Forever After (Part 4)

1234

Tittle : Forever After (part 4)
Author : Yoon Hara – Nur Hayatie
Length : Continue
Genre : Sad, romantic (??), other.
Cast : Moon Geun Young, Kim Jong Woon a.k.a Yesung [Super Junior], Jiyeon [T-ara], Kim Jong Jin (Yesung’s brother), etc.

Annyeong Readers, apa kabar pembaca setia Forever After? Semoga dalam keadaan yang sehat-sehat saja. Jeongmal jeosonghamnida telah membuat readers menunggu lama kelanjutan dari cerita ini. Setelah berbulan-bulan vakum, akhirnya pada kesempatan ini saya telah menyelesaikan Forever After hingga Ending. Sekali lagi maaf telah membuat semuanya menunggu lama cerita ini diterbitkan.
…………………………………..

“wae geure? apa sesuatu sedang terjadi?” tanya Jiyeon karena melihat wajah gusar Jongwoon.
“….” Jongwoon membungkam, bingung apa yang harus dilakukan.
“OPPA!!”
“mm wae?”
“gwenchana?”
“eoo. Aku bingung harus bilang apa, makanan disini terlalu enak” ungkap Jongwoon. Namja ini jelas berbohong, Jiyeon tahu itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka melanjutkan makan. Kali ini saling diam.
“jeongmal mianhe, aku harus pergi sekarang” putus Jongwoon akhirnya. Segera dia bangun dari duduk lalu begegas pergi tanpa memandang Jiyeon lagi.
Jiyeon bingung, tak tahu harus bagaimana. Yeoja ini terdiam, dia membiarkan Jongwoon pergi begitu saja.
………………………………….
Jongwoon mencari kesana kemari, diseluruh tempat, diberbagai arah tapi nihil. Hari hampir malam tapi Geunyoung belum juga ditemukan.
“eottokhe?” tanya Jongwoon pada Jiyoung dari telpon.
“opsoyo”
‘kalau aku Geunyoung, kemana aku akan pergi?’ pikir Jongwoon. Tiba-tiba namja itu terpikirkan satu tempat, dia tidak yakin tapi tanpa membuang-buang waktu dia segera pergi menuju kesana.
………………………………….
“pergi kau dasar gadis gila” umpat seorang wanita pemilik sebuah toko kopi. Dengan kasarnya dia mengusir Geunyoung yang masih berpakain rumah sakit keluar dari tokonya hingga dia terjatuh.
Jongwoon yang baru beberapa detik berada disana lalu bergegas menuju ketempat Geunyoung terjatuh. Cukup keras suara wanita pemilik toko kopi tersebut berteriak sehingga menimbulkan suasana yang cukup menegangkan.
“jeosonghamnida ahjumma, wanita ini temanku, dia sedang sakit, jeongmal jeosonghamnida”. Jongwoon lalu membantu Geunyoung berdiri.
“apa yang kau lakukan disini? Semua sedang sibuk mencarimu, ayo kita pulang” ajak Jongwoon sambil memegang tangan Geunyoung untuk membawanya kembali kerumah sakit jiwa.
“lepaskan!” tolak Geunyoung sambil melepaskan tangannya.
Jongwoon diam saja, dia lalu menelpon Ji Young adik Geunyoung.
“eoo dia bersamaku sekarang, kau kemarilah, mungkin dia mau kalau ikut denganmu”
………………………………………..
Pagi itu, pagi-pagi sekali, Jongwoon baru pulang dari rumah sakit tempat Geunyoung dirawat. Dengan lesu dia membuka pintu apatemennya yang ternyata Jongjin telah berada didalam.
“darimana saja kau?” tanya Jongjin langsung.
Jongwoon tak menjawab, dia melewati adiknya menuju dapur untuk minum.
“hyung, Jiyeon mengkhawatirkanmu. Kenapa kau tidak mengangkat telponnya?”
“aku sibuk. Nanti aku akan menjelaskan padanya”
“sebegitu sibuknya kah sampai mengangkat telpon saja kau tak sempat?”
“aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Jongjin, kau tahu pintu keluarnya kan”
Maksudnya Jongwoon ingin agar adiknya ini pulang sekarang juga.
“apa ini karena Geunyoung lagi?”
Jongwoon tidak menjawab, sekali lagi dia melewati adiknya menuju kamar.
“hyung, sampai kapan kau akan terus begini? Sekarang sudah bukan masanya bagi kalian untuk bisa bersama lagi. Lupakanlah dia, pikirkan betapa hancurnya hati wanita yang telah bertahun-tahun terus menunggu cintamu”
“apa karena itu kau tidak memberitahuku?”
“oo? Memberitahu apa?”
