnya pada orang itu. “kurasa tidak, permisi…” Eyoung melepaskan tangannya dari orang itu dan berjalan lagi.

“namaku Kim Himchan, kalau kau ingat! Aku kelas 3-D!” serunya pada Eyoung yang menjauh.

“terserah… aku tidak tahu…” ujar Eyoung dalam hati dan mempercepat langkahnya.

………………………..

Eyoung berjalan ditaman sambil membawa gitarnya. Dia dalam keadaan galau. Keluarganya sedang membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit ibu angkatnya. Ibu angkatnya sedang sakit berat. Uang sakunya benar-benar belum mencukupi untuk membayar uang sekolah, kini muncul masalah baru. Kepalanya tambah sakit.

“….”

Tiba-tiba sekali lagi dia mendengar suara Janggu. Akhir-akhir ini kenapa ada suara itu? dia lalu pergi mencari sumber suara. Sumber suara itu sepertinya dikerumuni orang banyak seperti kemarin sore. Jadi dia pun mencoba masuk ke kerumunan. Dia lalu melihat Himchan. Iya kan? Namanya Himchan kan? Bahkan Eyoung hampir lupa nama anak itu.

“…”

“…”

Eyoung terbawa suasana atas permainan Janggu Himchan. Meskipun sekolah mereka adalah sekolah music traditional, Eyoung tidak hebat bermain Janggu. Dia kan masuk karena permintaan orang tua angkatnya.

“…”

“ya…”

“…”

“ya…”

“…”

“AJJUMA!!!” Himchan berteriak pada Eyoung yang sedari tadi melamun sambil menatapnya. Kerumunan orang-orang sudah tidak ada, jadi disana hanya ada Himchan yang duduk dan Eyoung yang baru tersadar dari lamunannya. Himchan lalu berdiri dan mendekati Eyoung yang salah tingkah.

“apa yang terjadi padamu?” tanyanya sambil menatap lekat wajah Eyoung.

“tidak ada apa-apa….” Eyoung menundukkan kepalanya.

“kau belum ingat padaku?” tanya Himchan.

“ingat apa?” Eyoung langsung menengadahkan kepalanya, untuk beberapa detik ia dan Himchan kembali bertatapan.

“bagaimana kau ini. Namaku ini mudah diingat! Kenapa kau lupa?” tanya Himchan heran dengan sedikit frustasi. “masa kecil mu tidak bahagia ya?”

“entahlah…” geleng Eyoung, dia kembali menunduk.

“yasudah… kenapa kau tidak mengamen?” tanya Himchan.

“maaf? Apa kau bilang?” tanya Eyoung dan kembali mendongak, Himchan lalu tersenyum membuat Eyoung kembali menunduk.

“baru saja aku senang kau melihatku lagi. Ah… iya kenapa kau tidak memainkan gitarmu? Kalau kau tidak mau dibilang mengamen sih…”

“karena kau…” ujar Eyoung.

“karena aku?”

“nde…” Eyoung pun pergi meninggalkan Himchan yang kebingungan.

“dia ingat aku atau tidak sih?”

…………………..

Eyoung mulai tersadar dari lamunannya ditaman melihat Himchan berdiri didepannya sambil membawa Janggu.

“apa yang kau lakukan?” tanya Himchan.

“tidak ada…”

“benar juga! Hahaha! Kau bisa memainkan lagu apa?” tanya Himchan dan duduk disamping Eyoung tapi duduk ditanahnya dan mempersiapkan Janggunya.

“apa?” tanya Eyoung bingung melihat Himchan yang tiba-tiba saja duduk.

“tadi kau bilang susah dapat uang karena aku. Sekarang akan kubuat kan dapat banyak uang. Oke, lagu apa yang kau tahu? Atau mulailah bermain, aku akan mengiringimu!” pinta Himchan.

“huft…” Eyoung mendesah berat. Tapi dia memang butuh uang banyak kan? Karena itu, ia pun mulai memperbaiki duduknya dan gitarnya.

“kau benar-benar bisa mengiringku?” tanya Eyoung lagi.

“kalau tidak bisa, beasiswa ku percuma!” jawab Himchan mantap, Eyoung mengerutkan mukanya.

“baiklahh…”

“…”

………………….

Malamnya, Eyoung berada dirumah sakit. Ia bergantian dengan adiknya menjaga ibunya. Eyoung duduk dikursi sambil menghitung uang hasil kerjanya tadi sore. Dia tidak menyangka bisa mendapat uang sebanyak ini. Himchan itu memang musisi yang berbakat, ujar Eyoung dalam hati. Dia kembali mengingat kejadian tadi sore yang baru pertama kali ia rasakan.

Eyoung memainkan gitarnya selama beberapa detik, selanjutnya Himchan sudah mengiringinya dengan suara Janggu. Eyoung mulai merasa aneh dengan irama itu, tapi dia tetap saja bermain. Satu dan dua orang pun berdiri menyaksikan mereka berdua bermain. Tak lama kemudian sudah banyak orang yang ada didepan  mereka dan memberikan mereka banyak uang.

“Eyoung…” ibunya membuka mata dan melihat Eyoung.

