Bring My Happines

BRING MY HAPPINES

br

Author : Yoan Amalka

Cast : hyoyun SNSD,JR NUEST

Length : one shot

Genre : romance

“Waw.. jam 8 tepat ya ?” aku berbicara pada pria di depanku sambil memutar bola basket di jari telunjukku. “kau terlambat 10 menit.”

Dia berkacak pinggang dan menatapku sombong.

“itu nanti saja dibahas !” secepat kata-katanya,secepat itu pula ia berusaha merebut bola dariku.

Tidak. Dia tidak berhasil dengan gertakannya. Hup ! 1 point untukku.

“semakin hari kau semakin lemah,yah ?” ejek ku.

Dia datang lagi menyerangku. Aku berhasil menghindar. Sebelum aku mendekat ke ring,dia sudah datang lagi menghalau. Tangannya lebih aggressive merebut bola dariku.

“sreet…!”         tunggu !          aku menghentikan aksiku untuk melompat ke ring. Dan rambutku langsung tergerai.

“hmm… kau lumayan cantik bila rambutmu terurai.” Godanya dengan nada meledek. Menyebalkan !

“ya ! kembalikan ikat rambutku !” teriak ku. Dia malah tertawa. Dengan cepat kulempari dia dengan bola basket.

“sampai jumpa…” dia malah berbalik pergi dengan ikat rambutku di tangannya.

“ya ! Junioor…… !”

Arrggghhhh….!! Dia selalu membuatku kesal !

***

 

Itu dia ! seperti biasa berjalan dengan sok keren. Huh..! aku malas sekali harus berpapasan dengannya. Yah… tapi memang sering sih berpapasan dengannya di koridor ini,karena kelas kami berlawanan arah.

“wah.. rambut mu tak kau ikat,” ujarnya jahil saat berpapasan denganku.  Aku meninggikan wajahku dihadapannya.

“kau akan mati nanti.”        Dia tidak terpengaruh sama sekali dengan ancamanku.

“Cuma di lapangan basket saja, tapi tidak di tempat lain.” Dia berlalu melewatiku.        Belum seberapa jauh berjalan,dia menoleh kepada ku. Melambaikan tangannya.

Dasar Junior ! si playboy kampus. Apa sich yang membuat dia di sukai para perempuan ? gila.

 

“Hyoyun !”        aku segera ke tempat teman-teman ku yang memanggil itu. Mereka sedang santai di bawah pohon besar yang tumbuh di halaman tengah kampus.

“mau main ke rumahku sore ini ?” tawar Sooyoung.      Aku mengangguk mengiyakan.

“aku akan datang jam 4.”  Kataku,lalu duduk di sampingnya.

“hei,pasti kau menang lagi bertanding basket melawan Junior,” terka Jessica seraya menepuk lenganku.

“nde. Dia tak pernah menang,tapi terus saja menantang.”

“laki-laki tidak mungkin mau kalah dari perempuan.” Sambung Sooyoung.

Aku berdiri dari duduk,meregangkan tanganku.

“aku mau ke kelas,bye..” pamit ku. Mereka berdua melambaikan tangannya.

Tiba-tiba,belum jauh aku pergi dari mereka perut bagian bawahku  terasa sakit. Ah.. rasanya benar-benar menyiksa. Sepertinya aku harus konsultasi lagi sore ini ke dokter.

“hyoyun,neo gwenchana ?” seru Jessica dari belakang.

“nde !” aku berkata sekuat tenagaku.      Dengan rasa sakit yang masih menyerang aku berusaha berjalan. Oh… ya ampun ! ku mohon reda-lah.

***

JUNIOR POV

Ikat rambut biru bertengger manis di meja belajarku. Harusnya aku kembalikan sih.. pada Hyoyun. Tapi tidak deh,aku masih ingin mengerjainya.

“Junior,” omma masuk menerobos kamarku. “antarkan ini pada ayahmu.”

Dia menyodorkan sebuah bungkusan plastic padaku.

“apa itu ?”

