To Be Daughter in Law (Laugh?)

cats_¸±±¾ nhjg

 TO BE DAUGHTER IN LAUGH (LAW)

Author             :           Yesunggyu – Amalia Laili

Main Cast:       Victoria, Kangta, OC

Genre   :           Humor, Family, Romance (masa ada sih?)

Rating :                        PG-15

Length :           One Shoot

Alur cerita milik author, cast milik Tuhan Yang Maha Esa. WARNING! Cerita ini dibuat setelah terkena syndrome lebay dorama Ouran Host Club. Karenanya, author hanya mau menjawab dan tidak terima tanggungan apabila pembaca mengalami mual-mual, pusing, dan akhirnya mengalami muntah-muntah atau hampir melakukan hal anarkis pada laptop/computer/hp masing-masing. Mian. #authorkabur

……………….

“aku tidak peduli apapun kekuranganmu…”

“tapi, apa kau tidak menyesal?”

“aku menikahimu bukan untuk menyesal…”

Akhirnya, karena ketulusan hati Victoria, ia bisa menikah dengan Kangta. Seorang lelaki yang sempurna. Tampan, kaya, anak tunggal, dan pasti memiliki warisan yang banyak *?*.

………………………

— THE END —

……………………..

Ehhh… tammmaaattt?? Ehm, belum. Cerita ini belum tamat. Begini awal mula ceritanya.

Dijaman sekarang, hiduplah seorang gadis bernama Victoria yang biasa-biasa saja, kehidupannya biasa-biasa saja, tapi ia mengalami hal yang luar biasa. Berkat keberaniannya menolong Kangta, putra sulung serta bungsu alias tunggal dari CEO perusahan elektronik yang kaya raya, ia akhirnya hidup bagai Cinderella.  Karena untuk berterima kasih, maka Kangta pun memperkerjakan Victoria, yang baru saja di PHK oleh perusahaan tempatnya dulu bekerja.

Hari pun berlalu dan akhirnya cinta pun bersemi diantara mereka. Namun, ternyata meskipun sudah menyelamatkan Kangta, orangtua Kangta tidak bisa menerima Victoria menjadi menantu mereka. Victoria dan Kangta pun memulai kisah mereka yang mengharu biru.

Bertarung dengan cinta seperti di pelem-pelem, akhirnya mereka mendapatkan restu dari orang tua Kangta. Namun, sekali lagi, ternyata masalah datang dari orang kelima (karena orang ketiga dan keempat adalah orang tua Kangta). Dia adalah mantan pacar Kangta yang cuantik, yaitu Boa. Dia melemahkan cinta Kangta dan kepercayaan Victoria.

Sungguh sangat kuat cinta Victoria dan Kangta, meskipun didera badai topan dan puting beliung, mereka tetap mempertahankan cinta mereka, dan akhirnya mereka menikah! Yeeeaaahh…

………………….

Victoria                 :               aku tidak mengerti arah dari prologmu, author

Author                  :               kenapa? Kau harusnya senang, ini kan FF pertamamu dariku sebagai pemeran pertama. Selama ini kan daku cuman buat untuk Sulli doang. Senang dong! Bahagia dong! Gak bersyukur banget!

Victoria                 :               (-.-) ah… bukan itu maksudku, tapi prologmu itu berlebihan. Aku dan Kangta tidak seromantis itu deh.

Author                  :               sudah, sudah, lakukan saja sesuai naskah, oke? Aku kan authornya, aku berhak dong yaaaa

Victoria                 :               seterah deh (=.=)

Oke lanjut, cerita ini bukan menceritakan kisah awal cinta haru membiru Victoria dan Kangta. Namun kisah Victoria setelah menikah dengan Kangta. Kyaaaa… >.<

……………………..

Hari ini Victoria sangat gugup sekali. Dia sudah duduk didepan meja rias berjam-jam sambil menatap pantulan dirinya dikaca. Dia beneran gugup ini! Hari ini, ibu mertuanya mengajaknya ikut acara keibu-ibuan kaya di Seoul. Sebagai istri baru dari orang kaya, tentu saja dia gugup. Dia mesti ngapain coba? Mana pernah jadi orang kaya sebelumnya. Huft, dia mendesah sekali lagi.