“nde? Ibu sudah bangun? Mau minum?” tanya Eyoung segera berdiri dan memasukkan uangnya dengan cepat kekantung bajunya.

“tidak… duduk kembali…” ujar ibunya sambil tersenyum. “Eyoung, tolong jaga adikmu baik-baik ya…”

“tentu saja ibu…” jawab Eyoung. “oh ya, ibu. Ini! Beberapa uangku untuk membayar rumah sakit…”

“tidak usah… kau sudah membayar uang sekolah?” tanya ibunya.

“sudah…” sebenarnya belum, jawab Eyoung dalam hati.

“simpan saja… ayahmu yang akan cari uang. Itu untukmu dan adik-adikmu saja…” ujar ibunya.

“hem… ibu, ini kerja kerasku. Mohon diterima!” pinta Eyoung.

“Eyoung…”

“aku tidak mau berpisah dengan ibu. Aku sudah pernah kehilangan ibuku. Aku tidak mau kehilangan ibu lagi…” pinta Eyoung sambil menggenggam tangan ibunya.

“tidak… kalaupun memang sudah waktunya, semua manusia pasti mati kan. Sudahlah Eyoung, simpan saja…” ujar ibunya menahan air mata Eyoung.

……………………….

3 hari kemudian, Himchan duduk ditaman setelah bermain Jjanggu dan mendapatkan banyak uang. Dia heran karena sejak 3 hari yang lalu tidak bertemu Eyoung. Disekolah, tidak ada. Ditaman juga tidak ada. Apa ibunya baik-baik saja? Pikir Himchan.

“tidak bermain?” tanya seseorang padanya.

“nde? Ah maaf ajjuma. Aku sedang tidak ingin bermain. Aku sedang banyak pikiran…” jawab Himchan tanpa menoleh siapa yang menegurnya.

“maksudmu? Ajjuma??!!” orang itu mulai marah. Himchan lalu mendongak dan melihat Gaeun dengan muka cemberut.

“oh! Mianhae. Aku tidak melihatmu. Apa yang kau lakukan disini?” tanya Himchan.

“heh… aku bosan. Temanku tidak bisa dihubungi saat ini. Karena itu aku pergi ke taman sendirian…”

“apa temanmu itu Eyoung?” tanya Himchan.

“iya! Namanya Eyoung! Kok tau?” tanya Gaeun heran.

“ada apa dengannya?” Himchan bertanya lagi.

“ibu angkatnya meninggal…” ujar Gaeun.

“ibu angkat?”

“iya! Kau ini bertanya terus! Ibunya lebih tepatnya kedua orangtua nya meninggal ketika dia berumur 10 tahun…”

“oh… pantas aku tidak pernah bertemu keluarganya…”

“kau kenal keluarganya?” tanya Gaeun.

“sudahlah… rumahnya dimana?” tanya Himchan lagi.

“kau mau kesana?”

“iya…”

…………………….

Besok paginya, Eyoung tidak semangat untuk pergi kesekolah. Tapi ayahnya mendesaknya, jadi dia pun pergi dengan terpaksa. Rasanya separuh jiwanya telah pergi (kayak lagu si ****). Dia baru saja masuk ke gerbang sekolah, tiba-tiba datang Himchan menepuk bahunya.

“gwenchana?” tanya Himchan pada Eyoung yang tidak merespon kehadiran Himchan.

“hmm…” ujar Eyoung sambil terus berjalan.

“ibu angkatmu meninggal ya?” tanya Himchan.

“hmm…”

“ayolah… kematian bukan lah akhir dunia ini kan?”

“hmm…”

“nanti sore kau ke taman lagi?”

“hmm…”

“ketaman? EYOUNG!” tegur Himchan. Eyoung tiba-tiba tersadar dari lamunannya.

“eh? Entahlah…”

“aku jemput bagaimana?” tawar Himchan.

“jemput bagaimana?” tanya Eyoung heran.

“aku kerumahmu. Kita sama-sama pergi ke taman, oke?”

“huft. Tidak perlu. Kau juga tidak tahu rumahku…” jawab Eyoung.

“aku tahu kok. Gaeun yang memberitahukanku…” ujar Himchan.

“terserahlah…” jawab Eyoung. Sebenarnya dia tidak mau pergi, tapi dia kan butuh uang. Tidak mungkin dia minta pada ayah angkatnya yang sedang bersedih kan?

“oh ya, Eyoung! Kau sudah mengingatku?” tanya Himchan.

“ingat apa?”

“kau masih belum mengingatku ya? Kalau begitu, coba lihat ini. Kurasa kau pasti ingat!” Himchan memberikan Eyoung sebuah jepitan rambut yang lumayan besar. Ini sepertinya jepitan rambut anak kecil umur 5 tahun. Jepitan rambutnya berwarna biru dan berbentuk bunga dan pita.

“apa ini?” tanya Eyoung sambil mengamati benda itu.

“kau ingat padaku?” tanya Himchan.

“benda ini saja baru pertama kali kulihat!” Eyoung mengembalikan benda itu pada Himchan.

“sudahlah kau pegang saja sendiri…” Himchan menolak benda itu dan memberikannya kembali pada Eyoung.

“baiklah… tapi aku tidak yakin kalau aku mengingatnya ya!”

