Seribu Burung Kertas

SERIBU BURUNG KERTAS

tumblr_mceo9p7rL61qkuwkfo1_500
Author: Yoan Amalka.S
Cast : Jinyoung (B1A4),Jung Illwoo
Genre : sad life
Length : one shot
Wah.. akhirnya niat ku muncul juga ! cerita ini udah lama ke simpan di otak,but sifat malas ku menentang ku buat nulisnya. Kepada para readers selamat membaca !!! give your comment,please..! (>.<)

Sore itu,saat aku masuk kedalam ruang perawatannya,ia duduk di atas tempat tidur dan sedang berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan di mana-mana. Di atas tempat tidurnya,ia dengan tenang dan lincah melipat-lipat kertas tersebut. Lalu akhirnya ia sadar,aku berdiri terpaku melihatnya di depan pintu.
“Hyung !” sapanya dengan semangat,seakan-akan lingkar hitam di matanya yang menampakkan kelesuan tak memengaruhi suasana hatinya. Kemudian aku mendekat.
“apa yang kau lakukan,Jinyoung ?”
Ia tak langsung menjawab,tetapi menyelesaikan beberapa lipatan pada kertas di tangannya itu. Dan jadilah kertas datar itu membentuk sebuah burung.
“Burung kertas. Aku akan membuat sampai 1000 agar permohonan ku terkabul.” Jawabnya kemudian. Aku duduk di atas ranjangnya. “itu legenda Jepang.” Sambungnya lagi.
“kau masih percaya legenda seperti itu ?” Dia menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Ilwoo-hyung,aku akan sembuh.” Balasnya sambil menatapku. Seperti ingin menularkan semangatnya padaku.
Meski sudah lama menderita neuroblastoma,tak membuat dia pesimis kalau dia bisa sembuh. Justru aku,seorang hyung yang harusnya menyemangatinya malah takut,suatu hari ia akan benar-benar pergi dari ku. Adikku satu-satunya di dunia ini.
“hyung,sunset nya cantik.” Begitu sadar dari lamunan ku,terlihat dia memandang ke luar jendela.
Matahari sudah terlihat setengah,dan langit menjadi merah dan oranye. Jinyoung menatap pemandangan itu lebih lama dariku. Wajah pucatnya tak begitu terlihat di bias sunset,pun matanya yang sudah seperti panda karena lingkaran hitam yang kian menebal tak menghalangi bola matanya yang berbinar karena cahaya matahari.
“bisa saja ini sunset terakhir yang kulihat.” Ucapnya. Rasanya,aku seperti menjalani hari-hari terakhir bersamanya.
***
Pagi ini,aku dengan gembira membawa mainan yang sering kami mainkan waktu SD. Sebuah rubik yang ku temukan pada tumpukan-tumpukan barang di dalam gudang.
Memasuki kamarnya,ku temukan ia sedang melihat kea rah luar jendela. Mungkin iri dengan orang-orang yang berlalu-lalang di luar. Bisa ku mengerti,berdiam di kamar rumah sakit dalam waktu yang lama membuatnya merasa bosan. Lalu ku sembunyikan rubik itu di balik punggungku sebelum dia melihat.
“jinyoung,coba tebak apa yang ku bawa ?” ujar ku,masih berdiri di depan pintu.
Dia beralih dari jendela.
“apa itu hyung ?” ku keluarkan rubik itu dari balik punggung ku.
“hyung,apa itu ?”
Aku terdiam sejanak merasakan sesuatu yang aneh padanya. Perlahan kaki ku melangkah ke arahnya. Matanya tetap mengarah ke pintu. Ku hadapkan tangan ku didepan wajahnya,matanya tetap tak bergeming.
“hyung, cepat beritahu aku.” Desaknya.
“Jinyoung,sejak kapan kau buta ?” wajahnya terlihat kaget dan bingung.
“sebenarnya,sudah mengabur sejak beberapa hari yang lalu. Tapi ku abaikan.”
Akh..! aku ingin marah ! mengapa dia santai dengan sesuatu yang bisa berbahaya baginya ? bagaimana ia akan sembuh jika mengabaikan kesehatannya ? apa mata tak begitu penting baginya ?
“sudah berapa banyak burung yang kau buat ?” tanya ku.
“ng… baru 49,” jawabnya.
Aku mengambil kertas-kertas yang terletak di meja samping ranjangnya,mulai melipat-lipat hingga membentuk burung. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan sekarang. Mempercayai harapannya yang yakin akan bisa sembuh. Menaruh doa-doa pada burung-burung kertas ini.
“hyung,berikan aku salah satu burung itu.” Pinta nya,menyela ku yang sedang membuat.
Lalu ku taruh satu di telapak tangannya.
“hyung,punya bollpoint ?” laci meja samping tempat tidurnya ku buka,dan menemukan sebuah bollpoint untuknya.
Sembari terus melipat origami burung,aku melihat dia mengukir sesuatu di sayap kiri burung kertas itu dengan hati-hati,tentu sulit melakukannya tanpa mata. Walaupun tak sempurna,bisa terlihat gambar sebuah bintang.
