Forever After (Part 3)

FOREVER AFTER (Part 3)

cats (2)

Tittle      :               Forever After (part 3)

Author  :               Taeminwoo – Nur Hayatie

Length  :               Continue

Genre   :               Sad, romantic (??), other.

Cast       :               Moon Geun Young, Kim Jong Woon a.k.a Yesung [Super Junior], Jiyeon [T-ara], Kim Jong Jin (Yesung’s brother), etc.

Ditargetkan cerita ini akan ending pada part ini. Nah mari kita berdoa bersama-sama agar cerita ini berakhir sesuai target. Berdoa…. dimulai !! -_- #hikmat…

 

………………………………….

AUTHOR POV

“ada surat untukmu” gumam Ryeowook pada Jongwoon yang sedang menonton tv. Mereka di dorm tentunya.

“nugu?” tanya Jongwoon sambil memalingkan pandangannya ke Ryeowook. Ryeowook hanya mengangkat bahu tanda tak tahu lalu menyerahkan surat itu pada Jongwoon.

Jongwoon membalik surat itu dan membukanya. Tak ada reaksi apapun yang tampak saat dia membacanya.

“apa isinya?” tanya Ryeowook.

“bukan apa-apa” Jongwoon meletakkan surat itu dengan sedikit melemparnya ke atas meja. Ryeowook penasaran dan mengambil surat tersebut. Jongwoon hanya diam saja sambil melanjutkan tontonannya.

“Jepang?!! Minggu depan!! Kau akan datang?” seru Ryeowook

“andwe” jawab Jongwoon mantap.

“kau yakin? Mungkin saja itu terakhir kalinya kalian bertemu”

“ada atau tidaknya aku disana, tetap tidak akan merubah apapun”

Ryeowook tak membalas. Dia menepuk pundak Jongwoon beberapa kali lalu pergi dari sana.

Selamat menempuh hidup baru yang indah, semoga kau bahagia Geunyoung-ah. Aku akan selalu mendoakanmu, Pikir Jongwoon.

………………………………..

                Tahun demi tahun berlalu. Baik Geunyoung maupun Jongwoon sudah tidak saling memikirkan satu sama lain. Mereka sibuk dengan aktivitas dan rutinitas masing-masing.

………………………………..

Today, i wander in my memory
I’m pasing around on the end of this way
You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more
I’m losing my way again

I’m praying to the sky i want see you and hold you more
that i want to see you and hold you more

It can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you

(It Has To Be You EngSub)

“gomawo”

PLOK PLOK PLOOOOOK….

Sebuah tepuk tangan yang meriah bergemuruh pada penghujung acara showcase tunggal Yesung malam hari ini. Semua penonton menyukai aksi panggungnya dan mereka terus berteriak memanggil nama Yesung bahkan setelah Yesung menyampaikan kesan dan pesannya kepada fans yang selama ini selalu mendukungnya hingga akhir. Mereka terlihat masih belum puas menyaksikan penampilan Yesung yang berlangsung selama beberapa jam dan terus memanggil namanya saat dia pamit dan meyingkir dari atas panggung. Yah memang seperti itulah para fans, mereka akan selalu merindukan sosok idolanya.

Yesung berjalan kebelakang panggung sambil meneguk air putih yang diberikan oleh salah seorang staff. Dia tampak kelelahan dan berkeringat.

“oppa…” panggil seorang yeoja dari samping.

“ng, Neon? Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Yesung heran.

“aku kabur diam-diam setelah perform” sahut yeoja itu sambil tersenyum nakal.

“ya aku bisa lihat itu” balas Jongwoon. Yeoja itu masih mengenakan kostum panggung dengan ditutupi jaket kulit yang panjang hingga menutupi pahanya. “kau tidak boleh begitu”

“harus boleh. Bagaimana mungkin aku tidak hadir di acara showcase terakhirmu. Ini adalah momen terpentingmu dan aku harus ada untuk mendukungmu” yeoja itu menggandeng lengan kanan Yesung, mereka berjalan perlahan menuju ruang istirahat.

“dengan kau mendukungku saja aku sudah sangat senang. Kembalilah sebelum manager mu datang kemari dan mengira aku telah menculik artisnya”

“andwe. Aku akan kembali jika aku mau. Kau jauh membutuhkanku dibandingkan T-ara”

“yang benar saja, aku tidak berkata begitu”

“ya!! Jadi kau tidak suka kalau aku datang kemari?!” yeoja itu marah dan melepas gandengannya.

