HeartBeat

cats 28
(First you made my heart beat. Then you beat my heart.)

……………………………..

Author:                        Yesunggyu – Amalia Laili

Length :           one shoot

Genre   :           Sad, Romantic, Songfic, humor #readers ngasah golok

Cast     :           Moon Jongup, Lee Hayi (Lee Hi), etc

Annyeong semuanya, daku kembali membawa Dada Mato yang kece ini bertemu dengan Lee Hi yang cetar membahana dalam FF. ah, rencana sih buat Songfic, tapi kalau gak nyambung atau gak jelas, salahin aja Tablo Epik High #mwo?. hehehe… diharapkan kepada para readers untuk tidak muntah-muntah setelah membaca FF gaje bin ganyam ini. *bow90. ^^

……………………….

Heartbeat beat beat Ooh ooh ooh ooh.
Heartbeat beat be-e-e-eat Ooh ooh ooh ooh.
Heartbeat beat beat Ooh ooh ooh ooh.
Heartbeat beat beat Ooh ooh ooh ooh.

……………………..

Hayi kali ini harus menunggu lagi di depan sekolah menunggu Jongup. Dia dan Jongup sudah pacaran 2 minggu yang lalu. Seharusnya Jongup yang menunggu, karena Jongup adalah laki-laki, kan? Tapi Hayi baru ingat kalau hari itu, Jongup ada jam tambahan. Hayi mendesah lagi.

“Hayi?” tegur Jongup yang baru saja keluar dari sekolah. “kau menungguku?”

“tidak lihat?” tanya Hayi.

“mianhae. Kau tidak perlu menungguku, sebenarnya…”

“…” Hayi hanya diam karena tidak tahu mau bilang apa. Jadi, Jongup hanya tersenyum melihat Hayi.

“ayo pulang… kau mau pergi ketempat lain?” tanya Jongup.

“tidak… ayo pulang…” perasaan Hayi kembali baik melihat senyuman Jongup.

…………………..

5 hari kemudian,

Hayi pulang bersama Jiyoung, teman sekelasnya. Jongup pulang terlebih dahulu karena ada urusan penting, katanya. Hayi dan Jiyoung hanya diam saja.

“Hayi…” sapa Jiyoung memulai pembicaraan karena merasa tidak nyaman dengan keadaan dingin.

“hem?”

“apa kau nyaman?”

“nyaman apa?” tanya Hayi heran pada pertanyaan Jiyoung yang nampaknya berhati-hati dalam bertanya.

“nyaman dengan Jongup…”

“tentu saja!” jawab Hayi sambil tersenyum, Jiyoung hanya mendesah melihatnya. Harusnya ia tahu kalau itu jawaban Hayi.

“tapi Hayi, aku tidak melihat hal yang baik…”

“maksudmu?”

“maksudku, ketika kalian bertemu atau bisa kalian katakan… ‘kencan’” Jiyoung menekankan kata kencan serta mengisyaratkannya dengan kedua jarinya yang ditekukkan. “kalian hanya diam tanpa kata. Jarang sekali berbicara…”

“memangnya salah?” tanya Hayi polos, ingin rasanya Jiyoung memukul Hayi.

“Ya Tuhan, Hayi! Apa itu orang yang sedang pacaran? Bagaimana mungkin kalian bisa pasif begitu?”

“kau mau aku aktif? Agresif?” tanya Hayi dengan mengeryitkan keningnya. Jiyoung langsung merinding.

“ah, mian mian…” Jiyoung menggelengkan kepalanya. “maksudku, apa tidak ada yang ingin kau katakan pada Jongup?”

“tentu saja ada! Banyakkkk sekali… tapi entah kenapa aku tidak bisa mengatakannya padanya. Aku dan dia lebih sering berkomunikasi lewat handphone!” jawab Hayi sambil tersenyum kecil.

“kau puas dengan itu? dasar aneh… kalau aku jadi pacarmu, dalam waktu 3 hari, sudah kuputuskan kau!” ujar Jiyoung.

“tidak mungkin…” jawab Hayi.

“wae?”

“kau kan perempuan…”

“ishh!”