“apa karena itu dengan seenaknya kau tidak memberitahukan keadaan Geunyoung padaku!!” Jongwoon mulai kesal.
“ye, maaf untuk yang itu, aku hanya berpikir lebih baik kau tidak mengetahuinya karena jika kau tahu maka seperti inilah jadinya”
“. . . .”
“hyung, sudahlah menyerah saja. kalian tidak bisa bersama lagi, Geunyoung mungkin sudah lupa padamu karena mentalnya yang sudah tidak waras lagi”
“ya, Kim Jonjin! Kau berbicara terlalu jauh. Ini semua bukan urusanmu!”
“memang bukan tapi aku tidak bisa tinggal diam saja melihat lagi-lagi ada wanita yang menangis karenamu”
“mwo?!!” Jongwoon menghentikan kesibukannya dan beralih serius mendengarkan ucapan Jongjin.
“kemarin pagi saat kau meninggalkan Jiyeon direstoran sendirian, dia kesini karena merasa khawatir lalu menunggumu pulang tapi sampai tadi malam kau tidak juga datang, dia terus menelponmu, dia menangis, kecewa karena untuk kesekian kalinya kau meninggalkan dia tanpa kabar”
“. . . .”
“aku heran padamu, apa mungkin barangkali kau yang sudah gila. Hanya karena wanita lain membutuhkanmu dengan serta merta kau tinggalkan wanita yang sedang bersamamu begitu saja. saat kau melakukannya, dimana kau letakkan hatimu?”
“mollayo. Kemarin aku terlalu panik karena Geunyoung kabur dari rumah sakit”
“apa itu bisa dijadikan alasan seeanaknya meninggalkan Jiyeon? Gunakan akal sehatmu hyung”
“aku muak mendengarmu. KHA!!” bentak Jongwoon.
Untuk beberapa saat Jongjin terdiam. “kau sadar, untuk kedua kalinya kau telah mencampakkan wanita yang sangat mencintaimu. Dalam hal cinta kau benar-benar payah. Kalau tidak bisa adil terhadap keduanya maka lepaskan saja salah satu diantara mereka”
Jongjin pergi meninggalkan apartemen Jongwoon, sebelumnya dia meletakkan sebuah undangan pernikahannya keranjang tidur disamping Jongwoon berdiri sekarang dengan maksud agar Jongwoon melihat undangan tersebut.
………………………………….
JONGWOON POV
Sudah 2 minggu lebih sejak terakhir kali Geunyoung mencoba melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Dia masih belum mengenalku. Dirumah sakit ini dia tak pernah keluar dari kamarnya, selalu duduk melamun dengan memegang boneka yang dianggap sebagai anaknya.
2 hari setelah kembalinya Geunyoung kerumah sakit, untuk pertama kalinya dia mencoba bunuh diri dengan terjun dari jendela dilantai 9. Oleh karena itu untuk mengantisipasi hal tersebut akan terjadi lagi, maka dokter memindahkan kamarnya kelantai 2.
Tidak mungkin aku meninggalkan Geunyoung yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan wanita yang telah kehilangan semangat hidupnya. Aku merasa bertanggung jawab atas hancurnya hidup Geunyoung. Terkadang takdir terasa tidak adil, dulu dunia memuji wanita ini.
Setiap hari, siang dan malam aku selalu berkunjung kekamar Geunyoung. Duduk disampingnya yang tak pernah melirik kehadiranku dan hanya berdiam diri saja bahkan ketika kuajak bicara. Aku menyesal atas musibah yang mimpanya saat ini, menyesal karena dulu menolaknya, membiarkan dia menikah dengan orang yang salah hingga dia jadi seperti ini.
Aku tidak menyangka akibat dari pertengkaran kami malam itu akan menyebabkan Geunyoung menderita hingga selama ini, seandainya ku iya kan saja keinginannya, mungkin dia tidak akan menikah dan disakiti. Kurang ajar kau Jang Geunsuk, aku bersumpah kau akan membayar atas semua ini.
………………………………..
“oppa” panggil seorang yeoja yang kukenal persis suaranya.
“Jiyeon? Sejak kapan kau disini?” tanyaku saat melihatnya berdiri didepan pintu apartemenku. “kenapa tidak masuk?”
“aku baru saja datang, kebetulan bertemu denganmu” jawabnya “kau baru pulang?”
“eoo”
“darimana?”
“rumah sakit, menjenguk teman lama”
Jiyeon mengangguk paham. Kami lalu masuk kedalam bersama-sama.
“kau lelah? Mandilah. Aku akan menyiapkan makanan untukmu?” tawar Jiyeon.
Aku mengangguk kecil sambil tersenyum lalu masuk kekamarku untuk mandi.

“kemarin-kemarin kau sibuk? Kuhubungi tapi nomormu tidak aktif” tanyaku ketika kami sedang makan dimeja makan.
