Regrets

REGRETS

page_¸±±¾

Author :           Yesunggyu – Amalia Laili

Main Cast:        Park Luna, Jung Daehyun (B.AP)

Genre   :           Sad Romance

Rating :             PG-15

Length :            One Shoot

Para pemainnya adalah  milik author eh milik Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi cerita asli milik daku, jadi daku akan merasa sangat sedih jika ada yang melakukan copas atau plagiat #ih, kok pede? sebenarnya daku mau Daehyun sama Sulli, hehehe. Tapi Sulli sudah kebanyakan ya? Jadi aku masukkan aja Luna #hugLuna. Cerita ini terinspirasi dari Operation Proposal yang keren banget. Tapi gak mirip-mirip juga sih. Cuman aku mau ambil perasaan si Yoo Seungho dan Park Eunbin disitu. Halah, dari pada banyak cincong, langsung saja dibaca.

#paling seru kalau dengar lagu Secret – Only U, dan B.A.P – It’s All Lie ^^

………………………

 “aku akan pergi, doakan aku semoga acaranya sukses! Fighting!”

Perempuan itu menyemangati boneka beruang yang sebenarnya ia menyemangati dirinya sendiri. Ia lalu meletakkan kembali boneka itu di ranjangnya. Ia bergegas pergi keluar dari kamarnya. Baru saja 1 meter dari kamar, ia kembali lagi masuk.

“aku lupa gaunnya!” dia membuka pintu lemarinya dan mengambil gaun pengantin putih yang panjang itu. “kalau aku lupa, aku bisa dibunuh ibuku. Astaga!”

……………

Luna masuk kedalam mobil yang dikendarai supir pribadinya. Ia sendiri diam sambil menatap keluar jendela dan memangku gaun pengantin itu.

“apa ibuku sudah pergi lebih dulu?” tanyanya pada supirnya.

“iya. Nyonya pergi sekitar pukul 7, dia mengatakan lebih baik untuk tiba lebih cepat. Dia pergi dengan tuan dan adik anda…” jawab si supir.

“huft… yang nikah siapa sih? Kok ibu yang sibuk?” gumam Luna kembali menatap keluar jendela. Pikirannya menerawang entah kemana. Dia seperti memutar sebuah film tentang perjalanan hidupnya hingga hari ini. Tiba-tiba ia mengambil hp yang ada di tas kecilnya, menatap nanar layar hpnya yang tidak memiliki tanda-tanda adanya kabar dari luar.

“bahkan dia tidak menanyakan kabarku…” keluh Luna. “yah, aku memang tidak pantas mendapatkan pesan itu kan?” dia mengangguk kembali dan memasukkan hp itu kedalam tas. Luna mengingat dengan jelas senyum laki-laki itu ketika memakan kue buatannya yang aneh, baik bentuk maupun rasa. Awalnya ia tak mau, namun entah kenapa kue itu bisa habis juga. Terserah apa dia lapar atau demi membuat hati Luna senang.

“yang penting kau yang membuatnya. Meskipun batu sekalipun juga ku makan…” jawab laki-laki itu sambil tersenyum miris.

“huu… bohongg… kalau begitu besok aku bawa lagi. Kau mau makan?” tanya Luna tidak percaya pada temannya yang satu ini.

“benar! Tapi tergantung juga sih…”

“tergantung apa?”

“tergantung apa yang digantung!”

Luna terkekeh mengingat percakapan antara ia dan laki-laki itu. Dia adalah Jung Daehyun, teman sejak kecilnya, teman sejak SD hingga SMA, dia selalu bersama dengan laki-laki itu. Bagaimana tidak, rumahnya dan rumah Daehyun yang berjarak 500 meter. Daehyun adalah anak yang bertipe ceria yang dengan mudah membuat Luna tersenyum, seorang anak yang tidak mudah beradaptasi pada suasana baru. Sehingga temannya hanya Daehyun saja.

“jika nanti kau butuh bantuan, panggil aku saja…” ujar Daehyun pada Luna ketika Luna meninggalkan bukunya dirumah tidak sengaja.

“aku mengerti, terima kasih sudah mengembalikannya padaku…” jawab Luna sambil menunduk, dia sangat malu sekali menatap wajah Daehyun yang kelelahan karena pulang kerumah Luna untuk mengambil buku PR itu.

“iya, yang terpenting jangan lupa untuk mentraktirku…”

Luna tahu Daehyun hanya ingin membuat suasana mencair dan Luna tidak merasa bersalah. Daehyun tidak benar-benar minta imbalan, karena ia tidak pernah menagihnya pada Luna. Ketika Luna akan memberikan imbalan pada Daehyun, ia pasti lupa pernah memintanya. Karena, ia memang benar-benar tidak pernah meminta.

………………………..

LUNA

“katanya Daehyun menyatakan cintanya pada Hana loh!” ujar salah seorang teman sekelasku ketika mereka sedang bergosip dan aku hanya diam sambil membaca buku sejarah.

“benarkah? Wah, Hana beruntung. Aku tidak mengira bahwa Daehyun menyukai Hana…” timpal salah seorang dari mereka.