………………………

Dirumah Eyoung, Gaeun dan Eyoung mengerjakan PR. Namun, sebentar lagi mereka akan pergi ke taman. Eyoung lalu membereskan kamarnya lalu mengambil gitarnya.

“OMONA!” Eyoung memukul jidatnya pelan. “aku lupa!” dia kembali ke mejanya dan mengambil jepitan rambut yang diberikan Himchan padanya.

“apa itu?” tanya Gaeun melihat benda yang dipegang Eyoung.

“itu, Himchan berikan padaku tadi pagi..” jawab Eyoung.

“wah… hubungan kalian makin dekat ya… dia memberikan kau jepitan rambut yang lucu…” Gaeun mengambil benda itu dari tangan Eyoung. “tapi bukannya ini punya anak kecil ya? Apa jangan-jangan dia sudah melamarmu?”

“ah, kau berlebihan Gaeun!” Eyoung kembali mengambil jepitan rambut itu.

“tapi, aku seperti pernah melihat jepitan rambut itu…” ujar Gaeun mulai mengingat-ingat.

“kau pernah? Di toko?” tanya Eyoung sambil tertawa, tapi dia melihat gaeun tidak tertawa. Dia lalu diam kembali.

“tidak aku melihatnya bukan di toko. Aduh! Eyoung masa kau tidak pernah lihat sih! Kayaknya aku pernah lihat!” ujar Gaeun.

“tidak. Benar kah kau pernah melihatnya?” tanya Eyoung.

“memangnya kenapa? Apa yang dikatakan Himchan padamu?”

“dia bilang, kalau aku ingat benda ini, maka aku akan ingat padanya. Apa kau mengerti? Aku tidak mengerti samasekali!” ujar Eyoung sambil membuka pintu dan mempersilahkan Gaeun untuk keluar kamar.

“entahlah. Mungkin kau pernah bertemu dengannya waktu kecil…” jawab Gaeun sambil keluar kamar.

“hem… Gaeun, coba ingat-ingat lagi ya! Aku sudah lupa!” ujar Eyoung.

“iya nenek! Kau ini cepat sekali tua! Hahaha…”

….……………….

Sorenya ditaman, mereka bermain music. Gaeun juga ikut, dia membawa sulingnya sedangkan Eyoung dan Himchan tetap pada alat music seperti biasanya. Hari ini sekali lagi dapat banyak. Mereka lalu membagi uang dengan rata.

“oh ya, kau sudah ingat?” tanya Himchan pada Eyoung yang menghitung uang yang didapatnya.

“ingat apa?” tanya Eyoung.

“jepitan rambut itu!” ujar Himchan.

“oh iya!” ujar Eyoung sambil menepuk jidatnya.

“kau ingat?” tanya Himchan HHC (Harap-Harap Cakep).

“belum…” geleng Eyoung, Himchan lalu tertunduk sedih.

“tapi! Aku sepertinya tahu!” ujar Gaeun “aku sudah berteman dengan Eyoung sejak kecil. Sepertinya aku ingat benda itu pernah dipakai…”

“oh ya? Baiklah. Kalau Eyoung tidak ingat, tolong kau ingatkan ya!” pinta Himchan.

“tentu saja…”

“dan lagi,apa kau ingat cerita ini?” tanya Himchan pada Eyoung lagi.

“apa?”

“kau mengatakan padaku bahwa hidupmu adalah music. Karena itu kau akan masuk ke sekolah music…” ujar Himchan.

“benarkah?” tanya Eyoung.

“bisa-bisanya kau lupa?!!”

“sungguh. Aku tidak ingat pernah mengatakan hal itu!” seru Eyoung.

“kata-kata itu…!” ujar Gaeun mulai mengingat-ingat.

“nah! Gaeun saja seperti familiar! Ayolah…” Himchan mulai gemas pada Eyoung.

“ya sudahlah… nanti juga aku ingat. Ayo pulang!”

………………………

Begitulah setiap sore, maaf, setiap hari Himchan selalu berusaha mengingatkan Eyoung akan kejadian masa kecil Eyoung. Berharap Eyoung akan ingat. Tapi Eyoung tidak ingat sama sekali. Seperti orang amnesia. Karenanya, dia selalu bercerita pada Gaeun yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil bahkan ketika ia di Incheon, keluarga Gaeun juga pindah saat itu. tapi Gaeun hanya diam, tidak ada dia menjawab atau memberikan komentar pada cerita Eyoung. Eyoung merasa hanya mengingat secara abstrak atas apa-apa yang diceritakan Himchan. Seperti dia suka makan udang, atau ketika dia jatuh dari pohon. Atau apapun itu.

“kalau kau sudah ingat padaku, akan kuberi hadiah…” ujar Himchan pada Eyoung ketika mereka bertemu dikantin.

“jinja? Apa itu?” tanya Eyoung.

“rahasia! Nanti kuberikan setelah kau ingat!”

……………………….

Himchan malam ini bermalam bersama sepupunya, Youngjae, yang dari Incheon. Youngjae datang bersama keluarganya untuk menghadiri pernikahan bibi mereka di Seoul. Youngjae dan Himchan hanya beda 1 tahun, jadi mereka sangat akrab dibandingkan sepupu-sepupu yang lainnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi mereka belum juga tidur. Mereka bermain kartu, sepertinya Himchan sangat tidak terima jika kalah dengan Youngjae yang hebat main kartu.