“hahaha opso. Aku hanya bercanda, baiklah kau menang” Yesung mengambil tangan yeoja itu lalu meletakkan dilengannya kembali. “sekarang apa yang kau inginkan?” sambung Yesung.

“mmm untuk saat ini tidak ada, aku hanya ingin berdua denganmu”

Mereka sampai pada ruang peristirahatan, Yesung membuka pintu lalu mendahulukan yeoja itu masuk.

“benarkah kau akan menghentikan karir menyanyi mu sampai disini? 35 tahun bukan halangan untuk tidak menyanyi lagi”

“bukan halangan tapi suatu alasan. Aku lelah, sudah saatnya aku beristirahat”

“keure, setelah ini apa yang akan kau lakukan?”

“mollaseo, rencananya aku akan menulis lagu saja untuk artis-artis baru”.

Si yeoja mengangguk paham. “ngomong-ngomong, kau tidak berniat untuk menikah? Bahkan temanmu saja ada yang telah memiliki anak kan?” tanyanya dengan perihal lain.

“aku belum memikirkan sampai kesitu. Ntahlah, kurasa tak kan ada yang mau dengan mantan penyanyi tua yang pengangguran ini” sambung Yesung merendah.

“siapa bilang? Seorang yeoja rela menunggu selama 2 tahun  demi mendapatkan cintamu”

“Jiyeon-ah, berapa umurmu sekarang?”

“25. Wae?”

“kau tahu seberapa jauh perbedaan umur kita?”

“mm 10 tahun?”

“dan itu artinya aku sudah terlalu tua untukmu, bahkan aku pantas menjadi pamanmu. Apa yang bisa diharapkan oleh diriku? Kau hanya akan menyesal”

“aku tidak mengharapkan apapun, memangnya kenapa kalau usia kita terpaut jauh? Cinta tidak memandang usia. Aku hanya ingin kau mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Itu saja cukup”

“benarkah hanya itu saja? 5 tahun lagi aku benar-benar akan tua”

“aku tidak peduli!!”

“wajahku juga akan menua dan keriput”

“itu memang wajar kan”

“dirambutku mulai tumbuh uban”

“tidak apa-apa”

“tulangku mulai keropos”

“yang itu juga aku tidak peduli”

“aku tidak akan sanggup berjalan jauh lagi dan kulitku mulai mengerut”

“saat itu terjadi, aku akan ada untuk merawatmu”

“akhirnya aku menjadi kakek-kakek tua yang menyedihkan dan merepotkan”

“….” Jiyeon tak menjawab, dia memandang yesung dengan serius. “Gwenchana, saat itu aku juga adalah nenek tua yang akan setia untuk merawatmu” balas Jiyeon.

Yesung terbungkam.

…………………………………

~5 years later~

Cklck…

“kau rupanya, ada apa?”

“apa harus ada perlu baru boleh aku datang kerumahmu?”

“… masuklah” Yesung minggir dari pintu dan membiarkan Jongjin masuk.

“Omma khawatir padamu, dia menyuruhku kemari untuk melihat keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?”

“apa aku sedang terlihat sakit sekarang?”

“yah sepertinya kau baik-baik saja. Ngomong-ngomong hari minggu pulanglah, Omma ingin anak-anaknya berkumpul dan makan bersama. Acara keluarga, sepertinya Omma rindu pada kita dan khususnya padamu yang takkan pulang sebelum dipanggil”.

Jongjin lalu duduk di sofa, Yesung mengikuti dengan duduk di seberang meja.

“begitukah, baiklah. Tapi mungkin aku akan datang terlambat”

“kau punya kesibukan apalagi? Bukannya kau sudah vakum?”

“ada beberapa hal yang harus ku urus”

“ya terserah kau sajalah” Jongjin berdiri dan bersiap pergi dari situ “tapi pastikan keterlambatanmu tidak lama”

“eoo. Kau baru datang sudah mau pergi lagi? Sesibuk itukah?” Yesung turut berdiri dan mengantarnya hingga depan pintu.

“tidak juga. Sebenarnya tujuanku bukan kesini, ada janji lain yang harus kupenuhi dan aku menyempatkan diri untuk mampir sebentar”

“jadi kau kesini hanya untuk memberitahukan itu? Cih, pada dasarnya kau mampir karena ada perlu juga”

“yes brother” Jongjin tersenyum “baguslah kalau kau mengerti”

“apa-apaan itu, kalau begitu lain kali kau harus membuat janji dulu baru kau boleh datang kemari. Kha !!”