“iya, maaf aku lupa memberitahumu. Dua minggu lalu aku ke Jepang untuk konser dan baru pulang 3 hari yang lalu” jelas Jiyeon. “oppa juga hari itu kemana saat kita sedang direstoran? Waktu itu aku menunggumu hingga malam, padahal aku khawatir sekaligus ingin pamitan denganmu”
“jeongmal mianhae, waktu itu aku panik karena temanku kabur dari rumah sakit, karena khawatir aku meninggalkanmu untuk mencarinya. Mianhae”
“begitukah? Gwenchana, arasseo”
. . . .
“kau sadar, untuk kedua kalinya kau telah mencampakkan wanita yang sangat mencintaimu. Dalam hal cinta kau benar-benar payah. Kalau tidak bisa adil terhadap keduanya maka lepaskan saja salah satu diantara mereka”
Ucapan Jongjin masih teringat jelas dibenakku. Dia benar, tidak seharusnya aku mempermainkan wanita sebaik Jiyeon.
“Jiyeon-ah”
“eoo?”
“gomawo”
“terima kasih untuk apa?”
“untuk segalanya, terima kasih karena telah menjadi teman terbaikku”
“oppa…”
“mianhae, aku tidak bisa memberi lebih seperti yang kau harapkan. kau baik, cantik, dan terlalu sempurna untukku, aku tidak pantas mendapatkanmu. Kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Terbanglah lebih tinggi dari saat ini, kau akan jauh lebih sukses walau tanpa aku disisimu”
“. . . .” Jiyeon mulai menangis.
“uljima” ucapku. “aku tidak ingin nantinya kau lebih sakit daripada sekarang ketika kau tetap disisiku. Jeongmal mianhae”
“apa kau sedang mengucapakan salam perpisahan? Aku sedang dicampakkan ya?”
“aniya, bukan begitu. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau bebas bersama lelaki manapun yang sanggup membahagiakanmu”
Tak ada percakapan lagi, kami hanya diam sambil menikmati makanan yang sedang kami santap. Mungkin ini terdengar menyakitkan bagi Jiyeon tapi inilah yang terbaik. Mianhae Jiyeon-ah, ada seseorang yang lebih membutuhkanku saat ini, aku tidak bisa pergi dan mengabaikannya.
Setelah pertemuan kami hari itu, aku dan Jiyeon jadi jarang bertemu. Dia sibuk dengan promosi album girlband nya dan konser keluar negeri. Jarang, hingga tak pernah ada kabar lagi darinya.
……………………………………….
Selama beberapa bulan terakhir sejak aku tahu keadaan Geunyoung yang sebenarnya, hingga kini belum ada perubahan apapun, dia masih sama depresinya seperti dulu, masih tertutup, kehadiranku tidak membantu penyembuhan Geunyoung sama sekali.
Baru-baru ini terdengar kabar dari media bahwa Geunsuk dipanggil kekantor polisi atas tuduhan penganiayaan terhadap pacarnya, tanpa membuang-buang kesempatan tersebut aku turut mengajukan tuntutan atas penganiayaan Geunyoung. Bukti-bukti menunjukkan dengan kuat bahwa Geunsuk bersalah dan membuat namja ini terpojok. Kebenaran yang ditutup-tutupi kemedia tentang alasan perceraian Geunsuk dan Geunyoung pun terungkap.
Kini media dan semua orang tahu kenapa mereka sampai bercerai dan alasan Geunyoung menghilang dari dunia hiburan. Geunsuk harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dia penjara dan semua orang mengecam tindakannya yang tidak berperikemanusiaan. Geunsuk pantas mendapatkan ini semua.
Karena media tahu, Geunyoung terus dicari oleh banyak wartawan. Rumah sakit bukanlah tempat yang aman lagi baginya. Maka aku, orang tua dan adik Geunyoung sepakat untuk memindahkan dia dari rumah sakit. aku membawa Geunyoung ke pulau Jeju, tempat dimana aku akan menyembunyikannya untuk sementara waktu sekaligus mengajak dia liburan.
………………………………
“Aku ingin pulang” pinta Geunyoung pada suatu hari. Saat itu aku sedang menonton tv dan dia keluar dari kamarnya. Sudah 3 bulan kami berada di pulai Jeju.
“kau yakin? Mungkin wartawan masih mencari-cari keberadaanmu” jawabku. Untuk pertama kalinya aku mendengar Geunyoung angkat bicara, dalam hal in berarti dia serius dengan ucapannya.
“sembunyi seperti ini tidak akan menghentikan pencarian mereka. Suatu saat, saat mereka menemukanku hal ini akan terulang lagi”
“….”