……………………

10 hari kemudian,

Saat ini dia sedang duduk diam didepan jendela dilorong sekolah. Melihat rintik-rintik hujan sambil mengingat Jongup. Hayi mencoba bertahan dengan kehidupannya bersama Jongup. Entah kenapa akhir-akhir ini Jongup lebih sering meninggalkannya. Jarang sms, jarang nelpon! #Jongup:aku gak punya pulsaaaa. Tapi Hayi terus berfikir positive. Jongup kelas 3 SMA sekarang, sulit baginya memiliki waktu bebas. Punya waktu bebas bagi Jongup adalah untuk bermain sepak bola. Tidak ada rasanya bagi Hayi untuk Jongup meluangkan waktu untuknya.

“keseringan melamun bisa membuat orang cepat tua!” tiba-tiba muncul sebuah lollipop yang lumayan besar dan menutup pemandangan Hayi, Hayi lalu menoleh kekanan kearah suara. Disampingnya berdiri Jongup yang menyodorkannya lollipop sambil tersenyum manis.

“mwo?” tanya Hayi. “kenapa kau ada disini? Tidak belajar?”

“waeyo? Tidak boleh?” Jongup menyandarkan tangannya di jendela sambil menatap keluar. “aku bolos.”

“wae! Andwe! Pergilah belajar. Kau sudah kelas 3 tapi malah bolos. Kalau tidak lulus bagaimana?” ujar Hayi kesal.

“kau ini bagaimana, kau marah ketika aku tidak ada waktu untukmu, tapi saat aku mencoba meluangkan waktu, kau malah marah!” Jongup menatap Hayi sebentar, lalu kembali menatap keluar.

“…” benar yang dikatakan Jongup, kenapa Hayi bisa sekesal ini padanya? Hayi hanya diam.

“kau tidak mau ini?” tanya Jongup sambil mengayunkan lollipop itu didepan Hayi. “kalau tidak mau, aku akan memakannya…”

“eh, tidak jadi. Aku mau!” Hayi segera meraih lollipop itu dan berusaha membuka bungkus plastiknya dengan cepat namun karena tergesa-gesa, lollipop itu malah jatuh kelantai. Hayi lalu menunduk untuk meraihnya. Jongup melihat kebawah dan…

“…”

“….”

“…” tangannya berhenti melihat kaki Jongup menghalanginya.

“YA!” Hayi berteriak kesal dan segera bangkit.

“hehehe… kau marah? Aku yang ambil…” Jongup mengambil lollipop dengan menunduk lalu membukakannya untuk Hayi.

“tidak romantis ya?” tanya Jongup sambil tersenyum lagi.

“sudah sudah, jangan bicara…” geleng Hayi sambil memakan lollipop yang dipegangnya.

Hari ini adalah hari yang termanis yang pernah dia alami, semanis lollipop ini. #dan semanis author, narsis mode on.

……………………

Did we really love?
Or was it just a long war?
At the tangled memories, I smile and I cry
More than any of the good memories with anyone else
I miss the times I spent with you
I want you so I’m stewing in sickness

……………………….

15 hari kemudian,

Hayi kembali menunggu Jongup untuk kesekian kalinya. Apa-apaan sih namja itu. bisa-bisanya membuat dia  menunggu terus setiap saat! Apa tidak bisa gantian? Hayi menggenggam kedua tangannya dengan erat mencoba membuang rasa kesalnya pada Jongup. Tapi mau bagaimana, ketika melihat wajah Jongup, kata-kata yang sudah dipendamnya menjadi hilang! Buyar begitu saja entah kemana. Hayi menolehkan kepala kekiri dan kekanan berharap melihat siluet bayangan Jongup, tapi itu sia-sia. Jongup belum datang.

TRTT… TRTT…

Ponsel Hayi bergetar, ia pun segera mengambilnya dikantong jaketnya dan melihat panggilan yang diterimanya.

“yob..”

“Mianhae, aku tidak bisa pergi, tiba-tiba saja ibuku masuk rumah sakit. Mianhae, seharusnya aku memberitahukanmu lebih awal. Kau sudah lama menunggu?” baru saja Hayi ingin bertanya kenapa Jongup begitu lama, tapi Jongup sudah menjawabnya. Hayi mengepalkan tangannya dengan erat.

“huft… apa kau tega meninggalkanku sendiri begini?”