“kimchi. Ayahmu ingin memakannya,malam ini dia tidak pulang.”

“aiish… omma,aku malas mengantarnya ke rumah sakit.”

“Junior….” Omma melototiku.   Oh.. baiklah ! aku tak bisa membantah.

“oke,oke aku pergi.”

***

Jam 5 sore,rumah sakit masih ramai. Aku heran kenapa ayah mau bekerja di tempat penuh orang dan berbagai macam penyakit ini.

“hai.. Junior !” oh… suster-suster cantik penggemarku. Tak sengaja berpapasan dengan mereka.

“anyeonghaseo,” balasku dengan tersenyum.

“apa yang kau bawa ?” tanya mereka.

“oh.. ini,makanan untuk ayahku. Dagh.. lain kali kita mengobrol panjang lebar.”

Suster-suster itu melambai padaku. Yah.. mereka memang sudah mengenalku sejak SMA. Karena aku sering ke sini,kalau bukan mengantar makanan,mengantar berkas ayah yang tertinggal.

Aku sampai didepan ruangan ayah. Begitu ingin mengetuk ada suara orang berbicara. Pasti pasiennya. Jadi,aku harus menunggu. Karena ayah tak suka diganggu kalau sedang memeriksa pasien.

“sudah menyebar hampir ke sebagian besar rahim. kau harus operasi.”     Aku mendengar suara ayah.

“tapi,aku tak mau rahimku dioperasi.”

“ini demi keselamatanmu.”

“andwe. Dokter,tolonglah. Kalau rahimku di operasi aku bukan seorang perempuan lagi.”

“ takutnya kau tak bisa beertahan lebih dari ini.”

“aku bisa. Maaf aku permisi.”

Pintu ruangan ayah tiba-tiba terbuka. Padahal aku masih ingin dengar pembicaraannya. Tunggu ! orang itu…. Hyoyun ?!

Dan aku masih terpaku berdiri didepan pintu atau bisa dibilang juga dihadapannya.

“bisa pergi dari jalanku ?” tegurnya.     Aku bergeser ke kanan.

“kenapa kau disini ?” tanyaku.

“bukan urusanmu.” Jawabnya cuek sambil melangkah pergi.

Setelah dia agak jauh,aku buru-buru masuk ke ruangan ayah.

“appa,dia kenapa ? pasien yang tadi,” tanyaku terburu-buru begitu duduk dikursi yang biasa diduduki pasien.

“itu privasi pasien,kemarikan makanan itu. Aku sudah lapar.”

Langsung ku jauhkan bungkusan plastic ini begitu ayah ingin meraihnya dari tanganku.

“marebwa. Jika tidak,ayah tak akan makan.”      Ayah menghela nafas pasrah. Kemudian mendekatkan wajahnya padaku.

***

Pagi ini,aku datang lebih awal di lapangan basket. Hyoyun belum tiba. Beberapa menit kemudian dia datang dengan nafas terengah-engah.

“kau terlambat.” Ledekku.

Kulihat dia berusaha mengatur nafas.

“ada apa sih ?! kenapa menantang sepagi ini ?” kesalnya.

dia terkena kanker servix,jika tidak operasi untuk mengangkat rahimnya,penyakit ini bisa membunuhnya.”

Aku terngiang apa yang diberitahu ayah kemarin. Tak kusangka,Hyoyun yang selalu kelihatan kuat ternyata terkena penyakit mengerikan begitu.

“ayo mulai.” Kataku.

Kali ini,aku yang leluasa mengontrol bola ditanganku. Beberapa kali aku berhasil lolos darinya. Dia lebih lemah dari hari-hari sebelumnya. Binggo ! sudah 2 point untukku.

“sudah cukup. Aku tak mau main lagi.” Selaku.

Dia menatapku jengkel.

“karena kau sudah dapat 2 point kau jadi sombong,ya ?”

Aku melempar bola basket di tanganku kepadanya. Dia berhasil menangkapnya meski tadi kulihat dia agak oleng.

