The Perfectionist (Part 9)

perfect 9

TUJUH BELAS

Baru saja Lizzy ingin menekan bel apartemen Sehun. Sebelum akhirnya melihat tak jauh dari situ, Aaron keluar dari apartemennya. Sempat Lizzy melihat kearah Aaron beberapa lama. Lain hal dengan Lizzy, Aaron tak tahu Lizzy ada di situ hingga tidak sengaja menoleh. Aaron mengangguk kepala sekali sambil tersenyum kecil.

Lizzy beralih,dan menekan bel apartemen Sehun. Tak lama Sehun keluar.

“masuklah.” Ajak Sehun.

Mereka berdua masuk disaksikan Aaron. Setelah itulah dia pergi dari situ,melirik pintu apartemen Sehun saat melewatinya.

“kau mau minum sesuatu ?” tanya Sehun pada Lizzy.

“tidak usah.” Jawab Lizzy seraya menggeleng. Dengan nyaman dia duduk di sofa krem yang sudah tak asing baginya.

Matanya kemudian tertuju pada akuarium yang berisi 2 jenis ikan itu. Hmm… ada yang janggal.

“hei,ikannya berkurang satu yah ?” tanyanya,di iyakan Sehun dengan anggukan.

“ngomong-ngomong,kita akan mulai darimana ?” Sehun balik bertanya.

“terserah saja.”

 

“oh..ya,besok hari olimpiademu kan ?” tegur Lizzy di sela-sela pembelajaran mereka.

“hah ? oh.. iya,” Sehun menjawab dengan ragu. Dia menarik nafasnya lega.

“berjuanglah.” Kata Lizzy tanpa menghentikan tangannya yang masih menulis.

“hm.. yah.”

Setelahnya,mereka lebih banyak diam. Kalau Lizzy yang ada di kepalanya adalah tentang pelajaran yang sedang menyita konsentrasinya. Sehun,bukanlah hal tentang pelajaran. Sebuah pikiran untuk hari esok.

 

Dengan santai Sunny melambaikan tangan dari tempat tidur Lizzy saat Lizzy masuk ke kamar. Hah.. sudahlah,dia sangat capek sehabis pulang dari tempat Sehun,dan akan di tambah hal yang tak penting dari Sunny.

“kenapa ?” tanya Lizzy,melempar tasnya di tempat tidur dan mendarat tepat di sebelah Sunny.

“aku kehilangan gantungan hp-ku sejak dari pulau waktu itu,kau tahu sesuatu ?” balas Sunny bertanya.

Lizzy mengangkat bahu dan menggeleng.

“beli saja yang baru.” Sarannya.

“tidak bisa,itu dari Suho.”

Lizzypun ikut duduk di tempat tidurnya.

“dia marah kau menghilangkannya ?”

“tidak sih..,tapi kan itu berharga buatku.”

Lizzy menarik nafasnya lelah.

“hm,.. ternyata orang yang jatuh cinta bisa panic Cuma gara-gara kehilangan barang,yah ?” ejek Lizzy.

“hei ! kau jugakan pernah seperti ini ?” seloroh Sunny juga.

Mata Lizzy langsung melihatnya tajam. Yah.. karena dia juga pernah seperti Sunny. Dulu,waktu dia masih dengan Aaron.

“hei,kau masih menyimpan barang-barang pemberian Aaron dulu ?” tanya Sunny.

Tanpa menjawab Sunny,Lizzy bangkit dan menuju lemari pakaiannya. Di salah satu lacinya,ada sebuah kotak berwarna hijau. Kemudian dibukanya.

“ternyata aku masih menyimpannya.” Lirihnya dan kembali duduk di tempat tidur.

Di keluarkan satu-persatu barang-barang di kotak itu,dan satu persatu pula di tatapnya. Boneka,kartu pos,foto,semuanya adalah sejarahnya dengan Aaron. Yang terletak paling dasar pada kotak,sebuah T-shirt putih yang satunya ada pada Aaron. Meski waktu itu dia yang memutuskan Aaron,tapi dia tak punya keinginan untuk membuang semua barang yang sebenarnya membuat dia sakit hati ini. Jadinya,semua ini tersimpan sampai diapun lupa.

Sunny meraih T-shirt yang masih di amati Lizzy tersebut.

“wah.. ini masih bagus yah..,dulukan kau dan Aaron sering memakainya. Kira-kira dia masih menyimpannya tidak ?”

Lizzy membaringkan dirinya.