“hahaha. Oya jangan lupa, pastikan kau datang bersama Jiyeon. Ok!”

Jongjin lalu berjalan pergi. Yesung tak menjawab, dia lalu menutup pintunya dan masuk kedalam.

………………………………..

                Hari yang cerah, tidak begitu terik dan tidak juga mendung, sangat bagus untuk berjalan kaki menikmati suasana kota Seoul yang indah.

BRUUKK… seseorang menabrak Jongwoon (atau Yesung #dari sini kita panggil dia Jongwoon) dari belakang. Seorang wanita yang berlari sambil mengenakan pakaian rumah sakit dan memegang boneka ditangannya.

“nona Moon !!” panggil seorang suster yang baru saja berlari melewati Jongwoon. Tak lama kemudian suster itu berhasil mendapatkan pasiennya dan berusaha membujuk wanita itu untuk kembali.

“a andwe andwe…” rengek wanita itu yang terdengar samar oleh Jongwoon.

Beberapa menit kemudian wanita itu diam dan menurut setelah mendengar beberapa patah kata dari susternya. Sambil dipegang oleh si suster, mereka berbalik dan kembali berjalan melewati Jongwoon yang sempat terdiam melihat mereka.

‘orang gila??’ pikir Jongwoon.  Tak mau ambil pusing dia lalu meneruskan langkahnya.

………………………………..

TING TOONG…

“kau sudah datang, hanya sendirian?” tanya omma Jongwoon pada Jongwoon setelah membukakan pintu untuknya. Hari itu adalah acara keluarga yang dimaksudkan Jongjin.

“eoo” jawab Jongwoon singkat.

“Jiyeon?”

“dia sibuk. Aku tidak berani mengajaknya”

“mmm. Kalau begitu ayo masuk, semua sudah menunggumu”.

Semua anggota keluarga Kim berkumpul dan mengambil posisi masing-masing di meja makan yang di gelar dihalaman rumah mereka. Canda dan tawa pun turut menemani hangatnya kebersamaan keluarga. Tentu saja pertemuan itu bukannya tidak ada maksud, ditengah-tengah canda tawa mereka, pak Kim memberitahukan kabar gembira bahwa anak bungsunya yaitu Jongjin akan segara bertunangan dan akan menikah secepatnya. Kira-kira itulah intinya kenapa seluruh anggota keluarga diminta berkumpul hari ini.

“chukkae” ucap Jongwoon pada Jongjin adiknya. “tapi aku merasa tidak dianggap dirumah ini”

“wae geure?” tanya jongjin heran.

“bisa-bisanya kau tidak memberitahukan apapun padaku terlebih dahulu, adik macam apa kau” kesal Jongwoon.

“hehehe mian hyung. Aku memang berencana membuat kejutan untukmu”

Mereka terdiam sejenak sambil memperhatikan kesibukan yang lain.

“bagaimana denganmu?” tanya Jongjin.

“apanya yang bagaimana?”

“kapan kau akan menyusul?”

“…”

“kenapa kau tidak mengajak Jiyeon kemari hah? Kapan-kapan perkenalkan dia pada ayah dan ibu secara formal. Sampai kapan kau mau berkencan terus dengannya”

“ya! Apa kau sedang mengajariku?”

“tidak, aku hanya sedang mendikte mu #sama aja kali. Jiyeon tidak mungkin akan selalu menunggumu, suatu saat dia pasti akan menyerah juga jika kau selalu seperti ini. Dan kuyakin saat kau menyesalinya usiamu benar-benar sudah tua”

“…” Jongwoon tampak sedang berpikir.

“hei, jangan katakan kau masih memikirkan Geunyoung?!!”

Handphone Jongwoon berdering, tanpa menjawab pertanyaan Jongjin dia langsung mengangkat telponnya.

“ye Jiyeon-ah ada apa?… belum lama, kira-kira baru sejam yang lalu… eoo kkokjong hajima selesaikan saja pekerjaan mu baru kau kesini… eoo”. Jongwoon menutup telponnya.

“dia akan kesini?” tanya Jongjin.

“kalau sempat, dia sedang sibuk sekarang” jawab Jongwoon.

“begitukah. Ya Jongwoon, jangan sakiti dia lagi”

“mm?”