“ani. Hari ini kau sangat lemah. Tak asyik di ajak main.” Kataku.

Ku rogoh saku celanaku mengambil sesuatu,lalu ku lemparkan padanya.

Tangannya reflex menangkap.

***

 

HYOYUN POV

Ternyata ikat rambutku. Dia mengembalikannya tanpa kuminta. Dia aneh hari ini,datang pagi-pagi ke kampus tak seperti biasa,lalu mengembalikan ikat rambutku tanpa ku perintahkan.

“kalau sakit sebaiknya kau istirahat.” Sarannya. Tapi bagiku itu ejekan.

“aku tidak sakit ! aku sangat sehat.”

Dia berjalan mendekatiku. Menatapku lekat-lekat.

“kau pikir aku tak tahu kau terkena kanker servix,”   hah ? dia tahu darimana?

“dokter itu ayahku.”

Mworago ??! ayahnya ? jangan-jangan mereka sekongkol.

“kenapa kau tak mau operasi ? daripada membahayakan hidupmu begitu.”

“bukan urusanmu !”      segera aku pergi dari situ. Aku malas berlama-lama yang nantinya akan menimbulkan adu argument.

Ah….., ya ampun !kenapa sakitnya malah muncul sekarang sih ? sekarang lebih sering menderaku.

“hyoyun,kau baik-baik saja ?” saat menoleh Junior sudah disampingku,memegang kedua bahuku.

Aku berusaha berdiri tegak. Tangannya ku lepaskan dari bahuku.

“aku baik-baik saja,tak usah khawatir begitu.”

***

“hei,kenapa kau bersikeras tak mau operasi ?”

Oh… ya ampun !! aku sudah sangat jengkel ! dia mengikuti terus sepanjang keluar dari kelas tadi. Dan memburu ku dengan pertanyaan yang itu-itu saja.

“hei !”

“arghh..! ya ampun ! kau sangat menyebalkan hari ini. Kenapa terus bertanya hal itu sih ..?!” ledak ku.

Dia diam sejenak. Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya.

“aku khawatir padamu.”        Heh ?! dia gila hari ini.

“sejak kapan kau mau mengkhawatirkan ku ?”

Dia tidak mengikutiku lagi sejak aku mengatakan itu.

 

Di caffe kampus,sudah ada Sooyoung. Dia asyik dengan softdrink di tangannya dan sepiring chiffon. Aku berjalan ke meja-nya.

“kau pikir softdrink dan chiffon menu yang cocok ?” ujarku sambil duduk.

Dia meneguk softdrink-nya.

“aku suka ini.” Balasnya.     “oh..ya,kemarin kenapa kau tak jadi kerumahku?”

“maaf,aku harus pergi ke suatu tempat.”

“aish… tempat apa itu,hah ? jangan bilang lebih baik dari rumahku makanya kau ke sana,”

“aniya,rumahmu lebih nyaman kok.”

Sooyoung mengetukkan sendok chiffon-nya dikepala ku.

“oh.. ya,kenapa tiba-tiba Junior turun lebih pagi darimu ?”

“molla,itu baguskan. Tapi pagi ini aku kalah 2 point darinya.”

“hah ? jeongmal ? kenapa bisaa?”

“mollayo.”

Mata sooyoung lalu menuju kearah belakangku. Wajahnya berubah heran. Penasaran,aku menoleh kebelakang. Junior sedang berjalan ke…. Arah kami ?

“ikut aku.” Tanpa basa-basi dia menarikku pergi dari caffe. Sooyoung yang ku harap bisa menolong malah melambaikan tangannya. Huh !

 

“hei ! apa-apaan sih ?” kataku kesal. Ternyata dia menyeretku ke lapangan basket.

“kenapa kau tak mau operasi ?”

“kau Cuma buang waktu .”      tanganku langsung dicengkramnya.

“kau tahu kau bisa matikan ?”

“apa pedulimu ?! playboy seperti mu tak akan mengerti perempuan !”      tanganku berhasil kulepaskan darinya.