“jangan buat aku mengingat masa lalu,mungkin sudah di buangnya T-shirt itu.” Cetusnya.

Menurut Lizzy memang tak mungkin. Karena barang itu Cuma meninggalkan kenangan buruk bagi Aaron.

****

 

 

 

 

DELAPAN BELAS

Sehun sudah ada di dalam kelas saat Lizzy datang. Hanya dia sendiri. Anak itu memang selalu datang lebih awal dari siapapun. Lantas dia menghampiri Sehun yang memakai headset di telinganya itu. Di tepuknya bahu Sehun,otomatis Sehun tersentak.

“kenapa kau masih di sini?” tanya Lizzy. Sehun melepaskan headsetnya.

“waeyo ? ada apa memangnya ?”

Lizzy mengernyitkan keningnya heran.

“hari ini bukannya hari olimpiade Kimia itu ?”

Sehun mengalihkan wajahnya dari tatapan bertanya Lizzy. Dia berpikir agak lama untuk menjawab Lizzy. Ya.., dia belum memberitahu Lizzy bahwa ia, sebenarnya sudah mengundurkan diri dari olimpiade itu.

Kembali ia melihat Lizzy yang masih heran. Menunggu jawaban darinya.

“sebenarnya, aku mengundurkan diri dari olimpiade itu.” Jawabnya kemudian.

Mata Lizzy membelalak. Terkejut dengan apa yang dikatakan Sehun.

“kenapa kau mengundurkan diri ?”tanya Lizzy dengan setengah berteriak.

“bukan apa-apa,”

Kenapa Sehun mengundurkan diri ? padahal mereka berdua sama-sama bersemangat mengikuti olimpiade itu. Ada apa yang membuatnya berubah pikiran ?

Sekilas kemudian ia ingat. Sewaktu di atap sekolah, Sehun pernah bertanya,apakah Lizzy akan senang jika Sehun mengundurkan diri. Meski ia tak menjawab dengan kata_iya_Sehun benar-benar melakukannya.

“sudahlah,aku juga malas mengikuti..”

“pergi.” Kata-kata Sehun disela Lizzy.

Sehun mengangkat alisnya.

“ng..?”

“aku bilang pergi. Bilang pada songsaengnim kau tak jadi mengundurkan diri.”

“andwe. Lebih baik begini.”

“aku bilang pergi ! aku tak mau merasa bersalah gara-gara hal ini,”

“aku tak menyalahkanmu !”

Lizzy menarik kerah baju Sehun dan mencengkramnya kuat-kuat.

“tapi aku merasa ! selamanya,menurutku kau adalah rival! Jadi bila kau orang yang suka menyerah rasanya memuakkan. Dan lagi,itu tak sebanding denganku yang berusaha mati-matian untuk olimpiade ini,tapi kau seenaknya mengundurkan diri !”

Sehun belum membalas perkataan Lizzy. Ia masih memandang Lizzy yang wajahnya terlihat memerah. Rasa marah dan kecewa bisa dilihatnya dengan jelas disitu.

“setidaknya,kau menghargai orang-orang yang kalah oleh mu waktu itu,mereka juga punya keinginan yang kuat untuk menang. Kalau kau seperti itu malah menyakitkan hati mereka.” Lanjut Lizzy lebih perlahan.

Tangan Sehun memegang pergelangan tangan Lizzy.

“sudah kau katakana semuanya ? apa sekarang aku boleh pergi ?”

Lizzy mengangguk dan seketika itu juga melepas tangannya dari kerah baju Sehun. Lalu Sehun berlari keluar kelas.

 

Beberapa saat kemudian Sehun kembali. Dengan perasaan cemas Lizzy bertanya,

“bagaimana ?”

Tarikan nafas Sehun semakin membuatnya penasaran.

“sudah terlambat,sudah ada seseorang yang menggantikanku.”Sehun berkata sambil tersenyum.

Lizzy juga ikut menarik nafas pasrah.

“yah.. anggap saja aku memberikan kesempatan pada orang lain.”ujar Sehun.

Lizzy tersenyum. Ada benarnya juga.

***

 

THE END (D-N)

 

HAH ??! beneran nih udah D-N ? gak terasa yah…. O.k dech, makasih udah baca selama ini… bye….

 

Hehehe…. yang di atas bohong kok..! masih ada nih lanjutannya…. Tapi nanti yah…… * pasang wajah kaya penculik bayi*

 

2 responses to “The Perfectionist (Part 9)

Komentar ditutup.