“aku bahkan tidak tahu kalau dia menyukai orang. Yang aku tahu dia itu hanya menyukai sepak bola. Hahaha…”

Begitu mendengar berita itu, aku langsung merasakan keanehan yang terjadi pada diriku. Pada dadaku yang sesak, pada tanganku yang mati rasa dan kepada pikiranku yang tidak bisa menerima fakta tersebut. Benar, bahwa aku menyukainya. Jadi aku pun-yang tidak bisa menerima fakta itu-pergi menemuinya. Ia hanya tersenyum simpul dan menjawab bahwa itu adalah konsekuesi seorang yang kalah setelah bermain taruhan. Dia tidak sungguh-sungguh menyukai Hana.

Tahukah dia kalau aku merasa sangat lega?  Rasanya energiku telah kembali. Otot-otot wajahku tiba-tiba membentuk sebuah senyuman yang tidak bisa kutahan. Aku hanya menutup wajahku dengan kedua tanganku dan sempat membuatnya heran namun akhirnya dia menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang aneh. Aku memang aneh ya?

“pak, berhenti disini dulu, aku belum membeli buket bunga!” aku meminta supirku untuk memberhentikan mobil untuk sementara didepan toko bunga. Aku lupa membeli buket bunga yang sangat penting bagi acara hari ini. Aku lalu menuju toko bunga itu dan segera memilah-milih bunga dengan tepat. Aku memutuskan untuk membeli buket bunga yang biasa saja. Mereka pasti menyukainya kan?

“ayo pak. Ibuku akan memarahiku kalau  lama…” ujarku sambil tersenyum pada pak supir begitu masuk kedalam mobil. Aku lalu melihat buket bunga itu dan tiba-tiba kembali menerawang kejadian itu.

“kenapa kau memberikanku bunga ini?” tanyaku pada Daehyun yang tiba-tiba memberikan bunga kepadaku. Aku tentu saja terkejut, apakah Daehyun menyukaiku? Ah, bagaimana bisa aku berfikir begitu. Tidak mungkin.

“kau tidak suka?” tanya Daehyun dengan wajahnya yang kecewa.

“ah tidak. Aku ambil…” aku lalu mengambil dengan cepat bunga itu dari tangannya.

“aku menyukai seseorang, tapi dia sepertinya tidak tahu perasaanku. Bagaimana ya?” tanyanya padaku sambil duduk disampingku.

“entahlah…” jawabku dengan perasaan yang tidak menentu. Siapa? Siapa yang ia sukai? Siapa orang yang beruntung itu? Aku, tanpa sadar, mulai gugup.

“kalau aku mengatakannya, apa kau tidak akan terkejut?” tanyanya hati-hati.

“aku rasa tidak…”

Dan aku memang benar-benar terkejut begitu ia menyebutkan kata “dirimu…”. Aku, dia menyukaiku? Aku, meskipun menunggu kata-kata ini, masih belum menerima kenyataan bahwa ia juga menyukaiku. Aku bahkan belum menyiapkan kata-kata yang akan kusampaikan setelah ini. Aku bingung, karena itu aku pergi meninggalkannya tanpa jawaban.

“huft…” aku sekali lagi mendesah pelan. Melengkapi 30 kali aku mendesah untuk pagi itu. Begitu banyak pikiran yang ada dipikiranku dan aku berharap ia segera pergi saat ini juga. Sebelum aku sampai di acara itu. aku mohon.

………………

DAEHYUN

Aku hanya diam sambil melihat jam tanganku. Entah kenapa waktu pada pagi ini terasa terlalu lama. Apa yang menyebabkannya begitu lama? Apa karena matahari sedang mogok dijalan sehingga tidak bergerak sedari tadi? Atau karena jam tanganku yang mati sehingga hanya aku yang merasakan bahwa hari ini sangat lama? Atau, entahlah, pikiranku sudah mulai pergi kemana-mana.

“apa dia belum sampai?” tanya ayahku padaku yang sedang berada diluar aula, menunggu tuan putri.

“iya, apa dia terkena macet?” tanyaku kembali. Ayahku menjawab dengan menggeleng dan kembali masuk. Aku tidak mengerti maksudnya tapi aku berpura-pura untuk mengerti.

“kau terlambat lagi? Apa yang terjadi padamu?” tanyaku pada seorang perempuan yang sedang duduk berlutut sambil mengangkat kedua tangannya dilorong kelas.

“aku bangun kesiangan. Alarmku tidak menyala!” bela perempuan itu.

“kau selalu menggunakan alasan itu…” ujarku.

“memang itu kok!” dia langsung membentakku. Aku hanya dapat menggelengkan kepala dan kembali kekelas. Dia itu, Luna, teman sejak kecilku. Luna, seorang yang susah untuk beradaptasi, aku prediksi dia akan sampai pada stress 100 ketika memulai suasana baru. Sehingga temannya hanya aku.