“eh Hyung, bagaimana dengan ceritamu itu?” tanya Youngjae sambil menunggu Himchan mengeluarkan kartunya.

“cerita yang mana?” tanya Himchan sambil menaruh kartunya di lantai, Youngjae lalu membalas dengan kartu lain. Himchan hanya cemberut dan kembali melihat kartu miliknya, bisa-bisa dia kalah lagi.

“yang itu, tentang gadis yang hyung sukai itu!” ujar Youngjae sambil tersenyum licik melihat raut Himchan yang mulai kesal.

“oh… bagus. Tapi dia sepertinya lupa padaku!” jawab Himchan lalu mengambil kartu lain.

“jinja? Ah, hyung memang pantas untuk dilupakan!” ejek Youngjae. Satu dua kali mereka saling beradu kartu, dan akhrinya hasil sudah terlihat.

“sudahlah…. Aku kalah lagi! ARGHHH!!! AKU MAU TIDUR!” Himchan melempar kartu-kartunya pada Youngjae. Youngjae hanya tertawa.

“kalau begitu Hyung, bagaimana kalau aku bertemu dengannya? Mungkin dia ingat padaku!” usul Youngjae sambil merapikan kartu yang berserakan.

“ide bagus. Kau kan pernah sekelas dengannya…” ujar Himchan. “akan kubawa kau bertemu dengannya nanti sore. Kami akan bertemu lagi!”

“tentu! Siapa namanya tadi?” tanya Youngjae.

“Eyoung. Namanya Eyoung!” jawab Himchan.

“ah, nde!” Youngjae naik ke ranjangnya di bagian atas sedangkan Himchan dibawah. “selamat tidur, hyung!”

“nde…”

“…”

“…”

“hyung, apa namanya benar-benar Eyoung?” tanya Yongjae lagi.

“memangnya kenapa?” tanya Himchan.

“ah, ani. Aku tidak yakin… sudahlah… besok kan aku akan bertemu dengannya!”

……………………..

Malam itu juga, Eyoung dan Gaeun mengobrol lewat ponsel. Setelah lama menunggu balasan dari Gaeun, akhirnya Eyoung mendapatkannya juga.

GE : Eyoung-ya, sepertinya aku ingat jepitan rambut itu. aku baru saja melihat foto kita ketika kecil di album fotoku. Aku melampirkannya! ^^ sepertinya aku memakainya disana.

Eyoung tersenyum melihat foto yang dikirimkan Gaeun padanya. Ini foto ketika mereka berada di Incheon tepatnya dipasar malam ketika ada festival musim panas. Eyoung kemudian heran melihat foto Gaeun dan dia yang bergandengan dan tersenyum cerah kepada kamera. Disana Gaeun mengenakan jepitan rambut berwarna biru itu.

EY : Gaeun, kenapa kau yang memakainya?

GE : molla. Mungkin aku meminjamnya darimu, aku tidak ingat punya jepitan rambut itu. +_+

EY : Nde, mungkin saja terjadi hal itu ya. Berarti Himchan pernah bertemu dengan kita, dulu -_-

GE : Mungkin… tanyakan pada Himchan… ^^

EY : Akan kutanya besok… ^^ aku akan tidur. Annyeong haseyo

GE : Annyeong haseyo ^^

……………………………..

Sore harinya, sesuai janji Himchan, Youngjae ikut pergi ke taman. Youngjae mengingat-ingat saat-saat kecil mereka. Himchan hanya diam saja membawa Janggunya. Himchan bisa melihat Eyoung dan Gaeun yang duduk dibangku dari kejauhan. Himchan lalu berhenti dan menegur Youngjae lalu menunjuk Gaeun dan Eyoung.

“itu mereka. Coba tebak, yang mana yang bernama Eyoung!” ujar Himchan pada Youngjae.

“hem… hyung, sepertinya aku tahu yang mana…” jawab Youngjae.

“benarkah? Yang mana? Yang baju kuning atau baju hijau?” tanya Himchan lagi.

“hahaha… mudah sekali. Hyung, wajah Eyoung tidak berubah sedikit pun ya, dia kan yang baju kuning itu! iya kan?!” seru Youngjae dengan pasti.

“kuning?”

………………………..

FLASHBACK ON

Himchan yang berumur 8 tahun berdiam didepan toko souvenir, ibunya sedang memilih souvenir yang bagus untuk dibawa pulang. Himchan dari Seoul, dia dan keluarga kecilnya sedang menikmati liburan musim panas di Incheon. Mereka tinggal di rumah neneknya, didekat rumah neneknya ada pasar malam, jadi mereka pergi kesana.

“hyung! Ayo kita pergi!” Youngjae, yang berumur 7 tahun, menarik tangan Himchan untuk pergi dari toko itu.

“kita pergi kemana?” tanya Himchan.

“ayo lihat ikan hias!” Youngjae menarik Himchan. “bibi, aku dan Himchan pergi dulu!”

“nde, hati-hati ya!” ujar ibu Himchan.