“kenapa kau sangat keras kepala sih ?!”

“kalau aku operasi,rahimku akan diangkat. Itu artinya aku tak sempurna sebagai perempuan. Kau laki-laki,tidak akan mengerti kalau perempuan yang tak punya rahim itu adalah siksaan.”

 

“jangan pernah bertanya hal itu lagi padaku.” Sambungku.

***

JUNIOR POV

Hmm…. Sampai segitunya ia menolak untuk di operasi. Gara-gara hal dilapangan basket tadi siang,aku jadi merasa bersalah. Tapi aku juga tak tega kalau dia harus kesakitan terus. Dia membahayakan nyawa-nya sendiri.

“Junior,kau belum tidur ?” omma masuk ke kamarku.     Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan-nya.

“omma,” panggilku saat dia hendak keluar.

“waeyo ?”

Aku memikirkan pertanyaan yang akan ku tanyakan.

“kalau rahim omma harus diambil demi keselamatan,omma mau tidak ?”

Wajah omma heran. Mungkin aneh dengan pertanyaanku.

“perempuan pasti tidak mau rahim-nya diambil. Karena bisa mengandung seorang anak didalam rahim itu luar biasa. Tapi kalau demi keselamatan,terpaksa dilakukan.”

Setelah omma keluar,aku bergegas bangkit dari tempat tidurku. Perlahan-lahan aku mengendap-endap untuk keluar rumah. Jangan sampai orang rumah terbangun karena suara kaki-ku.

 

Melewati beberapa jalan. Aku sampai didepan rumah Hyoyun. Agak gila juga sih.. kenapa aku mau datang larut malam begini ke rumahnya.

Aku mencoba mencari-cari yang mana jendela kamarnya. Wah… ternyata dia yang membuka jendela yang terletak paling atas saat aku masih mencari. Mataku tertuju kebawah mencari sesuatu yang bisa dilempar. Dapat sebuah kaleng bekas softdrink. Sejurus kemudian kulempar kaleng softdrink ke jendelanya. Padahal dia sedang tenang berpangku tangan disana.

Akibat lemparan ku,dia langsung berhenti melamun dan melihat kearah bawah. Dia melihatku yang sedang berdiri dibawah,lalu akupun melambai.

“ya ! kau kurang kerjaan yah ..?” gerutu-nya.   Aku tak menjawab,tapi memanggilnya dengan isyarat tangan.

“ah… wae ?” keluhnya.

“sudahlah,cepat turun ke sini.”

 

Dia keluar memakai sweater polkadot. Setengah berlari menuju ke arah ku.

“mwo ?” tanya-nya sinis.

Ng…. aku bingung sendiri. Karena aku ke sini tanpa berpikir dulu.

“kalau tak ada urusan pulang saja.” Ceplos-nya sambil beranjak pergi. Tangan-nya langsung kuraih.

“tunggu,”

“apa lagi ?”

“nan neo jowayeo”       kening-nya berkerut mendengar ucapan ku. Huft.. aku juga merasa aneh dengan kata-kataku.

“jangan main-main.” Katanya.

“ng… bukan maksudku. Aku khawatir kalau kau tak operasi nanti bisa membahayakan hidupmu. Jangan menyiksa dirimu terus seperti ini.”

“sudah ku bilang aku tak mau. Sekarang lebih baik kau pulang.”

Dia berbalik kembali ke rumahnya. Namun,beberapa langkah kemudian dia tiba-tiba jatuh. Aku berlari kesana dan menemukan ia memegangi perut bagian bawah-nya.

“ya,Hyoyun,” panggilku.       Dia terus mengerang kesakitan.

“aku akan membawamu ke rumah sakit.”

***

HYOYUN POV

Oh.. Tuhan. Sakitnya makin menggila. Kenapa datangnya selalu tiba-tiba begini.

Junior mengangkatku dipunggungnya. Dia berlari dengan panic membawaku. Kami sampai di jalan raya. Dan dia masih dengan panic berusaha menyetop taksi yang lewat.