Orang-orang mondar-mandir dihadapanku seperti orang yang sibuk saja. Memang sibuk sih, mau bagaimana, orang yang kami tunggu belum juga datang. Kalau datang ngapain ditunggu ya? Sudahlah. Kenapa aku bisa salah focus begini sih? Kemana, dan dimana dia? Dimana Luna?!

“LUNA? PARK LUNA? LUNA YA??? LUNA PABOOO?? LUNA KKAKUNGGG… LUNAAAA??” Aku berteriak dengan keras ditengah hutan malam-malam. Sebenarnya aku tidak mau. Tapi apa boleh bulat aku harus menemukannya. Luna hilang ketika kami ada kemah hari itu.

“Daehyuunn…~~~ hiks hiks…” aku mendengar suara Luna yang menangis dimalam hari. Persis kuntilanak mencari anaknya yang emang gak pernah ada. Sedikit merinding tapi aku yakin itu Luna. Hatiku benar-benar yakin. Begitu aku menemukannya, dia langsung berlari padaku seperti beruang yang kelaparan dan memelukku dengan erat sambil menangis. Aku jadi kebingungan dibuatnya.

“sudahlah, sudah. Aku sudah menemukanmu. Kau baik-baik saja…” ujarku sambil menghiburnya dan mengelus kepalanya (dia lebih pendek dariku). Dia hanya menangis saja.

“iya, aku akan menjagamu mulai sekarang. Jadi kau tidak perlu menangis. Sudah, sudah, ayo diam! Shut.. shut…”

Tapi janji tinggallah janji. Aku tidak pernah bisa menepati janjiku. Aku, Jung Daehyun, telah melanggar janjiku untuk menjaga Luna. Karena aku mulai sekarang tidak berhak untuk menjaganya, dan dia tidak berhak untuk mendapatkan penjagaanku. Hal itu membuatku sakit. Rasanya, sangat, sakit.

“aku minta maaf padamu sebagai seorang laki-laki…”

“kau memang tidak pernah menepati janjimu. Aku memang bodoh sempat mempercayaimu. Harusnya aku tahu kalau aku tidak bisa mempercayaimu.”

“Luna, kau tidak mengerti…”

“aku mengerti.”

“kau tidak mengetahui apapun, Luna.”

Pada kenyataanya, hanya akulah satu-satunya orang yang tidak mengerti.

………………………

AUTHOR

Luna sampai di aula itu dengan penuh sambutan oleh orang-orang yang menunggunya, ia meminta maaf dan segera menyerahkan gaun pengantin dan buket bunga itu kepada orang yang merias adiknya. Hari ini, adiknya Park Sunhwa akan menikah dengan Jung Daehyun.

………………………..

Kenyataan itu begitu pahit dihadapan Luna maupun Daehyun. Mereka bahkan tidak pernah berfikir bahwa hari ini akan datang. Bahwa hari ini akan terjadi. Mereka tidak tahu, tidak pernah menduga bahkan.

Luna dengan penuh penyesalan yang tidak pernah bisa jujur dan menyadari perasaan Daehyun dan selalu menutupi perasaannya. Ia selalu berfikir, kapan pun, ia bisa mengatakan pada Daehyun kalau ia juga mencintainya, karena sampai kapan pun, Daehyun akan selalu bersamanya. Ia hanya dapat bisa menahan pahitnya begitu menatap Daehyun yang akan menjadi adik iparnya.

“Aku tidak bisa hidup tanpamu…”

Kata- kata yang tidak dapat diucapkan Luna sampai kapanpun, untuk hari ini, bahkan jika waktu bisa kembali, dia tetap tidak bisa mengatakannya.

….

….

Daehyun hanya diam melihat Luna yang datang dengan penuh kelelahan. Luna hanya tersenyum dengan terpaksa. Daehyun tahu itu, namun Daehyun juga tahu bahwa Luna lebih mengetahui dari siapapun bahwa mereka saling mencintai. Tapi mengapa Luna tidak pernah membalas perasaannya hingga Daehyun mengalihkan perasaannya pada adik Luna, Sunhwa, yang sejak dulu menyukai Daehyun. Daehyun juga tahu, dia adalah lelaki yang tidak akan pernah bisa menepati janjinya pada Luna.

“Until the end, I am so sorry, but I love you…”

…………………..

— THE END —

………………….

Yah begitulah, FF ini bisa selesai dalam waktu 1 hari loh! Sekitar 3 jam. Huahahaha… aku akhirnya bisa juga. Dapat gak feel ceritanya? Kalau gak dapat, didapat dapatkan aja deh ya. Aku sih kebiasaan bikin cerita humor. Kena pas romantis jadi kalang kabut #gampar.

-Mungkin akan ada di F(X) Fanfiction Indonesia, mampir noh, keren tau blognya! ^^-

2 responses to “Regrets

  1. Anyeong ..

    Laili – Shii Ceritany Nyesek bngett tapi, Daebakk daahh ….

    Kalo bleh Request nii, bwtt crta yg Pairingny Baekstall#maksaauthor
    Maklum Baekstall Akutt ckck..

Komentar ditutup.