Don’t Be Sick, Please…

Author       :      Yesungyoon

Genre        :      Sad, brothership

Length      :      one shot

Cast         :      Kim Donghyuk (Team B, YG’s Trainee), Gong Minzy (2NE1)

Annyeong, author ganti nama? Eh? Hahaha kayaknya nama Yesunggyu masih bagus ya? Entahlah. Nah, author lagi keranjingan sama acara WIN. Dan ketika pengumuman kemenangan, author banjir air mata. Gimana enggak. Author suka team A tapi author cinta team B. duh. Sebagai hadiah cinta untuk team B, author mau membuat FF untuk mereka. Yah, salah satu dulu lah. Dimulai dari magnae imut Donghyuk. #plokplokplok #tepuktangan. Akhirnya author jadi noona setelah sekian lama… kya~~~ #plakplakplak #gampar

Langsung aja dibaca ya! Jadi ini karya asli author. Bukannya pede, tapi jangan copas tanpa credit dan jangan plagiat ya! Oce.

…………………………

Aku terdiam sambil menatap keluar jendela kamar rumah sakit ini. Merasakan hembusan angin musim dingin masuk dan menampar wajahku yang mulai membiru. Aku sudah tidak tahan lagi dengan udara ini dan mulai menutup jendela dengan perlahan. Seketika air mataku jatuh ketika mengingat seseorang pernah menyuruhku untuk menutup jendela ketika musim dingin agar aku tidak sakit. Hanya 3 tahun yang lalu.

……………………………

“setiap musim dingin, jangan lupa untuk menutup pintunya. Kecuali kalau kau mau mati kedinginan…” ujar seorang perempuan yang telah kukenal selama 3 bulan dari 17 tahun hidupku. Ia menutup jendela sambil menggerutu dan tak lupa merapikan rambutnya yang panjangnya sebahu yang tertiup angin.

“aku hanya ingin melihat salju. Aku tidak bisa keluar dari kamar ini, apa aku juga tidak boleh untuk melihat salju dari jendela?” tanyaku dengan memberi alasan kecil. Perempuan yang ada dihadapanku ini hanya mengerutkan dahinya dan menatapku dengan heran.

“kau tidak tahu penyakitmu atau bagaimana?”

“hehehe… aku tahu. Aku hanya ingin melihat salju saja. Apakah itu salah?” tanyaku.

“salah. Kau kan bisa melihatnya di tivi atau diinternet. Kenapa harus melihatnya secara langsung?”

“tidak seru…”

“yah, tidak seru, berarti akan lebih seru kalau kau mati, ya?”

“hahaha… bukan begitu Minji ya… aku hanya…”

“sudah berdebatnya… aku mau pergi dulu. Ada yang harus kulakukan… makan yang banyak ya. Jangan sakit…” Minji, perempuan yang tadi bersamaku, berbalik badan dan mulai meninggalkanku seorang diri. Aku hanya bisa menatapnya pergi dan beberapa detik kemudian melihat makanan yang ada dihadapanku. Makanan rumah sakit yang harus selalu kumakan setiap hari sejak 3 bulan terakhir ini. Huft, aku bosan.

…………………

Yah, meskipun dikatakan bosan, tapi aku terkadang merindukan makanan itu. Aku tidak tahu jika terkadang Minji diam-diam mengganti menu makananku dengan menu yang lebih baik. Tapi aku merindukan semuanya. Terutama karena ia yang mengantarkan makanan itu untukku.

“wah, tumben sekali makanan rumah sakit berubah!” ujarku dengan sumringah. Ini bagai menemukan air dipadang pasir yang kulihat bagai fatamorgana. Tapi sudahlah, aku memang berlebihan!

“sudahlah, dimakan saja. Nanti kau tambah sakit!” jawab Minji dengan segera ia memberikan sendok untukku.

“aku tahu. Sini…” aku mengambil sendok itu dan mulai memakan makanan dengan lahap. Begitu nikmatnya sampai-sampai aku merasakan air mata mengalir dipipiku. Aku tahu, ini berlebihan.

“makan yang banyak, jangan sakit ya!” Minji kembali mengulang kata-kata itu.

“aku tahu! Nyam nyam…” aku menjawab sambil mengunyah. Minji hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.