“wajahmu bisa jelek kalau khawatir begitu…” ujar Kangta, yang baru saja dari kamar mandi, melihat istrinya yang bertampang suram dan lusuh.

“tapi, aku harus bagaimana? Aku tidak tahu harus melakukan apa nanti.” Jawab Victoria tanpa menoleh pada Kangta.

“lakukan saja apa yang mau kau lakukan.” Jawab Kangta sambil mengusap kepala Victoria dengan lembut.

“bagaimana kalau kesan ibumu dan teman-temannya buruk padaku?” tanya Victoria lagi, kali ini ia menatap wajah Kangta.

“ehm, tidak usah diperdulikan…” jawab Kangta sambil tersenyum teduh, tapi Victoria tidak bisa dingin begitu saja. Dia menggigit bibir bawahnya.

“sudahlah. Jangan merengut begitu, heh? Senyuuummm…” Kangta menarik bibir Victoria dan membuat senyum terpaksa diwajah Victoria.

“ya.” Victoria kali ini tersenyum. Rasanya, semua akan baik-baik saja, iya kan, Kangta? Ujar Victoria dalam hati. Semoga.

……………………………

Victoria tiba di rumah mertuanya yang super mewah pada pukul 09.00 pagi. Dia lalu disambut 10 orang pelayan yang menunggu di teras.

“Annyeong hasimnikka…” sapa para pelayan itu.

“annyeong hasimnikka” jawab Victoria salah tingkah. dia sudah seminggu menghadapi banyak pelayan dirumah, tapi dia tetap saja kaku ketika bertemu dengan orang-orang itu.

“silahkan ikuti saya…” seorang pelayan muda menuntun Victoria untuk masuk keruangan tempat acara dimulai.

Victoria berjalan dengan pelan sambil melihat kesekeliling. Dia sudah pernah kesini 3 kali, tapi yang keempat kali ini sangat membuatnya takjub. Rumah ini sangat besar. Bahkan lebih besar dari bandara Internasional Korea. Victoria pernah nyasar ketika berkunjung dirumah ini untuk yang kedua kalinya.

“wah, anakku sudah datang…” mertua Victoria datang menghampirinya dengan ceria. “ayo masuk. Wah bajumu sangat bagus! Seleramu berbeda ya? Lebih sederhana!” Victoria memperhatikan bajunya. bukankah baju itu baju yang dibeli Kangta ketika mereka bulan madu di Jerman. Baju ini adalah hasil lelang seharga *** juta won.

“Ah, tidak sederhana kok, eomm….aa (>o<)” Victoria baru saja menyadari perbedaan mencolok antara bajunya dan baju mertuanya. Baju mertuanya bling-bling gimana gitu dan menyilaukan mata. Ia lalu melihat ke teman-teman mertuanya. Sama. Terlalu silau.

“ahahaha… jangan merendah begitu. Tapi, lain kali, coba lah membeli baju dengan hiasan berlian, oke? Harganya lumayan murah loh…” salah seorang teman mertuanya menghampiri.

“eh? Harganya?”

“**** miliar won!”

“ehhhhhhhhhhhhhhhhh??? (-.-) bagian mana yang murah?” Victoria menjerit dalam hati. Kenyataan memang lebih kejam dihadapannya. Huhuhu.

“sudah, sudah, ayo kita mulai acaranya…” mertua Victoria lalu memulai acara para ibu-ibu kaya.

………………………

Victoria tiba-tiba menjadi orang yang paling sotoy di acara itu. dia kadang sok tahu, tapi dia salah. Seperti :

Ibu kaya               :               apa anda pernah makan Ice Diamond?

Victoria                 :               (hem, mungkin yang dimaksud tuh maknum itu kali yaaa) iyaaa bu, saya pernah.