“maksudku kau berbahagialah bersamanya dan lupakan saja masa lalu mu. Itu lah yang terbaik buat masa depanmu”

“…Jongjin-ah, kau tahu sejak tadi kau itu banyak bicara? Aku belum cukup tua untuk sekedar mampu menutup mulutmu”

………………………………..

‘Aku tidak bisa jika itu bukan dirimu. Aku tidak bisa tanpamu.

Tidak apa-apa jika aku terluka untuk sehari dan setahun seperti ini.

Tidak apa-apa sekalipun perasaanku terluka. Ya karena aku hanya mencintaimu’.

 

Tanpa sadar aku membuat lagu itu untukmu. Aku benar-benar mencintaimu dan sudah kukatakan  demikian, tidak apa-apa bahkan jika aku terluka untuk selamanya karena aku hanya mencintaimu saja.

‘Kau dimana? Dapatkah kau mendengar suaraku? Untukku…

Jika aku hidup dikehidupanku lagi, seandainya aku lahir dan lahir lagi,

aku tidak bisa sehari saja hidup tanpamu,

Kau satu-satunya yang akan kupertahankan, kau satu-satunya yang akan kucintai,

Ya karena aku hanya mencintaimu..’

.

Dimana pun kau berada, kuharap kau baik-baik saja dan hidup dengan bahagia.

 

“Jongwoon oppa !”

Sebuah suara memanggil Jongwoon dan membuyarkan lamunannya. Jongwoon yang sedang berjalan melewati halte bus mendengar namanya dipanggil lalu berhenti dan menoleh kesumber suara.

“oppa kau kah itu?” tanya seorang yeoja yang barusan memanggilnya.

Untuk beberapa saat Jongwoon berpikir dan tampak tak yakin dengan dugaannya. “Moon Ji Young?” tebaknya.

“wah benar itu kau, oppa bagaimana kabarmu?” tanya yeoja itu dengan senang.

“baik, seperti yang kau lihat. Waaah aku hampir saja tidak mengenalmu. Kau benar-benar berbeda sekarang, lebih cantik dan tambah dewasa” gurau Jongwoon berbasa-basi.

“hehehe tidak perlu memuji tapi terima kasih” balas Moon Ji Young.

“oya bagaimana kabarmu?”

“aku baik-baik saja”

“baguslah kalau begitu. Mmm…” jongwoon ingin mengatakan sesuatu tapi tampak ragu-ragu.

Ji Young diam menunggu.

“Geunyoung bagaimana? Apa dia juga baik-baik saja?” tanya Jongwoon pada akhirnya.

“eonni… hari ini dia mencoba untuk kabur lagi”

“mworagu? Kabur kemana?”

“oo? Jongjin oppa tidak memberitahu mu?”

“memberitahu apa? Apa terjadi sesuatu padanya?”

Belum sempat menjawab, bus yang ditunggu Jiyoung telah datang. “mian oppa lain kali saja kita bicara ya. Annyeong” pamit Jiyoung bergegas.

“andwe, chakkaman” tahan Jongwoon. “ceritakan padaku apa yang terjadi pada Geun young”

………………………………..

                Jongwoon memasuki sebuah rumah sakit dengan langkah berat. Rasa tak percaya tergambar jelas diwajahnya, dengan ragu-ragu dia tetap mengikuti seorang suster yang menuntunnya menuju sebuah kamar.

       “beberapa tahun lalu Jang Geunsuk menggugat cerai eonni dengan dalih eonni tak dapat memberinya kuturunan” ingat Jongwoon pada perkataan Jiyoung adik Geunyoung. “sebenarnya eonni sudah pernah hamil bahkan hingga dua kali,tapi keguguran dan Geunsuk kecewa karenanya, eonni sering menghubungiku dan menceritakan keluhannya selama di Jepang. Dia bilang semenjak keguguran itu Geunsuk berubah sikap terhadapnya”.

“ini kamarnya tuan” ucap suster itu menunjukkan sebuah kamar pada Jongwoon.

“nde humassimida” balas Jongwoon. Pelan-pelan Jongwoon memegang gagang pintu dan membukanya. Dari dalam tampak seorang wanita yang sedang asyik bermain sendiri dengan bonekanya, rambutnya yang panjang menutupi hampir seluruh wajah. Rambut itu tampak kumal dan tak terawat, begitu juga dengan dirinya.