……………………

Sesekali aku pernah melihat wajah pucat Minji ketika mengunjungiku. Aku merasakan aura ketakutan darinya. Aku tidak tahu mengapa tapi mungkin ia sedang cemas atau, entahlah, aku menyerah. Aku tidak tahu mengapa.

“Donghyuk, apa kau memberitahukan ayahmu kalau aku mengunjungimu?” tanyanya hati-hati.

“tentu saja tidak. Aku dan ayah tidak akrab. Lagipula ia juga jarang mengunjungiku. Datang hanya sekedar melihat bahwa anak satu-satunya yang tampan ini masih hidup. Setelah itu pergi meninggalkan bunga. Aku tampak seperti perempuan saja kalau ia terus memberikanku bunga, kan?” aku berceloteh panjang lebar, berusaha agar mencairkan suasana. Namun aku melihat raut wajah Minji tidak berubah sama sekali. Dingin. Cemas. Takut. “ada apa?”

“tidak. Bukan apa-apa. Tidurlah…”

“tidur? Ini baru jam 4. Dibilang tidur siang, bukan. Dibilang tidur malam, juga bukan…” sekali lagi aku tidak melihat raut wajahnya berubah. Tapi aku dapat melihat senyum mengembang dibibirnya meski dengan sedikit terpaksa.

“yah, istirahat saja lah. Sudah 1 tahun kamu di rumah sakit ini. Apa tidak bosan?” tanyanya. Benar, sudah 1 tahun aku berada disini. Agak membosankan sih. Apa? Agak? Kurasa aku salah menempatkan kata. Aku sangat bosan!

“bosan. Tapi mau bagaimana. Sepertinya aku ditakdirkan untuk mati ditempat ini…” begitu mengatakannya, Minji segera memukul bahuku dengan keras.

“kau tidak boleh mengatakan hal itu!” ujarnya sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tas selempangnya. Ia akan pergi. Perlahan wajahku mulai menunjukkan keengganan untuk ditinggalkan.

“aku harus pergi. Ada yang harus kulakukan. Annyeong!”

………………………

Aku dapat melihat dengan jelas raut wajah ayah yang mengeras dan memerah. Ia tampak akan menghamburkan kamarku. Aku baru saja bertanya padanya apa ia mengenal Gong Minji, karena Minji mengenal ayahku. Mungkin saja ayah mengenalnya kan? Bukan apa-apa. Hanya saja selama 4 bulan ini ia tidak mengunjungiku. Selama 1 tahun 5 bulan aku dirumah sakit tidak pernah ia absen mengunjungiku. Minimal seminggu 3 kali. Tapi aku tidak mengerti mengapa ia tidak mengunjungiku selama 4 bulan berturut-turut. Aku mencoba menghubunginya namun ponselnya tidak aktif.

“bagaimana bisa kau mengenal anak itu?” Tanya ayahku pelan.

“ayah mengenalnya? Bagaimana? Ehm. Bagaimana ya? Itu terjadi begitu saja. Karena tidak ada yang mengunjungiku. Minji mulai mengunjungiku. Dan dia juga orang yang baik. Apa ayah mengenalnya?”

Aku mulai tidak mempercayai perkataan ayahku agar tidak menemui Minji lagi. Selalu setiap aku menanyakan alasannya ia tidak pernah dapat menjawabnya. Hanya satu alasan saja apa yang sulit dari itu? Aku tidak tahu dan tidak mengerti. Aku membenci keadaan ini. Begitu aku merasa sakit karena penyakitku, aku malah dilarang bertemu Minji. Dalam diam aku baru menyadari bahwa Minji adalah obat untukku. Ukh, mengapa aku baru menyadarinya? Aku membenci keadaan ini.

……………………………

Hal itu terjadi hingga 2 bulan kemudian. Aku tidak bisa istirahat dengan tenang dan tidak bisa makan dengan teratur. Waktu terasa lambat bagiku. Aku sangat merindukan Minji dan ayahku tidak memperbolehkanku untuk bertemu dengannya. Bahkan Minji tidak mengunjungiku. Bagiku itu masalah besar!