Ibu kaya               :               wah, Kangta pernah membelikan kamu ya? Kamu makan dimana?

Victoria                 :               eh? Ehm. Di toko didepan perusahaan aku bekerja dulu? (mulai gak ngerti ni ibu  ngemeng apa)

Ibu kaya               :               kok ada di toko? Itu kan cuman ada di Belanda.

Victoria                 :               ehhh, di Belanda?

Ibu Kaya               :               iya, itu kan di taburi berlian

Victoria akhirnya hanya dapat tersenyum miris dan pergi secara perlahan dan mencari sang mertua. Dia lalu menemukan mertuanya sedang duduk seorang diri sambil melihat beberapa ibu-ibu yang sedang asik pada kegiatannya sendiri.

“eomma, gwenchana?” tanya Victoria hati-hati. Meski pernikahannya dan Kangta sudah dilangsungkan, tapi hubungannya dengan mertuanya tidak bisa berubah begitu saja menjadi baik.

“hem? Apa yang kau lakukan disini?” tanya ibu mertuanya kembali. Victoria mengambil kesimpulan bahwa ibunya baik-baik saja.

“aku hanya merasa berbeda dari mereka, karena itu aku pergi menja—“

“kau memang berbeda kan?”

“eh? Maksud eomma?”

“kau kan memang anak miskin, bagaimana mungkin bisa sama dengan mereka”

Glek. Mertua Victoria benar. Victoria tetaplah anak miskin meskipun menikah dengan Kangta yang kaya. Miskin tetaplah miskin bagi orang-orang seperti mertua Victoria.

“kau bahkan tidak bisa bekerja dengan baik. Dirumah maupun diperusahaan sama saja…” Victoria hanya diam mendengar cercaan mertuanya. Dia tidak bisa menjawab apapun. Karena menjawab maupun tidak, hasilnya juga sama.

“huft, seharusnya Boa tidak putus dengan Kangta saat itu. karena, pasti lah saat ini aku bisa berbincang dengan riang bersama Boa dan bisa membanggakannya…” mertua Victoria hanya menatap dengan pilu.

“eomma, aku bisa kok membuatmu bangga…” jawab Victoria akhirnya.

“contohnya?”

“ehm, contohnya, ya? Ehmm…” Victoria memikirkan apa kira-kira yang bisa membuat mertuanya bangga. Apa karena dia juara dalam lomba lari? Yah, meski lomba lari dari kenyataan (author digampar). Atau juara dalam wushu? Membaca cepat? Membersihkan rumah dengan cepat? Mencuci tanpa mulut? (yee, sejak kapan mencuci pake mulut, coba? Author dibuang).

“sudah kuduga…” mertua Victoria sekali lagi mendesah pelan.

“eomma…” baru saja Victoria ingin membuka mulut, seorang ibu muda kaya raya menarik tangannya.

“Tori-ssi, kau mau tidak memasakkan kami makanan?” tanya ibu muda itu yang diketahui Victoria bernama Yuri.

“eh? Tentu. Tapi masak apa? Bukan kah disini ada banyak makanan?” tanya Victoria sambil melihat kesekeliling ruangan itu. Meski ini namanya ruang tamu, tapi tempat ini bagai aula. Terdapat banyak meja yang berisi makanan-makanan mahalan yang pernah maupun tidak pernah Victoria makan.

“kami ingin makan makanan yang kamu suka. Kami sering melakukan hal itu jika ada anggota baru!”

“anggota baru?”

“iya. Kamu kan anggota baru dalam perkumpulan ini…” ujar Yuri sambil tersenyum.

“baiklah! Aku akan memasak omelet rasa daging sapi! *?*” ujar Victoria semangat. Dia pun pergi kedapur diikuti beberapa ibu-ibu kaya yang ingin melihat aksinya. Mertua Victoria hanya dapat berdoa untuk keselamatan semua umat manusia yang ada dimuka bumi ini *?*.

…………………………….