“bertahanlah.” Hiburnya.

***

Aku membuka mata. Sudah berada ditempat tidur yang nyaman. Aku tak ingat lagi kejadian setelah perjalanan kerumah sakit. Pintu ruanganku dibuka,itu Junior.

“kau sudah merasa lebih baik sekarang ?” tanya Junior.      Aku mengangguk.

Ku lirik jam yang tergantung di dinding. Jam 01.30. Selarut ini,Junior belum pulang kerumahnya ?

“kau tak pulang ?” tanyaku.

“ani,aku akan tunggu sampai orangtua mu datang.”

Ku tarik selimut ku lebih rapat.

“ng.. itu,kata dokter sudah sangat parah. Kalau tidak cepat..”

“hentikan. Aku tak akan melakukannya.” Sela ku. Wajahnya berubah kesal memandangku.

“kenapa kau keras kepala sekali sih ? kau bisa mati karena keras kepalamu itu.”

“karena aku tak sempurna sebagai perempuan jika rahimku diambil. Siapa yang akan menerima keadaanku nanti kalau begitu,hah ?!”

“Aku !”     mwo ? dia mengatakannya sampai emosi begitu. Memangnya dia sungguh-sungguh dengan kata-katanya itu.

“lebih baik kau pulang.”

“aku serius.kalau kau takut tak ada yang bisa menerima keadaanmu,aku bisa.”

Sepertinya dia ingin melanjutkan kata-katanya tapi orangtuaku keburu datang.

“ommo !Hyoyun. kau baik-baik saja ?” tanya ibuku. Dia cemas,lalu menggenggam tanganku. Aku mengangguk lemah.

Ayah melihat kearah Junior. Junior tersenyum dan membungkukkan badan.

“dia yang menolongku,tadi aku tiba-tiba pingsan saat jalan-jalan.” Jelasku. Meskipun itu bohong. Aku takut orangtuaku salah paham dengan Junior.

***

JUNIOR POV

Sudah 4 hari sejak peristiwa itu. Tapi aku tak melihat Hyoyun ke kampus. Ada apa dengannya ? apa dia cuti kuliah yah..?

Di Caffe aku bertemu 2 orang temannya,kalau tak salah Sooyoung dan Jessica.

Tanpa permisi aku duduk di meja mereka,dan tersenyum manis sepeti biasanya yang ku lakukan pada gadis-gadis.

“ah.. waeyo..? senyuman mu itu tak mempan.” Ujar Jessica kesal.

“wah.. kau sama dengannya yah…, ngomong-ngomong kalian tahu kenapa hyoyun tak ke kampus ?”

“itu…”

***

“dia baru saja operasi 2 hari yang lalu. Dia sendiri yang memutuskan,meskipun kami lihat wajahnya sedih. Dia egois,kenapa merahasiakannya dari kami sih..”

Perkataan Sooyoung tadi mendorong ku untuk pergi ke rumah sakit waktu itu.

Di ruangannya,dia berbaring lemah. Menatap langit-langit kamar yang putih. Aku tahu,past berat baginya untuk melawan keinginan hatinya.

Hyoyun menyadari aku ada di sini,lalu berusaha bangun. Entah kenapa aku juga merasa sakit dengan penderitaannya. Aku tak tega melihat matanya yang sayu. Seperti orang putus asa.

***

HYOYUN POV

Ada apa ? Junior memelukku erat-erat. Aku bisa merasakan pundak ku basah. Ia menangis. Inikah orang yang selalu ku anggap egois dan jahil ?

Jangan membuat suasana haru. Aku sudah banyak menangis beberapa hari yang lalu. Aku tak ingin menagis lagi. Walaupun penyakit ini pergi dari tubuhku,tapi sakit hati ku masih ada.

“gwenchana.” Ia menepuk pundakku. “kau akan baik-baik saja. Kau sudah berani membuat keputusan yang tepat.”