“mianhae… kau mau aku jemput? Tapi…”

“tidak usah! Ibumu kan sakit. Aku tidak apa-apa kok. jaga ibumu. Sampaikan salamku padanya!” Hayi segera memutuskan pembicaraan. Dia yakin Jongup akan melongo setelah apa yang dilakukannya. Bisa-bisanya dia dibiarkan menunggu selama 1 jam 45 menit 56 detik! Tapi dia tidak bisa marah pada Jongup.

“daripada sia-sia, sebaiknya aku pergi saja…” Hayi melanjutkan perjalanannya yang tertunda karena Jongup. Ia pun pergi ke toko buku seorang diri.

……………………………

20 hari kemudian,

Jongup dan Hayi pergi kesebuah toko untuk membelikan kado untuk noonanya Jongup. Hayi senang diajak oleh Jongup untuk memilih kado untuk noonanya Jongup. Itu artinya Jongup percaya padanya kan? Mereka berkeliling melihat benda-benda yang dijual ditoko itu. toko itu memang toko khusus perempuan gitu, jadi yang dijual ya yang berhubungan sama perempuan.

“Bagaimana?” Hayi memperlihatkan sebuah kalung yang bagus pada Jongup.

“bagus… itu saja yang kita berikan…” ujar Jongup datar.

“maksudku, untukku. Bagus tidak?” tanya Hayi kesal.

“kenapa kau malah menanyakan tentang dirimu? Kita disini kan untuk membelikan hadiah untuk noona…” Jongup juga kesal tapi dia lalu terdiam melihat Hayi yang sedih “tapi kalau kau juga mau beli, ya beli saja. Biar kembar… kurasa itu keren…”

“tidak usah… untuk noonamu saja…” Hayi memberikan kalung itu pada Jongup.

“jinja? Kau tidak akan menyesal?”

“tidak…”

…………….……..

If love is measured by how much one was in pain
Then you were a love that I won’t ever have again
Even if it’s in this way, even if it became a scar
Thank you for settling inside of me

………………………….

30 hari kemudian,

“sebaiknya kita putus saja…”

“kenapa? Apa ada yang salah?”

“tidak, aku hanya merasa ini tidak benar. Jadi, kuharap kau mengerti…”

“tidak bisa. Katakan satu alasan kuat yang membuatmu ingin agar kita berdua putus!”

“pokoknya ada…” Jongup membalikkan badannya dan meninggalkan Hayi yang terdiam mencoba mencerna kata-kata Jongup yang tiba-tiba siang itu. bagai tersambar petir disiang bolong.

“putus?” Hayi mengulang lagi kata-kata Jongup barusan. Dia memang tergolong cewek yang agak lola *dibunuhLeeHi*, tapi dia mengerti kata-kata perpisahan itu, tapi dia juga ingin berusaha pura-pura tidak mengerti.

“kenapa?”

“…”

“ada apa?”

“…”

“YAAA!! MOON JONGUP! WAE? WAE?? WAE GEUREEE!!!” Hayi berteriak ditengah jalan bagai orang gila, tapi Jongup tidak berhenti, tidak menoleh, bahkan tidak jadi gila. Dia terus saja berjalan tanpa menghiraukan teriakan Hayi yang bisa terdengar hingga radius 100 meter.

“…” beberapa menit kemudian Jongup berbalik dan berlari menuju Hayi. Hayi mulai gugup.

“ambil ini…” Jongup memberikan Hayi sebuah buku diary yang berkunci dari tasnya.

“apa…”

“ambil…”

“untuk apa!”

“ambil saja! Jangan dibuang!”

“kenapa?”

“ambil saja, aku pergi!” Jongup lalu berbalik dan pergi lagi.

“YA! JONGUP PABO! PABO PABO PABOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO….”

………………………..

I guess this is goodbye (we died)
I guess this is lingering attachment
It’s a worse sickness than love or obsession
It seemed like you would spread like a bruise and completely disappear

……………………………

Malamnya dikamar, setelah menangis beberapa lama, Hayi terdiam melihat buku diary yang diberikan Jongup padanya. Dia lalu memandang diary itu dari berbagai sisi, kenapa Jongup memberikannya benda ini? Tanpa kunci. Wae? Wae? Apa karena Jongup pabo? Entahlah. Hayi lalu membuang diary itu ke tong sampah di dekatnya. Ia lalu menutup mata. Beberapa detik kemudian dia mengambil kembali buku itu.