“cih!! Aku tidak selemah yang kau bayangkan sampai harus bersembunyi terus dibelakangmu”
“aku temani. Aku akan membantumu”
“andwe. Aku tidak perlu bantuanmu”
“Geunyoung-ah…”
“Ya! Jongwoon-ah, kau kira aku benar-benar gila seperti yang kalian bayangkan? Aku hanya lelah menghadapi kehidupanku yang begitu rumit”
“ara, aku tahu kau wanita kuat yang…”
“pergilah, aku tidak butuh bantuanmu”. Geunyoung berbalik dan kembali kekamarnya.
Akhirnya… terima kasih kau telah mengembalikan Geunyoung ya Tuhan. Walau lelaki sekalipun tapi aku tak dapat menahan rasa terharu ini, rasanya airmataku hampir keluar.
……………………………………
Geunyoung serius dengan ucapannya. Saat di Seoul, dia diserbu oleh puluhan wartawan yang meminta penjelasan tentang skandalnya dengan Geunsuk. Geunyoung menjawab pertanyaan wartawan-wartawan itu dengan jujur, dia juga berani menerima undangan sebuah acara tv yang khusus membahas skandalnya secara live.
Sekali lagi aku telah salah menilai wanita ini. Dia mampu, bahkan tanpa membutuhkan bantuanku. Geunyoung menyelesaikan semua masalahnya sendirian.
………………………………….
“apa itu?” tanyaku saat berkunjung ke apartemennya. Geunyoung tidak lagi dirawat dirumah sakit, dia tidak ingin terus-terusan dianggap gila.
“neo paboya? Kau tidak bisa lihat kalau ini kertas” jawab Geunyoung, kasar seperti biasanya. Tapi aku senang, berarti dia telah sembuh.
“aratta, tapi apa isinya?”
“berapa lama aku tinggal dirumah sakit? sepertinya aku lupa cara tanda tangan”
Kulirik kertas tersebut. Ternyata itu sebuah kontrak drama yang akan dimainkan oleh Geunyoung. Wanita ini benar-benar…. Aku merebut kontrak tersebut.
“Ya!! Apa yang kau lakukan. Kembalikan!!”
“aish jinjja… kau masih ingin muncul di tv setelah semua skandal yang ada?”
“bukan urusanmu!!”
Geunyoung mencoba merebut kontrak itu dari tanganku tapi gagal. Aku merobek-robek kontrak tersebut agar dia tidak bisa menandatanganinya. Dan coba tebak apa yang terjadi selanjutnya… dia marah besar.
“YA! Siapa kau ini sampai berani merobeknya hah!” ucap Geunyoung dengan nada tinggi.
“kau tidak perlu melakukan pekerjaan ini lagi”
“apa artis bisa disebut artis kalau tidak main film. Jangan ikut campur dengan urusanku”
“berhentilah jadi artis, kau tidak perlu bekerja lagi. Aku yang akan membiayai kehidupanmu”
“ya Jongwoon-ah, ini bukan masalah uang. Aku melakukan ini semua karena aku suka”
“geojimal”
“…. keure. Anggap kau benar dan aku bohong. Aku tidak akan menerima pekerjaan itu karena aku tidak suka. Lalu jika aku tidak melakukan pekerjaan tersebut, apa yang harus kulakukan? Duduk diam seperti orang gila? Bermain dan membuang-buang waktu seperti anak kecil? Atau menempel terus padamu karena tak ada yang bisa kulakukan. Kau mau aku melakukan yang mana diantara ketiganya?!”
“….”
“orang yang mempunyai kehidupan sukses sepertimu takkan mengerti seperti apa jalan pikiranku. Aku sudah hancur sekali, ini kesempatanku untuk bangkit lagi. Setidaknya aku harus mempunyai alasan untuk tetap hidup didunia ini. Kau benar, aku memang berbohong. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan selain bersandiwara didepan kamera. Mungkin hidupku memang ditakdirkan untuk terus berbohong dalam kehidupan nyata maupun khayalan”
“….”
“aku akan keagensiku untuk meminta kontrak lagi, kalau kau sudah tidak ada urusan cepatlah pergi”
Geunyoung mengambil tasnya lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Saat yeoja itu melewatiku, aku memegang pergelangan tangannya dan menahan dia pergi.
“kau sudah selesai bicara? Sekarang giliranku” ungkapku. Dengan setengah memaksa aku lalu membawa Geunyoung masuk kekamarnya dan mengunci yeoja itu dari luar.
“ya! Apa yang kau lakukan!! Kim Jongwoon, cepat buka pintunya atau…”
“keure”
“….”