Youngjae membawa Himchan ketempat keramaian, lebih tepatnya keramaian anak-anak kecil yang melihat ikan hias. Youngjae ikut masuk bersama Himchan. Beberapa menit kemudian…

“Hyung, Hyung! Kita pergi melihat kembang api yuk!” ujar Youngjae menarik Himchan.

“Youngjae, kau ini tidak bisa focus pada satu hal ya?” Himchan mendesah.

“ayo! Himchan Hyung…” Youngjae membawa Himchan ke lapangan yang luas. Beberapa orang sedang menyiapkan kembang api. Himchan terdiam melihat banyak orang disana, dan dia tiba-tiba focus pada seorang anak kecil yang menggunakan jepitan rambut biru. Begitu lama Himchan melihat anak itu hingga kaget sendiri ketika kembang api menyala.

“hampir jantungku hilang!” ujar Himchan kecil sambil mengelus dadanya. Youngjae tidak mendengarnya dan terus melihat kembang api. Anak itu lalu berbalik dan berjalan menuju Himchan. Himchan kali ini malah gugup. Tapi ternyata anak tadi hanya melewatinya saja bersama temannya. Himchan lalu menepuk bahu Youngjae.

“Youngjae, kau kenal anak itu?” tanya Himchan sambil menunjuk pada anak kecil yang mengenakan jepitan rambut biru.

“heh? Mana aku tahu, memangnya aku tahu semua anak di Inche… oh! Yang itu?” tanya Youngjae setelah memastikan yang ditunjuk Himchan.

“nde, yang mengenakan jepitan rambut biru! Kau kenal?” tanya Himchan.

“keurom! Dia teman sekelasku.” Jawab Youngjae pasti.

“siapa namanya?”

“namanya….”

FLASHBACK OFF

…………………………

Ditaman, Eyoung dan Gaeun sudah menunggu sejak tadi. Eyoung memain-mainkan gitarnya. Tidak tahu harus melakukan apa, Gaeun hanya bersenandung kecil. Dia lalu berdeham pelan membuat Eyoung berhenti bermain gitar.

“ada apa?” tanya Eyoung sambil menoleh pada Gaeun.

“tidak apa-apa…” jawab Gaeun pada Eyoung yang hanya mengangkat bahunya lalu kembali bermain gitar. “ANIYA! GWENCHANA! Bukan! Bukan itu!” tiba-tiba Gaeun berteriak membuat Eyoung kaget.

“YA! Apa yang kau pikirkan sih?” tanya Eyoung geram.

“begini, mohon jangan marah padaku. Tapi sepertinya aku mengetahui sesuatu tentang Himchan dan ingatannya!” ujar Gaeun.

“nah, bukankah itu bagus?” ujar Eyoung sambil tersenyum.

“sebelumnya aku mau bertanya, kau jangan kaget ya. Jawab dengan jujur!” pinta Gaeun.

“ah, baiklah, apa yang begitu penting?” tanya Eyoung penasaran.

“kau menyukai Himchan?” tanya Gaeun.

“MWO?” Tanya Eyoung kaget, dia bahkan sampai berdiri dan membuat orang-orang yang lewat ikut kaget. Dia lalu menunduk minta maaf dan kembali duduk.

“sst… ayolah. Jawab dengan jujur. Apa kau menyukai Himchan?” tanya Gaeun lagi kali ini memelankan suaranya.

“kenapa?”

“karena ini berhubungan dengan ingatan Himchan…”

“lanjutkan saja. Kalau sudah kau jawab, aku akan menjawab pertanyaanmu!”

“huft… Eyoung, yang diingat Himchan itu… aku sudah tahu!”

“oke, apa?”

“dia mengingatku… dia sepertinya salah orang. Kejadian itu semua di Incheon. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi. Sepertinya dia salah orang. Mungkin, aku tidak tahu. Tapi, ah, Eyoung…. Apa kau menyukai Himchan?”

“…”

………………………….

“Hyung, yang kuning itu Eyoung?” tanya Youngjae lagi pada Himchan diseberang jalan.

“iya, kenapa?” tanya Himchan.

“ah, iya. Benar itu Eyoung. Tapi Hyung. Bukankah yang Hyung sukai yang mengenakan baju hijau itu?” tanya Youngjae heran.

“itu namanya Gaeun. Kau ini bagaimana? Kau kan pernah sekelas dengan mereka!” ujar Himchan mulai kesal,

“nah, yang waktu itu Hyung sukai itu kan Gaeun!” tegas Youngjae membuat Himchan kaget.

“Gaeun?”

“iya! Yang memakai jepit rambut. Hyung salah orang!” ujar Youngjae membuat Himchan terdiam dia memegang erat Jjanggunya agar tidak jatuh. “bagaimana ini? Bahkan Hyung lupa nama orang yang disukai! Bagaimana ini? Aku pura-pura tidak tahu. Aku pikir hyung mungkin bercanda membuatku lupa pada teman sendiri tapi… ahh… Hyung sudah…. Ah pabo! Bagaimana bisa hyung ini… beneran itu… ahh… hyung…”

“…” segala omelan Youngjae tidak berpengaruh bagi Himchan. Dia bagaikan tuli mendadak setelah mengetahui bahwa dia salah orang. Ada apa dengannya? Bagaimana dengan Eyoung? Apa mungkin dia mengatakan ‘maaf Eyoung, aku salah orang’? Mau ditaruh kemana muka tampannya eh mau ditaruh kemana nama baiknya? Meskipun tidak punya nama baik, tapi tetap saja.