“aku tidak tahu apa gunanya dia memberikan buku ini, tapi apapun itu. sebenarnya kau (buku) sangat menyebalkan! Pergi sana!” Hayi melempar lagi buku itu ke pintu kamarnya dengan keras lalu kembali memejamkan mata. Beberapa detik kemudian dia mengambil buku itu lagi lalu berjongkok didepan pintu kamarnya.

“Jongup pabo! Kau pasti tidak lulus!”

“…”

“EEHHH…. Tidak boleh! Nanti malah aku sekelas dengannya lagi!” ujar Hayi lalu memukul kepalanya.

“biar saja deh buku ini….” Dia lalu menaruh buku itu dirak bukunya. Tanpa lupa menghentakkan buku itu sekeras mungkin.

“Jongup Pabo! Apa yang sedang kau pikirkan?”

………………………

Even if it’s not happiness, even if it is unhappiness
Because it’s a gift you gave me, I thank you
Even though I hate you to death, I thank you
I’m not afraid of loving again and being hurt again
Because no one could hurt me as much as you did, no no no
Precious you, you, you

.……………………..

Sebulan kemudian,

Adalah hari dimulainya ujian untuk kelas 3 SMA. Hayi berada didepan sekolah, entah kenapa kakinya mengajak untuk pergi ketempat ini. Tangannya berkeringat gugup, yang ujian kan bukan dia! Dia mondar-mandir didepan gerbang.

“ada apa?” suara yang familiar itu mengejutkan Hayi dia lalu menoleh kearah suara.

“Jongup!”

“kenapa?”

“kenapa tidak masuk?”

“ujian belum dimulai… paket soal belum datang *kayak disini aja*…” jawab Jongup datar sambil melihat Hayi dari atas kebawah. “kenapa kesini…”

“aku, aku…” Hayi mengedarkan pandangannya kesetiap tempat yang bisa dilihat, mencari jawaban yang dia sendiri tidak tahu.

“menyemangatiku?” tanya Jongup sambil tersenyum.

“ehh…” Hayi kaget dengan perkataan Jongup yang pas banget. Senyuman Jongup itu membuatnya terpaku.

“benar? Aku hanya menebak…”

“ANIYA!” Pekik Hayi, kali ini Jongup yang kaget. “akuuu akuu… menyemangati… ituu… Minwoo oppa!” ujar Hayi.

“ohh… baguslah… dia tidak punya penyemangat selama ini, yah emang sih akhir-akhir ini dia sedikit semangat. Apa kau yang menyemangatinya?” kata-kata ini yang tidak ingin didengar oleh Hayi.

“iya…” dan kata-kata ini yang tidak ingin diucapkan Hayi.

“baiklah… sepertinya Minwoo sudah dikelas, dia yang mengirim pesan padaku untuk cepat datang. Mau kukirimkan pesan?” tanya Jongup.

“tidak usah…”

“hem…” Jongup lalu berjalan pelan.

“Jongup!”

“ne?”

“fighting!”

……………………..

If love is measured by how much one was in pain
Then you were a love that I won’t ever have again
Even if it’s in this way, even if I will regret it
Thank you for remaining in me

……………………

Beberapa minggu kemudian,

Kelas 3 tidak lagi kesekolah, hanya beberapa saja yang datang kesekolah untuk menyiapkan perpisahan. Hayi lumayan lega, dia tidak bertemu dengan Jongup. Setidaknya itu bisa membuatnya tidak sakit hati. Hayi ditunjuk oleh gurunya untuk menjadi salah satu panitia perpisahan. Dia sebenarnya tidak mau, tapi karena untuk menyibukkan diri, dia ikut juga. Saat ini, dia sedang mengumpulkan beberapa properti untuk acara tersebut di aula sekolah bersama Minwoo, kakak kelasnya.

“tolong ambilkan buku itu…” pinta Minwoo pada Hayi, Hayi segera mengambil buku yang ada disampingnya pada Minwoo.