“ini dia… Omelet rasa daging sapiii!!” ujar Victoria sambil menyajikan makanan yang disukainya dengan porsi besar. Para ibu-ibu tampak takjub, namun beberapa menit kemudian…

“bukankah ini omelet dengan kornet daging sapi?” tanya ibu-ibu itu.

“hehehe… iya!” jawab Victoria sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ketahuan deh, jadi gak surprise deh! Batin Victoria.

“ya sudah, mungkin kah ini memiliki cerita hingga kau menyukai makanan ini?” tanya Yuri.

“iya, ini makanan yang mudah sekali dimasak kan? Dan ini adalah makanan yang sering ibuku masak untukku dipagi hari sebelum dia pergi bekerja…” ujar Victoria sambil tersenyum tipis, ibu-ibu itu lalu memandangnya dengan penuh haru.

“ibumu bekerja? Bekerja apa?”

“ibuku bekerja dirumah seseorang untuk menjadi pembantu hingga sore”

“oh. Bagaimana dengan ayahmu?”

“ayahku seorang nelayan, dan dia meninggal ketika melayat. Ehm, sepertinya ketika aku berumur 10 tahun. Makanya ibuku mulai bekerja keras”

“pasti berat ya hidup seperti itu, hiks”

“ah, tidak apa-apa kok. biasa saja. Sekarang kehidupan kami sedikit membaik”

“tentu saja, kau kan menikah dengan Kangta. Jadi dimana ibumu?”

“ibuku? Dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu”

“maaf, kami turut berduka, hiks” ibu-ibu itu dengan reflex mengambil tisu dan sapu tangan untuk mengelap air mata mereka.

“ehh… tidak apa-apa kok.” Victoria terlihat tidak nyaman dengan keadaan ini.

“jadi, kau tidak punya keluarga lagi?”

“tentu saja punya, aku punya 3 adik laki-laki. Mereka kembar, mereka tinggal dengan nenekku. Dan sekarang mereka sedang kuliah.” Jawab Victoria. “dan lagi, aku kan punya Kangta dan keluarga Ahn.” Victoria tersenyum lagi. Bukannya malah diam, ibu-ibu itu malah tambah sedih.

“huaaaa… kami terharu sekali. Ternyata keluarga Ahn sangat baik sekali padamu ya? Kangta adalah orang yang sangat baik yaaaa…. Huaaaaa” ibu-ibu itu nangis kejer. Victoria jadi bingung untuk mendiamkan mereka.

“aku baik-baik saja kok. terima kasih. Ayo kita makan dulu sebelum makanannya dingin…” jawab Victoria mengalihkan pembicaraan. Ibu-ibu pun itu segera berebutan untuk memakan masakan Victoria. Dari kejauhan tampak seorang ibu yang sedang mengusap air matanya.

…………………………….

Victoria dan ibu mertuanya mengantar ibu-ibu kaya itu kedepan teras. Mobil-mobil limosin pun datang menjemput mereka.

“terima kasih sudah datang…”

“terima kasih sudah mengundang..”

“datang lagi ya”

“terima kasih…”

Kata-kata itu diucapkan ibu mertua Victoria dan terkadang dibantu oleh Victoria sendiri.

“yang sabar ya…”

“iya terima kasih”

“selamat ya”

“iya…” Victoria mendadak mendapat rasa kasihan dan kasihani oleh ibu-ibu itu berkat ceritanya.

………..

……….

……….

Karena tidak ada lagi yang dilakukan, akhirnya mertua Victoria pun masuk ke rumah dan Victoria juga ikut.

“Victoria…”

“ya?”

“apa yang kau lakukan?”

“eh? Maaf eomma, apa aku juga pulang?” Victoria jadi kelabakan. Benar juga. Tapi dia bingung. Apa yang harus dia lakukan. Masuk ke dalam rumah mertuanya atau langsung pulang saja? Harus bagaimana?

“aniya. Masuk lah…” suara mertuanya tiba-tiba melembut. Victoria menjadi tambah deg-degan. Apa-apaan ini. Mertuanya galak, salah. Mertuanya baik, salah juga. Aigoo. Victoria menghela napas.