 

FLASHBACK ON

“pada kehamilan pertama eonni keguguran karena salahnya yang tak bisa menjaga diri,dari situlah karena kecewa Geunsuk mulai berhubungan dengan wanita lain dan eonni tahu itu. Tapi eonni diam saja karena di Jepang tak ada tempat baginya untuk melarikan diri selain mengadu padaku melalui telepon” jelas Jiyoung.

“apa orang tuamu tahu? Kenapa kalian tidak menjemputnya pulang ke korea saja kalau selama disana Geunsuk tidak menjaganya dengan baik”.

“eonni yang tidak mau, dia melarangku untuk memberitahu orang tua kami, dia memohon sambil menangis dan dia selalu begitu setiap kali menelepon, aku tidak tahan tapi juga tidak tahu harus berbuat apa” suara Jiyoung mulai serak menahan air mata.

“….”

“untuk kedua kalinya eonni berhasil hamil lagi tapi Geunsuk sudah tidak perduli, dia bahkan berani membawa wanita lain kerumah mereka. Mungkin karena tekanan batinlah dia kembali keguguran. Geunsuk lalu menceraikannya dengan beribu alasan dan tuduhan. Eonni bisa apa? Siapa yang bisa membantunya disana sedang dia tak punya siapapun untuk dimintai tolong. Setalah perceraian itu kondisi eonni memburuk dan dia semakin tertekan, akhirnya kami membawa dia pulang ke Korea dan terpaksa memasukkannya kerumah sakit jiwa. Geunsuk menghilang entah kemana…”

FLASHBACK OFF

 

Dengan perlahan Jongwoon masuk kedalam kamar sambil memperhatikan wajah wanita itu. Karena hembusan angin rambutnya tersingkap dan tampak jelaslah terlihat siapa wanita tersebut. Sontak Jongwoon terdiam kaku, matanya membelalak.

“kurang ajar kau Jang Geunsuk” umpat Jongwoon dalam hati. Tangannya mengepal dengan kuat seperti hendak memukul sesuatu. Sambil menahan amarah, perlahan Jongwoon melangkah lagi untuk mendekati wanita itu.

Jongwoon berdiri tepat dihadapan wanita itu, tapi wanita tersebut tidak menyadari kehadiran Jongwoon karena terlalu sibuk dengan boneka kecilnya. Dia memperlakukan boneka itu seolah-olah bayi yang harus selalu digendong.

Jongwoon mencoba menyentuhnya.

“siapa kau?” tanya wanita itu saat menyadari kehadiran Jongwoon.

“sahabat lamamu, kau lupa?” gurau Jongwoon sambil mengendalikan suaranya agar tetap terdengar normal. Hatinya benar-benar terluka melihat ini.

“aku tidak punya teman”. Wanita itu memainkan bonekanya kembali. “menjauh dari ku!!” bentaknnya saat Jongwoon mencoba duduk disampingnya.

“Moon Geunyoung ini aku, Kim Jongwoon. Kau lupa? Dulu kita sering kesekolah bersama dan bermain-main bersama. Kau ingat?”

“tidak! Aku tidak punya teman seperti kau, pergi!!”

“cobalah  untuk mengingatku, kita ini sahabat”

“tidak!! Pergi kau!!”

Geunyoung ketakutan, dengan membawa bonekanya dia berlari keluar secepat mungkin. Dengan sigap Jongwoon mengejarnya diikuti oleh beberapa suster yang melihat. Mereka berlari hingga kejalan raya.

Tak beberapa lama Geunyoung berhasil ditangkap oleh jongwoon.

“tidak, jangan ambil anakku, kumohon. Ambillah semua yang kau mau tapi jangan ambil anakku” Geunyoung memohon sambil menangis.

Wajah Jongwoon memerah, matanya berair. Dia lalu memeluk Geunyoung. “tenanglah, tidak akan ada yang ingin mengambil anakmu” ucapnya. Sebisa mungkin Jongwoon menahan airmatanya agar tak keluar. “ayo kita kembali” bujuk nya.

“tidak” Geunyoung menolak tubuh Jongwoon dan berusaha kabur lagi tapi Jongwoon memegang tangannya. “kau ingin mengambil anakku kan! Siapa yang menyuruhmu? Jang Geunsuk?. Pergiiii!!”. Geunyoung berteriak sejadi-jadinya lalu jatuh pingsan. Dengan cepat Jongwoon menahan tubuh itu agar tak terjatuh ketanah lalu menggendongnya kembali kerumah sakit.