“sunbae sangat semangat ya untuk acara ini. Apa sunbae yakin lulus?” goda Hayi

“kenapa kau bertanya begitu?” jawab Minwoo sambil tersenyum. “yahh… ada beberapa yang kurang, aku akan minta pada Gyuri…”

“hem…” angguk Hayi, dia lalu mengikuti Minwoo yang akan meninggalkan aula.

“oh ya…” Minwoo berhenti mendadak membuat Hayi terkejut. “kau sudah putus dari Jongup ya?”

“eh?” Hayi belum memiliki jawaban untuk pertanyaan ini. Kenapa sih Minwoo menanyakan hal itu padanya? “memangnya kenapa?”

“kau tidak membuka hatimu lagi ya?” pertanyaan Minwoo ini sekali lagi membuat Hayi terkejut.

“maksudnya?”

“yah, aku lihat saja kau menghindar dari namja…”

“kenapa kau memperhati…”

“Jongup itu aneh…” Hayi ingin tertawa mendengar kata-kata Minwoo, namun langsung berhenti begitu Minwoo menyebutkan nama Jongup.

“kenapa dia?”

“tidak, tidak ada… ayo pulang…” Minwoo meneruskan perjalanannya.

“tunggu, ada apa dengannya?”

“sudah sudah, ayo pulang. Tutup pintu aula…” Minwoo tidak memperdulikan Hayi yang terus mendesaknya.

………………………

HAYI POV

Malam itu aku tidak bisa mengerjakan matematika dengan benar. Bukan karena aku tidak tahu mengerjakannya, tapi setiap kali aku mau mengerjakan matematika, aku selalu mengingat seseorang yang sudah pernah hilir mudik dalam hatiku dan sekarang tidak mau pergi-pergi meskipun aku sudah mencoba untuk mengusirnya.

“ARGGHHH…. Dasar pabo! Pabo pabo! Jongup pabo!” aku mencoret-coret dengan kasar buku coretanku dengan penuh kekesalan. Mengingatnya membuat aku menjadi bodoh, ketularan bodohnya kali. Dia adalah orang pertama yang sudah membuat hatiku berdebar sekarang dia juga orang pertama yang membuat hatiku sakit. Keterlaluan.

“…”

“…”

Dalam diam aku menangis juga. Meskipun aku membencinya hingga mau mati, tapi aku juga mencintainya. Dilema dalam hidupku yang membuatku kesal. Aku menyesal sudah memiliki cerita dengannya. Kenapa juga aku menerimanya? Apa karena senyumannya yang tulus padaku? Aku sudah salah mengartikannya?

Aku kembali mengingat cerita itu. kenapa juga aku mengingatnya? Tapi itu terjadi begitu saja. Seperti film yang diputar dengan lambat. Aku kesal dengan perlakuannya padaku yang tidak pernah –atau jarang- menanyakan kabarku. Setidaknya, seminimalnya, dia kan bisa bertanya “apa yang kau lakukan? Apa kau sudah makan?”. Tapi aku bersyukur, karena dia tidak mengatakan hal itu sering-sering, aku merasa tidak terganggu. Aku seharusnya senang dia tidak sering memegang tanganku. Tapi…

Aku selalu berusaha untuk mendapatkan perhatiannya dengan berlaku baik ataupun berlaku nakal padanya. Aku bahkan pernah melempar MP3 player miliknya hingga terbelah 2. Aku meski merasa bersalah, tetap juga kesal. Dia tidak marah padaku. Dia hanya diam. Diam. Aku tidak menyukainya. Kenapa dia diam? Tapi aku senang, dia bukan orang yang akan sering marah padaku. Kami tidak akan sering bertengkar. Meski begitu, aku…

Dan Hayi tidak bisa menyelesaikan untuk mengungkapkan perasaannya lagi. Dia hanya bisa menangis dan menangis untuk malam itu. untuk Jongup. Untuk dirinya sendiri…

……………………

But you’re a deep wound that will grow along with me forever
If you are breathing in my tears, I won’t let them dry
If you’re still squirming in my scar, I won’t let it heal
Even if it hurts, it’s okay if it’s you
Even if they are sad memories, it’s okay if they’re mine

……………………

AUTHOR POV

Setahun kemudian…

Hayi tersenyum lebar menghadap kamera bersama beberapa temannya sambil memegang buket bunga. Tidak, dia belum menikah. Hari ini adalah hari kelulusannya dan teman-temannya. Dia sangat senang sekali. Akhirnya bisa merasakan menjadi seorang mahasiswi. Pekerjaan berat menanti anda!