“HYUNG! MAU KEMANA? YA! JANGAN TINGGALKAN AKU! BAGAIMANA DENGAN EYOUNG DAN GAEUN?” Youngjae berteriak memanggil Himchan yang sudah berlari pergi meninggalkan Youngjae.

Himchan pergi berbalik arah dari tempat tujuan awal mereka. Dia mau berlari sejauh-jauhnya. Apa sih yang terjadi dimuka bumi ini? Bagaimana mungkin dia sampai salah orang? Bahkan salah orang yang dia sukai? Hal bodoh mana yang lebih dari ini? Tidak, mungkin tidak terlalu bodoh. Tapi bagaimana kalau dia sudah terlanjur menyukai Eyoung. Argh! Rasanya salah orang itu kayak masuk ke perut paus terus dibawa melayang-layang dilaut paling dalam, terus dimuntahin, terus ditelan lagi sama hiu, terus dikunyah-kunyak dan tercabik-cabik.

………………………….

Sementara itu, Eyoung dan Gaeun hanya terdiam. Gaeun terus memainkan jari-jarinya, dia bingung harus mengatakan apa. Temannya ini sudah mengalami kisah percintaan yang rumit. Dia tahu kalau Eyoung menyukai Himchan bahkan tanpa Eyoung jawab. Dia juga tahu kalau Himchan menyukai Eyoung bahkan tanpa Himchan kenal. Ah! Pabo! Gaeun tidak mempermasalahkan ingatan Himchan yang salah, karena dia tidak menyukai Himchan. Dia sudah punya pacar kan?

“Eyoung…”

“Gaeun… kurasa kau benar. Hehehe… Himchan, bisa-bisanya dia salah orang…” Eyoung tersenyum kecil.

“…”

“Eyoung, kau tahu kan kalau aku sudah punya pacar. Jadi kau tidak perlu…”

“kenapa dia belum sampai? Apa kita mulai saja?” tanya Eyoung pada Gaeun mengalihkan pembicaraan.

“terserah padamu saja…” jawab Gaeun sambil tersenyum.

……………….

Sejak saat itu, Himchan dan Eyoung tidak pernah bertemu lagi kecuali disekolah. Karena kelas mereka maka mereka hanya berpapasan saja dan Himchan tidak menoleh sedikit pun pada Eyoung. Hal itu membuat Eyoung sedih. Gaeun juga berusaha tidak berbicara mengenai Himchan dan sebagainya. Setelah seminggu, Gaeun dan Eyoung mulai melewati hari seperti biasanya.

“ah, Eyoung, aku mau keperpustakaan dulu. Kau ikut?” tanya Gaeun pada Eyoung ketika mereka pergi menuju kelas dan melewati perpustakaan.

“tidak, aku tunggu didepan pintu saja…” jawab Eyoung. Gaeun pun segera masuk dan meninggalkan Eyoung didepan perpustakaan. Setelah agak lama menunggu, sekitar 10 menit, akhirnya Eyoung mulai tidak sabar.

“apa yang dilakukannya didalam sana?” Eyoung pun memutuskan masuk. Dia mencari Gaeun diantara banyaknya rak buku. Akhirnya dia melihat punggung Gaeun didekat rak buku ke10, dia mulai tersenyum jahil, ingin mengejutkan Gaeun. Dia pun mulai mendekat Gaeun dengan perlahan, baru saja 5 langkah di segera melangkah mundur dan sembunyi. Alih-alih akan mengejutkan Gaeun, dia malah terkejut sendiri. Karena Gaeun tidak sendiri disana, dia bersama seseorang. Dia bersama Himchan!

“Himchan?” gumam Eyoung tak yakin. Dia lalu menyipitkan mata dan berusaha mendengar percakapan Gaeun. Dia melihat mereka sedang berbicara serius. Tapi dia tidak bisa mendengarkan percakapan mereka dengan baik, hanya beberapa kata samar-samar. Beberapa menit kemudian, Himchan memberikan sebuah hadiah kepada Gaeun, Gaeun membuka hadiah tersebut dan tersenyum lalu menunduk, mungkin mengucapkan kata terimakasih, setelah itu berbalik untuk pergi. Eyoung segera bergerak cepat menuju pintu perpustakaan sebelum Gaeun mendahuluinya dan mengetahui sesuatu.

“…” Eyoung berhasil mendahului Gaeun dan berpura-pura sedang menunggu. Gaeun lalu menepuk bahunya.

“Eyoung! Menunggu lama?” tanya Gaeun ketika mereka berjalan menuju kelas.

“lumayan. Apa itu?” tanya Eyoung lagi melihat hadiah yang dipegang Gaeun.. sebenarnya dia tahu tapi dia berpura-pura tidak tahu.

“dari teman lamaku… mau lihat?” tanya Gaeun sambil menyodorkan hadiahnya.

“ah, tidak perlu!” tolak Eyoung.

“baiklah… oh ya, tadi ada seseorang yang ingin bertemu denganmu…” ujar Gaeun.