“hyung,tolong dekatkan aku pada jendela.” Ku hentikan aktivitasku demi memapahnya ke dekat jendela.
Dari jendela,ia melempar burung kertas itu. Melayang bersama angin sehingga terbang menjauh.
“untuk apa kau lakukan itu ?” penasaran ku.
“suatu hari,burung kertas itu akan kembali.”
Aku merasa konyol dengan ucapannya.Jinyoung terlalu tinggi dalam imajinasi. Bercampur dengan harapannya untuk sembuh.
***
“Hyung,kau tak pergi bekerja ?” cemas Jinyoung.
“ani,” jawabku singkat.
Sejak dia buta,aku tak mau meninggalkannya. Khawatir akan terjadi sesuatu yang lebih parah.
“seharusnya hyung pergi saja selagi bisa kemanapun.” Ujarnya.
Kata-katanya menyiratkan ia bosan berlama-lama di rumah sakit. Yang kuherankan,walau matanya buta, ia terus saja memandang keluar jendela.
“apa yang kau lihat di luar jendela ?” ah.. itu pertanyaan bodoh untuk orang yang buta.
Matanya mengarah ke langit.
“apa hari ini,langit sangat biru ?” tanya-nya.
Aku turut menatap langit. Wah… aku tak menyadari langit sangat biru hari ini. Tanpa ada noda awan putih. Cuaca hari ini begitu cerah.
“hmm..nde,sangat biru.”
“hyung,aku iri dengan orang-orang di luar sana. Mereka masih bisa bergerak bebas.”
Untuk pertama kalinya dia mengeluh,semenjak menderita neuroblastoma. Semakin menimbulkan ketakutan besar di hatiku. Jinyoung,aku adalah hyung yang jahat. Karena pesimis kau bisa tetap terus hidup.
Burung-burung kertas di kamar ini sudah terlihat banyak. Tapi belum mencapai seribu. Aku tak berani menghitung berapa banyak yang harus di buat lagi. Yang terpenting buat sebanyak mungkin.
“tess !” setetes darah dari hidungnya membuatku panic.
“Jinyoung, gwenchana ? Jinyoung ! jinyoung !”
Dia ta merespon panggilanku. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Tubuhnya terkulai lemas hingga akhirnya tak sadarkan diri.
***
Akhirnya,ia sadar setelah beberapa hari pingsan. Saat itu aku benar-benar takut. Melihatnya membuka mata melegakan perasaanku.
“syukurlah ,akhirnya kau sadar.”
“hyung,kau menangis ?” Kata pertama yang keluar dari mulutnya saat sadar.
“aniya,” sanggah ku.
Tangannya mencoba menyentuh pipiku. Bibirnya tersenyum,di tengah wajahnya yang lemah.
“benarkan,suaramu terdengar serak. Pipi mu basah.”
Tebakanmu benar. Aku selalu menangis waktu kau tak sadar. Itu karena aku takut. Kau tak tahu betapa khawatirnya aku,kau pun tak harus tahu aku memang menangis.
“Hyung,jangan menangis,aku belum mati.” Katanya pelan.
“aku tidak menangis.”
Dia tersenyum.
“aku mengantuk.” Ujarnya.
Sayup-sayup matanya,mulai menutup lagi. Ku biarkan ia tertidur.
Beberapa jam kemudian,aku membangunkannya untuk makan. Aku mulai cemas dia tak bangun-bangun. Tubuhnya mulai terasa dingin. Sekeras apapun suaraku memanggilnya,ia tak mendengar.
***
Terduduk lesu di atas tempat tidur,masih dengan jas hitam. Ku tatap sekeliling ruangan kamar yang pernah di tinggali Jinyoung. Sebenarnya aku tak mau kembali ke sini. Terlalu banyak ingatan dengannya di sini. Dan itu membuatku sakit,menyesali kenapa harus terjadi peristiwa ini.
Burung-burung kertas itu tak sampai seribu. Karena itu mereka tak mengabulkan permohnannya. Tapi justru mengambilnya.
Sebentar lagi. Aku masih ingin terduduk lunglai di sini.
Di tengah rasa sedih ku. Melayang sebuah burung kertas mendekatiku. Terjatuh tepat di depan ku. Kemudian ku pungut.
Benar kata Jinyoung. Burung ini akan kembali. Burung kertas yang memiliki gambaran bintang Jinyoung.
Kenapa ini kembali ? bagaimana bisa ? mungkinkah imajinasi Jinyoung itu nyata ?
Gambaran bintang ini sudah memudar. Ku bongkar lipatan-lipatan kertasnya. Ada coretan tulisan tangan yang ku temukan di dalamnya.

“ untuk Illwoo hyung,
kau baik-baik saja ? Hyung,pesanku benar-benar tersampaikan pada Tuhan. Bahkan bukan hanya penyakitku yang sembuh,tapi Ia membawaku ke tempat yang menakjubkan. Aku bertemu dengan banyak orang baik,juga kakek dan nenek.
Hyung,burung itu memang tak sampai seribu untuk mengabulkan doa ku. Tapi harapanku dan keyakinanku,mampu sampai kepada Tuhan.
Hyung,jaga diri mu baik-baik. Dan jangan menangisi ku,karena aku baik-baik saja dan bahagia di sini. Suatu hari kita akan bertemu di sini.
Aku menunggu mu.
Jinyoung ”