“lakukan ketiganya sekaligus”
“mwoeo?” Geunyoung menggedor-gedor pintu kamarnya .“Ya Kim Jongwoon…”
“duduk diamlah didalam kamarmu tapi jangan buat dirimu gila, bersenang-senanglah seperti saat kita kecil dulu, dan… teruslah menempel padaku bukan karena tak ada yang bisa kau lakukan tapi karena aku tak ingin kau melakukan apapun yang menyangkut dunia hiburan”
“….”
“kau bertanya apa yang harus kau lakukan diantara ketiganya kan? Lakukanlah semuanya sekaligus”
“aish jinjja…” Geunyoung menggedor pintu kamarnya sambil mencak-mencak karena kesal. “Cepat buka pintunya Kim Jongwoon atau kau akan mati!!”
“aku tidak akan mati selama kau tetap didalam” gurauku. “aku sudah berkali-kali kehilangan kau Geunyoung-ah” lanjutku dengan serius. “berkali-kali mengingkari janjiku, selalu membuatmu kecewa. Aku bersyukur pada Tuhan karena Dia masih memberiku kesempatan untuk bertemu kau lagi, maka kali ini biarkan aku bertanggung jawab, aku akan menjaga dan melindungimu dari apapun yang membuatmu terluka”
“ya! Neo micheosseo?!”
“eoo. Neottemune naega micheo jinjja”
“….” Tak ada teriakan lagi, Geunyoung berhenti memberontak.
Kuharap dia mengerti kalau aku benar-benar takut kehilangan dia. Aku takut jika aku menyia-nyiakan kesempatan ini maka aku tidak akan pernah diberi kesempatan lagi untuk memiliki Geunyoung selamanya. Mengertilah Geunyoung-ah, aku tidak tahan jika harus melihatmu menderita lagi, sudah cukup penderitaan yang kau alami selama ini. Aku berjanji aku akan membuatmu bahagia selamanya disisa usia yang kita miliki ini.
………………………………..
Sementara Geunyoung ku kurung di apatemennya, aku mengurus segala kebutuhannya termasuk memutuskan kontraknya sebagai artis tanpa sepengetahuan dia. awalnya ia sangat marah karena aku terlalu ikut campur urusannya tapi lama-kelamaan dia tidak memperdulikan itu lagi. Berbulan-bulan dia terus kukurung diapartemen hingga lagi-lagi dia jadi terbiasa dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“kau ingin keluar jalan-jalan?” ajakku pada suatu hari.
“kukira kau akan mengurungku disini sampai mati” jawabnya tanpa berpaling dari tv yang sedang dia tonton.
“hahaha, aku tidak sejahat itu”
“….” Geunyoung tidak menjawab, dia terus menekan-nekan tombol remot untuk mengganti acara tv yang sedang ditontonnya, entah apa sebenarnya yang ingin dia tonton.
“kau marah?”
“….”
Aku mendatanginya dan mulai menarik tangannya. “mwoya?!” tanya Geunyoung tak suka.
“ganti bajumu, kita keluar jalan-jalan. Palli”. Aku menariknya dan membawa dia kekamarnya lalu menutup pintu kamar itu dan menahan dari luar agar tak dibuka.
“shireo!” Geunyoung memberontak “ya Jongwoon-ah, kenapa kau selalu melakukan hal seenaknya. Kau kira kau itu siapa hah!!”
Aku hanya tersenyum mendengar ocehan itu, ya kusadari memang aku selalu melakukan hal sesukaku terhadapnnya. “ganti saja bajumu. Jangan harap kau bisa keluar dengan pakaian yang sedang kau kenakan itu” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“aiisssh…” Geunyoung mengeluh. “michin namja”.
…………………………………..
Mendung, tidak panas dan tidak hujan. Hanya saja awan tebal sedang menutupi sinar matahari, angin juga bertiup sepoi-sepoi. Cuaca yang pas untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan ditaman yang berada disekitar apartemen, seperti yang kulakukan dengan Geunyoung saat ini.
“ada tempat yang ingin kau kunjungi? Sebutkan saja, aku akan mengantarmu kesana, kemanapun kau mau” tanyaku.
“aku ingin ke ujung dunia. Bisa kau mengantarku kesana?” jawab Geunyoung.
“ng? Bumi ini bulat kan, jadi dunia itu tidak memiliki ujung”
“keureyo? Bukannya kau bilang kau akan mengantarku kemana saja”
“iya tapi ketempat dimana tempat itu ada didunia ini, sedangkan tempat yang ingin kau tuju itu dimana? Sama halnya dengan pulau Neverland, kau tau dimana itu Neverland?”
“cih…”
“suatu tempat yang lain, adakah?”
“opso! Aku hanya ingin ke ujung dunia!”
“ya, Kau masih marah?”
“….”
“bagaimana kalau ke sauna? Taman bermain?”