“jadi yang waktu itu kau? Seandainya aku tahu lebih awal tentu kau tidak akan semenderita ini. Jeongmal mianhe” pikir Jongwoon yang mengingat sekali lagi bahwa dia pernah bertemu seorang wanita gila yang berlari menabraknya saat dia hendak kerumah ibunya. Dia baru menyadari bahwa wanita itu adalah Geunyoung.

………………………………….

       “nona Moon sebenarnya tidak bisa dikatakan gila, dia hanya depresi berat”

“…” Jongwoon diam memperhatikan penjelasan dari dokter.

“mungkin karena masalahnya yang begitu sulit dia hadapi sehingga dia tidak bisa mengontrol diri dan jadi hilang kendali. Tapi keadaannya sudah parah, jika tidak ditangani segera maka dia benar-benar akan melupakan siapa dirinya dan orang sekitarnya…” lanjut si dokter. Seterusnya Jongwoon tidak memperhatikan lagi berbagai penjelasan ilmiah dari dokter tersebut karena pikirannya terbang kemana-mana. Terlalu banyak hal yang difikirkannya sehingga membuat dia termenung. Berfikir apakah itu, ntahlah. Yang jelas semua kini tentang Moon Geun Young.

………………………………..

       “dari mana saja kau?” tanya Jongjin seraya berdiri dari duduknya saat melihat Jongwoon masuk dari balik pintu. Sudah sejak tadi Jongjin menunggu Jongwoon di rumahnya.

“ada apa? Aku sedang lelah sekarang” jawab Jongwoon pelan sambil berjalan melewati adiknya.

“Jiyeon mencarimu kemana-mana, dia khawatir selama berhari-hari kau tidak menghubunginya untuk mamberikan dia kabar” jelas Jongjin.

Karena terlalu sibuk mengurusi Geunyoung, Jongwoon bahkan melupakan Jiyeon. Dan dia baru menyadarinya.

“katakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Ah tidak, aku akan menemuinya besok” usul Jongwoon.

“keure? Baiklah. Bagaimana kalau kuberi tahu saja Jiyeon sekarang? Aku akan menelponnya untuk datang kemari”. Jongjin mengambil handphone nya dan bersiap menelpon.

“tidak usah!” cegah Jongwoon. “aku benar-benar lelah sekarang. Besok pagi aku akan menghubunginya dan bertemu dengannya. Kau puas? Nah sekarang pergilah”. Jongwoon membimbing adiknya agar segera keluar dari rumahnya.

“ ah tapi… kau yakin?” tanya Jongjin tak yakin sambil menahan diri.

“saaangat yakin!!” Jongwoon mendorong tubuh adiknya agar segera pergi. “gwenchana, kha… annyeoong…” ucapnya saat mereka sampai didepan pintu keluar.

Jongwoon langsung menutup pintunya dan berdiri menyandar di pintu tersebut untuk memastikan bahwa adiknya tidak akan masuk lagi. Kemudian dia pergi menuju kamar dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan.

…………………………………..

       “Jongwoon oppa!” panggil Jiyeon sambil melambai di pintu masuk sebuah restoran. Dia lalu menghampiri tempat duduk Jongwoon sambil tersenyum senang.

Jongwoon balas tersenyum. Pagi ini mereka janji bertemu di restoran ini sambil sarapan. Jongwoon yang mengajak.

“oppa selama ini kau kemana saja? Apa kau baik-baik saja? Kenapa tidak menghubungiku? Kau bahkan tidak memberi kabar apapun” ujar Jiyeon dengan beribu pertanyaan yang membuatnya khawatir selama ini.

“sebelum ku jawab pertanyaanmu, bagaimana kalau kita sarapan dulu?? Aku lapar” usul Jongwoon dengan halus sambil tersenyum.

Jiyeon menatap kesal Jongwoon, ingin marah karena pertanyaannya tidak segera di jawab tapi tidak bisa. Keramahan Jongwoon membuatnya pasrah dan membatalkan niat marahnya. Jadi dia hanya memanyunkan bibir dan mengangguk setuju.

Mereka lalu memesan beberapa makanan dan minuman.

Jongwoon pandai dalam bercerita sehingga mampu membuat Jiyeon  melupakan niat awalnya untuk menginterogasi Jongwoon. Tidak ada pertanyaan rasa khawatir lagi dari Jiyeon, mereka malah sarapan sambil bercerita dan sesekali tertawa.