Beberapa detik hingga dekapan itu lepas dariku. Junior membalas wajah pahit ku dengan senyuman.

“kenapa kau ke sini ?” tanya ku.

“aku khawatir.”

Aku memalingkan wajahku darinya.

“buat apa khawatir pada perempuan yang sering mengomeli mu,”

“karena kau istimewa.”

Aku terhenyak dengan ucapannya. Mungkin saja ini salah satu jurusnya merayu perempuan.

“berhenti mengatakan hal bodoh.”

Ia menatapku dengan tajam. Sepertinya kesal. Kemudian dia pergi meninggalkan ruanganku.

2 jam berlalu. Junior tak kembali. Benarkan. Dia pasti kesal dengan kata-kataku.

“Brak..!” pintu di buka dengan paksa. Junior ?

Dia menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin ke hadapan ku.

“maaf kalau ini cincin murah. Aku buru-buru membelinya,”

Heh.? Aku mengernyit heran.

“Hyoyun,…. Menikahlah denganku.”

Aku terdiam lagi olehnya. Kali ini aku sangat kaget sampai tak bisa bicara.

“pernikahan bukan hal yang bisa dilakukan seenaknya.” Jawabku berusaha cuek. “lagipula,apa kau mencintai ku ? kenapa kau ingin menikah denganku ?”

“kau selalu bilang tak ada yang bisa menerima mu kalau rahim mu tak ada,tapi aku bisa menerima mu.”

“itu perasaan kasihan.”
“menurut mu begitu,tapi aku benar-benar tulus.”

***

JUNIOR POV

“hai… Junior !” suster-suster cantik itu menyapaku dengan centil.

Sampai sekarang,aku masih jadi petugas delivery ayah.

“appa,” sahut ku masuk ke ruangan ayah. Dia tak ada. Berarti..

Aku menuju sebuah ruang kecil tempat pasien ayah biasa di periksa. Terlihat olehku seorang mahasiswi kedokteran yang sedang dalam masa magang. Masih asyik mereferensi buku-buku tebal.

“kau tidak lelah ?” tanya ku. “kau pindah jurusan demi buku-buku tebal ini,Hyoyun memang gila yah..” ejek ku.

Yah.. beberapa tahun yang lalu ia pindah jurusan ke kedokteran. Aku yang sudah bekerja di sebuah perusahaan,sementara ia masih magang di rumah sakit yang sama dengan ayahku.

“aku harus kerja keras.”

“Hyoyun,kapan kita menikah ?”

“kapan-kapan”

Aku agak kesal dengan jawabannya. Begitu mudahnya ia main-main begitu. Sejenak dia berhenti dari aktivitasnya,kemudian menatap ku.

“yang pasti,aku tidak akan lari darimu.” Katanya.

“kenapa tak taruh di meja ?” tiba-tiba di belakangku sudah ayah. Dia merampas kantong plastic di tanganku. “ya..ampun,kenapa ibu mu memasukkan banyak bawang,” protesnya. Aku mengangkat bahu.

“ayah,jam nya sudah selesaikan, boleh ku bawa dia pulang.” Tanya ku.

Ayah melambai mengisyaratkan kata pergi. Ia sibuk dengan makannya.

Langsung ku raih tangan Hyoyun untuk membawanya pergi dari situ.

“tapi aku belum..”

***

“aissh… kau ini ! kenapa bertingkah seperti itu di depan ayah mu ?” omelnya.

Aku tertawa geli. Masih tertawa,melintas pasangan suami-istri dan anaknya yang masih bayi didepan kami.

Hyoyun memperhatikan mereka dengan mata berbinar. Seperti ada keinginan dalam matanya.

“suatu hari kita akan punya keluarga sperti itu.” Doa ku.

Dia menghela nafas.

“tapi tanpa bayi itu.” Lirihnya.

“kita bisa mengadopsi. Di dunia ini,daripada ibu yang tak punya anak lebih banyak anak yang tak punya ibu.”

(D-N)

4 responses to “Bring My Happines

Komentar ditutup.