Untuk beberapa saat Geunyoung tak menjawab kata-kataku. Dia malah melihat seorang ibu-ibu yang mengajak bermain anaknya yang masih balita. Geunyoung berhenti berjalan untuk memperhatikan mereka.
“Jongwoon-ah, dimana anakku?” tanya Geunyoung tanpa mengalihkan pandangannya.
“ng? Anakmu?” jawabku heran.
“eum, dimana anakku?”
“….” aku bingung dengan pertanyaan Geunyoung. Anak apa? Sejak kapan dia memilki anak. “mmm bukannya kau tidak punya anak” jawabku hati-hati.
“mwo? Ya!! Jelas-jelas aku yang melahirkan anakku. Seharusnya dia sudah sebesar anak ibu itu tapi aku belum melihatnya sejak melahirkan dia. dimana anakku sekarang?!!” kata Geunyoung, dia mulai marah.
Aku terdiam mendengar ucapan itu, bingung dengan semua yang diungkapkan Geunyoung. Tiba-tiba baru teringat olehku cerita Jiyoung mengenai kandungan Geunyoung yang terpaksa digugurkan karena sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Geunyoung.
“heoksi…” Geunyoung mundur menjauhiku.
“waeyo? Ada apa?” paparku heran, aku mencoba mendekatinya.
“kau… kau juga ingin membunuh anakku kan. Kalian bersekongkolkan” tuduhnya. Dia terus mundur sementara aku mencoba mendekatinya.
“membunuh apa? ‘Kalian’ siapa yang kau maksud?”. aku tambah heran dengan situasi ini. Kenapa Geunyoung tiba-tiba marah dan mendadak berubah, dia seakan teringat kejadian yang tak pernah terjadi. Salah paham mungkin tepatnya.
“dasar pembunuh!!”. Geunyoung berbalik lau berlari kearah jalan raya. Aku mengejarnya, yeoja ini hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil, dia mencoba menjauhiku lagi setelah menyelamatkannya. dia terus berlari keseberang jalan, kali ini aku tidak menghentikannya, aku hanya mengikutinya dari belakang. Seperti mencari sesuatu, Geunyoung mengedarkan pandangannya kesegala arah. Wajahnya tampak panik.
‘chogiyo, kau melihat anakku?’ ‘Dia sebesar anak anda, apa anda melihatnya?’ ‘anda tahu anak saya?’ ‘benar anda tidak tahu?’. Geunyoung bertanya pada setiap orang yang berlalu lalang sambil terus berjalan mencari keberadaan anaknya.
“yobseyo, naeya. Bisa kau datang kemari? Ini tentang eonni-mu… sepertinya dia kambuh lagi”
……………………………………
AUTHOR POV
“andwe! Geunyoung tidak akan dirawat dirumah sakit jiwa lagi!” bantah Jongwoon.
“tapi pak inilah yang terbaik, dia tidak bisa dibiarkan berbaur dengan masyarakat karena banyak hal yang dapat membuatnya teringat akan anak dan masa lalu yang menyakitkan buatnya. Hal itu dapat memperburuk keadaan beliau karena trauma yang dialami masih belum hilang dan terus mengganggu kejiwaannya”
“arayo, aku juga tidak akan membiarkan dia berkeliaran diluar lagi. Cukup berikan obat penyembuh, dia akan tinggal dirumah”
…………………………………….
~some years later~
“aigoo, dingin sekali” keluh Jongwoon, sambil berjalan dia menggosok-gosok kedua tangannya yang kedinginan lalu melipatnya kedada. Hari ini salju turun, jalanan hampir tertutupi oleh salju yang turun sejak kemarin. Musim yang selalu datang bersama natal.
Jongwoon berjalan memasuki gerbang sebuah rumah dengan halaman yang luas dan dikelilingi oleh pagar disekitarnya. Rumah itu cukup besar dan bertingkat.
“eo? Apa yang kau lakukan diluar sini dingin sekali” tegur Jongwoon pada seorang wanita yang sedang duduk sambil menyulam diteras, sendirian.
“kau tidak lihat? Aku sedang membuat syal untukmu” sahutnya.
“kenapa tidak didalam saja, kau mau membeku berada disini terus”. Jongwoon menggosok-gosok kedua tangannya agar tetap hangat. Dia lalu duduk disebelah wanita itu.
“shireo. Aku ingin membuat ini sambil menunggumu disini. Didalam terlalu luas, lagipula rumah ini terlalu besar untuk kita tinggali berdua”
“tapi tetap saja…”
“gwenchana, tubuhku masih kuat untuk sekedar menahan rasa dingin”
“tapi kalau kau sakit, aku tidak cukup kuat untuk menggendongmu kerumah sakit. lihat ini…” jongwoon menunjukkan pergelangan tanggannya “kau lihat? Kulitku sudah sangat keriput dan aku kurus” paparnya sambil memegang kulit tangannya. “dan lihat ini…” Jongwoon menunjuk wajahnya “disini juga ada keriput, mataku berkantung dan keriput, disini juga…” lanjut Jongwoon sambil menunjuk-nunjuk keriput yang dimaksud.