“Cukkae!” seorang hoobae menyalami Hayi dan disambut hangat oleh Hayi.

“nde. Gomapta” jawab Hayi sambil tersenyum.

“Sunbae, cantik ya hari ini…”

“ah, biasa saja…”

“aku akan merindukan sunbae loh. Sering-sering mampir ke sekolah ya!”

“iya… kita akan saling berkomunikasi kok… kau masih boleh tanya-tanya padaku seperti dulu.”

“hihihi… iya!” Hoobae itu tertawa lagi memamerkan senyum pepsodentnya yang menyilaukan. Hayi juga ikut tersenyum.

“oh ya Sunbae, kau akan bertemu dengan seseorang setelah ini?”

“heh? Maksudnya?”

“itu, tadi ada orang bertanya padaku tentang Sunbae. Kau kenal Lee Hayi? Benarkah? Dimana Lee Hayi berada? Apa dia baik-baik saja? Yah, begitulah…” jelas hoobae itu dengan penuh ekspresi, Hayi hanya tertawa melihat tingkah adik kelasnya itu.

“hahaha, jinja?”

“ani. Dia tidak berlebihan. Aku menambahkan beberapa kata seperti, benarkah? Ah? Oh? Iya? Hehehe… dia juga menitipkan ini, Sunbae!” hoobae itu sekali lagi tertawa sambil memberikan sebuah kunci kecil untuk Hayi. Hayi mengeryitkan keningnya ketika menerima kunci itu.

“igi mwoya?”

“sepertinya kunci apa gitu, yang kecil-kecil…”

“contohnya?”

“kunci laci? Kunci tas? Kunci kotak pensil?  Atau  diary? Adikku punya diary yang bisa dikunci. Keren lohh… dia…” hoobae itu terus bercerita tentang diary adiknya padahal yang mendengarkan ini sudah tidak focus lagi. Hayi berhenti menerka kunci apa itu ketika hoobae itu mengatakan tentang kunci diary. Dia terdiam, berfikir, merenung, menimbang dan sebagainya.

“dimana orang itu sekarang?”

“adikku? Dia kelas 3 SMP, nanti dia akan masuk SMA kita!”

“bukan, orang yang memberikan benda ini…”

“oh, dia baru saja pergi. Begitu memberikannya padaku, dia langsung pergi entah kemana… tapi ke arah sana. Sunbae mengenalnya? Dia tampan loh!”

Sekali lagi, hoobae itu menceritakan hal yang tidak jelas. Hayi langsung berlari begitu hoobae itu menunjuk arah si pemberi-kunci itu pergi.

………………….

Hayi tidak berhasil menemukan si pemberi-kunci yang ia yakin adalah MOON JONGUP. Siapa lagi coba? Minwoo? Tidak mungkin. Hayi terduduk dikamarnya sambil memegang kunci itu.

“huft… kenapa, kenapa dia baru muncul sekarang? Pabo. Pabo. Pabo!”

Hayi meremas kunci itu seperti ingin menghancurkannya hingga berkeping-keping. Tapi apa daya, dia tak mampu. Jadi Hayi kembali terdiam melihat Kunci itu. ia lalu berdiri dan menuju rak lemari. Mencari-cari dan menemukan diary yang diberikan Jongup padanya. Ia lalu mengambilnya dan mencoba kunci itu.

KLEK…

“TERBUKA! PABO!” Hayi memukul diary itu. iya kan, itu Jongup! Kenapa sih dia selalu melakukan hal yang sulit? Pabo! Ujar Hayi dalam hati, entah berapa kali dia mengucapkan kata pabo pada hari itu. dia lalu membuka secara perlahan buku itu, takut ada laba-laba keluar dari situ, kan berabe #plak.

“…” lembar demi lembar Hayi membaca diary itu. hingga ke lembar 31, Hayi segera menoleh kekiri dan kekanan. Mengedarkan seluruh pandangan mencari jaketnya. Ia menemukannya, mengenakannya, dan segera berlari sambil mengusap air matanya.