……………………

Seorang perawat datang membawakan makanan untukku. Ia memberikan menu yang sedikit berbeda dari biasanya.

“kenapa…”

“kau beruntung ada orang yang memperdulikanmu.” Ujar perawat itu tanpa membiarkan aku untuk bertanya. Melihat menu yang tampak familiar dan tampak khusus dari seseorang aku kembali bertanya.

“perempuan yang sering mengunjungimu itu tidak dapat masuk karena ia tidak berani bertemu denganmu. Ia baru saja pergi begitu memberikanku makanan ini untukmu.” Jawaban perawat itu membuatku bangkit dan keluar dari kamar. Meski ia mencoba menahanku, namun aku tetap bisa lolos darinya. Aku mulai panik mencari sedikit bayangan dari Minji.

“aku baik-baik saja dokter!”

Deg.

Suara itu. Aku mengenal suara itu. Aku mengintip dari balik tembok dan mulai tidak mempercayai pandanganku. Minji, perempuan yang kurindukan. Ia ada disana. Aku hanya bisa merasakan jantungku mulai sesak. Aku benar-benar merindukannya. Dia sedang berbicara dengan dokter. Apa yang mereka bicarakan?

“sebaiknya kau juga tinggal disini. Kesehatanmu itu…”

“aku baik-baik saja. Lagipula aku tidak punya cukup uang untuk tinggal”

“bukankah ayah anak itu juga ayahmu? Ia bisa membiayai kalian berdua…”

“dia tidak akan mau…”

Semua makin jelas dihadapanku. Benar-benar sangat jelas. Begitu aku mendengarkan bahwa Minji memiliki ayah yang sama denganku dan memiliki penyakit yang sama denganku, saat itu juga aku mulai marah pada keadaan ini. Aku mulai membenci situasi ini. Minji terkejut melihatku yang mengikutinya dan mulai untuk menghiburku. Tapi itu percuma. Aku sangat, entahlah. Aku bahkan tidak mengerti dengan perasaan ini. Sebenarnya siapa yang membuatku marah? Dan siapa yang sebenarnya harus kusalahkan? Aku tidak tahu dan aku tidak mengerti. Aku berharap aku benar-benar tidak mengetahui apapun.

……………………

Minji dan aku memiliki perbedaan umur 3 tahun. Ia lebih tua, seharusnya aku memanggilnya noona. Ia adalah anak ayahku dari pernikahan sebelumnya. Ayahku dan ibunya bercerai karena perkelahian yang tidak kumengerti. Ibunya meninggal ketika ia berumur 10 tahun dan ia mulai diasuh oleh kakak ibunya yang baik hati.

Aku mulai berusaha untuk hidup tanpanya. Aku rasa aku bisa. Beberapa hari kemudian setelah aku mengetahui kenyataan pahit ini. Ia datang menemuiku dan mulai berbicara denganku. Keadaan mulai canggung tidak seperti biasanya. Aku bingung.

“karena itu, bisakah kau berjanji padaku?” tanyanya.

“hem?”

“berjanjilah untuk tidak sakit lagi dan agar cepat sembuh!” ujarnya.

“tentu saja. Aku berjanji tidak akan sakit lagi selain dari sakit ini dan akan cepat sembuh.” Aku tersenyum padanya, aku bisa melihat ia tersenyum kembali.

“aku akan…”

“karena kau sama denganku, maka sebaiknya kau juga berjanji padaku seperti itu. Dengan begitu aku akan menjalani hidup dengan bahagia. Dan nanti kita bisa keluar dari tempat ini bersama-sama!” aku mengatakan hal ini sambil menatap keluar jendela. Aku merasakan angin musim panas menggelitikku. Aku tidak ingin menatap wajah Minji dan mulai menangis.

“yah. Aku juga berjanji. Kita bisa pergi bersama seperti seorang saudara tanpa ayah memarahi lagi kan?” tanyanya dengan lirih.

“tentu saja!” aku mendengar langkahnya mulai menjauh dariku.

“oh ya!” aku menoleh padanya yang mulai memegang knop pintu.

“hem?” tanpa menoleh ia bertanya padaku.