“nugu?” tanya Eyoung dengan gugup.

“yah, katanya jangan diberitahu. Jadi nanti saja kalau kau sudah bertemu dengannya. Nanti sore jam 5 ditaman seperti biasa…” jawab Gaeun.

“seperti biasa?” tanya Eyoung heran.

“ah iya… hehehe… maksudku taman tempat kita bermain music. Maksudku, aku tidak tahu namanya…” jawab Gaeun panik.

“kau ikut?” tanya Eyoung.

“tidak, aku ada urusan…” jawab Gaeun dengan cepat.

“baiklah…”

…………………….

Jangan lupa, kau harus berdandan yang baik nanti sore…

Pokoknya, kau harus… ah… pokoknya berdandan yang baik ya!

Aigoo… jangan bawa gitarmu!

Eyoung mulai mencerna kata-kata dari Gaeun. Apa sih yang terjadi? Kenapa harus berdandan? Tapi dia tetap juga melakukannya. Pabo! Memangnya Gaeun siapa? Kenapa harus memaksanya berdandan. Kedua ibunya tidak pernah memaksanya. Dia lalu menghela napas pelan sambil menunggu di taman sore itu dan tidak membawa gitar sesuai saran Gaeun.

“Eyoung…” Eyoung mendongakkan kepalanya melihat pembicara yang ada didepannya.

“ada apa?” tanya Eyoung pada orang itu.

“apa Gaeun tidak menyampaikannya padamu?” tanya orang itu.

“ehm…” Eyoung berusaha mencari alasan.

“ayo pergi…” ajaknya.

“kemana?” tanya Eyoung.

“ayo nonton konser!” orang itu tersenyum sambil memperlihatkan 2 tiket konser dari kantong bajunya pada Eyoung.

“Himchan, kau tahu cara membujukku…” ujar Eyoung dalam hati.

………………….

Mereka pergi menonton konser dari sebuah band indie yang disukai Eyoung. Setelah beberapa lama, mereka lalu pergi untuk membeli makanan dan bermain. Eyoung melupakan segala masalah yang dialaminya dengan Himchan. Meski tidak tahu pada apa-apa yang terjadi, tapi Eyoung berusaha merasa nyaman dengan keadaan itu. Dia terus mengikuti Himchan. Apa ini kencan?

“kenapa hari ini mengajakku?” tanya Eyoung pada Himchan ketika mereka jalan-jalan ditaman kota.

“hari ini aku ulang tahun…” jawab Himchan.

“jinja? Oh… saengil cukkayo! Bagaimana ini? Aku tidak membawa apa-apa…” Eyoung mulai panik.

“gwenchana. Kau sudah memberikan hadiah yang bagus padaku!” jawab Himchan.

“hadiah?”

“wah, bulan purnama!” Himchan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengomentari bulan yang sedang ditunjuknya diatas langit.

“kenapa kau tidak merayakan dengan yang lain?” tanya Eyoung.

“sedang tidak mau…” jawab Himchan pendek. “aku mau denganmu saja…” kata-kata Himchan membuat Eyoung berhenti berjalan.

“mianhae…” ujar Eyoung. “tapi yang kau ingat itu bukan aku. Yah, mungkin kau sudah tahu…”

“aku memang sudah tahu. Tapi tidak apa-apa…” jawab Himchan. “aku adalah orang yang harusnya minta maaf, aku memaksamu mengingatku. Hehehe… aku malu sekali…” Himchan lalu menduduk sambil tersenyum malu.

“kau sudah tahu kalau itu Gaeun?” tanya Eyoung.

“ya… rasanya senang sekali. Rupanya dia ingat padaku… padahal dulu kami jarang bertemu…” jawab Himchan sambil mengangguk. Eyoung merasa saat ini perasaannya tidak nyaman.

“baguslah…” jawab Eyoung.

“kita pergi kesana yuk!” Himchan menarik tangan Eyoung tanpa mendengar jawaban Eyoung sebelumnya. Mereka lalu pergi sambil berlari menuju sebuah jembatan kecil ditaman itu. Mereka lalu berhenti dan melihat kekolam yang ada dibawah mereka.

“karena kau tidak mengingatmu, aku tidak memberikanmu hadiah. Maaf ya….” Ujar Himchan tanpa menatap wajah Eyoung karena malu.

“gwenchana… jadi kau memberikan hadiahmu pada Gaeun?” tanya Eyoung hati-hati.

“nde, kau mau tahu apa hadiahnya?” tanya Himchan.

“tidak… tidak perlu…” jawab Eyoung cepat.

“buku diary. Kudengar dia suka menulis. Jadi kuberikan itu. harusnya kuberikan sejak 7 tahun yang lalu. Tapi aku tidak tahu dia ada dimana. Karenanya baru kuberikan sekarang…” jelas Himchan, Eyoung hanya diam mendengarkan.

“…”

“oh ya!” ujar Eyoung.

“apa?” tanya Himcahn heran.

“aku akan kembalikan ini padamu! Jepitan rambut ini” Eyoung memberikan jepitan rambut berwarna biru itu yang ada didalam tasnya.

“waeyo?”

“karena ini bukan punyaku. Kembalikan pada Gaeun…” pinta Eyoung pada Himchan yang keheranan.