“pabo…”

………………….

Ditaman kota, dari tepat pukul 7 sore, seorang namja duduk dibangku taman dengan diam. Tanpa suara sedikit pun, tidak ada yang berani menganggunya maupun menegur namja itu. dia lalu mendongak ke langit dan menghirup udara dengan perlahan seperti tidak akan melakukannya lagi besok. Dia lalu melihat jam tangannya yang sudah menujukkan pukul 7 lewat 2 jam #sekalianatuhjam9.

“memang tidak kan?” dia berbicara sendiri di taman itu dan mulai berjalan meninggalkan tempatnya semula. Baginya malam yang dingin ini, lebih dingin dari biasanya.

“MOOOOOON JONGUUUUUPPP!!!” Seorang yeoja berteriak dan arah suaranya dari belakang. Ia pun menoleh dan terkejut melihat apa yang dilihatnya. Yeoja yang dirindukannya dan yang ia tunggu berlari mengejarnya. Apa ini mimpi? Pasti mimpi! Mimpi! Ini mimpi! Moon Jongup, bangun! Bangun! Banguuuunnn!!

PLAK!

“argh…” Jongup memegang pipi kirinya yang baru saja ditampar oleh yeoja itu. dia terbangun. Yeoja itu ada didepannya. Ini bukan mimpi.

“kenapa kau selalu melakukan hal yang sulit? Kenapa? Kenapa? Kau bodoh? Bagaimana kalau aku tidak menemukanmu? Bagaimana kalau aku tidak mengerti? Bagaimana kalau aku tidak peduli? Bagaimana kalau aku melupakanmu?” omel yeoja itu padanya habis-habisan. Dia hanya diam sambil berusaha menahan senyumnya. Tapi, alih-alih menahan senyum, ia malah tersenyum lebar dengan polosnya.

“wae? Kenapa tersenyum? Ada yang lucu? Ada yang aneh? Kau pikir kau peramal bisa-bisanya mengukur waktu kita akan bertemu lagi? 2 jam kau disini apa itu tidak gila? Kau gila Moon Jongup?” yeoja itu tersinggung dengan senyuman Jongup yang tidak ia mengerti artinya.

“kenapa kau diam? Mengapa tidak mengatakan sesuatu? Apa sih yang membuatmu…”

“…”

“…”

“…”

Untuk sejenak, yeoja itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Jongup langsung menarik tangannya dan mendekap tubuhnya dengan erat. Yeoja itu tidak bisa melakukan apa-apa, lebih tepatnya tidak tahu harus melakukan apa. Dia bingung dengan keadaan ini. Marah? Kesal? Sedih? Terharu? Rindu? Atau apalah itu.

“bagaimana kalau aku melupakanmu? Kau bodoh, Moon Jongup?”

“kau tidak akan melupakanku…”

“kenapa kau yakin sekali? Kau ini bodoh?”

“aku yakin saja… aku ini memang bodoh kan, dari awal kau juga tahu… yah, hanya kau yang mengerti aku lebih dari diriku sendiri…”

“kenapa kau melakukan ini padaku? Kau tidak tahu rasanya hidup dengan keadaan tidak jelas karenamu selama setahun? Aku merasa tersiksa tahu!”

“aku juga, aku merindukanmu…” kata-kata Jongup itu, membuat si yeoja, yaitu Hayi terdiam dan melepaskan pelukannya.

“kau, bisa ya, mengatakan hal itu setelah beberapa lama?” Hayi mengeryitkan dahinya.

“aku kan merindukanmu. Kalau aku kangen, ya aku katakan, kau lebih menyukai sesuatu yang jujur kan?” tanya Jongup dengan lembut.

“tidak, tidak…” Hayi menggeleng. “jadilah dirimu sendiri. Kau tahu, ketika kau mengatakan hal itu, aku langsung merinding…”

“baiklah… bagaimana kalau aku katakan kalau aku mencintaimu?”

………………………….

— THE END —

…………………………

Okeh, selesai deh! Ada yang mau tau isi diary Jongup? Ah, kayaknya gak ada deh. Yasud, author Yesunggyu pergi! Komen yaaahhh komennn… ^^

 

2 responses to “HeartBeat

Komentar ditutup.