“jinjjayo? Hahaha itu konyol sekali” komentar Jiyeon.

Tiba-tiba Jongwoon merasakan handphone nya berdering, dia lalu merogoh saku celana nya. “chakkaman”

“hm” Jiyeon mengangguk

“yobseyo?”

“oppa…” panggil si penelpon.

“ye Jiyoung-ah, wae??”

“eonni… dia… bisakah kau datang saja kemari?”

       “mian kalau sekarang tidak bisa. Ada apa dengannya? Dia ngamuk lagi?”

“animida, kalau hanya ngamuk saja untuk apa aku menelponmu, hiks” suara Jiyoung bergetar.

“kalau begitu kenapa? Dia kabur lagi?” Jongwoon mulai khawatir.

“yy yee… oppa eottokhe? Sejak kemarin eonni belum juga ditemukan, sekarang polisi turut mencarinya. Eonni benar-benar menghilang. Eottokheyooo?!!” Jiyoung mulai menangis.

Jongwoon benar-benar khawatir sekarang. Dengan segera dia  bergegas berdiri dan pergi.

“oppa wae geure?” tahan Jiyeon sambil memegang tangan Jongwoon. Dia bingung dengan tingkah Jongwoon.

Sekali lagi. Dia hampir melupakan Jiyeon sekali lagi. Bahkan kali ini hampir lupa bahwa Jiyeon sedang bersamanya.

“ah? A a ani… mari lanjutkan sarapan kita. Sampai dimana tadi?” tanya Jongwoon. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk. Pikirannya sangat kacau sekarang.

“wae geure? apa sesuatu sedang terjadi?” tanya Jiyeon karena melihat wajah gusar Jongwoon.

“….” Jongwoon membungkam, bingung apa yang harus dilakukan.

Haruskah dia tetap tinggal dan melanjutkan sarapannya demi seseorang yang mencintainya? Atau malah pergi demi menemukan seseorang yang dia cintai?. 1 hal yang pasti, apapun pilihan Jongwoon jelas akan menyakiti salah satunya.  Meski tidak memilih sekalipun, keputusannya akan tetap menjadi sebuah pilihan yang akan memihak pada Geunyoung ataupun Jiyeon.

TBC

………………………………….

                Jeonmal mianhe, ternyata saya belum bisa menamatkan FOREVER AFTER di part ini. Ada beberapa hal yang ingin saya tambahkan karena jika di tamatkan begitu saja pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai penyelesaian beberapa konflik. Jadi yah begitulah kira-kira. Mohon dimaklumi keteledoran author pabo ini^^.

Btw, saya mau tanya nih ke reader-reader atau para reader sekalian yang saya cintai dan hormati #kebanyakan gaya. Menurut kalian jika berada diposisi Jongwoon, harus memilih antara tinggal demi seseorang yang mencintaimu atau pergi menemui orang yang kau cintai. Mana yang akan reader pilih??

Tinggalkan komentar dan jawab pertanyaan saya ya. Jangan pergi sebelum meninggalkan pesan dan kesan. Pokoknya tinggalkan jejak dulu, harus!! Saya memaksa….

Bye bye……………

12 responses to “Forever After (Part 3)

  1. Ihhh tega bgttt yesung sm jiyeon ….
    Ksian jiyeon udh nerima sgala kekurangan dan klebihan yesung … setia nunggu masaa tba2 mentang mentang masa lalu dtg lg .. melupakan jiyeon seketika ..ksiann jiyeon eonniny …

    • ahhh kamyu betul banget! Yesung jahat…
      tapi dalam cerita ini, Yesung itu lebih milih cinta pertama #kayak aku… hehehe
      Thanks for coming! ^^

  2. Qlw Q cndrung lbh memilih mnemui cnta Q,pa lg org yg Qt cntai mncntai Qt.Pa lg ksah moon yg bnr2 cnta ma yesung tp yesung tdk pham dgn isi hati ny.
    Kshn bnr moon,,hrs mnderita.

  3. sbnrny yg sgt mnderita tuh moon,,dr awal sblm yesung jd artis dy dgn sbr mnnti yesung.
    chap brktny kpn publish?
    truz brp chap lg chinggu?

  4. ikuti org yang dihatinya. menurutku itu lebih baik untuk sementara ini.
    setidaknya misalnya akan terjadi hal yang tidak diinginkan tidak akan ada penyesalan yang kedua kali.

Komentar ditutup.