“hahaha…” Himchan tertawa. “itu bukan punya Gaeun…”

“heh?”

“aku membelinya. Aku ingat bahwa Gaeun pernah memakainya. Jadi kubeli. Kau pikir aku pencuri, mengambil barang orang? Hahaha…” Himchan tertawa lagi membuat Eyoung malu.

“jadi aku harus bagaimana?” tanya Eyoung.

“dipakai!” Himchan mengambil jepitan rambut itu dan memakaikannya pada Eyoung. Eyoung hanya diam tidak bisa menolak. “ini lebih baik!”

“…”

“…”

“…”

“bagaimana hubunganmu dengan Gaeun?” tanya Eyoung.

“tidak ada…”

“bukankah kau menyukainya?”

“dulu. Lagi pula menyukai belum tentu harus bersama kan?”

“…”

“gara-gara salah orang, aku malah menyukaimu. Bagaimana ini?” tanya Himchan dengan aegyonya.

“mana aku tahu…” jawab Eyoung sedikit kesal meskipun dalam hati dia merasa senang.

“ottohke, Eyoung ya!” ujar Himchan sambil memegang tangan Eyoung. Eyoung yang kaget segera melepasnya dan berbalik badan.

“eh. Sudah jam berapa ini? Ayo pulang!” pinta Eyoung segera berjalan pergi.

“kau tidak menyukaiku?” tanya Himchan segera berjalan sehingga dia dan Eyoung berdampingan.

“…”

“Eyoung… mianhae…”

“sudahlah. Ayo pulang…” ujar Eyoung tanpa menoleh pada Himchan.

“kalau tidak menjawab, aku tidak akan pulang…” ujar Himchan sambil menghentikan langkahnya.

“kalau aku bilang tidak, nanti kau terjun ke kolam. Ayo pulang!” Eyoung terus berjalan.

“kau tidak menyukaiku? Kau membenciku?”

“siapa bilang?”

“…” Himchan segera berlari mengejar Eyoung dan merangkul pundaknya. “ayo pulang!”

“apa yang…”

“…”

……………………..

FLASHBACK ON

Eyoung kecil berumur 7 tahun pergi bersama Gaeun dan ibu Gaeun. Mereka sekarang berada dipasar malam, mereka pergi ketempat kembang api akan dinyalakan. Ibu Gaeun lalu menghentikan langkahnya.

“Gaeun, Eyoung, disini saja…” ujar ibu Gaeun menyuruh Gaeun dan Eyoung untuk berhenti.

“nde…” Gaeun dan Eyoung pun berhenti dan mereka menunggu kembang api menyala.

“…” tiba-tiba suara  kembang api pun menyala beberapa kali.

“anak-anak!” ibu Gaeun memanggil Gaeun dan Eyoung “ada ayah kalian disana! Ayo pergi!” Ibu Gaeun mulai berjalan diikuti oleh Gaeun dan Eyoung.

“eh, Eyoung, jepitan rambutmu mau lepas!” ujar Gaeun.

“benarkah?” Eyoung menatap keatas, tapi percuma karena ia tidak melihatnya. Gaeun lalu mengambil jepitan rambut itu dari rambut Eyoung.

“kau pakai saja Gaeun! Aku tidak terbiasa menggunakan jepitan rambut. Nanti ketika pulang, kembalikan…” ujar EYoung pada Gaeun.

“yasudah. Aku pakai ya!” Gaeun pun memakai jepitan rambut Eyoung. Mereka pun berjalan melewati Himchan –yang belum mereka kenal— dan Youngjae, teman sekelas mereka. Mereka lalu sampai ketempat ayah Gaeun berada.

“annyeong, kalian bersenang-senang, ya!” ayah Gaeun melihat anaknya dan Eyoung menghampirinya. Gaeun dan Eyoung hanya tersenyum. “ayo, paman akan mengambil gambar kalian…” ayah Gaeun mengambil kamera dan mulai bersiap untuk memfoto Gaeun dan Eyoung.

“katakan Kimchiii!”

“…”

“Youngjae, kau kenal anak itu?” tanya Himchan sambil menunjuk pada anak kecil yang mengenakan jepitan rambut biru.

“heh? Mana aku tahu, memangnya aku tahu semua anak di Inche… oh! Yang itu?” tanya Youngjae setelah memastikan yang ditunjuk Himchan.

“nde, yang mengenakan jepitan rambut biru! Kau kenal?” tanya Himchan.

“keurom! Dia teman sekelasku.” Jawab Youngjae pasti.

“siapa namanya?”

“namanya… ehmm…Gaeun!”

“oh, Gaeun!”

FLASHBACK OFF!

………………………..

— THE END —

……………………

Sebenarnya, yang disukai Himchan saat pertama kali adalah Eyoung, tapi Himchan hanya mengingat jepitan rambut Eyoung saja, karenanya, saat Eyoung memberikan jepitan itu pada Gaeun, dia tidak menyadarinya. Youngjae kebetulan melihat yang mengenakan jepitan rambut itu adalah Gaeun. Wah, ini gara-gara Youngjae! *lho?*

 

 

 

2 responses to “Lost Memory

Komentar ditutup.