“semakin tua kau semakin cerewet saja, haraboji”. Geunyoung tertawa kecil.
“ya, apa ada yang lucu disini!” protes Jongwoon.
“apa itu?” tanya Geunyoung mengalihkan pembicaraan.
“ini?” Jongwoon mengangkat kertas yang sedari tadi dipegangnya. “lagu, rencananya ini lagu debut yang akan dinyanyikan boyband baru SM, tapi ada beberapa kalimat yang sepertinya harus kurubah sedikit”
Geunyoung mengangguk kecil, mereka lalu membahas lirik lagu tersebut, Jongwoon menunjukkan kata-kata yang menurutnya janggal dan meminta pendapat Geunyoung.
Ini lah pekerjaan Jongwoon sekarang, setelah pensiun jadi penyanyi dia masih datang kekantor SM untuk membuat lagu dan pekerjaan pemegang saham lainnya. Dengan ditemani seorang pembantu dan tukang kebun, dia tinggal bersama Geunyoung di vila tersebut. Dia sengaja memilih tempat yang jauh dari daerah perkotaan agar tak ada hal yang dapat mengingatkan Geunyoung akan anaknya. Sekarang setelah bertahun-tahun, akhirnya Geunyoung sembuh dari trauma dan gangguan kejiwaan.
“kalimat yang ini sepertinya perlu dirubah juga, bagaimana menurutmu?” tanya Jongwoon. Geunyoung tak menjawab, matanya sibuk melihat sekelompok remaja yang sedang bermain bola salju. “Geunyoung-ah” tegur Jongwoon.
“ng? Apa tadi kau bilang?”
“bagaimana kau bisa dengar kalau kau terus memperhatikan anak-anak itu bermain bola salju. Ya! Jangan katakan kalau kau juga ingin bermain bola salju”
“aniya, aku hanya senang melihat mereka bermain bersama-sama, seperti melihat masa lalu kita”
“oh begitukah”
“keunde, anak yang sedang membuat bola salju itu siapa?”
“anak perempuan yang itu? Dia anak tetangga kita. Tahun ini dia mendaftar diperguruan tinggi di Seoul”
“oh… seandainya anakku masih ada, pasti dia sudah sebesar yeoja itu kan” lirih Geunyoung, suaranya sedikit bergetar.
“….” Jongwoon tak menjawab, keduanya tiba-tiba terdiam. “anu, syalnya sudah jadi kan. Aku pakai ya” ucap Jongwoon mengalihkan pembicaraan, dia mengambil syal yang ada ditangan Geunyoung lalu memakainya. “khaja” dia berdiri sambil memegang tangan Geunyoung. “ayo masuk, aku tidak tahan diluar sini dingin sekali”
“eoo” jawab Geunyoung lalu turut berdiri.
“malam ini berdandanlah yang cantik, aku ingin mengajakmu keluar. Ini malam natal kan, pasti rame”
“eoo”
Mereka berjalan masuk sambil bergandengan tangan.
……………………………………
#malam hari…
“benarkan yang kubilang, malam ini pasti rame” papar Jongwoon. Dia sedang mengajak Geunyoung jalan-jalan, terlihat disebelah kiri-kanan mereka terdapat beberapa pohon natal yang dihias sedemikian rupa sehingga terlihat indah. Juga banyak muda-mudi dan orang-orang yang berlalu lalang atau sedang jalan-jalan seperti yang mereka lakukan.
“malam ini indah” komentar Geunyoung.
“Geunyoung-ah pegang tanganku” Jongwoon mengulurkan tangan kanannya.
“ng?”
“kita harus bergandengan tangan seperti pasangan lainnya”
Geunyoung tersenyum, perlahan dia menerima uluran tangan Jongwoon. Mereka berjalan pelan sambil berpegangan tangan.
“nah sudah sampai” ucap Jongwoon.
“gereja?” tanya Geunyoung heran.
“eoo. Karena ini malam natal, kita harus kegereja untuk berdoa. Khaja”
Sesampainya didalam mereka lalu berdoa.
“sebenarnya ada yang ingin kukatakan” ungkap Jongwoon setelah mereka selesai berdoa. Geunyoung diam memperhatikan. “mungkin… sudah sangat terlambat untuk mengatakan ini, mengingat kita sudah tidak muda lagi, tapi…” lanjutnya terbata-bata “tapi aku akan tetap mengatakannya. Na… naega… naega… jo joasseo”
“….”