“mianhae…”

“?” Victoria heran terhadap ucapan mertuanya. “atas apa?”

“karena selama ini bersikap kurang baik padamu…” ibu mertuanya berjalan kepadanya, Victoria hanya dapat diam heran. Dan tiba-tiba…

Dheg…

“uwwaaaaahhhh… eomma tidak tahu kalau ternyata kehidupanmu begitu menyedihkann… huaaaa…” mertua Victoria menangis dipelukkannya.

“eh, eomma. Tidak apa-apa kok…” Victoria jadi heran.

“hiks. Mulai sekarang, eomma akan berjanji menjadi eomma yang baik untuk mu dan adik-adikmu…” mertua Victoria melepaskan pelukannya lalu mengusap matanya yang berair.

“eh?” Victoria kaget lagi. Kaget sekali lagi Victoria bakalan dapat piring cantik kali.

“eomma sangat…sangat… huaaaa…” mertua Vic nangis lagi. Victoria lalu memeluk mertuanya dengan lembut.

“eomma…”

“baiklah!” mertuanya lalu melepas pelukan Victoria tiba-tiba dan mulai semangat kembali. “mulai sekarang, adik-adikmu, biar eomma yang urus… dan kamu, mulai besok harus sering kesini untuk belajar memasak bersama eomma. Mengerti!”

“eh, eomma. Tidak perlu repot begitu. Adikku kan…” ujar Victoria kelabakan.

“eomma tidak repot kok, shishishi…” mertuanya malah tertawa kecil “malah repot kalau kau tidak bisa masak…”

“kok…”

“masakanmu keasinan tau! Eomma rasa ibu-ibu tadi bakalan sakit perut!”

“eommaaaa….~~~” Victoria mau pingsan rasanya.

“sudah diputuskan! Ayo masuk, anakku!”

“Huft… eomma..” dalam senyum Victoria senang juga bisa diterima mertuanya.

“ehhh… chakaman…” mertua Victoria tiba-tiba berhenti, Victoria malah menabrak mertuanya.

“ada apa eomma?”

“hal ini bukan berarti aku menerimamu loh! Kamu masih harus bekerja keras!”

“hah?” Victoria kaget, tidak percaya, can’t believe it, impossible.

“hahaha…” mertuanya tertawa dan akhirnya benar-benar masuk rumah. Victoria hanya bisa tersenyum melihat mertuanya. Jalan panjang untuk menjadi istri baik bagi Kangta dan menantu yang baik bagi mertuanya baru saja dimulai

………………………

— THE END —

……………………..

Jeng, jeng. Gaje yeee?? Hahaha… ini dapat inspirasi dari mana coba? Dari hatimu. Malah gak nyambung. Cuman penasaran aja gitu buat FF antara mertua dan menantu. Dan terpilihlah Victoria dari banyaknya wanita-wanita yang cantik. Sebenarnya rada galau juga. Vic eomma cucoknya sama siapa. Sama tiang listrik satu rumah (Kangta, Zhoumi, Kyuhyun, Changmin) atau tiang listrik tetangga (Nickhun, Hankyung), tapi Kangta oppa terpilih sebagai yang paling waw. hahaha…Komentar dan saran diperlukan demi kepentingan kita bersama terutama kehidupan saya untuk sesuap nasi #gajelagi.

Justsharestory…

4 responses to “To Be Daughter in Law (Laugh?)

  1. First kah??
    #celingak celinguk…
    Gyahahahha…
    Ga twu kenapa aqqu malah ketawa baca ni ff..
    Mnurutkuu ini lucu..
    Ibu-ibu kaya??
    Hahahha..
    Aqqu baru twu ada panggilan khusus bwat ibu-ibu kaya..
    Hahahha..
    Lanjtkan bakatmu thoorr..
    Hwaiting.. ppyoongg…

  2. Padahal hampir nangis denger ceritanya Vic eonni..
    Tapi, di akhir2 malah ketawa wkwkwk

    Good job thor ^^

Komentar ditutup.