“Noona, saranghae!” ujarku dengan senyuman yang mengembang. Akhirnya aku bisa mengucapkannya tanpa beban. Tanpa perasaan yang sakit. Dan aku bisa mengucapkannya tulus dari hatiku dengan bahagia. Benar, aku mencintai noonaku. Dia adalah noonaku satu-satunya bagiku!

Seketika hangat tubuhnya menjalar keseluruh tubuhku. Ia memelukku dengan erat seperti baru saja menemukanku yang hilang entah kemana. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali membalas pelukannya dan menghiburnya yang menangis di bahuku. Noonaku sangat cengeng.

……………………………

Aku keluar dari kamar rumah sakit ini setelah menutup jendelanya dan mengusap air mataku. Ini bukan kamarku. Ini kamar noonaku. Aku hanya bisa melihat ranjang itu mulai dibersihkan oleh seseorang yang bertugas dirumah sakit. Aku sendiri sudah tidak punya kamar dirumah sakit. 3 tahun sudah cukup bagiku tinggal disini. Aku sudah sembuh sepenuhnya.

…………………………

“selamat atas kesembuhanmu! Akhirnya!” seorang perawat mengucapkan selamat padaku begitu dokter keluar menginggalkan kamar ini. Perawat itu sudah seperti bibi bagiku. Ia sangat baik.

“hehehe… terima kasih…” jawabku sambil mengenakan sepatu untuk segera keluar dari tempat ini. “oh ya bagaimana dengan Minji noona?” tanyaku.

“kau tidak tahu ya?”

Aku segera berlari begitu mendengar berita kalau Minji noona mengalami gagal operasi. Berbeda denganku yang berhasil. Aku berlari sekuat tenaga yang kumiliki menuju kamarnya. Tidak terlambat. Ini belum terlambat kan?

“NOONA!”

“Jangan berteriak…” ujar ayahku yang sudah ada dikamarnya. Aku melihat sekelilingku. Sudah banyak orang disana. Bibi dan paman Minji, adik sepupunya, keluarganya, dan yang tidak bisa kupercaya, ayahku. Pantas saja ia tidak menjemputku.

“tunggu, noona baik-baik saja kan?” tanyaku mulai mendekat dengan perlahan.

“Donghyuk, sebaiknya kau mengemasi barangmu dan mulai pulang kerumah…” ujar ayahku.

“noona, baik-baik saja kan?” bagai orang tuli aku tidak menghiraukan perkataan ayahku dan terus berjalan mendekati ranjang yang disana terbaring tubuh Minji.

“Donghyuk!”

“ini pasti bohong kan? Noona pasti berhasil kan? Noona selamat kan? Noona sehat kan?” aku terus mengulang pertanyaan itu. Keluarga Minji hanya bisa terdiam mendengarku.

“mengapa tidak ada yang menjawabku? Noona baik-baik saja kan? Ia sembuh kan?”

“Donghyuk… kau…”

“ayah! Apa yang harus kita lakukan? Noona sampai seperti ini. Apa yang harus kita lakukan?” aku menatap ayahku tajam. Air mata perlahan jatuh dipipiku.

Ayah mulai memelukku dan mencoba untuk menghiburku. Ia mengatakan kalau ini adalah salahnya. Aku tidak perlu merasa bersalah. Ayahlah yang membuat kami seperti ini. Ia yang memberikan penyakit ini kepada kami dan akhirnya membawa Minji pergi untuk selamanya. Tapi itu percuma. Hal seperti itu tidak akan mengembalikan noonaku. Tidak akan mengembalikan senyumannya. Tidak akan mengembalikan kehidupannya. Tidak mengembalikan apapun.

“dia bahkan tidak menepati janjinya padaku. Bagaimana dia bisa pergi dengan tenang? Ayah, noona tidak boleh pergi!”

…………………………

“Donghyuk-a… apapun yang terjadi, maukah kau mendengarkan satu permintaan dariku?”

“apa itu?”

“jangan sakit dan selalulah bahagia…”

……………………………

-THE END-

………………………..

Huah… akhirnya selese. oh ya, daku minta maaf sebelumnya sama posternya yang standar banget. Haduh, ini gegara mereka berdua itu gak punya foto yang cucok. Apalagi Donghyuk, susah banget. Maklum, belum debut. Wkwkwk,,,