“maukah kau menikah denganku? Moon Geunyoung jadilah istriku, jadi pendampingku disisa hidupku. Buttakhe”
“….”
“ya! Tolong katakan sesuatu”
“kenapa baru sekarang, lagi-lagi kau terlambat Jongwoon-ah, tak bisa kah kau datang tepat waktu” Geunyoung menatap dalam mata Jongwoon, mencoba mencari jawaban dari tatapan itu. Gantian kini Jongwoon yang terdiam. “kau tahu berapa lama aku menunggu kata-kata itu keluar sendiri dari mulutmu? Kau tahu seberapa sulitnya hidupku demi mendengar kata-kata itu?” lanjut Geunyoung “neon… hiks…” yeoja ini terisak. Dalam sekejap airmata telah membasahi pipinya.
“uljima, mianhe… jinjja mianhe. Banyak hal yang terjadi sehingga membuatku baru mampu mengatakannya. Ini salahku, uljima” raut wajah Jongwoon terlihat sedih, dia menghapus airmata yang terus mengalir dipipi Geunyoung. “tidak ada kata terlambat selama kau mau melakukannya, kita bisa menikah sekarang juga kalau kau mau”
“apa yang kau harapkan dari seorang wanita tua sepertiku, kau hanya akan kesusahan merawatku, bahkan untuk memiliki anakpun mungkin aku sudah tak mampu”
“gwenchana, kau hanya perlu terus setia berada disampingku”
Geunyoung terus menangis sementara Jongwoon masih terus mengusap airmatanya.
“ya geumanhe, uljima deo. Lagipula ini adalah hukumanmu, kau membuatku setia menunggu hingga kita setua ini. Jadi kau harus bertanggung jawab” gurau Jongwoon mencoba menghibur Geunyoung.
“memang salahku membuat kau menunggu?”
“eoo ini salahmu, kau membuatku selalu menyukaimu, jadi kau harus bertanggung jawab dengan menjadi istriku seumur hidup. Arasseo!”
“ya Jongwoon-ah!! Kau itu keterlaluan” Geunyoung menangis lagi, Jongwoon tersenyum. Dia memeluk wanita yang selalu dicintainya itu.
“tapi kau mau kan?” tanyanya dengan lembut. Geunyoung mengangguk setuju.
Beberapa menit kemudian, masih dengan memeluk Geunyoung, sekelompok orang datang ke gereja tersebut dan mereka duduk memenuhi kursi-kursi yang ada. Salah seorang diantara mereka dan seorang pendeta berjalan menghampiri Jongwoon dan Geunyoung yang berada didepan altar, Jongwoon melepaskan pelukannya.
“Jongjin?” ungkap Geunyoung heran “apa yang terjadi, ada apa ini?”
“chukkae noona” Jongjin memberikan sebuah kotak perhiasan kecil ke tangan Jongwoon “atau mulai saat kupanggil kakak ipar?” gurau Jongjin lagi lalu kembali kekursi untuk duduk.
“Jongwoon-ah kenapa semua keluarga kita tiba-tiba berkumpul disini, ada apa ini sebenarnya” Geunyoung mengedarkan pandangan menatap satu per satu wajah mereka yang datang, ribuan tanda tanya tak luput dari kepala.
“aku yang mengundang mereka. Keluargamu, keluarga kita… sebelumnya aku telah melamarmu pada orang tuamu” jelas Jongwoon.
“mwoya? Kapan kau melakukannya? Jadi semua ini…”
“eoo, sudah kurencanakan. Kejutan dimalam natal untukmu. Kuharap kau jangan pernah melupakan malam ini”
“paboya”
“aigoo romantis begini kau bilang bodoh ckck… tapi ayo menikah sekarang”
“ya, kata siapa aku mau menikah sekarang”
“mwoya? Bukannya kau bilang kau mau menikah denganku”
“aku memang mau tapi apa kubilang itu sekarang?”
“ya! Moon Geunyoung!”
“….”
“….”
“hahaha bercanda”
“aish jinjja, bisa-bisanya kau bercanda disaat sepeti ini”
“keurom neodo, jangan pernah melupakan malam ini dalam hidupmu. Yeongwonhi”
“eoo”
Dan akhirnya pernikahan pun berlangsung sederhana. Impian Geunyoung yang tertunda dan rencana Jongwoon yang telah lama direncanakan pada malam itu lunaslah sudah, semua terbayar dengan suksesnya acara pernikahan malam ini.

THE END
……………………………………………

Syukurlah akhirnya selesai juga. eottokhe? Bagus?
Mohon berikan masukkan dan komentar untuk cerita ini dan untuk perbaikan cerita-cerita selanjutnya.
Sampai jumpa dicerita lainnya. Annyeong…………